Switch [Chapter 8]

Switch Chapter 8
by Luna

Genre:
Sad, Married-life, Romance, Chaptered

Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin | Lee Yoo Ri

Cuap-cuap Author:
Sesuai janji aku ngepost part ini cepet kan? (#plak!)
Oke readers, udah pada nggak sabar kan dengan kelanjutannya?
Biar malem minggu ini nggak sepi-sepi banget, aku kasih FF ini khusus buat kalian 😀
Silahkan yang mau duga-duga di akhir sebelum TBC ya 😉

*FYI, ini FF part terpanjang yang pernah kubikin*

Happy Reading^^

d
Warning typo bertebaran!
—oo0000oo—
Chapter 8
Tired

Hal pertama yang ditanyakan Yoo Jin ketika dia sadar adalah bagaimana keadaan bayinya. Rasa sakit yang menjalar di perutnya akan hilang hanya dengan mendengar kabar kandungannya.

“Untungnya kau segera dibawa ke rumah sakit. Terlambat sedikit saja, bayimu tidak bisa diselamatkan.”

Yoo Jin tersenyum lega mendengar jawaban Siwon. Dia senang Siwon yang menanganinya bukan dokter kandungan lain.

“Yoo Jin-ssi, kenapa kau tidak jujur padaku?”

Yoo Jin meremas tangannya di atas pangkuannya dengan tangan kiri yang masih terpasang selang infus. “Soal apa?”

“Perceraianmu dan ketidaktahuan Kyuhyun tentang kehamilanmu. Aku sempat tidak ada di Korea beberapa waktu lalu. Aku tidak tau jika kalian berpisah secepat itu.”

“Kau mengatakannya pada Kyuhyun?” Oh, kumohon jangan! Aku tidak ingin Kyuhyun merasa harus bertanggung jawab atas bayinya.

Jika itu sampai terjadi, Yoo Jin takut kejadian malam ini terulang lagi. Yoo Ri tidak akan duduk manis, dia pasti akan berbuat sesuatu.

Yang membuat Yoo Jin tidak habis pikir, kenapa adiknya tega melakukannya? Apa sesakit hati itu adiknya pada Yoo Jin?

Siwon terpaksa mengangguk. “Dia sangat mencemaskanmu. Sekarang dia masih menunggu di luar. Mau kupanggilkan?”

Yoo Jin menggeleng. Membatasi bertatap muka dengan Kyuhyun menurutnya keputusan terbaik. Meskipun perasaan Yoo Jin menghangat karena Kyuhyun nyatanya masih peduli padanya.

Pria itu mencemaskannya, apa Kyuhyun juga mencemaskan bayinya juga?

“Aku memang tidak tahu permasalahan kalian. Tapi akan sangat bijak kalau kau mengijinkan Kyuhyun masuk. Kau harus tahu, Yoo Jin, aku tidak pernah melihat Kyuhyun secemas dan setakut tadi karena seorang wanita. Kupikir memberinya kesempatan untuk masuk sebentar tidak ada salahnya.”

Benarkah? Atau kecemasan dan ketakutan Kyuhyun hanya pura-pura seperti dulu-dulu?

Siwon memang tidak tahu apapun. Apa yang menyebabkan rumah tangga mereka hancur. Apa yang menyebabkan Yoo Jin ingin menghindari Kyuhyun bahkan jikalau mungkin sampai mati.

Yoo Jin mengelus perutnya, tempat bayinya berada. Apa kau menginginkan bertemu dengan ayahmu, nak?

“Diammu kuanggap iya, Yoo Jin,”

.

.

.

Kyuhyun meremas kemejanya yang bersimbah darah. Ketakutannya tidak bisa hilang jika belum tahu keadaan Yoo Jin di dalam. Ah, tidak, keadaan Yoo Jin dan anaknya.

Harusnya Kyuhyun gembira mendengar berita kehamilan Yoo Jin. Tapi kenapa malah jadi begini?

Yoo Ri. Gadis itu benar-benar. Apa yang ada di otaknya? Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Yoo Jin ataupun anaknya, tidak segan Kyuhyun akan menyingkirkan gadis itu dari hidupnya.

Bahkan sekarang pun Kyuhyun sedang mempertimbangkan apakah pernikahannya dengan gadis itu harus diteruskan apa tidak.

Pintu kamar rawat di belakang punggung Kyuhyun terbuka. Keluarga Yoo Jin yang berangkat bersama Kyuhyun berdiri dari kursi tunggu di luar.

Siwon menepuk pundak Kyuhyun. “Masuklah,”

“Apa itu keinginan Yoo Jin?” Donghae yang sejak tadi diam melangkah maju. Dia memang diam.

Tapi siapa yang tahu dengan hatinya tengah bergejolak marah pada Kyuhyun. Pria itu yang menimbulkan kekacauan lagi di hidup Yoo Jin. Benar, kan? Kedatangan mereka berdua pasti bermakna.

“Tentu saja. Memang siapa lagi? Pasien berhak menentukan sendiri keinginannya.”

Donghae mencibir. Kau pikir aku tidak tahu kau berada di kubu siapa? Sejak dulu aku tahu kalian berdua adalah manusia bejat yang seharusnya pergi jauh-jauh dari Yoo Jin.

“Biar aku yang bertanya langsung pada Yoo Jin,”

“Tidak bisa!” Siwon menahan dada Donghae yang merangsek maju hendak masuk. “Yoo Jin hanya ingin bertemu dengan Kyuhyun, kau tidak mendengarku?”

“Bisa saja kau yang memaksa gadis itu!” Hyo Rin mencekal lengan Donghae. Dia tidak ingin ada keributan di rumah sakit.

“Aku yakin dokter Choi melakukannya sesuai keinginan eonni. Bersabarlah,” Hyo Rin juga ingin menemui Yoo Jin. Dan sebenarnya dia juga ingin mengusir Kyuhyun dari sini.

Tapi mau bagaimana lagi? Mungkin benar ada yang ingin dibicarakan kakaknya dengan Kyuhyun. Apalagi Kyuhyun sedikit punya hak atas bayi dalam kandungan kakaknya.

Donghae menggenggam tangan Hyo Rin di lengannya.

Sedikit tidak rela karena sebelumnya Yoo Jin jelas-jelas pernah mengatakan tidak ingin berhubungan lagi dengan dua manusia yang sudah menghancurkan hidupnya. Jika tidak ada unsur keterpaksaan, mungkin Siwon sudah meracuni keputusan Yoo Jin.

Kyuhyun masuk sendirian ke dalam kamar rawat itu dengan berdebar. Dua bulan terhitung mereka tidak terlibat pembicaraan. Apa mereka akan canggung?

“Jin-ah,”

Segenap saraf gadis itu meremang. Menegang. Sesuatu mulai berlomba-lomba berdesakan di kelopak matanya. Apa yang ditahannya selama dua bulan ini, haruskah runtuh sekarang?

Mendengar suara berat penuh emosi itu lagi. Suara yang dirindukannya setengah mati. Bagaimana dia bisa menghapus bayang Kyuhyun dengan cepat?

Pria itu sudah mengalir di pembuluh darahnya, berputar dan beredar menjadi pusat semestanya. Perasaan itu masih kuat. Yoo Jin menundukkan wajahnya saat pria itu mendekat.

Kyuhyun pun merasakan otot-ototnya melemas. Menginginkan ambruk dan mendaratkannya di atas tubuh gadis itu. Mati-matian Kyuhyun menahan emosinya.

Segala emosi yang berkecamuk di kepalanya ingin dia luapkan pada Yoo Jin. Betapa dua bulan ini dia tersiksa, hampa, tak bernyawa.

Tapi tidak ada kata yang terlontar, hanya rasa tercekat menggerogoti pita suaranya.

“Hai,”

Sapaan itu nyaris menggugurkan pertahanan Yoo Jin untuk melabuhkan kepalanya di dada hangat Kyuhyun dan mengatakan masih mencintai pria itu.

“Hai,” jawab Yoo Jin serak. Dia ingin menangis! Kumohon, air mata, jangan menetes!

“Bagaimana keadaanmu?” Kyuhyun menelan ludahnya, “Dan anak kita?”

Napas Yoo Jin putus-putus. Anak kita. Anak kita. Anak kita. Dua kata itu terngiang-ngiang di kepalanya.

Saat itulah Yoo Jin tersadar. Keadaannya tidak baik-baik saja. Hatinya terluka. Raganya lelah. Dan ingatan tentang pengkhianatan itu berputar seperti role film di kepalanya.

Kyuhyun mengkhianatinya. Kyuhyun melukainya. Kyuhyun yang jahat.

Pikiran itu menjadi sumber kekuatan bagi Yoo Jin untuk bangkit dari perasaan lemahnya. Dia tidak bisa begini terus.

“Kumohon, jangan ganggu aku lagi,” Yoo Jin memejamkan matanya sejenak kemudian membukanya lagi.

Memperlihatkan betapa terlukanya dia. Betapa lelahnya dia. Dan Kyuhyun terguncang. Pria itu sampai harus mencengkeram pinggiran ranjang tempat Yoo Jin berbaring agar bisa berdiri tegak.

“Biarkan aku mengurus hidupku sendiri. Berpura-puralah tidak mengenalku saat kita tidak sengaja bertemu. Abaikan aku jika kau mendapatiku sedang kesulitan. Menjauhlah dari hidupku. Aku tidak bisa merasakan ketenangan lagi sejak kalian berdua datang dalam hidupku. Aku—”

“Aku tidak bisa,” potong Kyuhyun tegas.

“Ke—”

“Aku tidak bisa meninggalkan kalian berdua. Bayi dalam kandunganmu juga anakku. Aku ingin bertanggung jawab.”

“Tidak perlu! Aku memiliki keluarga yang peduli padaku. Aku tidak membutuhkan bantuan darimu.”

“Kau lupa, kau tidak akan bisa tanpa seorang pria yang mendampingimu. Merawatmu. Tanpa kenal waktu.”

Yoo Jin terdiam.

Kyuhyun sedikit merasa di atas angin tapi sedetik kemudian dia seakan dihempaskan ke bumi saat Yoo Jin berkata, “Aku punya,” Gadis itu menatap Kyuhyun, “Lee Donghae.”

Rahang Kyuhyun mengetat. Mendengar nama itu yang menjadi satu-satunya pria yang diingat Yoo Jin.

“Dia bukan suamimu. Rumor kalau kalian berhubungan di luar nikah bisa saja berkembang di masyarakat,”

“Dan apa kau lupa, kau juga bukan suamiku.” Skak mat! Gadis itu memandangnya dingin. Tidak ada keramahan lagi di wajahnya.

“Setidaknya aku mantan suamimu dan ayah kandungnya.” Kyuhyun mencoba berkelit lagi.

“Donghae bersedia menikahiku dan menjadi ayah untuk anakku, kalau kau khawatir.” Yoo Jin menggigit bibir bawahnya. Dia akan mendebat Kyuhyun sampai akhir.

Maafkan aku, Donghae, aku menyebut-nyebut namamu disini. Aku hanya ingin Kyuhyun segera mengalah dan pergi!

“Aku tidak setuju.”

“Kau tidak berhak atas diriku lagi, Cho Kyuhyun! Dan aku tidak meminta persetujuanmu.”

“Tetap saja, bayi yang akan dirawatnya adalah anakku. Aku tentu memiliki hak.”

“Tapi aku ibunya. Aku yang merasakan sakit. Aku yang merasakan penderitaan berbulan-bulan ke depan saat mengandungnya.”

“Tidak bisakah kau menurutiku, Jin-ah? Aku hanya ingin bertanggung jawab. Kenapa sekarang kau mudah sekali mendebatku?”

Kyuhyun juga tidak mau kalah. Dia akan beradu mulut sampai gadis itu mengatakan ‘iya’ dan membuka pintu kesempatan untuk mendekati Yoo Jin. Merebut perhatian gadis itu lagi. Bukan pura-pura, melainkan sungguhan.

“Karena aku bukan milikmu lagi. Aku bebas menentukan siapa yang boleh merawat bayiku dan siapa yang tidak. Sekarang, keluar. Kumohon keluar, Kyu!”

Suara Yoo Jin naik satu oktaf. Jika pria itu masih bersikeras tinggal, tidak segan-segan dia akan berteriak!

“Aku tetap tinggal. Kau tidak bisa mengusir—”

“KAU TIDAK DENGAR YOO JIN BILANG KELUAR?!”

BUGH! Donghae melayangkan tinjunya pada Kyuhyun sampai pria itu terhuyung jatuh ke lantai. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Yoo Jin terkesiap. Tidak! Perutnya seperti diremas. Bayinya ikut meradang.

Donghae memukuli wajah Kyuhyun berkali-kali. Membalaskan dendam bertahun-tahun lalu saat Kyuhyun meninjunya di tengah lapangan sepak bola di hadapan Yoo Jin.

Dan kejadian itu terulang lagi tapi dalam keadaan yang berbeda. Kyuhyun dipukuli habis-habisan. Tidak peduli pria itu memuntahkan darah sampai nyaris pingsan.

Hebatnya Kyuhyun tidak berusaha melawan. Dia pasrah saja dipukuli seperti itu. Dia pantas mendapatkannya.

Seseorang memang harus memukulnya supaya sadar jika dosanya begitu banyak dan tidak termaafkan. Dan sialnya Yoo Jin yang harus menderita atas dosa-dosanya.

“Apa-apaan ini? Cukup! Cukup!” Min Hyun Sik yang baru sampai di rumah sakit dengan istrinya sangat terkejut mendapati kamar rawat putrinya menjadi ajang pergulatan dua pria dewasa. Dia menarik Donghae bangkit dari posisi menindih Kyuhyun.

Yoo Jin menutup mulutnya saat melihat Kyuhyun sudah babak belur. Darah mengalir dari bibir dan hidungnya. Baru pertama kalinya dia melihat keadaan Kyuhyun semengenaskan itu.

“Keluar kau!” Donghae menendang tulang rusuk Kyuhyun sedikit keras. Kyuhyun meringis kesakitan di sekujur tubuhnya. Terbatuk-batuk sebelum dia berdiri. Untung saja dia masih bisa menopang tubuhnya agar tetap berdiri tegak.

“Silahkan keluar, Tuan Cho.” ucap Min Hyun Sik. Dia mendengar semua percakapan Kyuhyun dengan putrinya. Kecewa? Pasti. Ternyata Kyuhyun adalah penyebab penderitaan Yoo Jin.

Selama ini dia tidak pernah tahu bagaimana rupa bos besarnya tempat dia menaruh saham karena bawahannya yang mengurusnya.

Jika tahu, mungkin Min Hyun Sik tidak akan menanamkan sahamnya di perusahaan Kyuhyun. Tidak sudi bekerja sama dengan orang yang sudah menyakiti putrinya di masa lalu.

Meskipun kenyataannya sekarang Yoo Jin tengah mengandung putra Kyuhyun, tetap saja hubungan di antara mereka sudah terputus.

Kyuhyun tidak bisa mengelak lagi selain mengikuti kemauan semua orang untuk pergi. Mengusap darah dari sudut bibirnya kemudian berbalik meninggalkan kamar itu dengan kepala tertunduk.

Yoo Jin melihat Kyuhyun sampai bayangannya menghilang di balik pintu. Kenapa dia harus merasa berat melepas Kyuhyun?

“Sayang, syukurlah kalian berdua baik-baik saja.” Hyun Sik mengusap rambut Yoo Jin, mengalihkan perhatian gadis itu dari pintu. Dia tersenyum. “Aku tidak akan membiarkan pria itu mengganggumu lagi.”

“Eonni,” Hyo Rin mendekap kakaknya, “aku sangat takut terjadi sesuatu padamu. Ingin rasanya aku membunuh wanita itu.”

“Jangan ada dendam. Biarkan saja, sampai dia lelah sendiri dan menyesali perbuatannya.”

“Aku beruntung memiliki kakak berhati malaikat,” Hyo Rin mengeratkan pelukannya. Dia tidak ingin kehilangan kakaknya lagi. Apapun yang terjadi dia harus melindungi Yoo Jin. Termasuk dari kejahatan wanita gila itu.

“Rin-ah, biarkan kakakmu beristirahat. Kita harus ingat bukan hanya Yoo Jin yang butuh istirahat tapi juga bayinya.” Hanna menarik putri bungsunya keluar diikuti suaminya.

Sekarang hanya Donghae yang tinggal di kamar itu. Memastikan keadaan Yoo Jin baik-baik saja.

“Maaf,”

“Untuk apa?” tanya Donghae heran.

“Menyebut namamu di depan Kyuhyun sebagai orang yang akan menjadi ayah dari bayiku.”

Donghae tersenyum pahit. Andai kau tau, aku benar-benar ingin menikahimu. Menjadi ayah dari anakmu. Menjaga bayi itu bersamamu. “Sudah kubilang kan? Aku bersedia asal kau mau.”

Di saat seperti ini Donghae masih saja bercanda. Yoo Jin menghembuskan napas lelah. “Kau baik sekali. Tapi aku juga sudah mengatakannya aku-lah yang akan menjadi ayah sekaligus ibu dari bayi ini.”

“Kau memerlukan pria yang selalu siap di sampingmu.”

“Aku memilikimu,” Donghae bungkam. Ada perasaan senang mendengar pengakuan Yoo Jin barusan. “kau pasti amat senang bisa membantu sahabatmu ini kan?”

Sahabat? Huh, hanya sahabat? Donghae berharap Yoo Jin mengatakan hal yang lain tentangnya selain sebatas sahabat. Mau tidak mau Donghae mengangguk juga.

Donghae menunduk lalu mengecup kening Yoo Jin sekilas. “Kapanpun, aku selalu siap untuk kalian berdua.”

“Gomawo,” Yoo Jin tersenyum tulus.

Jurang menganga di dadanya perlahan menutup walau tidak sempurna. Dia senang Donghae ada di sampingnya. Tapi kenapa dia masih berharap orang lain yang melakukannya?

Kyuhyun tidak benar-benar pergi. Dia masih berdiri setia di samping pintu setelah memastikan keluarga Yoo Jin tidak berada di dekat sana. Mengintip melalui kaca kecil di pintu kamar rawat itu.

Bagaimana gadis yang terbaring lemah di dalam sana senang mendapat kecupan dari Donghae. Dia merasakan dadanya nyeri.

Rasa sakit menjalar sehabis dipukuli Donghae tidak terasa lagi diganti dengan perasaan menyakitkan.

.

.

.

Yoo Ri bangkit dari sofa yang didudukinya saat pintu apartemen dibuka dan memunculkan sosok Kyuhyun yang berantakan dengan wajah penuh luka.

“Oppa, apa yang terjadi padamu?” Kyuhyun benar-benar lelah menanggapi pertanyaan khawatir Yoo Ri. Dia muak. Dia tidak boleh memaksakan melihat gadis itu jika tidak ingin amarahnya tersulut.

Jadi Kyuhyun memilih melengos tidak menjawab pertanyaan Yoo Ri dan masuk ke dalam kamarnya. Memandang sekeliling. Kamarnya dengan Yoo Jin dahulu.

Tidak pernah seorang wanita pun dia ijinkan masuk ke kamar ini. Tidak juga Yoo Ri. Gadis itu tidur di kamar tamu lantai atas.

Kyuhyun membanting tubuhnya di atas ranjang. Mengaduh di bagian tubuhnya yang sakit.

Sambil menatap langit-langit kamarnya, Kyuhyun melamun. Ranjang ini akan terasa hangat tiap malamnya jika Yoo Jin masih bersamanya.

Kenapa dia jahat sekali?

Memberi Yoo Jin pil pencegah kehamilan setiap pagi mereka habis bercinta. Apa yang ada dipikiranmu dulu, Kyuhyun?

Gadis sebaik Yoo Jin kau perlakukan seperti boneka. Dan begitu kau menginginkan kebersamaan kalian berlanjut lebih lama, justru semuanya terbongkar.

Kebejatanmu tidak akan termaafkan. Meski kau menangis darah di depan Yoo Jin, gadis itu tidak akan mudah memaafkanmu.

“AARGH!”

“Oppa? Apa aku boleh masuk?” Yoo Ri bertanya takut-takut setelah mendengar erangan keras Kyuhyun. “Aku ingin mengobati luka—”

“Keluar!”

Yoo Ri berdiri mematung di ambang pintu dengan tangan membawa baskom air dan obat merah. Ini kedua kalinya dia dibentak Kyuhyun dalam semalam. “Tapi ak—”

“KELUAR!”

Kalau sudah begini, Yoo Ri tidak boleh memaksa lagi. Kecuali dia berharap diusir oleh pria itu malam ini juga. Perbuatannya pada Yoo Jin pasti terlihat laknat di mata Kyuhyun.

Gadis itu mundur, menutup pintu kamar Kyuhyun.

Mencengkeram baskom ukurang sedang di tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Kyuhyun sekarang marah padanya.

Pria itu tidak akan mengusirnya jika bukan karena Yoo Jin. Gadis itu harus benar-benar disingkirkan dari hidup mereka.

Kyuhyun mengerang lagi. Dia pusing memikirkan jalan keluar atas masalah yang dia buat sendiri. Haruskah dia menyerah?

Begitu saja?

Tidak. Pasti ada cara lain mendekati Yoo Jin lagi.

Dan Kyuhyun sudah bertekad. Dia akan membatalkan pernikahannya dengan Yoo Ri. Biarlah Yoo Ri kembali ke kehidupan gelapnya, dia tidak peduli.

Dia tidak bisa terus-terusan membohongi perasaannya sendiri terhadap Yoo Jin. Jika dia mencintai gadis itu, dia harus membuktikan ketulusannya bagaimanapun caranya.

.

.

.

“Apa lagi yang kau lakukan disini?”

Adalah pertanyaan paling menyakitkan ketika kehadiranmu tidak diharapkan lagi dalam hidup seseorang. Kyuhyun menutup pintu kamar rawat Yoo Jin perlahan. Perkiraannya salah. Dia kira tidak ada seorang pun di dalam.

Nyatanya dia menemukan adiknya sedang berkacak pinggang di depannya dan dari perkataannya yang tidak ada sopan-sopannya jelas menunjukkan gadis itu membenci keberadaannya.

“Aku ingin menjenguk Yoo Jin.”

“Siapa yang mengijinkan? Keluar!” Hyo Rin melotot. Bisa-bisanya pria yang menghancurkan hidup Yoo Jin berani menampakkan wajahnya kemari.

Oke, mungkin dulu dia pernah jatuh cinta pada Kyuhyun. Setelah tau bagaimana kelakuannya yang sebenarnya, Hyo Rin menjadi muak.

Sementara itu Yoo Jin hanya memandang sekilas Kyuhyun lalu mengalihkan pandangannya ke jendela.

Hatinya berdesir aneh. Dia senang Kyuhyun datang. Dia senang pria itu tidak menyerah setelah diusir kemarin malam dengan tidak terhormat.

Tapi Yoo Jin mati-matian menahan senyum senangnya.

Kyuhyun menoleh pada Yoo Jin yang tidak memandangnya sedikitpun. Apa gadis itu juga tidak mengharapkan kehadirannya? Astaga, Kyu, jangan pesimis dulu!

“Aku tidak perlu mendapat ijin dari siapapun karena gadis yang kujenguk tidak mengusirku.” Kyuhyun melangkah maju mendekat ke arah ranjang Yoo Jin.

Selangkah lagi. Tinggal selangkah Kyuhyun berhasil menggapai gadisnya, tapi secepat kilat Hyo Rin menghalangi langkahnya. “Tapi dia kakakku,”

“Aku ayah dari bayi dalam kandungannya.”

“Kau bukan suaminya lagi!”

“Tetap saja aku berhak!”

“Pria tidak bertanggung jawab sepertimu, mengkhianati istrimu demi wanita iblis Lee Yoo Ri, masih pantaskah kau disebut ayah?!”

Kyuhyun diam. Pernyataan telak itu. Lagi-lagi dia tidak berhasil membela diri. “Aku menyesal,”

“Cih, penyesalan selalu datang di akhir, Tuan. Keberadaanmu tidak dibutuhkan disini. Pergi!” Benar. Kata-kata gadis itu benar. Kyuhyun menghela napas keras-keras. Berbalik.

Hyo Rin menyunggingkan senyum kemenangan. Tapi senyumnya menghilang saat Kyuhyun berbalik lagi, tiba-tiba melangkah cepat melewatinya dan menghampiri ranjang kakaknya.

Yoo Jin ingin mengintip apa yang terjadi antara adiknya dengan Kyuhyun. Tepat saat dia menolehkan kepalanya, Kyuhyun sudah berada beberapa senti di depannya. Dekat dengan napas memburu.

Obsidian gelapnya yang malang. Wajahnya hancur. Jelas Kyuhyun tidak berusaha mengobati lukanya. Oh?

“Kumohon, beri aku kesempatan. Aku menyesal. Sungguh.” Yoo Jin menggigit gusi dalamnya.

Dia memejamkan matanya tidak kuasa melihat tatapan penuh luka itu. Mengambil napas dalam-dalam.

Bisakah?

“Brengsek! Apa yang kau lakukan?!”

“Donghae!” Perut Yoo Jin bergolak lagi saat melihat Donghae tiba-tiba memukul Kyuhyun tepat di rahangnya.

Entah sejak kapan Donghae sudah berdiri di antara mereka lalu memukul wajah Kyuhyun yang masih memar. Kyuhyun terjungkal jatuh ke lantai. Wajahnya berdenyut lagi. Kali ini lebih sakit dari sebelumnya.

Donghae menatap jengah. Dia langsung berlari masuk begitu mendengar keributan dari luar. Tidak disangka Kyuhyun datang lagi. Padahal semalam dia sudah menghabisi pria ini.

Kyuhyun mendesis. Dia geram. Belum cukupkah semalam dia dipukuli habis-habisan?

Kyuhyun bangkit. Memandang marah pada Donghae. Tangannya gatal ingin membalas perbuatan pria itu. Tapi dia bisa apa? Sementara Yoo Jin memandangi mereka bergantian.

Pandangan Kyuhyun mengabur. Dia menggelengkan kepalanya dua kali. Pandangannya nyaris buram. Tidak. Tahan. Jangan disini.

“Aku akan kembali.” Hanya berkata begitu lalu Kyuhyun melangkah terhuyung-huyung keluar kamar.

“Kau tidak apa-apa? Apa dia menyakitimu?” tanya Donghae sambil mengusap lengan Yoo Jin yang hanya menggelengkan kepala.

“Sepertinya kita perlu berjaga bergantian. Aku takut Kyuhyun berusaha masuk lagi.” kata Hyo Rin. Dia cemas. Dia tidak ingin Kyuhyun mengusik kehidupan kakaknya lagi.

“Aku setuju. Kau tidak keberatan kan?” Lagi-lagi Yoo Jin menggeleng. Padahal dalam hatinya Yoo Jin berharap mereka berdua tidak seprotektif itu padanya.

“Bagus. Lebih baik aku yang mendapat jaga malam. Kyuhyun pasti akan menggunakan berbagai cara agar bisa menyusup masuk.” Hyo Rin mengangguk.

“Kalau begitu aku pergi. Aku perlu mengurus kerjaanku di kantor.” Donghae melirik Hyo Rin yang kemudian berdeham-deham.

“Taruh di mejaku, jangan lupa, Donghae-ssi.” ujar Hyo Rin formal. Beginilah dia jika berurusan dengan pekerjaan pasti dia akan menjadi sangat sangat formal.

“Jika ada apa-apa, telepon aku.”

Setelah pintu tertutup, Yoo Jin mengubah posisi duduknya menjadi bersandar. Ada sesuatu yang mengganggunya. Dan itu harus dia beritahukan pada Hyo Rin. “Rin-ah, aku tidak kuat,”

Hyo Rin mengerutkan keningnya, “Apa maksudnya?”

Yoo Jin mengusap wajahnya beberapa kali dengan gusar. “Aku melihat tatapan kesungguhan itu. Dia hanya akan menatapku jika apa yang dia katakan adalah sesuatu yang serius.”

Menghela napas pendek, memutar bola matanya malas, Hyo Rin tahu siapa yang sedang dibicarakan kakaknya. “Kau harus melupakannya. Apa kau mau kembali padanya dan disakiti lagi?”

“Bagaimana jika tidak?”

“Lalu? Pernikahannya dengan Yoo Ri? Eonni pikir wanita sinting itu tidak akan bertindak?”

Yoo Jin memainkan jari-jemarinya. Hyo Rin benar. Yoo Ri pasti akan mengejarnya lagi jika tahu Kyuhyun berusaha mendekatinya lagi. Tapi, “Dia memohon. Dia tidak pernah memohon padaku. Itu berarti—”

“Eonni tidak boleh menyimpulkan secepat itu. Kita tidak pernah tahu hati manusia. Bisa saja dia sekarang memohon-mohon padamu, memelas meminta kembali padamu, tapi di luar sana dia tetap bermain wanita sinting itu. Eonni harus ingat dia juga pria dewasa yang memiliki kebutuhan dan bisa bosan kapan saja.”

Benarkah begitu? Bisa jadi. Saat mereka masih menikah saja Kyuhyun berani bermain di belakangnya.

Nah, sekarang? Mereka sama sekali tidak terikat hubungan apapun. Bagaimana dia bisa mempercayai ucapan pria itu?

Hyo Rin menggenggam punggung tangan Yoo Jin hingga gadis itu mendongak menatapnya.

Sebenarnya dia juga antara tega dan tidak. Yoo Jin sudah cinta mati pada Kyuhyun.

Tidak semudah itu melupakan pria yang sudah dicintainya sejak SMA. Tapi apakah pria brengsek seperti Kyuhyun masih pantas mendapatkan cinta tulus kakaknya?

Bagaimana mereka bisa tahu apakah pria itu menyesal atau tidak?

“Kau belum pernah di posisiku. Mencintai seorang pria sampai mati pun kau rela.”

Yoo Jin memejamkan matanya. “Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Aku juga pernah bersalah pada Kyuhyun. Aku yang memaksanya menikah denganku.”

“Lalu apa alasan Kyuhyun menerimamu?”

Yoo Jin menggeleng. “Aku tidak tahu. Dia hanya berkata tidak salahnya mencoba.”

Hyo Rin menghembuskan napas panjang.

“Kalau begitu katakan padaku sekarang apa keinginanmu? Aku juga tidak boleh egois. Memaksakan kehendakku seenaknya. Kalau iya aku tidak ada bedanya dengan wanita sinting itu.”

“Benarkah?” mata Yoo Jin berbinar-binar. “Biarkan dia menemuiku. Aku tidak bisa berbohong jika keinginanku juga berasal dari keinginan bayiku,”

Yoo Jin mengelus perutnya. Anakku. Sepertinya perutnya tidak bergejolak lagi mendengar ayahnya bisa menemuinya kapan saja.

Yoo Jin tersenyum lega. Dan Hyo Rin terenyuh melihatnya.

Astaga, Kyuhyun, andai kau melihat wanita yang pernah kau sakiti sekarang sedang membelamu, kau pasti sangat menyesal sudah mengkhianatinya.

“Oh, tapi tidak semudah itu eonni,”

Yoo Jin menaikkan sebelah alisnya, seperti berkata: “Lalu?”

Hyo Rin tersenyum rahasia.

Oke, Cho Kyuhyun, kau boleh mendapat kesempatan kakakku. Tapi jangan puas dulu. Kita lihat seberapa besar usahamu mendapatkan lagi perhatian Yoo Jin.

.

.

.

Kyuhyun POV

“Wajahmu kenapa bos? Habis bertengkar dengan preman? Aduh, bos, kenapa tidak diobati dulu? Mau kubawakan obat merah? Bisa-bisa lukamu menjadi infeksi, bos.”

Ryeowook langsung memberondongku dengan berbagai macam pertanyaan begitu aku sampai di ruang kerjaku.

Aku menghela napas pendek. Kepalaku pening. Sejak perjalanan pulang dari rumah sakit menuju kantor entah berapa kali aku mendapat klakson karena melaju di tengah jalan dengan kecepatan rendah.

“Tidak perlu. Keluarlah, aku butuh waktuku sendiri.”

“Kau mendapatkannya bos!” Ryeowook undur diri. Sekarang tinggal aku sendirian di ruanganku yang besar.

Pikiranku melanglang buana pada gadisku. Yoo Jin. Padahal ingin rasanya aku menyapanya lebih lama. Menyapa calon bayiku di dalam perutnya.

Kenapa otakku tidak bisa berpikir cara paling ampuh mendekati Yoo Jin di saat gadis itu dikelilingi oleh orang-orang yang menginginkan keberadaanku lenyap.

Hyo Rin yang bersikeras mengusirku dan Donghae yang mengusirku dengan memukulku. Badanku sampai sakit semua.

Oh, aku bahkan lupa mengisi tenaga dengan memakan sesuatu dari semalam. Aku terlalu sibuk memikirkan keadaan Yoo Jin.

Ya Tuhan, padahal dulu aku sering mengabaikan gadis itu. Ternyata begini rasanya diabaikan.

Tidak enak sama sekali. Dan kenapa Yoo Jin begitu tahan tinggal disisiku meskipun aku jarang memperhatikannya.

Yang kupikirkan hanya memenuhi nafsuku sebagai pria dewasa. Bercinta dan bercinta. Siapa yang tidak suka bercinta apalagi dengan istri sahmu sendiri?

Tapi sekarang tidak lagi. Yang kupikirkan hanya bagaimana mengembalikan kepercayaan Yoo Jin padaku. Bagaimana agar gadis itu mau menerimaku lagi.

Tok tok! “Bos, nona Yoo Ri datang ingin bertemu denganmu.”

Ini dia!

Satu masalah yang harus kuselesaikan selain tentang Yoo Jin.

“Suruh dia masuk.” Yoo Ri masuk tak berapa lama setelah aku mengijinkannya masuk.

“Op—” Kuangkat sebelah tanganku menghentikan kata-katanya. Dia terdiam. Aku tidak akan berlama-lama dengan mendengar ocehan Yoo Ri. Aku lelah. Aku tidak mau berpura-pura lagi.

“Aku ingin pernikahan kita batal.” Aku tidak mau melihat wajahnya. Cukup. Dia pasti terkejut, aku tahu. Sudah kuduga.

“K-kenapa? Tiba-tiba? Oppa?”

Kuhembuskan napas perlahan-lahan. “Setelah perbuatanmu semalam kau masih bertanya kenapa?!” Aku sudah bangkit dan sekarang kami berdiri berhadap-hadapan. Jarak kami hanya selengan.

“Kau bilang masih mempertimbangkannya,”

“Dan hasil pertimbanganku adalah pernikahan kita batal.”

“Tidak bisa!” Yoo Ri menggeleng-geleng. Tidak terima. “Bagaimana dengan janjimu untuk menebus kesalahanmu dengan apapun?”

“Aku sudah memenuhinya. Aku bercerai dengan Yoo Jin dan—”

“Kau belum menikahiku.” potong Yoo Ri cepat.

“Bagaimana aku bisa menikah dengan wanita sepertimu? Aku tidak buta, Lee Yoo Ri. Aku melihat bagaimana kau hanya berdiri tidak berbuat apa-apa setelah mendorong Yoo Jin.

“Andai aku tidak berada disana, mungkin aku tidak akan pernah tahu jika Yoo Jin sedang hamil. Dan karena perbuatanmu itu aku hampir kehilangan anakku!” Teriakku sudah tidak tahan lagi.

“Aku tidak sengaja!”

“Itu bukan sebuah alasan!”

“Aku tetap ingin pernikahan kita berlangsung. Aku mencintaimu!”

“Tapi aku tidak pernah mencintaimu.” Jawabku tegas. Kupandang Yoo Ri tepat di manik matanya.

“Tidak mungkin! Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku!” Yoo Ri mendesis tidak percaya.

“Kapan?!” Aku berteriak tepat di depan mukanya sampai Yoo Ri memucat.

“Waktu itu, waktu…” matanya melirik ke kanan-kiri. Kelimpungan mencari jawaban yang kutahu dia tidak akan bisa menjawabnya.

Aku memang tidak pernah mengatakan cinta padanya. Dan memang aku tidak mencintai Yoo Ri.

“Aku tidak akan berbohong lagi. Satu-satunya tujuanku membawamu kembali adalah Yoo Jin. Karena aku mencintai Yoo Jin. Aku tidak ingin melihatnya sedih terus-menerus. Sialnya aku justru terjebak perjanjian bodohmu sampai aku harus bercerai darinya. Kau tahu betapa hancurnya aku? Kau tahu betapa sakitnya aku? Tidak tahu, kan?!”

Yoo Ri diam saja. Sepertinya dia kehilangan kata-kata. Bagaimana dia bisa membalas perkataanku sedangkan yang kukatakan seratus persen benar.

“Lalu apa maksud percintaan kita di malam kau mencariku?” Kutelan ludahku yang terasa pahit. “Kenapa kau memperhatikanku? Kenapa?!”

“Karena aku berharap bisa bercinta dengan Yoo Jin dan bisa memberi perhatian setulus itu untuk Yoo Jin. Selama ini aku hanya membohonginya. Aku membodohinya.”

Aku brengsek. Aku sadar. Dan aku tidak ingin lebih brengsek lagi dari sekarang.

“Dan apa lagi yang bisa kuperbuat agar kau mau kembali selain memperhatikanmu? Karena aku tahu kau akan bersikeras tinggal disana andai aku tidak datang.”

Yoo Ri menggelengkan kepala seakan tidak terima dengan ucapanku. Semakin dia menggeleng, mengelak, semakin aku tahu ucapanku benar.

“Semudah itu kau mengatakan semua yang kau lakukan hanya untuk Yoo Jin?”

“Benar. Karena aku mencintainya. Aku sudah terbiasa dengan keberadaan Yoo Jin di dekatku. Dia napasku, dia ragaku. Dan begitu dia menghilang, aku kehilangan segalanya. Napasku, ragaku, bahkan kebahagiaanku!”

Yoo Ri menutup lubang telinganya saat aku berkata demikian. Dia tidak mau dengar. Tapi aku memaksa. “Aku hanya akan bahagia jika bersama Yoo Jin. Tidak dengan wanita manapun.”

“Kau jahat!” jerit Yoo Ri keras. “Aku membencimu! Aku membencimu!”

Yoo Ri melangkah mendekat dan memukul dadaku tepat di tulang rusukku yang masih ngilu akibat tendangan Donghae kemarin malam.

Kutangkap tangannya yang hendak memukulku lagi. Berapa banyak lagi pukulan yang harus kudapat? Setelah Donghae memukuliku sampai nyaris mati, sekarang Yoo Ri ganti memukulku.

“Maaf,” Yoo Ri menggeleng kali ini dengan tetesan air mata.

Ya Tuhan, dua wanita sudah kubuat menangis!

Aku menyakiti Yoo Ri sampai dia berpikir aku menerimanya dan mencintainya. Aku menyakiti Yoo Jin sampai dia meninggalkanku karena aku mengkhianatinya.

Aku tahu permintaan maaf tidak berguna untuk mereka. Tapi aku juga manusia biasa yang sering berbuat salah. Dan sekarang aku benar-benar ingin bertobat. Aku ingin menebus kesalahanku pada Yoo Jin.

Aku tidak perlu lagi menebus kesalahanku pada Yoo Ri. Karena pada kenyataannya aku sudah memenuhi salah satu janjiku.

“Aku minta maaf sudah menjadi pria brengsek di masa lalumu. Aku tahu kau tidak akan memaafkanku dengan mudah.”

Aku memaksa Yoo Ri agar melihatku. Wajahnya kacau. Hidungnya memerah. Matanya bengkak. Aku pernah melihat Yoo Jin dengan wajah lebih kacau daripada ini.

“Aku memohon padamu, maafkan aku. Aku ingin lepas darimu. Dari bayang masa lalu yang melelahkan. Dan asal kau tahu, kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu siap membantumu. Aku tidak akan mengacuhkanmu seperti dulu. Tapi maaf, aku melakukannya hanya sebagai kakak. Aku tetap tidak bisa menikah denganmu.”

Selanjutnya kurengkuh tubuh Yoo Ri dalam pelukanku. Membiarkan tangisannya pecah di dadaku. Membiarkan kemejaku basah karena air matanya.

Kelegaan luar biasa menghinggapi hatiku. Mengangkat satu bebanku. Kukira ini akan jadi akhir yang baik untuk kami bertiga. Aku berharap Yoo Ri akan mengerti.

Dan aku sangat berharap Yoo Jin akan menerima penjelasanku dan mau kembali padaku meski aku yakin akan banyak rintangan menungguku di depan.

Tapi aku siap.

Siap menjemput cintaku.

.

.

.

Drrt drrt

Siapa yang menelepon selarut ini?

Kugapai-gapai ponselku yang kuletakkan di atas nakas samping ranjang. Kuangkat telepon itu tanpa melihat lebih dulu siapa peneleponnya. “Hmm, yeoboseyo?”

“Kyu?” Mataku yang terpejam mendadak terbuka. Aku bangkit dari tidurku. Aku tidak salah dengar kan? Ini benar suara Yoo Jin? “Halo?”

Kujauhkan ponselku. Layar ponselku jelas tertera kontak Yoo Jin yang tidak pernah kuganti namanya. Jadi benar gadis itu yang meneleponku. Rasa kantukku langsung menghilang. Berganti rasa senang yang mendebarkan.

“Halo?” jawabku setelah berdeham pelan.

“Kukira kau sudah tidur.” Aku memang sudah tidur. Siapa yang masih bangun selarut ini? Tapi demi mendengar suaramu, aku rela.

“Ada apa meneleponku?”

“Hmm, bisakah kau datang ke rumah sakit? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Tentu! Tentu!” ujarku semangat. Astaga, aku bahkan sudah tidak peduli lagi saat kudengar di seberang sana Yoo Jin terkekeh. “Sepuluh menit, ah tidak, tiga menit aku akan sampai sana.”

“Jangan mengebut,” sela Yoo Jin ketika aku hendak mematikan sambungan teleponnya. “Sampai bertemu di rumah sakit.”

.

.

.

Aku benar-benar menempuh jarak dari apartemen ke rumah sakit dalam waktu tiga menit. Aku melangkah lebar menuju kamar rawat Yoo Jin. Di tanganku sudah tergenggam buket mawar merah.

Kali ini aku berharap semoga Donghae tidak sedang bersama gadisku. Aku benar-benar benci di saat aku tidak boleh mendekati Yoo Jin, pria itu bebas menemui gadisku kapan saja.

Begitu kubuka pintu itu, aku terbengong karena tidak ada seorang pun di dalam sana. Aku berlari masuk. “Yoo Jin! Lee Yoo Jin!”

Ranjangnya berantakan seperti habis dipakai. Anehnya cairan infusnya menghilang.

Aku mengecek kamar mandi. Siapa tahu Yoo Jin berada di dalam. Kugedor pintunya kemudian kutempelkan telingaku ke pintu. Tidak ada suara gemericik air. Kuputar kenop pintu kamar mandi. Nihil.

Perasaanku berubah tidak enak. Aku mencoba menghubungi nomor Yoo Jin. Sampai lima belas kali aku mencobanya tapi selalu tersambung ke suara operator.

Aku berlari keluar menghampiri resepsionis, bertanya mungkin salah satu perawat disana melihat Yoo Jin.

“Tidak ada pasien bernama Lee Yoo Jin, tuan.”

“Pasti salah! Coba cek lagi!” Dadaku berdebar keras. Kemungkinan buruk silih berganti menghampiriku.

“Maaf, tuan. Kami tidak memiliki pasien di bangsal ini. Mungkin tuan bisa memeriksanya di bangsal lain.”

Sial! Kugebrak meja resepsionis itu sampai perawat jaga disana terkejut sebelum aku berlari memutari lorong-lorong rumah sakit yang sangat sepi. Yoo Jin hilang. Kemana?

Sialnya lagi aku tidak tahu harus menghubungi siapa. Aku tidak mungkin menghubungi Donghae, bisa mati aku di tangannya!

Dan aku tidak mungkin menghubungi keluarga Yoo Jin. Apa kau buta sekarang sudah jam berapa? Hampir pukul dua pagi!

Akhirnya kuputuskan bertanya di setiap bangsal rumah sakit apakah mungkin Yoo Jin pindah ke kamar rawat lain. Tapi lagi-lagi jawaban mereka sama: tidak ada pasien bernama Lee Yoo Jin.

Apa Yoo Jin diculik? Aku menggeleng luat-kuat. Siapa yang berani menculik? Gadis itu tidak mungkin tiba-tiba menghilang tanpa pengawasan. Bukankah ada yang setia menunggunya selama 24 jam?

Ah, benar! Aku belum mengecek taman rumah sakit! Aku berlari melewati pintu ganda menuju taman. Selarut ini siapa yang mau berkeliling di taman? Apa kau gila, Kyu? Kau tidak punya otak?!

Aku terus berlari sambil meneriakkan nama Yoo Jin berulang kali seperti orang gila sungguhan. “Akh!” Aku merasa perutku bagian kiri nyeri. Maag-ku kambuh. Sudah dua hari ini aku belum makan.

Sekarang aku berlarian seperti orang sinting di tengah malam di taman rumah sakit sampai badanku yang belum sembuh sempurna mendadak ngilu lagi.

Tubuhku ambruk di paving jalan taman. Terengah-engah. Napasku tidak karuan. Sakit di perutku semakin kumat. Kucoba menahan rasa sakit yang pelan-pelan membuat kesadaranku hingga tinggal setengah.

Kemana Yoo Jin? Setengah mati aku mencemaskannya. Pandanganku mengabur. Kugelengkan kepalaku. Jangan pingsan disini.

Sebelum kesadaranku hendak direnggut oleh kegelapan, samar-samar kulihat seseorang berlari ke arahku dengan tatapan panik. Dia menghampiriku, memeluk kepalaku di pangkuannya. Dan kegelapan menelanku tanpa sempat kulihat bagaimana rupa orang itu.

.

.

.

To Be Continue

Advertisements

62 thoughts on “Switch [Chapter 8]

  1. ddianshi says:

    Pasti itu yang nememuin kyuhyun hampir pingsan yoo jin? Ah enggak tau antara senang or tidak kyuhyun mendekati kembali yoojin 😦 takutnya si iblis yoo ri mencelakai yoojin lagi 😥 tapi semoga saja tidak 🙂 dan semoga kyuhyun memang benar2 mau memperbaiki hubungannya dengan yoojin 🙂 ditunggu part 9nya saeng semangat ❤

    Liked by 1 person

  2. Vyea Lyn says:

    Menderitanya kau Cho!! Bagaimana rasanya??? Sakit? Kecewa?? Atau emosi??
    Ah~kau memang pantas merasakannya!

    Gk yakin Yoori akan menerima itu semua dgn lapang dada! Aku masih belum percaya padanya!

    Liked by 1 person

  3. syalala says:

    nahhhhh andai dari awal lu begitu kyu…. gausah pake segala nyerah nyakitin yoojin gitu… tinggal di lawan aja si yoori itu ehh ini mah malah diikutin permainnya ya susah hhhh

    Liked by 1 person

  4. deerbugsy says:

    Kasihan juga sih sama kyu, tapi udah lah yah, biar dia dapat pelajaran, dan mau merjuangin cintanyaa sama yoojin, dan gw berharap yoori cepet2 tobat deh dengan ngerelain kyu sama yoojin bersatu, dan semoga yoori tobat juga dan menjadi wanita lebih baik..

    Liked by 1 person

  5. yuliantif0488 says:

    Yoo jin kah yang berlari panik saat kyuhyun pingsan…
    Hmmmm lama-lama so sweet deh lihat perjuangan kyuhyun buat mendapatkan yoo jin, tak perduli meski babak belur dan kenyang caci makian dia tetap ingin berusaha ingin mendapatkan yoo jin lagi…
    Jadi kasihan sama kyu (plin plan banget deh aku kwkwkwkkw…. -.-)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s