Switch [Chapter 4]

Switch Chapter 4
by Luna

Genre:
NC, Sad, Married-life, Romance, Chaptered

Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin | Lee Yoo Ri

Cuap-cuap Author:
Gomawo readers yang udah mau nyempatin baca FF-ku dan setia nunggu kelanjutan FF ini^^
Maafkan yang baru bisa ngirim di siang-siang bolong. Maksudnya biar readers matanya langsung melek begitu tau ada update FF Switch 😀

Happy Reading^^

d

Warning typo bertebaran!
—oo0000oo—
Chapter 4
Singularity

Yoo Jin POV

“Sudah pulang?”

Kuulangi jawaban sekretaris Kyuhyun yang terkejut melihat kedatanganku. Dua kali berturut-turut istri bosnya datang kemari menanyakan kepulangan bosnya.

Bukankah mereka suami-istri? Seharusnya istrinya lebih tahu keberadaan suaminya ketimbang sekretarisnya. Kurang lebih begitulah ekspresi yang terbaca dari wajah sekretaris Kyuhyun.

“Apa Kyuhyun bekerja lembur kemarin dan kemarinnya lagi?”

Sekretaris yang kutahu bernama Sun Hee, tersenyum ramah lalu menggeleng.

“Kemarin lusa Tuan Cho tidak datang ke kantor dan Tuan Cho baru datang saat jam makan siang kemarin dan pergi dua jam setelahnya. Apakah Tuan Cho tidak menghubungi anda, Nyonya?”

“Ah, kukira ponselnya mati jadi aku tidak mengetahui keberadaannya. Kalau begitu terima kasih, nona Choi.” Aku pamit pulang.

Dua hari terhitung sudah Kyuhyun tidak pulang ke rumah. Apa yang dilakukan Kyuhyun sebenarnya?

Ponselnya tidak bisa dihubungi dan pesan-pesanku tidak ada yang dibalas. Padahal kemarin lusa Kyuhyun pamit ada rapat pagi dengan klien, tapi kenapa Sun Hee mengatakan Kyuhyun tidak ke kantor?

Ini aneh.

Apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Kyu? Kau membuatku menaruh curiga padamu.

Aku masuk ke dalam lift karyawan yang lumayan penuh karna sekarang jam pulang.

Beberapa pegawai yang mengenalku sebagai istri bos besar mereka membungkukkan badan hormat padaku.

Aku terdorong di pojok lain karna setiap lantai lift terus terisi pegawai.

“Eh, kau tahu tidak, kemarin aku melihat presdir!”

“Dimana?”

“Sedang berbelanja di mall dengan seorang wanita!” Seorang pegawai wanita bersuara di tengah keheningan di dalam lift.

“Wah, wah, aku jadi ingin tahu bagaimana ya kalau presdir memilihkan baju untuk wanita. Pasti pilihannya baju-baju bermerek mahal dan impor! Wanita yang beruntung. Sayang, bukan aku orangnya.” Bisik wanita lain yang berdiri di sampingnya sambil membawa kopinya.

“Jangan berbicara macam-macam, presdir kan sudah menikah. Itu pasti istrinya!”

“Mana mungkin? Mana ada istri presdir pakaiannya seperti wanita malam? Kalau tidak salah lihat, dia memakai gaun mini yang pendeknya hanya sampai sini.”

Wanita yang mengaku melihat bos mereka menunjuk seperempat atas pahanya. “Cantik sih, tapi murahan!”

“Shuut! Kalian ini bicara omong kosong apa? Disini ada istri presdir. Kalau dia dengar bagaimana?”

Tepat mereka selesai berbisik, lift berdenting keras. Tiga wanita yang tadi menggosipkan suamiku bergegas keluar lift.

Aku juga ikut keluar dan kulihat mereka sangat terburu-buru keluar melalui pintu ganda.

Napasku memburu. Wanita? Oh, Kyuhyun, jangan menghilang tiba-tiba sementara rumor aneh tentangmu berkembang di perusahaanmu sendiri.

Aku mengecek ke layar ponselku yang sepi. “Kemana dirimu sebenarnya, Kyu?”

Tiba-tiba ponselku berdering dan aku harus menelan kekecewaan lagi karena Bora-lah yang meneleponku.

“Ada apa, Bora?” tanyaku tak bersemangat.

“Presdir, jangan lupakan jadwal pemeriksaanmu dengan dokter Choi di Rumah Sakit Universitas Hansei.”

Oh! Sial! Aku lupa.

“Gomawo, Bora-ya, aku hampir melewatkannya.”

Oke, Kyuhyun bisa menunggu. Aku bergegas menuju tempat parkir dan mengemudikan mobilku menuju rumah sakit.

.

.

.

“Permisi,”

Aku masuk ke dalam ruang praktek dokter Choi—sesuai saran Bora—yang dikenal sebagai dokter kandungan di usianya yang sangat muda.

Sosok pria berjas putih yang mengenakan kacamata ber-frame tipis menyambutku dengan hangat. Aku sedikit memiringkan kepalaku ketika melihat wajahnya.

Sepertinya wajah itu tidak asing.

“Lee Yoo Jin-ssi?”

Tampaknya dokter itu lebih dulu mengenaliku. Dia tersenyum cerah lantas berdiri dan menjabat tanganku.

“Sudah lama tidak bertemu. Apa kabar?”

“Choi Siwon-ssi?”

Ah! Benar! Pria itu mengangguk semangat. Dia mempersilahkanku duduk di depannya. Pria ini adalah teman SMA suaminya yang belakangan tidak tahu kabarnya.

Dunia memang sangat sempit.

Sebelum aku memulai pemeriksaan, aku menanyainya bagaimana dia bisa menjadi dokter spesialis kandungan di usianya yang sangat muda.

Ternyata Siwon bisa menyelesaikan sekolah kedokteran sampai spesialis selama 7 tahun. Benar-benar superior.

“Oh iya, bagaimana kabar Kyuhyun?”

“Dia baik-baik saja.” Aku tersenyum manis. Siwon belum tahu kalau dirinya adalah istri dari Kyuhyun.

“Tampaknya kau tahu betul dia dalam keadaan baik.”

Siwon menyedekapkan lengannya di depan dada lalu menyandarkan punggungnya di kursi.

Mungkin Siwon berpikir karena dulunya aku menyukai Kyuhyun sehingga aku seolah tahu apa saja yang dilakukan pria itu.

“Yah, karena aku istrinya,”

“A-apa?” Aku melihat Siwon sangat terkejut dengan perkataanku. “Benarkah?” matanya melebar.

Aku tersenyum manis. Wajar saja Siwon sampai terkejut sebab dulunya Kyuhyun adalah kekasih adikku. Aku mengangguk.

“Sejak satu tahun yang lalu.”

“Wow, wow, selamat atas pernikahanmu Yoo Jin-ssi. Kalian benar-benar mengejutkanku,” ucapnya selang beberapa detik.

Aku melihat keraguan dalam ekspresi wajahnya. “Maafkan aku yang tidak bisa datang di hari pernikahan kalian. Tentu Kyuhyun bahagia bisa memilikimu sebagai seorang istri.”

“Terima kasih, Siwon-ssi.”

“Ah, iya, bisa kumulai pemeriksaannya sekarang?”

Dua puluh menit sudah aku menjalani pemeriksaan yang disarankan oleh Siwon. Dia benar-benar dokter yang sangat cekatan. Memberikan pemeriksaan sesuai indikasi.

Walaupun dia seorang pria, aku tetap merasa nyaman karena dia begitu memahami bagaimana hubungan dokter-pasien yang berlawanan jenis.

Ditemani dengan seorang perawat wanita yang juga masih muda, dia menyelesaikan pemeriksaanku dengan cepat.

“Tidak ada masalah dengan rahimmu, Yoo Jin-ssi. Apakah kau mengkonsumsi pil KB selama ini?”

Aku mengerutkan keningku. Siwon menanyakan hal ini kedua kalinya. Aku bukan wanita yang bodoh tentang pil KB atau alat kontrasepsi lainnya. Aku menggeleng dan Siwon bergantian mengernyit heran.

“Benarkah? Tapi dari hasil laboratorium menunjukkan kadar estrogenmu tinggi. Apa kau yakin tidak pernah menggunakannya? Mungkin implan?”

Aku menggeleng lagi. Setahuku aku dan Kyuhyun sama-sama tidak menggunakan kontrasepsi apapun selama ini.

“Apa Kyuhyun memakai pengaman saat melakukannya?” aku menggeleng lagi.

Kyuhyun pernah bilang dia tidak suka ada benda yang menghalanginya saat berhubungan denganku.

“Membingungkan. Apa ada kesalahan, ya?” Siwon mengalihkan perhatiannya padaku. “Ini membingungkan, Yoo Jin-ssi.”

“Memangnya kenapa, Siwon-ssi?”

“Dari hasil lab menunjukkan kadar estrogenmu sangat tinggi. Biasanya ini dikarenakan penggunaan pil KB atau alat kontrasepsi hormonal yang terus-menerus sehingga kau tidak akan hamil. Jadi bukan karena ada kelainan dengan rahimmu, tapi karena penggunaan alat kontrasepsi.” Jelas Siwon yang membuatku tercengang.

Kenapa bisa begini?

“Kapan terakhir kali kalian berhubungan?”

“Hmm, dua hari yang lalu.”

“Dan kau belum mendapat tamu bulanan?” Aku menggeleng. “Oke. Bagaimana jika kita melakukan pemeriksaan ulang di jadwal berikutnya? Kita lihat apakah siklusmu datang bulan ini atau tidak.”

Aku mengangguk saja. Dokter pasti lebih tahu apa yang terbaik untuk pasiennya.

Siwon memberiku surat keterangan untuk kembali minggu depan, bertepatan dengan tanggal biasanya aku mendapat tamu bulanan.

Setelah itu aku pamit pulang dan tidak lupa meminta nomor ponselnya, siapa tahu Kyuhyun akan membutuhkan nomor ini suatu saat nanti.

.

.

.

Aku pulang ke rumah dengan selamat. Yah, meski sempat di-klakson oleh beberapa pengemudi lainnya karna aku berhenti terlalu lama di lampu merah dan jalanan begitu macet di hari Rabu.

Pikiranku bercabang antara ucapan Siwon di tempat prakteknya tadi dan pegawai wanita Kyuhyun yang membicarakan bosnya pergi berbelanja dengan seorang wanita berpakaian seperti wanita malam.

Tapi rumor itu tidak bisa dibenarkan. Belum ada bukti nyata.

Sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Kyuhyun bersama dengan wanita lain, aku tidak akan percaya dengan omongan orang.

Ada beberapa pegawai yang mungkin membenci Kyuhyun sehingga menyebarkan gosip tak sedap.

Keadaan apartemen gelap. Itu artinya Kyuhyun belum pulang. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.

Sudah hampir pukul delapan malam. Padahal kata sekretaris Kyuhyun dia sudah pulang. Hah, mungkin dia keluar mencari makan.

Kunyalakan saklar lampu di tengah ruangan. Apartemen menjadi terang benderang.

Aku terkesiap mendapati suamiku sedang berdiri disana. Tangannya dimasukkan ke dalam saku dan wajahnya seperti tegang karena sesuatu. Tatapannya tajam dan dingin tidak biasanya.

“Kyuhyun? Hai,” sapaku hangat.

Sebenarnya aku cukup lelah sore ini dan melihat Kyuhyun di hadapanku sekarang dengan ekspresi begitu membuatku waspada.

Aku melangkah mendekat padanya dan secara tiba-tiba dia menarik tubuhku lalu menghempaskannya ke sofa panjang warna pastel di belakang kami.

Sebelum aku menyadari maksud dari perbuatannya, dia melumat bibirku sangat kasar.

Kyuhyun sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk mengambil napas dan menekan bibirnya kuat padaku.

Aku memukul dadanya, memberi sinyal agar dia mau melepas ciumannya barang sebentar. Kyuhyun harus tahu jika aku tidak memiliki napas yang panjang sepertinya. Tapi dia tidak menggubrisku.

Aku memekik saat tangannya meremas payudaraku kasar, memanfaatkannya untuk melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulutku, mengabsen satu per satu gigiku.

Aku tidak bisa tidak mendesah saat tangannya kirinya yang menekan lenganku di atas kepala sedangkan tangan kanannya bergerak turun ke bawah, menyelinap ke celana dalamku dan memasukkan satu jarinya ke dalam tubuhku.

“Akh!”

Sementara jarinya yang memutar di dalamku, membuatku menggelinjang dalam sentuhannya.

Kyuhyun mempercepat gerakan jarinya, menekan bibirku lebih dalam, menahan lenganku, menjepit kakiku agar tidak bergerak, siksaan itu membuatku orgasme.

Aku mendesah, terengah-engah dan berusaha membuka mataku. Begitu terkejutnya saat aku membuka mata, dia sedang menatapku dengan tatapan sulit kuartikan.

Kegelisahan? Kepastian? Aku tidak tahu apa itu.

Aku belum sempat melanjutkan dugaanku saat tiba-tiba Kyuhyun melesakkan kejantanannya yang sudah mengeras ke dalam tubuhku dalam sekali hentakan.

Aku begitu tersiksa tidak bisa melampiaskan rasa sakitku dengan mencengkeram apapun. Ini sangat sakit. Kyuhyun tidak pernah melakukannya dalam sekali gerakan. Ini baru untukku dan sangat perih.

Tapi rasa sakit itu tidak berlanjut lama karena aku sudah mabuk oleh sentuhannya di setiap inci tubuhku.

Dan saat aku mencapi klimaks yang panjang, aku justru tercengang karena Kyuhyun melepaskan miliknya bahkan sebelum dia sampai.

Mataku yang diselimuti kabut gairah menatap Kyuhyun yang kini memejamkan matanya.

“Apa yang kau lakukan padaku?”

Kyuhyun bersuara. Aku mengerutkan keningku. Kyuhyun merapatkan kening kami.

Aku masih bisa merasakan miliknya yang keras menekan selangkanganku.

Aku tahu dia belum terpuaskan, tapi kenapa dia tidak meneruskannya? Kyuhyun mengigit bibirku gemas.

Aku menangkup rahang tegasnya. Dia sudah melepas cekalannya di tanganku. Aku memaksanya membuka mata dan melihatku.

“Ada apa? Ada apa, Kyu?” aku mengelus rahangnya yang tegang. Aku tidak mengerti. Oh, Kyuhyun, jangan membuatku bingung.

Dia menggeleng. Dan belum sempat aku bernapas lebih lama, dia sudah memasukkan kejantanannya lagi ke dalam milikku.

Menghentakku dengan kecepatan yang membuat kepalaku pening dan selanjutnya yang kudengar adalah geraman kerasnya dan aku tahu cairan percintaan kami menyatu di dalam diriku.

.

.

.

Kyuhyun kembali menjadi suamiku yang hangat. Aku terbangun dalam keadaan telanjang dan selembar selimut menyelimuti kami berdua.

Dia mendekapku sepanjang malam dengan lengan kekarnya, melingkarkan lengannya di perutku dan wajahnya berlabuh di dadaku.

Kyuhyun pernah bilang kalau aku memiliki dada yang empuk, yang membuatnya tidak bisa tidur selain denganku.

Aku tersenyum sambil mengelus rambutnya yang sangat halus. Dia menghembuskan napasnya di atas dadaku, membuatku geli.

Dia bergerak pelan kemudian mengecup dadaku kanan dan kiri bergantian. Kyuhyun-ku sudah bangun. Matanya terbuka, menunjukkan ekspresi polos bocah lima tahun yang menggemaskan.

“Boleh aku melakukannya pagi ini? Tanpa henti? Aku sangat merindukanmu.” pintanya.

Kemudian aku ingat harus membicarakan banyak hal dengannya. Dan aku tidak mau teralihkan oleh karena sentuhannya.

“Kyuhyun, bisa kita bicara dulu?”

“Aku masih ingin.” Aku ingin tertawa mendengar rajukan Kyuhyun pertama kali.

“Aku ingin bicara, Kyu. Bisa kan?” Kyuhyun menatapku sebentar, mempoutkan bibirnya lalu mengangguk.

“Kau kemana saja kemarin? Aku bingung mencarimu. Kau tidak menjawab satupun pesan dariku atau mengangkat teleponku. Kau tidak pernah menghilang tanpa kabar seperti kemarin, Kyu.”

Kyuhyun diam. Matanya tidak lepas menatapku. Aku tahu ada yang dia sembunyikan dariku.

“Aku bekerja seharian di kantor. Aku tidur di kantor karena harus menyiapkan bahan presentasi hari ini.”

Aku mengerjapkan mataku. Kyuhyun berbohong.

“Ponselku mati dan aku lupa tidak membawa charger-ku. Maaf, membuatmu khawatir.”

Kyuhyun mengeratkan pelukannya padaku, menenggelamkan wajahnya di dadaku sambil mengecupku pelan. Tangan kekarnya melingkar erat di punggungku seolah-olah takut aku menghilang darinya.

Aku tersenyum miris. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku, Kyu? Sebegitu tidak inginnya kah membaginya denganku?

Aku tidak mau mengurasi rasa percayaku padanya. Aku masih ingin mempercayainya dengan seluruh kepercayaan yang kumiliki.

Tapi kalau dipikir lagi, mungkin memang ada sesuatu yang Kyuhyun sembunyikan dan menurutnya itu bukan hal penting yang akan menjadi beban pikiranku.

Aku tidak boleh bertindak terlalu posesif dan mengintimidasi.

“Tidak apa-apa, Kyu. Lain kali kau harus memberitahuku kalau kau tidak pulang agar aku bisa tidur nyenyak.”

Aku melanjutkan mengelus rambutnya. Kyuhyun mengangguk-angguk sambil terus mengeratkan pelukannya.

Baru saja aku ingin menanyakan tentang semalam yang dia tiba-tiba berubah menjadi tak terkendali, ketika ponselnya di atas nakas berdering keras.

Dengan ogah-ogahan, Kyuhyun menjauhkan kepalanya dari dadaku kemudian mengangkat teleponnya.

“Ne?” Kyuhyun terlihat serius mendengarkan seseorang di seberang sana berbicara.

Tidak mau mengganggu, aku melepaskan kaitan tangannya di tubuhku dan Kyuhyun menoleh padaku.

Aku tersenyum mengerti dia membutuhkan privasi. Dia melepaskanku dengan tidak rela.

Aku melilit tubuhku dengan selimut tipis dan Kyuhyun menahan lenganku, “Tunggu aku di kamar mandi.” Aku mengangguk, mencium pipinya lalu berjalan masuk ke kamar mandi.

Aku menunggunya. 10 menit. 20 menit. 35 menit.

Kyuhyun tidak datang.

Aku menghela napas. Seharusnya aku tidak menunggunya. Kyuhyun termasuk pria workaholic. Pasti telepon itu sangatlah penting. Aku segera mengguyur tubuhku dengan air shower.

.

.

.

“Kyu, Ibu menginginkan kita pergi ke rumah besok. Apa kita bisa pergi?” tanyaku saat kami berada dalam mobil menuju kantor.

Kyuhyun menyesal karna tadi membuatku menunggu dan aku tersenyum memaklumi kesibukan suamiku yang beribu kali lipat dibandingkan aku.

Maklum saja, perusahaannya membawahi belasan anak perusahaan.

Kyuhyun terlihat serius mengemudikan mobilnya. Walau aku tahu sebenarnya fokusnya tidak disini. Aku penasaran, apa sih yang mengganggu pikirannya itu?

“Kyu?” panggilku lagi setelah tidak mendapat respon darinya.

Kusentuh lengannya pelan dan dia terkesiap seolah aku baru saja memukul pundaknya.

“E-eh, kau bilang apa sayang?” dia bahkan terbata saat mengatakannya.

“Aku bilang, bisakah kita pergi ke rumah orang tuaku besok?”

Kyuhyun tampak menerawang. Menimbang sesuatu seolah itu permintaan yang sulit untuk diwujudkan.

Aku buru-buru menambahkan, “Kalau kau sibuk, tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri tanpa menginap. Ibu tidak akan marah karna suamiku ini super sibuk.”

Kyuhyun menolehkan kepalanya sekilas padaku, tersenyum meminta maaf.

“Maaf,” Aku mengangguk meski kuakui sedikit kecewa.

Mobilnya berhenti tepat di depan gedung kantorku. Setelah mengecup pipi Kyuhyun aku melompat turun dan masuk ke gedung melalui pintu ganda.

Aku sempat melirik ke arah mobil suamiku yang belum bergerak dan kalau tidak salah lihat dia sedang menerima telepon entah dari siapa. Sesibuk itu ya?

.

.

.

“Putriku!”

Ibu berhambur memelukku begitu tahu aku yang memencet bel rumahnya dan berdiri menenteng dua kantong plastik berisi bahan-bahan memasak barbeque.

Kami sepakat membuat pesta barbeque di halaman belakang rumah dengan mengundang tetangga dekat. Acara setiap hari jumat yang rutin kami lakukan sebelum aku dulu menikah.

“Aku merindukan putriku. Ayo masuk!”

Ibu menggamit lenganku menuju dapur yang baru saja selesai di renovasi dengan tambahan bar sarapan.

Sebenarnya Ibu sempat kecewa karena Kyuhyun tidak bisa datang, tapi aku menjelaskan bahwa Kyuhyun memang sedang sangat sibuk dan mengerjakan beberapa proyek ber-deadline hitungan hari.

“Ayah kemana Bu?” tanyaku pada Ibu yang kini sibuk mengeluarkan sayuran dan daging dari kantong plastik yang kubawa.

“Nanti sore dia berjanji akan pulang cepat. Kita bisa memulai mempersiapkan bahannya dari sekarang.”

Sambil kami mempersiapkan segala kebutuhan untuk barbeque, kami mengobrol tentang banyak hal.

Ibu bercerita tentang Choco, nama kucing peliharaan Ibu yang baru melahirkan lima anak kucing yang sangat menggemaskan.

Karena kebetulan Han ahjumma sedang sakit, jadilah Ibu yang mengurus semua kucing-kucingnya.

Ibu mendengus sebal. Dia tidak ingin hanya mengurus anak kucing, tapi juga ingin mengurus cucunya. Aku tersenyum miris.

Aku memohon pada Ibu untuk bersabar lagi dan mengatakan kalau aku baru saja mengunjungi dokter kandungan yang ternyata dulunya teman Kyuhyun saat SMA.

“Dokter Choi bilang aku harus bersabar sementara dia mempersiapkan jadwal pemeriksaan lanjutan untukku minggu depan.”

Aku mengelus punggung tangan Ibu yang masih saja kecewa oleh kesepakatanku dengan Kyuhyun yang menunda momongan karna kesibukannya.

“Jangan lama-lama sayang, Ibu tidak tahu berapa lama Ibu akan hidup.”

“Ibu! Jangan berkata begitu. Membuatku sedih saja.”

Aku paling tidak suka jika Ibu sudah menyinggung-nyinggung kematian.

“Jin-ah, Ibu sudah tidak muda lagi. Umur Ibu tahun ini sudah genap 50 tahun. Kau mau menunda berapa lama lagi?”

Err, aku juga tidak mau menunda. Aku juga ingin mempunyai anak dari Kyuhyun.

Tapi aku tidak bisa bilang pada Ibu kalau aku ada masalah kontrasepsi yang tidak pernah aku pakai yang menyebabkan aku belum hamil juga.

“Segera, Bu, segera. Bukankah Ibu sendiri yang bilang bahwa anak adalah titipan Tuhan? Tentu seorang anak akan hadir di antara kami jika waktunya sudah tepat.”

Ibu mengangguk lemah. “Benar, Ibu sampai lupa pernah menasehatimu begitu. Maafkan Ibu yang terlalu memaksamu.”

Aku menggeleng. Tidak, justru aku yang seharusnya meminta maaf.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bu. Semua orang tua pasti akan seperti Ibu. Seorang Ibu yang perhatian pada anak-anaknya.”

Mata Ibu berkaca-kaca dan sontak menghentikan gerakan tangannya menusukkan potongan daging di tusukan kayu lalu memelukku erat.

“Kau memang putriku yang paling pengertian, Jin-ah.”

Aku membalas pelukan Ibu dan mengusap punggungnya. “Andai saja Yoo Ri juga disini, Bu.”

“Yah, andai saja anak nakal itu juga kembali ke pangkuan Ibu.”

Aku terkekeh. “Dia pasti kembali, Bu. Aku yang akan membawanya ke hadapan Ibu. Secepatnya.”

“Wah, wah, ada apa ini kenapa ada acara peluk-pelukan disini?”

Suara Ayah yang muncul dari pintu dapur merenggangkan pelukan kami.

Aku mengusap pipiku yang ternyata sudah basah oleh air mata. Aku dan Ibu kemudian tertawa karena kami berdua sama-sama sedang mengusap air mata.

“Aku juga rindu mendapat pelukan dua wanita sekaligus.”

Ibu merentangkan tangannya yang disambut Ayah dengan suka cita. Kami bertiga berpelukan sangat erat sambil tertawa.

“Dua wanita paling berharga dalam hidupku.”

Ayah bergantian mengecup puncak kepalaku dan Ibu. Aku benar-benar merasa lebih hidup bersama kalian, Ayah, Ibu.

Acara barbeque dimulai tepat pukul tujuh malam. Halaman belakang rumah kami sudah dipenuhi para tetangga yang membawa berbagai macam parcel makanan yang segera disajikan di atas enam meja bulat.

Ayah dan Paman Park mendapat bagian memanggang barbeque sedangkan aku kebagian mondar-mandir menyajikan hasil panggangan mereka ke meja saji.

Teringat pada Kyuhyun, kurogoh ponsel yang selalu kukantongi di celana jeans-ku. Langsung saja aku menelepon.

“Kyu, sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini. Tidak apa-apa, kan?”

Tidak ada jawaban. Malah aku mendengar suara berisik di seberang.

“Kyu? Yeoboseyo?” suara berisik itu semakin mengeras, sejenis musik menghentak-hentak seperti yang sering diputar di pub.

“Kyu? Kau mendengarku? Halo? Halo?”

Ibu menggenggam pundakku, aku menoleh. Ibu seperti mengisyaratkan agar menelepon di dalam rumah saja.

Aku menepuk jidatku karena bukan hanya Ibu yang mendengar pekikan cemasku melainkan para tetangga yang sudah berdatangan.

Aku mengacungkan ketiga jariku, aku butuh waktu bicara tiga menit saja. Ibu mengangguk dan aku berjalan masuk ke dalam rumah sambil terus memanggil Kyuhyun.

“Kyu? Kau sedang berada dimana? Kyuhyun?”

“Eunggh…”

Aku mengernyit. Kujauhkan ponselku. Telepon kami masih tersambung. Tapi kenapa aku malah mendengar desahan seorang wanita? Segera kumatikan teleponku.

Perasaanku tidak enak. Jantungku berdebar tak karuan. Bukan Kyuhyun yang menjawab teleponku, malah suara desahan wanita yang terdengar.

Kucoba menepis pikiran burukku dan menghubungi Kyuhyun lagi. Kali ini nada sambungnya lebih lama dari sebelumnya.

“Kyu? Ada apa?” tanyaku secepat kilat setelah telepon terangkat.

“Oh, maaf nona, apa anda mengenal tuan ini? Dia sedang mabuk berat dan dia sedang sendirian, bisakah anda menjemputnya?”

Suara desahan itu menghilang berganti suara berat khas seorang pria. Mabuk? Kyuhyun tidak pernah mabuk selama kami menikah.

Tapi aku bersyukur, berarti desahan tadi mungkin bukan berasal dari Kyuhyun.

“Iya, aku akan menjemputnya. Hmm, bisa kau kirim saja alamatnya melalui pesan? Aku akan segera kesana.”

Aku memandangi layar ponselku penuh tanya.

Kenapa sih akhir-akhir ini Kyuhyun sering meninggalkan pertanyaan besar di kepalaku? Dan kenapa dia sama sekali tidak mau membaginya denganku?

Ponselku bergetar pertanda ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Sepertinya dari pria tadi yang mengangkat teleponku.

Kubuka isi pesannya, membaca sekilas alamat yang tertera di pesan itu.

Aku berdiri mematung. Aku tidak sadar saat tanganku tanpa kontrol menjatuhkan ponselku ke lantai.

“Apa yang terjadi, sayang?”

Ibu memungut ponselku dari lantai dengan kening berkerut. Terkejut kenapa aku menjatuhkan ponselku.

Ibu mengecek pesan yang baru kubuka dan merasa tidak ada keganjalan disana.

Tidak, Ibu tidak tahu. Hanya aku yang tahu mengapa aku sekaget ini.

Alamat yang sama dengan alamat pub dekat rumah Yoo Ri yang beberapa hari lalu aku datangi.

Satu pertanyaan muncul di kepalaku.

Kenapa sejauh ini Kyuhyun kau pergi hanya untuk ke sebuah pub?

Yoo Jin POV End

.

.

.

To Be Continue

 

 

 

 

Advertisements

54 thoughts on “Switch [Chapter 4]

  1. yuliantif0488 says:

    Kalau kayak gini jadi ndak sabar deh pingin yoojin segera tau kebenaran nya, jadi pingin kasih pelajaran sama kyu, tau lah bingung sendiri.
    KYU LABIL

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s