Liars Chapter 2 (Sequel of Switch)

Liars Chapter 2 (Sequel of Switch)
by Luna

Genre:
Married-life, Romance, Chaptered

Main Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin

Cuap-cuap Author:
Heiyaa, aku emang ngerubah genre ini jadi nggak sad lagi (tapi kalo akunya lagi jahat sad nya muncul hoho._.v)
Terlalu banyak kebohongan, itulah kenapa aku pakai judulnya ‘Liars’
Disini semuanya akan terungkap.
Percaya nggak percaya, dua orang ini emang rada gila kalo masalah “bohong”
Tapi balik lagi ke pertanyaannya abang Kyu kemarin, ‘siapa yang paling gila bohongnya?’
Tebak! Tebak!
Happy Reading^^

kyuh

Warning! Typo dimana-mana!
—oo0000oo—
Chapter 2
You’re Mine

Aku senang melihat orang lain merasa terintimidasi olehku. Apalagi wanita itu. Empat tahun dia meninggalkan kesengsaraan untukku. Selama itu pula aku dibohongi.

Tega sekali kau, Lee Yoo Jin.

Membiarkan dingin memelukku setiap malam. Memberikan label ‘duda’ di nama tengahku. Melarangku bersua dengan putraku.

Terbesit di pikiranku tidak menginginkan anak lagi, jika suatu saat nanti kami bersatu kembali. Cho Jo Hyun saja cukup. Terlebih aku tidak terlalu menyukai anak kecil. Bisa pecah kepalaku kalau rumahku dipenuhi anak-anak.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mungkin Jo Hyun akan merasa kesepian. Memberinya seorang adik perempuan sepertinya bukan ide yang buruk.

Aku terkekeh membayangkannya. Aku menunggu saat aku bisa menyentuh wanita itu lagi. Sedikit menghukumnya terdengar bagus. Dasar wanita bar-bar. Bagaimana dia sekejam itu padaku? Kebohongannya benar-benar di luar akal manusia biasa.

“Bos! Berkas lagi!”

Teriakan Ryeowook merusak lamunanku. “Brengsek! Taruh saja semua berkas yang harus kuperiksa. Jangan menaruhnya satu-satu.”

Ryeowook melangkah santai. Telinganya semacam kebal dengan segala umpatanku. Dia bahkan berani bersiul di depanku. “Ini berkas terakhir, bos. Ah iya, ada kabar buruk. Besok, bos harus berangkat ke Busan selama seminggu untuk menghadiri serangkaian rapat saham.”

Kepalaku terhempas ke sandaran kursi. Aku mengerang kesal. Kuobrak-abrik semua berkas di atas meja. Tidak peduli berkas-berkas sialan itu berceceran ke lantai dan bercampur jadi satu antara berkas yang sudah kuperiksa dan belum. Itu pekerjaan Ryeowook.

Padahal aku berjanji pada Yoo Jin kalau besok aku akan datang lagi ke rumah sakit. Bagaimana tanggapannya nanti?

Sial. Kupijat pelipisku yang berdenyut. “Kenapa harus seminggu? Memangnya tidak bisa tiga hari saja?”

“Maaf bos, tidak bisa. Tahu sendiri kan, saham perusahaan bos empat tahun ini seperti gelombang samudera.”

Kulirik pedas sekretarisku itu. Kenapa dia menyindirku segala!

“Pergilah,” Ryeowook sudah siap pergi. “eits, setelah kau bereskan berkas-berkas itu.” tunjukku pada berkas-berkas yang tadi kulempar. Ryeowook berbalik sambil cemberut dan menggerutu, tapi tetap mengerjakan apa yang kuperintahkan.

Dobel sialan. Ini gara-gara wanita itu juga aku hampir dihukum gantung.

Andai dia tidak membuatku kehilangan pemegang saham tertinggi perusahaan, aku tidak akan pontang-panting selama empat tahun ini demi mempertahankan perusahaan keluargaku.

Dari sini aku pun baru menyadari ternyata nyawaku tidak lebih berharga daripada perusahaan ini.

Well, pikirkan hukuman yang pantas itu sambil jalan. Rapat saham satu minggu besok harus menghasilkan apa-apa.

.

.

.

“Apa yang kau lakukan?!”

Aha! Berani sekali wanita itu berteriak tanpa rasa takut! Jadi kulempar saja tubuhnya ke atas ranjangku dan kutindihnya. Seketika teriakannya berhenti.

Satu minggu aku gila kerja. Satu minggu aku nyaris sinting memikirkan wanita ini. Pihak penyelenggara rapat melarang keras akses komunikasi ke luar. Akupun bak narapidana yang berkutat di dalam gedung rapat memuakkan selama satu minggu. Bisa bayangkan kan, bagaimana gilanya?

Empat tahun ke belakang aku tidak pernah melewatkan satu hariku tidak mendengar kabar tentangnya. Aku selalu menyuruh Ryeowook melapor. Apapun yang dilakukannya di luar sana, aku harus tahu. Karena apa? Wanita ini masih tanggung jawabku!

Sekarang kami sedang berada di kediaman utama keluarga Cho. Berkat kepolosan putraku—terima kasih uri Jo Hyun!—aku bisa menyeret wanita ini sampai ke kamarku.

Jo Hyun tentu sudah kusingkirkan. Dia kubiarkan bermain-main dengan Ayah. Sementara aku perlu mengurus perasaan rinduku dulu pada wanitaku yang kini berusaha memberontak dan meminta dilepaskan.

Aku ingin menawarkan semacam taruhan yang bisa kubayangkan endingnya dia akan membuat sebuah pengakuan tentang kebohongannya. Setelah itu, aku baru bisa menyentuhnya.

“Kau mau bertaruh?”

“Apa?”

Yoo Jin masih saja bergerak di bawahku. Setengah mati kutahan geramanku. Jika dia terus-terusan bergerak liar begini, aku akan menyentuhnya sekarang juga. “Kau mau bertaruh, siapa di antara kita berdua yang paling gila dalam hal berbohong?”

Dia tertawa! Heol! Apa wajahku kurang menyeramkan? Apa tindakanku kurang berani? Haruskah aku menelanjanginya dulu, baru dia diam tak berkutik?

“Kau, brengsek!” umpatnya.

Tiba-tiba dia mengumpatku. Sialan. Ingin kuhukum mulut kasar itu. Bisa-bisanya dia mengumpatku! Dia tahu betul aku sangat membenci wanita yang bermulut kasar dan pintar mengumpat. Seumur-umur, hanya Lee Yoo Jin yang berani mengumpatku sekasar ini. Kuremas sprei di samping kami.

Kita lihat siapa di antara kami yang akan bertekuk lutut! Kutekan kejantananku yang mengeras pada miliknya. Aku harus ekstra sabar jika ingin melesakkan milikku lagi ke dalam sana.

“Kau mau aku beberkan semua kebohonganmu? Apa kau yakin kau sanggup?”

Yoo Jin mencoba membalas tatapanku. Saat itulah aku menemukan setitik ketakutan. Aku menyeringai. Segera saja kutenggelamkan kepalaku di tengkuknya lalu mengecupnya sedikit lama. Tempat kedua yang paling kusukai di tubuh Yoo Jin. Tempat yang membuat malam-malamku empat tahun ini sengsara.

Kedua tangannya kutahan di atas kepalanya.

Kupandangi bibir Yoo Jin. Bibir itu terkatup erat. Seolah tahu keinginanku, dia memberontak lagi. Aku tidak bodoh. Dia tidak semudah itu bisa lepas dariku. Jangan harap!

“Lepaskan! Apa yang kau lakukan pada janda sepertiku?!”

“Janda?!” Aku tak kuasa menahan teriakanku. Dia membisu. “Kau yakin kau adalah janda?!”

Sialan! Kami masih sepasang suami-istri yang sah! Kenyataan itu menamparku setahun terakhir ini. Kupikir aku pasti gila kalau sampai aku mati sebelum mengetahuinya.

Beberapa bulan yang lalu, aku menemui pengacaraku untuk memperkarakan masalah kepemilikan tanah yang akan kujual untuk menutupi hutang perusahaan—ingat, aku masih sedikit bermasalah dengan saham-saham sialan itu.

Masalahnya, ada oknum yang mengklaim tanah itu miliknya. Padahal jelas aku yang pemiliknya karena aku mempunyai surat tanah yang asli.

Oke, kita lewati bagian itu.

Secara tak terduga, senior pengacaraku yang sangat menguasai bidang itu ternyata pengacara yang sama saat mengurus perceraianku dengan Yoo Jin. Disitulah semuanya mulai terbongkar.

Park Leeteuk mengakui kebohongannya. Sidang perceraian kami hanya akal-akalan Yoo Jin. Dia ingin menghukumku setelah apa yang telah kulakukan padanya.

Kuasa hukum, dewan hakim, saksi, semua orang itu palsu dan dibayar atas nama Lee Yoo Jin!

Tak kusangka, Yoo Jin menipuku. Kenapa dari dulu aku tidak menaruh curiga bagaimana bisa kasus perceraian bisa secepat itu selesai. Hitungan hari!

Astaga, bodohnya aku. Dan hebatnya Yoo Jin bisa berakting seolah-olah kami sudah benar-benar bercerai. Serangkaian perbuatan kejam dan penyiksaan telak empat tahun ini meluap ke permukaan. Aku pun sering bertanya-tanya, diantara kami berdua siapa yang gila dalam hal berbohong? Yoo Jin atau aku?

Aku hadiahkan senyum sinisku. “Kiamat untukmu, Nyonya Cho!” Sengaja kukeraskan suaraku ketika menyerukan ‘Nyonya Cho’.

Akumulasi kemarahanku mungkin yang memberanikan diriku merenggut bibirnya yang kasar itu. Kalimat-kalimat kebohongan seperti ‘aku tidak mencintaimu’ kini berada dalam kuasaku.

Aku ingat saat malam kami di Hongkong. Berpura-pura ingin mengantarkan undangan pertunangannya dengan Donghae padahal sebenarnya dia memang menemui Mr. Zhang meminta bantuan (re:Switch chap. 9).

Kulumat bibir yang pintar berbohong itu. Mendesaknya di tempat manapun yang kuinginkan. Kepala, badan, kaki, dan miliknya di bawah sana. Dia masih sepenuhnya milikku. Aku berhak melakukan apapun atas tubuhnya karena itu mutlak masih milikku.

Saat ingin melanjutkan kegiatanku menandai lehernya, seseorang menggedor pintu kamarku. Menghentikan aksiku. Mengendurkan cekalanku. Yoo Jin memukul pundakku. Aku mengumpat siapapun di luar sana. “SIAPA?!”

“Tuan muda Cho, maaf mengganggu, Jo Hyun buang air di pakaian, hmm, Tuan besar. Tuan besar marah sekali!”

“Sialan!” Mulutku otomatis mengumpat tertahan. Jo Hyun, kenapa kau melakukannya di saat-saat genting seperti ini pada appa? Mulut kasarku ini dibungkam. Aku memicingkan mata. Segera saja kucium telapak tangannya. Menahan amarahku.

“Pembicaraan kita belum selesai,” aku memperingatinya. Kutarik tubuhnya bersamaku beranjak dari ranjang. Kita bisa menghangatkan ranjang itu nanti malam. “Urus Jo Hyun dulu.”

“Hey,” kutarik lengannya saat dia terburu-buru ingin keluar. Ingin lari dariku?

“Apa lagi?” tanyanya gemas.

Sepertinya aku perlu sedikit mengancamnya. Aku berspekulasi dia sudah menangkap maksud perbuatanku barusan. Terlihat sekali bagaimana dia ingin menjaga jarak dariku. Sudah cukup aku menderita. Aku mau mengakhirinya. Segera. “Kiamat menunggumu, ingat!”

.

.

.

Kupandangi wanita itu yang sekarang sibuk memandikan putranya. Ah, putra kami. Yoon ahjumma hanya membual saat mengatakan Ayah marah besar pada Jo Hyun karena mengompol di bajunya. Ayah bahkan menyeringai lebar melihat kami keluar dari kamarku.

Ayah adalah satu-satunya orang yang mengetahui jika hubunganku dengan Yoo Jin belum berakhir. Meskipun awalnya Ayah memaksa menyegerakan membawa kembali menantu kesayangannya itu ke rumah, aku mengelak dengan beralasan belum menemukan momen yang tepat untuk membongkar semuanya.

“Maafkan Jo Hyun, eomma,”

Aku tidak bisa berhenti tersenyum. Terhitung tujuh kali bocah empat tahun itu meminta maaf. Aku tahu kediaman Yoo Jin bukan karena marah pada Jo Hyun. Wajar kalau bocah berusia empat tahun belum kuat menahan buang air kecil.

Itu bukan masalah. Masalahnya adalah sedikit banyak Yoo Jin terpengaruh kata-kataku tadi. Sepandai-pandainya dia berbohong, aktingnya tidak berguna jika itu menyangkut perasaannya. Aku begitu heran, bagaimana dulu dia menekan perasaannya saat membohongiku? Hmm.

“Lain kali kalau ingin buang air kecil, bilang saja. Jangan ditahan-tahan. Jo Hyun mengerti?”

Jo Hyun mengangguk-angguk semangat senang ibunya berbicara padanya. “Jo Hyun janji tidak akan mengompol lagi.”

“Bagus, itu baru anak eomma,” Yoo Jin mengusap puncak kepala Jo Hyun sayang.

Yoo Jin sangat telaten merawat putra kami. Dia bukan bermaksud memanjakan Jo Hyun, tidak. Dia hanya menunjukkan kasih sayangnya sebagai seorang ibu. Dan aku bangga berkesempatan memiliki istri sepertinya.

Masalah kebohongan yang dia lakukan memang tidak bisa dinegosiasikan. Itu wajib kuperkarakan. Aku tidak akan meloloskannya. Sekalipun Jo Hyun yang meminta.

Yoo Jin menggosokkan sabun ke seluruh badan Jo Hyun kemudian membilasnya beberapa kali sampai bajunya sendiri basah. Walaupun lengan dress-nya sudah ditarik sampai siku, tetap saja pakaiannya jadi basah.

Aku berjongkok sambil bertopang dagu di depan pintu kamar mandi memperhatikan Yoo Jin yang tampaknya tidak peduli dengan pakaiannya yang basah. Fokusnya hanya pada Jo Hyun yang terlihat sangat gembira selesai mandi.

“Yoon ahjumma!” teriakku dari dalam kamar. Yoon ahjumma tergopoh-gopoh menghampiriku. Yoo Jin sempat melirikku tapi hanya sepersekon nano detik karena setelah itu dia fokus lagi mengeringkan tubuh Jo Hyun memakai handuk. “Ajak Jo Hyun ke kamarnya untuk berganti baju.”

“Tidak bisa!” tolak Yoo Jin. Gerakan tangannya berhenti lalu melotot padaku. Dia tidak setuju Jo Hyun dibawa pergi darinya.

“Kau mau Jo Hyun memakai seragamnya lagi? Kau lupa celanannya masih bau ompol?” Aku mengimbangi penolakan keras wanita itu dengan tenang. Ada Jo Hyun disini. Aku tidak mau Jo Hyun membenciku gara-gara aku membentak ibunya.

“T-tapi..” Sebelah alisku meninggi. Menunjukkan siapa disini yang berkuasa.

“Jo Hyun ikut ahjumma ganti baju, ya?” Perhatianku pindah pada Jo Hyun yang menganga tapi mengangguk juga. Anak pintar!

Yoon ahjumma menggendong Jo Hyun yang terbungkus handuk keluar kamar. Setelah memastikan pintu kamarku tertutup rapat dan langkah kaki di luar mulai menjauh, kupandangi lagi wajah istri pembohongku ini. Seolah merasakan aura mengancam, dia bangkit.

“Aku akan menyusul Jo Hyun.”

Kucekal lengannya. Aku ikut berdiri. Matanya bergerak gelisah menghindari tatapanku. Memang apa yang dipikirkannya? Oh! Apa dia mengira aku akan menyerangnya disini? Kamar mandi? Kenapa aku jadi ingat percintaan panas kami setiap pagi sebelum aku berangkat ke kantor?

Dulu mungkin Yoo Jin akan suka rela melakukannya. Tapi aku khawatir kalau aku memaksanya sekarang dia akan lari dariku. Bahkan sebelum dia mempertanggung jawabkan kebohongannya.

Menggunakan tangan kiriku yang bebas, aku meraih handuk bersih lainnya kemudian menyampirkannya di atas bahu Yoo Jin. Dia mendongakkan kepala. Mungkin terkejut karena prasangkanya salah. Aku tidak hanya menyampirkannya. Aku memperhatikan pakaiannya yang basah. Aku menyeka tetesan air di leher dan lengannya.

Tatapan kami tidak pernah lepas selama tanganku bergerak mengeringkan tubuhnya sama seperti saat dia mengeringkan tubuh Jo Hyun tadi.

“Kau merawat Jo Hyun seorang diri dengan sangat baik,” tanganku mengarah ke perutnya. Kulanjutkan karena Yoo Jin tidak menolak. “tapi, jangan terlalu memanjakannya. Makan, mandi, tidur sendiri. Jangan sampai terlambat membuatnya menyadari kalau dia seorang laki-laki yang harus dilatih untuk mandiri.”

Aku mengeringkan rambut Yoo Jin yang sedikit basah. “Aku ingin Jo Hyun tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat. Ayah melatih kemandirianku baru setelah Ibu meninggal. Saat aku kelas tiga SMP. Dan itu sudah sangat terlambat. Aku tumbuh menjadi pribadi yang bahkan lebih buruk setelahnya.”

Yoo Jin mendengarkanku. Inilah salah satu alasanku menyukainya. Dia pendengar yang baik.

Aku tidak pernah menceritakan perihal mendiang ibuku pada orang lain. Aku hanya memberitahu Yoo Jin. Karena aku merasa perlu. Aku sudah selesai. Selesai dengan kehidupan gelap dan kelamku.

Kuangkat dagunya agar menatapku. Handuk yang kugunakan telah kusampirkan kembali di atas pundaknya. “Bisakah kau hentikan kepura-puraanmu, sayang?”

Hatiku berdesir tajam ketika memanggilnya sayang. Aku merindukan bibirku yang bisa semauku memanggilnya sayang. Yoo Jin menatapku aneh. Mungkinkah dia bimbang antara harus melanjutkan kebohongannya atau mengaku sekarang?

“Aku ingin kau dan Jo Hyun tinggal bersamaku.” Ada jeda sebentar sebelum aku melanjutkan, “Bukan di apartemen yang lama. Aku berniat membeli rumah baru. Aku yakin Jo Hyun pasti senang.”

Hening. Aku bingung. Kenapa Yoo Jin hanya diam? Tidak tahukah dia aku begitu penasaran dengan isi kepala cantiknya? Aku bukan cenanyang yang bisa membaca pikiran orang. Aku juga bukan dukun yang bisa mempengaruhi pikiran orang. Jika bisa, sudah kulakukan itu sejak lama.

“Selama ini kami baik-baik saja hidup berdua. Jo Hyun tidak pernah menanyakan keberadaan ayahnya. Jadi buat apa kau bersusah payah memaksa kami tinggal bersamamu?”

Aku terpukul. Dan Yoo Jin sengaja menyakitiku. Dia mengembalikan handuk itu padaku.

“Cukup aku mengikuti kemauanmu sampai disini. Aku tidak mau kau mempengaruhi Jo Hyun lebih jauh. Aku akan membawa putraku pulang.” Yoo Jin melengos melewatiku.

“Kenapa kau terus saja berbohong?” Pertanyaanku sukses menahan Yoo Jin keluar. Dia bergeming di tempatnya. Bergegas aku menghampirinya. Memberondongnya dengan banyak pertanyaan yang meledak di ubun-ubunku.

“Aku tidak mengijinkanmu pulang.”

“Kenapa juga aku harus menurutimu?”

“Astaga, kau masih istri sahku Cho Yoo Jin!” Aku merangsek maju. Membalik paksa tubuh Yoo Jin. Aku heran dia tidak terkejut mendengar teriakanku. “Hentikan omong kosong ini. Kau harus menurut padaku. kau istriku, ya Tuhan!” desisku tertahan.

“Beberapa tahun lalu, iya. Tidak sekarang!”

“Kau pikir aku bodoh?” Kupegang kedua bahunya. Kami bertatapan. Aku menatapnya tajam, dia menatapku dingin. Genderang perang telah ditabuh. “Perceraian kita hanya akal-akalanmu. Kau ingin menghukumku. Kau ingin balas dendam padaku. Kau menyiksaku!”

Yoo Jin menghentakkan tanganku dari bahunya. “Lalu? Kau sebut pengkhianatanmu itu apa hah?” Dia memukul dada kiriku sekali. Ugh. Aku mengeluh sakit saja dalam hati. “Kau mengkhianatiku! Kau mengencani adikku! Kau, kau, kau pria brengsek!”

Setiap Yoo Jin menyeruku, saat itu juga aku mengeluh karena dia memukul dadaku sangat keras. Seolah sedang melampiaskan kemarahannya yang dipendamnya entah berapa lama.

“Kau tidak tahu seberapa bencinya aku padamu! Kau tidak tahu kesakitan apa yang harus kutahan! Kau suamiku dan kau tega berkencan, bercinta, bahkan menghamili adikku!”

Tangisan Yoo Jin pecah bersamaan berakhirnya pukulan di dadaku. Dia memukulku berkali-kali. Tapi nyatanya hatiku jauh lebih sakit melihatnya serapuh ini. Lebih rapuh dibanding ketika dulu dia meninggalkanku setelah menghancurkan isi apartemen.

“Aku marah! Aku merasa tidak pantas diperlakukan demikian.” Yoo Jin mengusap kasar air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir. Dia menatapku marah? Senyum sinis mencuat di sudut bibir merahnya. “Bagaimana rasanya? Ditipu, dipermainkan…dibodohi?”

Wanita ini. Aku tidak suka dikatai bodoh.

“Itu tidak ada apa-apanya dibanding kepahitan yang harus kuterima. Aku bahkan hampir kehilangan anakku gara-gara wanitamu!”

“Dia bukan wanitaku!” bentakku tak terima.

“Cih, kalau begitu wanita simpananmu?”

“Bukan,”

“Kalau begitu, selingkuhanmu? Benar?”

“Bukan! Dia bukan siapa-siapa!” tegasku.

“Lalu kenapa kau tega mengkhianatiku demi wanita yang bukan simpananmu maupun selingkuhanmu?”

Aku menghembuskan napas perlahan. Shit. Itu sudah berlalu berapa tahun lalu. Kabar terakhir yang kudengar tentang Lee Yoo Ri dia masuk penjara karena kasus kebakaran hotel (re:switch chap.10).

Selebihnya aku tidak ingin tahu apalagi berusaha mencari tahu. Biar saja wanita gila itu menghabiskan sisa hidupnya mendekam di balik jeruji.

“Aku belum bisa memantapkan hatiku saat itu. Aku merasa bersalah karena dulu aku pria yang brengsek—”

“Kau memang brengsek,” sindir Yoo Jin pelan. Wanita itu benar-benar tidak takut padaku.

“Bisa dengarkan aku dulu?” Setelah memastikan Yoo Jin tidak akan berbicara lagi, aku melanjutkan ceritaku, “Aku mengakui saat SMA dulu aku pria brengsek. Aku suka pergi ke kelab setiap malam, minum-minum, merokok, bermain dengan wanita malam. Termasuk melakukan seks dengan mereka.”

Aku tahu Yoo Jin mungkin sudah serangan jantung sekarang. Yoo Jin hanya tahu sisi baikku. Mungkin dia tidak pernah menduga aku sebejat itu. Mungkinkah dia juga menyesal menikah dengan pria sepertiku?

“Aku mengencani banyak gadis di sekolah kita, tanpa sepengetahuanmu. Aku memanfaatkan perasaanmu untuk keuntunganku karena aku tahu kau tidak pernah bisa menolakku. Mengerjakan tugasku. Menyontek saat ujian. Membelikanku sarapan dan menyuruhmu ini-itu.”

Yoo Jin terpengarah. Aku seperti baru saja melempar kue tart besar ke mukanya. Kejutan lagi.

“Salah satu gadis yang kukencani adalah adikmu. Kau tidak tahu, kan?” Yoo Jin menggeleng. “Aku yang menyuruhnya tutup mulut. Aku yakin kau akan lari dariku kalau sampai kau tahu.”

Dia menggosok wajahnya. Air matanya masih meleleh, tapi tidak ada isakan lagi.

“Aku bercinta dengannya beberapa kali—”

“APA?!” Yoo Jin membuang muka.

Mulutnya membuka-menutup seolah sedang menghirup napas banyak-banyak. Hidungnya kembang-kempis dan memerah. Dia memukul dadanya sendiri yang terasa sesak setelah mendengar pengakuan gilaku. Tapi aku memang tidak ingin menyembunyikan apa-apa lagi dari Yoo Jin. Dia harus tahu semua.

“Yoo Ri sudah tidak perawan. Itulah yang membuatku ingin menjadikannya sebagai mainanku.” Yoo Jin melotot.

“Bodohnya aku saat itu aku lupa tidak memakai pengaman karena mabuk. Dia hamil di luar keinginanku. Aku menolak bertanggung jawab. Sekian tahun aku dihantui rasa bersalah. Maka dari itu aku mencarinya. Kukira aku bisa menebusnya. Tapi aku tidak bisa.”

Aku maju selangkah. Mempersempit jarak kami. “Dan saat aku bimbang, aku yakin telah menemukan jawabannya ketika bercinta denganmu di malam aku kembali setelah menghilang dari peredaranmu sebentar.”

“Aku membutuhkanmu. Aku menginginkan dirimu lebih dari apapun. Disini,” Aku menunjuk tepat di jantungnya. “Aku menemukan rumahku. Disini,” Aku menunjuk lehernya. “Tempat ternyamanku. Dan hanya disini,” Aku menunjuk perutnya. “Bukti cinta yang kuinginkan tumbuh.”

Kami berpandangan. Tidak ada yang kami lakukan. Telunjukku masih bersarang di atas perutnya. Apa Yoo Jin mulai berubah pikiran? Apa hatinya sudah luluh? Apa aku sudah dimaafkan?

“Kyuhyun,” panggilnya. Aku senang dia mau menyebut namaku lagi. Aku sudah percaya diri Yoo Jin bersedia kembali padaku. “kenapa aku tidak bisa mempercayaimu? Kau menipuku lagi?”

Hatiku meradang. Ratusan kalimat yang kuciptakan semanis itu untuk merayunya dan begini jawabannya? Apa wajahku seperti badut? Apa aku terlihat sedang bercanda? Sekonyol itukah penjelasan panjang kali lebarku?

“Ya, aku menipumu sekarang.”

.

.

.

To Be Continue

Advertisements

34 thoughts on “Liars Chapter 2 (Sequel of Switch)

  1. wienfa says:

    ya ampunn..kyaknya aku gemes bngt deh sama kyuhyun remaja. kalo aku jadi yoo jin gak tau deh..syok dan gak tau hrus komen apa..mngkin ielfeel jga sm kyu..tp blik lagi sama yg nmnya CINTA..Mngkin bsa brkta lain.
    semoga mreka brsatu brsma tnpa byang2 msa lalu.

    Liked by 1 person

  2. queenhyunrin says:

    Gemay deh, harus kah kyunya pergi ntah kemana atau mengalami kejadian fatal kalo dia itu masi cibta dan butuh kyu secara ga langsung? Ya kalo emang mau pisah boleh kah,tapi jgn bilang selama dia tinggal ber2 doang sm anaknya baik2 aja, kan dia gatau perasaan anaknya nanti gmn kalo gede,please yo jin jujur ama diri sendiri

    Liked by 1 person

  3. sung hye jin says:

    ya ampun sifat mereka berdua bikin saya gemas yang satu pengen jujur dan terbuka kyuhyun yang satu nya ga percaya akan kejujuran itu yoo jin klo begini kasian anak nya ngegantung yg terbaik aja lah buat mereka dan cepat kelar deh urasan nyyadan salah paham nya

    Liked by 1 person

  4. fitrirahmawati31 says:

    Hendeeeee geregetan syaaa bacanyaa thor, knpa yoo jin keras kpla dan kyuhyun yg menyebalkan😥😥tli sya suka kata2 trakhir kyuhyun thor, bgtu romantis dan sweet bgt. Penasaran sya dgn kelanjutnya, apakah kyuhyun dan yoo jin akn kmbli brsma? Dtnggu nextnya thor. Fighting😀😀

    Liked by 1 person

  5. Hyun says:

    keknya tiap chapter itu gantian ya sudut pandangnya, okedeh ini makin bisa memperjelas semuanya..
    dan mereka ini ya, kwkwkw
    yg satu bohong sebelum nikah, satunya bohong setelah nikah..

    moga aja itu anaknya kaga jadi pembohong selama hidupnya xD

    Liked by 1 person

  6. Vikyu says:

    Padangan penuh tipuan tapi ga ada dusta didalamnya
    Kyu emanh berengsek ya dulu
    Ahh annia skrnh juga masih berengsek 😂😂
    Moga aja jo hyun ga ngikutin appanya
    Sanpai kapan mereka trua berbohong? Padahal masih sama sama cinta dan masih sama sam membutuhkan , apa lagi ada jo hyun ditengah tengah mereka 😁😁😁
    Next semangat kak

    Liked by 1 person

  7. LeeAhn says:

    Bingung harus membelas siapa..
    Kyuhyun udah mengakui kesalahannya n mau memperbaiki kesalahan itu…
    Tp yoojin udah tertutup hatinya, kasian itu jo hyun…
    Tp g bs menyalahkan yoojin juga karena sapa yg mau percaya lg
    Tp semoga mereka berdua gak kekanakkanakan, kasian jo hyun nya

    Liked by 1 person

  8. Chimin~ says:

    Lohhhh menipu…
    Oh waitt sebenarnyaaa maksud kyuhyun inii apaa sihh???tujuannyaa apaa??? Bneran ingin membalas yoojin dengan mrnjadikan fiaa milik kyyu lagii tah???

    Liked by 1 person

  9. shfly3424Arista says:

    Nah loh ya ampunnnn

    Wajar sih klw yoojin ga percaya ama kyu lagi
    Atau yoojin yg ga yakin ama kyu
    Krn kyu mmg pernah nipu n bohong habis habisan

    Liked by 1 person

  10. Dhianha Kim says:

    😩😩mereka membuatku gemas. Yoo Jin masih meragukan Kyuhyun sedangkan Kyu sudah berusaha meyakinkan Yoo Jin. Kalo gini pan kasian anaknya huhuhu mana masa kelam Kyuhyun bikin nyesel astaga pingin rasanya dua makhluk ini gua ikat dah hahahaha😂😂😂 oke di tunggu kejutannya

    Liked by 1 person

  11. kyuoi says:

    yak! kenapa mereka berdua sama-sama jadi tukang tipu(?) ???
    makanya Kyu, jadi orang jangan brengsek.. sakitnya dihianati itu ga gampang nyembuhinnya
    ayo bongkar terus kebohongan-kebohongan diantara kalian.. seberapa banyak? siapa yang lebih gila dalam hal berbohong? wkwk
    greget sendiri bacanya 😂

    Liked by 1 person

  12. Hana Choi says:

    Omg gimana yoojin ga kaget aku aja kaget banget kyuhyun sebrengsek itu, ya ampun….
    Pengen mereka bersatu lagi tapi aku yakin yoojin masih sakit hati atas kyuhyun fan adiknya dia meskipun mereka balikan lagi tapi belum bener” nerima pasti ga bakalan berjalan lancar.
    Disini kyuhyun bener” harus ngebuktiin sama yoojin kalau dia bener” Cinta dan yoojin juga mau ga mau harus bisa maafin kyuhyun karena menurut aku kyuhyun udh tikus banget.
    Kasih pelajaran kecil aja biar kyuhyun jera

    Liked by 1 person

  13. Via agnesia says:

    Yoo jin masih ragu untuk percaya pada kyuhyun…
    Ya iyalah…
    Itu hal yg wajar dilakukan seorang wanita yg pernah dihianati begitu dalam…
    Sulit untuk melupakan hal itu bgitu saja.
    Meski kdang ada sebersit keinginan untuk melupakan, tapi pada saat2 tertentu hal itu akan muncul lg.
    Kayak akar yg menjalar dlam hati yg terdalam…
    G akan pernah bs hilang.
    Kalau kyuhyun emang bner2 masih menginginkan yoo jin, dia harus berusaha lebih keras lg untuk menunjukan kesungguhanx…
    Q yakin suatu saat nanti yoo jin pasti percaya dengan perasaanx…

    Liked by 1 person

  14. syalala says:

    yah hebat kalo yoojin lgs percaya gitu aja sama kyuhyum skrg wkwkwkww ga salah lah dia sebegitu bencinya sampe aberani boongin kyuhyun 4 tahun!!!! lah gila ajaaaaaaa kyuhyunn gada sama sekali rasa bersalah apa gimana deh kok dia kaya cuma banyak omong tp gada minta maaf sekalipun sumpah ngeselin bgt lah gue jd yoojin juga males bgt gini caranya mah hahaha

    Liked by 1 person

  15. kyuwonhae's wife says:

    Bocah tengil yg skrg udh insyaf, sayngnya belahan jiwanya udh gak bsa percya gtu aja. Iylah, wajar itu mah. Kam kyu sma yoori bermain apai dbklang yoojin. Wjar bgt. Yoojin jgn mdah terprngkap sma kyu

    Liked by 1 person

  16. lyeoja says:

    Hahahahhhha…. ngakak aku pas kata2 yg ini…
    kenapa aku tidak bisa mempercayaimu? Kau menipuku lagi?”
    Mana jawaban kyukyu bikin guling2 lagiii,,,
    Iyaaaa wajahmu kek badut kyuu…. hihihi

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s