CLEFT [Chapter 5]

CLEFT Chapter 5
by Luna          

Genre:
NC, Romance, Chaptered

Main Cast:
Kang Soo Jin | Cho Kyuhyun

Support Cast:
Kim Haneul | Choi Siwon | Lee Hyukjae

Cuap-cuap Author:
Halo, halo, ada yang merindukan kelanjutan FF ini? Akhirnya bisa di-update juga 😀 *author ngelap keringet* Tunggu apa lagi? Happy reading^^

cleft

Warning! Typo dimana-dimana!
—oo0000oo—

Haneul menggeram kesal. Pasalnya, saat dia pergi ke lantai teratas untuk menemui Kyuhyun, pemandangan pertama yang dia lihat Kyuhyun sedang menggandeng istrinya keluar dari ruang kerjanya. Gadis itu tampak pucat seperti seseorang yang divonis akan dihukum gantung besok.

“Apa lagi kali ini?”

Dia tidak bisa tinggal diam. Pembelaan yang ditunjukkan Kyuhyun kemarin cukup menjadi bukti kalau pria itu mulai mengubah haluannya. Jangan karena gadis itu mirip dengan mendiang istrinya, Kyuhyun bisa berubah menjadi lemah lembut.

“Annyeonghaseyo, sajangnim.” sapa Haneul sopan.

“Hm, Haneul-ah, bolehkah aku minta tolong?” Kyuhyun melepaskan tangannya dari Soo Jin lalu mendorong bahu istrinya ke depan. “Tolong antarkan istriku ke lobi bawah. Aku sedang ada rapat yang tidak bisa kutinggal. Bisa, kan?”

Apa? Haneul mengeluh dalam hati. Padahal niatnya kemari untuk berbicara empat mata pada Kyuhyun. Kenapa malah dia yang disuruh mengantar gadis ini?

Haneul tidak punya pilihan lain. Meski sedikit tidak rela, akhirnya dia mengantarkan Soo Jin ke lobi bawah sesuai keinginan Kyuhyun. Sepanjang mereka berjalan bersisian, tidak ada yang berbicara sampai lift berdenting keras pertanda mereka sudah sampai di lobi.

“Kita sudah pernah berkenalan waktu di rumah sakit dan kemarin kita juga bertemu.”

“Tentu.” Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa. Dia sedang sangat putus asa. Pikirannya melayang pada kejadian di dalam ruang kerja Kyuhyun tadi. Saat mulutnya yang mudah sekali lepas kontrol ini tanpa sadar menantang pria itu untuk bercinta.

“Ada yang mengganggumu?”

“Ah?” Soo Jin menggeleng. “Tidak. Hanya sedikit pusing. Mungkin karena aku kurang tidur semalam.”

“Hmm, memangnya apa yang kalian lakukan sampai kau kurang tidur?” Jangan-jangan..

“Sepertinya aku akan langsung pulang.” Tiba-tiba Soo Jin merasa disorientasi. Bukannya menjawab pertanyaan itu, dia malah ingin buru-buru pergi. “Terima kasih sudah mengantarku.” Setelah membungkuk sekilas, Soo Jin keluar melalui pintu ganda gedung.

“Apa jangan-jangan mereka sudah..?” Haneul memutar tumitnya. Dia ingin mendengar jawabannya dari mulut Kyuhyun. Semoga saja belum. Karena dia akan menghalanginya apapun yang terjadi.

.

.

.

Nenek sihir itu kembali. Menunggangi sapu terbangnya. Haha. Tidak, dengan mobil mewahnya tentu saja.

“Ibu—” Hanna memotong ucapan Soo Jin dengan mengangkat sebelah tangannya. Setelah itu dia melenggang melewati Soo Jin masuk ke dalam rumah.

“Ambil kopermu.” titah Hanna membuat Soo Jin tergagap.

“I-ibu, tapi, aku—” Lagi-lagi Hanna menyela perkataannya. Wanita tua berkelas itu berbalik menghadap Soo Jin yang gemetaran di tempatnya berdiri. Dia tersenyum misterius.

“Aku tidak mau mengusirmu. Maksudku, siapkan pakaianmu dan Kyuhyun karena kita akan pergi berlibur satu keluarga besar Cho.”

“Apa?”

.

.

.

“Kenapa tidak bilang kalau perginya sore ini juga, Bu?”

Kyuhyun, masih mengenakan kemeja biru lautnya yang kusut sambil menenteng jas putihnya, menghampiri Ibunya yang sedang menikmati makan malam dengan bibinya.

Kesal? Pastinya. Bayangkan saja, Kyuhyun baru dikabari dua jam sebelum keberangkatan kalau dia harus bergegas menuju dermaga! Memangnya dia punya jet pribadi yang bisa mengantarnya ke dermaga dalam waktu sesingkat itu? Tahu sendiri kan, bagaimana macetnya jalanan Seoul di jam-jam semua orang pulang kerja?

Kemarin Ibunya memang sudah mengatakan akan mengajaknya berlibur tiga hari di Pulau Jeju satu keluarga besar Cho. Tapi Kyuhyun tidak tahu kalau perginya hari ini juga.

“Kejutan, putraku,” ucap Hanna tenang seraya memasukkan potongan daging steak ke dalam mulutnya.

“Lalu dimana Soo Jin?”

Hanna setengah membanting garpunya hingga beradu dengan piring dan menimbulkan suara berisik. Wanita itu mendongak memandang putranya. “Kenapa sejak kau menikah dengan gadis itu kau jadi tidak punya sopan santun pada ibumu?”

Kyuhyun berdecak. Dia memang orang terakhir yang masuk ke dalam kapal, jadinya dia belum melihat Soo Jin sama sekali. “Kenapa Ibu malah mengalihkan pertanyaanku?”

“Ck, sudah kubilang kan, gadis itu memberi pengaruh buruk padamu. Untung saja Ibu membawa Haneul dan adiknya ikut bersama kita.”

“Apa?”

Sebenarnya ini acara berlibur satu keluarga atau apa sih? Kenapa mengajak Haneul dan adiknya juga?

“Dia sedang makan di luar. Tenang, Ibu tidak mungkin meninggalkan istri kesayanganmu.” Hanna sengaja menekankan kata ‘istri kesayangan’ untuk menyindir Kyuhyun. Sementara pria itu hanya melengos pergi tidak peduli. Sudah kebal dengan segala sindiran Ibunya pada gadis yang menjadi istrinya.

Kyuhyun menaiki tangga menuju ruang makan terbuka di atas dek kapal. Begitu melihat Soo Jin sedang menikmati minumannya ditemani Haneul dan Myungsoo, dia menghela napas.

“Oh, Kyuhyun?” Haneul orang pertama yang menyadari kedatangan Kyuhyun.

“Halo, hyung!” sapa Myungsoo sambil tersenyum lebar. Dia berpelukan sebentar dengan Kyuhyun lalu pria itu langsung mengambil tempat di samping Soo Jin. Gadis itu hanya menatapnya tanpa ekspresi.

Tidak. Bukan tanpa ekspresi. Hanya, kepala Soo Jin penuh dengan pikiran apa yang akan mereka lakukan malam ini. Jika Kyuhyun sungguh ingin melakukannya, kenapa dia merasa belum siap? Akankah dia menyerahkan mahkotanya pada pria yang punya kebiasaan menggonta-ganti sikapnya? Kadang baik, kadang jahat.

“Soo-ya, kita tinggalkan mereka berdua.” bisik Haneul kemudian menarik lengan adik laki-lakinya meninggalkan pasangan itu. Sebenarnya Haneul tidak serius dengan ucapannya. Dia tidak mungkin benar-benar meninggalkan mereka.

“Kenapa tidak memberitahuku kalau Ibu mengajak pergi sore ini?”

“Ah?” Soo Jin menoleh. Dan entah kenapa, menatap wajah Kyuhyun justru mengingatkannya pada ucapan bodohnya di kantor pria itu. Soo Jin memalingkan mukanya. “Ibu terburu-buru sekali tadi. Aku tidak sempat memberitahumu.”

Kyuhyun melipat tangannya di depan dada. Tatapannya menajam menyelidik. “Kau tidak lupa kan?”

“A-apa?”

“Aku akan tetap melakukannya malam ini. Tidak di rumah, di atas kapal malah kedengarannya keren.”

Soo Jin membelalakkan mata. Dia menoleh cepat. Dan pandangan pertama yang dia lihat adalah wajah lelah khas milik Kyuhyun sehabis pulang kerja tapi tetap saja tidak memudarkan ketampanannya. Apakah dia belum mengatakan kalau suaminya ini punya ketampanan setaraf dewa-dewa yunani?

Tapi, kembali pada topik yang sedang mereka bahas, Soo Jin merasa pipinya memanas. “Bisa tidak kita tidak usah melakukannya?”

“Tidak bisa.” tolak Kyuhyun cepat. “Mana boleh begitu? Ingat, kau sendiri yang menyuruhku membuktikannya sendiri.” Ujung alisnya mencuat ke atas. Soo Jin merasa dirinya ciut di kursinya.

“Setelah aku mandi, oke?” bisiknya pelan di telinga kiri Soo Jin, membuatnya merinding. Kyuhyun tersenyum lebar. “Ngomong-ngomong, dimana kamar kita?”

Soo Jin membanting punggungnya ke sandaran kursi. Dia menghembuskan napasnya keras-keras. “Tidak ada jalan keluar.” Dia menggeleng-geleng. “Mati aku!”

Rupanya, disana bukan hanya ada mereka berdua. Melainkan Haneul yang menjadi pengamat setia dari jauh, mendengar percakapan mereka.

Tadi pagi, saat Haneul bertanya pada Kyuhyun apa yang akan pria itu lakukan pada Soo Jin, pria itu hanya tersenyum. Mendengar percakapan mereka barusan semakin meyakinkan Haneul rencana apa yang mereka miliki malam ini.

Satu-satunya alasan keberangkatan liburan keluarga Cho dipercepat adalah karena kecurigaan Haneul. Dia melaporkan semuanya pada Nyonya Cho.

Sama halnya dengan Haneul, Ibu Kyuhyun tentu tidak setuju kalau sampai Kyuhyun memiliki anak lagi dari gadis yang tidak direstuinya itu seperti dahulu. Ibu Kyuhyun sedari dulu memang hanya mengharapkan Haneul yang menjadi menantunya karena Haneul memang pantas bersanding dengan putranya.

.

.

.

“Kita akan sama-sama membuktikan.”

Sekujur bulu kuduk yang menempel di tubuh Soo Jin meremang. Gadis itu berdiri bertatapan dengan Kyuhyun yang ekpresinya tak terbaca. Satu tegukan ludah lolos melalui tenggorokannya. Jantungnya berdegup kencang.

Kau bisa menolaknya. Kau bisa menolaknya.

“Bisakah kita bernegoisasi?”

Kyuhyun cemberut. Dia menggeleng. Bukan itu yang ingin ia dengar. Dia hanya ingin menyelesaikannya cepat, tanpa perasaan, dan membuktikan sendiri kalau gadis itu masih perawan. Malam ini.

“Tidak, tentu tidak. Kau sendiri yang menyerahkan dirimu padaku.”

“Tapi kita tidak pernah menandatangani apapun tentang melakukan hubungan, hmm, intim.” Suara Soo Jin semakin lama kian melemah. Jujur, dia malu saat mengucapkannya. Bahkan dia memalingkan mukanya kemanapun asal tidak menghadap suaminya.

“Memang tidak pernah. Tapi aku juga tidak berjanji tidak akan menyentuhmu.” Kyuhyun mengambil dua langkah lebar yang cukup menggapai tubuh Soo Jin. “Lagipula ini hanya ajang pembuktian. Aku akan melakukannya dengan cepat sampai kau tidak merasa bahwa kita sudah melakukannya.”

Kening Soo Jin mengernyit. Itu artinya, apa yang akan mereka lakukan, tidak akan berefek apapun pada hubungan mereka di dunia nyata? Aish, bodoh! Memang kau mengharapkan apa, Kang Soo Jin? Apa kau berharap setelah mereka bercinta Kyuhyun akan berubah baik padamu? Mimpi saja!

“Apa kau takut aku akan menyakitimu?” Kyuhyun menggenggam tangan Soo Jin. Diremasnya tangan itu. “Tenang saja, aku sudah sangat profesional melakukannya.”

Soo Jin balik meremas tangan Kyuhyun. Kantong empedunya seperti naik ke kerongkongan. Pahit sekali. “Apa kau harus mengatakannya sejelas itu?”

“Supaya kau tidak ketakutan.” Kyuhyun terkikik geli. Setakut itukah Soo Jin? Ini artinya gadis itu memang belum pernah sama sekali melakukannya. Dan jika itu benar, dia akan memerawani gadis lagi untuk yang kedua kalinya dalam hidupnya.

Soo Jin menggigit bibir bawahnya. Dia menatap kedua iris cokelat itu lama. Sampai dia menemukan keraguan dalam dirinya lenyap. Di kepalanya hanya ada bayangan Kyuhyun yang baik padanya, yang terkadang mencemaskannya, yang sederhana.

Jantungnya semakin berdegup keras saat Kyuhyun tiba-tiba memeluknya dari belakang. Melemaskan otot lututnya. Pria itu menenggelamkan wajahnya di lekukan antara leher dan pundaknya kemudian mengecupnya.

Ketakutan Soo Jin perlahan memudar saat merasakan aroma yang sangat wangi yang terkuar dari tubuh Kyuhyun. Apa pria itu sengaja menciptakan suasana seperti ini? Suasana menggelikan sekaligus aneh ini?

Tok! Tok!

“Kyuu~”

Kyuhyun berdecak kesal. “Sialan. Siapa yang mengganggu?!” Kyuhyun mengeratkan pelukannya di tubuh Soo Jin lalu memberikan dua kecupan di bahu gadis itu.

“Itu suara Ibu.” Bisik Soo Jin seraya melepaskan pelukan Kyuhyun darinya lalu berbalik. “Sebaiknya kau menemui Ibu dulu. A-aku—”

Tatapan Kyuhyun menajam. “Aku bilang apa soal cepat dalam melakukannya?” Kyuhyun mendorong pelan tubuh Soo Jin ke ranjang, setengah menindihnya, lalu berbisik pelan di telinganya.

“Ibu bisa menunggu. Siapapun bisa menunggu. Tapi ini,” Soo Jin membelalak ketika merasakan sesuatu yang keras menempel di perutnya dan mendesak turun. Dia tahu itu apa! “Tidak bisa menunggu. Dan apa perlu kuingatkan lagi, kau mempunyai janji untuk membuktikan padaku, sayang.”

Kyuhyun menggeram kemudian bibirnya melumat bibir Soo Jin penuh gairah. Soo Jin hanya diam tidak membalas. Namun tuntutan Kyuhyun agar Soo Jin membalas ciumannya, memaksa gadis itu menyerah. Dia membalas ciuman Kyuhyun untuk pertama kalinya. Lidah mereka saling mencecap satu sama lain.

Kyuhyun senang saat Soo Jin membalas ciumannya. Dia akan pura-pura tuli untuk beberapa menit ke depan. Membiarkan Ibunya menunggu tidak masalah bukan?

“Dimulai dari sini,” Kyuhyun menurunkan celana jins milik Soo Jin berikut celana dalamnya lalu mengecup paha dalam gadis itu sampai dia mengerang. Desahan yang pertama telah keluar. Kyuhyun melanjutkan kecupannya, mengecup pusat tubuhnya, menyiksa Soo Jin dengan sengaja. Gadis itu meremas sprei ranjang tanpa ampun. Dia tidak pernah merasa sepanas ini. Dia tidak pernah disentuh pria manapun sampai tahap ini. Tidak, selain Kyuhyun.

“Akh!”

“Klimaks yang pertama.” Kyuhyun mengecup bibir Soo Jin. Gadis itu terengah-engah. Sesuatu mengalir dari tubuh bawahnya. Mengalir tanpa diperintah dan membuatnya malu setengah mati, atau, jijik?

Sejurus kemudian Soo Jin merasa bodoh karena membiarkan ini terjadi padanya. Harusnya dia tidak semudah itu. Harusnya dia melakukannya dengan pria yang mencintainya. Bukan karena mempergunakan ini semua sebagai ajang pertunjukan saja.

“Kau yang memulainya,” Kyuhyun mengusap dahi Soo Jin yang berkeringat. Gadis itu membuka matanya. Kabut bergairah dan ketakutan yang terpancar dari sana. “dan biarkan aku yang mengakhirinya.”

Kalau saja Soo Jin bisa, dia ingin menjerit sekeras-kerasnya saat Kyuhyun menurunkan celana piyamanya dan membebaskan miliknya yang tegak dan keras. Soo Jin tidak pernah melihat kejantanan milik pria dewasa. Apakah benda sebesar itu bisa masuk ke dalam miliknya?

“Bisa.” kata Kyuhyun seolah menjawab pertanyaan Soo Jin dalam hati. “Mungkin ini bisa membantumu menyesuaikan sebelum aku benar-benar masuk.” Kyuhyun menundukkan wajahnya, mencium Soo Jin dengan ciuman yang sangat lembut. Dia tidak bisa tidak menjerit dalam ciuman mereka ketika satu jari Kyuhyun memasukinya. Bergerak masuk dan keluar terus menerus membuat kepalanya pening. Kyuhyun menambah satu jarinya lagi sehingga kini dua jarinya menyiksa tubuhnya di bawah sana.

Sesuatu di dalam perutnya terasa teraduk-aduk, ada yang ingin meledak, dan itu menyiksanya. “Lepaskan untukku.”

Sial! Umpat Soo Jin dalam hati. Dia menggeleng. Tidak tahu harus melepaskannya atau menahannya atau bagaimana? Pikirannya campur aduk!

Gerakan jari Kyuhyun di dalam tubuhnya semakin cepat, cepat, menggoda titik-titik rangsang yang tidak pernah Soo Jin ketahui dia miliki. Dan di saat dia sudah tidak kuat lagi menahannya, dia melepaskannya dengan jari Kyuhyun masih berada di dalam dirinya.

“Yang kedua,” Kyuhyun mengecup daun telinga Soo Jin lalu menggigitnya gemas. Soo Jin mengerang saat Kyuhyun mengeluarkan kedua jarinya. Gadis itu memejamkan matanya kuat-kuat. Dia tidak punya keberanian sama sekali menatap Kyuhyun. Oh, dia bahkan berharap besok dia tidak akan melihat pria ini lagi.

“Tarik napasmu.” Kyuhyun menunggu. Gadis di bawah kuasanya ini hanya menghembuskan napas pendek-pendek tapi tidak merespon perintahnya. Sebenarnya Kyuhyun juga merasa dirinya aneh. Kenapa dia bisa selembut ini pada seorang gadis? Dan kenapa jantungnya malah berdebar tak karuan?

“Aku bilang tarik napasmu dan aku akan menuntaskannya secepat yang kubisa.” Kyuhyun mengerang dalam hati. Sebuah suara menggema di kepalanya. Alarm berbunyi keras di kepalanya.

Tidak. Soo Jin tidak sama dengan Seena. Dulu Seena tidak setakut ini padanya. Tapi Soo Jin, gadis itu jelas-jelas sedang ketakutan. Tubuhnya bergemetar.

Apa dia harus mengakhirinya? Begitu saja? Lalu bagaimana dengan miliknya yang sudah tersiksa meminta pelepasan? Lalu apa gunanya dia melakukannya pada gadis yang sedang ketakutan? Itu justru menyakitinya.

Tapi, bukankah itu tujuanmu? Menyiksa gadis ini sampai di titik dia akan bertekuk lutut di kakimu?

Pemikiran itu menguatkan Kyuhyun untuk bertindak lebih. Dia tidak akan berhenti. Tepat saat Kyuhyun hendak melesakkan batang tubuhnya ke dalam milik Soo Jin, gadis itu membuka matanya. Membuat Kyuhyun sedikit terkejut.

“Apa ini hanya sebuah pembuktian? Apakah ini tidak akan mengubah apapun?”

Kyuhyun tertegun. Dia sampai berpikir keras apa maksud pertanyaan Soo Jin di tengah-tengah mereka akan melakukannya. Mengalihkannya? Menghentikannya?

“Jika kau berharap sesuatu akan berubah setelah kita melakukannya,” Soo Jin menjerit! Kyuhyun melesakkan kejantanannya ke dalam lubang hangat milik Soo Jin dalam satu hentakan. “maaf,” Kyuhyun mendorong pinggulnya ke depan, semakin menanamkan miliknya sempurna di dalam, “tidak akan ada yang berubah.”

Kening Kyuhyun mengernyit, sesuatu membuatnya penasaran. Dia mendorong miliknya semakin dalam hingga Soo Jin mengerang dan menjerit. Seakan sedang memastikan sesuatu, Kyuhyun terus mendorong lebih dalam hingga merasakan sesuatu telah dirobeknya dan benar, darah segar menetes keluar mengalir pada batang tubuhnya.

“Aku membuktikannya. Aku tamu pertamamu?” Rupanya Soo Jin semenjak tadi tidak menutup matanya sama sekali. Dia menatap nanar Kyuhyun. Dia tidak berbohong. Dia yang menyerahkan mahkotanya pada Kyuhyun, suaminya. Tidak mungkin Soo Jin memberikannya pada pria lain.

Hati Kyuhyun tetap saja menghangat kala Soo Jin mengangguk. Dia merasa puas telah berhasil membuktikan kebenaran ucapan gadis yang pada awal perkenalan mereka selalu bermulut pedas. Walaupun beberapa terakhir ini sikap gadis itu mulai berubah. Tidak segalak dulu.

“Tapi sepertinya aku akan mempertimbangkan sesuatu,” Permainan belum selesai. Kyuhyun menggerakkan pinggulnya keluar dan masuk, mendorong titik-titik paling sensitif di bagian dalam tubuh Soo Jin tanpa ampun.

Soo Jin mencengkeram kedua lengan Kyuhyun, mencakar kulitnya saat tubuh bagian bawahnya terus terdorong dan dia mendapat pelepasannya bersama Kyuhyun di dalam miliknya. Rahimnya menghangat oleh cairan pelepasan mereka. Soo Jin tidak bisa menyebut itu percintaan, karena mereka memang tidak saling mencintai.

Tidak, melainkan cinta sepihak.

Dia mencintai pria ini.

Sebut dia gila.

Tapi, dia memang mencintai Kyuhyun. Suaminya yang suka berubah-ubah sifatnya. Dia begitu menyadari terlalu banyak teka-teki yang dimiliki oleh Kyuhyun.

Mungkin karena itu juga alasannya dia merelakan kegadisannya malam ini untuk Kyuhyun. Mahkota yang dijaganya dengan baik-baik selama ini diperuntukkan untuk seseorang yang dicintainya. Suaminya, Cho Kyuhyun.

“seperti, menjadi pengganti Seena.” Lanjutan ucapan Kyuhyun mencengangkan Soo Jin. Kyuhyun tersenyum padanya.

Oh, benarkah senyum itu untuknya? Lagi-lagi nama itu yang dia sebut. Kenapa rasanya hatinya sangat perih? Kyuhyun seperti telah menumpahkan air jeruk di atas lukanya.

Kyuhyun menggerakan tubuhnya lagi. “Seena, oh Seena!” Kyuhyun mendesah keras.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, Soo Jin menyesal telah memilih Kyuhyun sebagai pria yang dicintainya.

.

.

.

Epilog

Kyuhyun POV

Andai aku tidak ingat sedang berada dimana kami sekarang, mungkin ciuman ini akan berakhir di atas meja kerjaku.

Untungnya juga aku tidak mempunyai kamar khusus disini sehingga menutup peluangku bisa meniduri Soo Jin. Seandainya, juga, aku tidak ingat di luar sana belasan orang menungguku dengan sabar.

“Jangan biarkan bibir manis ini berbicara macam-macam. Mengerti?” Aku mengusap bibir Soo Jin yang bengkak dan merah.

Rasa bibir Soo Jin memang sangat manis seperti candu yang memabukkan. Aku sudah menyadarinya saat pertama kali aku menciumnya di rumah sakit. Kumajukan wajahku dan kucium lagi bibir merahnya. Melumatnya beberapa detik sebelum ketukan di pintu menyela ciuman kami. Hyukjae berdeham-deham tidak jelas.

“Bos, ehem—kau ditunggu,”

Kulirik Soo Jin yang langsung menundukkan kepala begitu bawahanku memergoki kami sedang berciuman. “Satu menit lagi.” ucapku tanpa mengalihkan perhatianku dari Soo Jin.

Begitu pintu tertutup, aku berbisik pelan di telinganya, “Aku tidak akan membiarkanmu kabur tanpa tanggung jawab.”

“M-maksudnya?”

“Aku menginginkan lebih, asal kau tahu.”

Hening sebentar. Dia melongo di depanku. Kukira dia akan memasang wajah bodoh begitu sampai aku pergi. Ternyata tidak. Dia menyentakku, “Tidak mau!”

Aku terkekeh sinis. “Kenapa? Kau takut ketahuan kalau kau sudah tidak perawan?”

Aku tahu aku keterlaluan. Tapi kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa diperintah. Sejak lama memang aku penasaran. Apakah Soo Jin masih perawan atau tidak. Mengingat pekerjaannya dan pakaiannya malam itu, err, aku tidak yakin. Coba pikirkan, berapa kira-kira pria yang kegirangan mendapat tontonan gratis seorang gadis setengah telanjang?

Pikiran itu membuatku mual. Atau, berapa kira-kira pria yang pernah melesakkan miliknya ke dalam tubuh gadis ini? Tanganku terkepal di samping tubuh.

“Aku bisa saja membuktikan padamu jika aku masih perawan!”

“Benarkah?” Muka Soo Jin memucat. Aha! Apa sekarang kau sedang menggigit lidahmu, sayang? “Jangan tarik ucapanmu. Karena aku akan membuktikannya sendiri malam ini.”

.

.

.

To Be Continue

 

Advertisements

29 thoughts on “CLEFT [Chapter 5]

  1. Vikyu says:

    Ga pengen jadi soojin
    Yang bener aja , untuk pertana kali dalam hidupnya ehh malah kyu neriakin seena
    Kapan kyu sadar kalau yg dia lakukan itu salah
    Lagian emak kyu kenapa sih
    Toh bapak nya kyu stuju banget
    Next semangat kak

    Liked by 1 person

  2. Hyun says:

    Entahlah aku bingung, disini yg jahat itu Gyu apa Luna xD
    Kesel banget tau, apaan coba maksudnya anggap soojin itu seena, ah semoga itu bukti penyangkalan Gyu aja, gue yakin hatinya gyu udah Nerima soojin, cuma egonya kaga bisa Nerima…

    Liked by 1 person

  3. shfly3424Arista says:

    Udhkan udh lihat ya
    Klw soojin msh gadis

    Cm kyu aj yg udh lama gak perjaka

    Tuuhhhh terjadi jg

    Yg lain ga bs menghalangi kyu buat buktiin klw soojin msh gadis

    Tp skrg udh ga gadis lagi nih

    Liked by 1 person

  4. elfrye says:

    Kyu nanti akn terjebak dg permainannya sendiri..ga mau jatuh cinta sm soojin tp mlh akn tergila2..
    Soojin hrs menanggung beban krn di jadiin kyu pengganti sena..

    Liked by 1 person

  5. LeeAhn says:

    Kyuhyun g ada rasa minimal kasian kek, kasian bgt pas gituan yg g inget kyu malah seena, nyesek g hati soojin….
    Blm ntar kelakuan2 apalagi yg d perbuat kyuhyun…
    Maknya n haneul kompak bgt g suka…
    Ya ampun kabur aja deh soojin…

    Liked by 1 person

  6. ddianshi says:

    Sumpah rasanya pengen nendang tuh mukanya kyuhyun >_< kenapa menyebut mantan istrinya saat sedang bersama soo jin 😦 pastikan kyuhyun menyesal sudah menyakiti soo jin 😥 ditunggu bgt part selanjutnya saeng semangat ❤

    Liked by 1 person

  7. Vyea Lyn says:

    Weh…Weh…Weh…Kyuhyun benar” keterlaluan!!!
    Masa bercinta dgn Soojin dia menyebut Seena.

    Ati” Kyu jangan sampai nelen suara sendiri. Udah bilang kan,,klo tidak ada yg akan berubah….tapi gimana klo kamu sendiri yg menginginkan perubahan itu??

    Liked by 1 person

  8. ama@0224 says:

    WOW..pembuktian kyuhyun berkhasil..tp apa akan ada yg berubah dari kyuhun…masa msh ingin terus memikirkan mantan istrinya yg sudah tiada….kasian soojin gmn nasib dia selanjutnya???

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s