Faithful Love Chapter 2

Faithful Love Chapter 2
by Luna

Genre:
NC, Married-life, Romance, Chaptered

Main Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin

Cuap-cuap Author:
Tak ada kata yang pas selain, happy reading ^_^

Warning! Typo dimana-mana!
—oo0000oo—
faithful love
Chapter 2
What’s Left Behind

Flashback ON

Cho Kyuhyun memerawani gadis SMA! Tindakan di luar akal itu terjadi begitu saja. Dia melihat dari atas sini gadis itu menjerit keras kala kejantanannya hendak memasuki lembah hangatnya. Kyuhyun mati-matian menekan hasratnya agar tidak memasukkan miliknya seluruhnya dalam sekali entakan.

Gadis itumengalihkan rasa menyengat tubuh bagian bawahnya dengan mencakar punggung Kyuhyun. “Sakit!” Air matanya mengalir dari sudut matanya sementara kepalanya menggeleng kuat. Dia sudah sangat kesakitan dan ketakutan padahal Kyuhyun sama sekali belum menggerakkan pinggulnya. Berhasil memasukkannya saja rekor baru baginya.

Yoo Jin yang tidak berpengalaman dan Kyuhyun yang berdusta. Pria itu hanya membual saat mengatakan belum pernah melakukan seks dengan wanita. Justru hampir tiap akhir pekan dia melakukannya. Tidak dengan perawan, tentu saja. Melainkan wanita bayaran dengan persyaratan tertentu. Kyuhyun sering melakukan seks tanpa komitmen emosional dan keterlibatan di masa mendatang.

“Tidak ada kesempatan untuk lari sekarang, nona Lee,” ucap Kyuhyun penuh peringatan. Obsidian cokelat itu menguapkan keragu-raguan gadisnya. Dia baru tahu nama gadis itu Lee Yoo Jin dari nametag yang tersemat di kemeja putihnya yang kini teronggok mengenaskan bersama pakaiannya di dekat kaki ranjang.

“Kenapa sulit sekali?” desis Kyuhyun. Sekali lagi dia mencoba menerobos tubuh Yoo Jin. Kyuhyun menumpukan berat tubuhnya dengan bertopang pada kedua lengan yang diletakkan di samping kepala gadis itu. Dia tidak ingin ambruk di atas tubuh Yoo Jin di tengah-tengah usahanya memasukkan miliknya.

Setelah beberapa menit yang harus Kyuhyun capai untuk mendapat kepuasannya, dia mendesah lega. Tubuhnya telah sepenuhnya menyatu bersama milik Yoo Jin. Dengan gerakan hati-hati Kyuhyun mulai menggerakkan pinggulnya. Meski awalnya sangat sulit bergerak, perlahan namun pasti gerakan kakunya berganti menjadi dorongan kuat.

Yoo Jin tidak mampu merasakan apa-apa lagi selain denyutan demi denyutan yang menusuk selangkangannya. Semakin dalam Kyuhyun mendorong kejantanannya, semakin dalam cakarannya menusuk punggung pria itu.

Beberapa saat lalu dia hanyalah gadis polos yang tidak tahu-menahu soal seks. Tapi kini dia sudah dapat merasakannya sendiri betapa kerasnya kepemilikan pria yang menunjukkan maskulinitas mereka.

Apa yang dikatakan teman-temannya tentang mencari kenikmatan cukup melakukan seks ternyata berbanding terbalik dengan kenyataannya. Dalam sekejap tubuhnya seperti ingin terbelah jadi dua. Berapa lama dia harus menahan kesakitan ini?

“Kenapa kau tidak mendesah? Apa aku kurang—”

“Tidak!” jerit Yoo Jin spontan. Dadanya berdebar hebat. Meskipun kesadarannya berada di ambang yang mencemaskan, tapi telinganya tidak tuli.

Tidak butuh waktu lama baginya mencerna pertanyaan Kyuhyun. Dia sangat cukup memahaminya! Dia tidak mau mendesah karena itu sangat memalukan, apalagi kalau desahannya didengar oleh pria yang baru dia kenal.

“Kalau begitu keluarkan desahanmu,” pinta Kyuhyun sembari menggenggam wajah Yoo Jin yang berkeringat berlebihan akibat menahan desahannya. “Akan lebih menyakitkan kalau kau menahannya.”

Kyuhyun tidak berbohong soal ini. Dia pernah sekali mengalaminya. Salah satu wanita malam yang disewanya tidak mendesah sama sekali sepanjang malam mereka melakukan seks. Dan paginya wanita itu menggigil parah. Alhasil, dia harus memanggil sekretarisnya untuk mengurus wanita itu.

“A-aku, aku—” Kyuhyun dengan sabar menunggu jawaban Yoo Jin walaupun miliknya di dalam sana sudah mengeras dan siap meledak dalam hitungan detik. Yoo Jin mengerjap dan menjawab lirih, “Aku sangat malu. Aku tidak pernah melakukan ini apalagi mendesah, AHH!”

“Kau mendesah,” Kyuhyun mengecup kening Yoo Jin setelah menggerakkan pinggulnya tiba-tiba dan sukses membuat gadis itu mendesah keras. Yoo Jin bergegas menutup wajahnya yang pasti sudah sangat merah. “Teruslah mendesah, itu akan bagus untukmu.”

Sesuai keinginan Kyuhyun, gerakannya selanjutnya diiringi desahan Yoo Jin. Kyuhyun tidak perlu memeriksa apakah perbuatannya berhasil menerobos penghalang milik Yoo Jin yang menunjukkan jika gadis itu bukan lagi perawan. Cukup merasakan gerakan pinggulnya sendiri bergerak semakin mantap dan kejantanannya leluasa mengentak lebih dalam.

Yoo Jin menumpukan kedua kakinya di pinggul Kyuhyun yang bergerak semakin cepat. Gadis itu menggelinjang, mengacak sprei di bawahnya sambil mengerang keras, tidak kuasa menahan lagi gejolak membara di perutnya.

Kyuhyun menyentuh titik-titik sensitif yang bahkan dia baru sadar memilikinya dan hanya dapat dibangkitkan oleh gairah bercinta. Yoo Jin merasakan aliran hebat hendak mengalir cepat dari miliknya yang dia tidak tahu apa itu.

“Lepaskan saja.” Kyuhyun tahu jika saat ini detik-detik dimana Yoo Jin akan mendapat pelepasannya. Kyuhyun membantu dengan meremas dadanya dan melumat bibir Yoo Jin atas-bawah bergantian guna merangsangnya lebih cepat.

Yoo Jin melenguh panjang. Dia mendapatkan pelepasannya yang pertama. Napasnya yang memburu segera dibungkam ciuman hangat Kyuhyun. Pria itu sangat mengerti cara memperlakukan wanita.

“Bagaimana rasanya?” tanya Kyuhyun penasaran. Walau ini bukan pertama baginya membuat wanita orgasme, tetap saja pengalaman bersama seorang gadis menurutnya lebih mendebarkan. Jantungnya sejak tadi tidak berhenti berdegup kencang setiap Yoo Jin menarik napas tajam.

“Hmm, menyenangkan.” Ada rasa lega luar biasa ketika dia berhasil mencapai klimaks hingga rasanya dia takkan sanggup berjalan.

Kejujuran gadis itu benar-benar menguji kepenasaran Kyuhyun. Pria itu membungkuk cepat memberikan kecupan sensual di puncak payudara Yoo Jin yang mengeras. Sambil mendongak mengamati mimik wajah Yoo Jin yang ditutupi kabut gairah, dia berbisik, “Saatnya memasuki dunia baru.”

Mata gadis itu seketika terbuka lebar. Dia menangkap ekspresi geli dari Kyuhyun. Pria ini bisa menghancurkannya! “Jadi ini belum berakhir?”

Kyuhyun terkekeh dengan kepolosan gadis itu. Ternyata menyenangkan juga bermain dengan seorang gadis. “Belum, tentu saja.” Kyuhyun mensejajarkan wajah mereka lalu tanpa sepengetahuan Yoo Jin dia telah menggenggam tangan kanan gadis itu lalu membimbingnya menuju pangkal selangkangannya yang berada di antara penyatuan tubuh mereka. Benda itu masih menegang.

Yoo Jin terbelalak dan refleks menarik tangannya. Kyuhyun tertawa keras.

“Apa ini juga pertama kalinya kau menyentuh milik pria?” Yoo Jin mengangguk ragu, tak sanggup berkata-kata. Pipinya memanas. “Sepertinya aku pria beruntung yang mendapat semua hal pertama darimu. Ciuman pertama,” Kyuhyun melumat bibir merah Yoo Jin yang masih terengah lalu bergerak turun mengecup belakang telinganya. Yoo Jin mengerang. Satu lagi tempat sensitif berhasil dia temukan. “Dan, pria pertamamu.”

“Akh!” Desahan Yoo Jin disertai jeritan terkejut sebab Kyuhyun menggigit daun telinganya sementara pria itu tengah mendorong pinggulnya masuk ke dalam miliknya lagi. “Kali kedua kau mencapai klimaks adalah bersamaku.”

Yoo Jin kehilangan akal sehatnya. Yang bisa dirasakannya hanyalah dorongan-dorongan cepat dan menyiksa milik Kyuhyun. Otot-otot kewanitaannya menegang, menggenggam erat kejantanan Kyuhyun dan membiarkannya terbenam sempurna di dalam miliknya.

Kyuhyun mempercepat gerakan pinggulnya merasakan gairahnya telah terbangun terbukti dari kejantanannya yang kian menegang dan terjepit oleh milik Yoo Jin yang menyempit pertanda gadis itu akan mencapai klimaks lagi. Dia bergegas melumat bibir Yoo Jin dan menggigitnya ketika mereka berhasil meraih puncak bersama.

Cairan hangat itu mengalir deras ke dalam rahim Yoo Jin sebelum Kyuhyun sempat menyadari jika dia melakukannya tanpa pengaman. Pria itu mendesah panjang. Mengeluh di telinga Yoo Jin, menghembuskan napasnya yang terdengar sangat seksi sehabis bercinta.

Mereka bertatapan cukup lama saling mengungkapkan kepuasan masing-masing. Yoo Jin mendesah saat Kyuhyun tak sengaja menekankan selangkangannya di tengah usahanya beranjak dari tubuh gadis itu. “Gomawo,” ucapnya tulus.

Tanpa melepas penyatuan tubuh mereka, Kyuhyun menarik tubuh Yoo Jin hingga jatuh ke dalam pelukannya. Meski Yoo Jin sedikit kurang nyaman dengan posisi tidur mereka saat ini, dia tidak menolak maupun menjauh. Gadis itu justru suka cita menyambut pelukan hangat Kyuhyun. Dia tidak menyesal merelakan keperawanannya pada pria sehangat Cho Kyuhyun.

.

.

.

Gadis itu bergumam resah. Mengapa rasanya sulit sekali membuka mata? Kepalanya berdenyut parah. Tubuhnya terasa sakit terutama di bagian selangkangannya. Susah payah Lee Yoo Jin mencoba menyadarkan dirinya sendiri hingga sebuah suara yang tak asing lagi baginya berdengung di telinganya. Samar-samar dia dengar suara itu bersahut-sahutan menyeramkan.

Perlahan matanya mulai mengerjap. Kesadaran mulai menghampirinya ketika dirasakannya sesuatu yang lembut dan hangat menyapu permukaan kulit kewanitaannya. Dia terjaga saat menyadari sebuah tangan yang menggenggam handuk hangat tengah mengusap miliknya. Walaupun tubuhnya terasa sangat sakit dimana-mana, Yoo Jin sepenuhnya sadar siapa pemilik tangan itu.

“Kyuhyun,” panggilnya dengan suara serak. Pria itu terkesiap dan seketika gerakan teraturnya membersihkan sisa percintaan mereka semalam terhenti.

Yoo Jin tahu pria itu sedang menyembunyikan ekspresi terkejutnya dengan sebuah senyuman. Dan dia tahu sesuatu telah terjadi pada Kyuhyun. Seingatnya semalam wajah Kyuhyun masih baik-baik saja, tapi kenapa sekarang wajah tampannya jadi penuh lebam?

“Aku akan bertanggung jawab.”

Itu adalah kalimat paling serius yang seumur hidup pernah Yoo Jin dengar yang diucapkan secara tegas tanpa ragu-ragu. Kyuhyun beranjak dari posisinnya yang bersimpuh di dekat kakinya lalu tangannya meraih kepala Yoo Jin dan secepat kilat mengecup bibir Yoo Jin. Begitu saja, Kyuhyun beranjak dari sana dan menghampiri seseorang yang Yoo Jin sangat yakin siapa dia.

Ayahnya!

Ayah Yoo Jin yang diam-diam memasang alat pelacak yang berfungsi seperti GPS di ponsel Yoo Jin mengetahui keberadaan putrinya yang menghilang sejak semalam.

Betapa terkejutnya dia karena tujuan terakhir yang ditujukan alat pelacat itu Yoo Jin bermalam di hotel dan tidak sendiri melainkan bersama seorang pria. Parahnya, dia tahu jika pria itu telah meniduri putrinya.

Bisa kalian bayangkan perasaan khawatir seorang ayah berubah menjadi kemurkaan luar biasa pada pria brengsek yang berani menodai putrinya.

Tak tanggung-tanggung, Ayah Yoo Jin langsung menyuruh Kyuhyun segera menikahi Yoo Jin tidak peduli walau putrinya masih berstatus murid SMA atau orang tua Kyuhyun akan menolak. Kalau perlu Ayah Yoo Jin menuntut bila Kyuhyun tidak bersedia.

Andai bisa memutar waktu ke tiga puluh menit lalu dan menggambarkan betapa kacaunya keadaan Kyuhyun yang tiba-tiba diserang oleh sekelompok orang yang mendobrak pintu kamar hotelnya di pagi buta dan seorang pria menodongkan pistol revolver berukuran besar tepat ke arahnya!

“Pria brengsek, enyahkan tangan kotormu dari putriku sebelum kutarik pelatuk ini!” geram Ayah Yoo Jin yang saat itu tidak dapat lagi mengendalikan kemarahannya hanya dengan melihat putrinya tengah terlelap di dalam pelukan seorang pria.

Meski Kyuhyun masih bingung dengan keadaan yang serba tak terduga ini, dia berusaha tenang dan secepatnya memakai celana boxernya yang tercecer di lantai.

Kyuhyun berdiri tegap di samping ranjang dengan kepala menunduk tidak berani membalas pandangan penuh amarah pria yang usianya tidak beda jauh dari ayahnya. Sementara dalam hati dia terus merapalkan berbagai umpatan. Fuck!

BUGH! Ujung revolver menghantam kuat rahang kiri Kyuhyun. Minta ampun sakitnya, tubuh Kyuhyun sampai terhuyung dan kepalanya membentur pinggiran ranjang hingga jatuh ke lantai. Pria itu mengerang kesakitan. Rahangnya seperti ingin patah. Sialan! Kenapa dia bisa tertangkap basah!

“Ayo, berdiri!” perintah Ayah Yoo Jin. Pria tua itu tidak akan memberi ampun sebelum pria yang meniduri putrinya menerima akibat atas perbuatannya. “Kau berani meniduri putriku artinya kau siap berduel denganku.”

APA?! Kyuhyun mengangkat wajahnya. Tapi, belum sempat dia melihat wajah pemilik suara menyeramkan itu, rahang kanannya ganti mendapat tamparan keras hingga rasa sakitnya menjalar ke ubun-ubun.

Harusnya dua pukulan itu tidak berarti apa-apa untuk Kyuhyun, mengingat pria itu sering berlatih bela diri. Tapi, hey! Siapa juga yang siap berperang di saat kesadaranmu baru tiga puluh persen terisi dan kau sudah mendapat dua pukulan telak! Kyuhyun jadi kewalahan.

Dengan segenap kekuatan yang berusaha Kyuhyun kumpulkan, pria itu bangkit lagi. Dan kini mereka baru benar-benar berhadapan.

Pria tua itu tingginya kira-kira hampir menyamai tinggi Kyuhyun, dia memiliki rahang kokoh dan tubuh yang bugar untuk seorang pria yang berusia di-awal lima puluh tahun. Bukan hanya penampilannya yang beringas, tapi pistolnya yang entah legal atau tidak itu yang membuat perut Kyuhyun seakan diremas-remas.

“Tuan Lee, bisakah kita bicarakan ini dengan baik-baik?” tawar Kyuhyun berusaha mencari celah kelemahan pria di depannya. Harga dirinya tidak boleh jatuh di tangan pria tua sepertinya!

“Apa kau mengira masalah besar seperti ini bisa dibicarakan dengan kepala dingin? Ayo kita selesaikan secara jantan!”

Shit! Siapa sih Lee Yoo Jin? Kenapa dia bisa bertemu dengan gadis yang memiliki ayah semenakutkan begini?

Hebatnya, hanya dalam waktu tujuh menit Ayah Yoo Jin sukses membekuk tubuh Kyuhyun di lantai. Harapan Kyuhyun untuk kabur sia-sia, angannya akan menghabiskan masa mudanya bersenang-senang dengan banyak wanita seketika sirna, saat mendengar pengumuman dari pria tua itu.

“Kau telah bersumpah di hadapanku akan bertanggung jawab dan menikahi putriku.” Ayah Yoo Jin mendorong tubuh Kyuhyun ke ranjang tempat putrinya masih terlelap. “Katakan itu pada Yoo Jin.”

Kyuhyun tidak menyangka sesuatu yang buruk terjadi sangat cepat dalam hidupnya. Dalam sedetik hidupnya yang setenang air bergejolak seperti api membara yang disulut minyak panas. Kyuhyun memang bersumpah akan bertanggung jawab, tapi dia tidak berjanji akan menghabiskan hidupnya dengan gadis seperti Lee Yoo Jin.

Segera, dia akan membuat gadis itu tidak betah lalu menceraikannya.

FLASHBACK OFF

.

.

.

“Shit! Bayi sialan!”

Kyuhyun seakan ditarik lagi ke dunia nyata. Gadis yang baru dimakinya diam tak berkutik mendengar geramannya. Kejadian memuakkan tiga minggu lalu menguras emosinya. Dia masih saja memikirkan kecerobohannya bercinta dengan gadis ini. Yang karena kebodohannya membuat hidupnya terjerat bersama mertua psikopat!

Bibir Yoo Jin bergetar tidak sanggup menjawab kemarahan Kyuhyun. Dadanya bergemuruh memendam sakitnya sendiri. Kyuhyun saja tidak suka dengan kehadirannya, apalagi kehadiran bayi mereka. Harusnya kau sadar itu, Lee Yoo Jin!

“Gugurkan saja bayi itu.”

Yoo Jin terhenyak. Hatinya mencelos. Kantong empedunya seperti naik ke tenggorokan hingga ludahnya terasa pahit sekali. Matanya mencari pembenaran dari tatapan Kyuhyun yang tajam seakan menembus retinannya. Oh, bahkan Yoo Jin tidak bisa menafsirkan apa Kyuhyun bersungguh-sungguh ataukah hanya ingin menyakiti hatinya lebih dalam?

“Gugurkan sebelum perutmu semakin membesar dan orang-orang menyadarinya, apalagi ayahmu.”

Kyuhyun berbalik memunggungi Yoo Jin. Dia tidak sanggup membalas tatapan memohon gadis itu. Sedikit saja dia lengah, gadis itu akan memanfaatkan keadaan dan mempertahankan kandungannya. Kyuhyun yang sudah tak tertolong lagi, meraih tas ranselnya dan bergegas meninggalkan ruang ganti tanpa menoleh ke belakang. Pria itu dengan kejamnya meninggalkan kesakitan mendalam bagi istrinya.

.

.

.

Sekembalinya Yoo Jin ke Korea, dia bertambah murung. Persiapan hari kelulusannya satu minggu lagi ia biarkan terlewat dan meminta temannya mengurusnya. Sementara dia menghabiskan waktu berkonsultasi ke dokter kandungan tanpa sepengetahuan ayahnya.

Yoo Jin tidak bercerita apapun perihal pertemuannya dengan Kyuhyun di Los Angeles maupun kenyataan suaminya memiliki kekasih yang dibawanya kesana bukan istrinya.

Yoo Jin sudah memutuskan tidak akan menggugurkan kandungannya. Apa salah bayinya? Mengapa dia harus tega membunuh calon anaknya demi memuluskan keinginan jahat suaminya. Biar saja nanti Kyuhyun memarahinya. Asalkan bayinya tetap hidup, meski dia harus merasakan sakitnya sendiri, Yoo Jin sangat yakin suatu saat nanti dia bisa memenangkan hati Kyuhyun.

“Hey!” Pundak Yoo Jin ditepuk agak keras dari belakang. Gadis itu melompat saking kagetnya.

Lee Donghae terkekeh riang, berhasil mengejutkan sahabatnya. “Melamunkan siapa? Aku, ya?”

“Cih!” Tawa Yoo Jin nyaris meledak mendengar gurauan Donghae yang punya kepercayaan diri tingkat dewa. Dulunya Yoo Jin pernah berangan-angan bagaimana jika dia menjalin cinta dengan sahabatnya sendiri. Mungkin hubungan mereka akan terus menyenangkan seperti ini.

“Chukkae, my princess.” Satu kecupan mendarat cepat di pipi agak tembam Yoo Jin. Yang dicium melongo sambil menepuk pipinya yang mendapat kecupan singkat tiba-tiba dari Donghae. Dengan tampang tak bersalahnya, pria itu menggaruk rambutnya.

“Kecupan perpisahan, hehe. Tidak akan ada yang marah, kan?”

Ya Tuhan! Yoo Jin menengok ke kanan dan kiri. Tidak ada orang yang menyaksikan mereka. Gadis itu mendesah lega. Bahaya kalau bodyguard ayahnya sampai melihat mereka. Lebih celaka lagi kalau Kyuhyun yang melihatnya.

Ah, omong-omong soal pria itu.

Kyuhyun belum pulang dari luar negeri dan selama seminggu ini pria itu tidak pernah mencoba menghubunginya. Bahkan di hari kelulusannya Kyuhyun tidak menunjukkan batang hidungnya. Yoo Jin menghela napas panjang. Sudahlah, tidak ada gunanya juga meributkan masalah yang dia sendiri tidak tau penyelesaiannya.

“Yak, Tuan Mokpo! Bisakah kita merayakan kelulusan di rumahmu?”

Senyum Donghae mengembang. Matanya berbinar senang. “Sangat tidak keberatan, princess! Kajja!”

Tanpa pikir panjang, Donghae menggandeng lengan Yoo Jin menuju mobilnya di pelataran parkiran. Setiap langkah yang diambilnya bersama Donghae terasa ringan. Dia sangat tahu kebaikan Donghae selain mengatasnamakan persahabatan mereka, juga karena perasaan pria itu padanya.

Meski Donghae tidak mengharap balasan, tapi Yoo Jin yakin hanya dengan merasakan perhatian Donghae padanya bahwa perasaan pria itu masih sama. Oh, andai saja kau tahu Donghae aku sudah menikah dan sedang hamil, apa yang kira-kira akan kau lakukan?

Rumah kediaman keluarga Lee di Mokpo sungguh sangat strategis. Lingkungannya yang berada di kawasan pelabuhan membuat Mokpo menjadi salah satu tujuan banyak orang untuk menikmati sunset dan kuliner gurita.

Tidak heran Yoo Jin sering berkunjung ke rumah Donghae. Menginap satu-dua hari pun tidak masalah. Malah orang tua Donghae yang jarang ada di rumah tidak pernah keberatan. Justru mereka menerimanya dengan tangan terbuka dan begitu Donghae tidak kesepian di rumah.

“Lama-lama aku merasa rumahmu seperti goa hantu.”

“He-em.” Donghae menenggak botol air minumnya. Kehausan setelah menempuh dua jam perjalanan. “Mau?” Pria itu menyodorkan botolnya pada Yoo Jin yang dibalas gelengan. Gadis itu sibuk mengagumi langit sore dari jendela besar ruang tamu. Tempat setenang dan sedamai ini dimana lagi bisa dia temukan.

Donghae memandangi siluet punggung Yoo Jin yang tersorot sinar matahari sore. Sayang sekali. Batin Donghae. Sahabat sekaligus gadis yang disukainya telah menjadi milik orang lain.

“Bagaimana kalau kita pergi sekarang?” Donghae sukses mengambil perhatian Yoo Jin. Terbukti gadis itu membalikkan badan dan memasang ekspresi penasaran. “Kita makan gurita sepuasnya!”

.

.

.

Jang Ma Ri merona. Dia sukses menyelipkan tangan nakalnya ke dalam celana jeans Kyuhyun yang tengah larut dalam alkoholnya. Saat tangan itu meremas perlahan miliknya yang sama sekali tidak terangsang, sontak Kyuhyun melonjak menjauh sambil mendesis tajam. Tatapannya yang berkabut tiba-tiba menjadi kalut.

“Aku pergi.” Kyuhyun beranjak dari sofa yang terletak di tempat lebih gelap dan tersudut dari keramaian kelab malam. Resleting celananya ditarik cepat ke atas lalu diambilnya jaket hitam kepunyaannya.

“Kau mau kemana, Kyu?” Ma Ri buru-buru mengekori Kyuhyun yang tergesa-gesa pergi setelah membaca pesan singkat di ponsel pintarnya. Dia yakin sesuatu yang serius telah terjadi. Tidak mungkin Kyuhyun pergi sebelum mereka melakukan seks. Oh, Kyuhyun bahkan tidak pernah menyentuhnya selama mereka di Los Angeles.

Kyuhyun meraih ponselnya yang disimpan di saku belakang celananya. Dia men-dial sebuah nomor untuk melakukan panggilan cepat. Menunggu beberapa detik sampai sebuah suara agak kekanakan terdengar dari seberang. “Dimana?”

Seseorang di ujung sana yang menerima teleponnya merengut antara bingung, kaget, dan senang Kyuhyun meneleponnya. “O-oh, a-aku sedang di Mokpo.” Dia bergumam, “Apa kabar, Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun menggeram. Sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel memijat keningnya yang sedikit berputar karena alkohol yang diteguknya di dalam. Namun bukan itu yang menyebabkan Kyuhyun kesal. Melainkan panggilan formal dan pertanyaan konyol yang merusak gendang telinganya.

“Kau tidak pamit orang rumah?” Orang itu tergagap. Sepertinya dia benar-benar lupa ada belasan orang yang menunggu kabar darinya yang menghilang seusai acara kelulusannya di sekolah. “Kau bisa kan tidak merepotkanku sekali saja. Aish!”

Kyuhyun memencet tombol merah mengakhiri percakapan singkat mereka. Jarinya dengan cepat menekan panggilan cepat lainnya. Tak sampai sedetik teleponnya telah tersambung dengan sekretarisnya. “Bos! Kau sudah di Korea?”

“Kirimkan lokasi Lee Yoo Jin padaku. Sekarang.” Bahkan Kyuhyun tidak menggubris pertanyaan sekretarisnya. Dia tidak punya banyak waktu. Memusingkan gadis kecil yang bisa meresahkan belasan pekerja di rumah mertuanya, benar-benar menguras tenaga.

Semalam pesawatnya baru saja mendarat di Korea. Dia sengaja pulang sehari sebelum kelulusan Yoo Jin—gadis menyebalkan yang dia bicarakan tadi. Kyuhyun tahu seberapa pentingnya hari ini bagi gadis itu. Malah dia berharap bisa menemui Yoo Jin, dan, meminta maaf.

Jujur, dia merasa tidak enak meninggalkan Yoo Jin hari itu. Dia tidak tahu kesusahan apa yang menimpa gadis 18 tahun di negeri orang tanpa pengawal sepertinya. Dan dengan teganya dia biarkan Yoo Jin berkelana sendiri mencari jalan pulang.

Sial. Setiap kali dia mengingat sikap buruknya, dia merasa seribu kali lebih buruk. Apalagi saat mendengar Yoo Jin sangat canggung memanggilnya tadi.

“Kyu, kau mau kemana sih?” tanya Ma Ri kesal. Dia susah payah mensejajari langkah Kyuhyun yang panjang menggunakan heels-nya. “Jangan bilang kau mau meninggalkanku?” Ma Ri mencengkeram lengan Kyuhyun hendak menghentikan jalan pria itu yang sudah siap pergi dengan motor hitam besarnya.

Kyuhyun menghempaskan tangan Ma Ri yang mencegahnya. “Yak! Kyu! Kau tega sekali. Kau yang mengajakku kesini dan aku sudah sangat siap—”

“Kau bisa mencari pria lain, kan? Lagi pula kita bukan pasangan kekasih sungguhan.” Kyuhyun menjepit dagu Ma Ri lalu menariknya kasar hingga mata mereka saling bertatapan. “Aku hanya menyewamu. Dan sejak awal sudah kuperingatkan jangan pernah menyentuhku.” Kyuhyun ingat ciuman di hari kemenangannya di Dodger yang menggegerkan teman-teman se-timnya.

“Tapi kau tidak keberatan saat tadi aku menyentuh tubuhmu.” Ma Ri mencoba menarik dagunya yang terasa sakit dalam genggaman Kyuhyun. Dia sedikit takut dengan sisi dingin pria itu.

Kyuhyun mencibir. “Aku tidak menaruh minat pada jalang sejenismu.” Tanpa berperasaan Kyuhyun menghempaskan wajah Ma Ri lalu menatapnya jijik.

Ma Ri merasa harga dirinya diinjak-injak oleh pria kaya yang seharusnya dia sadar dirinya tidak pantas untuk marah. Dia hanyalah wanita malam yang disewa selama seminggu yang beruntungnya diajak pergi ke luar negeri. Sesuatu yang tidak pernah ia mimpikan terjadi dalam kehidupan suramnya.

“Urusan kita selesai malam ini. Jangan kau berani memunculkan wajahmu di hadapanku lagi.”

Hanya berkata demikian dan Kyuhyun langsung mengendarai motornya menuju lokasi yang dikirim sekretarisnya. Meninggalkan wanita yang berteriak-teriak marah tidak terima dicampakkan sangat hina oleh pria kaya yang gagal dia dapatkan.

Motor Kyuhyun membelah jalanan Korea yang tidak pernah sepi meski malam menjelang. Di tengah keramaian Kyuhyun merenung. Hal mungkin apa yang akan dia lakukan nanti saat bertemu dengan Yoo Jin. Gadis yang sudah tak dilihatnya seminggu ini.

Apa keadaannya baik-baik saja? Dari suaranya di telepon tadi kedengarannya dia sedang bersenang-senang. Ah, benar juga. Mungkin Yoo Jin sedang merayakan kelulusannya bersama teman-temannya. Tapi, apa harus pergi jauh ke Mokpo? Terkadang gadis itu memang suka melakukan hal-hal aneh.

.

.

.

Yoo Jin menyimpan ponselnya ke dalam kantong jaketnya dengan gelisah. Desahan napasnya terdengar sangat putus asa. Sepiring baby gurita di depannya terlihat tidak semenggiurkan sebelum ponselnya berdering tadi. Kenapa dia jadi takut bertemu Kyuhyun? Pasalnya, mereka belum bertemu apalagi mengobrol pasca pertengkaran kecil mereka di LA. Kapan Kyuhyun pulang? Dan kenapa dia bisa meneleponnya?

“Apa sesuatu telah terjadi?”

Suara Donghae memecah keheningan. Yoo Jin tersenyum masam. “Ah, tidak apa-apa. Hawanya semakin dingin.” Donghae tersenyum. Dia melepas jaket berbulunya lalu menyampirkannya di atas pundak Yoo Jin.

“Aku tidak ingin my princess terkena flu,” bisik pria itu tepat di telinga Yoo Jin, membuat gadis itu merinding dengan kehangatan Donghae. Beruntung sekali dia memiliki sahabat sepertinya.

“Gomawo.” Yoo Jin tidak ingin mengecewakan Donghae yang rela menghabiskan malam hari kelulusan mereka hanya dengannya di kedai pinggiran kota, kemudian mulai menyendok baby gurita pedas dengan rakus.

Dia menutup mata. Mengabaikan keresahan hatinya dan membebaskan pikirannya yang keruh penuh bayangan Kyuhyun yang menyusulnya kemari. Tidak mungkin. Kyuhyun tidak sepeduli itu padanya.

“Yaa, pelan-pelan saja makannya. Dia tidak akan pergi kemana-mana.” Donghae tertawa. Gemas memerhatikan kehebohan makan ala Yoo Jin. Tanpa sadar dia mencubit pipi Yoo Jin agak keras. Gadis itu yang diganggu makannya berteriak dan mendengus kesal. “Kau seperti ibu hamil saja.”

Yoo Jin tersedak saus pedas yang baru setengah jalan memasuki kerongkongannya hingga rasanya seperti terbakar. Buru-buru Donghae mengulurkan segelas air dan mengusap leher Yoo Jin perlahan. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir dan bersalah. Dia tidak menyangka jika gurauannya ternyata berpengaruh. Padahal dia hanya asal bicara.

Donghae hanya tidak tahu kalau leluconnya benar tentang Yoo Jin yang mirip ‘ibu hamil’. Dia memang sedang hamil. Yoo Jin mengelus perutnya tanpa sepengetahuan pria di sampingnya yang kini sibuk meminta maaf dan mengurut lehernya. Aduh, kenapa perutnya tiba-tiba jadi mulas?

“Maaf—” Donghae tidak sempat bertanya saat Yoo Jin tergesa-gesa berdiri lalu berlari keluar dari kedai. Pria itu mengikuti Yoo Jin yang ternyata sedang berjongkok di dekat tanah kosong. “Yoo Jin! Kau kenapa?”

Yoo Jin melambaikan tangannya menyuruh Donghae pergi. Dia sudah sangat malu ketahuan muntah di pinggir jalan. Tapi apa boleh buat, dia sudah tidak kuat menahan rasa mualnya. Walaupun ini bukan yang pertama, tapi dia jarang sekali muntah di malam hari. Pasti ini gara-gara Donghae yang menyinggung soal kehamilan tadi.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu.” Donghae bersikeras. Dia tidak pernah melihat Yoo Jin jatuh sakit, tentu saja sekarang dia sangat khawatir. Tapi dia juga tidak bisa melewati batas privasi orang lain. Jadi dia menyodorkan sapu tangannya. “Pakailah. Kau tidak mungkin menggunakan jaketmu, kan?”

Mau tidak mau Yoo Jin meraih sapu tangan berbahan lembut itu dan bergegas mengelap bekas muntahan di bibirnya. Matanya memejam, mencoba menyeimbangkan kakinya yang seperti jeli. Dia tidak sanggup berdiri. Muntah sekali saja bisa menguras energinya.

“Jin-ah, maafkan aku kalau leluconku keterlaluan. Maaf sekali.” Donghae turut berjongkok di samping Yoo Jin tidak peduli dengan bau muntahan di depannya. Dia benar-benar merasa bersalah. Bodoh!

“Ini hanya muntah biasa. Mungkin aku masuk angin.” Lagi, Yoo Jin mengelus perutnya sambil terus merapalkan doa agar bayinya tenang dan tidak bergejolak lagi yang merangsangnya untuk muntah. Sayang, jangan sekarang. Eomma tidak ingin paman Donghae tahu keadaan eomma sebenarnya.

“Kita harus pulang,” putus Donghae sepihak. Tanpa pikir panjang pria itu memeluk Yoo Jin lalu menggendongnya. Yoo Jin melingkarkan lengannya di sekitar leher Donghae ragu-ragu. Dia bingung antara ingin menolak, tapi kakinya benar-benar lemas tidak bisa digerakkan. Dan dia menyerah begitu Donghae melangkah menjauhi kedai menuju trotoar ke arah rumahnya yang jaraknya sebenarnya cukup jauh.

“Kau bisa tidak menggendongku, Donghae-ya. Aku sangat berat, kan?” Donghae semakin mengeratkan pelukannya seolah tak acuh. Ekspresinya kaku, kebiasaan jika dia merasa bersalah dan harus bertanggung jawab atas kesalahannya.

“Aku akan marah pada diriku sendiri kalau aku menelantarkanmu.”

Hati Yoo Jin menghangat. Kepalanya bersandar dengan nyaman di leher Donghae. Napasnya yang semula tak karuan perlahan mulai teratur. Kalau begini caranya bisa-bisa dia tertidur dalam pelukan pria ini. Kebaikan hati Donghae tidak diragukan lagi. Tidak seperti Kyuhyun yang selalu mengabaikannya dalam keadaan apapun. Sampai rasanya dia bukan suaminya. Tempat dimana dia harusnya bergantung.

Sekian ratus meter menuju rumah Donghae, kedua orang itu membisu. Donghae sibuk dengan pikirannya, sedangkan Yoo Jin sudah terlelap beberapa saat lalu. Pria itu berpikir kejadian magis ini akan berakhir beberapa menit lagi saat rumah Donghae telah terlihat. Deru motor dari belakang berjalan mendekat, namun berhenti tepat beberapa meter dari mereka.

Mendadak Donghae waspada. Dia melirik dari ekor matanya berusaha mencari tahu apa gerangan yang membuat seseorang menghentikan motornya ketika mereka lewat malam-malam begini. Dia mempercepat langkahnya yang membuat langkah orang di belakangnya juga menyamai kecepatan langkahnya.

Tapi Donghae lupa jika sekarang dia membawa beban di tangannya yang justru memperlambat langkahnya sehingga seseorang itu telah mendahuluinya, bertolak pinggang dengan angkuh. Menghentikan Donghae secara paksa.

“Apa yang kau lakukan pada istriku?”

Donghae terkesiap. Kepalanya terangkat dan detik berikutnya Donghae tak memprediksi ada seseorang yang memukul wajahnya hingga dia hilang keseimbangan dan terjatuh bersama Yoo Jin dalam pelukannya. Gadis itu terbangun dan mengerjap kaget mengetahui dia jatuh menimpa Donghae yang terkapar di tanah.

Yoo Jin seakan ditarik ke udara, sedangkan Donghae merasa seseorang yang sangat diinginkannya diambil paksa darinya. Orang itu membalikkan tubuh Yoo Jin dengan sedikit kasar.

“Jadi ini yang kau lakukan saat aku tidak ada?”

Kyuhyun menggenggam kedua lengan Yoo Jin lalu menariknya mendekat untuk menatap tajam retina Yoo Jin yang masih linglung terhadap apa yang barusan terjadi. Rasanya baru sebentar dia tertidur, tapi sekarang dia harus dipaksa bangun lagi.

Transisi yang mengejutkan membuatnya merasa mual lagi. Tangannya yang mencengkeram baju depan Kyuhyun bergetar. Bukannya menjawab pertanyaan pria itu, Yoo Jin spontan memuntahkan isi perutnya ke baju Kyuhyun!

“YAK!” Kyuhyun berteriak keras. Dia jijik, tentu saja! Apa maksud gadis ini muntah padanya? Bahkan tidak sekali Yoo Jin muntah, melainkan sampai empat kali! Dan seolah belum cukup menjijikkan, Yoo Jin menjadikan baju Kyuhyun yang tidak terkena muntahannya sebagai lap untuk mengusap bibirnya.

“Shit!” Kyuhyun mendorong Yoo Jin menjauh. Dia menghirup bau tak sedap yang menguar dari jaketnya. Dengan tak sabaran Kyuhyun melepas jaketnya dan terperangah mengetahui kaosnya juga basah dan lengket.

Yoo Jin yang baru tersadar dari masa linglungnya hanya mampu mengerjapkan mata bingung harus berbuat apa. Kyuhyun! Kyuhyun ada disini! Dan apa yang telah kuperbuat?!

“Kyuhyun-ssi, maafkan aku! Aku minta maaf!” Yoo Jin bungkam saat Kyuhyun malah melototinya dan seolah-olah menganggap kaosnya ternodai oleh sesuatu yang sangat menjijikan, sehingga dia juga melepas kaosnya. Kyuhyun kini bertelanjang dada.

“Bocah nakal. Akan kuhukum apa kau setelah ini?” geram Kyuhyun seraya menarik tangan Yoo Jin. Dengan sekali gerakan, bibir tebalnya telah menyapu permukaan bibir Yoo Jin. Jangan mual saat kalian membayangkan bagaimana rasanya bibir gadis sehabis muntah yang di mulutnya masih tersisa bekas muntahannya.

Tapi Kyuhyun melakukannya seolah itu adalah kebutuhannya. Dia belum menyentuh wanita manapun. Terakhir kali dengan gadis ini di ruang ganti kemarin. Dan entah kenapa bibir ini bisa menjadi kekuatannya.

Sekaligus menunjukkan betapa berkuasa dirinya atas gadis ini pada pria yang masih diam terkapar menikmati pertunjukan mengejutkan malam ini dari bawah sana.

.

.

.

To Be Continue

Ingin tahu kelanjutannya dan update FF tercepat? Silahkan add Line: @bri4338c

 

 

 

 

Advertisements

26 thoughts on “Faithful Love Chapter 2

  1. Amel cho7 says:

    Bingung frh maunya kyuhyun apasihhhh, yojin dicuekin sm dia, giliran sm laki laen nggak bolehhhh , kasian donghaenya, untungnya donghae punya ayah yg berkuasa, jd bs lah ya nglindungin dia klau diapa2 in kyuhyun

    Liked by 2 people

  2. akoemesaya says:

    Ini kyuhyun cinta apa gengsi ngaku klo udh jatuh cinta sih sm yojin.
    Dasar mr.teritorial dan pemaksa.
    Untung lu cakep bang. Tp tetep ajh tangan gw gatel pengen jambak gambut kyuhyun.
    Gemezzzz..

    Liked by 2 people

  3. zahra syifa says:

    waaahhh……donghae jd tau deh klw yoojin udh puny suami…
    ish kyu mah jahat tp bkin hati deg degan sm kelakuan yg ngejutin..maen cium2 d dpn orang lg hihihi

    Liked by 2 people

  4. aryanahchoi says:

    gue buang ke laut tu kyu dasar gx peka n nyebelin😠😠😠
    duhhhhh my baby hae kasihan bgt cup cup sini sayang dedek rela Hadi pundak bt kamu😊😊😊
    seandainya klo yoo jin cerai dari kyu apa mungkin hae mau nikahin yoojin?
    pastilah tpi gx tau yoo jin nya😳
    ayahnya yoojin nyeremin tapi hrsnya kyu di jatuhin dari atap tu hotel

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s