Big Baby Sitter Part 1

Big Baby Sitter Part 1
By Luna

Genre:
Romance, Twoshoot

Cast:
Cho Kyuhyun | Shim Hiu Hwi

Cuap-cuap Author:
Bukannya ngelanjutin FF Switch malah ngepost FF baru wkwk._.
Peribahasa ‘Sambil nyelam minum air’ bukan ‘Sambil nyelam kelelep air’ emang bener 😀
Otakku lagi buntu mikirin kelanjutan Switch. Jadi deh malah bikin FF lain hihi
Harap maklum, hidup author bak nano-nano kalo mikir Switch terus 😀
Happy Reading^^

Warning! Typo beterbangan!
—oo0000oo—

Ting tong! Ting tong!

Pintu rumah minimalis itu terbuka lebar.

Menampilkan sosok pria khas bangun tidur, rambut acak-acakan, mata setengah terpejam, wajah bengkak, dan ada bekas iler mengering menempel di sudut bibirnya. Memakai atasan kaos putih, celana piyama yang menggantung di pinggang, kaos kaki pink polkadot mencolok, dan sandal dengan kepala hello kitty di atasnya.

Oh, jangan lupakan boneka teddy bear besar yang sedang dirangkulnya di depan dada.

Pemandangan yang sangat jarang Hiu Hwi temukan pada seorang pria yang layak mendapat predikat: BAYI BESAR.

“Annyeong haseyo, aku Shim Hiu Hwi, tetangga baru depan rumah—” si pria menguap lebar, menghentikan kalimat Hiu Hwi. Dia mencecap-cecap ludahnya seperti anak kecil. Astaga, berapa sih umur orang ini?

“Ah, ini,” Hiu Hwi sampai lupa tujuan awalnya kesini gara-gara sibuk memperhatikan pria di depannya. Dia menyodorkan parcel berisi jenis makanan khas dari daerahnya dulu, Mokpo.

Si pria—masih dengan setengah terpejam dan mencecap ludah—menengok parcel Hiu Hwi tak berselera, menyambarnya, dan blam!

Tanpa mengatakan apapun dia langsung menutup pintu rumahnya di depan muka Hiu Hwi.

“Yaish! Dasar orang kota tidak tau sopan santun.”

Sembari menggeleng-geleng, Hiu Hwi bergegas pergi. Waktu masuk sekolah sudah mepet dan dia tidak mau terlambat di hari pertamanya masuk sekolah.

.

.

.

HOAM!

Kyuhyun menguap lebar-lebar sambil melangkah pelan di koridor sekolah. Pemandangan sekolah yang membosankan. Kelas yang berisik yang didominasi oleh gosipan ibu-ibu arisan, entah apa mereka bicarakan.

Paling-paling seputar pacar, boyband baru yang masih muda dan menggemaskan, fashion kekinian dan segala tetek bengeknya.

Bayangan Seonsaengnim yang akan mengoceh hingga mulut mereka berbusa dari pagi sampai sore. Tidak ada yang menarik.

“Pagi, Kyu!”

Hyukjae merangkul pundak Kyuhyun akrab yang dibalas kedikan bahu jijik dari empunya. Kyuhyun paling malas kalau Hyukjae sudah muncul.

Pasti pria ini akan membicarakan film-film yadong terbaru yang baru di download-nya semalam. “Kau tau…”

“YAK! Tanpa perlu kau bicara aku sudah tau kemana arah omonganmu itu. Pasti tidak jauh-jauh dari film yadong!”

Hyukjae terkekeh. Matanya berbinar-binar penuh kemesuman. Siap melancarkan aksi mulut yadongnya ke satu temannya ini.

Kyuhyun memukul kepala Hyukjae agar otak pria itu beres sedikit. Kalau dia setiap hari disodorkan film-film tidak bermoral begitu, otaknya bisa jadi sama mesumnya dengan otak monyet satu ini.

“Heissh, kau tolak-tolak akhirnya kau mau juga, kan? Ayolah, Kyu! Kali ini yadongnya benar-benar eunggh nikmat pokoknya!”

“Sialan! Aku tidak mau!” Kyuhyun berjalan mendahului ke kelas.

Kyuhyun benar-benar harus menghindari segala godaan menjijikkan—yang memang membuat penasaran—dan membatasi bahan bacaannya tentang hal itu. Bisa-bisa dia dewasa sebelum waktunya! Hoho!

Harusnya otaknya diisi oleh hal-hal berguna. Sesuatu yang bisa menyukseskannya di masa depan.

Sebentar lagi kan ujian kelulusan yang disusul dengan ujian perguruan tinggi yang dengar-dengar sangat sulit menembus perguruan tinggi terutama yang favorit.

Apalagi trade record-nya selama sekolah tidak ada bagus-bagusnya. Otomatis dia harus belajar ekstra. Wah tumben sekali otaknya benar!

“KYAA!! Tikus! Tikus!”

Tiba-tiba kelasnya yang semula berisik bertambah ricuh seperti pendemo di depan kantor wakil rakyat, teriak-teriak tidak jelas dan parahnya jeritan-jeritan murid perempuan bisa terdengar dari kelas sampai ujung lapangan upacara yang jaraknya 200 meter.

WOW!

Sedangkan Kyuhyun, dengan santainya masuk ke kelas sambil bersiul—menunjukkan betapa tenangnya pria itu—lalu menduduki bangku miliknya.

Milik sekolah sebenarnya, tapi ya karena dia suka duduk disitu, bangku paling belakang baris ke tiga, yang menurutnya posisi paling strategis untuk mencontek saat ujian.

Kyuhyun terkenal sebagai murid yang mendapat ranking ketiga di kelas. Ketiga dari bawah maksudnya. Jenis makhluk pemalas yang kesenangannya tidur di kelas dan mengganggu teman-temannya.

Jadi kalau ada tikus yang tiba-tiba mampir di kelas mereka, sudah pasti…

“CHO KYUHYUUUUN!!!! YAAAKK!!! MATI KAAAAUU!!! CEPAT AMBIL TIKUS PIHARAANMU!!!”

Kyuhyun tertawa cekikikan.

Pemandangan pagi yang membosankan telah berubah menjadi pagi yang lebih ceria sekaligus menggelikan. Melihat tikus warna putih, gendut, dengan lincahnya berlarian kesana kemari seperti sedang bermain petak umpet.

Tidak hanya satu. Melainkan empat! Benar-benar sinting pria ini!

.

.

.

Hiu Hwi melangkah terburu-buru, melewati lorong-lorong kelas yang lima belas menit lalu berisik disulap menjadi sunyi senyap.

Dia terlambat! Tadi ban motor abang-abang ojek yang ditumpanginya bocor. Dan jarak dengan emperan tambal ban cukup jauh.

Akhirnya dia memutuskan naik bus yang penuh sesak, bergabung dengan para pekerja kantoran, anak-anak sekolahan, dan ibu-ibu baru dari pasar yang membawa ayam yang baunya membuat orang muntah-muntah.

Mengelap keringat yang sudah mengucur di pelipisnya, menyisir rambut panjangnya yang kusut dengan jari, menarik-narik rok seragamnya yang terlalu pendek dari rok sekolahnya dulu, Hiu Hwi memberanikan diri mengetuk pintu kelas yang anehnya paling ramai di antara kelas-kelas sebelahnya.

Setengah bergetar, Hiu Hwi memutar kenop pintu, membukanya.

“AWAS!”

Tidak menggubris peringatan dari seseorang yang berteriak padanya, Hiu Hwi berteriak kencang saat tikus putih dan gendut tiba-tiba menerjangnya, benar-benar melompat, terlempar dan masuk ke dalam blazernya.

“AARRGH!!”

Hiu Hwi mengibas-ngibaskan seragamnya, melepas blazernya dan meloloskan tikus putih dari jeratan bajunya sembari berteriak-teriak ketakutan dan jijik.

Tidak pernah sedikitpun terbesit dalam pikirannya dia akan mengalami pagi seburuk ini.

Ya Tuhan! Tubuhnya baru saja ditempeli tikus! Betapa mengerikannya!

Sontak satu kelas gempar, tertawa semakin keras.

Dan tawa yang paling keras, siapa lagi kalau bukan si biang kerok, Cho Kyuhyun yang kini tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya yang sakit karna terlalu banyak tertawa dan mengusap sudut matanya yang berair.

Tidak disangkanya, tikus terakhir yang mau dia tangkap malah melompat ke dalam seragam seorang gadis. Pemandangan paling mengasyikkan!

Hiu Hwi menundukkan kepalanya malu. Keadaannya tak lebih dari seorang badut yang dipermalukan di depan kelas, di hari pertama kepindahannya dari Mokpo ke kota. Dan semua itu karena pria itu.

Hiu Hwi menatap tajam ke arah Kyuhyun yang kini justru melakukan tos dengan dua teman pria di samping kanan-kirinya seperti malaikat pencatat amal perbuatan. Gadis itu segera memakai kembali blazernya.

Dengan langkah lebar-lebar, Hiu Hwi menghampiri Kyuhyun yang berdiri di samping meja guru, kemudian menggebrak meja itu hingga satu kelas terdiam. Tidak ada tawa. Melainkan ketegangan yang tercipta.

“K-kau! Apa yang kau lakukan?!” bentaknya dengan tingkat kekesalan setara dewa.

Kyuhyun berkacak pinggang. Menatap balik Hiu Hwi kemudian menguap. Menunjukkan ketidak peduliannya pada gadis di depannya.

“Yak! Kau yang melempar tikus itu kan?!” teriak Hiu Hwi sekali lagi tanpa rasa takut. Dia melupakan statusnya sebagai murid baru.

“YA! Kalau iya, kau mau apa?!” balas Kyuhyun tidak mau kalah. Mana mau dia kalah dengan seorang gadis yang tingginya jauh di bawahnya.

“Minta maaf!”

“Enak saja! Kau pikir kau siapa, hah?!” Kyuhyun melirik blazer gadis di depannya lalu sudut bibirnya menukik tajam. Seringai sinis terpampang jelas di wajahnya. “Cih, murid baru ya?”

Kyuhyun menyedekapkan lengannya. Seorang murid baru yang tidak tau apa-apa, membentaknya kelewat delapan oktaf, bersikap sok dan memerintahnya untuk meminta maaf.

Empat kesalahan dalam satu hari yang menakjubkan. Tidak ada yang pernah melakukannya sebelumnya. “Aku bertanya, memang kau siapa? Anak siapa? Chaebol bukan? Sampai berani membentakku begitu?”

“Aku? Aku anak ayah dan ibuku!” seru Hiu Hwi tanpa pikir panjang.

“HAHAHA!” Kyuhyun tertawa di depan Hiu Hwi. Menertawakan kepolosan, apa kebodohannya?

Gadis ini benar-benar tidak tau ya? Apa perlu dia memamerkan kekayaannya sehingga gadis ini tidak akan bisa berkutik lagi di depannya?

Dilihat dari manapun, semua orang juga tahu gadis ini bukan berasal dari keluarga berada. Chaebol? Mengkhayal saja!

Semua orang juga hanya bisa diam. Tidak mau ikut terlibat masalah.

Pasalnya sekalipun Kyuhyun sering menjahili mereka dan melakukan jenis kegilaan yang orang gila saja tidak pernah memikirkannya dan para Seonsaengnim angkat tangan entah harus menghukum anak itu seperti apa lagi, mereka tidak boleh lupa siapa Cho Kyuhyun.

Pria itu anak pemilik yayasan beberapa sekolah termasuk sekolah ini dan mempunyai beberapa perusahaan besar yang bercabang internasional.

Siapa yang berani menantangnya, siap-siap saja bisnis orang tua mereka hancur atau dipecat dari pekerjaan mereka sekarang.

Jadi maaf saja, setiap anak yang berurusan dengan Kyuhyun pasti akan berakhir dengan dikeluarkan dari sekolah karena orang tuanya mendadak jatuh miskin sehingga tidak sanggup membayar biaya sekolah yang mahal.

Hiu Hwi geram dengan kelakuan Kyuhyun yang menyebalkan ini. Dia tidak pernah bertemu dengan orang sejenis ini. “Cepat minta maaf!”

Kyuhyun menghentikan tawanya. Alis kanannya terangkat. Menarik. Gadis pertama yang berani menyuruhnya meminta maaf. Oke, kita lewati dulu pagi ini, tapi setelah tau latar belakang gadis ini, matilah dia!

“Kau akan menyesal pernah berurusan dengan Cho Kyuhyun, nona rambut sarang burung.”

Seraya menunjukkan smirk sinisnya, Kyuhyun berbalik, melangkah ke bangkunya diiringi bisikan-bisikan dari sekitar.

“Sialan.” desis Hiu Hwi pelan sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Sangat pelan tapi sanggup memberhentikan langkah Kyuhyun.

Sialan.

.

.

.

Dan Kyuhyun benar-benar membuktikan ucapannya. Membuat hari-hari yang dijalani Hiu Hwi seperti di neraka dunia.

Esoknya, tidak ada satupun murid di sekolah itu yang mau menyapanya. Memandangnya dingin dan tajam. Kemanapun dia pergi, dia selalu mendapat sindiran kasar yang menyakitkan.

Mengungkit-ungkit pekerjaan ayahnya yang hanya buruh pabrik tekstil dan ibunya yang sudah meninggal yang menyebabkan dia tidak diajari sopan santun.

Untuk satu itu Hiu Hwi tidak tinggal diam. Dia pasti akan balik memaki siapapun yang menyinggung ibunya. Mereka juga menyindir soal beasiswanya di sekolah itu karna kepintarannya.

Jika dia tidak bisa mempertahankan prestasinya, dia akan langsung didepak.

Hidup sendirian tidak enak memang. Tapi mau bagaimana lagi?

Dia tidak mungkin kan meminta pada ayahnya untuk kembali ke sekolah lama, mengingat ayahnya tidak memiliki hak untuk menolak perintah dari atasan yang menyuruhnya pindah ke kota lain sesuai prosedur pabrik tempatnya bekerja.

Tak ada harapan. Yang perlu dia lakukan adalah pura-pura tidak dengar orang lain bicarakan, tidak lihat aksi apa yang Kyuhyun lakukan, apalagi berbicara dengannya.

Masa berdarah.

Sial.

Hiu Hwi kelimpungan mencari toko yang menjual pembalut. Tapi setelah dia mondar-mandir kesana kemari ternyata semua toko tutup.

Mengecek ke UKS, tapi persediaan pembalut mereka juga habis.Hiu Hwi merutuki kebodohannya yang tidak melihat kalendernya yang selalu dia tandai jika tamu bulanannya datang.

Dua puluh menit lebih Hiu Hwi mengurung diri di toilet. Bingung bagaimana dia menutupi noda darah yang sudah merembes ke rok seragamnya.

Dan dia tidak membawa jaket yang setidaknya bisa menutupi roknya. Tas ranselnya juga tidak membantu sama sekali.

“Aduh, bagaimana ini?”

Hiu Hwi memutar tubuhnya, menghadapkan badan belakangnya ke cermin toilet. Ada lingkaran besar warna merah di roknya.

Ya Tuhan, sekarang dia baru menyesal betapa tidak memiliki satupun teman adalah yang terburuk.

Tadi dia sudah berusaha mencucinya. Tapi karna ini hari pertamanya dan aliran darahnya begitu deras, alhasil percuma saja.

Kalau dia tidak memakai pembalut, mana bisa membendung derasnya darah yang keluar. Sialnya lagi sore ini ada pelajaran olahraga dan minggu lalu Seonsaengnim sudah mengumumkan akan diadakan penilaian lari.

“Eottohkke? Eottohke?”

Hiu Hwi bergerak gelisah dan sangat merasa tidak nyaman karna di bawah sana dia merasa penuh. Aish, abaikan saja lah!

Hiu Hwi masuk ke dalam bilik toilet, mengganti seragamnya dengan baju olahraga dan berjalan cepat menuju lapangan sepak bola.

Semua teman sekelasnya sudah berkerumun disana, berlari-lari kecil di tempat dan melakukan pemanasan. Hiu Hwi tidak mungkin melakukan itu, pasti dia bisa tembus dan dia tidak mau itu terjadi.

Kalau sampai setelah lari nanti dia mengalami kram, setidaknya itu lebih baik daripada teman satu kelas mempermalukannya.

Kyuhyun menyedekapkan tangannya di depan dada dengan kening berkerut. Tumben-tumbenan gadis rambut sarang burung mendadak jadi diam.

Bahkan wajahnya terlihat suntuk, kesal dan seperti menggelisahkan sesuatu sambil sesekali melirik ke belakang badannya.

Dan seharian ini dia memperhatikan gadis itu meminta ijin bolak-balik ke toilet lebih dari lima belas kali. Padahal gadis di kelasnya yang suka berdandan tidak pernah sampai berlebihan begitu.

“Yak, Kyu, kau pasti penasaran kenapa gadismu itu berlaku begitu.” Hyukjae memainkan bola sepaknya dengan kaki sambil tersenyum penuh arti.

“Ya, aku penasaran, tapi dia bukan gadisku.” tolak Kyuhyun mentah-mentah.

Matanya tidak bisa lepas dari Hiu Hwi yang kini sedang mengantri mendapat giliran dipanggil untuk melakukan tes lari.

Sedangkan murid laki-laki sudah menyelesaikan tes mereka dan sekarang bebas mau melakukan apa asal tidak kembali ke kelas.

“Kau pasti akan terkejut kalau aku mengatakannya.”

Hyukjae memainkan alisnya naik-turun dan senyumannya semakin aneh. Kyuhyun mendekatkan telinganya ke bibir pria itu, membisikkan sesuatu, dan mata Kyuhyun sontak melebar.

Dia melayangkan pukulan ringannya di lengan Hyukjae. “Jangan bercanda.”

“Tidak! Aku berani bersumpah! Kau mau taruhan?” tawar Hyukjae.

Senyumannya semakin tersungging lebar.

“Oke! Akan kutraktir apapun yang kau mau. Tapi awas saja kalau kau salah!” ancam Kyuhyun tidak main-main.

Masalahnya, kalau sampai dia salah kali ini, dia pasti akan dicap sebagai pria mesum dan beritanya pasti akan menyebar sangat cepat.

Hyukjae mengibaskan tangannya di depan muka Kyuhyun. “Call! Ayo!”

Hyukjae menarik lengan Kyuhyun menuju kelas. Sementara pria yang ditarik tidak henti-hentinya merasa berdebar dan sedikit khawatir kalau perbuatannya kali ini malah membawa malapetaka untuknya.

Buru-buru Kyuhyun menghilangkan perasaan tidak enaknya. Dia akan memberikan sedikit pelajaran untuk gadis itu. Yah, sampai dia merasa puas.

.

.

.

Hiu Hwi mengipas wajahnya yang memerah kepanasan sehabis berlari tujuh putaran lapangan sepak bola yang luasnya sama dengan ukuran sebenarnya. Bayangkan betapa luas dan melelahkannya.

Apalagi saat berlari tadi dia diliputi rasa takut kalau-kalau darahnya merembes ke celana olahraganya. Bisa-bisa dia malu dan mogok sekolah. Bersyukur untungnya tidak terjadi.

Masih sibuk mendinginkan tubuhnya di bawah pohon dengan dedaunan cukup rindang, dari arah lapangan sepak bola tiba-tiba semua orang bersuit-suit ria, bertepuk tangan heboh dan berteriak-teriak menyoraki seseorang yang berdiri di tengah-tengah lapangan sedang bergoyang-goyang ala gadis-gadis hawaii.

Bukan gerakannya yang membuat semua orang jadi heboh, tapi baju yang dipakainya itu loh!

Kemeja putih milik murid perempuan yang tidak bisa dikancing sempurna karena tubuh laki-lakinya dan sebagai bawahannya rok pendek yang panjangnya tidak sampai seperempat paha pria itu.

Tidak hanya itu. Pria itu menggoyangkan pantatnya dan menunjukkan sebuah lingkaran besar berwarna merah yang terlihat jelas karena dia berdiri di bawah teriknya matahari.

Awalnya Hiu Hwi mengacuhkan kehebohan di belakang tubuhnya sampai seorang pria teman sekelasnya yang kalau tidak salah namanya Lee Hyukjae menghampirinya sambil cekikikan.

“Shim Hiu Hwi-ssi! Tidak merasa ya barangmu ada yang hilang?”

Hanya berkata begitu, pria itu pergi sambil bertepuk tangan heboh. Hiu Hwi mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Dia berbalik.

Saat itulah kedua matanya melotot, wajahnya yang merah semakin memerah untuk alasan yang berbeda. Malu, marah, kesal, semua campur aduk menjadi satu.

Cho Kyuhyun, pria itu, memakai seragamnya! Parahnya, pria itu memakai roknya yang penuh noda darah!

SIALAN!

Tanpa ba-bi-bu, Hiu Hwi segera berdiri dan melangkah lebar menghampiri pria sinting itu. Bisa-bisanya pria ini mengambil seragamnya!

Bisa-bisanya pria ini memakai seragamnya! Bisa-bisanya pria ini menunjukkan pada semua orang kalau dia sedang mendapat tamu bulanannya! Bisa-bisanya! SIALAN!

“YAK! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan seragamku!”

Hiu Hwi nyaris menangis mendapati tiga dari lima kancing kemejanya sudah lepas entah meloncat kemana sehingga menampilkan dada telanjangnya.

Serat-serat kain yang tidak muat tapi dipaksa dimasukkan tubuh kekar seorang pria membuatnya nyaris robek.

Dia bisa tau itu adalah seragamnya karna nametag yang biasanya terpasang di blazernya kini menempel di kemejanya.

Tak hanya itu, roknya yang tampak sangat kekecilan di kaki pria itu kelihatan mengenaskan.

Kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubunnya tak terbendung lagi. Gadis itu berteriak lagi, “LEPASKAN CHO KYUHYUN, SIALAN!”

Kyuhyun tertawa keras karena perbuatannya kali ini berhasil memancing kemarahan Hiu Hwi.

Kan biasanya gadis itu cuma menghentakkan kakinya kesal kemudian pergi. Kalau sekarang gadis ini sudah berbicara banyak, ini baru sisi mengasyikkannya.

“Whoa! Apa-apaan, nona? Memang ini seragam milikmu?”

Kyuhyun masih meneruskan tariannya yang mengundang tawa terpingkal-pingkal semua teman-temannya.

“Sudah jelas itu nametag milikku! Cepat lepaskan! Kau merusak seragamku!”

“Hah? Seyakin itu? Memang Cuma dirimu yang bisa punya nametag? Ketua kelas juga punya nametag semua anak. Benar kan, Siwon-ah?!”

Kyuhyun berteriak yang segera dibalas teriakan “YA” dari Siwon selaku ketua kelas mereka.

Memang ketua kelas punya nametag anak kelasnya untuk cadangan siapa tau nametag mereka hilang sehingga ada gantinya.

“Aku tidak percaya! Cepat lepaskan seragam milikku!”

Hiu Hwi menggigit bibirnya kuat. Matanya sudah memanas menahan tangisannya agar tidak keluar dan lebih mempermalukan dirinya.

Kyuhyun menyunggingkan senyum sinisnya, “Apa tandanya kalau seragam ini milikmu?”

Hiu Hwi menelan ludahnya. Tidak! Kyuhyun tersenyum sinis semakin lebar.

Kyuhyun sengaja menjebaknya, menyudutkannya agar dia mau mengaku bahwa ada noda darah di rok belakangnya dan itu sudah cukup menjadi bukti kalau seragam itu miliknya.

Tapi itu sama saja mengakui di depan semua pasang mata kalau dia sedang kedatangan tamu bulanan.

“NAH! Kau saja tidak bisa jawab, kan? Berarti seragam bukan milikmu!”

Kyuhyun menggoyang-goyangkan pinggulnya yang langsung mendapat tepukan heboh lagi dari semua orang.

Sementara hatinya sedang berjingkrak-jingkrak senang karena berhasil memojokkan Hiu Hwi. Mati kau sekarang!

Hiu Hwi menatap nanar baju seragam satu-satunya.

Susah payah dia masuk sekolah ini, mendapat seragam itu secara gratis, dan melihat keadaan seragamnya sudah tidak layak pakai lagi, dengan di bagian lengan yang hampir robek.

Dia menggigit bibirnya. Matanya memanas. Antara malu dan marah yang berbeda tipis. Dia malu karena pria ini menunjukkan pada dunia ada noda darah di roknya.

Dia marah pada pria ini yang bertindak seenaknya sendiri dan pada semua orang yang hanya menonton sambil tertawa keras tanpa mau membantunya.

Hiu Hwi menarik lengan Kyuhyun dan seketika lengan kemeja seragamnya robek. Hiu Hwi setengah mati menggigit mulut dalamnya.

“Cepat lepaskan! Ini milikku! Kembalikan!”

Hiu Hwi memaksa agar Kyuhyun mau melepasnya. Tapi bukan Kyuhyun namanya kalau kehilangan akal. Dia berkelit tidak mau melepaskan dan menghentakkan tangan Hiu Hwi hingga terdorong keras ke belakang hampir jatuh.

“Katakan dulu apa tandanya seragam ini milikmu! Sebelum kau mengatakannya aku tidak akan memberikannya!”

“ITU!”

“Apa?!”

“Rok… belakangku…”

“Wae? Wae?” Kyuhyun menggoyangkan pantatnya membuat Hiu Hwi mendesis marah dan mengepalkan tangannya di samping tubuhnya. “ada noda merah…”

Hancur sudah. Mau ditaruh dimana mukanya sekarang? Semua orang tau. Termasuk para pria yang langsung bersuit-suit menjijikkan dan membuat telinganya memanas.

Tidak kuat lagi, Hiu Hwi meneteskan air matanya. Dia menangis tanpa suara. Kyuhyun terdiam melihat gadis ini menangis.

Hiu Hwi menunduk dalam-dalam dan langsung membalikkan badan, berlari membelah kerumunan teman-temannya, meninggalkan lapangan.

Kyuhyun berdiri kaku di sana. Dia memang sering menjahili temannya, tidak mengenal laki-laki atau perempuan.

Tapi dia belum pernah melihat seseorang menangis karena perbuatannya.

Apa aku keterlaluan?

.

.

.

“Hiu Hwi-ya, bisa antar Ayah ke rumah depan?”

Suara ayahnya dari luar menyadarkan lamunan Hiu Hwi tentang kejadian paling memalukan seumur hidupnya.

Dua hari dia ijin tidak masuk sekolah karena merasa nyeri hebat di perutnya, bahkan untuk bangun tidur saja dia kesulitan. Untungnya kakak laki-lakinya selalu siap setiap di membutuhkannya.

Dua minggu telah berlalu, bahkan masa berdarahnya juga sudah berakhir. Tetapi desas-desus tentang kejadian di hari itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan meredam.

Rasa kesal masih menggerogotinya. Bagaimana tidak kesal? Dia harus menghabiskan semua uang tabungannya untuk membeli seragam sekolah baru dan pria itu sama sekali tidak bertanggung jawab!

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ada sih sisi positifnya. Kyuhyun jadi lebih pendiam dan tidak menciptakan seribu satu keisengannya lagi untuk mengganggunya.

“Iya, Ayah, tunggu sebentar!”

Hiu Hwi mengambil jaket abu-abunya dan bergegas keluar kamar. Ayahnya yang bekerja di pabrik tekstil mendapat jatah pulang selama tiga hari setiap akhir bulan.

Merasa tidak enak dengan tetangga depan yang belum pernah ditengoknya, maka dari itu Ayahnya meminta ditemani.

Dia tidak mau menjadi tetangga yang tidak tau sopan santun. Sedangkan kakaknya belum pulang dari semalam, yah maklum, mungkin dia menginap di rumah temannya karena hari ini hari minggu.

Sekali lagi Hiu Hwi berdiri di depan rumah ini. Tersenyum geli membayangkan andai pria itu lagi yang membukakan pintunya, dia pasti akan tertawa.

Tak lama setelah Ayah memencet bel rumah, seorang wanita yang mungin jika ibunya masih ada seumuran dengannya. Wanita berpakaian santai yang tetap terkesan mahal.

“Annyeong haseyo, aku Shim Geunho, tetangga baru di seberang.” sapa Ayah ramah yang segera disambut dengan wajah sumringah dari wanita itu.

“Annyeong haseyo, aku Cho Hanna. Silahkan masuk, kebetulan sekali kami semua sedang di rumah.” Hanna mempersilahkan dua tamunya masuk.

Hiu Hwi terpana memandang interior rumah itu yang bergaya Eropa-Korea dengan perabotan terbuat dari kayu yang dia yakin berkualitas tinggi dan memiliki harga jual yang tinggi pula.

Setiap detail rumah itu begitu diperhatikan, sangat detail dan berseni. Walaupun dari luar terlihat minimalis, dia tidak pernah membayangkan dalamnya akan seperti ini.

“Silahkan duduk Tuan Shim dan—”

“Shim Hiu Hwi imnida.” sambung Hiu Hwi seraya tersenyum.

“Ah, ne, Hiu Hwi.” Dan kalau tidak salah, Hiu Hwi melihat senyum Hanna sedikit lebih sumringah dari sebelumnya mendengar namanya disebut. “Aku akan memanggil suamiku dulu.”

Hiu Hwi dan Ayahnya duduk di sofa ruang tamu yang empuk sekali.

Memandangi kemegahan ruangan yang besarnya dua kali lipat dari kamarnya dan dia tertarik melihat koleksi vas bunga dengan ukiran indah khas Korea kuno yang mungkin milik Nyonya Cho.

Dilihat dari segi manapun, pasti sangat sulit mendapat vas seindah itu.

“Wah, ada tetangga baru. Perkenalkan, aku Cho Younghwan. Senang sekali bisa mempunyai tetangga baru.”

Cho Younghwan datang dan langsung menjabat tangan Ayahnya juga Hiu Hwi dan disusul istrinya yang membawa nampan berisi empat cangkir teh dan tiga toples cookies.

Selanjutnya tiga orang dewasa di depannya ini hanyut dalam obrolan ringan seputar pekerjaan, mengapa mereka pindah ke Seoul dan anggota keluarga masing-masing.

Dari obrolan itu Hiu Hwi menangkap bahwa keluarga Cho memiliki dua orang anak. Anak pertama seorang perempuan yang sekarang sedang menempuh jenjang akhir kuliahnya.

Sedangkan anak keduanya seorang laki-laki yang duduk di bangku SMA kelas tiga. Oh, jadi pria yang membukakan pintu waktu itu si anak kedua dan mereka sebaya.

“Loh, bukannya uri aegi sekelas dengan Hiu Hwi, ya?” tanya Hanna dengan berbinar-binar.

“Oh?” Hiu Hwi mengerutkan kening. Perasaan di kelasnya tidak ada yang bernama aegi. “Aegi ya, Nyonya? Sepertinya tidak.”

Kalau sekelas, itu berarti anak laki-laki di rumah ini kan maksudnya? Mana ada laki-laki bernama Aegi?

“Benarkah? Seingatku aegi pernah bercerita tentang teman sekelasnya bernama Shim Hiu Hwi. Benar kan, yeobo?” Hanna menyenggol lengan suaminya yang mengangguk-angguk setuju.

“Aegi itu nama anak laki-laki Nyonya?” tanya Hiu Hwi yang penasaran.

Apa benar ada temannya yang bernama Aegi? Setahunya setiap Seonsaengnim mengabsen murid-muridnya tidak ada yang namanya Aegi.

“Bukan, panggilan kesayangan saja. Dia anaknya manja sekali dan biasanya kami membangunkannya jam 10 setiap hari minggu. Benar-benar tidak kenal, ya?” Hiu Hwi menggeleng.

“Ah, kalau begitu aku panggilkan Aegi dulu. Aegi…” Hanna beranjak dari duduknya dan menaiki tangga menuju lantai dua.

“Kau kenal dengan anak yang bernama Aegi?” bisik Ayahnya yang dibalas gelengan kepala dari Hiu Hwi.

Semenit kemudian, Nyonya Cho muncul dari arah tangga sambil tangannya merangkul pundak putranya yang malas-malasan diajak turun dan kesal karena dibangunkan sepagi ini di hari minggu.

Hiu Hwi mencibir dalam hati. Lihatlah, bayi besar datang.

Kali ini memakai baju tidur terusan warna putih model kelinci bermotif love, memeluk teddy bear kesayangannya dan sandal rumah berkepala hello kitty.

Ayahnya nyaris tersedak saat meminum tehnya dan melihat pemandangan itu. Matanya masih menutup dan sesekali menguap lebar.

“Yakin tidak kenal dengan Aegi?” bisik Ayahnya lagi dan Hiu Hwi setengah mati menahan tawanya agar tidak menyembur keluar.

Mereka melangkah semakin dekat dan dekat dan Hiu Hwi membeku. Kalau dilihat-lihat, kenapa garis wajah pria ini mirip dengan pria menyebalkan yang satu kelas dengannya?

Mata Hiu Hwi melebar, mengucek-ngucek matanya, memastikan dia tidak melihat ilusi, dan tawa geli mencuat dari bibirnya.

Benar!

Itu CHO KYUHYUN! Si bayi besar! Si Aegi! HAHAHA! Kena kau Cho Kyuhyun! Akhirnya terbongkar juga kedokmu!

“Aegi?”

Sedetik Kyuhyun membuka matanya yang terpejam rapat. Begitu malasnya dia bangun sepagi ini apalagi diseret-seret Ibunya, memaksa kalau ada tetangga baru di seberang yang datang.

Untuk apa juga dia ikut? Toh, orang tuanya bisa menjamu mereka dengan baik. Tapi sifat pemaksa Ibunya tidak bisa diabaikan begitu saja. Jadilah dia terpaksa ikut turun ke ruang tamu.

Dan saat mendengar seseorang memanggilnya ‘Aegi’ dengan suara yang sangat familiar baginya, Kyuhyun melotot dan melihat Shim Hiu Hwi sedang tertawa di depannya.

“KAU!” teriakan Kyuhyun langsung mendapat pukulan di kepalanya dari Ibunya.

“Aow! Eomma! Appo…” Kyuhyun mempoutkan bibirnya layaknya anak kecil yang habis melakukan kesalahan dan mendapat pukulan dari ibunya.

“Bicara yang sopan pada tamu!”

Kyuhyun menggosok-gosok kepalanya yang sakit dan masih tidak percaya kalau ternyata selama ini dia bertetangga dengan gadis yang dua minggu lalu dipermalukan habis-habisan olehnya.

“Ini uri aegi, Cho Kyuhyun. Ayo, aegi, beri salam pada mereka.”

“Eomma, jangan memanggilku aegi. Memalukan!” ujar Kyuhyun yang mengundang tawa semua orang di ruang tamu.

Hiu Hwi sampai geleng-geleng. Dia gagal paham dengan kelakuan Kyuhyun yang tidak biasa. Di sekolah saja kelihatan berkuasa, bebas menjahili semua orang. Eh, di rumah jadi anak mami!

Hanna mencubit pantat Kyuhyun yang langsung mendapat erangan sebal dari pria itu. Dia malu! Sangat malu! Ini sama saja ditelanjangi di muka umum.

Apalagi melihat Hiu Hwi yang tertawa-geleng kepala-kaget membuat Kyuhyun semakin malu. Dan kebiasaan Ibunya yang mencubit pantatnya tidak pernah hilang! Itu sungguh-sungguh memalukan!

“Aegi? Jadi namamu Aegi, ya?”

Hiu Hwi tertawa lagi. Matanya menatap kostum tidur versi bayi besar Cho Kyuhyun dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Benar-benar bayi! Kyuhyun memandangi tubuhnya sendiri dan seketika melompat lalu lari terbirit-birit kembali ke kamarnya. Blam!

Semua orang tertawa lagi. “Aduh, maafkan uri Aegi, dia memang pemalu kalau di depan semua orang.”

Hiu Hwi tertawa dalam hati. PUAS. Apanya yang pemalu? Padahal di sekolah dia yang suka mempermalukan orang!

Nah, tahu rasa kan pria itu. Awas saja, lihat besok di sekolah, akan dia kerjai habis-habisan bayi besar itu!

Kyuhyun merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya tidak melihat penampilannya dulu sebelum keluar tadi. Dia benar-benar malu! Sangat malu!

Bagaimana jika Hiu Hwi berkoar-koar besok pagi di sekolah kalau ternyata Kyuhyun sama sekali tidak punya nyali di rumah dan mendapat panggilan kesayangan ‘Aegi’.

Aish! Tidak, tidak! Itu tidak boleh terjadi! Dia harus mengancam gadis itu agar tutup mulut!

“Kalau Cho Kyuhyun aku mengenalnya, Nyonya.”

“Benarkah? Dia sangat merepotkan tentunya, ya?”

Hiu Hwi tertawa hambar. Tidak hanya merepotkan! Tapi menyebalkan!

“Maaf, kalau begitu.” Hanna menghembuskan napasnya.

“Jaraknya yang terpaut jauh dari kakaknya membuat kami terlalu memanjakan Kyuhyun. Dia paling tidak bisa ditinggal sendirian di rumah karena dia pernah diculik saat SD sehingga menyebabkan trauma sampai sekarang.”

Hiu Hwi mendengarkan dengan seksama. Tidak menyangka efek dari trauma masa kecilnya bisa membuatnya jadi anak yang manja.

Segala keinginan pria itu harus dipenuhi karena kalau tidak, dia pasti akan mengancam kabur dar rumah. Dan orang tua Kyuhyun lebih khawatir kalau anaknya kabur dan kejadian penculikan itu sampai terjadi lagi.

Jadilah Kyuhyun tumbuh menjadi anak yang manja dan soal pakaian tidur yang dipakai pria itu, Kyuhyun memang senang memakainya karena membuat insomnia-nya tidak kumat.

Dari itulah Hiu Hwi bisa menarik benang merah alasan Kyuhyun bersikap usil di sekolah. Itu hanyalah salah satu bentuk pertahanan diri agar traumanya tidak muncul ke permukaan.

“Ah, iya, apa aku boleh merepotkanmu sekali lagi, Hiu Hwi-ya?”

“Ne?”

“Besok kami harus pergi ke luar negeri selama tiga minggu dan Han ahjumma yang biasa bekerja di rumah sedang sakit, jadinya Kyuhyun akan sendirian disini. Bisakah Hiu Hwi membantu kami menjaga Kyuhyun?”

Kali ini Cho Younghwan yang berbicara. Sebenarnya malu meminta pada tetangga baru untuk menjaga putranya yang kelakuannya seperti bocah lima tahun setiap hari.

“N-ne?”

“Apa putriku perlu menginap disini?”

“Ayah!” Hiu Hwi protes.

Kenapa Ayahnya kelihatannya setuju dengan permintaan Tuan Cho tanpa mempertimbangkan pendapatnya.

Dia kan belum tentu mau mengurusi bayi besar itu. Astaga, dia bahkan tidak punya cita-cita menjadi Super Big Baby Sitter!

“Tidak, Hiu Hwi tidak perlu menginap disini. Aku hanya meminta tolong untuk membangunkan Kyuhyun, karena anak itu suka tidak ingat jam kalau sudah tidur. Apalagi sekarang kalian kelas tiga yang harus lebih rajin untuk persiapan ujian kelulusan.”

Jujur saja Hanna sedih juga dengan keadaan putranya. Bagaimana dia bisa melanjutkan bisnis keluarga kalau trade record-nya selama sekolah tidak ada yang bisa dibanggakan.

Anak itu terlalu sibuk bermain-bermain.

“Hiu Hwi pasti akan senang bisa membantu Tuan dan Nyonya Cho.”

“Ayah!”

“Sayang, apa salahnya membantu orang lain? Lagipula kalian sekelas, kalian bisa berangkat bersama ke sekolah. Kalian juga bisa belajar kelompok, bukannya lebih enak kalau belajar bersama? Dan kulihat tadi kalian sepertinya mudah akrab.”

JENG!

Akrab?

Andai saja Ayahnya tahu apa yang sebenarnya pria itu lakukan padanya sehingga bisa menyebut mereka akrab. Kalau akrab dalam hal bertengkar, mungkin mereka nomor satu.

Tapi untuk membantu membangunkan di pagi hari, berangkat ke sekolah, apalagi belajar bersama, sepertinya mimpi saja!

Tidak mungkin Kyuhyun setuju. Pria itu pasti akan menolak mentah-mentah sama halnya dengannya. Yah, jadi kalau dia menjawa ‘iya’ sekarang, tidak akan berarti apa-apa kan?

Yap, karena pria itu pasti akan menolak.

“Baiklah.”

.

.

.

Sial! Sial! Sial!

Hiu Hwi terus saja mengumpat tidak karuan sambil melangkah menuju kamar Kyuhyun. Kamar Kyuhyun? Yap!

Ternyata malamnya setelah dia mengantar Ayahnya ke stasiun kereta, Nyonya Cho mendatangi rumahnya dan mengatakan kalau malam ini dia dan suaminya akan berangkat ke London.

Sekaligus memberitahu jika Kyuhyun menyetujui permintaan orang tuanya. Hiu Hwi menduga jangan-jangan ada udang dibalik batu. Kyuhyun punya maksud lain dari persetujuannya.

Tidak mungkin pria yang tidak menyukainya begitu mudahnya setuju.

Tok tok tok!

Lima menit sudah Hiu Hwi mengetuk sampai menggedor pintu kamar pria itu tapi pemiliknya tidak juga membukakannya.

Apa dia masih tidur? Ya Tuhan padahal sekarang sudah hampir setengah tujuh! Hiu Hwi terus menggedor pintu itu dengan tidak sabarannya, biar si bayi besar itu cepat bangun.

Saat dia memutar kenop dan membukanya, tiba-tiba kekuatan yang lebih besar dari dalam menarik pintunya sehingga tubuh Hiu Hwi terpental ke depan, ambruk di lantai sampai terdengar bunyi keras.

“AOW! Aduh! Aduh!”

Hiu Hwi mengaduh-aduh kesakitan di samping kaki berbulu yang dibungkus sandal berkepala hello kitty. Dia melirik ke atas dan benar, Kyuhyun sedang memandanginya dengan senyum arogan.

“Oh? Apa yang kau lakukan dibawah sana? Mau mencium kakiku?”

Kyuhyun mengayunkan kakinya ke wajah Hiu Hwi yang mendapat pukulan keras dari gadis itu. Dia buru-buru bangkit lalu berkacak pinggang.

“Apa, big baby? Mana sudi aku mencium kakimu! Cepat mandi lalu berangkat! Huh! Pagi-pagi sudah membuat orang hipertensi saja!”

Kyuhyun mencekal lengan Hiu Hwi begitu gadis itu hendak pergi. “Mwo?”

“Jangan pernah memanggilku dengan panggilan itu.” ucap Kyuhyun dengan tatapan dingin dan tajam.

Bukan tatapan geli. Bukan tatapan usil. Bukan tatapan malu. Pria ini punya berapa banyak jenis tatapan sih?

“Panggilan apa?”

“Big Baby.”

Hiu Hwi mencibir. “Oke! Baiklah, uri Aegi, cepat mandi dan berangkat ke sekolah!”

“Tidak juga Aegi!”

“Itu kan namamu!”

“Pokoknya aku tidak mau dipanggil itu.” Kyuhyun mempoutkan bibirnya maju beberapa centi. “Nanti teman-teman berpikiran aneh.”

“Kau kan memang aneh. Kenapa baru sadar sekarang? Sudah lepaskan!” Hiu Hwi menarik lengannya dan ditahan lagi. Hiu Hwi memutar bola matanya. “Apa lagi, huh?”

“Kau harus berjanji tidak akan membahas kejadian kemarin pagi di sekolah, dan soal pakaian tidurku.”

Hiu Hwi menatap Kyuhyun dengan sinis. “Cih, apa urusanmu?”

“Berjanjilah!”

“Enak saja!”

Hiu Hwi menghentakkan cekalan Kyuhyun lalu pergi dengan kesal. Kyuhyun menatap punggung gadis itu dengan tatapan tajam seolah-olah tatapannya bisa mengeluarkan sinar listrik.

Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Tidak terbayang bagaimana kalau orang lain mengetahui kebiasaannya saat di rumah.

Reputasinya pasti akan langsung terjun bebas!

.

.

.

Balas dendam? Sepertinya dua kata itu ungkapan yang tepat atas apa yang dilakukan Hiu Hwi di hari-hari berikutnya.

Dia menyebarkan selebaran berisi foto Kyuhyun bangun tidur dengan mata masih terpejam, rambut acak-acakan, bekas iler di bibir dan mengenakan seragam wajib tidurnya, memeluk teddy bear, dan memakai sandal hello kitty.

Ada tulisan besar di tengah-tengah foto: URI AEGI.

“Sialan!”

Kyuhyun meremas kertas berwarna pink dengan background taburan love yang baru saja diberikan Hyukjae.

Bagaimana Hiu Hwi bisa mendapatkan fotonya? Apa dia menaruh hidden camera di kamarnya? Atau dia diam-diam memotretnya saat tidur?

Aish, itu tidak mungkin karena posenya dalam kertas itu sedang berdiri. Apa jangan-jangan dia mengigau dan keluar dari kamar saat Hiu Hwi berada di rumahnya?

Aish! Sial! Sial!

“Aegi-ya?” Kyuhyun melempar gumpalan kertas di tangannya ke kepala Donghae yang memanggilnya ‘aegi’. Pria itu cekikikan.

“Panggilan yang bagus, Kyu!”

“Kyaaa, Kyuhyun kau cute sekali dengan pakaian begini! Hahaha!” gerombolan biang gosip kelasnya berlalu di depan Kyuhyun sambil menertawakannya.

“Aish! Kemana sih gadis itu!”

Kyuhyun menggebrak mejanya, menendang kaki bangkunya sampai menjepit kaki Hyukjae yang langsung berteriak aduh-aduh.

Kyuhyun berjalan cepat keluar kelas, mengacuhkan suitan-suitan dan tawa menyebalkan semua orang, mencari satu-satunya oknum yang bertanggung jawab atas rumor yang baru dia sebar.

NAH! Kyuhyun memicingkan matanya menangkap sosok mungil Hiu Hwi yang baru keluar dari toilet dan sedang membetulkan letak nametagnya yang sedikit miring.

Kyuhyun menghampiri Hiu Hwi dengan langkah menghentak-hentak, menarik lengan gadis itu masuk lagi ke dalam toilet lalu mendorongnya ke tembok.

“KAU MAU MATI YA, SHIM HIU HWI!”

Gadis itu masih terkejut dan meringis pundaknya yang membentur tembok terasa ngilu.

Dia menatap nyalang ke arah Kyuhyun yang tiba-tiba menyeretnya masuk ke toilet pria dan mendorongnya ke tembok! Apa sih maksud pria ini?

“Seharusnya aku yang berkata begitu! Kau mau mati, hah?”

Kyuhyun mencengkeram kedua pundak Hiu Hwi, membuat gadis itu membeku. Matanya menatap marah pada sosok mungil di depannya ini. Ingin rasanya dia menghukum Hiu Hwi dengan apapun.

Dia sangat marah karena gadis ini tidak mendengar perkataannya untuk tidak buka mulut soal dirinya di rumah.

Dia sangat marah karena gadis ini begitu berani menyulut kemarahannya.

Dia sangat marah karena gadis ini, tiba-tiba datang di kehidupannya, memporak-porandakan hidupnya yang tenang-tenang saja sebelum ini, menangis di depannya, membuatnya merasa bersalah, membuatnya selama dua minggu ini hampir gila karena gengsi untuk meminta maaf!

Hiu Hwi meringis sakit.

Cengkeraman Kyuhyun di pundaknya terlalu kuat sampai dia tidak berkutik. Dia membalas tatapan pria ini tidak kalah sengit.

Kenapa pria ini begitu mudah marah? Padahal dia hanya bermain-main saja dengan selebaran yang dia sebar pagi ini.

Dia ingin menunjukkan pada pria ini kalau dia, Shim Hiu Hwi, tidak pernah takut dengan ancaman dan dia juga bisa membalas dendam atas segala perbuatan yang dilakukannya.

“Kau benar-benar akan merasa di neraka setelah ini, nona!”

Kyuhyun mengatakannya dengan penuh penekanan tapi tidak dengan hatinya. Ada yang aneh dengan hatinya. Ada yang tidak beres.

Saat matanya menatap sengit gadis di depannya, menatap langsung kedua mata yang dimilikinya, membuatnya tersadar akan sesuatu.

Hiu Hwi yang merasa cengkeraman Kyuhyun mengendur di pundaknya, segera mendorong tubuh pria itu jauh-jauh dan bergegas keluar.

Apa yang kurasakan barusan?

.

.

.

To Be Continue

 

 

Advertisements

26 thoughts on “Big Baby Sitter Part 1

  1. Hyun says:

    Ciyee cie, aegiya neomu kyeopta xD
    Gyu pakai popok enda itu xD
    Wth, kak kok bisa kebayang beginian sih? Jangan2 gara2 kakak yg baru berubah jadi panda? XD
    Apa ikut kelaparan jug amacam gyu yg di switch, kk
    ngehibur banget ff nya.. Suka suka.. XD

    Tapi aku juga pengen baca gyu yg jelek disekolah dan pacaran sama anak cantik disekolah itu, aku lupa judulnya..

    Liked by 1 person

  2. Vikyu says:

    Ga nyangka itu kyuhyun 😂
    Aku aja yg cewe kamar penuh pink ga segitunga juga 😂😂
    Tapi kyuhyun tetap kece aku makin cinta
    Kayanya kyuhyun ada hati itu sama wanita bermarga shim kita
    Wihh lihat kelanjutannya akankah cho dan shim berstu
    Ahh kak aku kok suka sama tulisan mu ini 😍

    Liked by 1 person

  3. lyeoja says:

    Uhhhhhhhhhh….
    Mereka br2 cocok ini mahhh…
    Cocok jadi rivall, yg 1 udh mereda _ 1 nya lagi malah nabur garem…
    Pasangan terserasi pann yaaa..
    Gak ad yg mo ngalahhh

    Liked by 1 person

  4. Hana Choi says:

    Hati” kyu kadang benci bisa jadi Cinta ha ha ha. Lucu banget kalau ngebayangin kyuhyun pake sendal jepit ya ampun….
    Ga sabar nunggu kelanjutannya eonni

    Liked by 1 person

  5. Rahma says:

    Hai aku reader baru.. Salam kenal yah~~

    Btw aku suka cerita ini wkwkwk, kocak xD
    Hiu hwi nya keren berani ngelawan sama si cho yuyun 😂😂😂
    Uri aegy so kiyut 😂😂😂😂

    Liked by 1 person

  6. Vyea Lyn says:

    Uri Aegi?? Or Big Baby?? Hahaha…..Kyuhyun..he is so cute. Jadi pingin peluk. Kyyaaaaa….!!
    Bad Boy di sekolah,,Big Baby di rumah. Gk nyangka!!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s