Liars Chapter 1 (Sequel of Switch)

Liars Chapter 1 (Sequel of Switch)
by Luna

Genre:
Married-life, Romance, Chaptered

Main Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin

Cuap-cuap Author:
Halo readers, sesuai dengan permintaan kalian semua, aku kembali bawain sequel dari Switch 😀
Ada yang berbeda dengan genre-nya? Hmm, kita lihat nanti yaa._.
Siap? Siap?
Happy Reading^^

2
Warning! Typo dimana-mana!
—oo0000oo—
Chapter 1
Confusing

Sial.

Dadaku berdebar keras. Bibirku memucat. Buku-buku tanganku memutih akibat terlalu erat kepalan tanganku. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhku. Semakin aku berlari maka otot-otot lututku semakin kencang bergegas mencapai pintu itu.

Aroma desinfektan yang memuakkan menerjang rongga hidungku. Aku tidak percaya ini ke empat kalinya aku harus masuk ke arena neraka. Kukuatkan hatiku. Demi putraku.

Setengah terhuyung nyaris terjungkal kala tubuhku menyalip melalui pintu otomatis yang menghubungkan lorong tunggu satu dengan lorong tunggu lainnya.

Dua orang pria, yang salah satu dari mereka mengenakan jas putih menyapaku hangat meski aku yakin dia terkejut melihat kedatanganku dengan penampilan berantakan. Pikiranku dipenuhi sosok mungil yang terbaring lemah di dalam ruangan membuatku tidak memperhatikan siapa pria yang berdiri di samping dokter itu.

“Bb-bah-gaimana? Putraku?” tanyaku terbata. Aku masih berusaha menyusaikan udara yang berebutan masuk memenuhi rongga paru-paruku.

“Tenang, Nyonya, putra anda berhasil diselamatkan.”

Tubuhku merosot ke lantai. Mendengar kata ‘selamat’ memberiku energi sekaligus meruntuhkan seluruh tenagaku hingga aku tidak kuat berdiri.

Aku mengebut di jalan begitu menerima telepon dari rumah sakit jika putraku mengalami kecelakaan saat menyeberang jalan sepulang sekolah.

Pikiran-pikiran buruk tidak berhenti menghantuiku sepanjang perjalanan. Tidak dapat kubayangkan kalau aku kehilangannya. Aku tidak akan sanggup.

“Putra anda kehilangan banyak darah. Meski sempat panik karena stok golongan darah A di rumah sakit kami sedang kosong, beruntungnya karena seseorang bersedia mendonorkan darahnya untuk putra anda. Dia juga yang membawa putra anda kemari.”

Hatiku meleleh. Putraku beruntung mendapat donor yang tepat di waktu yang tepat. Kekhawatiranku meluap karena mungkin akan sia-sia aku datang kesini mengingat golongan darah kami berbeda. Aku bergegas bangkit.

Dokter Kim menunjuk pria yang tadi kuabaikan keberadaannya berdiri membelakangi kami. Aku membungkukkan badanku, “Terima kasih Tuan sudah menyelamatkan putraku. Aku benar-benar tidak tahu harus membalasmu dengan apa. Terima kasih.”

Ketika punggungku menegak, pria itu membalikkan badan. Senyum paling lebar yang pernah kutunjukkan perlahan meluntur. Tubuhku bersitegang.

Seluruh indera penglihatanku tersedot oleh kehadiran pria itu. Aku bimbang antara harus senang atau sedih. Bersyukur atau tidak. Apa ini kebetulan atau semacam takdir yang disengaja?

Pria itu mengenakan celana jeans hitam dengan atasan kaos hijau tentara yang bersimbah darah. Aku yakin dia sama terburu-burunya denganku bahkan mungkin lebih parah sampai tidak mempedulikan lagi penampilannya. Rambut berantakan, kotor, berkeringat. Mataku turun memperhatikan lengan kirinya. Lekukan siku dalamnya terdapat perban kecil.

Pandanganku bertemu obsidian cokelatnya yang tajam dan juga tengah menatapku. Seakan terhipnotis, aku tidak sadar tubuhku sudah direngkuh ke dalam pelukannya.

Dadanya bergerak naik-turun sedikit memburu. Mungkin semacam perasaan campur aduk sama sepertiku setelah sekian lama tidak berjumpa dan dipertemukan kembali dalam keadaan riuh seperti ini.

“Lee Yoo Jin,” Dia mengeratkan pelukannya yang tidak kubalas lalu membenamkan wajahnya di bahuku. “aku merindukanmu.” Mengecup bahuku yang polos karena rambutku sudah kupangkas hingga sebatas bahu dan aku hanya mengenakan dress tanpa bahu berlengan panjang.

Rasa ngilu menyerangku. Ini kecupan pertamanya di tubuhku. Reaksiku masih sama. Ternyata efek magis itu masih berlaku rupanya.

.

.

.

Bocah itu masih setia memejamkan mata. Pertama kalinya jarum infus menembus tangan mungilnya. Aku mendesah. Hal pertama yang akan kulakukan begitu matanya terbuka adalah memarahinya. Dia yang memaksa masuk ke sekolah kanak-kanak tahun ini dan sekarang dia mengalami kecelakaan yang membuatku hampir kehilangan jantung.

Kalau bukan pria itu—

Aku ingat bukan hanya aku di ruangan ini. Melainkan ada pria yang berdiri di sebelahku. Kulirik kaosnya yang kotor penuh darah. Kupandangi raut wajahnya yang sendu.

Ada yang mendesak pria ini menahan sesuatu untuk diungkapkan.

“Biarkan aku mencuci bajumu,” Tawaranku berhasil mengalihkan perhatiannya dari putraku. Ah, tidak, putra kami.

“Tidak perlu. Ak—” Dia bungkam. Tanganku bergerak lebih cepat dari mulutnya. Aku menarik kaosnya melewati bahu, leher, dan lepas dari tubuhnya.

Aku terpaku sebentar menatap tubuh bagian atasnya yang tak terbungkus apapun. Tapi segera kutepis perasaan aneh itu dan berjalan ke arah kamar mandi.

“Dia..” kata-katanya menggantung dan sedikit teredam suara keran wastafel yang kunyalakan untuk membilas kaosnya.

Kepalaku melongok keluar. Berusaha tidak menatap tubuhnya yang, yeah, kau tahu siapapun tidak akan menolak jika disuruh menyandarkan kepala disana.

“Usianya berapa?” tanyanya setengah gugup?

“Jo Hyun genap empat tahun dua bulan lalu.”

“Jadi namanya Jo Hyun,” gumamnya. Terkesan heran walaupun tidak ada nada keberatan karena aku memberinya nama itu. Sebenarnya aku sengaja memilih nama itu. “Jo Hyun-ah, mianhae, baru menjengukmu sekarang.”

Seketika aku membeku. Gerakan mencuciku berhenti. “Appa janji tidak akan sembunyi lagi.” Kucengkeram erat pinggiran wastafel sebelum aku jatuh. Bibirku bergetar saat dia memanggil dirinya ‘appa’.

Selama ini tidak pernah ada ‘appa’ di antara kami. Selama ini aku yang merangkap menjadi ayah dan ibu Jo Hyun. Memberikan kasih sayangku sepenuhnya.

Tiba-tiba aku terhenyak dan seolah ditampar keras. Memoriku melayang saat Jo Hyun penasaran siapa ayahnya. Jo Hyun sangat dan ingin bertemu ayahnya.

“Bagaimana bisa kau menyelamatkan Jo Hyun?” tanyaku seusai mencuci kaosnya dan menyampirkannya di pinggiran wastafel.

Dia menghela napas lalu menatapku. “Aku selalu menjemputnya,” Dia melirikku sekilas, “dari kejauhan.” tambahnya cepat-cepat, mungkin setelah melihat dahiku mengkerut.

“Tadi aku sudah was-was saat melihatnya berlari sambil menyeberangi jalan. Sebuah motor datang dari arah tak terduga dan menabraknya. Motor itu lari tanpa mau bertanggung jawab.”

“Ya Tuhan,” desisku pelan. Aku melihat perban yang melilit di kepala kecilnya dan tanpa bisa kutahan air mataku meleleh lagi. Bocah semungil itu ditabrak pengendara motor tidak bertanggung jawab. Kasihan sekali.

Remasan di bahuku menyadarkanku. Pria itu mengikis jarak di antara kami hingga menyisakan beberapa mili saja. Bahkan pundakku sudah bersinggungan dengan lengan berotot miliknya. Mau tidak mau aku mengakui keberadaannya cukup menenangkanku.

“Dokter Kim mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jo Hyun hanya kehilangan darah. Selebihnya, semua baik-baik saja.” Remasan di bahuku menguat seiring derasnya tangisanku.

Dan dia melakukannya lagi. Memelukku seolah-olah aku ini masih miliknya. Memelukku sampai aku takut tulang-tulangku akan remuk dalam pelukannya.

Pelukannya tidak berlangsung lama. Sesuatu bergetar di pahaku. Ternyata itu getar ponselnya. Meski terlihat tidak rela, dia melepaskan pelukannya. “Halo? Tidak, ada apa?”

Dia menepuk keningnya, teringat sesuatu. “Baiklah, aku segera kesana.” Dia menoleh padaku. Ada ekspresi menyesal dan tidak tega disana. “Rapat menunggu,” katanya sembari menggoyangkan ponselnya. “Aku akan datang lagi besok.”

Aku tidak bisa mencegahnya pergi. Alasannya?

Pertama, bukan salahnya jika harus pergi karena ada aku disini yang menjaga Jo Hyun.

Kedua, kami tidak memiliki hubungan apa-apa selain, hmm, mantan suami-istri. Jadi dia tidak harus merasa bertanggung jawab.

Ketiga, ini yang menurutku paling tidak masuk akal. Aku bahkan tidak tahu apakah mereka masih berhubungan atau tidak. Yoo Ri mungkin cemburu kalau tahu pria itu disini bersamaku.

Jadi, tidak perlu menahannya, bukan?

Pria itu memakai kaosnya yang masih basah tapi sudah lebih bersih setelah kugosok habis-habisan. Dia menghampiri ranjang Jo Hyun, membungkukkan badan lalu mengecup pelipis dan tangan putraku. Begitu manis.

“Appa akan mengunjungimu lagi. Tunggu, heum?”

Kukira setelah dia berkata begitu dia akan langsung pergi. Baru beberapa langkah, pria itu berjalan ke arahku lagi. Merenggut kepalaku. Satu kecupan mendarat di puncak kepalaku. Menghantarkan kejutan listrik mendebarkan di sekujur tubuhku.

Tangannya turun meremas bahuku lagi. Kini lebih keras. Seakan sedang menunjukkan dia tidak tega meninggalkanku sendiri.

“Rapat menunggumu, Kyuhyun,”

Kyuhyun. Nama itu kuucapkan lagi setelah sekian tahun aku takut jika melafalkannya maka aku akan terkena sariawan selama satu tahun.

Pria itu tersenyum tipis. Dia mungkin menduga masih teramat sulit untuk memaafkan dan menerima kembali pria sepertinya.

“Aku senang kau memanggil namaku.”

“Aku juga tidak tahu kenapa aku melakukannya.”

.

.

.

Pertemuan hari itu bagiku hanya sepersekon detik. Kyuhyun tidak datang lagi besoknya, besoknya lagi, dan besoknya lagi sampai Jo Hyun keluar dari rumah sakit.

Ada yang tidak kumengerti. Kenapa untuk kesekian kalinya dia membohongiku? Kenapa dia mengatakan seolah-olah itu sebuah janji yang pasti akan ditepatinya? Padahal, kenyataannya, dia mengabaikan semua itu. Pertemuan itu hanya angin lalu baginya.

Tidak untukku.

Aku berpikir keras. Di antara tahun-tahun yang kujalani tanpa dirinya, kenapa harus tahun ini kami bertemu. Kenapa harus hari itu. Bahkan detik itu. Detik yang aku menyesalinya sebab aku jadi sering murung dan terbayang-bayang lagi masa lalu tentangnya.

Sama halnya dengan hari ini. Saat aku berpikir ingin membuang-buang jauh kenangan itu, dia datang.

“Lee Yoo Jin!”

Suara bass itu, aku jelas merekamnya dalam memoriku. Instingku bergerak sendiri. Kepalaku memutar ke belakang. Kyuhyun berlari ke arahku. Melihatnya berlari kencang begitu aku seperti ditarik ke masa lalu.

Kyuhyun berseragam berlari sambil menyerukan namaku. Saking kencangnya dia berlari, dia menubruk tubuhku, memelukku erat, dan tawanya melebar. “Medali emas! Aku mendapatkannya!” serunya sambil menggoncang-goncangkan tubuhku.

Tidak.

Bukan Kyuhyun berseragam yang menggoncangku.

Melainkan Kyuhyun berpakaian kantor. Jasnya sudah tanggal, seluruh kemejanya keluar, rambutnya acak-acakan, tapi itu yang justru membuatnya semakin tampan. Ibu-ibu di belakangku sibuk bergosip sambil mengagumi ketampanan Kyuhyun.

“Kenapa melamun?”

Pertanyaan Kyuhyun membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke kanan dan kiri. Kukira tadi aku diseret ke masa SMA kami. Saat dimana aku sangat mengagumi, menyukai, sampai mencintainya.

“Mencari siapa?”

Lagi-lagi pertanyaan Kyuhyun menarikku kembali ke dunia nyata. Aku menggaruk-garuk tengkukku. Merasa disorientasi. Kenapa aku melamun dan seperti melihat Kyuhyun SMA? Aku benar-benar tidak waras.

“Eomma melamun, ya?”

Aku terkejut. Bagaimana tidak? Jo Hyun, putraku, sudah berada di dalam genggaman Kyuhyun. Kapan kelas Jo Hyun bubar? Dan sejak kapan mereka berdiri bergandengan di depanku?

“Eomma,” Jo Hyun merengek. Dia menggoyang-goyangkan tanganku. Kepalanya mendongak, “Eomma tidak datang-datang, jadi Cho ahjussi yang menjemput Jo Hyun.”

Aku berjongkok di depan Jo Hyun. “Maaf, tadi eomma tidak dengar suara belnya.” Kyuhyun masih menggenggam tangan mungil putraku.

Seketika itu kemarahanku meledak. Aku tidak suka Kyuhyun menyentuh putraku. Aku tidak suka Kyuhyun disini. Aku ingin marah. Meski aku tidak tahu dari mana datangnya amarah itu.

“Tinggalkan putraku, Tuan Cho,” Kuhentakkan tangan mereka hingga terlepas.

Kutarik tubuh Jo Hyun ke belakangku seolah sedang melindunginya. Kyuhyun kaget dengan perubahan sikapku yang tiba-tiba. Kenapa? Apa menurutnya aku wanita murahan yang bisa dengan mudah memaafkannya setelah apa yang dia lakukan padaku?

“Jangan pernah coba mendekati putraku. Dan,” kepalaku menunduk pada Jo Hyun yang bingung menatapku, “Jo Hyun jangan mau dijemput oleh siapapun selain eomma. Mengerti?”

Jo Hyun bingung. Aku tahu. Aku menangkap ekspresinya dengan jelas. Tidak ingin berlama-lama berada di dekat Kyuhyun, aku menggendong Jo Hyun dan berlalu pergi.

Seseorang menahanku. Memaksaku berbalik. Aku terkejut Kyuhyun yang melakukannya. Tatapannya sangat tajam padaku. Seperti samurai yang bisa membunuhku dalam sekali tebas. Dia marah.

Aku pernah sekali mendapat tatapan seperti itu. Malam setelah seharian dia menghilang tanpa kabar dan dia bercinta dengan kasar (re:Switch Chap. 4).

Astaga.

Kutelan ludahku yang terasa pahit. Kalau dulu dia bisa melakukan sesuka hatinya, dia tidak akan melakukan itu padaku sekarang.

“Haruskah aku memberitahu Jo Hyun siapa aku baru aku boleh menemuinya?”

Aku tahu Jo Hyun pasti kebingungan sekarang. Dia mungkin tidak mengerti dengan ucapan Kyuhyun. Tapi aku paling khawatir kalau Jo Hyun sudah mulai bertanya aneh-aneh.

“Memang Cho ahjussi siapa eomma?”

Sebelum aku sempat menjawab pertanyaan polos Jo Hyun, pria itu menyahut duluan, “Appa.” Aku melotot. Dia mengabaikanku. “Mulai sekarang Jo Hyun jangan panggil ahjussi lagi. Tapi, appa.”

“Appa?” Jo Hyun mengulangi ucapan Kyuhyun. Senyumnya terbit.

“Cho Kyuhyun!” bentakku.

“Apa?!” balas Kyuhyun tidak kalah keras.

Rahangnya mengetat. Tatapannya semakin tajam, dingin, dan angkuh. Nyaliku yang ingin membalasnya menciut. Dia terlalu mendominasi. Sejak dulu aku memang tidak pernah berani melawan saat pria itu sedang marah.

Aku marah. Tapi dia lebih marah. Aku tahu dipisahkan paksa dari putranya mungkin hal terberat yang pernah dialaminya.

“Jangan bertengkar, eomma, hmm, appa.”

Ucapan lirih bocah mungil dalam gendonganku menghentikan aksi lempar tatapan marah kami berdua. Kami sadar kami tidak sendirian. Jo Hyun ada bersama kami.

Kyuhyun memutar matanya. Sepertinya kemarahannya meluap. Dia menghadap pada Jo Hyun lalu mengecup kepalanya yang masih dipasang perban.

“Mau pulang ke rumah appa?”

Aku mengernyitkan dahiku. Kuremas lengan kemeja Kyuhyun yang tergulung sampai siku. Meminta perhatiannya. Saat mata kami bertemu, seperti sedang bertelepati, aku menyentaknya: ‘apa maksudmu?’

Pria itu tidak langsung menjawabku. Dia memasang senyumannya di depan Jo Hyun. “Eomma juga akan ikut ke rumah appa. Jo Hyun mau, ya?”

Kali ini bukan remasan lagi yang Kyuhyun dapatkan melainkan cubitan keras di lengannya. Pria itu meringis tapi dia tidak menggubrisku. Sementara Jo Hyun yang tidak tahu apa-apa mengangguk-angguk semangat.

“Jo Hyun mau ikut appa.”

Licik sekali kau, Cho Kyuhyun!

Kyuhyun mengambil alih Jo Hyun ke dalam gendongannya. Jo Hyun dibiarkan duduk di atas pundaknya. Tentu saja malaikat kecilku sangat gembira dibuatnya.

Mengira aku akan melarikan diri, dia meraih tanganku. Merapatkan jari-jemari kami dan tanpa melihat ekspresiku, dia membawa kami ke rumahnya.

.

.

.

Jo Hyun tidak berhenti berbinar sejak mereka memasuki halaman rumah Kyuhyun. Aku mendengus. Saat mau berangkat tadi kami sempat bertengkar.

Aku dengan Jo Hyun, maksudku. Jo Hyun berebut ingin duduk di kursi depan di samping Kyuhyun. Sepertinya sekarang putraku senang dekat-dekat dengan pria itu.

Padahal tadi aku sudah mengumpulkan berbagai makian dan umpatan untuk Kyuhyun kalau kami duduk bersebelahan. Sayangnya, harus kutahan gejolakku dalam dada sampai tinggal kami berdua saja.

Kyuhyun? Halo, apa kabar pria itu? Dia pasti sekarang sudah berjingkrak-jingkrak senang karena memenangkan hati Jo Hyun. Oh, lihat senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya itu. Menyebalkan!

“Tuan muda Cho?” Seorang wanita paruh baya membuka pintu depan. Dia menatapku. “Nona muda?”

Apa aku mengenalnya?

“Aku Yoon ahjumma. Sudah lama kita tidak berjumpa. Anda lupa denganku?”

Pantas. Aku seperti pernah melihat wanita ini. Dia adalah pengasuh Kyuhyun sejak ibu kandungnya meninggal. Aku pernah diajak sekali kesini saat SMA. Aku baru ingat.

“Tentu aku masih mengingatmu, ahjumma.” Kami berpelukan. Hanya sebentar karena Jo Hyun yang berada di gendongan Kyuhyun menarik lenganku.

Ah, Jo Hyun memang anak yang punya keingintahuan tinggi. Dia selalu penasaran dengan siapapun yang dekat dengannya. “Ini Yoon ahjumma, sayang,” Jo Hyun membeo. Dia terkikik geli saat memandang rambut Yoon ahjumma yang memutih.

Kyuhyun berbisik di telinga Jo Hyun sangat pelan sehingga hanya mereka berdua yang tahu dan setelahnya Jo Hyun menganga dan mereka berdua tertawa renyah.

Aku penasaran apa atau siapa yang mereka tertawakan.

Rumah ini bukan rumah Kyuhyun. Ini kediaman utama keluarga Cho. Aku hanya dua kali datang kesini. Pertama, ketika SMA. Kedua, ketika Kyuhyun mengajakku berkenalan dengan ayahnya yang super galak tapi sangat baik hati padaku.

Sekarang yang ketiga kalinya. Dan mungkin untuk terakhir kalinya.

“Siapa?”

Suara berat menggema di seluruh ruangan. Kepalaku terdongak. Seorang pria seusia ayahku melangkah santai menuruni anak tangga. Tuan Cho memberiku tatapan tajamnya namun berubah melembut saat menyadari siapa diriku.

“Yoo Jin?” Aku mengangguk tanpa sadar. Astaga, berapa tahun aku tidak melihat wajah yang sangat mirip dengan Kyuhyun itu?

Tuan Cho langsung berhambur memelukku. Aku membalas pelukannya. Aku sangat menghormatinya. Dia sudah kuanggap seperti ayahku sendiri.

Walaupun kelihatannya galak luar biasa, tapi Tuan Cho pernah memberitahuku kalau dia hanya bersikap lembut pada dua wanita. Istrinya dan aku. Bahkan pada putranya sendiri dia tidak pernah bersikap lembut.

“Apa kabarmu, sayang?”

Aku tersenyum lebar. “Aku sangat baik, aboe—” seketika aku tersadar. Apa yang baru saja akan kukatakan? Aku meringis saat Tuan Cho terkekeh.

“Panggil aku apapun, asal jangan Tuan Cho.” ancamnya sungguhan.

Aku memang kebiasaan memanggilnya ‘aboenim’. Kemudian aku menyadari aku bukan lagi menantu keluarga Cho. Aku harus memanggilnya dengan apa?

“Ayah,” suara Kyuhyun di belakang telingaku membuatku gugup. Jangan berbalik, jangan berbalik. Aku terus merapalkan mantra itu. Aku tahu Kyuhyun sedang berdiri beberapa centi di belakangku. Kalau aku berbalik, sudah pasti kami akan bertubrukan.

“Oh?” mungkin karena seriusnya memperhatikanku, Tuan Cho sampai tidak menyadari kehadiran putranya. Kening Tuan Cho berkerut mengetahui seorang bocah tengah digendong putranya. “Siapa dia?”

Kyuhyun melangkah melewatiku. Jo Hyun sepertinya ketakutan melihat Tuan Cho. “Jo Hyun-ah, ini harabeoji.” Kyuhyun mengarahkan tangan mungil Jo Hyun agar mencium tangan Tuan Cho yang sekarang menampilan wajah bahagia.

“Cucuku? Ini cucuku?”

Entah kenapa kekuatanku untuk menghalau Jo Hyun berkenalan dengan ayah Kyuhyun memudar. Aku tidak tega merusak kebahagiaan orang tua itu saat melihat putraku.

Aku mengerti. Tidak selamanya aku bisa menyembunyikan putraku dari ayah Kyuhyun. Bahkan aku yakin Kyuhyun sendiri memata-matai aku selama ini.

Baiklah, aku bisa meluapkan kekesalanku pada Kyuhyun nanti. Pria itu benar-benar kurang ajar. Menculik putraku kesini sekaligus membuatku tidak berdaya.

Jo Hyun sudah berpindah ke dalam gendongan Tuan Cho kemudian mereka melangkah meninggalkan kami. Semacam memberi waktu kami berbicara.

Tanganku terlipat di depan dada saat Kyuhyun berbalik menatapku. Kami bertukar pandang selama beberapa menit. Kyuhyun lelah, tapi wajahnya menunjukkan berlawanan. Senang, lega, puas.

Oke, Kyuhyun, alasan apa yang kau pakai sekarang untuk membela diri, huh? Aku cukup muak dengan semua tindakan semena-menamu!

“Kau sangat licik.” desisku.

“Sudah semestinya.” Kyuhyun membalasku dengan tenang. Seolah aku ini seekor predator yang harus ditaklukan dengan teknik tertentu supaya aku tidak tiba-tiba menerkamnya.

Aku maju selangkah. Dan aku terkejut dia juga maju selangkah. Jarak sangat dekat begini membuatku sesak. Jadi kuputuskan mundur.

“Mau kemana?” Itu suaraku.

Kyuhyun tidak menjawab. Dia mengaitkan jari-jemari kami seperti tadi. Aku berontak. Kuhentak-hentakkan tanganku agar lepas.

Sia-sia. Dia tetap Cho Kyuhyun yang memiliki kekuatan jauh lebih besar dariku. Terpaksa aku mengikutinya. Aku tidak merasa aneh sampai dia membawaku ke kamarnya!

Pria itu mengunci pintu kamarnya. Menyimpan kuncinya di saku celananya. Tak sampai disitu, aku merasakan tubuhku limbung di atas ranjang Kyuhyun remaja.

“Apa yang kau lakukan?!” teriakku. Bagaimana aku tidak berteriak? Kyuhyun menindihku! Dia berada di atas tubuhku! Tuhan, tidak bisakah lebih buruk dari ini?

Tatapan tajam dan dingin itu lagi. Tajam yang menusuk. Dingin yang menggigil. Kalau disuruh memilih, kau pilih mati ditusuk atau mati kedinginan? Atau keduanya? Aku membeku.

Tidak hanya karena tatapannya melainkan perbuatannya. Tubuh kami menempel. Seolah posisi ini bisa berubah lebih mengerikan. Sesuatu yang menegang menusuk milikku di bawah sana. Tidak perlu dijelaskan. Aku tidak mau memikirkannya.

“Kau mau bertaruh?” akhirnya Kyuhyun membuka percakapan.

“Apa?” sentakku. Ingin sekali kudorong tubuh Kyuhyun menjauh dariku. Tapi, di lain sisi, aku takut kalau perbuatanku bisa membuat pria ini lebih gila lagi.

“Kau mau bertaruh, siapa di antara kita berdua yang paling gila dalam hal berbohong?”

Aku mencibirnya. Aku tertawa. Benar-benar tertawa. Aku merasa geli mendengar tawarannya itu. Pria ini sudah sinting! Dia menanyakan hal sebodoh itu?!

“Kau, brengsek!” umpatku.

Haha! Lihatlah, wajahnya mengeras. Tatapannya menajam. Kyuhyun paling benci dengan wanita yang berani mengumpat padanya. Seumur-umur, mungkin hanya aku yang berani mengumpatnya sekasar ini.

Kyuhyun menekan selangkangannya pada milikku. Ini gila! Aku takut ini akan berujung tidak baik.

“Kau mau aku beberkan semua kebohonganmu? Apa kau yakin kau sanggup?”

Aku balik menatapnya. Aku ingin membalas tatapan tajam itu. Tapi aku takut. Ketakutanku berubah jadi nyata. Kyuhyun menenggelamkan kepalanya di tengkukku. Mengecupnya begitu lama.

Gelenyar-gelenyar aneh menjalar pesat di tubuhku. Sentuhan ini lebih ekstrim dari yang sebelumnya. Kedua tanganku ditahan di atas kepalaku.

Kyuhyun mengangkat wajahnya. Memandangi bibirku. Target selanjutnya. Aku memberontak lagi dengan anggota tubuhku yang bebas. “Lepaskan! Apa yang kau lakukan pada janda sepertiku?!”

“Janda?!” teriaknya. Aku terdiam. “Kau yakin kau adalah janda?!”

Terhenyak. Aku ketakutan. Apa yang Kyuhyun tahu?

Smirk sinis yang tidak pernah kulihat mencuat di sudut bibirnya. Kiamat untukku.

“Kiamat untukmu, Nyonya Cho!”

Detik berikutnya bibirku dipenuhi bibir tebal Kyuhyun. Dia melumatku kasar. Aku sampai kehilangan kesadaranku untuk mendorongnya jauh-jauh, menghentikan ciumannya, dan memakinya. Kyuhyun mendesakku. Dimanapun. Aku tidak bisa lari.

Paling mudah, seperti ciumannya saja, itu pun aku tidak bisa! Bagaimana dengan yang lain?

Seseorang menggedor pintu. Cekalannya di tanganku mengendur. Aku memukul pundaknya. Pria itu bergeming dan melepasku. “SIAPA?!”

“Yak!” seruku lirih. Kyuhyun tersenyum sinis.

“Tuan muda Cho, maaf mengganggu, Jo Hyun buang air di pakaian, hmm, Tuan besar. Tuan besar marah sekali!”

“Sialan!” Aku refleks menutup bibir Kyuhyun yang mengumpat kasar. Padahal masih kasar umpatanku tadi padanya.

Kyuhyun memicingkan matanya menyeramkan. Tak terduga, dia mencium telapak tanganku yang kugunakan untuk membungkam bibirnya.

“Pembicaraan kita belum selesai,” Dia beranjak dari atasku. Menarikku bersamanya berdiri. “Urus Jo Hyun dulu.”

Tanpa diperintah pun aku juga tahu!

“Hey,” Kyuhyun menarikku lagi saat aku buru-buru ingin keluar.

“Apa lagi?” tanyaku tidak sabar ingin segera lari darinya!

“Kiamat menunggumu, ingat!”

KIAMAT!

.

.

.

To Be Continue

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

41 thoughts on “Liars Chapter 1 (Sequel of Switch)

  1. Vikyu says:

    Akhirnya ada sequelnya juga
    Genrenya kayanya berubah, atau emang berubah? Udh han kan sad nya kak ?
    Hahha aku suka genre kaya gini
    Aku bacanya senyum senyum sendiri
    Si cho agresif banget sih
    Tambah lagi yoojin yh mulutnya sekrng pedas banget selalu ngumpat
    Kiamat kiamat … Aku menantinya kyu kkkkk

    Liked by 1 person

  2. fitrirahmawati31 says:

    Akhirnyaa squelnyaaa muncul thor, udh lma saya menantinyaa thor…. jdi slma ini yoo jin dan kyuhyun blm brcerai thor?? Dan ya ampun apakah tuan chk benar2 marh kpd cucunya hnya krna jo hyun buang air kecil d bajunya?? Pensaran sya sma kelanjutannya thor. Dtnggu thor. Fighting😀😀

    Liked by 1 person

  3. ddianshi says:

    Jujur agak lupa sama jalan ceritanya hhe tapi aku suka sequelnya ❤ gomawo saeng udah dibikin sequelnya 🙂 Apa selama ini kyuhyun dan yoojin belum bercerai? Apa yoojin tidak tau masalah yoori??? ugh lucunya jo hyun kkk

    Liked by 1 person

  4. LeeAhn says:

    Aku agak lupa sama part terakhir….
    Mereka g balikan yaaa???
    Tp kayaknya kyuhyun bakal lbh giat deket i yoojin deh… Hehehehe
    Kalo jo hyun mah pasti lengket sama bapaknya…
    Ini yoori kemana yaa??

    Liked by 1 person

  5. Hyun says:

    keknya rada komedi dah ini, marganya masih cho, brati bukan janda xD
    4 tahun ya? ngompol? bhahahhaa xD
    udah pesing itu pipisnya,
    dan yoori akankah jadi penghalanh, lagi?

    Liked by 1 person

  6. Dhianha Kim says:

    Hahaha entah kenapa kok jadi gemesh liat tingkah Kyuhyun. Kirain masih berjuang terus masih sedih2 dan yaa tapi kali ini aku suka mereka akur hahaha btw maksudmu apa Kyu bawa2 kiamat segala. Oke next ^^ makin seru hahahah

    Liked by 1 person

  7. Akhyla307 says:

    Yuhuuuuu ada sequel nyaaa, please kli ini di bikin happy ending yess. Lol kiamat apa tuh yaa mksdnya? Wkwkwkk apa jgn2 mrk gx cerai? Tp yoo jin aja yg berasumsi klo mrk udh cerai.. Ditunggu next part nya. 😉

    Liked by 1 person

  8. sung hye jin says:

    wah akhirnya ada squel jga pen liat masalalu yoo jin s……etelah menolak ajakan nikah kyuhyun trus cara membesarkan anak nya sndiri trus hubungan antara kyuhyun dan yoo ri…….

    Liked by 1 person

  9. Indribaekiii says:

    Yeeeeeeee akhirnya ada sequelnyaaaa

    Seru nihhhh, baru juga ketemu lagi setelah sekian lama kyu udh main ajak ke kamar aja *ups wkwkwkw
    Please kali inj happy ending yahhhh

    Liked by 1 person

  10. syalala says:

    duh ternyata yg dibikin sequelnya switch ihihi aku seneng bgt padahal switch aja aku baru baca skimming loh hehehehe abis cerita so so hurt aku ga kuat tppppp semangat bgt nih baca sequelnya soalnya udah ada johyun!! hahahd an kyuhyun ttp dan selalu mendominasi jd gemas hahahaha lanjuuuttt

    Liked by 1 person

  11. lepina mahesa says:

    Hai aku reader baru, sebenernya gak baru si, uda baca dan ngikutin yang swatch hehe tapi baru pertama kali ini ikutan komentar ,
    Salam kenal chingu😊😊😊

    Liked by 1 person

  12. Hana Choi says:

    Akhirnya sequel yg ditunggu” hadir juga, semoga aja di sequel ini ga bergalau lagi yah karena cukup sebelumnya nangis bombay. Kayanya seruuu dehvdan aku penasaran apa sih kebohongan yg disembuyiin sama yoo jin apa kyuhyun tau kalau yoojin ga nikah sama donghae? Tapi menurutku sosok yoojin terlalu lemah bahkan baru ketemu kyuhyun aja dia pasrah aja tapi ga apa” kok mungkin memang yoojin ga bisa jauh dari pesona kyuhyun hahaha ditunggu next chaoternya eonni

    Liked by 1 person

  13. lyeoja says:

    Semoga gak ada yoo ri yoo ri selanjutnya..
    In si jo hyunkok ngompol di calana, bukannya dia udh gede ya. 😂
    Enakkan gini genrenya, gak ad sad yg mengancam… 😂😂😂

    Fighting luna, ditunggu part2 slnjutnya…

    Liked by 1 person

  14. nenk fresdian says:

    Ah aku sneng sekali ternyata eonie buatin squel mya,
    What apa jangan” kyuhyun gk cerain yo jin makanya kyu ngomong gt,,
    So d tunggu eonie kelanjutan nya,,

    Liked by 1 person

  15. Bluecat says:

    Ala2 malaikat maut eeeiym… Mainannya kiamat 😁

    Maaf tp agk ganjil kl Tuan Cho dg mudahnya marah krn kelakuan Johyun. Scr dia pst happy bgt bs ketemu cucunya. Mgkn cukup sekedar minta Johyun dibersihin ya

    Liked by 1 person

  16. wienfa says:

    aduhh ktinggaln komen n read nih..
    gak nyangka sequel ny di buat juga. mksh bngt nih buat author nya..
    ya ampun jdi slma 4 thun ini brarti kyu gk nemuin yoo jin sma anak nya ya?
    syukurlah mreka udh ktmu n mngkin nmuin ttik trang! eh tapi apa mksd kyu kiamat buat ny.cho itu???? siapa dsni yg patut d slahkan?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s