Liars Chapter 4 [END]

Liars Chapter 4 End (Sequel of Switch)
by Luna

Genre:
Married-life, Romance, Chaptered

Main Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin

Cuap-cuap Author:
Ending?
Iya! Ini benar-benar berakhir sekarang. Jangan kangen dengan cast-cast Switch ya. Sengaja part ini diakhiri dengan momen yang sweet untuk keluarga kecil Cho.
Happy Reading^^

LiarsWarning! Typo dimana-mana!
—oo0000oo—
Chapter 4
Reunion

Prolog

Ryeowook terlonjak dari kasurnya. “Sial! Aku terlambat!”

Waker di atas nakasnya menunjukkan pukul sembilan. Dia telat satu jam! Matilah dia! Habis sudah hidupnya!

Pasti Bos Tukang Omel itu sekarang sedang mengamuk-amuk karena dia belum di tempat. Ryeowook bergegas mengambil pakaian kantornya, tanpa mandi, langsung berlari ke parkiran apartemennya.

Sambil masih mengenakan seragam tidurnya, Ryeowook merogoh kantong celananya mengambil ponsel yang bergetar.

‘Big Fussy Boss’ is calling…

Nama kontak bosnya terpampang di layarnya. “Sial! Sial!” Setelah berdeham-deham, Ryeowook menempelkan ponselnya ke telinga. Bersiap-siap mendapat ceramah panjang lebar dari bosnya. “Iya, bos!”

“Kau dimana?”

Kening Ryeowook mengernyit. Tidak mungkin nada Kyuhyun setenang ini kalau pria itu sudah berada di kantor. Bosnya masih di luar.

“Di kantor bos! Dimana lagi?” ujar Ryeowook berbohong.

“Bagus. Kukira kau terlambat lagi. Ingat, kalau kau terlambat, bukan gajimu saja yang kupotong tapi lehermu juga!”

Ryeowook menelan ludahnya susah payah. Tangan kanannya gemetaran memegang lehernya sendiri. Di ujung sana Kyuhyun setengah mati menahan tawa. “Ah, begini. Aku mungkin baru ke kantor siang ini.”

Nada lega lolos dari mulut Ryeowook. Di ujung sana, Kyuhyun ganti mengerutkan kening. “Kenapa? Kenapa kau selega itu?”

“A-ani, aniya. Aku menemukan pulpenku yang terselip di tong sampah.”

Firasat Kyuhyun mengatakan Ryeowook sedang berbohong. Jadi dia berniat mengusili sekretaris setianya itu. Ada urusan di luar pagi ini. Kalau bisa sih, dia juga tidak akan datang kantor. “Ah, aku lupa, sepertinya aku akan ke kantor sekarang. Awas kalau aku tidak menemukanmu!”

“Bos!” Sambungan telepon terputus. “ARGH!” Ryeowook mengacak-acak rambutnya dan bergegas masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesin mobil dan tancap gas.

Sesampainya di kantor, dengan tampilan serba apa adanya—kemeja belum dimasukkan ke dalam celana, kaos kaki beda warna, dasi yang baru terpasang setengah jalan dan rambut acak-acak. Ryeowook berlari menduduki kursinya. Dadanya naik-turun. Napasnya ngos-ngosan.

Ryeowook memanggil seorang office boy yang kebetulan lewat. “Apa Tuan Cho sudah masuk ruangan?” Orang itu diam sejenak sebelum mengangguk. “Jeongmal?” Sekali lagi dia mengangguk.

Ryeowook merasa di ambang kematian. Kyuhyun sudah masuk. Dan dia tidak berada di tempat. Tamat riwayatnya!

Office boy itu melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai. Dia karyawan baru. Ditanya soal Tuan Cho sudah masuk ke ruangannya apa belum, dia mengangguk saja.

Toh, tadi memang ada pria yang masuk ke ruangan CEO. Tapi dia tidak tahu itu siapa. Melihat tampang si Tuan Cho saja dia tidak pernah.

Tak selang berapa lama, seorang wanita memakai dress mini warna hitam yang hanya menutupi seperempat pahanya datang menghampiri meja Ryeowook. “Permisi, apa Tuan Cho ada di ruangan?”

Ryeowook kaget melihat siapa yang datang. Dari luarnya saja kelihatan seperti wanita malam. Astaga! Apa Kyuhyun mengundang wanita penggoda kesini?

Sesuai jawaban praduga tak bersalah office boy tadi, Ryeowook menunjuk pintu ruangan Kyuhyun. “Silahkan masuk, nona.”

Wanita itu mengerlingkan sebelah matanya. “Thanks!”

Ryeowook hanya geleng-geleng kepala. Bosnya sudah gila. Mengundang wanita seksi ke kantornya pagi-pagi begini? Dasar bos sinting!

Telepon di mejanya berdering. “Aish,” Ryeowook bergegas mengangkatnya. “Siap, bos!”

“Jangan ada yang menggangguku sampai jam makan siang.”

Kedengarannya suara Kyuhyun agak berbeda ya? “Kalau orang penting, bagaimana bos?”

“Pokoknya aku tidak mau diganggu oleh siapapun. Jangan suruh mereka menunggu, kalau perlu usir mereka. Oke?”

“Laksanakan!” Ryeowook menaruh kembali gagang telepon itu. “Kenapa suara bos berbeda ya? Tidak seperti tadi pagi. Ah, nan molla. Yang penting aku tidak kena marah olehnya.”

.

.

.

Kyuhyun POV

“Nona Lee! Nona! Anda salah paham, nona!”

Aku heran kenapa Ryeowook berlarian seperti orang kesetanan sambil berteriak memanggil seorang wanita yang serabutan masuk ke dalam lift yang kunaiki dan tanpa banyak kata wanita itu menekan tombol lift menuju lantai dasar.

Aku mendengus sebal. Yak! Aku baru saja sampai. Kenapa wanita ini membawaku lagi ke parkiran?

Aku baru saja menyelesaikan urusanku dan ingin bergegas menemui sepupuku yang sudah gila membawa wanita malam ke kantorku. Bisa hancur image-ku sebagai CEO. Mana dia memakai namaku untuk memberi akses masuk wanitanya secara bebas.

Tiba-tiba, wanita yang barusan naik lift bersamaku menangis. Tangisannya sangat menyayat hati dan membuyarkan lamunanku.

Aku sampai tidak tega mengganggu konsenterasinya dalam menangis. Para wanita kan paling tidak suka diganggu saat mereka sedang menangis. Dia menutup wajahnya dengan tangannya.

Sepertinya dia baru menyadari jika dia tidak sendirian dalam lift itu sehingga dia minta maaf tanpa menoleh padaku. “Maaf, aku sedang bersedih,”

Aku mengenal suara itu.

Tak perlu mendengarnya lagi, aku mengenal baik suara itu. Ketika aku membalik tubuhnya, hatiku lega luar biasa.

Lee Yoo Jin disini! Aku langsung menariknya dan memeluknya erat. Wanita itu datang kesini. Menunggu dua bulan lamanya tidak lebih tersiksa dari empat tahun.

“Maaf, Tuan, lepaskan aku!” Dia memberontak dalam pelukanku. Agaknya dia belum sadar berada di pelukan siapa dia sekarang.

“Aku tahu kau pasti datang. Aku tahu kau pasti kembali. Sayangku,” Tubuhnya langsung lemas. Aku bisa merasakannya. Aku tertawa. Aku sangat senang. Yoo Jin kembali ke dalam pelukanku.

Apa gerangan yang mengubah pendiriannya sehingga mau datang sendiri ke kantorku? Lalu kenapa dia datang dan terburu-buru pulang bahkan sebelum menemuiku?

Lift berdenting keras pertanda kami sudah mencapai lantai dasar. Yoo Jin bertahan menangis di dadaku. Ah, dadaku jadi hangat karena air matanya.

Kuputuskan memencet tombol naik ke lantai ruanganku berada. Sampai lift terbuka lagi Yoo Jin tidak kunjung menatapku walaupun tangisannya sudah berganti isakan saja.

Kubimbing Yoo Jin keluar dari lift sambil memeluknya. Lenganku melingkari pinggangnya yang mengherankannya masih ramping bahkan setelah dia melahirkan. Mungkin aku perlu membuatnya hamil lagi. Aku terkikik.

Ryeowook melompat dari kursinya begitu melihatku dan berlari menghampiri kami.

“Bos, aku, kau—” kuangkat sebelah tanganku menghentikan omongannya. Aku sudah bisa menduga apa yang terjadi. Ryeowook tahu orang yang berada di dalam ruanganku saat ini bukanlah aku.

“Heechul dimana?”

“Masih di ruanganmu, bos. Nona Lee, dia—”

“Aish, suruh pria itu keluar dan membawa serta wanitanya. Sekarang!”

“B-baik, bos!” Ryeowook bergegas masuk ke ruanganku. Terdengar dari dalam suara gaduh pria itu mengusir dua orang yang penampakannya persis habis bercinta itu keluar.

Aku hanya memijit pelipisku. Pasti gara-gara mereka Yoo Jin menangis dan mengira diriku yang bercinta dengan wanita malam itu.

“Oh? Halo, sepupu!” sapa Heechul dengan senyum lebar menyebalkannya. Memasang tampang tak berdosa.

“Sialan. Kenapa kau membawa wanita malam ke kantorku? Karena perbuatanmu aku hampir kehilangan orang yang berarti dalam hidupku.”

Aku meremas pinggang Yoo Jin yang masih belum lepas dariku. Apa Yoo Jin terlalu malu ketahuan menangis di depanku?

“Siapa?” Heechul melirik wanita dalam pelukanku. “Dia?” tunjuknya tidak sopan.

Aku berdecak kesal. “Pergilah ke apartemenku. Pakai salah satu kamar disana. Jangan sembarangan memakai ruang kerjaku, apalagi untuk bercinta.”

Wanita yang kusindir barusan hanya menundukkan kepala. Dia merasa tertipu. Dia mengira telah bercinta dengan Cho Kyuhyun yang ternyata Kim Heechul. Kasihan.

Tanpa menunggu jawaban mereka, aku menarik diriku dan Yoo Jin masuk ke ruanganku. Menutupnya rapat. Menguncinya. Jangan sampai ini jadi ke seratus kalinya aku gagal berbicara serius dengan wanita ini karena ada yang menyelaku.

“Ayo, bicara.”

Tidak ada tangisan. Tidak ada isakan. Yoo Jin mengerti dia telah salah paham. Untung ada aku. Kalau tidak, wah, bisa semakin runyam masalah di antara kami. Yoo Jin memainkan kemeja hitamku.

Sengaja hari ini aku tidak pakai jas. Hanya kemeja hitam dan celana jeans biru tua. Tidak seperti orang mau berangkat kerja, kan?

Aku melakukan perjalanan cukup panjang dari semalam (sesungguhnya) sehingga aku hanya memakai pakaian ini dan belum sempat ganti baju maupun mandi.

Tadinya aku berniat tidak datang. Berhubung ada berkas yang tertinggal, jadinya aku kemari. Sebenarnya aku bisa menyuruh Ryeowook membawanya. Tapi karena dari semalam aku berada di daerah susah sinyal, aku tidak jadi menyuruh Ryeowook.

Kuusap rambut Yoo Jin yang dipangkas sebahu. Rambutnya dicat cokelat. Walaupun aku lebih senang Yoo Jin dengan rambut hitam panjangnya, tapi rambut model baru begini juga aku suka.

“Kita harus bicara, sayang.”

Jari-jari lentiknya memilin kemejaku sampai sedikit kusut. Aku gemas jadinya. Dia meremas bajuku seenaknya seakan perbuatannya itu tidak bisa membangunkan milikku di bawah sana.

Aku menangkap jarinya lalu menaikkan dagunya. Aku tersenyum. Kedatangannya tak terduga siang ini semoga berbuah hal yang baik. Aku tidak menginginkan kesalahpahaman lagi dan aku tidak mau tersiksa lagi karena berpisah darinya kedua kalinya.

“Kenapa selama ini kau baru datang padaku, heum? Kemana saja kau dua bulan ini?”

“Apa aku bisa mempercayaimu?”

Pertanyaan dibalas pertanyaan. Aku mendengus. Sepintar inikah istriku? Membuatku gemas setengah mati.

“Benar. Kau bisa mempercayaiku. Sekarang aku yang ganti bertanya. Apa aku bisa mempercayaimu? Untuk tidak lagi berpura-pura baik-baik saja meninggalkanmu berdua dengan Jo Hyun?”

Pupil Yoo Jin melebar. “Kau kira aku tidak tahu? Seminggu yang lalu Jo Hyun diledek teman-temannya karena dia tidak memiliki appa?”

“B-bagaimana kau.. bisa..?”

Aku menyeringai. “Aku tidak pernah meninggalkanmu, sayang. Mana bisa aku berbuat seacuh itu pada istri dan anakku? Aku sudah bilang kan berulang kali. Aku akan berubah. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Dan aku akan menggunakan kesempatan—kalau kau mau memberikannya, untuk memperbaiki hubungan kita.”

Harus berapa kali lagi aku meyakinkannya? “Setakut itukah kau sehingga tidak mudah mempercayaiku?”

“Aku..aku, hanya ingin Jo Hyun memiliki appa. Aku menginginkanmu sebagai appa Jo Hyun.”

“Masih keras kepala juga?”

“Ini tidak mudah untukku. Harusnya kau tahu itu. Aku belum benar-benar memaafkanmu dan,” Dia berhenti sejenak, “memaafkan diriku sendiri.”

Pundakku meleleh. Kutarik tubuh Yoo Jin padaku dan memeluknya erat. Yoo Jin membalas pelukanku. Aku mendesah lega.

Kucium pelipisnya berkali-kali. Aku sudah dimaafkan. Kami hanya perlu membangun kepercayaan itu lagi dari awal. Aku benar-benar lega. Seolah-olah berton-ton beban di pundakku diangkat sekaligus.

“Aku perlu waktu untuk memaafkan keegoisanku. Karena aku, Jo Hyun tersakiti. Aku tidak memiliki apapun lagi selain Jo Hyun.”

“Hey,” Kutangkup kedua rahangnya menghadapku. “Kau lupa? Kau juga memilikiku. Kau memiliki semua orang yang ingin kau miliki, sayang.”

Yoo Jin tersenyum manis. “Ya, aku memilikimu. Jangan menyakitiku lagi. Karena, sebenarnya, rasa cinta untukmu-lah aku datang kesini. Kau tahu? Aku mencintaimu, jauh, jauh, sebelum kau mengatakan juga mencintaiku.”

Aku mengangguk. Aku tahu. Kau mencintaiku sejak kita masih di bangku sekolah. Terima kasih. Terima kasih, Lee Yoo Jin, sudah mau menungguku selama ini. “Kau memiliki hati yang besar mau menerimaku kembali. Terima kasih.”

Kukecup keningnya sangat lama. Yoo Jin tidak menolakku seperti yang sudah-sudah. Dia justru menikmatinya kurasa. Kuraih pinggangnya lagi, memeluknya, menenggelamkan kepalaku di pundaknya sambil sesekali mencuri kecupan di lehernya.

“Kau milikku, sayang.”

.

.

.

“Jo Hyun-ah! Palli kajja!”

Yoo Jin berteriak kencang pada Jo Hyun yang langsung berlari menyambut pelukan wanita itu dan berlari-lari kecil menuju pinggir pantai. Melompat-lompat di atas air. Mengabaikanku.

Astaga. Aku menghembuskan napas panjang. Berusaha sabar. Wanita itu memang sudah memaafkanku. Tapi hukuman untukku belum berakhir rupanya.

Kami sepakat tinggal di rumah baru. Bukan di apartemen lama, tahu sendiri tempat itu menjadi tempat keramat sejak Yoo Jin menarik kopernya keluar dari sana. Aku tidak mau menyisakan trauma untuknya.

Jo Hyun senang sekali ketika aku menjemputnya. Dengan bangganya dia memamerkanku di hadapan teman-temannya. Aku tertawa saja.

Bocah seusianya memang senang pamer. Bahkan orang-orang tua pun sering memamerkan kepunyaan mereka pada semua orang.

Aku? Tentu saja aku tidak keberatan. Aku milik Jo Hyun.

Putraku bebas mengekspresikan perasaan bahagianya. Dari yang dulu aku tidak pernah menginginkan anak jadi sekarang aku yang menginginkan banyak anak. Rumah jadi ramai. Tidak sesuram kuburan.

Masalahnya, Yoo Jin menolakku. Huh. Aneh juga wanita itu. Kenapa dia menolakku?

Empat tahun lebih aku tidak pernah bercinta. Setiap malam aku kesakitan karena tidak mendapat pelepasanku. Oho, aku belum memberitahunya jika itu salah satu hukuman paling menyiksa sepanjang balas dendamnya.

Well, aku tidak mungkin memaksa. Kami baru memulai hubungan yang baik lagi. Aku tidak mau memaksakan sesuatu yang tidak disukainya.

Aku meletakkan satu tas dan keranjang besar di dekat kakiku. Tas berisi pakaian kami bertiga dan keranjang berisi peralatan piknik. Kami memang akan bermalam di hotel dekat pantai. Tentunya setelah menghabiskan waktu seharian di pantai.

Karena aku yakin Yoo Jin tidak akan membantu, aku mulai berberes. Membentangkan permadani selebar satu kali satu meter di atas pasir dan menata bekal piknik kami.

Kedengarannya aneh, piknik di pantai. Harusnya, piknik di taman.

Jangan tanya siapa yang menghancurkan ideku.

Yoo Jin memaksa pergi ke pantai. Jo Hyun jadi ikut-ikutan merengek padaku. Kesal juga. Padahal aku sudah menyiapkan kejutan di tempat lain (yang tempo hari kubilang aku pergi seharian di daerah susah sinyal).

Yah, mau bagaimana lagi? Keinginan mereka jauh lebih kuat ketimbang keputusanku. Aku merasa inilah keluarga. Bertahan untuk saling mengalah.

“Appa!”

Tiba-tiba Jo Hyun bergelung di pangkuanku ketika aku sibuk menyusun kotak-kotak kimbap. Bocah itu terkekeh pelan karena berhasil membuyarkan konsenterasiku menata bekal piknik kami.

“Appa tidak main?”

Aku ingat pertanyaan Jo Hyun barusan saat kami duduk berdua menonton Yoo Jin dan Ayah bermain golf. Bukan ejekan, hanya terdengar menyebalkan di telingaku. Kalau aku main, siapa yang mau menata barang-barang ini?

“Nanti. Jo Hyun main dulu dengan eomma.”

Kemana wanita itu? Kulayangkan pandanganku ke depan.

Dadaku bergemuruh. Sesuatu di bawah sana mengeras tanpa seizinku. Aku menelan ludah susah payah. Jangan berpikiran kotor!

Aku hanya mengagumi kecantikan istriku. Meski tubuhnya terbalut dress putih tanpa bahu, bagiku itu pemandangan yang lebih menyejukkan mata dibandingkan gadis-gadis seksi berbikini.

Kalau Yoo Jin dengan pakaian lengkapnya saja sudah bisa membangunkan gairahku, apalagi Yoo Jin yang polos tanpa apapun. Astaga! Perhatikan pikiran liarmu, Cho!

“Eomma kenapa, appa?”

“Hah?” Aku tergagap menanggapi pertanyaan Jo Hyun. Aku tertawa. “Eomma sangat cantik.” kataku jujur.

Siapa yang tidak mengakui kecantikan Yoo Jin? Bukan jenis cantik yang menggoda, tapi cantik yang sederhana.

“Eomma memang cantik. Banyak ahjussi yang menyukai eomma.” Kepalaku langsung tertoleh ke samping. Jo Hyun tersenyum lebar memperlihatkan deretan dua gigi seri atasnya yang renggang.

“Eomma punya banyak ahjussi?”

Jo Hyun mengerucutkan bibirnya. Tidak setuju dengan pendapatku. Dia menggeleng, “Jo Hyun bilang, eomma disukai banyak ahjussi. Bukan punya banyak ahjussi, appa.”

Aku menggeram dalam hati. Mood bagusku sedetik yang lalu meluap entah kemana.

Benar, kan? Yoo Jin yang cantik dan di mata orang lain adalah seorang single parent memang banyak peminatnya. Siapa yang tidak mau? Wanita itu punya banyak kelebihan yang bisa menutupi statusnya sebagai ‘janda’.

Ahjussi. Pria seperti apa yang berusaha mendekati Yoo Jin?

“Appa, itu..Kim ahjussi!”

Aku mengikuti jari telunjuk Jo Hyun. Seketika darahku berdesir. Mendidih pada derajat suhu tertinggi. Kukepalkan tanganku di atas paha.

Yoo Jin dipeluk pria lain. Bahu Yoo Jin disentuh pria lain. Rambut Yoo Jin diusap pria lain. Mereka tertawa. Sialan. Sampai ada anggota tubuh Yoo Jin yang dicium, kuhabisi orang itu!

Aku menyeringai muram. Inikah yang menyebabkan Yoo Jin enggan kusentuh lagi? Kalau benar, Yoo Jin sungguh keterlaluan!

Dia rela tubuhnya disentuh oleh pria lain padahal ada aku disini. Eh, bukan maksudku kalau dia sendirian dia juga bisa seenaknya.

Mendadak aku jadi kesal. Kekesalanku bertambah berkali lipat kala mendapati Jo Hyun tidak lagi bersamaku dan begitu aku melihat ke depan, putraku sudah berhambur ke dalam pelukan pria asing sialan itu.

“Kau sengaja? Oke, di mataku sekarang kalian terlihat seperti keluarga kecil yang harmonis. Tertawa haha-hihi. Dan aku, disini, seperti pelayan.”

Kutendang keranjang kosong itu dan beranjak pergi dari sana. Baru beberapa langkah, aku memutar bola mataku. Aku mendengus sebal. Aku tidak mungkin bersikap kekanak-kanakan. Cemburu tanpa alasan.

Kuputar tumitku ke arah berlawanan dan menghampiri Yoo Jin. Kupastikan malam ini dia tidak akan tidur.

“Sayang,” Aku sengaja memeluk tubuh Yoo Jin dari belakang dengan mesra.

Menumpukan daguku di pundak kirinya lalu mengecup telinganya sembari berbisik, “Bisa kau kenalkan siapa pria ini dan kenapa kau membolehkannya menyentuhmu?”

Di luar dugaanku, Yoo Jin malah terkekeh. Pria bermarga ‘Kim’ itu berdeham sambil memalingkan muka melihat kemesraan kami.

“Lepaskan dulu, aku tidak nyaman seperti ini,” balas Yoo Jin lirih dan meremas lenganku yang mendekap perutnya.

Aku menggeleng sedikit manja. Biarlah, aku kelihatan menggelikan di depan Jo Hyun dan pria ini. Aku hanya ingin menunjukkan kalau Yoo Jin milikku.

“Nuna, mian, sepertinya aku mengganggu acaramu. Aku pergi dulu ya. Selamat bersenang-senang!” Si Kim itu membungkukkan badan sekilas sebelum berlalu pergi. Bagus. Parasit itu sudah angkat kaki!

Yoo Jin tidak sempat melambaikan tangan maupun mengucapkan selamat tinggal karena sibuk meronta minta lepas dariku yang memeluknya erat-erat.

“Kyuhyun! Apa-apaan sih? Lepaskan aku. Ada Jo Hyun disini.”

“Wae? Jo Hyun tidak keberatan.”

“Dari mana kau tahu dia tidak keberatan?”

“Dia akan mengerti.” Kulirik Jo Hyun yang hanya melongo menatap kami. Aku merasa bersalah.

Jo Hyun tidak punya teman bermain dan dia terlalu kecil bisa memahami kalau orang tuanya perlu waktu berdua. Hmm. Mungkin memang aku harus mempercepat pembuatan adik untuk Jo Hyun.

Segera kulepas pelukanku dari Yoo Jin kemudian beralih menggendong Jo Hyun. “Kajja, kita main! Biar eomma yang gantian beres-beres!”

Aku segera berlari ke arah bibir pantai, mengangkat Jo Hyun tinggi-tinggi ke udara sambil sesekali hampir menjatuhkannya ke air.

Jo Hyun tertawa terkikik keras. Sesekali meronta supaya jangan melepaskannya. Aku mengabaikan celana jeans-ku yang belum kulipat basah hingga setengah paha.

Kemejaku juga sudah basah kuyup, sama seperti milik Jo Hyun.

Haha. Dari kejauhan sini, aku bisa lihat Yoo Jin cemberut sambil menata sisa bekal yang kutinggalkan tadi. Aku berbisik di telinga Jo Hyun, “Ayo, kejutkan eomma!”

Bocah itu mengangguk-angguk semangat. Kuangkat tubuhnya ke atas pundakku dan kubiarkan lengan mungil Jo Hyun melingkar di leherku berpegangan.

Kami mendekati Yoo Jin dari belakang. Tanpa aba-aba, kugendong saja wanita itu. “Yak! Yak!”

Sepertinya dia tahu kemana aku akan membawanya.

“Jangan lepaskan aku! Jangan lepaskan aku! Aku tidak mau basah!”

Yoo Jin mengeratkan lengannya di sekitar punggungku. Matanya terpejam erat sambil kepalanya masuk ke dalam dadaku. Dia benar-benar tidak mau basah?

Aku tertawa. Kepalanya ikut terguncang karena tawaku yang keras. Setengah menggodanya, sebelum aku menjatuhkannya ke air, aku berbisik sangat lirih di telinganya, “Sungguh tidak mau basah?”

“Tidak! Kumohon! Aku hanya membawa dress ini dan baju tidur!”

“Kau bisa memakai kemejaku.”

“Apa? Tidak mau! Turunkan aku! Cho Kyuhyun!” Yoo Jin menempel erat padaku. Sejujurnya, aku merasa berat. Jo Hyun di atas pundakku dan Yoo Jin dalam gendonganku. Aku memang harus melepas salah satu, kan?

“Ayolah, buat Jo Hyun senang!”

“Tetap saja, pakai cara lain! Aku benar-benar tidak mau basah!”

Aku menyeringai evil. “Sekalipun aku yang membuatmu basah?”

“Hah?” Yoo Jin mengerutkan keningnya. Pura-pura tidak tahu lagi, sayang?

Kukecup bibir menganganya sekilas kemudian kujatuhkan tubuhnya ke dalam air. Aku dan Jo Hyun kontan tertawa terbahak-bahak. Yoo Jin jatuh dengan tidak anggunnya. Wajahnya pun sampai masuk ke dalam air. Otomatis dress-nya basah kuyup!

“Yak! Kyuhyun! Awas kau!”

Jadilah aku dan Jo Hyun berlarian menghindari tangkapan Yoo Jin. Wah, wanita itu benar-benar sangat ganas kalau sedang kesal. Dia tidak lelah bahkan mengejarku yang tingkat berlarinya lebih kencang darinya. Aku tertawa. Senang sekali bisa menjahilinya!

Tak ingin kehilangan momen ini, aku berlari ke arah tas kami, mengambil kamera dari sana. Jo Hyun sudah kuturunkan dan bermain dengan Yoo Jin.

Kubidik mereka berdua yang sedang bermain pasir. Kufokuskan bidikanku pada Yoo Jin yang kutahu meski kesal tapi itu hanya ekspresi pura-pura di depan putranya.

“Cantik. Menggemaskan.” Kupotret lagi saat Jo Hyun menimbun kaki Yoo Jin dengan pasir. Wanita itu tertawa geli. Aku menahan napasku tanpa sadar.

Aku sadar sekarang. Betapa bodohnya aku dulu menyia-nyiakan wanita seperti Yoo Jin. Dan mungkin aku akan benar-benar gila kalau tidak kembali padanya. Dialah wanita yang kuinginkan untuk mengandung anak-anakku. Merawatku. Mencintaiku.

“Appa!” teriak Jo Hyun nyaring. “Kesini, appa!”

“IYA!”

Aku bersumpah. Sumpahku di hadapan Tuhan bahwa aku akan selalu bersamanya sampai ajal menjemput akan kupenuhi. Dalam suka dan duka. Tangis dan tawa. Aku berjanji.

.

.

.

Author POV

“Dasar, kelakuan bocah. Tidak ada bedanya dengan Jo Hyun.” Yoo Jin terus saja menggerutu sambil membilas kemeja Kyuhyun dengan air dari wastafel kamar mandi penginapan.

Seharian mereka bermain di pantai dan baru selesai pukul tujuh malam tadi. Dengan seenaknya, Kyuhyun dan Jo Hyun sepakat menanggalkan baju mereka dan menyerahkannya pada Yoo Jin selaku juru cuci.

Entah apa yang dua laki-laki itu lakukan sekarang. Menonton televisi atau bermain game, mungkin?

Yoo Jin mengibas-ngibaskan kemeja biru muda itu lalu mengeringkannya menggunakan hair-dryer. Penginapan ini tidak membuka jasa laundry, jadi Yoo Jin terpaksa mencucinya sendiri.

Kata-kata Kyuhyun ‘memakai kemejaku’ tadi hanya bualan. Ternyata, pria itu juga sama tidak membawa baju ganti untuk pulang besok. Lebih parahnya, Kyuhyun tidak membawa baju tidur. Pria itu sengaja mau telanjang ya, malam ini?

“Ah! Kau mengagetkanku!”

“Kau melamun?”

Yoo Jin mengelus dadanya ketika berbalik Kyuhyun sudah berdiri menyandarkan tubuhnya di pintu. Dasar! Mengagetkan saja! Sejak kapan Kyuhyun disana?

“Melamun apa sampai sekaget itu?” Kyuhyun maju selangkah. Dia bertelanjang dada dan hanya memakai celana jeans-nya yang setengah basah.

Pergerakan pria itu membuat Yoo Jin sesak. Setiap langkah yang Kyuhyun ambil mendekatinya, jantung Yoo Jin bertalu-talu tak karuan.

Pemandangan Kyuhyun sekarang sangat panas di matanya!

“Jo Hyun mana?” Yoo Jin mengalihkan perhatiannya sendiri dari memandangi tubuh sempurna suaminya.

“Dia sudah tidur. Dia sangat kelelahan setelah seharian bermain.”

“Memang seharusnya.”

Kening Kyuhyun mengkerut. Seolah sadar dengan ucapan bodohnya, Yoo Jin tiba-tiba menguap dan berbicara sendiri, “Ah, aku mengantuk juga. Aku akan menemani Jo Hyun tidur. Selamat malam, Kyuhyun.”

Yoo Jin melangkah dengan santainya hampir melewati tubuh Kyuhyun. Hampir. Artinya, tidak jadi. Kyuhyun lebih dulu menahan lengan Yoo Jin. “Apa itu ‘selamat malam, Kyuhyun’?”

“Aku harus mengatakan apa lagi?” tanya Yoo Jin balik. Dadanya semakin berdebar kala kedua mata Kyuhyun tidak lepas darinya.

“Yakin tidur dengan pakaian itu?” Kyuhyun melirik Yoo Jin yang masih mengenakan dress yang sama dari tadi sore. Apa dia tidak mencuci dress-nya juga? Masa dia mau tidur dengan pakaian basah begitu?

“Astaga!” Yoo Jin menepuk dahinya. “Keluarlah! Aku mau mencuci pakaianku.”

“Dan tidak mandi?”

“T-tentu saja mandi. Keluarlah,” Yoo Jin mendorong-dorong punggung Kyuhyun agar keluar dari kamar mandi.

“Aku juga belum mandi. Bagaimana kalau—”

“TIDAK!” seru Yoo Jin keras tanpa sadar. Wanita itu buru-buru menutup mulutnya yang kelewat kencang kalau berteriak. Kyuhyun terkekeh.

“Kau berpikiran kotor, Nyonya Cho. Atau kau memang sengaja ingin mengajakku mandi bersama?” Kyuhyun memainkan alisnya bergantian. Pipi Yoo Jin langsung memerah. “Bagaimana kalau aku yang mandi duluan. Lihat, celanaku juga basah. Maksudku sekalian cucikan celanaku.”

“Ah,” Yoo Jin tertawa hambar. Bodoh! Jeritnya dalam hati. “Baiklah, mandilah dulu,” Yoo Jin sudah akan pergi dari sana dan lagi-lagi Kyuhyun menahannya.

Pria itu berbisik dengan nada menggelikan, “Tapi, aku juga tidak keberatan kalau kita berada di bawah shower,” Kyuhyun mengecup telinga Yoo Jin, “lalu bercinta.”

“Jangan harap!” Setengah menghentakkan tangan Kyuhyun yang mencegahnya pergi, Yoo Jin lari terbirit-birit meninggalkan kamar mandi. Sementara di belakangnya, Kyuhyun tertawa puas.

.

.

.

“Apa ini?”

Yoo Jin terkejut saat memasuki kamar mandi celana jeans beserta dalaman milik Kyuhyun berceceran di lantai. Sedangkan pria itu menghilang entah kemana. Yoo Jin berdecak sebal. Dia memungut pakaian itu satu per satu dan bergegas mencucinya berikut dress-nya.

Setelah kurang lebih tiga puluh menit mencuci dan mandi, Yoo Jin mengenakan piyamanya, dan keluar. Suasana kamar mereka begitu hening. Jo Hyun sudah tidur di kamar yang lain. Kemana Kyuhyun?

Akhirnya Yoo Jin memutuskan tidur duluan. Dia masuk ke kamarnya dengan Kyuhyun. Rasa kantuk yang menderanya mendadak hilang ketika dia masuk ke dalam selimut, sebuah lengan menariknya. Yoo Jin terkesiap nyaris menjerit kalau saja tangan itu tidak membungkam mulutnya.

“Kyuhyun?” Yang dipanggil menyeringai lebar. Pria itu melepas tangannya. “Kukira siapa.”

“Apa aku mengejutkanmu?”

“Tentu saja. Ternyata kau disini. Kupikir kau pergi kemana.” Yoo Jin membetulkan letak tidurnya agar nyaman. Dia masih belum menyadari sesuatu yang ganjil. “Kenapa kau bergelung di bawah selimut?”

Pertanyaan bagus. Tepat sasaran. “Menurutmu kenapa?”

“Kenapa malah balik tanya? Ya sudah kalau tidak mau menjawab. Tidurlah, bukankah besok kita akan berangkat pagi-pagi?”

Yoo Jin sudah memejamkan mata dan ingin tidur saat Kyuhyun berbisik di telinganya, “Kau tidak penasaran kenapa aku bernaung di bawah selimut?”

“Kenapa?” tanya Yoo Jin malas tanpa membuka matanya.

“Kau lupa, aku tidak membawa baju selain yang kau cuci barusan.”

Sontak kedua mata Yoo Jin terbuka lebar. Dia menoleh ke samping. Kyuhyun terkekeh sambil menunjukkan deretan giginya yang rapi.

Pria ini sengaja menggodanya atau apa sih? Entah kenapa, Yoo Jin bingung mau menanggapi apa. Kalau Kyuhyun tidak memakai apapun sekarang, itu..

“Kau bisa mati kedinginan, Kyu—”

“Aku berniat menghangatkan diri malam ini.”

“Apa?”

“Jangan pura-pura bodoh, sayang. Kau sangat mengerti apa maksudku.”

“Aku tidak—” Seketika Yoo Jin menghentikan ucapannya karena Kyuhyun tiba-tiba bergerak naik ke atas tubuhnya. Sedikit menindihnya.

Tapi bukan itu alasannya dia bungkam. Melainkan sesuatu yang keras menekan miliknya di bawah sana. Gerakan satu senti dari Kyuhyun menyebabkan sesuatu itu bergerak semakin kuat menekannya. Tangan Kyuhyun sendiri mulai membuka satu per satu kancing piyamanya.

“Aku tidak mengerti, hmm—” Kyuhyun membungkam bibir Yoo Jin dengan lumatannya yang lembut. Bibirnya bermain begitu lihainya di atas bibir istrinya.

Mengalihkan fokus Yoo Jin dari pergerakan tangan Kyuhyun yang melepaskan kaitan bra-nya dan membelai kulit dadanya tanpa penghalang.

“Aku menginginkanmu.” Kyuhyun mengusap puncak kepala Yoo Jin dengan sayang. Dia sudah hampir telanjang dan Kyuhyun masih bertanya lagi? Tangan Yoo Jin melingkari pinggang suaminya dan menariknya mendekat sebagai jawaban.

“Aku milikmu.” Yoo Jin menjerit! Kyuhyun memasukkan kejantanannya ke dalam tubuhnya yang mengherankannya kenapa dia tidak sadar kapan Kyuhyun melepaskan pakaiannya. Kyuhyun mendorong miliknya lagi dan lagi secara cepat hingga Yoo Jin mencapai klimaks dengan cepat.

Di tengah deruan napas yang tak karuan, Kyuhyun menggeram. Dia belum mendapat pelepasannya dan istrinya sudah kelelahan. Tidak tega, Kyuhyun memilih mengalah. Akan ada banyak malam yang bisa mereka habiskan. Kyuhyun memutuskan berhenti sebelum Yoo Jin yang memintanya.

“Kemana?” tanya Yoo Jin terkejut karena Kyuhyun perlahan mulai melepas penyatuan mereka. “Kyuhyun, kau belum,”

“Kau lelah, sayang.” Kyuhyun menutup mulut Yoo Jin dengan telunjuknya.

Yoo Jin menggeleng. Sebelum Kyuhyun benar-benar menarik lepas kejantanannya, Yoo Jin menahannya dengan mengaitkan kakinya di pinggang pria itu dan lengannya memeluk leher Kyuhyun mendekat. Setengah meringis saat milik Kyuhyun memasuki dirinya lagi.

“Aku masih kuat. Aku sudah bilang kan, aku milikmu. Kau bisa berhenti setelah mendapat pelepasanmu.” Wanita itu tersenyum lemah. Dia masih lelah setelah klimaksnya yang pertama. Tapi dia masih sanggup melayani Kyuhyun sampai suaminya puas.

“Kenapa?” Yoo Jin bingung kenapa Kyuhyun masih diam belum bergerak. Dia menunggu. Sampai sebuah senyuman terbit di sudut bibir pria itu.

“Kau tahu?” Pelan-pelan Kyuhyun menarik tubuhnya lalu mendorong masuk menerobos tubuh Yoo Jin dengan hentakan keras yang disusul dengan gerakan perlahan. Menikmati setiap pergerakannya di dalam tubuh Yoo Jin. “Siksaan terberat apa yang kau berikan padaku?”

“Apa?”

“Saat,” Kyuhyun menggerakkan tubuhnya di dalam. “aku tidak bisa bercinta denganmu.” Pinggulnya bergerak cepat, terkadang lambat. Dia menghentak kencang saat Yoo Jin menjerit pertanda ia berhasil menyentuh titik sensitifnya di dalam sana.

Yoo Jin memejamkan matanya rapat-rapat saat seluruh tubuhnya menegang dan ledakan itu berhasil dikeluarkan. Kyuhyun mempercepat gerakannya dan detik berikutnya cairan hangat mengalir dalam tubuhnya.

Tubuh mereka melemas dan terengah bersama. Kyuhyun mengusap kening istrinya yang penuh keringat lalu menciumnya sangat lembut. “Terima kasih.”

“Ngomong-ngomong, siapa pria yang menemuimu tadi siang?” Untung Kyuhyun ingat. Dia hampir lupa mau menghukum istrinya karena rela-rela saja disentuh oleh pria lain.

“Itu, Kim Yesung. Dia tunangan Hyo Rin. Ingat, kan? Aku punya seorang adik perempuan.”

Kyuhyun mengangguk. Kalau tidak salah dengar tadi memang si Kim itu memanggil Yoo Jin ‘nuna’. Hyo Rin, gadis itu yang dulu memberitahunya jika Yoo Jin masih sangat mencintainya.

“Mereka akan menikah tahun depan. Kebetulan dia ada proyek di sekitar sini dan melihatku tadi dia langsung menyapaku.” Yoo Jin memicingkan matanya. “Kau tidak sedang terbakar cemburu, kan?”

Kyuhyun melumat bibir Yoo Jin gemas. “Hampir. Untung saja tidak jadi. Kau wanita satu-satunya yang membuatku gemas ingin memilikimu untuk diriku sendiri.”

“Dan kau, pria satu-satunya yang pencemburu.”

Mereka bertukar pandang satu sama lain. Meresapi kebersamaan mereka dan penyatuan mereka di dalam sana.

“Milikku masih berada di dalam.”

Kyuhyun mengecup tengkuk, pundak, dan dada istrinya. Berniat menggerakkan kejantanannya lagi sampai sebuah suara serak dan lugu dengan polosnya melontarkan pertanyaan, “Appa, eomma, kalian sedang apa?”

.

.

.

The END

Advertisements

25 thoughts on “Liars Chapter 4 [END]

  1. Hyun says:

    untung cuma fanfic, kalau itu bocah nyata liat begitu, apa coba yg kudus dijelasin xD

    btw udah clear ya masalaha mereka, semoga langgeng yah, macam saya sama gyu nyata disini xD

    Liked by 1 person

  2. shfly3424Arista says:

    Waduhhhh

    Ryeowook kocak amat dah

    Untung bnget ketemu kyu di lift
    Klw nggal bs tambah parah lagi salah paham nya haha

    Imutny jo hyun

    Klw gini jdi pengen punya anak jg dr kyu

    Johyun ga lama lagi bakal punya adik nih kayaknya ya

    Liked by 1 person

  3. Hana Choi says:

    Yeyyy happy ending suka deh sama ff ini pokoknya suka suka suka
    Aku kira yg diruangan itu bener” kyuhyun syukur deh ternyata heechul oppa
    Aduh mereka ngelakuin itu dimana saat jo hyun tidur untung aja udh selesai buatin adik buat jo hyunnya hahaha
    Ditunggu cerita selanjutnya eonni

    Liked by 1 person

  4. sung hye jin says:

    akhir nya keluar jga dan happy end yepiii kyu lega bisa merasakan keluar utuh dan masalah mereka terselesaikan di tunggu squel selanjjtnya eon semangatt

    Liked by 1 person

  5. Vikyu says:

    Apa apaan ini, kenapa aku bacanya senyum senyum sendirinpas kyu goda soojin?
    Dn lagi jo hyun ganggu kegiatan merek Aja ya
    Pasti kyu sama soojin ga punya kuka laginpas kepergok johyun
    Semangat kak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s