On Radio [No More Chances] Chapter 1

On Radio [No More Chances] Chapter 1
by Luna

Genre:
Romance (Conditional), Chaptered

Main Cast:
Cho Kyu Hyun | Shin Tae Ri

Support Cast:
Go Ah Ra | Kim Jun Su

Cuap-cuap Author:
Ini dia FF yang kujanjiin bakal update tiap malam jumat. Emangnya sundel bolong?
Bukan, bukan!
Jadi ceritanya dulu itu pas smp ada saluran radio di kota kelahiranku yang punya acara bikin drama radio dalam radio.
Aku suka banget sama acaranya, cuma sekarang udah nggak pernah ada lagi. Buat nostalgia aku ciptain
FF ini.

Bingung? Bagus deh!

Cekidot aja ya readers ^^

==o00o==

“Selamat malam pendengar setia Geum FM. Kembali lagi bersama Shin Tae Ri yang selalu setia menemani para single malam jumat. Jangan lupa tutup pintu dan jendela, tidak mau kan ada yang iseng-iseng mengintip?”

Tae Ri tertawa, “Disini sudah banyak request dan seseorang yang beruntung malam ini untuk menceritakan kisahnya adalah Kim Jun Su dari Gyeonggi-do. Kita telepon dulu,”

Tae Ri memberi isyarat pada Heechul agar menyambungkan telepon dengan pria bernama Kim Jun Su sesuai daftar teratas cerita terpilih dalam program mereka.

Heechul mengacungkan jempolnya ke udara. Pertanda jika telepon sudah tersambung.

“Halo, selamat malam Kim Jun Su-ssi,”

Suara berisik terdengar di ujung sana kemudian disusul suara berat khas pria bangun tidur, “Halo, Jun Su disini.”

Tae Ri menyeringai. “Shin Tae Ri dari Geum FM.”

Jun Su melompat dari kasurnya begitu tahu siapa yang meneleponnya jam sepuluh malam sekarang.

Tadi siang dia mengirim request-an ceritanya dan tidak disangka dirinya yang beruntung bisa menceritakan pengalamannya.

“Halo? Kim Jun Su-ssi? Kau bisa dengar suaraku?”

“Ha-halo! Iya, aku bisa dengar.”

“Bagaimana? Apa sudah siap? Sepertinya sahabat Geum lainnya sangat tidak sabar menanti ceritamu.”

“Tentu! Jadi…”

.

.

.

—STORY BEGIN—

Jun Su sedang membaca dokumen perusahaannya untuk bahan presentasi rapat besok pagi ketika ponselnya berdering pertanda telepon masuk.

Setengah membanting dokumen itu ke atas meja kerjanya, lalu mengangkat telepon itu dengan bentakan, “APA?”

“Aku mengganggu?” terdengar nada menyesal di seberang sana. Jun Su mendengus kesal. “Aku minta ma—”

“Cukup katakan ada apa kau meneleponku.” Potong Jun Su tegas.

Jun Su paling tidak suka jika kekasihnya sudah berkelit saat akan berbicara dengannya. Apakah gadis itu pura-pura tidak tahu jika pekerjaannya di kantor sangat banyak.

Well, Kim Jun Su memang terkenal sebagai pria workaholic yang lupa waktu, makan, tidur jika itu sudah berkaitan dengan perusahaannya.

“Aku ada les hingga jam sembilan malam. Bisakah kau menjemputku, oppa?” cicit Ah Ra.

Setengah mati dia memberanikan diri menelepon kekasihnya. Dia bukan tidak pengertian dengan kesibukan Jun Su sebagai CEO perusahaan besar.

Tapi Ah Ra benar-benar takut jika harus pulang les sendirian apalagi tidak ada bus yang lewat di depan sekolahnya.

Yah, usia mereka memang terpaut jauh.

Ah Ra mengenal Jun Su sebagai sahabat sepupunya dan saat pesta ulang tahunnya pria itu datang dengan sejuta pesonanya hingga Ah Ra bersumpah bisa jatuh cinta seribu kali pada pria itu.

Saat itu Ah Ra tidak pernah tahu jenis pekerjaan apa yang Jun Su selami. Barulah setelah mereka resmi berpacaran, Ah Ra mengetahui sibuknya prianya.

Ah Ra patut bersyukur setidaknya Jun Su mau menjalin hubungan dengannya di samping kesibukannya mengurus perusahaan seorang diri sudah menjadi keberuntungan tersendiri.

“Aku akan memesankan taksi untukmu. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan kerjaanku yang menumpuk. Sudah ya? Kututup.”

“Op—tut tut tut…” Ah Ra menatap ponselnya dengan raut kecewa.

Tidak benar-benar beruntung sih memiliki kekasih super sibuk seperti Jun Su. Tapi dia sudah terlanjur cinta, mau bagaimana lagi?

Ponselnya berbunyi ada pesan dari Jun Su yang memberikan nomor telepon supir taksi yang akan menjemputnya nanti. Ah Ra mendesah sedih.

Ya sudahlah, Jun Su mau mengangkat teleponnya saja sudah untung.

Jun Su melempar ponselnya ke mejanya yang penuh berkas-berkas penting.

Punggungnya terhempas ke sandaran kursi kemudian matanya memejam. Sesekali dia memijat pelipisnya yang berdenyut.

Perasaan tak enak menyerang hatinya. Ini sudah kesekian kali dirinya mengabaikan permintaan Ah Ra menjemput gadis itu.

Lagi-lagi alasan yang sama, pekerjaan. Ya Tuhan, kenapa dia tidak bisa barang sebentar beristirahat dan memperhatikan kekasihnya?

Bagaimana jika Ah Ra menyesal berpacaran dengannya dan memilih pria lain yang mungkin sebaya dengannya?

Jun Su menggeleng tak suka. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia begitu mencintai gadis belianya.

Ah Ra adalah sosok yang diinginkannya untuk membangun keluarga kecil bersamanya.

Ide bagus muncul di otaknya. Kalau tidak salah sekolah Ah Ra akan mengadakan pentas seni pekan depan.

Ini bisa menjadi kesempatannya untuk memperbaiki hubungannya dengan Ah Ra.

.

.

.

Halaman SMA Hanyang dipenuhi tenda-tenda kecil berisi berbagai jenis camilan ringan dan barang jualan menyilaukan mata.

Di dekat ring basket terdapat panggung ukuran sedang yang dipersiapkan untuk penampilan tiap kelas yang wajib menyumbangkan idenya dalam gelar pentas seni dengan menampilkan drama musikal, pantomim, dan stand-up comedy.

Murid kelas tiga diamanahkan menjadi panitia acara tersebut sehingga sejak pagi buta mereka sudah sibuk mengurus ini dan itu.

Ah Ra meletakkan kardus besar berisi pesanan bunga-bunga mawar yang baru datang.

Mawar itu akan diberikan pada guru-guru di puncak acara sebagai tanda terima kasih murid kelas tiga karena sudah mengajar selama ini hingga sebentar lagi mereka akan lulus.

“Ah Ra, bisa kau tolong ambilkan speaker? Aku lupa mengambilnya tadi kutitipkan satpam sekolah.”

“Baiklah,”

Dengan bersemangat Ah Ra berlari menuju gerbang, menyapa sebentar ahjussi penjaga sekolah, lalu membawa speaker yang dimaksud Shindong.

Ugh! Kenapa Shindong tadi tidak bilang kalau speakernya sebesar ini? Berat sekali!

Bayangkan, tubuh seukuran Ah Ra yang tingginya setengah lebih sedikit dari tiang bendera harus membawa speaker ukuran 75 senti dan berat minta ampun.

Seseorang dari depan tiba-tiba mengambil speaker itu dari tangannya.

Ah Ra terkejut dan hendak berteriak ketika melihat siapa orang yang berbuat demikian. Jun Su dengan sweater putih tulang yang lengannya disingkap sampai siku, tersenyum padanya.

Ah Ra terperangah. Tidak mempercayai penglihatannya.

Benarkah ini Jun Su? Pria yang seminggu ini tidak menghubunginya lalu tiba-tiba muncul di sekolahnya? Ah Ra ingin menangis rasanya.

“Ra-ya, ada apa?” Jun Su meletakkan speaker itu di tanah lalu berjalan mendekat pada kekasihnya. Ditangkupnya pipi tembam milik Ah Ra.

Astaga, berapa lama dia tidak bertemu gadisnya? Dia masih cantik dan mungil. Jun Su mengambil kesempatan mengecup kening Ah Ra sekilas lalu memeluknya.

Ah Ra membalas memeluk Jun Su dengan segenap hatinya. Dia tidak boleh menangis disini.

Jun Su pasti akan khawatir dan merasa bersalah. Merasakan aroma tubuh Jun Su yang dirindukannya. Mencium sweater depan pria itu lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang prianya.

“Berapa lama aku tidak melihat wajah malaikatku?”

Ah Ra tidak ingat. “Sangat lama. Terlalu lama.”

“Maafkan aku, ne?”

Ah Ra mengangguk-angguk.

“Aku tidak keberatan kalau kita berpelukan seperti ini sampai pagi.”

Gurauan Jun Su barusan menyadarkan Ah Ra jika mereka masih berada di lingkungan sekolah.

Ah Ra menatap wajah Jun Su, menyelami ketampanan prianya yang jelas sekali kelelahan.

Ah Ra mendesah cemas. Pasti Jun Su terburu-buru menyelesaikan pekerjaannya, mungkin Jun Su juga tidak tidur, demi berdiri disini dengannya dan menyapanya.

“Oppa harus tidur setelah ini,”

Jun Su tersenyum masam. Dia memang tidak pernah bisa membohongi Ah Ra.

Gadis itu pasti sudah menduga bagaimana dia bisa berdiri disini tanpa mengkhawatirkan pekerjaannya. “Iya sayang, nanti.”

“Hmm,” Ah Ra mengangguk. “Ayo kita masuk, oppa.”

Mereka masuk berdampingan ke sebuah aula besar dimana para murid membawa barang keluar-masuk aula itu.

Beberapa gadis sempat tergugu melihat ada makhluk tampan tak dikenal berada disana.

Beberapa lagi bahkan nekat menghampiri Jun Su dan berkenalan ala remaja labil yang gampang tersipu-sipu.

“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya?”

“Boleh aku kenalan?”

“Kyaa!!! Mirip sekali dengan Jun Su DBSK!!”

Ah Ra sampai uring-uringan dan mengusir satu per satu gadis yang sengaja ingin mendekati kekasihnya.

“Yak! Dia kekasihku, jangan berani dekat-dekat!” Para gadis itu langsung cemberut dan pergi dengan kepala tertunduk.

“Lucu sekali.”

“Apa?” Ah Ra merengut dan bersedekap di depan Jun Su yang terkikik.

“Kau lucu sekali, sayang,” Jun Su gemas mencubit pipi Ah Ra lalu mengecup pipi kirinya.

Ah Ra menyentuh pipinya yang baru dicium.

“Oppa, kau nakal menciumku,”

Ah Ra bergerak maju lalu menggelitiki perut Jun Su sampai pria itu berteriak-teriak minta ampun karena tidak tahan geli. Ah Ra tertawa dan semakin bersemangat melancarkan aksinya membuat Jun Su geli.

“Ra-ya! Ayo keluar, pensinya mau dimulai!”

Teriakan Shindong dari pintu luar menghentikan kegiatan sepasang kekasih itu. “Ne!” perhatian Ah Ra kembali pada Jun Su, “Ayo oppa, membangkitkan jiwa mudamu!”

“Aish, gadis ini!”

Jun Su setengah berlari di samping Ah Ra yang sudah menyeretnya ke deretan terdepan dari panggung.

Dia mengambil dua kursi di posisi strategis sehingga mereka bisa menonton penampilan tiap kelas tanpa perlu terganggu dengan orang yang berlalu-lalang.

.

.

.

Ah Ra menutup pintu mobil Jun Su yang berhenti di depan rumahnya. Gadis itu menunduk sedikit ke arah jendela mobil yang terbuka.

Meskipun wajah lelahnya terlihat jelas, tapi kehadiran Jun Su di sekolahnya menghapus rasa lelahnya.

Ah Ra berterima kasih sekali Jun Su mau meninggalkan pekerjaannya barang sebentar demi bertemu dengannya.

“Gomawo, oppa sudah datang dan mengantarku sampai rumah. Oppa harus tidur setelah ini.”

Pesan singkat dari Ah Ra diberi anggukan oleh Jun Su.

Pria itu juga lelah. Tapi melihat kebahagiaan Ah Ra seperti memberi energi baru untuknya.

Saat gadis itu hendak berbalik, Jun Su teringat sesuatu yang tadi dibelinya sebelum datang ke sekolah Ah Ra. “Sayang,”

Ah Ra tertegun Jun Su sudah turun dari mobilnya sambil menyodorkan sebuket mawar merah padanya. “Untuk malaikat cantikku, Go Ah Ra, aku mencintaimu.”

Ah Ra menatap buket mawar itu.

Termangu sekaligus terharu. Dia menelan ludahnya saat menerimanya lalu menatap Jun Su yang tersenyum lembut di hadapannya.

Dia patut terharu, bukan? Kekasihnya yang super sibuk ingat membelikannya buket mawar seperti layaknya pasangan kekasih lainnya.

Tidak menunggu lagi, Ah Ra berhambur memeluk Jun Su dengan erat. Seolah-olah takut kehilangan pria itu. Jun Su menenggelamkan wajahnya di cerukan leher Ah Ra.

Bau harum mawar yang bercampur dengan keringat. Dia sangat suka dengan bau ini. Mencium bahu Ah Ra yang masih lengkap tertutupi seragam sekolah. Pelukannya mengerat.

“Aku juga, oppa, kau yang terbaik!”

Jun Su merenggangkan pelukan mereka. Ini sudah larut. Dia tidak ingin Ah Ra kedinginan karena terlalu lama di luar.

“Masuklah, sayang, tidur yang nyenyak dan jangan lupa mimpikan aku.” Jun Su tertawa lirih.

Selain itu dia juga tidak enak dengan orang tua Ah Ra jika tahu putri semata wayangnya bukannya masuk ke dalam rumah malah asyik berpeluk-pelukan dengan ahjussi tampan.

Ah Ra menurut. Setelah melambaikan tangannya sekilas pada Jun Su dan memeluk erat-erat buket mawar pemberiannya, dia melangkah masuk ke dalam rumah.

Begitupun dengan Jun Su dia berjalan memutar dan melajukan mobilnya sambil bersenandung riang.

.

.

.

“Mau kemana, Ah Ra?”

Akhir pekan rumah Go tidak pernah absen dari kunjungan Shim Changmin, sepupunya yang bergelut di bidang musik. Grup musiknya sedang melakukan tour ke luar negeri.

Nah, lalu apa yang dilakukan pria itu disini? Jangan kaget, Changmin juga manusia biasa yang bisa sakit. Seminggu ini dia terpaksa mengamar di rumah sakit karena sakit tifus.

Paman Go tentu saja merasa perlu mengurus keponakannya itu lalu mengutus Ah Ra putrinya untuk menjaga Changmin.

Dua hari yang lalu Changmin sudah diperbolehkan pulang dan sabtunya pria itu berkunjung ke rumah Ah Ra.

Melihat sepupunya yang masih SMA sudah berpakaian rapih pagi-pagi begini, pergi kemana?

“Tentu saja menemui kekasihku!”

Changmin mengerutkan keningnya heran lalu tersenyum mengejek, “Ckckck, kekasih macam apa yang tidak tahu kekasihnya pergi ke luar kota sejak dua bulan yang lalu.”

Segala gerakan tangan Ah Ra merapihkan rambutnya terhenti. Kalimat Changmin barusan memukulnya. Apa? Jun Su sedang tidak berada di Seoul?

Melihat Ah Ra yang terdiam, Changmin menepuk jidatnya. Bodoh! Harusnya dia tidak membocorkan ini pada Ah Ra.

Kemarin saat bertemu dengan Jun Su pria itu berpesan untuk tidak memberitahukan tindak-tanduknya yang pergi ke luar kota pada kekasihnya.

“Kau keceplosan?”

Changmin menggigit bibir bawahnya. Masalah! Sial!

“Pasti Jun Su oppa melarangmu mengatakan bahwa dia sedang pergi.” Ah Ra berjalan lesu lalu membanting tubuhnya di sofa di samping Changmin.

“Karena dia pasti akan sibuk sekali sampai lupa makan dan tidur. Dan kalau aku menghubunginya dia pasti akan marah-marah. Dua bulan lebih kami tidak berhubungan ternyata dia sedang sibuk. Ck, kau benar oppa, aku kekasih tidak berguna. Bahkan kekasihnya kemana aku tidak tahu.”

Changmin tidak tega menatap wajah kecewa dari Ah Ra. Konsekuensi menjadi kekasih Jun Su memang begini. Harus rela ditelantarkan selama beberapa hari selama yang pria itu inginkan.

“Padahal aku ingin memberikan kejutan di hari ulang tahunnya.”

Ah Ra mendesah putus asa. “Dia pasti melupakan ulang tahunnya. Dia pergi kemana, oppa?”

“Jeju, ada proyek yang perlu ditinjaunya langsung.”

Tiba-tiba Ah Ra mendapat ide cemerlang.

“Oppa, bagaimana kalau kau mengantarku kesana? Kalau aku datang dia pasti tidak mungkin kan memarahiku di depan pegawainya. Ayo, oppa!”

Ah Ra merengek membuat Changmin tidak tega tidak mengabulkan permintaannya.

Biarlah, dia pasti akan mati di tangan Jun Su setelah hari ini karena membocorkan rahasia. Tidak apa-apa, demi kebahagiaan Ah Ra.

Lagipula apa-apaan pria itu. Memacari sepupunya tapi hanya dijadikan pajangan. Ah Ra tidak pernah dikenalkan dengan teman-teman Jun Su.

Well, Changmin punya informan handal yang bisa mengetahui kesibukan Jun Su lalu menyambungkan dengan suasana hati Ah Ra yang cenderung naik-turun beberapa waktu dekat ini.

Perjalanan jauh ditempuh sangat singkat menggunakan pesawat dalam negeri. Ah Ra terlihat begitu bersemangat melintasi ruang kedatangan.

Tidak sabar segera bertemu dengan kekasihnya yang lagi-lagi mengabaikannya tak tanggung-tanggung dua bulan lebih.

Miris memang. Tapi Ah Ra bisa apa? Dia hanya gadis berusia 18 tahun yang tidak berhak bertindak terlalu posesif pada kekasihnya.

Dengan langkah riang gembira sambil mendekap kotak kado yang akan diberikan nanti saat bertemu dengan Jun Su, Ah Ra menyeberangi zebra cross menuju konter antrian taksi.

Dia membiarkan Changmin yang memesan taksinya sementara Ah Ra memasang wajah cerahnya.

Tersadar akan sesuatu, Ah Ra merogoh kantong jeans-nya mengambil ponselnya lalu berpose di depan kamera untuk daily life apa yang akan dilakukannya hari ini kemudian diunggah di akun instagramnya.

Ah Ra mengunggah video itu dengan hashtag akun kekasihnya. Biar Jun Su nanti terkejut dan dia akan marah-marah seperti biasanya.

Yang terpenting pesan itu tersampaikan padanya. Oppa, sebentar lagi kita akan bertemu! Aku akan mengejutkanmu!

“Ayo, Ra-ya!”

Bertepatan dengan itu taksi yang mereka pesan sudah datang dan mereka langsung naik ke dalamnya.

Changmin memberikan alamat kantor cabang milik Jun Su di Jeju dan taksi pun melaju menuju jalanan yang nampaknya sudah ramai walau masih pagi.

.

.

.

“Ah Ra, kau duduk dulu disini ya. Aku akan mencari Jun Su. Tadi resepsionis itu bilang kalau tempat proyek yang ditinjau Jun Su tidak jauh dari sini. Kau mengerti, kan?”

Ah Ra mendengus sebal. “Ne, aku bukan anak SD lagi yang akan hilang. Pergilah!”

Changmin mengangguk kemudian berbalik melewati pintu ganda salah satu resort milik Jun Su. Memandang sekeliling resort yang minimalis tapi cukup ramai pengunjung.

Jun Su oppa memang pria hebat dan sukses. Dia pasti sampai tidak tidur saat merencanakan pembangunan resort seindah ini bersama rekan kerjanya.

Tiba-tiba entah ada angin apa, Ah Ra melihat kekasihnya sedang berjalan di depan lobi bersama rombongan pria berjas mahal dan kaku.

Memang dasar mulut remaja labil seperti Ah Ra, gadis itu tidak bisa menahan diri sehingga dia berteriak memanggil nama Jun Su.

“OPPA! Jun Su Oppa!”

Jun Su menoleh padanya kaget. Ah Ra melambai-lambaikan tangannya pada Jun Su sambil tersenyum lebar. Pundak Jun Su memberat.

Kenapa gadisnya ada disini? Aish, pasti Changmin pelakunya. Dasar, pria itu memang tidak bisa menjaga mulutnya.

“Anda mengenal nona itu, Tuan Kim?”

Pertanyaan rekan bisnis di samping Jun Su menyadarkan pria itu. Dia segera menggeleng dan berpura-pura tidak mengenal Ah Ra. Kemudian dia menunjukkan jalan pada rombongan itu menuju keluar resort.

“O-oppa! Jun Su oppa!” Ah Ra berlari keluar mengikuti kemana Jun Su pergi. Tapi pria itu sudah menghilang.

Kenapa? Apa Jun Su oppa berpura-pura tidak mengenalnya? Ah Ra menggigit bibirnya. Apa kelakuannya tadi memalukan? Apa Jun Su-nya malu memiliki kekasih sepertinya?

Ah Ra menatap penampilannya yang biasa-biasa saja.

Celana jeans, kaos micky mouse yang ditutupi jaket kulit, sepatu kets dan tas ransel di pundak. Astaga, Ah Ra kau memalukan kekasihmu!

Ah Ra tahu dirinya yang bersalah, tapi kenapa hatinya harus sakit?

Ini pertama kalinya Jun Su bersikap sedingin itu padanya. Apalagi tatapannya menyiratkan segalanya jika pria itu marah melihat kedatangannya.

Kalau Jun Su semalu itu memiliki dirinya, kenapa pria itu menyatakan cinta padanya dan meminta Ah Ra menjadi kekasihnya?

Kalau Jun Su tidak mau mengakuinya, kenapa pria itu tetap mau berpacaran dengannya?

Tidak ada gunanya dia kemari. Ah Ra tertawa sumbang. Harusnya dia tidak datang. Lupakan soal ulang tahun pria itu. Ah Ra memilih bergegas pergi dari sana.

Ah Ra berjalan tak tentu arah. Menelusuri trotoar jalan yang tidak cukup sepi. Dia menangkap seorang penjual bunga mawar di pinggir jalan yang terlihat sepi pelanggan.

Tidak tega melihatnya, Ah Ra berjalan mendekat. “Ahjussi, aku ingin membeli mawar milikmu.”

“Benarkah? Syukurlah!”

Ahjussi itu terlihat sangat gembira. Ah Ra jadi ikut tersenyum. Setidaknya meskipun dia sedang bersedih, dia harus bisa membuat orang lain tersenyum.

“Terima kasih, nona! Semoga perjalananmu menyenangkan!”

Ah Ra melambaikan tangannya dan tersenyum lebar. Menatap setangkai mawar ini mengingatkannya pada buket bunga mawar yang Jun Su berikan padanya dan masih dia simpan baik di kamarnya.

Pria itu sangat jarang menunjukkan sisi romantisnya. Sekalinya dia memberi bunga, Ah Ra tahu jika di kemudian hari dia akan sangat sulit mendapat hal yang sama lagi.

“Nah, apa aku harus memberikan mawar ini untuk Jun Su oppa sebagai permintaan maafku?”

Ponselnya berdering. Ah Ra merogoh saku jaketnya dan berbinar-binar begitu melihat siapa si penelepon ini. “Halo, oppa?”

Terdengar helaan napas berat di ujung sana. “Kenapa kau kemari, Ra-ya?”

“Eh, oppa, sebenarnya aku ingin memberikan kado spesial untuk—”

“Sialan! Bisa diam tidak!” tiba-tiba Jun Su berteriak di ujung sana membuat Ah Ra bungkam. Ada apa? Sepertinya Jun Su oppa sedang memarahi seseorang. “Lanjutkan!”

Ah Ra menelan ludahnya susah payah, “A-aku, hmm oppa, sebaiknya kau menyelesaikan urusanmu dulu. Aku tidak enak mengganggumu.”

Jun Su menghela napas berat lagi. “Sekarang kau dimana?”

Ah Ra menoleh ke samping kanan-kiri tapi tidak menenukan satupun papan petunjuk jalan yang bisa menunjukkan dimana dia sekarang. “Aku tidak tahu oppa.” Cicitnya pelan.

“Ya Tuhan! Ra-ya! Kau ini sedang tidak berada di Seoul! Dan astaga—shit!”

Mendengar umpatan kasar dari ujung sana, Ah Ra segera menjauhkan ponselnya. Selama ini Jun Su tidak pernah berkata sekasar ini padanya. Apa lagi kesalahannya?

Tanpa pikir panjang, Ah Ra langsung mematikan sambungan telepon. Dadanya berdebar keras, mengirimkan sinyal aneh ke saraf matanya agar mengeluarkan sesuatu yang mendesak disana.

Ah Ra meremas mawar yang digenggamnya dengan kesal. Ponselnya berdering lagi. Ah Ra ingin berlari. Menghindar dari Jun Su yang sungguh tidak bisa dimengertinya lagi.

Kenapa Jun Su seperti itu padanya? Kenapa Jun Su tidak menghargainya? Kenapa Jun Su sekasar ini hanya karena kedatangannya tanpa kabar?

Tangannya menarik ranselnya ke depan dada, mengeluarkan kotak kado berwarna biru muda. Harusnya hari ini akan menjadi hari yang paling bahagia untuk mereka berdua.

Tapi Jun Su mengacaukannya. Dengan dua benda yang digenggamnya erat, Ah Ra yakin jika keberadaannya tidak dibutuhkan lagi.

Jadi buat apa dia disini? Tidak berguna! Ah Ra berlari menyebrang tanpa tahu dari arah yang berlawanan maut telah menantinya.

Mobil sedan berkecepatan penuh tidak memprediksi akan ada seseorang yang muncul dari tikungan jalan.

Saat orang itu tiba-tiba melesat di depannya, mobil itu tak sempat menginjak remnya sehingga mobil itu menghantam tubuh seorang gadis.

Bunyi gesekan antara ban mobil dengan aspal jalan begitu memekakkan telinga.

Mawar yang digenggam gadis itu terlempar, terinjak dan hancur tak berbentuk. Kotak biru muda tergerus oleh ban mobil hingga isinya berhamburan keluar.

Malangnya gadis itu. Terkapar di tengah jalan dan tak terselamatkan. Darah segar merembes dari lubang hidung dan telinganya. Tubuhnya tidak bisa dikabarkan lagi bagaimana kondisinya. Hancur.

.

.

.

“Annyeong! Aku sedang berada di Pulau Jeju untuk memberi kejutan ulang tahun kekasihku. Saengil chukkae, Jun Su oppa, aku akan mendoakan terus agar umurmu panjang, sehat selalu. Jangan bekerja terlalu keras, oppa, nanti kau bisa sakit. Aku mencintaimu!”

Video itu berakhir. Berganti layar hitam seolah mengejeknya. Entah sudah berapa kali dia memutar video itu tapi tetap saja air matanya terus menetes.

Bodoh. Satu kata itu pantas disematkan untuk pria sepertinya. Apa yang dilakukannya selama ini sia-sia.

Kerja kerasnya, lemburnnya, waktunya, tenaganya, semua sia-sia! Karena satu-satunya gadis yang menjadi kekuatannya untuk bertahan hingga detik ini telah tiada.

Kini dia sedang berada di dalam kamar gadisnya. Memandangi satu per satu foto yang tergantung di tali dinding kamar bercat pink.

Fotonya dengan gadis itu sedang tertawa sambil memeluk. Sesuatu menarik minatnya untuk mendekat.

Buket mawar yang sudah kering dan layu masih disimpan dengan baik di atas meja belajar. Tangannya gemetaran membaca secarik kertas dengan tulisan rapih milik gadisnya disana.

Kata-kata sederhana tapi menyakitkan untuknya.

Meski mawar ini bisa layu oleh musim, tapi tidak dengan cintaku yang sudah mengkronis hingga maut datangpun aku yakin akan tetap mencintaimu, kekasihku.

Mencengkeram kuat pinggiran kursi hingga buku-buku jarinya memutih. Sesuatu mendesak dadanya. Dia memukul dadanya itu.

Berharap sesaknya akan mereda. Bukannya mereda malah semakin meradang. Tahu jika segalanya sudah terlambat.

Tidak ada ampunan lagi untuknya yang menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas penderitaan batin gadisnya.

.

.

.

—STORY END—

 

“Sampai sepuluh tahun sejak meninggalnya Ah Ra, aku tidak pernah memiliki lagi seorang kekasih. Terlalu berat menggantikan posisi seorang gadis sepertinya di hatiku. Tak ada yang sesempurna dia. Tak ada yang sesabar dia. Tak ada yang sepengertian dia. Aku begitu merindukannya.”

Shin Tae Ri menarik selembar tisu lalu menjauhkan bibirnya dari mikrofon untuk membersitkan hidung.

“Aku sampai tidak bisa berkomentar apapun. Jujur, ini adalah cerita paling menyedihkan yang pernah kudengar.” Ada jeda sejenak, “Kim Jun Su-ssi, apa kau ada pesan yang mungkin bisa kau sampaikan untuk para pendengar Geum?”

Jun Su berdeham sebentar. “Untuk kalian semua, jangan pernah menyia-nyiakan seseorang yang berarti untuk kalian. Jika tidak ingin menyesal dan kalian akan benar-benar merasakan kehilangan ketika seseorang itu telah pergi untuk selamanya.”

“Kata-kata yang sangat manis dari Kim Jun Su. Kita doakan semoga orang yang sangat dicintai oleh Kim Jun Su bahagia di sana dan aku berharap cerita ini akan bermakna untuk kita semua. Terima kasih banyak untuk Kim Jun Su-ssi, kau sangat hebat!”

Sambungan diputus. Saatnya Geum FM on air kembali.

“Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, saya Shin Tae Ri pamit undur diri. Selamat malam!”

Tae Ri melepas headphone-nya kemudian menggantungnya di mikrofon di atas meja. Siaran telah berganti dengan lagu. Tae Ri keluar dari studio dengan helaan napas panjang.

“Sad ending,” komentar pendeknya itu mengundang senyum di bibir Heechul. Pria itu selalu menemaninya setiap malam jumat sesuai jadwalnya siaran.

“Tidak semua cerita memiliki akhir yang bahagia.”

“Kau benar,” Tae Ri manggut-manggut. “ah, aku akan langsung pulang saja setelah ini.”

“Dijemput atau naik taksi?”

“Dijemput tentu saja!” Tae Ri mengambil ponselnya dari tasnya. Mengecek apakah ada pesan baru dari kekasihnya. Ponselnya tiba-tiba berdering. “Yeoboseyo?”

“Tae Ri, aku sudah lumutan menunggumu di lobi studio. Ayo, pulang, ini sudah sangat larut.”

Tae Ri terkikik. “Ne, chakkaman, aku turun sekarang.” Kepala Tae Ri menoleh pada Heechul dan pria itu langsung tahu jika yang meneleponnya barusan adalah kekasihnya.

“Pergilah. Aku tidak tahu harus berapa galon kopi lagi dia habiskan untuk menunggumu.”

Heechul ada-ada saja. Gadis itu pamit pulang. Melewati deretan kubikal studio yang sudah sepi. Yah, siapa juga yang masih mau bekerja selarut ini?

Begitu sampai di lobi, Tae Ri langsung disambut dengan ciuman di bibir oleh kekasihnya.

“Sayang, aku gemas menantimu. Kalau saja aku tidak ada rapat pagi-pagi besok, aku pasti bersedia menunggumu lebih lama.”

“Cho, maafkan aku, kisahnya begitu menyedihkan sampai aku terbawa suasana.” Diusapnya rahang tegas milik Kyuhyun dengan sayang. Tae Ri mencium sekilas bibir tebal pria itu.

Bukan Kyuhyun namanya kalau membiarkan ciuman itu berlangsung hingga sepersekian detik. Melumatnya sebentar seolah-olah ingin menghabisi bibir manis gadisnya.

“Sudah!” Tae Ri menahan bibir Kyuhyun agar tidak menciumnya lagi. “Kau tidak malu dengan Kim ahjussi?”

Tae Ri melirik sekilas pada satpam jaga malam yang berdiri canggung di belakang meja karena ketahuan sedang mengintip pasangan kekasih yang memagut mesra di depannya.

“Ani, dia juga tahu aku selalu menyambutmu dengan ciuman. Ayo!”

Kyuhyun menarik lembut tangan kekasihnya keluar studio menuju parkiran mobil. “Whoa, mobil baru lagi,” yang dipuji hanya tersenyum malu.

“Masuk, tuan putri,” Tae Ri masuk ke dalam mobil yang dibukakan pintunya oleh Kyuhyun. Melihat sekilas interior mobil sport keluaran terbaru. Kyuhyun masuk dari pintu kemudi.

“Kau menghabiskan uang lagi, Cho. Padahal mobilmu sudah sangat banyak.” dengus Tae Ri disertai geli.

“Well, buat apa punya banyak uang kalau bukan untuk membeli benda kesukaanku?” Kyuhyun memutar kunci mobilnya lalu mendorong persneling-nya ke gigi satu.

“Oke, oke, Tuan Kaya Raya, terserah padamu.” Tae Ri tertawa pelan.

Dalam hati Tae Ri bersyukur. Kisah cintanya tidak semiris Kim Jun Su. Kyuhyun adalah pria yang workaholic.

Berkat cinta Kyuhyun padanya yang lebih besar, pria itu selalu bisa menyempatkan diri untuk meladeni kekasihnya ini.

“Oh iya, apa besok siang ada waktu? Aku mau mengajakmu bertemu Ibu. Gaun yang dipesan seminggu lalu sudah datang dan Ibu ingin kau mencobanya.”

Tae Ri berbinar senang. Badannya condong ke arah Kyuhyun lalu mengecup pipi pria itu cepat. “Selalu ada untuk calon mertuaku!”

Kyuhyun menggigit bibirnya gemas. “Err, Tae Ri, aku tidak sabar ingin memilikimu untuk diriku sendiri.”

“Kau harus sabar, kalau begitu.”

“Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?”

“YAK!”

.

.

.

To Be Continue

Advertisements

16 thoughts on “On Radio [No More Chances] Chapter 1

  1. lyeoja says:

    Eeehhhh…. tadiii aku pikir maincastnya jun su ahra…
    Si kyu kagak nongol2… ehhh ternyata munculnya belakangann…
    Btw kisah cinta jun su sedih amat yakkk…
    Berasa nonton drama….

    Liked by 1 person

  2. shfly3424Arista says:

    Msh bingung
    Yg jelas seneng n senyum2 sendiri baca adegan taeri n kyuuuuu

    Nampakny kluarga kyu nerima bnget taeri ya

    Gaun utk nikah ya ??
    Ap nanti tiap episode akan ada kisah2 dr curhatan tiap orang ya ???

    Sedih bnget bagian ahra n junsu
    Kasian mereka
    Ap lg ahranyaaaaa

    Liked by 1 person

  3. wienfa says:

    ah..jinja..aku d bkin nangis nih bca crta ini jga..pnasrn sm jdul ny..pas bca cuap2 author kirain genre ny mau horror gtu.ff nya crtnya bgus,bgus n bkin smua pmbca trtarik n psti nungguin trus nih klnjtnny.krna pnasrn jga pstinya! smga d sela2 ksbukan author d dunia nyata bsa ttap nymptn next story ny dan ng update jg.amin
    smga shin taeri sm kyu gk brakhir sprti crta junsu itu.

    Liked by 1 person

  4. Rae Hwa says:

    Kirain cast utama nya Jun Su sama Ah Ra, tapi setelah ku liat ternyata beneran Kyuhyun.,, dan ku kira Ah Ra itu kakaknya Kyuhyun,,, hehehe… Semangat unni ngelanjutin cerita nya,, jgn lama lama ya :-* mmuuaacchh

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s