Switch [Chapter 6]

Switch Chapter 6
by Luna

Genre:
Sad, Romance, Chaptered

Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin | Lee Yoo Ri

Cuap-cuap Author:
Kalau boleh aku mau cerita nih, beberapa hari ini lagi sibuuk banget ngurusin acara seminar yang benernya baru kelar hari ini.
Hehe, tapi aku bela-belain deh demi kamu-iya-kamu-yang-lagi-baca-sekarang, biar bisa menikmati FF paling kompleks yang pernah kubuat.
Nggak papa-lah, acaranya tinggal dikit aja kok 😀 *niat kabur*
Nggak ada kata-kata lain lagi selain ‘Happy reading’ ^^

#Taeyeon – Can You Hear Me?#

d

Warning typo bertebaran!
—oo0000oo—
Chapter 6
As You Wish, I’ll Go

Amarah itu mematikan hati. Kehancuran datang. Badai tanpa pertanda itu begitu nyata hingga tak ada satupun penangkal dan tak ada pilihan lain selain ikut hancur bersama badai.

.

.

.

Yoo Jin benar-benar menghancurkan apapun yang dilihatnya.

Rumahnya yang rapih sekarang tak ubahnya seperti rumah yang baru diterjang angin topan sehingga keadaannya kacau-balau. Serpihan kaca berserakan dimanapun.

Dan gadis itu?

Dia menangis meraung-raung. Berteriak keras tidak peduli pita suaranya bisa putus. Dia hanya butuh pelampiasan kemarahannya.

Siapa yang akan bertanggung jawab atas penderitaanya? Siapa yang akan bisa menjelaskan kesalahpahaman—cih, benarkah itu sebuah kesalahan?

Tiba-tiba suara lift apartemennya berdenting keras. Dan Yoo Jin bersumpah, siapapun itu, dia akan mengumpat dan menyuruhnya pergi. “Astaga! Yoo Jin apa yang kau lakukan, sayang?”

Seketika tubuh gadis itu luruh ke lantai bersama pecahan kaca.

Itu suara ibunya.

Nyonya Lee berlarian menghampiri putrinya yang terkapar di tengah kekacauan yang diciptakan oleh gadis itu sendiri.

Tadinya dia hanya kebetulan lewat di depan gedung apartemen putrinya dan berpikir kenapa dia tidak menjenguknya sekalian. Tapi dia begitu terkejut melihat keadaan apartemen yang sangat berantakan.

“Sayang? Ada apa ini?Apa yang terjadi, sayang?”

Nyonya Lee menarik tubuh Yoo Jin duduk menghadapnya lalu mengguncang bahu putrinya agar sadar. Dia meringis melihat keadaan putrinya yang sama kacaunya dengan apartemennya.

Yoo Jin belum mengganti baju kerjanya dan terlihat sangat kelelahan. Make up-nya sudah luntur bersama tangisannya yang tidak tahu sudah berapa lama.

“Pengkhianat. Pengkhianat.” Nyonya Lee bingung dengan satu kata yang diulang-ulang oleh Yoo Jin tanpa henti dan diucapkan lirih.

Pandangan ceria gadis itu telah berubah menjadi kesedihan yang tidak pernah dia lihat seumur hidupnya. Pasti sesuatu telah terjadi. Dia yakin.

“Aish, kemana perginya Kyuhyun?”

Seperti disetrum aliran listrik 1000 volt mendengar nama itu disebut, Yoo Jin melompat mundur dan mendorong tubuh Ibunya menjauh kemudian berteriak keras seperti orang gila.

Nyonya Lee terperanjat. Apa yang sebenarnya terjadi? Mencegah aksi putrinya yang semakin parah, Nyonya Lee mendekap Yoo Jin erat. Apa ini ada hubungannya dengan suaminya?

Lift berdenting kencang. Seseorang yang menjadi pusat kegilaannya muncul di apartemen.

Tidak seorang diri.

Melainkan membawa seorang gadis bertubuh semampai dan memiliki kecantikan setara dewi di sampingnya. Mereka juga sama terkejutnya dengan Nyonya Lee melihat keadaan apartemen.

Mata gelap milik Kyuhyun menatap kaget. Istrinya yang selama ini dilihatnya sebagai sosok yang selalu bisa mengendalikan emosinya, sekarang tidak lagi.

Dua jam Kyuhyun dengan Yoo Ri menunggu gadis itu di restoran. Ketidakmunculan Yoo Jin di restoran terjawab sudah dengan pemandangan hancur istrinya di apartemen yang sekarang bak diterjang ombak besar.

Kyuhyun melepas genggaman tangannya dari Yoo Ri lalu berlari mendekati Yoo Jin yang kini berteriak tidak jelas.

Pria itu menangkap tubuh mungil itu ke dalam pelukannya, berusaha meredam teriakan Yoo Jin yang jujur saja, menyayat hati.

“Sayang, kumohon tenanglah. Ada ap—”

Yoo Jin sontak mendorong badan Kyuhyun menjauh darinya. Gadis itu menatap marah pada Kyuhyun.

Pria di depannya inilah yang membuat dia seperti orang gila.

Karena pria ini, dia menghancurkan apartemen. Karena pria ini berkhianat padanya, berciuman panas dengan adiknya sendiri di kantornya! Karena pengkhianatannya sampai Yoo Jin merasa tidak bisa lagi memberikan sepserpun kepercayaan lagi pada Kyuhyun!

“Pengkhianat!”

Yoo Jin berseru kemudian berlari masuk ke kamarnya. Meninggalkan Kyuhyun yang tercengang dan Nyonya Lee yang tertunduk tidak mampu berkomentar apapun.

Sedangkan gadis yang sejak tadi hanya berdiri diam mengamati kehancuran rumah tangga kakaknya, tersenyum sinis.

Tanpa menyuruh Yoo Jin pergi dari kehidupan Kyuhyun pun, melihat ini semua Yoo Ri yakin jika malam ini juga mereka akan berpisah.

Yoo Ri memandang ke arah wanita yang duduk bersimpuh di lantai dengan perasaan campur aduk.

Wanita yang dulu mengusirnya dari rumah setelah tahu jika dia hamil tapi juga menjadi satu-satunya pusat kerinduannya. Ibu, aku kembali.

Kyuhyun bergegas mengejar istrinya. Dia kalut, takut, lebih lagi hatinya sakit melihat Yoo Jin yang terluka. Dia masih tidak mengerti apa penyebab istrinya berbuat demikian. Dan mata Kyuhyun melebar karena Yoo Jin sekarang menghancurkan kamar mereka.

Semua barang jatuh ke lantai tanpa bisa dicegah. Gadis itu benar-benar sudah tidak peduli bagaimana bisa mengembalikan keadaan kacau balau ini seperti semula.

Yoo Jin hanya mengikuti kemarahannya. Kemarahan karena rasa sakit akibat pengkhianatan yang tidak pernah dialaminya selama ini.

“YOO JIN! Hentikan kegilaan ini dan biarkan aku tahu kenapa kau melakukan ini!”

Kyuhyun menarik lengan Yoo Jin yang hendak membanting foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding kamar lalu membalikkan tubuh Yoo Jin paksa.

Kyuhyun membeku karena saat Yoo Jin berbalik, saat itulah dia melihat raut terluka bercampur rasa kecewa dan marah yang transparan. Gadisnya yang terluka.

Yoo Jin mengatur napasnya yang tidak teratur. Dadanya naik-turun, hidungnya yang memerah kembang-kempis dan matanya penuh bekuan air mata. Dia tidak akan berpikiran jernih lagi.

Tidak bisa.

Ciuman mereka dan percakapan mereka sudah cukup bernilai mengusirnya dari kehidupan Kyuhyun.

Yoo Jin memukul dada Kyuhyun sekali. Pelan. Dua kali. Lebih keras. Ketiga kalinya dan tak terhitung lagi Yoo Jin melakukannya seolah-olah tidak akan ada rasa puas sebelum Kyuhyun mati.

“Kau mengkhianatiku!”

“Aku tidak pernah berniat mengkhianati pernikahan kita. Dan aku tidak tahu alasanmu melakukan semua ini,”

Yoo Jin menutup telinganya dengan tangannya. Tidak mau mendengar penjelasan apapun dari Kyuhyun. Hancur. Hatinya hancur. Dia tidak peduli lagi jika setelah ini tidak akan ada kata ‘kita’ di antara mereka.

“Jin-ah, dengarkan aku, dengarkan aku.”

Yoo Jin menggeleng kuat. Tidak, jika dia mendengar pria ini lagi, dia akan tertipu. Jika dia membuka hatinya lagi, dia akan terperosok ke dalam jurang gelap tak berujung lagi.

“Sudah berapa lama kalian berhubungan?”

Kyuhyun bungkam. Segala aksinya membujuk Yoo Jin agar mau berbicara terhenti begitu saja.

Yoo Jin menatap nanar Kyuhyun yang kini terdiam. Ucapannya benar.

“Aku melihat apa yang kalian lakukan di kantormu. Aku mendengar semua percakapan kalian. Kalian berciuman! Anakmu dengan Yoo Ri!” jerit Yoo Jin lalu diam sejenak.

“Kau,” tunjuk Yoo Jin, “berkhianat! Tapi kenapa? Kenapa harus dengan ADIKKU?!”

Kali ini pukulan telak menghantam Kyuhyun. Yoo Jin tahu.

“Apa selama ini kau sudah menemukan keberadaan Yoo Ri lalu menyembunyikannya dariku? Apa pernikahan ini hanya pura-pura? Pernyataan cintamu hanya bohong belaka? Kau mempermainkanku, Kyuhyun. Kau tega mempermainkan kesungguhan cintaku! Kau mengkhianatiku!”

Yoo Jin menjerit dan detik itu juga dia melempar vas bunga kesayangan Kyuhyun ke lantai hingga pecahannya melukai kakinya yang telanjang.

Yoo Jin tertawa dalam hati. Bahkan pecahan kaca yang dia rasakan sekarang tidak sebanding dari pengkhianatan yang Kyuhyun lakukan.

“A-aku—”

Kyuhyun kehilangan kata-katanya saat sebuah botol menggelinding keluar dari pecahan vas dan menarik perhatian Yoo Jin.

Yoo Jin memungut botol berwarna putih yang tidak pernah dilihatnya tapi anehnya dia seperti mengenal benda apa didalamnya. Dan gadis itu benar-benar terkejut apa yang terbaca disana. Tubuhnya luruh.

Tenaganya habis sudah. Hancur sudah. Remuk sudah. Segalanya. Kepercayaannya, rasa cintanya, kesetiaannya, semua yang ada pada pria itu kini dipertanyakan.

“A-apa ini vitamin yang kau berikan padaku setiap pagi? Pil pencegah kehamilan? Kau sengaja memberiku ini? INIKAH ALASANNYA AKU TIDAK BISA HAMIL?!”

Yoo Jin menangis lagi.

Astaga, sudah berapa liter air mata yang dia keluarkan hari ini hanya untuk seorang pria yang tidak bisa disebut sebagai suami.

Apakah panggilan itu pantas untuk seorang pria yang menghancurkan dirinya dua kali hari ini?

Pantas saja dia tidak bisa hamil padahal mereka melakukannya setiap hari. Ternyata dia mengkonsumsi pil ini setiap pagi tanpa terlewat.

Kenapa? Kenapa Kyuhyun tega melakukannya?

Habislah duniamu Kyuhyun!

Pria itu terperanjat. Tubuhnya membeku. Tenggorokannya tercekat sampai sulit bernapas.

Sesuatu yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat, terbuka juga. Dia lupa jika dia menyimpan botol lain di dalam kamarnya. Harusnya dia membuangnya.

Kyuhyun tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia yakin Yoo Jin akan membencinya.

Tapi akankah Kyuhyun bisa dijauhi dan dibenci oleh gadis yang sudah dicintainya? Gadis yang selalu menyodorkan cinta dan selalu diabaikannya.

Yoo Jin tertawa sumbang. Dia merasa sudah tidak waras sekarang. Tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang. Tidak ada satupun penjelasan yang ingin didengarnya.

Selama bertahun-tahun dia mengejar cinta pria ini. Memaksa menikah dengannya. Mengabaikan bahwa sebenarnya Kyuhyun masih mencintai adiknya yang pergi tanpa kabar.

Yah, dia tahu mereka berpacaran dulu. Donghae yang memberitahunya.

Apakah ini hukuman dari Tuhan? Pria ini tidak pernah mencintainya. Andai saja dulunya dia tidak memaksa, hari ini tidak akan pernah terjadi dalam sejarah hidupnya.

“Aku mengerti. Aku mengerti sekarang.” Yoo Jin tertawa sedih. Air matanya terus saja meleleh. “Hanya ada satu jalan dimana kita tidak akan saling menyakiti.”

Kyuhyun menggeleng. Tiba-tiba keinginan untuk menuruti perjanjian bodohnya dengan Yoo Ri pupus sudah. Hatinya kebingungan dan ketakutan saat Yoo Jin mengatakannya.

“Tidak, kau tidak mengerti. Dengarkan aku. Dengarkan aku, sayang, kumohon!”

“Tidak! Kau yang mendengarkan aku!”

Yoo Jin mengusap pipinya dengan kasar. Menatap kedua manik mata Kyuhyun yang sama terlukanya. Apa tatapan itu bohong belaka?

“Kau masih mencintai adikku? Ah, iya. Pasti iya.” Yoo Jin menjawab sendiri pertanyaannya. Tentu saja! Kalau tidak, kenapa dia harus bersusah payah mencari keberadaan adiknya! “Aku akan memberimu kesempatan.”

Kyuhyun setengah tidak percaya dengan ucapan Yoo Jin.

Kyuhyun baru akan senang mendengar Yoo Jin yang mau memberinya kesempatan, ketika gadisnya berbicara lagi, “Kau bisa mencintai adikku tanpa batas, tanpa syarat dan tentu saja tanpa paksaan. Dan pastinya cinta itu tidak akan mengekangmu.”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Tidak. Tidak. Dia tidak mau! Dia hanya menginginkan Yoo Jin! Dia hanya mencintai gadisnya!

Yoo Jin membersitkan hidungnya. Segala yang terjadi sore ini membuka pikirannya. Sikap egoisnya-lah yang sebenarnya menghancurkannya. Dia yang memang bersalah sejak awal.

Tidak seharusnya memaksakan cinta. Yoo Jin sadar, dialah orang ketiga di antara mereka. Dan sudah saatnya dia melepas keterpaksaan itu agar tidak membelenggu Kyuhyun sampai mati.

Dan inilah saat yang tepat untuk memberikan sedikit kebahagiaan pada adiknya. Sepantasnya dia mengakhiri penderitaan Yoo Ri dengan menghadirkan Kyuhyun lagi dalam hidupnya.

“Aku akan melepaskanmu. Maafkan aku, maafkan aku yang sudah egois selama ini. Maafkan aku yang tidak pernah melihat keberatanmu berada di sisiku.

“Maafkan aku karena kau harus bertahan denganku selama satu tahun tanpa cinta. Maafkan aku yang membuatmu terpaksa mengucapkan kata cinta padaku. Cinta yang seharusnya menjadi milik adikku.”

“Tidak, tidak!”

“Kita bercerai.”

Bom jatuh tepat di muka Kyuhyun.

“Aku melepasmu, Kyuhyun. Selamat berbahagia!”

Detik itu juga Yoo Jin menangkup rahang pria yang masih sah sebagai suaminya, menariknya mendekat dan membenamkan ciuman hangat di atas bibir tebal milik pria itu.

Melumatnya dengan keseluruhan raga dan hatinya. Bibir yang tidak akan disentuhnya lagi selamanya. Tepat saat Kyuhyun akan membalasnya, Yoo Jin menarik wajahnya dan bangkit.

Meninggalkan Kyuhyun yang masih termangu dan meresapi apa yang terjadi pada mereka.

“Jin-ah, sayang, apa yang terjadi? Apa yang Ibu dengar tidak benar kan?”

Begitu Yoo Jin keluar, Ibunya berhambur dan benar-benar kaget mendengar percakapan putrinya dan menantunya di dalam kamar tadi.

Nyonya Lee sangat khawatir melihat Yoo Jin yang berantakan. Putrinya itu adalah gadis yang kuat. Tidak pernah menangis karena seorang pria.

Tapi melihatnya sekarang, Nyonya Lee benar-benar yakin ini bukan persoalan sepele. Dan apa tadi? Anak Kyuhyun dengan Yoo Ri?

Detik itu juga kepalanya menoleh pada gadis yang diabaikan kedatangannya. Hatinya tertohok saat dia menyadari gadis itu adalah Lee Yoo Ri, putrinya yang tujuh tahun ini menghilang.

Seharusnya perasaan hangat, haru, bahagia-lah yang dia rasakan. Pada kenyataannya? Nyonya Lee tertawa miris dalam hati.

Haruskah Yoo Ri menghancurkan kehidupan rumah tangga kakaknya sendiri sekalipun Yoo Jin hanyalah putri angkat di keluarga Lee.

“Ibu, kumohon lepaskan aku juga,” Permintaan Yoo Jin barusan menarik lamunan Nyonya Lee dalam kenyataan.

“Apa maksudmu?” Perasaan Nyonya Lee tidak enak. Yoo Jin melirik ke arah Yoo Ri, adiknya, yang selama ini dicarinya kembali dengan selamat.

“Ibu adalah Ibu terbaik yang kumiliki, aku sangat menyayangimu. Terima kasih sudah mengambilku sebagai putrimu. Terima kasih sudah memberiku kebahagiaan selama 25 tahun aku hidup. Tuhan tidak akan mempertemukan kita jika bukan karena takdir.” Air mata Yoo Jin meleleh lagi.

Nyonya Lee mengusap pipi Yoo Jin. “Dan kurasa takdir itu sudah berakhir disini. Aku akan mengembalikan semuanya pada pemilik sesungguhnya. Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan.”

“Tidak!”

IYA! Teriak Yoo Ri dalam hati. Satu senyum kemenangan lagi terbit di bibirnya.

“Ibu,” Yoo Jin meremas tangan Nyonya Lee dengan lembut, “aku hanya menjalankan perusahaan sebagai pengganti Yoo Ri. Dan sekarang dia sudah kembali. Aku tidak punya kewajiban apapun sekarang.”

Nyonya Lee menarik tubuh Yoo Jin dalam pelukannya. Yoo Jin membalas pelukan itu dengan erat. “Kau tetap putriku, apapun yang terjadi. Jangan memakai nama Lee Yoo Jin jika kau berniat pergi.”

Yoo Jin diam. Ancaman itu pasti hanya main-main, Yoo Jin tahu. Nyonya Lee hanya tidak ingin dia pergi. Tapi tidak bisa.

Jika dia harus bertahan lebih lama lagi, hatinya akan terkoyak lebih dalam. Dan kehancurannya hari ini cukup menjelaskan segalanya.

Dia hanya gadis yatim-piatu yang beruntung diambil anak oleh keluarga kaya. Tak pernah dalam pikirannya ingin merebut hak putri kandung mereka. Maka dari itu, Yoo Jin lebih memilih pergi.

“Ibu hanya bercanda.”

Pelukan Nyonya Lee mengerat. Tangisannya pecah. Dia akan melakukan apapun agar mempertahankan Yoo Jin tinggal.

“Kau mau kemana? Kau tidak bisa kemana-mana.”

Yoo Jin tertawa. “Aku akan merindukanmu, Ibu.” Yoo Jin memaksa melepaskan diri dari pelukan Nyonya Lee saat sudut matanya menangkap bayangan Kyuhyun sudah berlari keluar.

“Yoo Ri,” panggil Yoo Jin dengan hati bimbang. Haruskah dia mengatakan hal paling menyakitkan lagi sekarang? “aku merindukanmu, adikku.”

Yoo Jin memeluk Yoo Ri yang tidak pernah mau membalas pelukan kakaknya.

“Ambil semuanya, aku tidak butuh. Aku hanya menginginkan kebahagiaanmu. Yang harus kau tahu, aku benar-benar menganggapmu adikku.”

Yoo Ri hanya diam. Tidak berkata apapun. Hatinya terbuat dari baja sehingga tidak bisa mendengar hati kecilnya yang berteriak mengaduh betapa menderitanya dia tujuh tahun ini.

“Kau memang harus pergi, Yoo Jin. Bahkan aku berharap kau tidak pernah kembali dalam kehidupan kami lagi.” Bisik Yoo Ri sangat pelan sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar.

Yoo Jin tersenyum sedih. Kenapa Yoo Ri semarah dan sebenci ini dengannya? Yoo Jin melepaskan pelukannya.

“Sepertimu, aku juga menyayangimu.” Dia tersenyum sekilas sebelum pergi. Benar-benar pergi. Meninggalkan Ibunya yang menangis keras tanpa sempat dicegah.

Kyuhyun mematung di samping pintu. Mencengkeram tembok yang dia yakin tidak akan sanggup menanggung beban yang dipikulnya.

Yoo Jin-nya telah pergi tanpa membawa apapun. Yoo Jin-nya telah pergi membawa serta hatinya. Apa yang bisa dia lakukan setelah ini tanpa keberadaan gadisnya?

Apa dia bisa hidup tanpa bayang-bayang gadis yang selama ini selalu menempel padanya?

Tak memberi ruang cukup baginya untuk bernapas dan lama kelamaan dia menjadi terbiasa sampai mengakui kehadirannya hingga kini mencintainya.

.

.

.

PLAAK!!!

Pipinya berdenyut parah. Berkedut dan ngilu bercampur menjadi adonan pas membuat kue kesakitan. Kyuhyun menyentuh pipi kirinya yang memanas.

Pria berumur yang berdiri di depannya menatapnya marah. Pria itu bersumpah tidak ingat pernah merawat seorang anak brengsek seperti Kyuhyun.

Tuan Cho marah besar. Kyuhyun datang ke rumahnya dan mengatakan akan menikahi gadis lain yang dulu pernah dihamilinya saat SMA.

Ya Tuhan, apakah putranya ini waras? Padahal baru beberapa bulan lalu putranya bercerai dengan menantu kesayangannya, Lee Yoo Jin.

Tuan Cho sampai berpikir mungkin putranya terlalu banyak minum sampai berubah segila ini.

“DIAM!” bentak Tuan Cho saat gadis tak dikenal yang duduk di sisi Kyuhyun hendak berbicara.

“Ibumu tidak pernah memiliki putra sepertimu. Terserah! Sekarang terserahmu! Kau mau menikah dengan siapa, aku tidak peduli. Pergi dari rumahku!”

Ternyata pengusiran itu tidak hanya terjadi di kediaman keluarga Cho. Setelah mencoba meminta restu dari ayahnya, Kyuhyun dan Yoo Ri menuju rumah gadis itu.

Yoo Ri sangat senang. Yah, walaupun tidak mendapat restu dari Tuan Cho, setidaknya pria itu sudah bilang terserah kan?

Sedangkan Kyuhyun memijit pelipisnya yang kaku. Selama ini hubungannya dengan ayahnya baik-baik saja. Baru kali ini dia diusir dari rumah.

Dan itu semua karena perjanjian bodoh itu. Yoo Ri hanya akan kembali jika Kyuhyun bersedia menuruti semua kemauannya.

Bukan kehidupan ini yang Kyuhyun inginkan jika akhirnya harus begini. Dia menyesali kebodohannya, sifat pengecutnya, kenapa dia tidak mencari solusi yang lain? Sekarang dia tidak bisa bahagia, dan hatinya semakin terpaksa.

Kemana Yoo Jin? Gadis itu menghilang dari peradaban selama dua bulan. Di malam gadis itu memutuskan ingin bercerai, esok paginya, surat perceraian sudah mampir di apartemennya.

Yoo Ri yang mengurus semuanya. Kyuhyun tidak akan sampai hati mengurus perceraian yang benarnya tidak pernah menjadi kemauannya.

Sidang perceraiannya pun digelar begitu cepat. Hari itulah hari terakhir dia melihat gadisnya. Yoo Jin yang kurus dan pucat, mengikuti sidang dengan tenang.

Mereka tidak berbicara apapun lagi karena Yoo Jin terburu-buru pergi. Sampai dua bulan berlalu.

PLAAKKK!!

“Ibu!” Yoo Ri berteriak sambil memegang pundak Kyuhyun yang kaku. Kali ini pipi kanan pria itu yang mendapat tamparan keras.

“Kau diam, Yoo Ri! Apa kau tidak punya pria lain selain mantan suami kakakmu sendiri? Apa kata orang jika tahu kalian menikah?!”

Nyonya Lee menghempaskan pantatnya di sofa. “Aku akan memberi restu, selain dia!”

Nyonya Lee menutupi wajahnya yang terluka.

“Ibu sangat kecewa denganmu. Ibu tidak akan berkata apapun lagi. Ibu tidak merestuimu. Terserah setelah ini kalian tetap akan menikah atau bagaimana, tapi yang perlu kau tahu, Ibu tidak akan mengangkat menantu Kyuhyun lagi.”

“Ibu tidak pernah adil.”

Kalimat yang terlontar dari bibir Yoo Ri itu menghentikan langkah Nyonya Lee yang hendak pergi.

“Ibu selalu mengutamakan kebahagiaan Yoo Jin dibanding aku! Harusnya Ibu tahu aku adalah putri kandungmu! Bukan Yoo Jin sialan itu!”

PLAK!

Nyonya Lee dengan geramnya menampar putrinya. Dia tidak pernah bertindak sekasar ini sebelumnya. Tapi berkat mulut pintar Yoo Ri-lah dia melakukannya.

“Jaga omonganmu!”

Yoo Ri tertawa sinis. “Aku benar kan?”

“Aku tidak pernah membagi kasih sayang di antara kalian. Kalian adalah putriku dan aku selalu memberikan yang terbaik dan sama adilnya pada kalian.”

“Aku tidak melihat itu. Ayah dan Ibu selalu mengutamakan kebahagiaan Yoo Jin! Padahal dia hanya anak angkat!”

“Justru itu! ITULAH!”

Nyonya Lee meremas wajahnya ingin menangis.

“Karena Yoo Jin putri angkat, aku tidak ingin membuatnya berkecil hati dengan kehadiranmu.” Nyonya Lee mengambil napas.

“Aku selalu memberikan semua kemauanmu. Sedangkan Yoo Jin? Dia bahkan tidak pernah meminta apapun padaku. Dia takut kau kecewa dengan kehadirannya yang mungkin mengganggumu. Sehingga yang bisa kami berikan hanyalah kasih sayang.”

Kyuhyun bungkam. Kenapa dia baru tahu kalau Yoo Jin adalah anak angkat keluarga Lee? Astaga, kemana saja kau selama ini, Kyu?

Padahal kau adalah orang terdekat dengan Yoo Jin. Tapi tak ada satu hal kecil pun yang kau ketahui tentang gadis itu.

Satu tahun kebersamaan mereka ternyata tidak pernah berarti apa-apa di mata Kyuhyun. Setahun itu hanya Yoo Jin seorang diri yang sibuk mengeksplorasi tentang dirinya.

Saat itu Kyuhyun tidak punya pilihan selain mengiyakan ajakan Yoo Jin untuk menikah dan menginginkan perusahaannya berkembang.

Karena menikahi putri keluarga Lee sama saja dengan menikah dengan gunung emas. Meskipun keluarga Cho juga salah satu chaebol di Korea.

Brengsek, kan?

Yoo Ri lagi-lagi hanya berceka sinis dan tertawa ragu.

“Jika Ibu tahu aku dulunya pernah hamil, itu karena Ibu. Pelarianku hanya pada dunia malam sebab aku tidak tau mau mengadu pada siapa dan Ibu hanya sibuk mengurus anak angkat Ibu saja.”

Yoo Ri berdiri tiba-tiba.

“Dan tujuanku kesini bukan untuk meminta restu, tapi hanya ingin memberitahu Ibu. Asal Ibu tahu, aku bersedia kembali karena Kyuhyun oppa. Dia menjanjikan kebahagiaan lebih untukku daripada Ibu.”

Yoo Ri menoleh pada Kyuhyun yang sejak tadi diam saja. “Oppa, ayo kita pergi.”

Begitu pintu rumahnya tertutup, tubuh Nyonya Lee luruh ke atas sofa. Keluarganya hancur.

Kepergian Yoo Jin, pembangkangan Yoo Ri, semua alasan atas kehancuran ini, Nyonya Lee tidak tahu lagi harus memikulnya bagaimana.

Suaminya sedang pergi ke luar negeri. Sehingga mau tidak mau Nyonya Lee harus mengurus segalanya. Kenapa putri mereka harus menyukai satu pria yang sama?

Dia sangat menyukai Kyuhyun sebagai menantunya. Tapi Nyonya Lee tidak berniat lagi mengambil Kyuhyun sebagai menantunya lagi untuk putrinya yang lain.

Masalah semakin rumit dengan penjelasan Yoo Ri. Rupanya dia cemburu dengan perhatian yang dia berikan untuk Yoo Jin selama ini. Padahal dia selalu berusaha adil.

Tapi benarkah dia malah terlihat sebaliknya?

.

.

.

Donghae bisa merasakan jantungnya berdentum berjuta kali lipat setelah mendengar telepon tangisan Yoo Jin. Kemana perginya gadis itu?

Dua bulan menghilang, membuat semua orang serabutan mencarinya, tiba-tiba menelponnya sambil menangis dan menyuruhnya datang ke sekolah mereka dulu. Aneh kan?

Mobil sport putih sudah terparkir rapi di halaman sekolah yang sepi murid di hari minggu.

Donghae berlari, tidak ada waktu lagi untuk berjalan santai ketika sahabatnya membutuhkannya, menuju atap gedung sekolah.

Hatinya berteriak girang mendapati Yoo Jin sedang menikmati es krim rasa vanilla kesukaannya.

“Kau benar-benar sukses membuatku kebingungan, Lee Yoo Jin.”

Gadis itu mengangkat kepalanya. Matanya berkantung panda, bibir yang pucat, tapi badannya terlihat lebih berisi dari terakhir kali.

Yoo Jin tersenyum. “Tidak merindukanku?”

Tanpa berkata apapun lagi, Donghae memeluk tubuh Yoo Jin yang tidak kurus lagi. Yoo Jin membalas pelukan itu dengan suka cita.

Sudah lama sekali rasanya dia tidak bertemu dengan Donghae, sahabatnya yang selalu ada di waktu paling terpuruknya.

“Sangat merindukanmu, bodoh!” Donghae mengusap rambut Yoo Jin yang lumayan tidak terawat.

“Kemana saja kau selama ini? Kami mati-matian mencarimu. Apalagi Lee ahjumma terus-terusan mencekokiku harus segera menemukanmu.”

Yoo Jin tertawa. “Aku hanya menyendiri. Menenangkan diriku dari dunia. Aku ingin tahu apa yang bisa kulakukan tanpa gelimang harta. Ternyata aku bisa.”

“Kau berhutang cerita padaku.”

“Iya, maka dari itu aku memintamu datang. Mau es krim?” tawar Yoo Jin sambil menyodorkan es krim pada Donghae yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

Masih saja seperti dulu. Mereka akan bercerita banyak hal sambil menikmati es krim.

“Aku mengunjungi panti asuhanku. Disana aku bertemu Park ahjumma yang dulu pernah mengurusku. Coba tebak, apa yang kudapat?” senyuman manis terbit di bibir Yoo Jin. “Orang tua kandungku mencariku!”

“Apa? Benarkah? Lalu?”

“Aku diberikan alamat mereka, dan niatku minggu depan aku pergi kesana.”

“Aku turut bahagia, Jin-ah. Kau memang sepantasnya mendapatkan kebahagiaan lebih.” Donghae terdiam sebentar melihat ekspresi Yoo Jin yang berubah.

“Maaf, aku tidak jujur selama ini. Sejak dulu aku sudah tahu kebrengsekan Kyuhyun tapi aku terlalu takut kau tidak akan mempercayaiku. Aku tahu kau sangat mencintai pria yang sialan bajingan itu.”

Yoo Jin tertawa lirih. “Sayangnya aku ingin pergi dari kehidupan pria itu, aku malah mendapati diriku mengandung anaknya.”

“APA?!”

“Aku hamil.”

Donghae kaget bukan main. “Kau bercanda? Jangan bercanda, Jin-ah.”

Yoo Jin menggeleng lalu mengedikkan bahunya, “Kau tidak lihat aku semakin gendut? Oh, kehamilan ini membuat berat badanku naik dua kali lipat.”

Entah bagaimana ekspresi Donghae sekarang sehingga Yoo Jin tertawa. Pasti Donghae kaget. Yoo Jin juga. Pantas dia sering mual setiap pagi, ternyata dugaannya benar, dia sedang hamil.

“Lalu?”

“Lalu?” Yoo Jin mengerutkan keningnya, “Lalu apa? Tentu saja aku akan merawat bayi ini.”

“Hmm, sendirian?” tanya Donghae ragu-ragu. Tidak mungkin kan, Yoo Jin meminta pertanggung jawaban dari Kyuhyun. Anggukan kepala Yoo Jin melegakan hati Donghae.

Tiba-tiba ide gila muncul di otaknya. “Bagaimana jika aku yang menjadi ayahnya saja?”

“Kau gila?” desis Yoo Jin terkejut, tapi tidak percaya. Donghae pasti bercanda.

“Aku bersungguh-sungguh. Aku bersedia menjadi ayah bayimu.”

Raut wajah serius Donghae menghentikan tawa Yoo Jin. Pria di depannya memang jarang bisa diajak serius. Tapi jika sudah begini, pasti pria itu tidak berbohong.

“Aku akan merawatnya sendiri. Biarkan aku menjadi ayah sekaligus ibunya. Aku orang tua yang kuat. Apalagi sebentar lagi aku akan bertemu dengan keluargaku. Aku yakin mereka pasti akan menerimanya.”

Yoo Jin meremas tangan Donghae, “Jangan mencemaskanku. Aku baik-baik saja.”

“Ya Tuhan—” Donghae menarik lengan Yoo Jin lalu memeluk tubuh gadis itu. “Kyuhyun benar-benar brengsek dan buta. Menukar gadis sebaik dirimu dengan gadis yang jelas-jelas tidak benar.”

“Yak!” Yoo Jin mencubit pinggang Donghae. “Gadis yang kau bicarakan adikku!”

Donghae tertawa lalu memeluk tubuh Yoo Jin semakin erat.

“Andai aku menjadi Kyuhyun aku tidak akan menyia-nyiakanmu apalagi berani menyakitimu. Kau harus bahagia, Jin-ah. Aku tidak akan membiarkan air matamu jatuh lagi.”

Yoo Jin membalas pelukan Donghae. Jika saja cinta itu tumbuh untukmu, Hae-ya, mungkin aku tidak akan seksakit ini, bukan?

Tapi sayangnya Tuhan ingin memberiku pengertian bahwa cinta tidak memandang siapa mereka yang membuat kita jatuh cinta.

Cinta itu ibaratnya sebuah pertanda jika sebenarnya kau siap sakit hati ketika cinta itu datang.

“Aku bersedia mengantarmu ke rumah orang tuamu.”

“Benarkah?”

Donghae mengangguk senang.

.

.

.

Min Hyo Rin membukakan pintu rumahnya lebar-lebar. Siapa orang yang bertamu sepagi ini? Gilanya dia sampai terusik dari mimpi indahnya dengan Donghae. Well, dia memang menaruh hati pada pria ikan itu.

“Siapa?” mata Hyo Rin nyaris melotot keluar karena sekarang melihat pria dalam mimpinya sedang berdiri di hadapannya.

“Min Hyo Rin-ssi?”

Donghae bersedekap. Lalu matanya mengamati penampilan gadis itu di pagi hari dari ujung kepala sampai kaki.

Rambut berantakan, baby doll kedodoran, dan sandal rumah berbulu. Benar-benar menggelikan sampai Donghae harus menahan tawanya tidak keluar. Apalagi sekarang gadis itu menganga dan sangat terkejut.

Oke, ini bukan di kantor yang biasanya mereka akan berebut pendapat atau Donghae yang senang menggoda gadis ini. Kedatangannya kemari adalah mengantar malaikatnya yang sedang berdiri di belakang tubuhnya.

Yoo Jin bergeser sedikit. Dia sama terkejutnya dengan Donghae. Tunggu dulu, dia tidak salah rumah kan?

“Apa ini rumah keluarga Min Hyun Sik?” tanya Yoo Jin sambil dalam hati berdoa jika dugaannya salah. Semoga mereka salah rumah.

“Benar, itu ayahku. Ada apa kau kemari mantan Presdir Lee?”

Yoo Jin mendesis kesal. Masih saja gadis ini bersikap kurang ajar padanya. Aha, tunggu saja, setelah kau tahu kenyataannya, kau tidak akan berani meledekku lagi.

“Bisa aku bertemu dengannya?”

Hyo Rin menaikkan sebelah alisnya. “Mau apa?”

“Kenapa? Tidak boleh? Aku tamu disini, nona Min.”

“Jawab dulu, ada urusan apa kau dengan appa?”

Yoo Jin menahan tangan Donghae yang sudah hampir bereaksi dengan sikap Hyo Rin. Biar aku yang menjelaskan.

Kurang lebih begitulah arti tatapan yang diberikan Yoo Jin untuk pria di sampingnya. Hyo Rin terpaksa harus cemburu melihat kedekatan mereka.

“Jika kau tidak memberi alasan yang jelas, pintu ini akan kututup lagi,”

Sebenarnya Hyo Rin tidak mau dibilang gadis tidak sopan yang membiarkan tamunya berdiri di depan rumahnya.

Tapi melihat kehadiran Yoo Jin malah membuat kemarahannya memuncak. Apalagi dia datang dengan pria yang dia sukai.

“Kalian mencari anak yang ditinggalkan di Panti Asuhan Gyeonggi-do?”

Gerakan pintu yang hendak ditutup oleh Hyo Rin terhenti. Dia terkejut.

Darimana gadis ini tahu? Bertahun-tahun mereka mencari keberadaan putri sulung keluarga Min. Tiba-tiba gadis ini dnegan sok tahunya menanyakan hal itu padanya.

“Darimana kau tahu?”

“Biarkan aku masuk dulu.” kata Yoo Jin setengah memaksa. Gadis itu membuka pintu itu lagi.

“Tidak, sebelum kau memberitahu maksudmu apa sebenarnya!”

Donghae jadi ikut geram. Pasalnya gadis bernama Min Hyo Rin ini memang sangat keras kepala dan tidak mudah percaya pada orang lain.

Oh, inilah alasannya kenapa Yoo Jin juga memiliki sifat persis dengan Hyo Rin.

“Yoo Jin adalah gadis yang kalian cari.”

“APA?!”

Yoo Jin tersenyum. “Mencariku, adikku?”

“Tidak mungkin!”

Lee Yoo Jin adalah kakaknya? Kurasa kiamat sudah datang!

.

.

.

To Be Continue

*Kalau kalia lupa yang mana cast ‘Min Hyo Rin’ dia di Switch Chapter 1 pernah menghina Yoo Jin yang tidak hamil-hamil karena kelainan*

Baca: Switch [Chapter 1]

 

Advertisements

67 thoughts on “Switch [Chapter 6]

  1. ddianshi says:

    Wkwkwk ini kejutan apalagi sih? Jadi maksudnya yoojin itu kakak kandung min hyo rin??? Uwwaaa baguslah 🙂 semoga yoojin segera bahagia bersama keluarga kandungnya dan tentunya baby min ❤ tapi bagaimana dengan hyorin yang masih saja sewot sama yoojin 😦 untung ada donghae yang selalu setia disisi yoojin :-* ditunggu pake banget part 7nya semangat ❤

    Liked by 1 person

  2. Vyea Lyn says:

    Whakakaka….kok aku ngakak ya bacanya!
    Pdahal gk ada yg lucu. Tapi pingin ketawa aja tau Yoojin saudara dgn Min Hyo Rin.

    Hah…semoga kehidupan Yoojin semakin baik ajalah,tanpa Kyuhyun.

    Like

  3. syalala says:

    mampuuuuuuuuyyyy kyuhyun hahahaja biarin aja rssain ditolak sana sini emg dasar gila sih dua duanya kyuhyun gila yoori gila haha bodo amat aku udha muali emosi nih apalagi yoojin udah tau kalo dia hamil skrg ah gilakkk

    Like

  4. deerbugsy says:

    Kyu kyu lo emang bego, ni ggalin perempuan yang super baik demi jalan itu,,
    Harusnya kyu tegas dong kalau di mencintai yoojin dengan sungguh2 …apa lagi sekarang yoojin mengandung anaknya kyu,

    Akhirnyaa yoojin ketemu sama keluarga yang sesungguhnya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s