Switch [Chapter 9]

Switch Chapter 9
by Luna

Genre:
Sad, Married-life, Romance, Chaptered

Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin | Lee Yoo Ri

Cuap-cuap Author:
Sulit, beneran sulit, mau ngepost aja sampe mikir sejutaa kali. Habisnya gimana ya?
Ceritanya udah klimaks dan spoiler aja kita bakal pisah sama karakter-karakter ini dalam waktu dekat 😥
Akan banyak kejadian mengejutkan di next part 😉
Happy reading^^

d

Warning typo bertebaran!
—oo0000oo—
Chapter 9
Saying, Crying

Sesuatu yang mendesak tenggorokan membuat Kyuhyun tergugah. Matanya mengedar ke sekeliling ruangan yang serba putih dengan aroma khas rumah sakit. Walaupun kepalanya masih terasa pening, tapi sakit di lambungnya sedikit berkurang.

Seseorang membuka pintu ruangan. Gadis itu tidak datang sendirian. Melainkan bersama dokter wanita dengan stetoskop menggantung di lehernya dan seorang perawat yang membawa nampan berisi makanan yang langsung diletakkan di atas nakas samping tempat tidurnya.

“Selamat pagi, Tuan Cho. Aku Dokter Park yang bertanggung jawab atas anda. Apa yang anda rasakan, Tuan?” Kyuhyun menggeleng sebagai jawaban. Tenggorokannya terlalu kering sekadar menjawab pertanyaan sederhana itu.

Dokter Park mulai memeriksa Kyuhyun, menekan bagian kiri perutnya yang ditanggapi ringisan lirih. Tangan si dokter berpindah ke bagian perut yang lain, Kyuhyun merintih lagi. “Anda terlambat makan?”

Kyuhyun menggeleng, “Tidak makan dua hari.”

Dokter Park menghela napas panjang. Kyuhyun bukan pasien pertamanya yang datang dengan keluhan sakit di bagian kiri perutnya karena tidak makan secara teratur.

“Anda terkena gastritis akut. Aku akan meresepkan obat yang perlu anda minum sebelum makan dan beberapa vitamin. Aku sarankan agar beristirahat yang cukup dan makan yang teratur. Itu cukup membantu untuk kesembuhan anda saat ini.”

Dokter Park mengalihkan perhatiannya pada gadis yang masuk dengannya. “Terima kasih, nona Min, sudah membawanya kemari.” Gadis itu mengangguk sebelum Dokter Park berjalan keluar diikuti si perawat.

“Aku mencemaskanmu.”

Bukannya menghiraukan perkataan Dokter Park, Kyuhyun lebih tertarik mengajak bicara gadis yang sejak dia masuk memasang ekspresi dingin yang tidak pernah dilihat Kyuhyun.

Yoo Jin tidak langsung menjawab. Dia mengambil segelas air dari atas nakas kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun membantu Kyuhyun untuk minum. Kyuhyun menurut meski dalam hati penasaran dengan kediaman gadis itu.

Yoo Jin memang berniat mengacuhkan Kyuhyun. Dia kesal. Bagaimana bisa pria itu tidak makan dua hari? Apa dia mau mati perlahan?

Dan kekesalannya makin bertambah mengetahui pria itu sama sekali tidak berusaha mengobati luka-luka di wajahnya. Tadi saja saat dia membawa Kyuhyun kemari, para perawat sampai mengira Kyuhyun adalah korban kekerasan.

“Aku mencarimu di setiap lantai dan perawat-perawat itu tidak memiliki datamu sebagai pasien—”

“Sampai matipun kau tidak akan menemukan nama Lee Yoo Jin disini.” sela Yoo Jin cepat, “Apa kau lupa margaku bukan Lee lagi.”

Penjelasan singkat itu menyadarkan Kyuhyun. Bodoh! Tentu saja Yoo Jin akan menggunakan marga Min untuk mendaftar di rumah sakit ini!

Kyuhyun menahan lengan Yoo Jin yang hendak pergi. “Maaf, aku terlalu panik karena kau tidak ada di kamarmu.”

“Tidak masalah.”

“Aku tahu ini salahku. Seharusnya aku yang menjengukmu. Tapi sekarang kau justru yang merawatku dan,” Kyuhyun membasahi bibirnya.

Dia ragu apakah harus meminta Yoo Jin tinggal atau tidak. Mengingat mood gadis itu sepertinya sedang kurang baik. “bolehkah aku memintamu untuk tinggal?”

“Bukan aku yang merawatmu, tapi perawat yang berjaga.”

“Kau mau tinggal?” tanya Kyuhyun lagi saat Yoo Jin tidak menanggapi permintaannya.

“Aku punya kamar sendiri disini. Kau bisa memencet tombol itu jika perlu sesuatu.” Yoo Jin menunjuk tombol merah milik pasien yang dipergunakan untuk keadaan darurat. Gadis itu berkelit agar Kyuhyun melepaskan lengannya.

“Sebaiknya kau beristirahat. Aku mau kembali ke kamarku.” Kyuhyun bergeming.

Cekalan Kyuhyun yang melemah di lengannya dimanfaatkan Yoo Jin untuk melepaskan diri.

Kyuhyun tidak mendapat petunjuk apapun dari sikap dinginnya. Gadis itu menghindarinya. Apa karena dia terlambat datang? Atau apa karena Yoo Jin muak melihat wajahnya? Atau apa?

Terlalu banyak ‘atau apa’ tidak akan menyelesaikan masalah. Daripada mati penasaran, lebih baik bertanya langsung.

Kyuhyun menyibak selimutnya dan turun dari ranjang. Biarlah Yoo Jin akan bersikap dingin padanya. Yang penting dia harus bertemu dengan gadis itu.

.

.

.

“Ya Tuhan, Cho Kyuhyun, kenapa kau keras kepala sekali!”

Yoo Jin tidak mengerti jalan pikiran Kyuhyun. Baru saja semenit dia meninggalkan pria itu, tiba-tiba dia sudah berada di dalam kamarnya. Kekesalannya pada pria itu belum mereda. Haruskah pria itu menambah kejengkelan lagi di hatinya?

“Aku datang untuk melihatmu. Memenuhi permintaanmu. Tapi kau malah menghindar.” Jawaban polos itu membuat Yoo Jin memutar bola matanya.

“Tadi. Kalau kau datang tiga menit sesuai ucapanmu.”

“Alasannya sudah kukatakan, aku tidak—” Yoo Jin mengangkat tangannya menghentikan kalimat Kyuhyun.

“Keluar.”

Kyuhyun melongo. Hanya itu? Kyuhyun sudah jauh-jauh datang, mengebut di jalan seperti orang kesetanan dan begitu sampai gadis itu tidak ada. Kyuhyun berlari kesana-kemari mencarinya sampai jatuh pingsan dan sekarang Yoo Jin malah menyuruhnya keluar?

“Lain kali kau harus memperhitungkan ucapanmu. Sekarang keluar, Kyu, aku ingin istirahat.” Kyuhyun memperhatikan wajah Yoo Jin. Tidak bisa dipungkiri gadis itu lelah.

Perkiraannya sekarang sudah hampir jam enam pagi dan mungkin selama dia pingsan gadis itu yang menunggunya. Harusnya Kyuhyun tidak lupa kalau Yoo Jin sedang hamil dan tidak boleh kelelahan. Harusnya dia membiarkan Yoo Jin beristirahat. Huh, lagi-lagi ini salahnya.

“Kau benar, maafkan aku.”

Kyuhyun membalikkan badan. Bahunya merosot karena kecewa tidak tahu alasan Yoo Jin memintanya datang. Walaupun kecewa, dia tidak merasa kedatangannya sia-sia.

Melihat dan berbicara dengan gadis itu saja sudah menentramkan hatinya. Mungkin dia perlu bersabar dan mencoba datang lagi besok. Atau besoknya lagi. Atau besok besoknya lagi.

Sampai pintu kamarnya tertutup, Yoo Jin menghempaskan pantatnya di ranjang. “Dia sudah pergi, keluarlah.”

Coba tebak, siapa?

“Akting eonni luar biasa!”

Hyo Rin keluar dari kamar mandi dengan seringaian puas di bibir.

“Tapi aku tidak suka berbohong. Aku benar-benar khawatir tadi saat Kyuhyun tiba-tiba pingsan.”

Ini semua rencana Hyo Rin. Dia membolehkan Yoo Jin memberi kesempatan pada Kyuhyun dengan cara yang ekstrim. Menyuruh Kyuhyun datang tengah malam dan membuat pria itu kelimpungan mencari Yoo Jin yang tiba-tiba menghilang.

Sesuai dugaan, Kyuhyun panik. Dan betapa bodohnya pria itu. Mau dia mengelilingi rumah sakit sampai ke gudang sekalipun, tidak akan pernah ada pasien bernama Lee Yoo Jin. Karena gadis itu telah terdaftar atas nama Min.

Mereka memantau gerak-gerik Kyuhyun dari jauh. Begitu pria itu berada di taman dan Yoo Jin hendak mengakhiri sandiwaranya, Kyuhyun pingsan. Otomatis Yoo Jin diserang kepanikan. Jangan-jangan karena Kyuhyun kelelahan mencarinya dia berakhir tidak sadarkan diri.

“Tenang saja eonni, biar aku yang mengaturnya. Kau hanya duduk manis dan berakting seperti tadi.”

Hyo Rin menyunggingkan senyum penuh teka-tekinya. Bagaimana rasanya bermain api seperti yang pria itu lakukan pada kakaknya? Luar biasa kan?

“Uh, sekarang apa lagi?”

.

.

.

Perkiraan Hyo Rin benar lagi. Kyuhyun datang siangnya dengan sekretarisnya, Kim Ryeowook. Pria itu membawa keranjang buah dan sebuket mawar segar.

Idenya adalah bagaimana caranya menahan Kyuhyun di rumah sakit sampai pria itu lupa dengan rapat saham yang akan dihadirinya pukul satu siang.

Hyo Rin tahu dari ayahnya yang juga menghadiri rapat tersebut. Kebetulan juga Yoo Jin sudah diperbolehkan pulang hari ini. Jadilah, rencana Hyo Rin pasti berhasil lagi.

Disinilah Hyo Rin memulai aksinya. Dia akan mengalihkan perhatian Ryeowook sementara.

“Kudengar kalau lewat jalan biasanya akan terkena macet. Kudengar ada demo buruh di gedung pabrik tekstil dekat sana.”

“Oh ya?” Ryeowook mencoba mengingat-ingat, benar ya ada pabrik di jalan menuju kantor?

“Tentu! Asal kau tahu, Ryeowook-ssi, aku adalah gadis paling update masa kini. Aku tidak mungkin salah mendapat informasi!”

Hyo Rin cekikikan dalam hati mengetahui kepolosan apa kebodohan sekretaris Kyuhyun ini. Padahal dia sering melalui jalan itu setiap hari. Kalau dia memperhatikan jalan seharusnya dia tahu jika pabrik tekstil itu adalah abal-abal.

“Wah, aku harus memberitahu bos untuk mencari jalan memutar.”

Bagus!

“Ah iya, Ryeowook-ssi, aku lupa bilang padamu. Kakakku pulang hari ini. Mungkinkah Kyuhyun mau mengantarnya? Kebetulan aku juga harus ke kantor setelah ini.”

Hyo Rin pura-pura melihat jam tangannya, menunjukkan jika dia benar-benar sibuk.

“Bos tidak akan keberatan!” ucap Ryeowook lantang. “Bos sangat menyayangi nona Yoo Jin. Yah, walaupun mereka sudah berpisah, aku tahu hidup bos masih bergantung pada nona Yoo Jin. Kau tahu Hyo Rin-ssi, bos sampai memutuskan hubungannya dengan nona Yoo Ri.”

“APA?!”

Perawat yang kebetulan lewat di depan mereka langsung melotot mendengar teriakan tidak terhormat Hyo Rin. Gadis itu buru-buru menutup mulut sambil membungkukkan badan meminta maaf atas ketidaksopanannya.

Berita luar biasa apa ini?! “Kau tidak berbohong kan, Ryeowook-ssi?”

Ryeowook menggeleng. “Aku adalah pria yang memegang ucapanku. Demi Tuhan, hubungan mereka telah berakhir.”

“Kapan?”

“Kemarin.”

WHAT?! Kali ini Hyo Rin berteriak dalam hati. Takut kalau dia berteriak lagi pasien di dalam kamar-kamar akan mendemonya.

Brengsek Kyuhyun! Maksud pria itu apa sebenarnya?

Sedetik lalu menceraikan Yoo Jin dan ingin menikahi Yoo Ri. Lalu sedetik kemudian memutuskan hubungannya dengan Yoo Ri dan meminta kembali pada Yoo Jin. Seenaknya saja!

Sepertinya rencananya siang ini memang harus benar-benar terlaksana. Kalau perlu rapat saham itu harus berantakan dan perusahaan Kyuhyun harus terguncang!

“Ryeowook-ssi, agaknya kita bisa menjadi partner ter-update! Kau bisa memberitahuku apapun tentang Kyuhyun dan aku akan memberitahumu apa saja yang kau inginkan. Bagaimana?”

Tawaran yang menggiurkan oleh gadis secantik Hyo Rin. Bagaimana Ryeowook mau menolak? Dia langsung mengangguk setuju. “DEAL!”

Tepat saat itu, Yoo Jin keluar kamar dan dibelakangnya berdiri Kyuhyun sedang menenteng tas jinjing berisi pakaian milik gadis itu. Hyo Rin memberi sinyal pada Yoo Jin lewat kedipan matanya.

“Kyuhyun-ssi, aku percayakan kakakku padamu. Bisa ‘kan?” tanya Hyo Rin sok dingin. Dia sengaja memasang wajah angkuh agar Kyuhyun tidak curiga.

Kyuhyun menghela napas pendek. “Tentu, kajja.”

Hyo Rin mengecup pipi kanan kakaknya sambil berbisik, “Eonni, jangan lupa rencana kita.”

Yoo Jin mengangguk kemudian melambaikan tangannya sekilas sembari melangkah pergi. Dia tidak tahu apakah keputusannya menghukum Kyuhyun dengan caranya benar atau tidak. Tapi semoga saja benar. Sebab Yoo Jin tidak mau menyesal karena sekarang dirinya yang berbalik membohongi pria ini.

.

.

.

“Ya Tuhan, kenapa kau lewat jalan ini?”

Kyuhyun mengacak-acak rambutnya kesal. Matanya berkali-kali melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Satu jam mereka terjebak macet!

Padahal harusnya 30 menit lalu dia sudah berada di ruang rapat. Rapat saham siang ini sifatnya sangat penting. Berapa lama lagi mereka terjebak disini?

“Apa turunkan aku disini saja? Aku bisa mencari taksi—”

“Dan membiarkanmu pulang sendirian?” Kyuhyun menoleh pada Yoo Jin yang menampakkan ekspresi tidak enak. “Kau pikir aku setega itu?”

Yoo Jin mengedikkan bahunya. Kau juga dulu setega itu padaku, Kyu! Mengingat kenyataan pahit itu Yoo Jin mendengus. Benar, Kyuhyun pernah tega mengkhianatinya.

Hatinya yang sempat melemah dan ingin mengakhiri kepura-puraan ini lenyap. Benar, kemarahan memang sumber kekuatannya saat ini. Jangan karena Kyuhyun berkata menyesal, dia juga berhenti.

“Ryeowook-ah, coba kau memutar di bundaran itu, kita lewat jalan kecil setelahnya.”

“Oke, bos!” Ryeowook memutar setirnya mengikuti arahan yang diberikan Kyuhyun. Ternyata benar, jalan kecil yang dimaksud Kyuhyun cukup lengang. Meskipun jarak tempuhnya lebih jauh dari jalan utama.

Tak sampai dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di depan rumah Yoo Jin. “Terima kasih sudah mengantarku,” dan maaf sudah membohongimu. Tambah Yoo Jin dalam hati.

“Tidak masalah. Aku tidak bisa berlama-lama, aku pamit.” Kyuhyun masuk ke dalam mobilnya yang segera meluncur keluar dari kompleks perumahan.

Tuhan, kenapa dia tidak bisa senang saat berbohong pada Kyuhyun padahal dahulu pria itu tanpa bersalahnya sering berbohong padanya?

Meski Yoo Jin sudah memaku hatinya agar tetap tegar, tapi tetap saja sisi baik dalam dirinya mengelak. Dia tidak suka balas dendam. Dia tidak suka berbohong. Dia tidak suka berpura-pura.

Kata-kata Hyo Rin terngiang lagi. Memang ada beberapa orang yang harus dihukum dulu baru sadar akan kesalahannya. Dan dia bilang Kyuhyun termasuk golongan itu. Tapi apakah dia harus menghukum Kyuhyun dengan cara yang pernah pria itu lakukan padanya?

Yoo Jin menghela napas. Dia hanya berharap semoga kejadian hari ini tidak akan berakibat fatal pada perusahaan Kyuhyun.

.

.

.

Sial!

Kyuhyun berlari tergopoh-gopoh menuju lift eksekutif. Baru saja semalam dia berlarian di rumah sakit. Siangnya dia berlari-lari di kantornya sendiri.

Setelah lift berdenting keras, Kyuhyun bergegas keluar sambil mengancingkan jasnya, mendorong pintu ruang rapat yang sudah dipenuhi petinggi perusahaan yang menunggunya dua jam!

Kyuhyun mengatur napasnya yang terengah-engah. Berdeham-deham di depan podium. Di depan tatapan lelah dan malas dari orang-orang yang berumur jauh di atasnya.

Bayangkan saja, siapa yang mengundang mereka datang, siapa juga yang datang terlambat?

“Selamat si—”

Min Hyun Sik mengangkat tangannya ke atas. Menghentikan salam Kyuhyun.

“Apakah anda tidak memiliki jam tangan, Tuan Cho? Tidakkah anda lihat pukul berapa sekarang? Kami menunggu anda tanpa jamuan apapun. Kesibukan kami bukan hanya menghadiri rapat ini. Padahal banyak di antara kami juga memiliki kesibukan lain.”

Sebagian orang mengangguk mengiyakan penuturan Min Hyun Sik. Oh, ayolah, pekerjaan mereka bukan hanya mengikuti satu rapat di satu tempat saja. Dan Kyuhyun menyia-nyiakan hal itu.

“Jika bukan karena loyalitas kami, sudah sedari tadi kami meninggalkan ruangan ini.”

“Kami jauh-jauh datang mengusahakan agar tidak terlambat, anda sendiri yang terlambat.”

Kyuhyun menelan ludahnya. Ini salahnya. Ini salahnya. “Saya memohon maaf atas keterlambatan saya yang tidak disengaja. Saya mohon agar para petinggi perusahaan mau memberikan saya kesempatan melanjutkan rapat hari ini.”

“Saya keberatan,” ucap Min Hyun Sik. “Keterlambatan anda jelas sekali tidak menunjukkan adanya keseriusan anda untuk membahas rapat saham kali ini.”

“Saya hanya membutuhkan dua menit untuk—”

“Tujuan saya memenuhi undangan anda juga sebenarnya ingin memberitahukan bahwa saya akan mencabut saham saya dari perusahaan anda. Permisi.”

Min Hyun Sik bangkit dari kursi yang membuat pantatnya dua jam ini terbakar. Satu-satunya yang dia inginkan sekarang adalah angkat kaki dari kantor ini.

Keputusannya bukan tanpa alasan. Sejak dia tahu Kyuhyun adala orang yang selama ini menghancurkan hidup putrinya, detik itu juga dia tidak sudi lagi berurusan dengan Kyuhyun.

“T-tunggu dulu, Tuan Min, an—” Kyuhyun turun dari podium dan mengejar Min Hyun Sik yang sudah berjalan cepat meninggalkan ruang rapat.

Beberapa petinggi lain pun mengikuti keluar. Meninggalkan Kyuhyun yang kelimpungan memohon agar memikirkan kembali keputusan mereka.

Bagaimana nasib perusahaan yang menghidupi ribuan karyawan jika deretan pemegang saham tertinggi mencabut sahamnya?

Tidak ada yang tersisa di dalam ruang rapat selain Lee Seung Hoon dan tiga pria lainnya.

Pemegang saham terkecil sekaligus mantan mertuanya itu menghampiri Kyuhyun yang mengerang kesal sambil menendang kakinya ke udara sangat frustrasi.

“Nak,”

Lihat, bahkan setelah mereka tidak memiliki hubungan apapun selain mantan menantu-mertua, Lee Seung Hoon tetap memanggilnya ‘nak’.

Kyuhyun merasakan remasan di pundaknya dan menoleh. Menengok isi ruang rapat yang ditinggali empat orang saja dari tujuh belas lainnya yang memutuskan pergi, Kyuhyun menghela napas.

“Aku tidak tahu apa yang kau kerjakan di luar sana. Aku cukup kecewa padamu hari ini.” Lee Seung Hoon mengerti jika perbuatan Kyuhyun pada putri angkatnya sangat mengecewakan dan tidak termaafkan.

Tapi dia tidak pernah mengikut-campurkan masalah pribadi dengan kantor. Dia tetap berusaha bersikap se-profesional mungkin.

Meski rasanya tangannya gatal ingin memukul Kyuhyun, dia ingat mereka sedang berada dimana orang-orang bisa melihat mereka.

“Maafkan aku Ayah, hmm, Tuan Lee.” Kyuhyun mengetatkan rahangnya. Dia masih saja suka keceplosan memanggil Lee Seung Hoon ‘Ayah’. Menghilangkan kebiasaan memang sulit.

Lee Seung Hoon tersenyum kaku. Sebagian hatinya senang Kyuhyun memanggilnya Ayah. Yah, Kyuhyun adalah menantu kesayangannya yang sudah dianggap putra satu-satunya di keluarga Lee.

“Kami berempat akan tetap mendukung perusahaanmu, jangan khawatir. Tapi sepertinya hal tersulit adalah meyakinkan belasan kepala lain. Jangan menyerah.”

Lee Seung Hoon meremas pundak Kyuhyun sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan rapat berikut tidak orang lainnya.

Kyuhyun menendang pintu ruangan rapat keras-keras. Menutup wajahnya dengan kepalan tangannya. Kenapa jadi begini?

Selama ini dia tidak pernah mengecewakan orang-orang yang bekerjasama dengan perusahaannya. Bagaimana ini? Jika perhitungannya benar, mungkin dalam waktu dekat sahamnya akan terjun bebas.

.

.

.

Tepat. Saham perusahaan Kyuhyun merosot. Drastis. Keadaan perusahaan yang semula aman-aman saja tiba-tiba saja terjun ke titik kritis. Kyuhyun pontang-panting menghubungi petinggi perusahaan yang mencabut saham mereka dari perusahaannya.

Dari tujuh belas telepon, lima di antaranya menolak, tujuh lainnya tidak bisa dihubungi, dan sisanya masih mempertimbangkan. Karyawan perusahaannya mulai goyah, takut jika suatu hari nanti akan ada pemutusan kerja besar-besaran untuk mengurangi beban perusahaan.

Bahkan ayahnya sendiri angkat tangan dan tidak peduli. Pasalnya pasca kejadian penamparan di rumah utama lalu, Cho Young Hwan benar-benar mengabaikan putranya.

Segala apapun yang terjadi di perusahaan tidak lagi menjadi tanggung jawabnya. Meski perusahaan itu sampai bangkrut, selama putranya masih mempertahankan hubungannya dengan Yoo Ri, Cho Young Hwan tidak akan sudi ikut campur lagi urusan putra semata wayangnya.

Kyuhyun membanting telepon di ruang kerjanya. Lima hari dia tidak tidur. Memperhitungkan segala kemungkinan dari A sampai Z yang bisa dia lakukan supaya perusahaannya bisa terselamatkan.

Mendatangkan investor asing tidak semudah yang dia bayangkan sebelumnya. Beberapa dari mereka masih belum memberi jawaban sementara kondisi perusahaannya tidak bisa digantungkan dan menunggu.

“Bos!”

“APA?!” bentak Kyuhyun. Dia sudah cukup lelah beberapa hari ini. Kepalanya ingin pecah dan emosinya mudah meledak-ledak.

Jangan sampai apa yang akan dibicarakan Ryeowook adalah hal tidak penting. Skala prioritas utamanya sekarang adalah perusahaan. Jika bukan tentang perusahaan, jangan harap dia bersedia meladeni.

Ryeowook menanggapi sikap marah Kyuhyun dengan senyuman. “Barusan aku mendapat telepon dari Mr. Zhang. Dia menerima tawaranmu bos dengan beberapa pertimbangan.”

Gerakan tangan Kyuhyun memijat pelipisnya terhenti. Kepalanya menoleh cepat pada Ryeowook yang menyeringai lebar. “Kau tidak bercanda, kan?” Mr. Zhang adalah salah satu investor dari Cina yang diharap-harap memberikan investasinya sebesar mungkin untuk perusahaan.

“Tidak, bos. Mana pernah aku bercanda tentang hal segenting ini. Kau diminta merencanakan pertemuan di Cina.”

“Hari ini! Aku tidak akan menundanya lagi. Segera siapkan penerbangan tercepat siang ini juga.”

“Oke, bos.”

Setelah Ryeowook menutup pintu, Kyuhyun menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Satu masalah sebentar lagi akan selesai. Kyuhyun tersenyum lega.

Jika Mr. Zhang menyetujui penawarannya, kemungkinan perusahaan tertolong adalah 65 persen. Sisanya masih bisa diusahakan dari pertimbangan pemegang saham. Kalau mereka mengiyakan, setidaknya perusahaan akan berada di titik terendah tapi aman. Bagus.

.

.

.

Yoo Jin tidak pernah memaafkan dirinya sendiri kalau sampai perusahaan Kyuhyun hancur. Perusahaan itu adalah perusahaan warisan keluarganya. Dibangun dengan air mata darah dari nol hingga sebesar sekarang.

Berita perusahaan Kyuhyun yang mengalami penurunan saham drastis menyebar di seluruh penjuru Korea. Yoo Jin tidak akan menutup mata dan berpura-pura tidak tahu. Jika bukan karena rencananya dengan Hyo Rin waktu itu, Kyuhyun tidak akan melewatkan rapatnya dan perusahaannya akan baik-baik saja sekarang.

Disinilah Yoo Jin sekarang. Mengobrol dengan pria tua yang masih kelihatan segar di umurnya yang menginjak kepala lima. Mr. Zhang adalah salah satu kolega JN Chorp yang erat hubungannya dengannya saat Yoo Jin masih menjabat sebagai Presdir.

“Aku dengar ada pergantian jabatan Presdir, benarkah?”

Yoo Jin tersenyum kemudian meletakkan cangkir tehnya di atas meja. “Benar. Aku hanya mengisi kekosongan jabatan. Begitu pewaris asli JN Chorp kembali, aku mengundurkan diri.”

“Sangat disayangkan. Padahal kau adalah partner bisnis yang tangguh dan menyenangkan, nona Lee. Aku tidak pernah mendengar kabar perusahaanmu lagi. Apa sudah bangkrut?” Mr. Zhang tertawa.

“Tentu saja tidak. Jujur aku juga tidak begitu paham dengan perkembangan JN Chorp beberapa terakhir ini. Tapi perusahaan milik orang tua angkatku tidak akan semudah itu tergerus dan tersaingi dengan perusahaan baru bangun.”

Perkembangan orang tuanya saja Yoo Jin tidak tahu. Akses ke rumah keluarga Lee sulit ditembus. Yoo Jin menduga Yoo Ri sengaja melakukannya agar komunikasinya dengan orang tuanya terputus.

Mr. Zhang mengerutkan keningnya. Sepertinya ada informasi penting yang tidak diketahuinya tentang wanita muda di depannya. “Orang tua angkat?” Dia menaikkan alisnya tinggi-tinggi.

“Benar. Lee Seung Hoon bukan ayah kandungku.”

“Whoa, aku baru tahu! Padahal kukira kau adalah putrinya. Kalian benar-benar membuat para orang tua iri dengan kedekatan kalian.”

“Kuharap anda merahasiakannya, Mr. Zhang,”

“Bukan masalah besar. Aku terkejut. Kupikir ini April Mop dan kau berusaha melucu nona, hmm, aku harus memanggilmu siapa?”

“Min Yoo Jin. Ah, sejujurnya aku tidak berniat mengganti namaku. Karena nama Lee Yoo Jin cukup populer di Cina.” Mr. Zhang tertawa lagi.

Apa yang dikatakan Yoo Jin memang benar. Kesuksesannya di usia yang ke 25 tahun di dunia bisnis internasional, siapa yang tidak kenal?

Wanita itu sering mendapat undangan kerja sama dengan pihak luar dan otomatis namanya termasuk deretan teratas pengusaha sukses wanita tingkat mancanegara.

“Nah, nona Lee, jadi adakah yang kau butuhkan sampai kau rela jauh-jauh datang ke kantorku?”

Ini dia. Yoo Jin menunggu-nunggu sampai Mr. Zhang yang bertanya. Dia terlalu tidak enak jika meminta padanya padahal dia tidak menjabat apapun di perusahaan manapun sekarang. Yoo Jin berdeham dua kali.

“Bolehkah aku meminta bantuan?”

.

.

.

“Terima kasih banyak atas kerjasamanya, Mr. Zhang.” Kyuhyun menjabat tangan Mr. Zhang tanpa ragu. Senyumnya kian melebar setelah penandatanganan persetujuan bahwa Mr. Zhang menjadi salah satu investor asing di perusahaannya.

“Berterima kasihlah pada istrimu. Aku tahu, kau tidak menyesal menikahi wanita setangguh dia.”

Kyuhyun mengernyitkan keningnya. Istrinya? Oh, itu mengingatkannya pada Yoo Jin. Dia menduda sekarang. Siapakah yang dimaksud Mr. Zhang disini?

Mr. Zhang menepuk-nepuk pundak Kyuhyun kemudian berjalan keluar dari ruang rapat sebelum Kyuhyun sempat bertanya lebih.

Ada orang yang mengaku sebagai istrinya? Dan menurutnya orang itu juga yang membantu supaya Mr. Zhang menyetujui tawarannya.

Udara malam menyergapnya saat berada di luar gedung. Kyuhyun merapatkan coatnya sambil bergegas menuju mobil sewaan yang diparkir di tempat khusus depan gedung.

Langkah Kyuhyun berhenti. Gerakannya menggosok tangan berhenti. Seorang gadis sedang menyandarkan punggungnya di mobilnya dengan kaki diketuk-ketukkan ke aspal jalan. Kedua tangannya dimasukkan ke saku coatnya dan kepalanya setengah menunduk. Apa yang kau lakukan disini?

Gadis itu mendongak dan pandangan mereka bertemu.

Untuk sepersekian detik Kyuhyun tidak bisa memfokuskan pandangannya selain pada gadis itu.

Segenap aliran darah di tubuhnya seperti berhenti mengalir. Otot-otot kakinya seakan lumpuh. Matanya tidak berkedip sama sekali. Dan dadanya berdegup kencang sekencang pukulan genderang memainkan tarian ular.

Gadis itu tersenyum. Sama hangatnya seperti dulu. Perlahan namun pasti gadis itu berjalan menghampirinya. “Selamat atas kerjasamamu, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun menatap tangan yang terulur padanya. Tidak ingin membuat gadis itu menunggu uluran tangannya disambut dengan tarikan tegas dan pelukan erat.

Tubuh gadis itu membeku, terlalu kaget dengan perbuatannya barusan. Kyuhyun mempererat pelukannya. Melabuhkan wajahnya di antara rambut panjang gadis itu.

Aroma mawar yang bercampur dengan parfumnya itu membuat hatinya tenang.

Gadis ini yang dia butuhkan untuk membagi kebahagiaannya. Gadis ini yang dia butuhkan untuk menghabiskan sisa hidup bersamanya. Gadis ini yang dia butuhkan sekalipun dunia membencinya asal gadis ini berada di sisinya dia tidak akan pernah khawatir.

Kyuhyun mengeratkan pelukannya sampai tidak ada jarak lagi di antara mereka. Satu bulir menetes di ujung matanya. Malu. Mengingat perbuatannya dahulu. Dia yang brengsek. Membohonginya ampun-ampunan. Menyakitinya terlalu banyak.

Tapi apa yang dia lihat sekarang? Semua orang pergi di saat dia mengalamui hari-hari yang buruk, gadis ini justru menjadi satu-satunya orang yang masih peduli.

“Lee Yoo Jin,” Kyuhyun membersitkan hidungnya. Menguburkan wajahnya di bahu gadis itu, “Aku mencintaimu.” Kyuhyun menahan agar Yoo Jin tetap berada dalam dekapannya meski gadis itu bergerak meminta dilepas.

“Aku tidak berbohong saat aku mengatakan aku mencintaimu. Maafkan aku. Kesalahanku, kebodohanku, keegoisanku, kurang tegasnya diriku dalam mengambil keputusan sehingga kau terluka. Aku meminta maaf.”

Yoo Jin berhenti bernapas. Oksigennya terenggut oleh kata-kata Kyuhyun. Pria itu tulus, dia tahu. Tapi bisakah hatinya menerimanya? Lukanya belum lama sembuh.

Lalu apa yang kau lakukan disini, Yoo Jin? Berdiri berjam-jam menunggu pria itu. Adakah alasan lain selain hatimu yang menginginkannya?

Kyuhyun melonggarkan pelukannya. Dan Yoo Jin terkejut melihat mata pria di depannya sembab dan air mata menetes lagi dari sudut matanya.

Tangannya refleks terangkat mengusap air mata itu. Dan Kyuhyun bersumpah kalau tidak ada lagi yang diinginkannya di dunia ini selain keberadaan Yoo Jin.

“Jangan katakan kau yang meminta Mr. Zhang membantuku?”

“Aku memang melakukannya.”

“Untuk apa?”

.

.

.

Yoo Jin POV

Aku juga tidak tahu. Aku hanya mengikuti instingku datang kesini. Aku tidak tahan melihatmu terpuruk karena sebenarnya aku juga ikut andil dalam masalah ini.

Dan lebih dari itu, karena aku masih mencintaimu. Kuhembuskan napas panjang kemudian aku tersenyum lagi.

“Hanya ingin.” Kyuhyun menaikkan kedua alisnya bingung. Sebelum dia berkata lagi, aku langung melanjutkan kata-kataku yang bermakna ganda. “Apa lagi yang bisa kulakukan selain membantumu?”

“Sampai sejauh ini?” Pertanyaannya seolah ingin menegaskan sesuatu jika prasangkanya benar tentang sesuatu yang tidak kutahu apa itu.

“Apa salahnya?”

“Tapi, untuk apa?”

Dia masih saja mendesakku. Mungkinkah Kyuhyun sadar kalau aku membantunya karena perasaanku padanya masih sama?

Entah kenapa aku tidak ingin Kyuhyun tahu. Aku yakin dia akan melakukan apapun agar aku kembali. Sedangkan dia masih berhubungan kan dengan Yoo Ri?

“Kalau kau berpikir aku membantumu karena aku masih memiliki perasaan padamu, kau salah.” Sontak Kyuhyun melepaskan pelukannya dariku. Pelukan hangat yang kurindukan setiap malamnya. Oh, jangan!

“Kau adalah pria yang pernah berbuat baik padaku di masa lalu, meski itu hanya pura-pura, tetap saja aku merasa harus membalas kebaikanmu.”

“Hanya itu?” Kyuhyun seolah berharap aku mengatakan sebaliknya. Aku mengangguk. Berusaha sekuat mungkin tidak mengabaikan tatapan sedih yang tersemat di wajah Kyuhyun.

Maafkan aku, Kyuhyun, aku harus mengatakan hal menyakitkan ini padamu.

“Apakah kau benar-benar penasaran?”

Kyuhyun mengangguk.

Baiklah, dengarkan aku baik-baik, Kyuhyun.

“Terima kasih sudah menjadi masa laluku yang indah. Menghiasi hari-hariku dengan kebahagiaan yang kutahu hanya semu belaka. Terima kasih atas sakit hatinya, aku tersanjung sampai detik ini aku tidak memohon padamu untuk kembali malah sebaliknya.”

Kutelan ludahku yang terasa pahit. Aku akan pura-pura buta oleh tatapan terluka Kyuhyun yang kutahu dia pasti merasa aku sedang menyindirnya.

“Alasanku selain untuk membantumu sekaligus ingin mengucapkan selamat tinggal.”

“Apa?”

“Aku sudah menemukan ayah yang tepat untuk bayiku. Aku akan menikah dalam waktu dekat. Jadi kumohon, mulai detik ini jangan pernah mencoba mendekatiku lagi.”

Dan kutahu dunia Kyuhyun runtuh saat ini juga.

Begitupun aku.

.

.

.

To Be Continue

Advertisements

55 thoughts on “Switch [Chapter 9]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s