Impossible Romance Part 1

Impossible Romance Part 1
by Luna

Genre:
Romance, Twoshoot

Cast:
Cho Kyuhyun|Kim Saena

Cuap-cuap Author:

Sebelumnya aku mau ngucapin makasih banyak buat buat reader yang bersedia baca FF Why? Yang asli masih hancur berantakan^^
Setelah bikin FF dengan genre Hurt, aku mau kasih hiburan dengan kedatangan FF ini yang aku jamin nggak nyesek lagi deh endingnya. Kupikir mau bikin oneshoot lagi. Beruntung otakku ini lagi encer banget dan mood menulisku lagi bagus, aku bagi FF ini jadi twoshoot 😉
Oh iya, kalau ada yang mau minta sequel dari FF Why?, udah siap sih sebenernya. Kapanpun kalian pengen, aku langsung publish deh 😀

Don’t copy-paste and posting this story without permission!

Warning! Typo berceceran dimana-mana!

IR fix

—00000—

“Minggir! Minggir! Ini pasien gawat darurat!” tiga pria berseragam orange tergesa-gesa mendorong ranjang beroda melalui pintu kaca UGD. Membuat kegaduhan yang biasa terdengar disana. Mericuhkan ruangan yang sudah sesak dipenuhi teriakan-teriakan kesakitan dari para pasien.

Kecelakaan mobil beruntun di jalan utama Nowon dua jam lalu menyeret sepuluh korban luka parah ke UGD Nowon Hospital. Dan pasien terakhir yang tiba-lah yang paling parah. Entah bagaimana bisa mereka mengakhirkan pasien gawat darurat ke ambulans.

Pasien itu seorang pria yang kira-kira berumur akhir 20an atau awal 30an. Collar neck yang memfiksasi leher karna dikhawatirkan terjadi cedera cervikal dan perban melilit di sekeliling kepalanya untuk menghentikan perdarahan.

“Dia mengalami pendarahan hebat di bagian kepala, kaki kirinya tertimpa batang pohon saat kami menolongnya.” Jelas salah satu pria berseragam orange pada dokter yang langsung bergerak mendekat begitu mereka tiba. Dia melihat pasien itu merintih kesakitan.

“Serahkan pada kami.” Pria berseragam mengangguk lalu pergi.

Dibantu oleh dua perawat di sisinya, dokter perempuan itu mulai menggunting celana jeans sebelah kiri milik pria itu hingga terpampanglah kondisi pergelangan kakinya yang mengucurkan darah.

“Ambilkan kasa, normal saline!”

Salah satu perawat mengangguk dan segera menyerahkan peralatan sesuai permintaan dokter itu. Dia segera mengalirkan cairan Normal Saline (NS) di atas lukanya, membersihkan secara perlahan darah di atasnya menggunakan kasa.

“Perban dan tiga bidai, cepat!” kalau dugaannya benar pria ini mengalami fraktur terbuka di kaki kirinya, dia harus memfiksasinya agar tidak sampai bergerak sebelum melakukan CT scan.

Begitu dua alat yang dibutuhkan sudah sampai di tangannya, dia segera meletakkan bidai (papan kayu penyangga fraktur) di sisi luar, dalam dan bawah pergelangan kaki.

“BODOH!” seorang pria yang juga mengenakan jas dokter memukul kepala di dokter perempuan karna tak sengaja menangkap kebodohan yang barusan dilakukannya.

Perawat di kedua sisi dokter perempuan memilih mundur, menghindari ledakan kemarahan dokter yang lebih senior dari si dokter perempuan.

“Kim Saena apa yang kau lakukan sungguh tolol!”

Saena menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak berani membalas tatapan tajam dari dokter sekaligus seniornya. Sementara di dalam hati dia merutuki kebodohannya yang tidak sengaja menyenggol kaki pasien sampai dia menjerit kesakitan karna rasa gugup.

Saena adalah dokter tingkat pertama yang sedang menjalani co-ass dan pasien itu merupakan pasien pertamanya di stase UGD.

“Bagaimana kau bisa seceroboh ini?! Kenapa kau tidak mengecek kondisi vitalnya dan menghentikan perdarahannya lebih dulu! Bodoh! Kau mau mendapat gelar dokter yang menghilangkan nyawa pasien pertamanya disini! Minggir!”

Dokter itu merangsek maju, menyingkirkan Saena dengan mendorong pelan tubuhnya ke samping. Tanpa banyak bicara, si dokter itu mengecek kondisi vital pasien dengan memasang beberapa kabel di bagian dadanya setelah merobek kemeja pasien.

“Tekanan darahnya 60/50 dan tekanan nadinya melemah. Ini buruk, dokter.” Jelas salah satu perawat yang tadi menemani Saena.

“Berikan dia cairan infus, cepat!” dokter itu kemudian membebat paha kiri pasien dengan perban, mengikatnya kencang lalu segera melakukan fiksasi pada pergelangan kaki kiri.

Bergerak ke area kepala, tanpa melepas collar neck yang sudah terpasang dan melepas perbannya, dia mengangguk. Seakan mengerti bahwa langkah yang ditempuhnya sudah benar.

“Lakukan CT scan dan X-Ray setelah itu bawa dia ke ruang hybrid.” perintahnya yang lagsung dilaksanakan oleh kedua perawat.

Saena melihat itu semua. Bagaimana tangan-tangan kekar itu begitu lihai melakukan pertolongan pada pasiennya. Lagi-lagi dia menunduk saat dokter seniornya sambil berkacak pinggang berbalik menghadapnya. Sepertinya dia akan punya banyak waktu untuk menceramahi Kim Saena karna semua korban kecelakaan sudah dirawat.

“Kau,” tunjuk dokter itu menggunakan telunjuknya di atas dahi Saena. “ikut aku!”

Dokter itu berjalan lebih dulu dengan Saena mengekor di belakangnya. Beberapa teman satu timnya yang hanya melihat tanpa berniat membantu. Sebab mereka tahu konsekuensi apa jika mereka ikut campur.

Apalagi kalau harus berhadapan dengan dokter yang terkenal kedinginannya dan tak punya rasa ampun pada siapapun yang melakukan kecerobohan sekecil apapun yang dapat membahayakan keselamatan pasien.

Mereka berdiri di lorong rumah sakit yang cukup sepi, jauh dari ruang UGD. Dengan masih berkacak pinggang, dokter itu berbalik dan menangkap raut ketakutan di kedua mata Saena.

“Kau tahu aku benci dengan orang yang tidak berprinsip dan disiplin sepertimu!”

Teriakan dokter itu menggelegar, menciutkan nyali Saena menjadi sekecil biji kedelai. “Dan harusnya kau tahu, karena kurang disiplinnya dirimu itu yang tidak mengikuti latihan intensif sebulan sebelum co-ass-lah yang menyebabkan dirimu seceroboh ini!”

Begitulah, Saena mendapat ceramah lagi dari dokter itu dari A sampai Z. Tak jarang pula dia menyinggung soal biaya yang mahal yang harus dibayar orang tuanya untuk terbuang sia-sia menyekolahkan putri mereka hanya menjadi dokter kurang mumpuni.

Salahkan orang tuanya, memaksa Saena sekolah di kedokteran yang sama sekali bukan cita-citanya. Dia bahkan membenci darah. Dia hanya pura-pura tegar saja ketika menangani pasien berdarah-darah. Tapi tidak mungkin kan, Saena mengatakannya?

“Aku sudah lelah menasehatimu ini dan itu, Kim Saena. Huh, harus bagaimana lagi agar kau mengerti kalau nyawa pasien ada di tanganmu!”

Saena menatap ragu-ragu dokter senior di depannya yang kini memijit pelipisnya dengan mata terpejam. Dia buru-buru menunduk lagi ketika kedua matanya terbuka.

Rasanya Saena ingin menyusut saja seperti balon kempes lalu dibuang daripada menekan kepalanya dalam-dalam demi menghindari tatapan yang seperti sengatan listrik dari pria di depannya ini.

“Aku minta maaf,” cicit Saena akhirnya setelah keterdiaman mereka.

“Kau hanya meminta maaf tanpa ada usaha untuk memperbaiki kekuranganmu.”

“Aku benar-benar minta maaf karena kurang mumpuni.”

“Terserah.” Pria itu mengibaskan tangannya di depan muka Saena sambil berlalu. Saena cemberut. Jujur saja dia juga kesal dimarahi terus-terusan. Tapi dia juga mengakui dirinya memang bersalah.

Daripada terus berlarut-larut memikirkannya, Saena memutuskan pergi ke kantin untuk makan malam. Perutnya sudah keroncongan karna melewatkan makan siangnya.

.

.

.

“Wah, ini dia, yang kerjaannya tidak ada yang beres tapi makan duluan.” Saena otomatis menghentikan gerakan tangan menyuapkan kimbap ke dalam mulutnya.

Enam teman satu tim co-ass nya datang setengah jam setelah Saena. Wajah mereka sarat akan kelelahan setelah menangani korban kecelakaan di UGD.

Hyorin, ketua tim, mendekati Saena. Mengambil kursi di depan gadis itu. “Saena, kapan kau mau berubah? Ini bukan pertama kalinya kau ketahuan melakukan kesalahan di depan Kyuhyun-sunbaenim. Kau tidak malu?”

Saena meletakkan sumpitnya di sisi piringnya yang sudah kosong hanya tersisa setengah kimbap yang mendadak membuatnya tidak bernafsu setelah mereka datang. Sindiran halus Hyorin barusan bukanlah yang pertama.

Gadis itu pernah satu tahun sekelas dengannya di bangku kuliah dan betapa sialnya mereka harus bertemu lagi di dunia co-ass, dunia menuju dokter umum. Gadis populer di kalangan pria sekaligus kejam saat menolak pernyataan cinta mereka.

“Urat maluku sudah putus. Puas?” dia tidak ingin memperpanjang urusan mereka. Terlalu lama bergulat dengan Hyorin membuat mulutnya berbusa. Saena bangkit dari duduknya, mengambil yoghurt-nya dan hendak berbalik ketika Hyorin berkicau lagi.

“Aku tidak mau tau, kalau sampai kita harus mengulang stase kegawat-daruratan hanya karna satu orang tidak berguna,” Hyorin sengaja menggantungkan kalimatnya. Saena melirik sengit. “kau akan kehilangan cita-citamu menjadi seorang dokter, Kim Saena.”

Saena membalas tatapan tajam Hyorin dengan seringaian sinis. “Sayangnya kau salah, Min Hyorin. Menjadi dokter bukanlah cita-citaku. Kau mau menghancurkan hidupku? Aku pun tidak peduli!”

Kali ini Saena benar-benar pergi. Telinganya bisa terbakar jika berdekatan lebih lama lagi di samping nenek sihir itu. Dia mencibir.

Cih, padahal dirinya bukan satu-satunya dokter muda yang melakukan kesalahan. Bahkan Hyorin pernah tidak sengaja memberi obat hipertensi pada pasien kejang! Bodoh! Saena yang bodoh memang memiliki spesialisasi sendiri dengan obat.

Manusia harus belajar kan? Dokter bukanlah dukun yang hanya meraba-raba kemudian bisa mendapat uang. Kami harus bekerja keras, jatuh berkali-kali, baru bisa menjadi profesional. Setidaknya itulah yang Saena tanamkan dalam otak dan hatinya selama ini.

Kau hanya harus bertahan dua tahun di rumah sakit ini! Semangat, Kim Saena!

.

.

.

“Tahan sebentar, tuan.” Pria paruh baya meringis setiap Saena memasukkan jarum menusuk kulitnya, menjahit robekan kulit akibat terkena goresan kaca. Meskipun Saena sudah melakukan anestesi agar pria itu tidak merasakan sakit, tetap saja ada rasa ngeri mempercayakan lukanya pada dokter muda.

Baru saja Saena akan memasukkan jarumnya di robekan kulit terakhir, seseorang memukul kepalanya. Saena menggeram, hampir saja jarumnya salah masuk lubang.

“Yak!” dia sudah akan menumpahkan sumpah serapahnya, ketika berbalik Kyuhyun sudah berdiri garang di belakangnya. Apa lagi kali ini, ya Tuhan?

“Kemampuan menjahitmu layak mendapat pujian, dokter Kim. Sungguh indah, seperti mahasiswa semester satu yang tidak pernah memegang jarum jahit. Bodoh! Minggir!”

Saena bergegas melakukan apa yang diperintah Kyuhyun dan menggeser posisinya menjauh. Dia penasaran, memang ukiran jahitannya seperti apa sih sampai Kyuhyun semarah itu?

Kyuhyun menggeleng kecewa, menghela napas lalu menampakkan wajah menyesalnya pada pria paruh baya itu. “Jeosonghamnida, sepertinya saya membutuhkan tiga menit tambahan untuk menjahit luka anda. Apa anda bersedia?”

Ragu-ragu, tapi pria tua itu mengangguk juga. Mata Saena membelalak lebar ketika Kyuhyun membuka jahitannya lagi dan memulai menjahit dari awal.

Gila pria ini! Luka selebar sepuluh senti bisa dijahit dalam waktu semenit dan rapi. Oh, padahal Saena sendiri perlu dua puluh menit melakukannya.

Kyuhyun memberikan sentuhan terakhirnya dengan meletakkan transparant dressing di atas kasa. “Luka anda sudah saya tutup. Mungkin beberapa saat lagi anda akan merasakan nyeri, saya sarankan untuk membeli obat penghilang rasa sakit.”

Pria paruh baya itu tersenyum senang. Dia tidak perlu menahan rasa ngerinya lebih lama berkat dokter ini. “Terima kasih, dokter Cho. Anda masih sangat muda tapi terlihat ahli sekali, aku senang bisa bertemu denganmu.”

“Sudah menjadi kewajiban saya menolong sesama.” Kyuhyun bangkit dari kursi di samping pembaringan dan membungkuk sekilas pada pria tua itu.

Sejurus kemudian tatapannya beralih pada Saena yang menggerak-gerakkan bola matanya gelisah. “Dokter Kim, ikut aku sebentar.”

Tuhan, ceramah apa lagi kali ini?

Mereka berjalan keluar dari ruang UGD. Bibir Saena berkomat-kamit tidak jelas. Berdoa semoga Tuhan menyelamatkannya kali ini. Kyuhyun membalikkan tubuhnya tiba-tiba membuat Saena yang tidak konsenterasi menubruk dada pria itu dengan hidungnya.

Kyuhyun melotot. Saena segera berjingkat ke belakang. Menjaga jarak. “Kau tahu, Saena, seluruh darah tubuhku mendidih tiap kali menangkap basah kebodohanmu.”

“Apa sekarang?” ucap Saena tanpa sadar. Kyuhyun mengerutkan keningnya. Tumben gadis ini mau membalas kata-katanya? Ini menarik.

“Kalau kau mau mahir menjahit baju, jangan sekali-kali mempraktekannya pada pasienmu.”

Hah? Saena melongo, tidak paham maksud Kyuhyun. Pria itu memutar bola matanya kesal.

“Kau menjahit luka tuan Han tadi seperti sedang menjahit baju robek. Ck, apa sih sebenarnya keahlianmu? Kenapa semua tidak ada yang benar?”

“Apa? Sunbae, aku menjahit luka sesuai dengan apa yang diajarkan dosenku dulu. Kalau kau tidak suk—”

“Apa kau tau bedanya?” Kyuhyun menyedekapkan lengannya. “Antara menjahit baju dengan menjahit luka? Berapa simpul yang kau buat, hm?”

Kyuhyun tersenyum remeh melihat perubahan air muka Saena. Gadis itu seolah ditampar dan disadarkan kebodohan lainnya lagi. Dia tidak membuat simpul apapun di luka tuan Han.

“Jangan mengandalkan teori saja, tapi juga keterampilan. Aku tau kau lulus dengan cumloude. Tapi aku tidak peduli. Kalau kau salah, ya aku pasti akan menyalahkanmu. Hidup mereka di tangan Tuhan dan kita hanya menjadi perantara Tuhan untuk merawat mereka.”

“Kau benar, sunbae.” kata Saena putus asa. Kyuhyun tersenyum dan sebelum dia meninggalkan Saena, dia menepuk-nepuk pundak gadis itu, menyemangati.

Saena menatap punggung Kyuhyun yang sudah menghilang ke dalam ruangan. Kalimatnya barusan berputar di otaknya. Apa yang dikatakan Kyuhyun memang benar. Tidak seharusnya dia mempermainkan hidup orang lain meskipun Tuhan pemilik hidup mereka.

Dia harus lebih semangat lagi. Dia tidak boleh menyerah. Dan dia juga harus ingat, dia tidak melakukannya sendiri. Ada teman sejawatnya satu tim yang pasti mau mengajarinya. Jangan tanya soal Hyorin. Hingga kiamat pun, dia tidak akan sudi meminta bantuan wanita itu!

“Dokter Kim, apa anda sedang luang?” tanya seorang perawat yang lewat di depan Saena. Gadis itu mengangguk.

“Terjadi kecelakaan lagi di jalan tol. Bersiaplah dokter, tiga orang korban lima menit lagi sampai!”

Well, ini kesempatan emas! Dia harus mengerahkan kemampuannya sekuat tenaga!

.

.

.

Jumat sore adalah hari terbaik dari waktu satu minggu. Apalagi kalau bukan karena dokter muda yang menjalani co-ass di rumah sakit Nowon bisa beristirahat sampai sabtu sore dan melanjutkan kegiatan di rumah sakit malamnya.

Seperti halnya Saena yang kebetulan berasal dari Nowon sehingga dia pasti akan pulang ke rumah, menikmati malam sabtu dengan keluarganya. Dia memiliki satu kakak perempuan empat tahun lebih tua darinya.

Ayah dan ibunya pun masih sehat sehingga jika sempat mereka sekeluarga akan piknik hari sabtu pagi. Tapi setahun terakhir mereka tidak bisa berpiknik lagi. Karena kakaknya yang sibuk dengan urusannya. Sementara orang tuanya tidak mau pergi kalau anggota keluarga belum lengkap.

“Nona Saena, ada yang bisa kubuatkan?” tawar Han ahjumma saat Saena merebahkan kepalanya di sofa ruang keluarga.

Perlu waktu satu setengah jam dari rumah sakit ke rumahnya dan seminggu di rumah sakit itulah membuat tubuh Saena menjadi pegal-pegal.

“Jus jeruk saja tolong, ahjumma.” Han ahjumma tersenyum dan kembali ke dapur menyiapkan jus jeruk pesanan Saena.

Baru saja kedua mata Saena tertutup ketika sofa yang didudukinya bergerak. Seseorang sudah menghempaskan pantatnya di samping Saena. “Tolong, jangan katakan apapun aku sangat lelah.”

“Seonya menyuruhku menunggu di rumah, itu saja.” Saena sungguh tak rela harus membuka matanya dan melayangkan pandangan sebal pada orang itu.

Haruskah mereka bertemu disini? Sementara mereka masih harus bertemu di rumah sakit? Kenapa orang ini ada dimana-mana?

“Kenapa kau percaya diri sekali mengira aku akan mengajakmu bicara?”

Saena memutar bola matanya. Satu hal yang tidak bisa dilakukannya saat di rumah sakit. Saat tatapan semua orang mengarah pada mereka berdua.

“Terserah, pokoknya jangan menggangguku.” Saena kembali memejamkan matanya. Berusaha menepis perasaan kesal dan lelahnya.

“Well, rumah ini tidak berubah sejak dulu.” Tiba-tiba orang itu bersuara lagi. Kali ini Saena menggeram keras.

“Jangan pura-pura seolah-olah kau tidak pernah berkunjung, bahkan kau kemari tiap kali aku pulang.”

“Yah, aku kan calon menantu rumah ini, sudah sepantasnya aku sering berkunjung.”

Saena mencibir. “Menggunakan alasan kuno untuk mengelak.” Saena membuka matanya dan menegakkan punggungnya, sehingga mereka duduk berhadapan sekarang. Saena bergerak mundur memberi jarak.

“Kalau kau ingin bertemu kakakku, sepertinya dia baru pulang dari butiknya nanti malam. Harusnya tanpa aku menjelaskannya pun kau sudah tahu karna kau pasti menghubunginya. Tapi tak bisakah karna kau tahu itu kau tidak datang sesore ini? Aku malas bertemu denganmu lagi, denganmu lagi.”

Han ahjumma datang menyela dan meletakkan dua jus jeruk dan se-toples cookies di atas meja sebelum menyingkir.

Orang itu bersedekap. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa. “Hanya di rumah ini aku bisa mendengar ocehanmu.” Dia mengedikkan bahunya seolah tidak peduli. “Sedangkan di rumah sakit aku yang mengocehimu.”

Saena memutar bola matanya lagi. “Kyuhyun sunbae, aku benar-benar memohon padamu jangan ingatkan aku soal itu. Aku sudah cukup bosan berurusan denganmu di rumah sakit. Aku tidak mau harus berurusan lagi denganmu di rumah.”

Saena mengambil jus jeruknya, meneguknya sampai setengah. Membasahi dinding kerongkongannya yang kering. Dia mencomot satu cookies buatan Han ahjumma. Manis dan gurih.

Kyuhyun memperhatikan gerak-gerik Saena tanpa bosan. Dia tahu calon adik iparnya ini kesal padanya. Siapa yang tidak kesal? Mungkin Saena pikir dia harusnya bisa memanfaatkan kehadiran tunangan kakaknya di rumah sakit dengan mendapat banyak bantuan, bukannya ceramah yang terus-menerus.

“Kau akan menjadi dokter yang manja yang menggantungkan nasibnya pada dokter senior yang kebetulan tunangan kakaknya.”

“Aku tidak menggantungkan nasibku padamu. Aku hanya ingin mendapatkan hakku sebagai calon adik iparmu dengan mendapat paling tidak sedikit bantuanmu.”

“Dunia kedokteran bukan main-main, Saena.”

“Aku juga tidak menganggapnya sebagai lelucon.”

“Tapi itulah yang kulihat dari kerjaanmu selama ini.”

“Oh, aku jadi menyesal memilih Nowon hospital sebagai tempat co-ass-ku.”

“Kenapa?” Kyuhyun memberengut.

“Yah, kukira aku bisa merasa spesial karna ada dokter terkenal disana yang kebetulan calon kakak iparku. Tapi malah kesialan yang kudapatkan.” Saena mengedikkan bahunya.

“Kesialan? Maksudmu?” Kyuhyun tidak mengerti mengapa bertemu dengannya justru membuat Saena mengalami kesialan. Saena menolehkan kepalanya sekilas dengan ekspresi—kau menciptakan penderitaan baru di hidupku dan kau masih bertanya—

“Molla, aku mengantuk,”

Saena bangkit dan melangkah pergi meninggalkan Kyuhyun yang termenung di tempatnya. Memikirkan kesialan apa yang dimaksud Saena?

Setahunya, selama ini Kyuhyun hanya berusaha memberikan perhatian terbaik melalui omelan-omelannya pada Saena jika gadis itu melakukan kesalahan. Dia hanya tidak mau berpura-pura dengan mengatakan Saena gadis yang pintar sedangkan pada kenyataannya tidak.

Rasa penasaran itulah Kyuhyun memberanikan diri mengikuti Saena masuk ke kamar gadis itu. Langkah berani yang bahkan tidak pernah dilakukannya pada tunangannya. Gadis itu sedang tidur rebahan di atas kasur queen size-nya ketika Kyuhyu masuk tanpa permisi dan mengetuk pintu.

Kamar Saena bisa terbilang luas dengan cat dinding cream dan walpaper bunga sakura di belakang ranjangnya. Aroma jeruk dan mint menyerbu penciuman Kyuhyun. Meja belajar yang tertata rapi dan rak buku kecil yang mungkin berisi novel-novel remaja.

Tepat didepan rak ada permadani berwarna cokelat dengan dua bantal duduk di atasnya. Lemari baju dekat dengan meja rias turut memenuhi kamar Saena. Bersih, beraroma khas dan menyenangkan.

“Apa yang kau lakukan di kamarku!” bentak Saena serta-merta melihat kedatangan Kyuhyun dan kini matanya menilik setiap jengkal kamarnya. Seolah sedang menguliti kulit apel.

Kyuhyun menoleh ke arah Saena. Tanpa ragu pria itu menghampirinya dan duduk di pinggiran kasur. “K-kenapa duduk disini? Pergi!” menangkap nada gugup dari mulut Saena membuat Kyuhyun terkikik.

“Kau pikir aku bernafsu pada gadis kecil sepertimu?”

“A-apa?”

“Jadi, Saena, kesialan apa yang kau maksudkan tadi?” Kyuhyun mengalihkan pembicaraan sekaligus perhatian Saena dari posisinya sekarang yang duduk hanya sejarak jangkauan lengan.

Saena menggeleng. “Kupikir kau sudah tau.”

“Jangan biarkan imajinasi liarku bekerja, aku ingin mendengarnya langsung darimu.”

“Aku benci diomeli olehmu setiap hari! Puas?!”

Saena mendengus sebal kemudian menarik selimutnya sampai ke dagu dan tidur memunggungi Kyuhyun. Sebenarnya dia hanya ingin menyingkirkan perasaan gugup berdekatan dengan Kyuhyun. Dia tidak suka.

Kenapa? Yah, hanya tidak suka.

Ada perasaan geli di sekitar perutnya ketika menatap obsidian gelap itu yang bisa-bisa menghancurkan konsentrasinya.

Kalau orang lain melihat, mungkin posisi mereka seperti pasangan suami-istri dimana sang istri sedang merajuk dan akhirnya akan berakhir dengan percintaan panas di atas ranjang.

Astaga! Kim Saena!

Apa yang kau pikirkan barusan! Ingat, dia adalah tunangan kakakmu! Tuh kan, berdekatan dengan Kyuhyun memang memberikan efek buruk di otak cantiknya.

“Itu demi kebaikanmu,” Kyuhyun berkicau lagi. “tidak mungkin aku melakukan nepotisme sementara kau hanya berstatus sebagai adik dari tunanganku. Kecuali kau adalah tunanganku, mungkin hmm, aku akan mempertimbangkannya.”

Saena tercenung oleh perkataan Kyuhyun barusan. Kata-katanya terdengar seperti menyesali pertunangannya dengan kakaknya dan ingin sekali bertunangan dengannya.

“Dan, yah, kau adalah calon adik iparku. Itupun hanya calon. Kalau kami tidak jadi menikah, akan sia-sia saja aku membantumu. Lelaki sepertiku perlu imbalan yang pantas dari setiap perbuatan baik.”

Saena terdiam cukup lama sebelum bersuara lagi, “Jangan termakan omongan asalku, sunbae. Aku tidak benar-benar meminta bantuanmu. Itu hak asasi manusia dan aku tidak berhak protes.”

Saena mengubah posisinya menjadi tiduran dan menatap Kyuhyun yang sudah memandangnya entah sejak kapan. Ada ekspresi penyesalan terukir di wajah tampannya. Tidak ada yang menyangkal bahwa Kyuhyun adalah pria terpanas abad ini.

“Andai kau menikah denganku, aku akan memenuhi apapun keinginanmu, sesulit apapun itu.”

.

.

.

Sial.

Kyuhyun meracuni pikiran Saena dengan kalimat anti-klimaksnya tadi sore sebelum meninggalkan kamarnya. Kenapa Kyuhyun harus mengatakan itu?

Memang benar, rencana pernikahannya dengan Seonya eonni masih menggantung. Belum ada kejelasan lebih lanjut dari hubungan mereka.

Seonya masih sibuk mengurus butiknya yang belakangan ini laris-manis sementara Kyuhyun disibukkan oleh pekerjaannya sebagai dokter sekaligus penanggung-jawab di semua stase satu tim co-ass di rumah sakit.

Hubungan mereka terbilang cukup dingin dibandingkan pasangan lain. Kyuhyun sering berkunjung ke rumah, itupun hanya sebentar dan tidak tepat saat Seonya berada di rumah.

Ah, apa mungkin mereka diam-diam pergi berdua saja tanpa sepengetahuannya? Nah, Saena, sekarang kau malah terlihat menguntit kehidupan percintaan kakakmu.

Soal kalimat Kyuhyun tadi sore, kenapa Saena menangkapnya sebagai sinyal kalau Kyuhyun lebih ingin menikah dengannya?

Aish! Mana mungkin! Lagipula dia tidak mau jadi bahan olokan karna merebut kekasih kakak kandungnya. Lalu apa makna dibalik perkataan Kyuhyun itu?

“Saena, boleh ibu masuk?”

Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Saena. Dia mengangguk sebagai tanda setuju ibunya boleh masuk. Ibunya menyeret kursi rias Saena ke samping tempat tidur putrinya.

Ada selang beberapa detik sebelum ibunya berkatan, “Temani ibu ke rumah Kyuhyun besok. Bisa, kan?”

Ohoho! Dewa seakan berpihak padanya! Dia memikirkan Kyuhyun dan ibunya sekarang malah mengajaknya pergi ke rumah pria itu. “Kenapa tidak mengajak Seonya eonni saja, ibu?”

Nyonya Kim membasahi bibir bawahnya. Saena mencium gelagat aneh disini. “Seonya harus pergi ke Busan besok dan dia memintamu menggantikannya untuk pergi ke rumah Kyuhyun.”

“Memang apa yang akan kita lakukan disana?”

“Ibu Kyuhyun mengadakan pesta kecil di rumahnya karna Ahra tengah mengandung sekarang.”

Saena membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’ besar. Ahra adalah kakak kandung Kyuhyun yang sudah menikah dengan seorang aktor terkenal di Korea, Choi Siwon.

Saena mengangguk setuju. Dan entah ini perasaan Saena saja tapi dia melihat ibunya sangat senang. Tapi Saena tidak mau berpikiran macam-macam.

Buat apa?

.

.

.

Tepat pukul dua siang esok harinya, Saena dan ibunya pergi ke rumah Kyuhyun. Cukup menegangkan, sebab dia tidak tahu harus menemani ibunya berapa lama sedangkan sesuai aturan rumah sakit, dia diwajibkan kembali sebelum jam lima sore.

Semoga saja ini hanya pesta kecil yang tidak menyita waktu berjam-jam. Dia tidak mau menambah predikat buruknya menjadi tukang terlambat.

Begitu sampai di kediaman keluarga Cho, keduanya disambut oleh ibu Kyuhyun dan beberapa pelayan. Saena tidak lupa mengucapkan selamat pada Ahra atas bayinya yang disambut pelukan hangat darinya.

Keluarga Cho memang keluarga terpandang dan memiliki rumah mewah di pusat kota. Sungguh beruntung eonni-nya bisa bertunangan dengan Kyuhyun. Dengar-dengar pria itu mau dipromosikan menjadi direktur rumah sakit milik ayahnya.

Tidak seperti pesta kecil kebanyakan, mereka menyediakan berbagai macam makanan dari appetizer, main cost sampai dessert yang menggugah selera hanya sekali lirikan.

Ibu Kyuhyun, Hana, sengaja mengadakan pesta ini nanti malam. Dia meminta Saena dan ibunya datang lebih dulu untuk menikmati suguhan pertama.

Selama dua jam itu pula, keberadaan Kyuhyun dipertanyakan. Saena tidak mendapati sosok pria itu dimanapun. Padahal, seingatnya kalau keluarganya pergi berkunjung kemari, pria itu yang paling terlihat paling sumringah menyambut. Apa dia sedang mengurung diri di kamar ya?

“Kyuhyun sedang bermain game di kamarnya. Anak itu nakal sekali, bukannya membantu, malah sibuk sendiri.”

Oh?

Saena mengalihkan pandangannya dari lantai atas—tepatnya sebuah pintu kamar yang diyakininya sebagai kamar Kyuhyun—pada Hana yang tersenyum lembut padanya. Dia sedikit tidak enak, tertangkap basah mencuri pandang ke kamar calon kakak iparnya.

“Kau bisa memanggil Kyuhyun untukku?” pinta Hana yang membuat Saena tidak bisa menolaknya.

Saena bergegas menaiki tangga menuju lantai dua sambil mengagumi kemewahan rumah ini. Sampainya di depan pintu kamar Kyuhyun, dia mengetuknya. Menunggu, tak ada jawaban.

Dia mengetuk lagi. Tetap tidak ada jawaban. Begini dia jadi ingat betapa lancangnya Kyuhyun kemarin langsung melengos masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Jadi kenapa dia harus ber-sopan-santun pada pria itu?

Saena membuka perlahan pintu kamar Kyuhyun dan melongok. Aroma maskulin segera menyandera penciumannya. Ini pertama kalinya dia berani memasuki kamar pria yang bukan siapa-siapanya.

Tapi ada yang aneh disini. Ada suara merintih yang dia tangkap dari dalam kamar itu.

Penasaran, Saena memasukkan seluruh tubuh mungilnya ke dalam. Kamar itu gelap gulita. Sesuatu yang sangat dia benci. Hanya ada televisi yang dibiarkan menyala, tapi Saena tidak bisa melihat ke arah layarnya karna tertutupi punggung sofa.

Rintihan itu terdengar lagi. Apa itu suara rintihan Kyuhyun? Apa dia terluka? Rintihan itu bertambah keras dan sepertinya itu berasal dari kamar mandi.

Saena memutuskan bergegas menyebrangi kamar Kyuhyun dan betapa terkejutnya dia karna netranya menangkap gambaran aneh di televisi.

“Omo!” Saena menutup kedua matanya.

Wanita telanjang bulat tengah mengaduh kesakitan ketika pria menusukkan kejantanannya ke dalam tubuh si wanita dari belakang. Untung saja erangan mereka tidak terdengar karna televisi dalam mode mute.

Sial! Kyuhyun menonton film yadong! Cepat-cepat, Saena menuju suara rintihan Kyuhyun yang makin menjadi-jadi dan itu membuat Saena khawatir. Apa yang pria itu lakukan sampai dia kesakitan begitu?

Sedetik kemudian Saena malah mendengar suara helaan napas yang panjang dan disusul suara shower yang deras. Rintihan itu tidak terdengar lagi. Saena menggeleng kuat.

Pikiran-pikiran buruk menggempur otak cantiknya. Apa barusan Kyuhyun.. ah, tidak! Haha! Kau jadi berpikiran mesum sejak tidak sengaja melihat gambar di televisi, Kim Saena!

Pintu kamar mandi terbuka dan mengejutkan Saena. Dia sampai melompat beberapa langkah ke belakang. Kyuhyun muncul dari sana hanya berbalut handuk yang melingkar sebatas pinggang dan menampakkan otot perutnya yang membentuk kotak-kotak sempurna.

“Yak! Apa yang kau lakukan disini?!” teriak Kyuhyun saat menangkap tubuh Saena berdiri tak jauh darinya. Saena menelan ludahnya susah payah. Tidak bisa memusatkan konsentrasinya ke lain tempat selain kotak-kotak perut milik Kyuhyun yang menggairahkan. Lebih menggugah daripada jajaran makanan di lantai bawah.

“Tutup matamu! Tutup matamu!”

Saena refleks mengikuti instruksi Kyuhyun dan menajamkan pendengarannya terhadap apapun yang dilakukan pria itu.

Shit! Umpat Kyuhyun dalam hati.

Bagaimana bisa Saena masuk ke kamarnya? Apa tadi dia lupa menguncinya? Buru-buru Kyuhyun menyambar kaos warna hitam yang tersampir di sofa lalu memakainya dan mematikan tayangan televisi.

Apa Saena juga melihat televisi? Sial! Sial! Kenapa dia jadi seceroboh Saena sih?

“Jangan sekali-kali berani membuka mata!” Kyuhyun mencari celana jeansnya dan begitu berhasil menemukan, langsung memakainya.

Setelah dirasa sudah cukup pantas untuk berbicara dengan Saena, Kyuhyun menyalakan lampu kamarnya dan berjalan mendekat ke arah Saena yang masih setia memejamkan matanya.

“Kau boleh membukanya sekarang.”

Saena membuka matanya dan merasa sedikit silau setelah menyesuaikan kontras cahaya di kamar itu yang semula gelap.

Baru saja mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu, Kyuhyun mencegahnya. “Jangan tanyakan atau tertawakan sesuatu. Apa yang kau lihat itu rahasia diantara kita.”

Saena mempoutkan bibirnya. “Aku mau bertanya satu hal saja.”

“Tidak!”

“Apa kau—”

“Tidak!”

“Kau—”

“Ya Tuhan, Saena, kubilang tidak ya tidak!”

“Tapi aku sungguh penasaran!”

Kyuhyun menghela napas kasar. Tatapannya gusar, bergerak kesana-kemari seperti setrika. “Katakan! Ingat, satu pertanyaan!”

“Kau memuaskan dirimu sendiri, Kyuhyun?”

Sialan! Ya! Teriak Kyuhyun dalam hati. Dia sudah mengira, dengan mendengar rintihan berikut lenguhan keras di kamar mandi tadi Saena pasti sudah berpikiran macam-macam!

“Aku menunggu jawabannya, Kyuhyun.” Saena berusaha mempertahankan suaranya agar tidak terdengar seperti orang menjerit.

Dia hanya ingin tahu. Dan sungguh tidak menyangka seorang Cho Kyuhyun yang pernah menolak mentah-mentah membicarakan hal itu dengan teman lelakinya sesama dokter, melakukan ini. Dia sungguh pembohong yang ulung.

“Kenapa harus sendiri? Memangnya eonni tidak mau melakukannya?”

Kutuk bibir sembarangan milik Saena! Kemana urat malunya? Dia tidak seharusnya mencampuri kehidupan kakaknya. Tapi, bukankah jika seorang kekasih yang mau menikah bisa saja melewati batas seperti itu?

Kyuhyun membuang muka. “Aku tidak melakukannya.”

“Kau gay?”

Kyuhyun melotot, “Tidak, sialan!”

“Lalu apa?”

Astaga, kenapa Saena harus memberondongnya dengan pertanyaan begini? Ini membuatnya tersiksa! Oh, andai kau tahu sayang, bukan kakakmu yang ingin aku ajak bercinta.

“Kenapa kau tidak melakukannya dengan eonni?”

“Karena aku menginginkannya denganmu! Shit!”

Kyuhyun tiba-tiba menarik tengkuk Saena mendekat padanya dan menggunakan tangan kanannya menahan kepala gadis itu agar tidak bergerak, sementara bibirnya memagut kasar bibir mungil milik Saena.

Kyuhyun melumatnya tanpa ampun dan mengacuhkan dorongan-dorongan kecil di dadanya. Dia tidak akan berhenti disini.

Susah payah dia menekan gairahnya terhadap gadis ini dengan menonton film-film suapan Hyukjae. Tapi gadis ini malah muncul di saat yang tidak tepat dan memporak-porandakan pertahanannya.

Saena mengerang ketika Kyuhyun menggigit bibirnya sehingga lidah Kyuhyun bergerak liar masuk memenuhi rongga mulut Saena. Gadis itu memukul pundak Kyuhyun, tidak terima ciumannya diambil oleh pria yang akan menjadi kakak iparnya.

Astaga, mendadak dia teringat pada Seonya eonni yang kalau melihat mereka seperti ini pasti akan berburuk sangka.

Tubuh Saena terdesak mundur ke belakang sampai terduduk di pinggiran ranjang. Kyuhyun melumat bibir Saena yang sangat manis yang membuatnya ingin memakannya.

Tidak ada lagi ciuman yang kasar dan memaksa, melainkan ciuman lembut yang memabukkan Saena hingga dia sudah lupa untuk menolak ciuman Kyuhyun.

Pria itu menopangkan kedua lengan kekarnya di atas ranjang di samping tubuh Saena dan kedua kakinya dibuka lebar menjepit kaki Saena di antaranya. Sambil sesekali kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, memberikan jeda bagi Saena untuk bernapas.

Kyuhyun melepas ciumannya dan mengecup bibir Saena berulang kali sebelum benar-benar berhenti. Hidung mereka saling bersentuhan dan mendadak udara di sekitar mereka memanas.

“Walaupun aku sangat sangat ingin melakukannya padamu, aku tidak akan sampai kau memintanya sendiri.”

Kyuhyun menangkup wajah Saena dengan kedua tangan hangatnya. Melempar tatapan satu sama lain. Saena tidak mengerti kenapa dia harus bereaksi segila ini. Harusnya dia menampar Kyuhyun yang bersikap kurang ajar padanya.

“Kedengarannya kau yakin sekali aku akan memintanya.”

Mulutmu Saena! Kenapa tidak terkontrol sama sekali!

Kyuhyun terkikik pelan. Dia sangat gemas dengan perubahan emosi Saena yang baru dilihatnya setelah berciuman panas dengannya.

Kyuhyun tidak sabar untuk segera memagut bibir mungil itu lagi dan kini mendorong punggung Saena hingga menyentuh ranjang yang empuk. Dia mendorong tubuh Saena hingga ke tengah ranjang sementara dia masih betah mencium Saena di atasnya.

Tersulut oleh gairahnya, Kyuhyun menekan bibir Saena yang juga membalas lumatannya walaupun sedikit kaku.

Sepertinya ini ciuman pertama gadis ini. Bahkan tangan gadis itu tidak sadar sudah mengalung di leher Kyuhyun dan meremasnya pelan setiap Kyuhyun menggigit bibirnya.

Ciuman Kyuhyun beralih pada lekukan leher Saena, menciumnya lama tanpa meninggalkan jejak. Dia cukup waras tidak menandai Saena sebab ini di rumahnya dan sedang banyak orang disini.

“Saena, Saena, apa yang kau lakukan padaku?”

Saena mengeluh oleh ciuman menyiksa Kyuhyun di tulang selangkanya yang terus turun hingga di atas dadanya. Ada kupu-kupu berterbangan di perut Saena dan seperti tersengat listrik karna sesuatu yang keras menyentuh pusat tubuhnya.

Kyuhyun mengerang. Apa itu kejantanan Kyuhyun?

“Iya, sayang, itu reaksiku terhadapmu.”

Saera mengerang keras saat Kyuhyun mengecup puncak payudaranya, menghisapnya dari luar gaun toscanya.

Tangannya bergerak gelisah meremas rambut belakang Kyuhyun ketika merasakan gelenyar aneh mengalir di tulang belakangnya dan mendesak sesuatu di bawahnya untuk keluar.

Tangan Kyuhyun tidak diam. Mulutnya bekerja dan tangannya pun bergerilya di bawah sana, masuk ke dalam gaun Saena dan mengelus paha dalam Saena. Perut Saena mengejang.

Pikirannya tercecer di lantai. Kyuhyun hanya mencumbunya, tapi kenapa efeknya bisa sebesar ini? Gelenyar itu datang lagi dan kini turun di sekitar perutnya.

“Akh!”

Saena mengerang saat Kyuhyun mencium puncak payudaranya lagi bersamaan dengan sesuatu mendesak masuk melalui lubang kewanitaannya.

Saena mencengkeram lengan Kyuhyun yang berotot saat jari Kyuhyun yang menyelinap ke celana dalamnya, masuk ke dalam tubuhnya lalu mengeluarkannya beberapa detik kemudian.

Astaga, ini siksaan yang sangat berat! Dan itu dilakukan oleh Kyuhyun! Pria yang selalu—“Akkh!” jari Kyuhyun bergerak di bawah sana seirama dengan lumatannya di payudara Saena.

“Aku akan membuatmu orgasme.”

Apa?!

Saena sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Dia mengerang oleh sentuhan Kyuhyun di tubuhnya. Seakan tahu kalau Saena akan datang, jari Kyuhyun di dalam sana tercengkeram erat, itu semakin mempercepat gerakan tangan Kyuhyun.

“Datang untukku!” sesuai yang diharapkannya, Saena meledak.

Dengan jari Kyuhyun yang masih di dalam tubuhnya. Lenguhan panjang Saena terdengar seksi di telinga Kyuhyun.

Pria itu mengeluarkan jarinya dan ciumannya beralih pada bibir Saena lagi. Tangannya tidak mungkin diam. Dia meremas kedua payudara Saena yang masih kelelahan setelah mencapai orgasme-nya, meremas rambut Kyuhyun lagi.

Cho Kyuhyun benar-benar hebat memainkan gairahnya! Tidak disangka pria yang akan menjadi kakak iparnya ini ternyata sangat panas. Saena membuka matanya tiba-tiba. Kenyataan itu menamparnya keras. Tidak, ini tidak benar!

Dengan sisa-sisa kesadarannya, Saena mendorong Kyuhyun agar menyingkir dari atas tubuhnya. Dia menegakkan tubuhnya kemudian menutup mukanya dan menangis.

Tidak, tidak, tidak seharusnya ini terjadi. Kyuhyun adalah milik kakaknya. Kalau Seonya tahu, dia pasti akan kecewa dan membencinya.

Kyuhyun kebingungan melihat perubahan emosi Saena dan segera beringsut ke dekatnya. “Hey, kenapa menangis? Apa aku menyakitimu?”

Sialan! Kau baru saja menyakiti kakakku! Dan kau bertanya seolah tida peduli! Saena terus menangis yang membuat Kyuhyun didera perasaan bersalah.

“Hey, dengar, dengar,” Kyuhyun memeluk tubuh Saena dan membiarkan gadis itu menangis di dadanya. Perasaan tidak enak menyelimutinya.

Apa dia berbuat terlalu jauh pada Saena? Menunjukkan pada gadis itu secara terburu-buru tentang bercumbu. Harusnya dia bisa berpikiran lebih jernih tadi.

Tapi tidak bisa! Dia pria normal yang akan melakukan hal tersebut pada gadis yang disukainya.

Yah, Kyuhyun menyukai Kim Saena sejak gadis itu masuk ke rumah sakit tempatnya bekerja. Dan kesalahannya malah bertunangan dengan kakaknya.

“Kalau kau berpikir aku melakukannya untuk memuaskan nafsuku, kau salah besar. Aku melakukannya dalam keadaan sadar dan karena aku ingin.”

Saena masih sesenggukan di dada Kyuhyun, sekaligus menyembunyikan wajah merahnya karna habis bercumbu dengan Kyuhyun sampai orgasme.

“Kau tidak menyakitiku,” Saena bersuara, Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menatap Saena lembut. Tatapan yang sumpah seumur hidup tidak pernah dia tunjukkan pada wanita manapun. “tapi kakakku!”

Oh! Inilah yang dipikirkan Saena! Sayang, andai kau tahu apa yang sebenarnya terjadi! Kau tidak akan menangis karna menyesal telah menyakiti kakakmu!

“Dia akan mengerti.” Ucapan Kyuhyun menghentikan tangis Saena. Matanya melebar tidak mempercayai pendengarannya. Kyuhyun bisa begitu santai saat mengatakan hal itu?

Bagaimana bisa dia berpikir Seonya tidak akan marah? Brengsek! Saena mendorong dada Kyuhyun menjauh darinya.

“Kenapa kau se-brengsek ini?”

“A-apa?” Kyuhyun terkejut saat Saena mengumpatnya. Seumur-umur hanya gadis ini yang berani mengatakan itu.

“Kau memanfaatkanku hanya untuk memuaskan nafsumu!”

“Tidak! Aku melakukannya karna aku ingin! Dan aku yakin seratus persen Seonya tidak akan keberatan jika kita melakukan ini atau bahkan lebih!” kata Kyuhyun penuh keyakinan, membuat Saena mencebik sinis.

Ternyata benar, semua pria memang brengsek. Di saat kakaknya tidak bisa memberikan kepuasan pada Kyuhyun, pria ini seenaknya menyeretnya ke atas ranjang dan nyaris bercinta kalau dia tidak segera sadar.

“Saena, tidak bisakah kau mempercayaiku? Aku tidak pernah menganggapmu demikian.”

“Tapi kelakuanmu menunjukkan hal yang berlainan.”

“Kelakuan yang mana?”

“Kelakuanmu yang seperti binatang. Menyerang siapapun agar menjadi pemuas nafsumu.”

Kyuhyun bungkam. Tatapannya yang semula lembut berubah seperti biasanya. Dingin, tak tersentuh. Ucapan Saena barusan menggores harga dirinya. Binatang? Begitukah gambaran dirinya di mata Saena? Menyerang siapapun? Pemuas nafsu?

Sialan.

Dia terdengar seperti gila nafsu. Padahal, di dunia ini, dia yakin tidak ada wanita yang akan berani mengatakan itu setelah mereka bercumbu dengan pria.

Saena, kenapa kau melukaiku? Kau membuatku terlihat seperti pria brengsek tak bertanggung jawab yang suka mempermainkan perasaan wanita.

“Aku membencimu! Jangan sekali-kali mendekatiku!”

Setelah berkata begitu, Saena beranjak turun dari atas ranjang. Merapikan sedikit rambut dan gaunnya yang berantakan kemudian melangkah keluar dari kamar Kyuhyun dengan tergesa.

Meninggalkan Kyuhyun termenung. Dia mengacak rambutnya kasar. Mereka bercumbu nyaris bercinta. Hampir saja Kyuhyun yang biasanya selalu terkontrol menjadi lepas kendali karena seorang wanita.

Kim Saena, kau membuatku gila!

Dan sekarang apa?

Aku seorang binatang di mata Saena?

Kenyataan itu lebih pahit daripada ketika dia mendengar bahwa pasien yang dirawatnya meninggal dunia. Untuk pertama kalinya, Kyuhyun merasa bahwa dia kalah dan bersalah terhadap perasaannya.

.

.

.

To Be Continue

 

Gimana? Gimana? Penasaran dengan kelanjutan kisah duo ini? Tunggu di part ending-nya yah. Nggak lama-lama kok aku bakal publish. Yoho! Makasih buat yang udah baca, sah-sah aja ninggalin jejak 😉

Advertisements

30 thoughts on “Impossible Romance Part 1

  1. Hunsoo says:

    Hai kak new reader nih hihi. Izin baca cerita kk ya.
    Kalok aku enggak salah nyimpulin, kk saena tau kalok kyuhyun sukanya sama adiknya bukan sama dia.Penasaran nih kak sama kelanjutannya, jangan lama2 ya publis nya wkwkwk

    Liked by 1 person

    • 154 says:

      Kerenn
      jd apakah kyuhyun & ka2 ny saen dah putus?
      Knp kyuhyun.ngmng ka2 ny saena g bakalan.marah klo kyuhyun berbuat lbh ma saena.
      Or kakany saena tau klo kyuhyun .dah jatuh cinta ma adikny

      Liked by 1 person

  2. lyeoja says:

    Ihihihi… seru seru seruu,,,
    Sukaaa akuuu, menarik lagiii.
    Kyu suka sama saena knpa tunangan ama seonya, apa akal2lah kyu aj supaya dekat saena…?
    Ditunggu kelanjutannya thor… jg squelnya why..

    Liked by 1 person

  3. choharuka says:

    Hihi ya ampun saena gak hisa apa2 deh kan lasian nanti pasiennya hihi. Alpun dah si kyuhyun galak amat cobak. Hoo ternyata mereka calon adik-kakak ipar? Tapi ada yg aneh dengan semuaya kenapa kyuhyun bilajg kayak gitu ke saena seolah-olah dia gak mencintai seonya?. Sebenarnya apa dibalik hubungan seonya dan kyhyun. Aahh bikin penasaran deh, kasian si kyu dibilang kayak binatang sama saena tapi salah si embul juga sih ngelakuin gitu ke saena. Pengen tau gimana kelanjutan kissh mereka, ditunggu next chapnya kak fighthing!!! 😀

    Liked by 1 person

  4. laela says:

    Ternyata kyu menyykai saena knp berbekit langsung saja blg kl kau cinta sama saena kyu dan knp jg kl cinta sama saena hrs tunangan sama kakaknya jd masalah tambah runit

    Liked by 1 person

  5. LeeAhn says:

    Salam kenal aku reader baru….
    Kalo kyuhyun suka sama saena, kenapa masih tunangan aja sama kakaknya saena???
    Apa kakaknya saena tau kalo kyuhyun suka sama saena n d jadikan batu loncatan?? Malah keluarga kyuhyun kaya lbh dekat ke saena….
    Penasaran nih hehehehehe

    Liked by 1 person

  6. ditabae94 says:

    keren eon ceritany pas awal aku bacany, aku pikir kyu jd pasien ugd gatauny dia jd sunbaeny saena keke panas” butuh kipas angin smga endingny mrk nikah ya

    Liked by 1 person

  7. rahma says:

    Aku berharap sih kyuhyun sama saena…mereka sama sama suka sebenarnya…tapi kenapa kyuhyun tunangan sama kakaknya saena?atau mungkin itu cuma akal akalan kyuhyun dan keluarga saena ya?ditunggu lanjutannya ya…

    Liked by 1 person

  8. kyuwonhae's wife says:

    Annyeong, aku newbie dsni hehe. Salken yah thor.
    Ommmooo…. aku rda binggung sma skap kyu? Knpa dia bgtu dingin pas dirmh sakit dan dirmh sngat santai bhkan akrab bgt sma saena ? Dan jg seonya dan kyu? Knpa kyu mlah berkta gak pp saat kyu nyentuh saena seonya gak bklan mrah?

    Liked by 1 person

  9. ardriela says:

    Untung Saena keburu sadar, ya ampuun nyariis aja. Ternyata orang yang sering mengomeli Saena adalah calon kakak ipar yang malah menyukainya.

    Seonya kenapa ? apa Seonya suka sesama jadi Kyuhyun gk apa apa ..

    Ff ini seru banget

    Liked by 1 person

  10. Sarti prihatin says:

    Hallo author aku reader baru ijin baca ceritanya. Ya ampun Kyu tunangan dengan kakak nya tapi berhasrat terhadap adiknya. Apakah yang akan dilakukan oleh Saena selanjutnya

    Liked by 1 person

  11. syalala says:

    baru bacaaaaaa!! hufttt kyuhyunaaaaahhhh ada ada aja dah kenapa sih barus begitu?! ga heran sih kalo saena ngomong begitu, jelas saena gatau apa apa kan huhu tp jd sedih sendiri yah ya gapapa biar drama dikit hahaha

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s