Liars Chapter 3 (Sequel of Switch)

Liars Chapter 3 (Sequel of Switch)
by Luna

Genre:
Married-life, Romance, Chaptered

Main Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin

Cuap-cuap Author:
Pada intinya di chapter ini: “Baca sampai terakhir!”
Happy Reading^^

LiarsWarning! Typo dimana-mana!
—oo0000oo—
Chapter 3
Way Back

“Ya, aku menipumu sekarang.”

Aku mendesis tajam. Sudah kuduga. Dia tidak pernah sungguh-sungguh memintaku kembali. Sia-sia aku sempat berpikir memberinya kesempatan. Dia masih pria brengsek yang suka mempermainkanku.

“KYU!”

Mulutnya terbuka seperti akan bicara tapi langsung bungkam ketika seseorang dari luar menyela kami. Dia menggeram kesal seakan tidak suka orang lain mengganggu kami dan ingin menyiapkan ruangan khusus agar dia bebas berbicara tanpa ada gangguan.

“Ada apa?” balasnya sedikit berteriak agar orang di luar mendengarnya. Padahal, tanpa berteriak pun suaranya juga sudah membahana.

“Bawa cucuku ke lapangan golf sekarang!”

Oh, itu Ayah Kyuhyun.

.

.

.

Ayah Kyuhyun adalah orang yang suka berolahraga tidak tahu waktu. Kurang lebih begitulah tanggapan Kyuhyun atas ayah kandungnya. Kalau kupikir, Kyuhyun ada benarnya juga. Kenapa ayahnya suka bermain golf di sore hari? Selera orang tua memang terkadang aneh.

Tapi buatku ajakan Ayah Kyuhyun menyelematkanku dari kungkungan intimidasi Kyuhyun. Tadi aku sempat berpikir berapa lama lagi aku ditahan di kamar pria itu. Bersamanya beberapa menit saja sudah membuat dadaku sesak. Apalagi kalau disuruh bertahan lebih lama lagi.

Jadilah, sekarang aku menemani Ayah Kyuhyun bermain golf.

Menjadi tontonan dua laki-laki yang duduk di seberang sana sambil bertopang dagu. Kyuhyun dan Jo Hyun terlihat menggemaskan dari kejauhan. Mereka begitu mirip. Itu juga yang membuatku susah melupakan bayang-bayang Kyuhyun. Putraku terlalu mirip dengan ayahnya. Dia juga sama bencinya dengan sayuran, sama seperti Kyuhyun.

Meskipun mereka memandangku dari kejauhan, ternyata cukup membuatku risih. Aku sampai mengayunkan tongkat golfku enam kali sebelum memukul bolanya. Bukan apa-apa, aku hanya tidak mau terlihat remeh di mata Kyuhyun. Mengingat aku sangat mahir di bidang ini.

“MASUK!”

Penjaga yang berdiri di samping lubang target berteriak kencang. Bola hasil pukulanku masuk ke lubang target dengan sempurna. Aku melompat kegirangan. Aku berhasil memamerkan kemampuanku di depan pria itu. Haha! Kusambut tangan Ayah Kyuhyun yang mengajakku tos.

Dapat kulihat dari ekor mataku Kyuhyun mendengus. Kelihatannya tidak suka ayahnya bercanda denganku.

Aku terkekeh dalam hati. Kutarik sebelah alisku bangga. Aku memang satu-satunya orang yang paling dibanggakan di rumah ini. Bahkan oleh ayahnya sendiri. Aku sering disebut-sebut ‘menantu kesayangan’.

Yah, Ayah Kyuhyun memang sudah menyukaiku sejak aku pertama kali diajak kemari. Alasan utama karena aku jago bermain golf. Tidak seperti Kyuhyun, pria yang anti-pati dengan jenis permainan orang tua.

“Appa tidak ikut main?” Aku mencuri dengar pertanyaan polos putraku. “Appa tidak bisa main ya?”

Aku nyaris menyemburkan tawaku. Ucapan polos seorang bocah kadang terlalu jujur dan menohok hati. Aku yakin Kyuhyun terhenyak sekarang.

“Appa hanya malas bermain, sayang. Jo Hyun sendiri kenapa tidak ikut?”

Dasar pembohong ulung! Bahkan pada anaknya sendiri dia berbohong.

Jo Hyun menggeleng. “Jo Hyun tidak mau bajunya kotor.”

Anak pintar! Jo Hyun selalu kuajarkan tidak mengotori bajunya sesudah mandi. Putraku memang anak yang penurut dan polos. Tidak seperti ayahnya yang tukang bohong, penipu, pemain wanita! Ha!

“Yak! Kyuhyun, kemarilah!”

Hah? Aku menolehkan kepalaku menghadap Ayah Kyuhyun. Pria tua itu tersenyum penuh arti. Dan aku baru menangkap arti senyuman itu saat Kyuhyun berjalan malas-malasan ke arah kami lalu berdiri di sampingku.

Kyuhyun memakai kaos biru muda bergaris dan celana krem sebatas lutut. Aku mendengus dalam hati. Kenapa Kyuhyun selalu tampil mempesona bahkan hanya untuk menemani ayahnya bermain golf?

Apa aku baru saja mengatakan kalau Kyuhyun mempesona? Aku memarahi dewi batinku yang tersenyum menjijikkan. Dia tidak terpesona. Pemandangan begitu sudah biasa. Tapi kenapa kau tetap saja terpukau? Kyuhyun memang menawan, bisik dewi batinku sialan.

“Kau sudah tua masih saja tidak bisa bermain,” Ayah Kyuhyun menyodorkan tongkat golf-nya pada Kyuhyun. “Jangan mau kalah dengan Yoo Jin. Dia seorang wanita, tapi kemampuannya berada jauh di atasku. Bermainlah. Dan Yoo Jin,”

“Ne?”

“Tolong ajari putraku, ya? Aku mengandalkanmu,” Ayah Kyuhyun meremas pundakku saat berjalan melewatiku. “dan selesaikanlah urusan kalian,” bisiknya sangat lirih di telingaku hingga aku nyaris merinding mendengarnya. “Aku akan bersantai dengan cucuku sambil menonton kalian.”

Tampaknya pria tua itu mengetahui apa yang terjadi di antara kami. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari mata Tuan Cho Young Hwan.

Kutatap Kyuhyun yang menendang-nendang ujung tongkat golf-nya. Kelakuannya sama seperti Jo Hyun kalau sedang merajuk. Benci dipaksa melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki hatinya.

Aku tidak punya pilihan selain membuat keinginan Tuan Cho terkabul. Dia ingin kami menyelesaikan masalah kami sekarang, kan? Baiklah, kita lihat nanti.

“Ayo!”

“Apa?” tanyanya malas. Dia tidak mau menatapku. Matanya terus menatap tongkat golf yang mungkin lebih menarik dariku atau terlihat lebih menyenangkan bila digunakan memukul orang.

“Kita bermain.” ujarku bersemangat. Mencoba bersemangat. Aku meralat.

“Kau meledekku? Aku tidak mau bermain.” Kyuhyun membuang muka.

Kuelus dadaku sendiri. Haruskah aku juga ekstra sabar menghadapi bayi tua sepertinya? Kalau dia Jo Hyun aku tentu saja memakluminya. Ayolah, Kyuhyun pria berusia 29 tahun! Kenapa sih kelakuannya masih seperti bocah empat tahun?

Aku rebut saja tongkat golf-nya. Nah, benar kan, dia jadi menatapku sekarang. Merasa mendapat perhatian, aku munculkan senyum penuh paksaan di bibirku. “Aku akan mengajarimu. Sampai bisa.”

Kyuhyun terus menatapku. Ekspresinya tidak terbaca. Terluka, mungkinkah? Apa kata-kataku melukai harga dirinya yang setinggi langit hanya karena aku ingin mengajarinya? Wah!

“Jangan menatapku begitu seolah-olah kau mau memakanku hidup-hidup. Aku hanya ingin mengajari pria tua yang tidak bisa apa-apa sepertimu.”

Aku tahu aku melukai harga dirinya lagi. Tapi, itu semata-mata kulakukan demi membangkitkan amarahnya. Ah, semangatnya maksudku.

“Pria tua yang tidak bisa apa-apa sepertiku?” Dia mengulai perkataanku. Aha, dia mulai terpancing. Matanya memicing tajam. Seperti sedang merencanakan sesuatu.

“Benar. Pria tua yang pekerjaannya menipu, mempermainkan dan memperalat wanita. Pria tua yang merasa dirinya paling hebat dibandingkan siapapun di dunia ini.”

“Aku bukan pria seperti itu.”

“Kalau kau bukan termasuk kriteria pria yang kusebutkan barusan, kenapa menerima pengajaranku sulit sekali? Pakai berbelit-belit bilang tidak mau.”

Sindiranku berhasil. Kini Kyuhyun melangkah maju dan merebut kembali tongkat golf itu dariku. Ide menginjak-injak harga diri seorang Cho Kyuhyun ternyata boleh juga. Pria itu siap diajari oleh master Lee Yoo Jin.

Alih-alih berdiri di sampingku, Kyuhyun malah berjalan ke belakangku, melempar tongkatku ke tanah dan secara tak terduga melingkarkan lengannya ke perutku.

Bukan, bukan, maksudku melingkarkan lengannya di tubuhku seperti sedang memelukku dari belakang sambil mengarahkan tongkat golf-nya ke depanku. Tidak hanya itu, dia sedikit membungkuk kemudian meletakkan dagunya di pundak kananku.

“Kau sedang apa?”

Dia melirikku. Lirikannya tajam sekali. “Katamu mau mengajariku? Aku siap sekarang. Cepat! Sebelum aku berubah pikiran!”

Dasar! Aku mendesis kasar. Ternyata ini rencananya. Kuhentakkan dagu runcingnya agar menjauh dariku. “Kau kira aku bisa mengajarimu kalau kau berdiri di belakangku? Pindah kesini!” Aku menunjuk lahan kosong di sebelahku, tapi dia bergeming.

“Aku maunya disini. Lebih hangat.”

Tubuhku membeku. Kecupan lagi. Dia mencuri kecupan lagi di leherku! Sialan. Kenapa di saat-saat seperti ini dia malah sengaja menggodaku? Atau menyiksaku? Atau menjahiliku? Aku tidak bisa berpikir jernih.

“Jangan main-main!”

Sengaja aku menyikut tulang rusuknya. Kyuhyun mengaduh tapi bukannya melepasku dia justru semakin mengeratkan lengannya di sekitarku, menenggelamkanku dalam lingkaran setannya. Andai aku memakai heels, ingin rasanya kuinjak kakinya yang hanya terbungkus sandal rumahan itu!

“Lanjutkan pelajarannya, Ssaem. Dua orang di belakang kita sedang memperhatikan kita, jangan lupa,”

Oh! Kenapa juga aku bisa lupa Jo Hyun dan ayahnya sedang duduk menonton kami? Karena tidak ingin meracuni pikiran putraku melihat keadaan kami sekarang—dua orang yang seperti sedang berpelukan dari belakang—aku berdeham keras.

“Oke! Ayo kita mulai!” seruku sedikit galak. “Awas kalau kau berani macam-macam, Cho!” bisikku pelan namun tegas. Pria itu terkikik pelan. Dia mengerjaiku.

Akhirnya kami bermain golf dengan cara yang menurutku aneh. Aku mengajarinya semampuku tapi Kyuhyun selalu saja berhasil mengecoh konsenterasiku.

Aku menyuruhnya membuka kaki selebar bahu, dia malah mencuri kecupan di pelipisku. Berpura-pura tidak sengaja melakukannya padahal setelahnya dia tertawa-tawa sendiri. Sinting pria ini!

“Begini, ayunkan tongkatnya seperti ini,” Aku menggenggam pergelangan tangannya yang memegang tongkat golf lalu menggerakkannya mengayun ke udara. Memberinya contoh cara memukul. “Arahkan ke bola ini, saat kau sudah siap, pukul saja bolanya. Mengerti?” Kyuhyun mengangguk.

Dia mengikuti instruksiku. Tidak benar-benar mengikuti karena dia malah sengaja mengacaukan pukulannya dan setiap dia mencoba memukul bola golf, dia selalu mengecup pipiku. Ya Tuhan! Bisa seberapa panas pipiku dicium berulang kali olehnya! Menyebalkan sekali pria ini!

“Siap? Bolanya jangan lupa dipukul!” Aku memperingatinya. Pasalnya, Kyuhyun tidak pernah memukul bolanya. Dia hanya mengayun-ayunkan tongkatnya sementara lengannya terus bergerak memelukku.

Tidak tahan lagi dengan sikap kekanakannya, kuinjak kakinya menggunakan sepatuku.

“Aduh! Aduh! Kakiku! Kakiku diinjak gajah!”

“Apa? Yak!” Kyuhyun mengaduh-aduh kesakitan sambil lengannya semakin memelukku. Menarik-narikku ke dalam pelukannya sehingga tubuhku ikut terguncang.

“Lepas!” Kudorong tubuhnya yang ternyata kokoh tidak mudah ditumbangkan. Kyuhyun mengecup pelipis, pipi, dan sudut bibirku sembari tetap berpura-pura mengaduh kesakitan. Apa-apaan sih dia!

“Kau harus bertanggung jawab!” serunya. Dia masih belum melepasku, asal kalian tahu. Entah sejak kapan tubuhku sudah berbalik menghadapnya. Dia memeluk punggungku erat. “Kakiku sakit, aku harus mendapat pijat setelah ini.”

“Apa maksudmu?” Aku menghentak-hentakkan lengannya agar melepaskanku. Tapi dia tetap tidak bergeming. Senyum setannya semakin lebar. “Kakimu sama sekali tidak sakit. Tapi kau yang sakit!” cercaku.

“Oh, boleh juga kalau aku yang sakit. Dan karena itu salahmumu, maka kau harus merawatku.”

“Kau bukan anak kecil yang perlu dirawat karena bukan fisikmu yang sakit, tapi otakmu!”

Lengannya di punggungku terasa kaku. Tatapan yang semula geli mendadak berubah keras. Tidak mau merasa terintimidasi lagi, kubalas tatapannya tak kalah dingin. Nah, kita lihat sekarang, adu tatap begini siapa yang menang.

Kyuhyun adalah pria penuh kejutan semenjak berpisah denganku. Belum benar-benar berpisah. Aku hanya ingin menyiksanya empat tahun ini demi aksi balas dendamku. Membuatnya merasakan apa yang dulu pernah kurasakan. Rasanya ditipu saat hubungan kami masih sah sebagai pasangan suami-istri.

Aku tahu hari seperti ini pasti datang. Jadi aku sudah mempersiapkan hatiku jauh-jauh hari. Memasak hatiku agar tidak mudah tergoyahkan. Walaupun sejauh ini aku hanya mengikuti arus kemana itu mengalir. Dan kuharap Kyuhyun tidak tiba-tiba memotong arus itu dan menciptakan arus baru.

“Sayang, kau membangunkan hasratku bercinta denganmu. Ingin sekali aku memberi pelajaran pada mulut cerdasmu. Sekaligus memperingatimu supaya hati-hati denganku.” Kyuhyun mengusap kasar bibir bawahku.

Aku mencengkeram hatiku agar tidak luluh oleh tatapannya dan kata-katanya. Aku tidak pernah seberani ini menghadapi Kyuhyun. Aku tidak pernah sekurang ajar ini pada suamiku. Tapi aku juga tidak mau semudah itu luluh padanya.

Kyuhyun selalu begitu. Mengancamku cara satu-satunya menundukkanku. Tapi dia lupa. Aku bukan Lee Yoo Jin yang dulu. Lee Yoo Jin yang seperti anak anjing, kemana-mana menuruti kemauan majikannya. Aku yang sekarang adalah Lee Yoo Jin yang bertindak sesuai kemauanku sendiri.

“Aku minta maaf. Aku tidak akan memakimu lagi. Kau berharap aku mengatakan demikian?” Aku mencebik. “Mimpi saja!” Kupukul dadanya dan dia melepaskanku.

Aku sadar ini tidak akan terselesaikan dengan mudah. Aku tidak mau mempercayai Kyuhyun segampang dia menghancurkan kepercayaanku. Aku mungkin cukup dengan ajang balas dendamku. Tapi rasa sakitku belum hilang.

“Kau egois.” Kuputar tubuhku. Memandang marah pria itu. Kyuhyun tidak menatapku. Dia menatap rumput di bawah kakinya. “Jo Hyun akan jadi korban keegoisanmu.” Pria itu menatapku.

“Jo Hyun akan tumbuh tanpa seorang ayah. Mungkin tidak masalah sekarang karena dia masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Tapi nanti? Ketika dia sudah tumbuh dewasa, dia mungkin akan menghadapi ledekan teman-temannya. Kau pikir itu tidak akan menyakitinya?”

Aku terdiam.

“Kau hanya memikirkan cara membalas perbuatanku. Benar, kuakui, kau sangat hebat sampai aku benar-benar tersiksa. Dan aku tahu semua ini tidak akan terjadi jika bukan aku yang mengawalinya.” Kyuhyun menggapai tanganku, meremasnya perlahan. Dadaku terpukul keras.

Sebisa mungkin kutahan tangisanku. Tapi yang terjadi aku justru terisak dan lelehan air mataku jatuh begitu saja.

Aku memikirkan kata-kata Kyuhyun. Aku merasa bodoh. Kenapa aku tidak berpikir perasaan Jo Hyun? Jo Hyun menjadi korban? Kenapa aku tidak berpikir sampai kesana? Yang kupikirkan hanya menyiksa Kyuhyun. Menuntaskan balas dendamku. Dan aku semakin benci karena Kyuhyun lebih berperasaan dibandingkan aku.

“Aku minta maaf. Aku sangat menyesal, kumohon maafkan aku. Jo Hyun tidak bersalah. Jangan gara-gara aku Jo Hyun jadi menderita. Aku telah mengakui segalanya. Apa yang kukatakan di kamar tadi memang tulus dari hatiku. Aku bilang ‘aku menipumu’ karena aku kesal padamu. Kau jadi wanita keras kepala dan tidak mempercayaiku.”

Hah. Jadi yang tadi itu dia mengatakan hal jujur?

“Kumohon,” Kyuhyun mendekap kedua tanganku, menggenggamnya erat. “beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki segalanya. Aku akan melakukan apapun agar bisa kembali padamu. Bersama kalian.”

Bisakah aku? Bersediakah aku menerimanya kembali? Kalau aku bandingkan mana yang lebih baik keegoisanku atau Jo Hyun, itu sangat berat untukku.

“Aku masih.. masih sangat mencintaimu. Dan, aku juga mencintai Jo Hyun.”

Kugigit bibir bawahku. Kutahan isakanku yang mendesak tenggorokanku. Aku tidak mau menangis lagi. Aku lelah. Kutarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Jangan berharap hatiku bisa terbuka lagi untukmu.”

Kuhempaskan cekalannya. Aku lari darinya. Berlari menghampiri putraku yang tertegun melihat wajahku berantakan dengan mata sembab dan hidung memerah.

Kugendong Jo Hyun dan memeluknya sangat erat. Aku tidak akan membuat Jo Hyun menderita. Aku tidak akan sekali-kali membiarkan Jo Hyun disakiti.

“Kajja, kita pulang sayang,”

Ayah Kyuhyun tidak berbuat apapun mencegahku pergi. Mungkin pria tua itu sudah menduga tidak akan mudah menyelesaikan masalah pelik antara aku dan Kyuhyun. Kuputuskan pamit padanya.

“Aboenim, aku pamit pulang sekarang.”

“Kim ahjussi akan mengantarmu,” Karena tidak ingin mengecewakannya, aku pun mengangguk setuju.

Aku berjalan mengikuti Ayah Kyuhyun masuk ke rumah. Aku tidak menoleh ke belakang lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun. Aku mencoba tidak peduli. Aku tidak akan datang padanya. Akan kubuktikan pada pria sombong itu bahwa kami tidak membutuhkannya.

.

.

.

Dua bulan lamanya aku tidak bertemu dengannya. Siapa lagi, pria paling bodoh sedunia. Aku menjauhkan Jo Hyun dari segala pengaruhnya. Putraku akan baik-baik saja tanpa dia. Putraku tidak membutuhkannya. Buktinya, setelah aku membawa Jo Hyun pulang hari itu, Jo Hyun tidak bertanya-tanya kemana pria yang menyuruhnya memanggil ‘appa’ tempo lalu. Berarti Jo Hyun memang tidak peduli kan asal ada aku?

Brak.

Ada sesuatu yang jatuh dan dia menangis. Lamunanku buyar. Aku sedang duduk di pinggir lapangan sekolah Jo Hyun bersama orang tua lainnya menunggu anak-anak kami pulang. Suara ocehan khas anak kecil berdengung di telingaku. Anak sekecil mereka bisa berkata sejahat itu.

“Yak! Jangan ada yang berteman dengannya. Dia tidak punya ayah.”

“Iya! Aku juga tidak mau berteman dengan Jo Hyun. Dia menyebalkan. Dia membicarakan appa-nya, padahal appa-nya kan sudah meninggal. Jangan-jangan, dia bisa lihat hantu?”

“Jo Hyun-ah neo pabboya!”

“Kata Ibuku juga, eomma Jo Hyun itu seorang janda. Kalian tahu apa itu janda? Perempuan yang tidak punya suami. Berarti benar kan, appa-nya itu bualan Jo Hyun saja.”

“Dasar pembohong! Jo Hyun pembohong!”

Tuhan. Dadaku berdebar tak karuan. Kepalaku mendidih. Hatiku berjengit nyeri. Aku dan beberapa ibu-ibu lainnya bergegas menghampiri kerumunan bocah itu. Lima bocah bertampang sinis menyindir seorang bocah yang kini meringkuk di tanah sambil memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di antara lututnya. Jo Hyun-ku!

“Jo Hyun punya appa! Appa sering datang mengunjungi Jo Hyun!” teriak Jo Hyun di sela tangisannya.

“Mana? Mana? Kau sedang membicarakan hantu, eoh?”

“TIDAK! Appa..appa..tolong Jo Hyun. Mereka jahat!” jeritan melengking Jo Hyun membuat hatiku perih. “Appa kenapa tidak datang? Jo Hyun mau menunjukkan pada mereka kalau Jo Hyun punya appa. Appa..” Jo Hyun menangis sambil memeluk lututnya lagi sementara teman-temannya terus saja meledeknya.

“Sayang! Jo Hyun sayang!” Aku memeluk putraku yang tubuhnya bergetar. Jo Hyun menangis. Dia tidak pernah menangis. Putraku adalah laki-laki yang tidak gampang menangis. Benar-benar keterlaluan teman-temannya!

“Eomma, appa dimana? Appa-nya Jo Hyun dimana?” Jo Hyun menangis dalam pelukanku. Aku ingin menangis mendengar tangisan putraku. Hatiku sakit teringat kata-kata teman-temannya yang menyakitkan itu. Bagaimana bisa bocah seusia mereka berkata-kata kasar begitu.

Han Ssaem selaku guru yang bertanggung jawab atas kelas Jo Hyun berlarian menghampiri kami. Aku menggosok-gosok punggung Jo Hyun, mencoba menenangkannya. Tapi yang terjadi justru tangisannya semakin kencang. Aku mendekapnya semakin erat dan menjauhi kerumunan. Dapat kulihat Han Ssaem sudah mendisiplinkan bocah-bocah nakal itu.

Dadaku memanas seiring lelehan air mata Jo Hyun di pundakku. Tangan mungilnya meremas-remas pundakku kesal ditindas teman-temannya. Jo Hyun tidak bersalah. Jo Hyun akan jadi korban keegoisanmu.

Kupejamkan mataku. Bayangan Kyuhyun hari itu malah menghampiriku. Aku tidak mau memikirkannya. Aku tidak mau kembali padanya. Tapi, bagaimana Jo Hyun? Putraku yang malang. Dia tersakiti dan kau masih saja keras kepala? Dewi batinku melotot tajam.

“Eomma, Jo Hyun mau appa-nya Jo Hyun. Jo Hyun mau bertemu appa-nya Jo Hyun, eomma.” Rengek Jo Hyun sambil sesekali menyedot ingusnya.

Kueratkan pelukanku. Jo Hyun begitu menginginkan seorang ayah. Dan aku memisahkan mereka. Apa aku kejam? Aku aku jahat? Jo Hyun hanya ingin mengakui di hadapan teman-temannya kalau dia memiliki seorang ayah. Ayahnya masih hidup. Jo Hyun hanya ingin mendapat pengakuan itu.

Tapi kenapa aku belum bisa menerimanya? Bagaimana aku bisa menghapus rasa sakitku? Aku bahkan baru memiliki Jo Hyun setelah setahun aku tidak hamil karena perbuatan Kyuhyun. Pria itu sengaja melakukannya. Pria itu tidak memakai hatinya saat tega memberiku pil.

Setelah semua ini, setelah apa yang dia lakukan, setelah apa yang kulalui, apa ini adil untukku menerimanya kembali? Empat tahun siksaan untuknya tidak akan cukup mengobati sakit hatiku.

Lalu, apa menurutmu itu adil untuk Jo Hyun?

.

.

.

Aku tidak tahu kenapa aku berakhir disini.

Berdiri di depan gedung pencakar langit yang angkuh menantang matahari berlabel ‘Cho Corporation’. Perusahaan ternama yang pernah kuporak-porandakan. Aku buat empat tahun mereka serasa di neraka. Melukai ribuan orang tak bersalah yang bekerja setulus hati disini.

Aku salah. Dan aku menyadari semua ini harus kuakhiri. Aku harus yakin jika masih ada tempat yang tersisa jauh dalam hatiku untuknya. Aku bisa memberinya kesempatan. Aku bisa.

Rasa sakitku akan hilang jika aku mencoba melupakan kesalahannya, memaafkannya, dan memulainya lagi. Demi Jo Hyun, sungguh, aku tidak mau putraku terluka lagi.

Aku hanya ingin kebahagiaan yang dia rasakan. Tidak ada rasa sakit lagi. Cukup sekali aku melihatnya menangis seperti seminggu yang lalu. Lihat, aku cukup berlapang dada kan? Aku tidak akan menyesal atas keputusanku. Aku berbuat hal yang benar.

Aku berulang kali meyakinkan diriku sendiri seminggu ini bahwa aku bisa memberi Kyuhyun kesempatan. Setiap manusia berhak meminta kesempatan dan memberi kesempatan. Jadilah bijak di saat kesusahan menghampirimu, maka kau akan dengan lapang hati menghadapinya.

“N-nyonya C-ch-cho?” Ryeowook, sekretaris Kyuhyun gelagapan melihat kedatanganku. Bibirnya memucat dan bola matanya bergerak kesana-kemari dengan gelisah. Kenapa? Memangnya aku terlihat seperti hantu? Kenapa dia ketakutan?

“Annyeonghaseyo, lama tidak berjumpa Kim Ryeowook-ssi,” sapaku ramah. Aku adalah orang yang kesulitan mengingat nama orang. Harusnya Ryeowook bangga karena aku mengingatnya.

“A-annyeonghaseyo, Nyonya, ah ani, Nona Lee.” Aku tersenyum saja. Ryeowook tidak tahu kalau aku masih istri sah Kyuhyun. Tidak apa-apa.

“Apa Kyuhyun ada?” Aku tidak mau berbasa-basi. Bukan saatnya. Aku ingin segera menemui pria itu. Membicarakan penyelesaian masalah kami.

“I-itu..” Ryeowook seperti kebingungan mau menjawab apa. Dia sampai menjatuhkan beberapa barangnya di atas meja ke lantai. Aku curiga.

“Apa sesuatu terjadi padanya?”

“Tidak, Bos ada di dalam. T-tapi, i-itu, bagaimana ini?”

“Ada apa?”

“Bos, dia, tidak membolehkan siapapun masuk ke ruangannya hari ini. Dia kedatangan tamu dan Bos tidak suka ada yang mengganggunya.”

Oh, ternyata. “Kalau itu alasannya kenapa lama sekali menjawab pertanyaanku? Baiklah, aku akan menunggunya sampai selesai.”

Saat aku hendak pergi, Ryeowook memanggilku. “Nona Lee, itu, maafkan aku. Aku tidak maksud mengusirmu tapi aku khawatir Bos akan lama berada di dalam. Maka dari itu dia menolak siapapun yang ingin bertemu dengannya hari ini.”

Aku meliriknya. Mencoba mencari jawaban atas raut wajahnya yang cemas. Pria ini pasti mengetahui sesuatu. Memang siapa tamu Kyuhyun? Bahkan aku tidak boleh masuk? Memang kau siapa? Kau bukan istrinya lagi di hadapan publik. Kali ini aku merasa kesal dan menyesal karena tidak memiliki otoritas apapun lagi.

“Ada yang kau sembunyikan, Ryeowook-ssi?”

“Ti-t-tidak! Sungguh!”

Aku melangkah mundur. Menatap curiga pada Ryeowook. Dan detik aku mendorong pintu ruang kerja di belakangku dan aku berbalik, detik itu juga pria itu berteriak dan aku menyesali keputusanku. Tidak, aku tidak boleh menyesal. Bukankah ini yang kuinginkan?

Kyuhyun? Inikah dirimu yang sebenarnya?

Tamu yang dibilang ternyata seorang wanita berpakaian minim warna hitam dan terlihat menggoda duduk di atas tubuh Kyuhyun yang berbaring di sofa. Wanita itu bergerak dan Kyuhyun mencengkeram paha mulusnya. Penampilan Kyuhyun aku yakin sangat berantakan.

Seketika aku membuang muka mendengar geraman Kyuhyun menggema di ruangannya. Suara desahan lega menyakiti telingaku. Kuremas dress depanku, ada yang berdenyut-denyut sakit di dalam sana. Rasanya aku ingin mencopot denyutan itu.

Kenapa? Kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa aku harus kesini? Kenapa aku mau memaafkan pria itu! Pria brengsek itu! Sekali brengsek, selamanya dia tetap brengsek! Aku tidak mengerti kenapa aku masih bisa memaafkannya!

“Nona Lee! Nona! Anda salah paham, nona!”

Aku sudah tidak menggubris teriakan Ryeowook di belakangku. Aku terus saja berlari menjauhi ruangan sialan itu. Kutekan tombol lift cepat-cepat dan begitu terbuka aku langsung masuk dan menekan tombol lantai dasar. Aku menangis. Terisak dan menyedihkan. Aku menutup wajahku sendiri sementara tangisanku tidak bisa berhenti.

Tanpa kuketahui ternyata aku tidak sendirian di dalam lift. Ada seseorang yang bersamaku. Aku jadi merasa tidak enak karena menangis di usiaku yang tidak lagi muda.

“Maaf, aku sedang bersedih,” Tubuhku seperti ditarik ke belakang dan dipaksa masuk ke dalam lengan kekar yang mendekapku erat. “Maaf, Tuan, lepaskan aku!” Kenapa pria ini justru seenaknya memeluk orang asing sembarangan? Kurang ajar sekali!

“Aku tahu kau pasti datang. Aku tahu kau pasti kembali. Sayangku,” Tubuhku lemas. Tapi dia buru-buru menangkapku. Dia tertawa di telingaku. Tawanya sangat renyah. Tawa pertama setelah empat tahun. Tawa pria yang kucintai.

.

.

.

To Be Continue

Advertisements

33 thoughts on “Liars Chapter 3 (Sequel of Switch)

  1. kyuoi says:

    wush, sengit banget ini pasangan ya 😅
    nah loh, kalo yang di lift itu Kyuhyun.. terus yang ada di ruangan Kyuhyun tadi siapa dong?
    suer, ini FF bikin greget, deg-degan, penasaran, gemes 😂😂

    Liked by 1 person

  2. wienfa says:

    heoll aku gereget bgtt nih am crtanya..tdinya udh sneng bgt yoo jin mau maafn kyu. tapi itu..siapa sbnrnya yg d dlm ruangn kyuhyun? kyuhyun kah atau siapa? yg brcinta itu? gk mngkin kan dy kyuhyun? jebal,jgn lama2 post nya sist klo bsa.. semangat!

    Liked by 1 person

  3. Vikyu says:

    Kyuhyun kamu astaga apa lagi rencana yg akan kamu lalukan
    Itu yg diruangan kyu bukan kyuhyun kan ?
    Dia ga mungkin berbuat kesalaham lagi sama yoojin apa lagi ada jo hyun diantara mereka
    Makin gereget
    Next fighting kak

    Liked by 1 person

  4. syalala says:

    duhilah kyuhyun bawa2 johyun jd aja yah yoojin lemah lagi… tp kenyataan emg bener karena joohyun dikerjain giu sama temen2nya ah gilak lah jahat bgt itu anak kecil loh udah bisa begitu wkwkwk btwwww kyuhyunaaahh ttp aja yahhhhh brengbreng nih huft tp kok kyuhyun ada di lift? jd yg di ruangan kyuhyun siapa dong????? ah gilakk mkim degdegan aja bacanya hahah

    Liked by 1 person

  5. Chimin~ says:

    Yang d lift ituu kyuhyun kann???
    Truss d ruang kyuu ituu siapaa,???
    Orang lain tp nebeng gituan d ruang kyuu… Atau emank bener kyu…
    Tp kalo bner kyu gak mungkin secepat itu berada d lift… Huhh bingung

    Liked by 1 person

  6. shfly3424Arista says:

    Waduhhh
    Hebat bnget authorny bikin penasaran

    Klw kyu ikut di lift
    Gmn caranya dia bs di lift
    Dia bergegas lari atau gmn

    Atau yg diruangan kyu mmg bkn kyu tapi org lain

    Liked by 1 person

  7. fitrirahmawati31 says:

    Siapa meluk yoo jin? Apakah kyuhyun thor? Dan sumpah sedih dan kesel pas baca bgian jo hyun d bully kwn2nya thor😡makin penasaran sya thor, apakah nnti akhrnya yoo jin kmbli k kyuhyun krna mlht jo hyun d bully? Atau ttl pd egonyaa. Dtnggu thor, fighting😀

    Liked by 1 person

  8. Anonymous says:

    Heol kyu klo yh di ruangan itu lu sumpaj lu brengsek bgt anjirrrrr, yoo jin udj mw nerima lu tapi klo lu gitu lagi mah wah wah wahh gilsss
    Dan yg meluk yoo jin itu spa

    Liked by 1 person

  9. Hana Choi says:

    Omg jadi makin complicated deh, sebenernya siapa yg meluk yoojin aoa donghae atau kyuhyun? Tapi kalau kyuhyun masa sih? Dia kan tadi lagi sama cewek berdua.
    Kalau memang ternyata kyuhyun main sama cewek pelacur lagi udh aja biarin jo hyun ga usah nganggep dia appanya biarin yoojin pergi lagi biarin kyuhyun sakit hati lagi kalau perlu yoojin nikah aja sama cowok lain

    Liked by 1 person

  10. Vyea Lyn says:

    Ya Allah…sampai remas perut sendiri bacanya.
    Kirain,,sisi jahat author nya keluar,makannya ada sad nya hahaha….tapi moga bukan ya.
    Malu deh ketahuan nangisin Cho Kyuhyun hahayy….

    Liked by 1 person

  11. Dhianha Kim says:

    Duh couple bikin gemes deh.
    Lah kok bikin bingung. Yang di lift siapa Kyuhyun kah lalu di ruangan siapa (?) Ah kejutannya bener-bener bikin emesh ih.. oke di tunggu kejutan lainnya hehehe dah ah gua jadi kadian sama mereka satuin cepetan kasian Jo Hyun^^

    Liked by 1 person

  12. hanhanna says:

    Apa ini jebakan dari kyuhyun untuk yoo jin, bener bener cho kyuhyun ini? Makin kesini makin seru makin gereget.
    Antara perpisahan orang tua anak emg sll yg menjadi korbannya, dan yg paling menderita…

    Liked by 1 person

  13. LeeAhn says:

    Pas awal aku dukung kyuhyun karena kasian jo hyun nya…
    Tp pas yoojin udah berbaik hati kok malah kyuhyun mengulangi kesalahannya lagi…
    Siapa yg meluk yoojin ya??

    Liked by 1 person

  14. ddianshi says:

    Siapajah itu pria yang memeluk yoojin? Kyuhyun kah??? Ah kyuhyun kenapa cari gara2 saja sih 😦 bukannya memperbaiki semuanya bukan malah memperumit masalah 😥 baru saja yoojin mau kembali bersama -_- kasian sama jo hyuk nya 😥 ayo dong kyuhyun dan yoojin kembali bersama 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s