CLEFT [Chapter 2]

CLEFT Chapter 2
By Luna           

Genre:
Romance, Chaptered

Main Cast:
Kang Soo Jin | Cho Kyuhyun

Support Cast:
Kim Haneul | Choi Siwon |  Lee Hyukjae

Cuap-cuap Author:
Aku tau, aku tau, pasti pada lupa kan sama FF ini?
Mulai sekarang aku akan mulai lanjut lagi yaaa, semoga kalian suka 😀
*Masih bukan Switch, sabar aja ;)*
Lupa ceritanya?
Klik: https://lunamonster44.wordpress.com/2017/04/17/cleft-chapter-1/
Happy Reading^^

cleft

Warning! Typo dimana-dimana!
—oo0000oo—

“Kenapa kau mengirim polisi ke apartemen gadis itu?”

Haneul menghentikan aksi mengupas kulit apel mendengar pertanyaan Kyuhyun.

Sekarang adalah jam makan siang dan Haneul menyempatkan diri datang ke rumah sakit untuk menjenguk Kyuhyun yang notabene-nya adalah teman masa kecilnya sekaligus bos besar di perusahaan tempat dia bekerja.

Mengenai pertanyaan namja itu, Haneul terkejut. Bagaimana bisa Kyuhyun tau kalau dirinyalah yang meminta bantuan polisi agar menangkap gadis yang telah mencelakainya? “Apa? Polisi apa?” tanyanya pura-pura.

“Kau sangat mengerti maksudku.” ujar Kyuhyun tajam. Dia menatap Haneul dalam. Air muka gadis itu berubah. Ada sesuatu yang disembunyikan darinya.

“Aku sudah pernah bilang kan? Ketika itu berhubungan dengan privasiku, jangan pernah melewati batasmu sebagai sekretarisku. Biarkan aku yang mengurus gadis itu, kau cukup menjalankan tugasmu di kantor.”

Kyuhyun mencomot potongan jeruk yang sudah dikupas oleh Haneul.

“Kenapa tidak boleh?”

Haneul meletakkan pisau yang dia gunakan untuk mengupas apel di atas piring dan berniat melanjutkan obrolan ini kalau Kyuhyun sedang tidak lelah.

“Aku peduli padamu, Kyu. Aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada gadis itu. Apa aku salah kali ini?”

“Bukan.” Kyuhyun merebahkan punggungnya dan matanya menatap langit-langit. Seperti sedang menerawang sesuatu.

“Lalu? Kau ingin membiarkan gadis itu berkeliaran sesukanya di luar sana? Astaga, kau tidak berniat untuk memerasnya kan?”

Kyuhyun tersenyum saja lalu mencomot jeruk yang dikupaskan Haneul. Kyuhyun diam bukan berarti berhenti tanpa alasan. Dia sudah menyiapkan kejutan di belakang.

“Dia milikku.” Haneul mengernyit. “Hanya aku yang berhak menentukan apakah dia harus menderita, tersiksa atau mati sekalipun, dia milikku.”

Mengerikan? Tentu saja. Beginilah Kyuhyun kalau sedang marah. Seorang pun tidak akan bisa menghentikannya.

“Jangan sampai jadi senjata makan tuan, Kyu. Bisa saja kau menyesal karna menyiksa gadis itu.” Haneul memperingatkan.

“Well, aku memang harus serba hati-hati dan teliti terutama dengan gadis bermulut cerdas sepertinya.” Kyuhyun menyeringai lebar.

Haneul memang tidak bisa menebak jalan pikiran Kyuhyun. Pria itu bisa sekejap berubah menjadi sosok yang kejam. Hmm, andai saja Kyuhyun bisa berhenti mempermainkan perasaan wanita dan mulai melihat padanya. Betapa tersiksanya harus selalu berdekatan dengan Kyuhyun tanpa dicintai oleh pria itu.

“Oh iya, bagaimana kabar perusahaan?”

“Perusahaan baik-baik saja. Hanya saja beberapa hari yang lalu pihak keamanan menangkap seseorang yang menyelinap ke kantor dan hampir membuat makar. Keamanan di kantor kita memang sangat kurang.”

Kyuhyun mendengar seksama pada penjelasan Haneul. Memang benar, dia membuat peraturan agar orang bisa keluar-masuk tanpa kartu pengenal.

“Maka dari itu, kami menambahkan beberapa sekuriti di depan pintu masuk agar tidak sembarang orang bisa keluar-masuk perusahaan.” Kyuhyung mengangguk-angguk setuju.

“Terima kasih, Haneul-ah. Kau memang bisa diandalkan.” Kyuhyun mengusap puncak rambut Haneul, gadis itu tersenyum lebar.

Perlu dicatat juga, seburuk apapun mood yang dimiliki pria ini, tetap saja dia bisa juga bersikap lembut pada semua gadis.

Tidak mengherankan jika para wanita setia melayut di lengannya sekalipun pria itu hanya bertujuan main-main. Dan walaupun sembilan puluh sembilan persennya Kyuhyun akan memperlakukan wanita sangat kasar.

“Ngomong-ngomong, siapa nama gadis itu?” Kyuhyun menghentikan gerak tangannya sambil bertanya.

.

.

.

“Kang Soo Jin! Yak! Kau melamun lagi?”

Nara melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Soo Jin yang sudah berhari-hari sering berkunjung ke tempat kerjanya, salon terkenal di daerah Gangnam.

Tapi yang gadis itu lakukan hanyalah duduk di sofa dekat jendela besar sambil melamun.

Setahunya Soo Jin bukan tipe orang yang sering terjangkit masalah yang membuatnya melamun begini. Berarti masalah yang kini dihadapi gadis itu berat.

“Yaak! Kau kenapa?” Nara dibuat terkejut karna begitu Soo Jin membalikkan tubuhnya, dia melihat lingkaran besar berwarna hitam menggantung di matanya sangat jelek dan seperti ada bekas tangisan.

“Nara-ya, aku mau mati saja, boleh ya?”

“Aish! Apa maksudmu?” Nara memukul lengan Soo Jin supaya sadar. Nara ikut duduk di sampingnya, “Ceritakan padaku, kau ada masalah apa?” Soo Jin menggeleng lemah. Raganya seolah hilang diambil bumi.

“Aku membunuh orang.” ujarnya lemah.

“Yaaakk! Kau benar-benar gila! Mana mungkin seorang Soo Jin bisa membunuh? Membunuh semut saja kau tidak tega!” Ada-ada saja Soo Jin ini! Selera humornya masih saja setara kelas teri!

“Bagaimana ini?” Soo Jin menelungkupkan wajahnya diatas lipatan lengannya.

“Aku tidak sengaja menyebabkan orang celaka. Dan sekarang.. sekarang dia.. pasti sedang merencanakan hukuman apa yang pantas untukku!”

Nara mengusap punggung Soo Jin yang bergetar. Benar dugaannya ini pasti masalah yang berat. Sepertinya Siwon pernah bercerita padanya tentang permasalahan adiknya ini kalau Soo Jin habis mengalami kecelakaan.

“Siapa orang itu?” Soo Jin menggeleng.

“Entahlah, aku hanya tau namanya saja. Kupikir dia adalah orang yang berpengaruh di Korea. Bahkan aku pernah diusir setelah aku melarikan diri dari kejaran polisi.”

“Apa?! Polisi?” Beberapa pengunjung menoleh pada Nara yang teriakannya membahana. “Kenapa dia membawa-bawa polisi?”

“Aku tidak tahu! Itulah yang ingin kutanyakan padanya. Bukan jawaban yang kudapatkan, malah aku diusir.”

“Kenapa kau bisa sampai diusir?”

“Hmm, itu karna, aku mendobrak kamarnya dan mengumpatnya di depan teman-temannya.” Soo Jin menggaruk-garuk kepalanya.

“Yaish! Pantas saja!” Nara memukul lengan temannya itu. “Coba kau temui saja lagi dia hari ini.”

Nara mencoba memberikan saran yang menurutnya paling rasional sekarang. Masalah Soo Jin akan diusir lagi atau bahkan tidak diperbolehkan bertemu, itu lain cerita lagi.

Soo Jin mengangkat wajahnya. “Coba saja, tapi jangan melakukan hal bodoh seperti itu lagi.” Nara menambahkan ketika melihat adanya tanda-tanda penolakan dari gadis itu.

“Kau tidak tahu kan apa yang dia lakukan padamu kalau kau tidak bertanya?”

Benar. Nara benar. Setidaknya kalau dia mencoba akan membuahkan hasil, daripada duduk termangu tidak jelas melakukan apa.

Semoga saja mood pria itu sedang bagus sehingga mau menerima kedatangannya. Daripada harus berakhir diusir seperti kemarin, apa dia harus mencoba metode lain seperti yang disarankan Nara?

.

.

.

Tok tok!

Soo Jin mengetuk pintu kamar rawat Kyuhyun sebelum melangkah masuk ke dalam.

Fiuh, untung saja pria itu sedang sendirian. Mendekatlah dia lalu meletakkan keranjang buah di nakas samping pembaringan.

Kyuhyun, pria itu mendongak. Disaat itulah Soo Jin yakin ada perubahan ekspresi wajahnya.

“Aku minta maaf atas kesalahanku. Aku minta maaf membuatmu terbaring disini dengan keadaan yang sangat mengerikan. Aku minta maaf karna tempo hari aku datang sebagai perusak suasana dan tidak tahu diri. Aku minta maaf menjadi orang yang menyebabkanmu menderita. Jeongmal, mianhamnida.”

Soo Jin membungkuk beberapa detik.

Kyuhyun terkejut. Tiba-tiba gadis ini datang dan meminta maaf lagi? Apa dia perlu diusir oleh polisi dulu baru tidak akan datang-datang kemari lagi?

“Aku menolak permintaan maafmu. Sekarang keluar.”

Hati Soo Jin menjengit sakit dan tidak terima. Punggungnya menegak. Pria itu sudah kembali pada aktivitasnya semula, membaca tabloid otomotif. Hah?

“Tuan, kumohon maafkan aku. Dan aku benar-benar meminta padamu untuk mencabut tuntutanmu padaku. Aku ingin menyelesaikan masalah ini tanpa campur tangan polisi.” Soo Jin memohon.

Apalagi yang harus diperbuatnya? Pria ini jelas-jelas tidak akan melepaskannya begitu saja dan tentunya dia punya otoritas besar untuk memasukkannya ke dalam penjara. Sebelum hal terburuk itu terjadi, Soo Jin harus mencegahnya.

Kyuhyun tidak menggubris. Tangan kirinya yang bebas membalik lembar tabloid di pangkuannya. Pagi yang suram. Kedatangan tamu tidak diundang. Haruskah dia meladeni gadis ini sementara otaknya seperti kereta uap dan bisa saja tanpa kontrol mengucapkan kata-kata kasar sekarang juga jika dia tidak segera lenyap.

“Tuan yang terhormat, aku memohon.”

Kyuhyun menghembuskan napas kasar. Melempar tabloidnya ke samping tubuhnya kemudian mengalihkan perhatiannya pada Soo Jin. Menilik penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.

Gadis itu mengenakan dress tosca selutut. Bahkan dia mengubah caranya berpakaian, batinnya. Berpikir-pikir sebentar. Sayang sekali, tidak ada alasan baginya untuk menolak kehadiran Soo Jin hari ini.

Dia menepuk-nepuk celah di dekat tempatnya berbaring. Kening Soo Jin berkerut.

“Tidak mungkin kan aku menyuruhmu duduk di sofa dan kita berbicara berjauhan?” Soo Jin menurut apa yang diminta pria itu. Bahkan sekarang dia berubah menjadi gadis penurut.

“Katakan, apa yang bisa kau lakukan?” tanya Kyuhyun tanpa basa-basi.

Sejujurnya, dia sempat tergoda oleh gadis ini. Begitu pantatnya menempel sempurna di dekatnya, sekejap aroma mint bercampur mawar menyeruak masuk ke dalam rongga paru-parunya.

Oke, Kyu, fokuslah!

“Hmm, aku akan melakukan apapun supaya kau mau mencabut tuntutanmu dan aku tidak dipenjara.” Kyuhyun tersenyum. Sudah dia duga. Inilah yang dia tunggu-tunggu.

“Jadilah kaki dan tanganku.”

“Oh? Itu bukan hal yang sulit. Baiklah.” Senyuman Kyuhyun kian melebar.

“Tapi akan menjadi sesuatu yang sulit kalau kau tidak selalu dalam jarak pandangku.”

“Aku bisa datang kemari setiap hari atau aku bisa tinggal disini sampai kau keluar dari rumah sakit itupun kalau kau tidak keberatan dengan keberadaanku.” Kyuhyun tersenyum sangat lebar, memunculkan deretan gigi putihnya yang rapi.

“Itu dia masalahnya. Aku adalah orang yang tidak suka diganggu di saat-saat tertentu, apalagi orang yang tidak kukenal. Mood-ku sering berubah. Apalagi kalau orang itu yang membuatku begini.”

Hati Soo Jin mencelos. Pria ini sengaja menyindirnya, ya? “Jadilah istriku. Kau bisa merawatku kapan saja tanpa ada seorang pun yang keberatan.”

Soo Jin terbatuk-batuk. Apa? Apa katanya? Apa dia barusan mengajaknya main petak umpet?

“Kau bercanda.”

Baru saja Soo Jin akan beranjak, Kyuhyun lebih dulu menariknya kembali menggunakan tangan kirinya yang terpasang selang infus, hingga gadis itu ambruk di atas dadanya.

Soo Jin sontak meronta ingin dilepaskan tapi Kyuhyun malah menahannya semakin kuat. Astaga dengan satu tangan saja pria ini sudah sanggup membelenggunya, bagaimana jika kedua tangan pria ini bekerja sempurna?

“Katamu kau akan melakukan apapun. Kau sudah mengiyakan sejak awal.” kata Kyuhyun tajam. Mata obsidian-nya seakan menembus jauh ke dalam mata Soo Jin yang juga sedang menatapnya.

“Tapi aku tidak mau menikah, ini tidak masuk akal.” elaknya. Dia masih memberontak berharap Kyuhyun akan melepaskannya.

“Tidak ada yang mustahil bagiku.”

Tuhan! Setengah mati Kyuhyun berusaha memfokuskan diri pada gadis ini. Ketika lengannya tanpa sengaja mengenai pusat tubuhnya, dia mengerang dalam hati.

Ditambah lagi aroma gadis ini sungguh menyiksanya. Kenapa gadis ini bisa sangat menggoda di saat-saat seperti ini?

Apalagi saat dada mereka saling bergesekan walaupun masih ada kain penghalang, lagi-lagi dia hanya bisa menelan ludah.

“Sialan.” desisnya saat lengan Soo Jin yang masih terus bergerak menyenggol pusat tubuhnya lagi.

Dia tidak tahan lagi. Dia menarik lengan Soo Jin ke arahnya dan dalam hitungan detik meraup bibir ranum milik Soo Jin. Dia melumatnya perlahan dengan sedikit menyesapnya. Semakin dirasakan semakin manis saja rasanya.

Soo Jin berusaha melepaskan ciuman itu, menepuk dada Kyuhyun agar pria itu berhenti. Dia merasa sesak. Kyuhyun sudah kelewatan merebut ciuman pertamanya!

“Baru pertama kali, hmm?”

Seakan tahu segalanya, Kyuhyun mencium bibir Soo Jin semakin dalam dan dalam. Bibir mungil milik Soo Jin benar-benar membuatnya ketagihan. Dia menginginkan lebih. Tapi tidak sekarang.

Soo Jin terengah-engah setelah Kyuhyun melepas ciumannya. Kyuhyun tersenyum remeh melihat wajah Soo Jin memerah dan mengambil napas banyak-banyak.

Meski gadis itu menolak, tapi jujur ciumannya sangat hebat, sanggup memporak-porandakan hatinya. Dadanya bergemuruh. Jantungnya berdetak sangat cepat sampai-sampai dia takut Kyuhyun bisa mendengarnya.

“Aku tidak mentolerir adanya penolakan.”

Soo Jin memandang nanar ke arah Kyuhyun. Dia tidak suka diperlakukan sembarangan oleh orang lain apalagi orang itu belum mengenalnya.

Tapi hatinya tidak bisa memungkiri bahwa jantungnya berdetak kencang untuk orang ini.

“Sekretarisku yang akan mengurus pernikahan ini. Kuharap kau tidak terkejut jika pernikahannya akan dekat-dekat ini.”

“A-apa?” Ya Ampun kejutan apa lagi ini?

“Aku ingin makan buah, suapi aku ya?”

Kyuhyun mengacuhkan kebengongan Soo Jin padahal dari wajahnya saja sudah tersirat betapa dia masih terkejut atas ciuman yang dia berikan.

Seenaknya saja dia menentukan tanggal pernikahan mereka dan sekarang dia meminta disuapi? Hah, dasar diktator!

.

.

.

“Apa ini? Kenapa si evil itu tiba-tiba menikah? Padahal tidak ada angin tidak hujan.” Hyukjae duduk di deretan kursi terdepan gereja, membetulkan letak gadis kupu-kupunya.

“Dan kenapa dia merahasiakan mempelai wanitanya? Mencurigakan sekali.”

Changmin yang duduk di sebelahnya juga terheran-heran. Padahal sahabatnya itu baru keluar dari rumah sakit tiga bulan yang lalu mengingat lukanya yang terbilang parah. Paginya sudah ada undangan pernikahan yang mampir ke apartemennya.

“Ah! Itu dia!”

Pintu gereja terbuka dan memunculkan sosok namja yang duduk diatas kursi roda yang didorong oleh ayahnya.

Hanya Cho Younghwan yang datang pada pernikahan putranya karna istrinya masih di luar negeri dan berhalangan hadir.

“Yaa, kenapa dia tetap tampan walau di atas kursi roda?” Kyuhyun melewati mereka menuju pendeta yang menunggu di depan. Cho Younghwan berbisik sebentar di telinga Kyuhyun sebelum meninggalkannya.

“Mempelai wanita tiba!” ucap MC membuat pandangan para tamu beralih pada pintu utama.

Soo Jin melangkah masuk dengan menggandeng Siwon sebagai walinya masuk ke dalam gereja. Gaun pengantin mewah dengan bahu terbuka sepanjang lutut dan bagian belakangnya memanjang seperti ekor.

Tangan kanannya menggenggam buket bunga mawar putih. Cantik. Semua tamu mengakui kecantikan Soo Jin yang sempurna bak dewi. Sangat pantas bersanding di samping Kyuhyun.

“Hei! Bukankah itu gadis yang pernah mendobrak kamar Kyuhyun? Pantas saja aku merasa aneh karna sering bertemu dengannya di rumah sakit dan tampaknya dia mengunjungi Kyuhyun. Aissh, evil itu! Padahal waktu itu dia jahat sekali mengusirnya!” Yesung sadar wajah Soo Jin tida asing lagi di mata mereka.

“Kau benar, hyun! Kyuhyun hyung kan yang satu-satunya menolaknya mentah-mentah. Tapi  lihat! Malah dia yang sekarang menikahinya!” sungut Henry tidak terima. Dia sudah berniat ingin mendekati So Jin.

“Sudah kubilang kan, gadis itu sangat seksi. Tubuhnya benar-benar!” timpal Hyukjae sambil menggerak-gerakkan tangannya di udara membentuk lekukan tubuh wanita.

Siwon menyerahkan tangan kanan Soo Jin pada Kyuhyun yang dalam beberapa menit mendatang akan menjadi adik iparnya.

Tak disangka adiknya harus menjalani takdir rumit seperti ini. Bahkan dia menikah lebih dulu dari pada Siwon. Sebelumnya dia memang terkejut mendengar berita pernikahan ini.

Soo Jin mengatakan kalau dia hanya ingin bertanggung jawab. Dia tidak ingin menjadi wanita yang melarikan diri dari tanggung jawab.

Berat sebenarnya melepaskan adiknya yang sikapnya masih labil, apalagi Kyuhyun terpaut lima tahun di atasnya. Tapi apa boleh buat, toh ayahnya juga sudah memberikan izin walaupun berhalangan datang hari ini.

Upacara pemberkatan berlangsung sangat khidmat. Semua tamu terutama para gadis terhipnotis dengan sikap manis yang ditunjukkan Kyuhyun saat pendeta mempersilahkannya mencium Soo Jin.

Dia menciumnya di bibir. Ciuman kedua yang melelehkan hingga kedua lutut Soo Jin yang bersimpuh di depan Kyuhyun bergetar.

Tangan kanan Kyuhyun yang sudah pulih sekarang bisa bergerak bebas, meraih tengkuk Soo Jin semakin mendekat lalu menciumnya lebih dalam. Melumatnya sangat dalam.

Kyuhyun seratus persen sadar ketika mencium Soo Jin. Gadis itu sangat cantik. Dia mengakui ketika Soo Jin mengenakan gaun pengantin dia menjadi seribu kali lebih mempesona.

Sebagian hatinya mengatakan dia tidak salah memilihnya sebagai istri. Tapi sebagian hatinya yang lain memperingatkan bahwa ini hanya pura-pura.

Setelah ini dia akan menunjukkan siapa dia sebenarnya. Kyuhyun melepas pagutannya. Dia tersenyum miring lalu mengusap sudut bibir Soo Jin yang kini membengkak.

“Selamat datang di duniaku, nona.” Bisiknya pelan tepat di telinga Soo Jin membuatnya merinding.

.

.

.

Brak!

“YA! Ya! Apa yang kau lakukan?! Buka! Ya!”

Soo Jin menggedor-gedor pintu gudang yang barusan dikunci rapat dari luar. Tepat setelah acara resepsi pernikahan selesai, Kyuhyun langsung membawanya ke rumahnya.

Mansion mewah bercat putih yang dari luar lebih mirip rumah angker yang dipakai setting tempat film-film horor.

Begitu pintu mobil dibuka, dua pria berpakaian serba hitam tiba-tiba menyeretnya keluar ke arah paviliun. Seingatnya Kyuhyun hanya diam menatapnya diseret kasar oleh orang-orangnya.

Tubuh Soo Jin merosot di belakang pintu yang mungkin selamanya tidak akan pernah dibuka itu. Ketika itu dia baru sadar bahwa dia telah masuk perangkap Cho Kyuhyun. Dunianya yang dingin dan kejam.

Malapetaka apalagi ini? Tenaganya terkuras setelah acara tadi dan sungguh dia tidak sempat makan apa-apa tadi karna sibuk menyalami kolega-kolega suaminya.

Cih, suami? Apa orang seperti dia pantas disebut suami? Mengurung istrinya di dalam gudang yang gelap.

Tangan Soo Jin menelusuri dinding ruangan itu berharap bisa menemukan saklar lampu. Tapi sepuluh menit dia habiskan mencari, tidak ketemu juga. Lagi-lagi tubuhnya merosot ke lantai.

Kenapa begini? Kalau seandainya dia tau akan berakhir seperti ini, dia lebih memilih dipenjara. Setidaknya dia tidak dikurung di ruang gelap, mendapatkan makanan dan bisa tidur.

Dia sangat menyesali keputusannya. Kenapa dia bisa seceroboh ini? Kenapa dia tidak lebih hati-hati? Kenapa dia tidak menuruti perkataan Siwon yang harus waspada pada Kyuhyun?

Bagaimana kalau Kyuhyun punya kelainan? Psycho semisal? Bagaimana ini? Mencoba kabur pun dia tidak melihat ada satu jendela pun disini. Ruangan ini hanya berukuran 2×2 meter, sempit dan pengap.

“Uhuk! Uhuk!” Sial! Soo Jin mengumpat dalam hati. Dia lupa bahwa dirinya mempunyai asma. Dia tidak bisa berada di ruangan sempit apalagi gelap. Pernapasannya sudah terganggu sejak dia kecil.

Diperparah lagi karena dia belum makan sama sekali. Sesak! Soo Jin terbatuk-batuk. Nafasnya menjadi tidak beraturan dan sampai berbunyi. Dia terbatuk lagi. Dadanya sesak sekali.

Dia kehabisan napas! Oksigen! Oksigen! Soo Jin merayap hendak menggapai-gapai kenop pintu dan mengetuknya sangat pelan.

“Duwajuseyo, jebal!!” sekali lagi dia mengetuk pintu itu sangat berharap ada orang yang mendengarnya. “Jebal…” dalam hitungan detik kesadarannya hilang dan semua menjadi gelap.

Pintu gudang itu terbuka. Kyuhyun berdiri di depan tubuh Soo Jin yang tergeletak pingsan di depan pintu. Berdiri? Yah, namja itu sebenarnya sudah bisa berjalan beberapa hari yang lalu. Dia menatap pakaian gadis itu masih sama, gaun pengantin yang belum diganti.

Kyuhyun berjongkok di dekat kepalanya, menekan pipinya yang menempel di lantai.

Tidak menunggu lebih lama, Kyuhyun segera mengangkat tubuh Soo Jin yang cukup ringan meninggalkan ruangan yang dulunya adalah tempat barang-barang rongsokan yang berumur bertahun-tahun.

Kyuhyun membawanya masuk ke dalam rumah utama, tepatnya ke dalam kamarnya.

“Panggilkan dokter Park sekarang.” titahnya pada salah satu bodyguardnya yang berjaga di depan kamarnya.

Kyuhyun meletakkan tubuh Soo Jin di atas tempat tidur, melepas heels gadis itu dan membuka gulungan rambutnya.

Dia tersenyum puas. Dia memang sudah tau kalau Soo Jin trauma dengan ruangan sempit dan gelap karna itu bisa merangsang asma-nya untuk kambuh. Inilah yang dia inginkan.

“Ini baru pemanasan. Kita lihat apa kau bisa bertahan hm?” Kyuhyun ikut berbaring di samping Soo Jin kemudian menarik selimut ke atas tubuh mereka.

Dokter Park datang dan segera memeriksa keadaan Soo Jin. Dia menggeleng-geleng pelan. “Ada apa hyung?”

“Apa ini kerjaanmu, Kyu?”

Park Jungsoo, atau Leeteuk, dokter pribadi keluarga Cho sekaligus teman lama Kyuhyun, melepaskan stetoskopnya dan mengeluarkan keperluan pemasangan oksigen.

Kyuhyun hanya tersenyum lebar. Leeteuk memang pandai menebak. “Kalau kau terlambat sedikit saja, kau bisa melayangkan nyawanya. Siapa namanya?”

“Kang Soo Jin. Tapi dia tidak mati kan hyung?” yah, karna aku belum puas menyiksanya. Lanjut Kyuhyun dalam hati.

Leeteuk memukul kepala Kyuhyun, pria itu hanya meringis tidak terima.

“Bodoh! Untuk sekarang tidak. Tidak ada lain kali, Kyu. Nadinya tadi sangat lemah” Leeteuk telah selesai memasang oksigen untuk Soo Jin yang akan membantu pernapasannya. “Kau tidak tahu dia memiliki asma?”

“Tentu saja aku tahu.” Jawab Kyuhyun polos dan langsung dihadiahi satu pukulan ringan lagi.

“Bodoh sekali! Jangan main-main dengan nyawa orang lagi, Kyu. Berbahaya. Kau harus ingat betapa sakitnya Seena dulu karna kelakuanmu.”

Tangan Kyuhyun yang sedang memainkan anak rambut yang menutupi wajah Soo Jin berhenti. Mendengar nama itu lagi, dadanya mendadak nyeri. Nama itu memiliki makna besar dalam hidupnya. Dulu. Sangat dulu.

“Kau boleh keluar hyung.” kata Kyuhyun yang Leeteuk tahu sebagai kalimat pengusiran yang halus.

“Baiklah, aku pergi. Jangan lupa berikan dia obat kalau dia sudah sadar.”

Leeteuk memang menyiapkan beberapa obat kalau sewaktu-waktu asma Soo Jin kambuh lagi. Setelah merapihkan peralatan medisnya, Leeteuk pergi keluar tanpa Kyuhyun yang mengantarnya.

Dia tahu betapa berartinya nama itu di hati Kyuhyun. Gadis yang pernah mengisi hari-hari Kyuhyun. Tapi gadis itu sudah lama meninggal dunia membuat Kyuhyun berubah.

Kalau sekilas diperhatikan, Soo Jin memiliki sedikit kemiripan dengan Seena. Apa itu alasan Kyuhyun menikahinya?

Leeteuk menghela napas panjang. Tidak tahu juga. Semoga Kyuhyun tidak lagi berpikir untuk melanjutkan balas dendamnya.

.

.

.

Soo Jin mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia menatap langit kamar, bukan gudang, batinnya.

Tidak ada siapapun di kamar yang luasnya tiga kali lipat dari apartemennya itu. Sekilas dia ingat apa yang terjadi padanya kemarin malam.

Pria gila itu! Dia tega membuat asma-nya kambuh sampai dia pingsan! Soo Jin melepaskan selang oksigen yang terpasang di lubang hidung bangirnya.

Perlahan dia mencoba bangkit dari posisi tidurnya dan mencoba bersandar di headboard ranjang belakangnya.

“Kau sudah bangun?”

Jantungnya nyaris copot ketika tiba-tiba Kyuhyun muncul seperti hantu dari kamar mandi.

Pria itu baru saja menyelesaikan mandinya, dia hanya memakai handuk sepinggang dan bertelanjang dada sambil berjalan mendekat tempat Soo Jin bersandar.

Kyuhyun mengulurkan tangannya menyentuh kening Soo Jin sambil sesekali menggosok rambutnya yang baru dikeramas. “Sudah tidak demam.” gumamnya pelan.

Andai saja Soo Jin tidak membenci setengah mati pria di depannya ini, dia pasti akan terpesona oleh ketampanannya yang melebihi dewa yunani ini.

Dadanya bidang dan seolah-olah memanggilnya untuk menyentuhnya. Tapi kenyataan menariknya kembali dari angan-angan bisa menyentuh tubuh itu.

Kyuhyun yang menguncinya di gudang sampai dia harus meregang nyawa. Soo Jin memalingkan mukanya ketika Kyuhyun hendak mengusap puncak kepalanya. Gadis itu benar-benar menunjukkan penolakannya.

“Akh!” Soo Jin menjerit tertahan karna Kyuhyun menarik rambutnya ke belakang hingga membentur headboard ranjang yang terbuat dari kayu, tapi Kyuhyun mengabaikannya.

“Bukannya aku sudah pernah mengatakan, aku tidak mentolerir seinci pun penolakan.”

Kyuhyun melepas tangannya terlalu kuat sampai kepala gadis itu membentur kayu itu lagi. Entah kenapa Soo Jin yakin kalau kepalanya terus dibenturkan seperti ini dia bisa gegar otak.

Soo Jin menyentuh pelipisnya yang nyeri. Kulitnya robek dan darah segar mengalir. Kyuhyun melihatnya, tapi hatinya cukup dingin untuk peduli.

Pria itu berdiri. “Aku tidak menikah dengan seorang gadis pemalas. Cepat bangun dan buatkan aku sarapan.” Setelah berujar demikian, Kyuhyun meninggalkan Soo Jin sendiri.

Bulir itu jatuh juga. Soo Jin menghapus kasar air matanya yang terus menetes yang bercampur dengan darah yang keluar dari pelipisnya. Pagi-pagi dia sudah dihadiahi siksaan begini.

Dia bukan gadis yang cengeng, tapi kenapa saat diperlakukan sangat buruk oleh pria yang kemarin baru saja mengucapkan janji hidup semati dan akan saling menyayangi, membuat hatinya sakit.

Seperti ada belati yang menyayat hatinya. Kenapa rasanya lebih baik dia mengakhiri hidupnya saja daripada harus mati di tangan pria itu.

Mengacuhkan pelipisnya yang meremang nyeri, Soo Jin bergegas keluar kamar menuju dapur yang menurutnya tidak jauh dari sana.

Saat itulah Soo Jin baru sadar kalau dia tidak lagi mengenakan gaun pengantin melainkan piyama. Siapa yang menggantinya?

“Kau tentu tidak keberatan karna aku yang mengganti pakaianmu.” Soo Jin dibuat jantungan lagi.

Kyuhyun sudah berdiri di belakangnya. Kini dia sudah lengkap mengenakan kemeja kantoran warna tosca terang, celana hitam dan dasi yang telah terpasang sempurna.

Oh Tuhan, apa baru saja seorang Soo Jin terpana lagi akan kesempurnaan pria itu? Tu-tunggu, apa yang dia bilang barusan?

Kyuhyun berjalan melewatinya. Semerbak aroma mint bercampur maskulin memasuki rongga dada Soo Jin. Sesak sekaligus memabukkan.

“Kalau kau berdiri terus seperti patung begitu, kejadian semalam akan terulang lagi.”

Seakan mendapat sengatan listrik, Soo Jin buru-buru masuk ke dapur dan menyiapkan sarapan ringan dengan persediaan yang ada.

Dia tahu apa yang dimaksud pria itu. Dia tidak mau terulang lagi. Itu adalah kejadian paling menyesakkan dadanya.

.

.

.

“Apa-apaan dia? Apa dia tidak punya pekerja di rumah sebesar ini? Lalu siapa yang membersihkannya sebelum ini? Dan kenapa sekarang aku yang harus mengerjakannya?”

Soo Jin menggosok lantai kamar mandi yang luasnya menyamai apartemennya. Ternyata Kyuhyun adalah pria yang benar-benar kaya.

Dilihat dari sudut manapun, sudah jelas setiap jengkal rumah ini hanya berisi barang-barang mahal. Apalagi guci-guci antik yang terpajang di ruang tamu, bisa dipastikan itu impor dan harganya miliaran.

Dulu, sebelum dia bekerja di bengkel sirkuit, dia pernah bekerja di museum barang antik yang pemiliknya orang Cina. Jadi dia sudah familiar dengan barang sejenis itu.

Ting tong! Ting tong!

“Tunggu sebentar!” teriak Soo Jin dari dalam kamar mandi. Dia mencuci tangannya yang terasa licin kemudian bergegas membuka pintu rumah.

“Siapa?” tanyanya. Seorang wanita, bukan wanita muda, berdiri membelakanginya.

Wanita berkelas, pakaiannya terlihat mahal dan aroma parfum mahal pun tercium dalam radius satu meter saja. Wanita itu berbalik sambil menurunkan kaca mata hitamnya ke ujung hidung. Keningnya berkerut.

“Kau siapa? Pembantu baru?”

“Ah!” Bodoh! Soo Jin menepuk jidatnya. Dia segera melepaskan apron hijau muda dari tubuhnya. Apa penampilannya sebegitu buruknya sampai-sampai dibilang pembantu?

“Kenapa kau ada di rumah anakku?”

Mulut Soo Jin nyaris ternganga lebar. Jadi wanita ini adalah ibu Kyuhyun? Astaga! Dia tidak tahu! Karna kemarin yang datang di pernikahannya hanyalah ayah Kyuhyun saja.

“Omo! Jangan katakan kau adalah gadis yang dinikahi anakku? Omo! Sejak kapan selera anakku berubah sekelas pembantu?”

Hanna melepas kaca matanya lalu menatap tubuh Soo Jin seakan sedang menelanjanginya sekarang.

Kali ini Soo Jin yang tersedak. Apa maksudnya?

“Annyeonghaseyo, eommonim. Maafkan aku karna lancang tidak menyapamu lebih dulu.” Dia membungkukkan badannya sekilas sambil meringis tidak jelas.

Berusaha mengabaikan tatapan menyelidik mertuanya itu. Dan sekarang dia baru ingat saat pertama kali Kyuhyun sadar dari komanya, ada dua orang yang dia kira orang tua Kyuhyun ternyata adalah orang lain.

“Ah, tidak! Tidak! Darah tinggiku bisa kumat kalau begini!”

Hanna memijit pelipisnya yang pusing. Dia baru saja pulang dari Paris menyelesaikan bisnisnya ketika dia mendengar kabar putra satu-satunya mengalami kecelakaan lalu tiba-tiba memutuskan menikah.

Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sehingga hanya suaminya yang menghadiri sekaligus menjadi wali di pernikahan Kyuhyun.

Mulanya dia mengira kalau anaknya akan menikah dengan Haneul, sahabat kecil Kyuhyun yang telah dianggapnya sebagai anak sendiri, sehingga dia setuju-setuju saja.

Tapi begitu melihat siapa wanita yang sebenarnya dinikahi Kyuhyun, dia sungguh syok.

“Ibu tidak apa-apa? Ibu kenapa?”

Soo Jin diserang kepanikan karna mertuanya yang hanya diam sambil memijit kepalanya. Dia bergerak menyentuh lengan Hanna yang langsung ditepisnya, membuat gadis itu mematung di tempat.

Apa barusan dia ditolak oleh ibu Kyuhyun? Apa tangannya terlalu kasar dan mertuanya tidak suka? Apa dirinya bau?

Soo Jin mencium ketiaknya yang mungkin berkeringat dan mengeluarkan bau asam. Tapi dia tidak membau apa-apa.

“Pergilah!”

“M-maaf? Ibu mengatakan apa?” Sejak kapan telinganya jadi tuli?

“Pergilah dari rumah ini! Aku tidak mau melihatmu!” ujar Hanna tajam. Dia sudah menghentikan aksi memijatnya dan malah menatap Soo Jin intens dan dingin.

Tangannya bersedekap di depan dadanya yang membusung. Bibirnya terkatup erat seperti ada bunyi gigi yang saling bergemelatuk.

Soo Jin membayangkan asap keluar dari setiap lubang yang dimiliki olehnya. Oh, Soo Jin pun sadar ternyata tatapan dingin milik Kyuhyun menurun dari siapa.

Mertuanya tidak melanjutkan omongannya, dia menabrak bahu Soo Jin secara halus dan menutup pintu keras-keras di depan hidung gadis itu tepat saat dia akan menyahut.

Soo Jin mengusap hidungnya yang sakit. Astaga, dalam sehari sudah ada empat bagian tubuhnya yang terluka. Dada, rambut, pelipis dan sekarang hidungnya.

Tanpa berkaca pun dia sudah tahu kalau hidungnya memerah. Dia menghela napas panjang. Ini bukan pernikahan.

Ini hanya permainan. Dia harus menyerah kan? Buat apa lagi dia disini? Kyuhyun yang menyiksanya dan mertua yang mengusirnya.

Hei, Soo Jin, sadarlah! Jangan berdiam mematung saja begitu! Pergilah! Selama kau masih ada kesempatan untuk melarikan diri. Soo Jin memilih berbalik dan pergi.

.

.

.

“Aish! Ada apa denganku?”

Kyuhyun melempar berkasnya ke sembarang arah. Dia mengusap kasar wajahnya sambil mengerang kesal. Kenapa dia? Kenapa dia harus merasa sekesal ini?

Bayangan Soo Jin yang kesakitan tadi pagi terus menghantuinya. Padahal belum genap sehari gadis itu berada di dekatnya tapi kenapa efeknya bisa sebesar ini.

Seumur hidupnya memang baru pertama ini dia menyiksa seorang wanita. Perasaan bersalah karna nyaris hilang kendali dan ingin menyiksanya lagi, membuat Kyuhyun frustasi. Bukannya puas, dia malah resah.

“Bos, aku boleh masuk ya?”

Hyukjae melongokkan kepalanya melalui celah pintu ruangan Kyuhyun yang dibukanya. Tanpa menunggu persetujuannya dia langsung melangkah masuk.

Mereka bersahabat. Tapi di lingkukan kantor mereka adalah atasan dan bawahan. Hyukjae merupakan kaki tangan Kyuhyun sekaligus sahabat terdekatnya di antara yang lain.

“Kau kenapa bos? Sepertinya sedang kelelahan. Aah, aku tahu, pasti gara-gara sindrom malam pertama ya?” godanya. “Bagaimana bos? Kau mau menarik perkataanmu yang waktu itu? Kalau Kang Soo Jin tidak ada cantik-cantiknya? Haha, dasar pria pembohong! Sudah pasti kau meleleh ya kan di depannya?”

“Yaak!!” Kyuhyun membuang berkasnya lagi tepat mengenai muka Hyukjae yang sering dibilang ‘mahal’ itu. “Berhentilah mengoceh atau kau mau kupecat.”

Hyukjae langsung diam sambil mengusap-usap pipinya yang lumayan sakit. Dia mengambil beberapa berkas yang dibuang Kyuhyun lalu meletakkannya di atas meja kerjanya. Wajah Kyuhyun terlihat seribu kali lebih seram ketika sedang marah.

“Aish, padahal aku mau memberitahumu tentang keadaan di rumahmu. Ya sudah, aku pergi ya! Panggil aku kalau kau sudah mendapatkan mood mu kembali.” Baru saja Hyukjae hendak berbalik akan meninggalkan Kyuhyun sendiri.

“Ada apa?” sergah Kyuhyun, tertarik dengan informasi yang dibawa Hyukjae.

“Ibumu datang barusan. Sepertinya rumahmu sebentar lagi akan kebakaran—yak! Kau mau kemana?”

Teriakan Hyukjae tidak lagi digubris oleh Kyuhyun karna pria itu sudah melesat pergi dengan langkah terburu-buru. Hyukjae menggeleng-geleng saja.

Haneul yang kebetulan hendak memasuki ruangan Kyuhyun sedikit terhuyung karna pria itu tidak sengaja menyenggol pundaknya. Gadis itu mengernyit tidak mengerti dengan emosi Kyuhyun yang belakangan ini gampang berubah.

“Oppa, ada apa? Kyuhyun seperti sedang dikejar setan.” Tanyanya pada Hyukjae yang menutup ruangan Kyuhyun yang tidak sempat ditutup oleh pemiliknya.

“Aku juga tidak tahu, Haneul-ah.” Hyukjae mengedikkan bahunya. “Dia pergi setelah mendengar ibunya pulang. Aku mau melanjutkan kerjaanku dulu ya.”

“Eomma?” senyumnya terbit. Dia sudah sangat lama mengenal keluarga Kyuhyun.

Wajar saja kalau dia memanggil ibu Kyuhyun dengan panggilan eomma. Dulu dia sering berharap bisa menikah dengan Kyuhyun. Tapi sepertinya impian itu harus tertunda.

Sebab yang paling utama sekarang bagaimana caranya agar Kyuhyun bergegas merealisasikan niat awalnya menikahi Soo Jin.

Selama perjalanan pulang Kyuhyun tidak henti-hentinya memaki, merutuk, dan mengumpat terlebih pada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa tidak tahu ibunya pulang?

Harusnya dia tahu. Melihat dari sejarahnya, ibunya memiliki temperamen yang buruk dan menurun padanya. Ibunya tidak senang dengan segala sesuatu yang berbau terburu-buru.

Dia akan menolak dan menjauhkan sejauh-jauhnya dari dirinya. Seperti hama yang harus segera dibasmi.

Inilah sebabnya kenapa dia tidak pernah membawa wanita manapun ke hadapan ibunya sebelum wanita itu benar-benar akan selamanya bersamanya.

Yah, kecuali Kim Haneul yang merupakan temannya sejak kecil.

Semoga ibu tidak melakukan apapun pada Soo Jin. Hey! Kenapa kau harus peduli? Bukannya itu ide yang bagus? Ibunya adalah aktris antagonis terbaik sepanjang masa.

Kemarahannya pasti akan lebih meledak setelah mengetahui kalau putranya ini kecelakaan karna perbuatan Soo Jin.

Tapi pertanyaan selanjutnya adalah apakah seorang Kyuhyun tega melempar Soo Jin sebagai umpan ke mulut harimau?

Yah, semoga saja hal buruk itu tidak pernah terjadi sebab bagaimanapun Kyuhyun lebih berhak atas wanitanya.

“Oh? Anakku! Jam segini sudah pulang ya?”

Hanna begitu berbinar mendapati Kyuhyun telah berdiri di depan pintu rumah lengkap dengan pakaian kantornya.

Kyuhyun menyambut pelukan hangat ibunya yang sudah tiga bulan terakhir ini tidak dilihatnya. Kesibukan ibunya memang tidak jauh berbeda dari ayahnya.

Mereka sama-sama melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri sampai kadang melupakan putranya yang juga membutuhkan perhatian. Tidak juga sih sebenarnya.

Toh Kyuhyun juga punya kesibukan sendiri di kantor sebagai seorang presdir.

“Aaww! Ibu! Kenapa mencubitku?” Kyuhyun mengelus lengan bekas cubitan ibunya.

“Kenapa kau menikah tidak mengajakku bertemu dulu dengan calonmu?” Hanna cemberut saja. “Ibu tidak suka dengannya. Bercerai sajalah.”

“Apa?” Kyuhyun hanya melongo mendengar penuturan ibunya. Dia menggeleng.

Apa perceraian selalu ada di kamus otak Ibunya? Mengapa dia selalu membenci wanita yang dinikahinya? Kemana gadis itu sekarang?

“Tidak usah mencarinya. Ibu sudah mengusirnya.” Tutur Hanna santai, seolah tahu putranya pasti tengah kebingungan mencari keberadaan istrinya.

“Ibu! Kenapa ibu melakukan itu? Ibu kira dia mau pergi kemana setelah mengusirnya?”

Kyuhyun mengusap kasar wajahnya. Dadanya naik-turun menahan amarah yang siap meledak.

Astaga, kemana gadis itu? Kenapa dia malah benar-benar pergi? Kenapa dia tidak menunggu saja di depan rumah? Apa jangan-jangan dia punya niatan untuk melarikan diri?

“Ibu tidak peduli! Salah sendiri kenapa memilih istri seorang pembantu. Memangnya kau pikir aku suka punya menantu begitu?”

Hanna berdeham sedikit keras. Dia bersedekap dan mengalihkan mukanya. Kyuhyun berpikir sejenak. Pembantu?

Ya ampun! Ini pasti gara-gara ibunya melihat Soo Jin bersih-bersih rumah. Kyuhyun memejamkan matanya sejenak. Pikirannya berseliweran kemana-mana.

Kemana gadis itu? Sial sekali dia tidak pernah menyelidiki latar belakangnya lebih dulu. Dia tidak pernah menjadi seceroboh ini sebelumnya.

“Dia bukan pembantu, Ibu. Aku bisa menjelaskannya. Tapi nanti, setelah aku membawanya pulang.”

Kyuhyun tidak menggubris teriakan ibunya dan bergegas pergi lagi. Dia berharap gadis itu masih tidak jauh dari sana.

Dia segera mengubungi Hyukjae untuk segera mencari alamat manapun yang dimiliki Soo Jin. Setengah mengabaikan pertanyaan ‘apa yang terjadi’ dari sahabatnya itu.

Pikirannya sekarang dipenuhi kemungkinan bahwa Soo Jin merasa bisa lepas dari genggamannya. Tidak, tidak, itu tidak boleh terjadi. Kyuhyun mencengkeram kuat setirnya dan menambah kecepatan mobilnya.

Kang Soo Jin, kau tidak boleh pergi atau menghilang tanpa seizinku.

.

.

.

Epilog

Kyuhyun POV

Hari ini hari pernikahanku. Sebenarnya bukan pernikahan pertamaku, tapi aku merasa berbeda. Kalau dulu geraja hanyalah berisi kursi-kursi kosong, sekarang justru dipenuhi oleh tamu undangan.

Dapat kulihat teman-temanku yang duduk di barisan kedua dari depan berdecak kagum ke arahku. Apa aku sebegitu tampannya sampai mereka berbuat senorak itu?

Kuhembuskan napasku perlahan. Jari jemariku bertautan satu sama lain. Ada perasaan ragu yang berusaha kusembunyikan. Aku telah melangkah sampai sejauh ini hanya untuk balas dendam?

Uh, betapa kejamnya diriku.

Ayahku mendorong kursi rodaku sampai ke depan pendeta yang siap menikahkan kami.

Sebenarnya kursi roda ini hanyalah samaran karna nyatanya aku sudah bisa berjalan walaupun masih tidak diperbolehkan berlari oleh Leeteuk hyung.

Aku membohongi Soo Jin karna aku tidak ingin dia lepas dulu dariku. Dia sudah berjanji akan menikah denganku sampai keadaanku membaik.

Lalu kalau aku sudah sembuh total, apa yang akan kulakukan padanya? Tentu saja menyiksanya dulu, membuatnya jatuh cinta padaku, hamil anakku lalu kucampakkan dia.

Aku menyeringai sinis. Aku benar-benar jahat ya?

Sepertinya Ayah hendak meninggalkanku. Tapi kenapa dia belum beranjak dari tempatnya berdiri sekarang?

Dari ekor mataku dapat kulihat dia mensejajarkan mulutnya ke telingaku lalu berbisik, “Ayah turut bahagia atas pernikahanmu. Jadilah suami sekaligus ayah yang baik untuk keluargamu kelak, Kyu. Lupakan masa lalu dan tataplah masa depan.”

Tubuhku menegang mendengarnya. Tanganku saling meremas satu sama lain di atas pahaku. Ayah tersenyum tulus sebelum duduk di barisan terdepan. Oh, Tuhan, apa aku sudah melakukan kesalahan besar kali ini?

.

.

.

To Be Continue

Advertisements

29 thoughts on “CLEFT [Chapter 2]

  1. shfly3424Arista says:

    Ohhhhhh ya ampun
    Complicated bnget ini kayaknyya ya

    Jd kyu itu duda ceritanya
    Seena dulu miakin ya

    Klw soojin lumayan berada kan nampaknya

    Liked by 1 person

  2. LeeAhn says:

    Kok soojin jd melemah gitu?? Jgn2 udah terpesona tuh sama kyuhyun….
    Kayaknya kyuhyun pernah punya masa lalu yg g enak sama istrinya yg dulu?? Apa kyuhyun d tinggalkan???
    Buat soojin jgn nyerah d gitu in okeeee….

    Liked by 1 person

  3. Ellanie Cho says:

    kyu kejam bangetT sichH , NaNti dia senjata makan tuan Lho , . Penazaran ma maza lalu kyu , kenapa dia bz zeperti itu jadi dingin N’ zka mempermainkan wanita , . Zmoga dg ada’y soojin bz membuat kyu berubah , .

    Liked by 1 person

  4. lyeoja says:

    Jadi seera itu mantan istri kyuu,,,
    Balas dendam kyunya…?? Balas dendam krn insiden tabrakan itu apa karena seera…???
    Aduhh ffnya jangan digantung mulu lunnn,,,
    Seleseii lunn selesseeiiinnn…
    Trus jan yg sad2 mulu yaaa,,, bner2 kebanjiran nanti nih Wp..

    😂😂😂

    Liked by 1 person

  5. Chan Yoen says:

    Apa itu tidak salah dengan pikirannya Kyuhyun.
    Kyu menikahi Soo Jin hanya membalaskan dendamnya.
    Dan apa itu tadi Kyu akan mencampakannya astaga apa kau tidak salah Kyu.
    Aku jadi berpikir kau akan menyesal setelah mencampakan Soo Jin
    Dan aku setuju dengan Siwon yang bilang Kyuhyun itu bahaya.
    Huft complicated…. di tunggu part selanjutnya^^

    Liked by 1 person

  6. ardriela says:

    Bagus, Soo Jin nya pergi.
    pergi ajalag ngapain ladenin Kyuhuun, ppkoknya jangan jatuh cinta ama Kyuhyun biarin aja si Kyuhyun yang tersiksa

    Liked by 1 person

  7. yantidevi says:

    Apa maksud ucapan appanya kyu untuk melupakan masa lalu.apa masa lalu kyu berhubungan dg Senna.ayo kyu move on jgn sampai menyesal kalau Soo jin meninggalkan km
    Next

    Liked by 1 person

  8. Hyun says:

    Gyu nya labil weh -.-
    Luna-a.. Kok karakter soojin kurang kuat ya? Kadang dia itu macam Batu karang giu yg ga bisa kesentuh apapun (*ini waktu dia mau balapan, sama waktu dia nyamperin siwon di apartemen chapter satu*) tapi dia disini kadang kekuatan kuat kadang lemah..
    Mungkin bisa dipertegas lagi ya, karakternya bisa nyangkut diotak kkk

    Liked by 1 person

  9. laya says:

    Woww cleft dilanjut. Kelanjutannya tdk sesuai dg apa yg aku bayangkan. Aku kira song jin akan tetap menjadi wanita pembalap sampai beberapa part. Ternyata aku salah, di part dia dia langsung married. Cukup shock dg sifat kyuhyun yg sesungguhnya. Jadi penasaran, trauma apa yg membuat kyuhyun menjadi seperti sekarang

    Liked by 1 person

  10. amaliamstka says:

    udahlah bener tuh si soojin pergi aja dari rumah kyu. buat apa balik lagi, toh ujung-ujungnya pasti bakalan disiksa lagi. gue kira kyu ada rasa sama soojin eh ternyata engga haha malah kyu nikahin soojin cuma buat bales dendam. ngeselun. nyebur kek ke amazon sana kyu.

    Liked by 1 person

  11. Vyea Lyn says:

    Ugh…Kyuhyun beneran kejam ternyata.
    Segitunya dia…
    Eh…Tapi.,aku penasaran sama masa lalunya. Dia kan udah nikah sebelumnya,,yg Seena itu ya istrinya?!

    Liked by 1 person

  12. Vikyu says:

    Sumpah ini cerita keren banget
    Konfliknya itu loh
    Untung ayah kyu orngnya baik , setidaknya ada yg baik sama soojin
    Dan tadi apa ? Kyu udh pernah nikah ? Sama seena ? Lalu kenapa dengan masa lalu kyu sama seena ?

    Liked by 1 person

  13. ddianshi says:

    Kyuhyun benar2 b******k -_- tidak punya hati nurani lagi >_< ya allah soojin hanya dijadikan tawanan saja 😦 jadi kyu duda? Heol kkk tapi saena nya knp bisa meninggal???

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s