Switch [Chapter 5]

Switch Chapter 5
by Luna

Genre:
NC, Sad, Married-life, Romance, Chaptered

Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin | Lee Yoo Ri

Cuap-cuap Author:
Haloo readers, apa kabar? Semoga selalu baik (amin). Pasti udah pada gereget kan pengen tau kelanjutan FF ini 😀
Maafkan daku yang katanya janjiin nge-publish kemarin siang (mana? Mana? Udah ditungguin juga!) malah jadi pagi ini (siap-siap thor, di-obor sama readers)

Oke, oke, udah deh haha-hihi-nya
Happy reading^^

*Siapin tisu ya*

d

Warning typo bertebaran!
—oo0000oo—
Chapter 5
Explanation

Yoo Jin menerobos masuk di antara orang-orang yang mabuk di pub itu sambil menutup hidung.

Tidak kuat dengan asap rokok dan bau minuman keras yang dua kali lipat lebih menyengat dari terakhir kali kakinya menginjak tempat ini.

Pria bersuara berat meneleponnya lagi dan menyuruhnya pergi ke lantai dua ruang VVIP.

Yoo Jin mengibas-ngibaskan tangannya karena begitu dia membuka pintu asap rokok yang terendap entah berapa lama di ruangan itu langsung menyergap indera penciumannya.

Tercengang mendapati Kyuhyun, suaminya, dengan kepala berbaring di atas pangkuan seorang wanita malam berpakaian minim. Matanya terpejam.

Berusaha mengusir pikiran buruk yang mulai hilir-mudik ke otaknya, Yoo Jin menghampiri mereka. Seorang pria berseragam pelayan berdiri di samping mereka.

“Nona yang menjemput tuan Cho?”

Yoo Jin mengangguk lalu melirik pedas pada wanita malam seolah menyuruhnya jauh-jauh dari suaminya. Si wanita malam gelagapan mendapat lirikan menyeramkan begitu.

“Minggir!” Yoo Jin mendorong pelan tubuh si wanita malam dan menggantikan posisinya memangku Kyuhyun. “Tinggalkan kami berdua.”

Sang pria mengangguk mengerti dan bergegas keluar diikuti wanita malam yang ingin Yoo Jin tendang pantatnnya karena bisa-bisanya memanfaatkan ketidaksadaran Kyuhyun dan memangkunya.

“Kyuhyun, bangun.” Yoo Jin menepuk pipi suaminya yang sudah sangat teler.

Berapa botol Kyuhyun minum? Menoleh ke arah botol yang berserakan di atas meja dan terdapat beberapa sisa putung rokok di asbak.

Dia tidak pernah tahu kalau Kyuhyun adalah pria yang suka pergi minum, apalagi merokok. Sesuatu telah terjadi. Tapi apa?

Kyuhyun menggeram halus, menggerakkan pelan kepalanya yang kini menghadap ke perut milik Yoo Jin. Gadis itu mengusap rambut suaminya dan menepuk pipinya lagi.

Tepukan keras itu berangsur-angsur mengembalikan kesadarannya. Kyuhyun mengerjap-ngerjap. Merasa disorientasi. Dia memandang Yoo Jin yang jaraknya dekat dengannya.

Kyuhyun hampir melompat kaget. Dia menegakkan tubuhnya. Menoleh ke kanan-kiri, mencari sesuatu, begitu tidak mengetahui sesuatu yang dicarinya Kyuhyun menghela napas kecewa.

Apa itu?

Yoo Jin kesal. Kenapa Kyuhyun mempunyai banyak rahasia baru-baru ini? Dan apa Kyuhyun kecewa karena tidak menemukan wanita malamnya dan malah melihatnya disini?

“Kenapa kau disini?”

Kyuhyun malah bertanya, meningkatkan kekesalan Yoo Jin makin menjadi-jadi.

Gadis itu menghembuskan napas kasar lalu berdiri tegap. Dia merasa perasaannya sedang dipermainkan oleh Kyuhyun.

Bukan pertanyaan itu yang Yoo Jin harapkan. Melainkan sebuah penjelasan tentang perilaku aneh Kyuhyun malam ini. Beralasan tidak ikut ke rumah orang tuanya dan malah terkapar di sebuah pub.

“Kenapa kau mabuk berat?” balas Yoo Jin dingin.

“Kalau kau masih ingin bermain-main disini, aku tidak keberatan. Ambil waktumu. Tapi kumohon, jangan merusak tubuhmu dengan ini semua,” tunjuk Yoo Jin pada botol dan rokok di atas meja. “jangan mabuk lagi. Bukan seperti Kyuhyun yang kukenal.”

Setelah berkata begitu, Yoo Jin berjalan keluar ruangan. Kyuhyun masih menatap Yoo Jin dengan pandangan bingung.

Baru setelah dia sadar jika Yoo Jin meninggalkannya, Kyuhyun meremas rambutnya kesal dan bergegas mengejar istrinya.

Tadinya dia memang datang ke pub tidak untuk mabuk. Hanya melepas penat dan menemui seseorang. Tak disangka istrinya malah memergokinya dalam keadaan lebih buruk dari itu.

“Jin-ah, tunggu,” Kyuhyun mencekal lengan Yoo Jin saat di lapangan parkir. “maafkan aku. Kumohon jangan marah,” Kyuhyun membalikkan tubuh istrinya agar mereka berhadapan.

Yoo Jin mengepalkan tangannya dalam tahanan lengan kekar Kyuhyun.

“Bisa kau jelaskan apa yang kau lakukan dengan wanita malam itu? Kenapa dia bisa sampai memangkumu? Apa kalian—astaga!”

Tatapan Yoo Jin terpaku pada tanda keunguan di sekitar leher Kyuhyun dan kemeja putih suaminya bernoda lipstik merah milik wanita. Yoo Jin menghentak lengan Kyuhyun yang menahannya.

Matanya berkilat marah. “Kau bermain dengan wanita itu!” geram Yoo Jin.

Tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi dari Kyuhyun, Yoo Jin berbalik menaiki mobilnya dan pergi.

Kyuhyun meneriakkan nama Yoo Jin frustasi dan kesal. Merutuki kebodohannya. Merutuki kebejatannya.

Bukannya bersyukur diberi istri yang setia, malah bercumbu dengan wanita lain.

Apa?

Sebut Kyuhyun brengsek. Dia jauh-jauh pergi ke pub ini untuk menemui Yoo Ri. Mereka bercumbu. Itu tidak sengaja. Yoo Ri yang memaksa.

Dan Kyuhyun hanya menuruti gairahnya yang sudah tersulut setelah meminum wine. Kyuhyun bahkan tidak menyadari jika Yoo Ri meninggalkan jejak lipstiknya di bajunya.

Sialan!

Padahal malam ini Kyuhyun berniat membawa Yoo Ri pulang. Kyuhyun sedang menunggu kedatangan Yoo Ri tadi saat tiba-tiba wanita malam menghampirinya dan memberinya banyak wine.

Kyuhyun tidak tahu kapan dia kehilangan kesadarannya hingga harus berakhir di atas pangkuan wanita malam.

Aish! Kyuhyun berlari menuju mobilnya, menyusul istrinya yang dia yakin pergi ke rumah orang tuanya.

.

.

.

“Jin-ah sayang, daging ini sangat lezat!”

Yoo Jin tidak peduli lagi dengan orang-orang yang memuji masakannya begitu kakinya menapak halaman rumahnya. Bahkan saat Ibunya hendak masuk ke kamarnya, anak gadisnya melarangnya.

Dia sedang ingin sendiri. Pikirannya keruh. Kemarahannya belum padam. Dia tidak ingin memarahi siapapun saat ini, makanya dia memilih bungkam.

Nyonya Lee meremas tangannya di dada, cemas dengan keadaan putrinya yang berubah drastis sejak pulang entah dari mana. Sementara di luar acara belum selesai dan sekarang saatnya menyajikan hidangan penutup.

Seolah mendapat jawaban dari keresahannya, Nyonya Lee lega melihat menantunya—dengan penampilan berantakan—berjalan tergesa-gesa menghampirinya.

“Ibu, apa Yoo Jin di dalam?” tanyanya dengan terengah-engah. Nyonya Lee mengangguk. “Aku akan masuk.”

Kyuhyun berjalan masuk ke kamar istrinya yang untungnya tidak dikunci. Matanya mengedar ke sekeliling ruangan.

Ini pertama kalinya dia memasuki kamar Yoo Jin remaja. Dinding yang dicat ungu dengan perabotan minimalis.

Ranjang queen size di tengah ruangan disanalah tubuh istrinya terbenam di antara bantal-bantal. Kyuhyun menghembuskan napas lega.

Setidaknya Yoo Jin tidak bersikap seperti seorang remaja labil yang menghancurkan kamarnya setelah melihat suaminya tidur di pangkuan wanita lain.

Tidak. Itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan kesalahan.

Sangat pelan Kyuhyun melangkah menuju ranjang. Langkahnya nyaris tak terdengar dan kamar itu hanya dipenuhi tangisan teredam di antara bantal. Hati Kyuhyun teriris melihat Yoo Jin saat ini.

Kyuhyun tidak bisa membayangkan jika suatu saat dia akan meninggalkan gadis ini apa jadinya?

Kyuhyun menggeleng. Dia tidak boleh memikirkannya. Yang terpenting sekarang adalah ketenangan Yoo Jin. Soal Yoo Ri dia akan memikirkannya nanti.

“Yoo Jin sayang,”

Kyuhyun mengusap puncak rambut Yoo Jin lalu menarik istrinya ke atas pangkuannya agar tidak menyembunyikan wajahnya lagi, memeluknya sangat erat. Membiarkan pundaknya basah karena tangisan istrinya.

“Tuhan, aku benar-benar tidak melakukan apapun, percayalah padaku.” Sialan! Kau berbohong, Kyu!

Yoo Jin menghentikan tangisnya dan menyisakan isakan-isakan kecil, membuat pelukan Kyuhyun mengerat.

Yoo Jin menangis karena marah. Dia menangis karena dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya pada pria yang sangat dicintainya.

“Apa kekuranganku, aku bisa memperbaikinya.”

Kyuhyun mencelos. Tidak menyangka Yoo Jin akan berkata begitu. Istrinya tidak mempunyai kekurangan sedikitpun. Dia wanita yang sempurna.

Tapi itu juga yang membuat Kyuhyun merasa bersalah karena sudah membohongi Yoo Jin habis-habisan. Tidak terhitung lagi berapa ribu dosa yang dia lakukan untuk menutupi kepura-puraannya.

“Tidak, kau sangat sempurna. Tidak ada yang sesempurna darimu, Jin-ah.”

“Tapi kenapa kau bersama wanita lain?”

“Aku tidak mengenal wanita itu. Kenapa kau masih tidak percaya?”

Kyuhyun melepas pelukan mereka. Menatap tajam istrinya, berharap Yoo Jin tidak bisa menangkap keraguan dalam suaranya.

Hati Yoo Jin kecewa. Kyuhyun hanya mengatakan tidak mengenal wanita malam itu, bukan berarti dia tidak menginginkan wanita lain.

Kenapa harus disana? Kenapa harus di pub yang jauh dari Seoul? Kenapa harus di pub yang berada di satu tempat dengan alamat terakhir Yoo Ri? Mulutnya sangat gatal ingin menanyakan itu.

Tapi apa yang Yoo Jin lakukan? Dia justru melabuhkan kepalanya di antara cerukan leher Kyuhyun, menghirup wangi suaminya yang sudah bercampur dengan parfum wanita lain.

Yoo Jin akan menutup mata dan pura-pura tidak tahu. Lagi-lagi begini. Yoo Jin sampai harus menelan pil kecewanya.

Hatinya terluka. Tidak parah. Tapi jika kalian pernah digores dengan pisau tajam. Begitulah rasanya.

Tapi kenapa dia tetap bertahan walaupun dia sudah tahu jika Kyuhyun selama ini hanya berpura-pura?

Kenapa?

Karena pria ini adalah cintanya. Dia tidak ingin kehilangan Kyuhyun.

Namun, Yoo Jin tidak pernah tahu. Seberapapun besar keinginannya untuk terus bersama Kyuhyun tidak akan mengubah apa-apa.

Pria itu. Dia sudah memantapkan hati untuk mengubur cintanya yang sudah mulai bersemi untuk istrinya demi mengembalikan kehidupan gadis yang dulunya pernah didepaknya jauh-jauh.

Perjanjian tetaplah perjanjian.

Menceraikan Yoo Jin, menikahi Yoo Ri, dan gadis itu akan bersedia kembali.

.

.

.

Datanglah ke restoran Plaza Hotel jam 7 malam ini. Ada kejutan menantimu.

Yoo Jin tersenyum bahagia. Dua minggu setelah kejadian malam itu, sikap Kyuhyun benar-benar kembali seperti sedia kala. Suaminya itu terang-terangan menunjukkan perhatiannya dan keromantisannya di depan semua orang.

Bahkan di hari minggu yang biasanya dia habiskan untuk tidur karena satu minggu bekerja tanpa henti, Kyuhyun mengajaknya ke Lotte World.

Bermain layaknya remaja yang dilanda kasmaran dan baru meresmikan hari jadi mereka. Benar-benar minggu-minggu yang sangat membahagiakan.

Bora mengetuk pintu dan wajahnya muncul di antara celah pintu yang dia buka. “Presdir, anda ingin makan sesuatu?”

Yoo Jin tersenyum lebar. “Bawakan aku jus jeruk saja.”

“Padahal anda terlihat pucat,”

“Benarkah?” Yoo Jin memegang kedua pipinya yang padahal habis merona karena pesan singkat dari Kyuhyun.

“Mungkin perasaanku saja, Presdir. Jus jeruk segera datang!” Bora menutup kembali pintu ruangan itu.

Yoo Jin menyentuh keningnya. Memang terasa sedikit hangat dari biasanya. Ah, mungkin hanya kelelahan biasa karna beberapa hari ini dia sering bekerja lembur.

Baru saja gadis itu mau membuka laporan keuangan terbaru minggu ini ketika dia merasa perutnya bergejolak dan sesuatu di dalam sana mendesak keluar.

Yoo Jin segera bangkit menuju toilet yang ada di dalam ruangan dan memuntahkan isi perutnya di wastafel.

Yoo Jin muntah lagi, menguras perutnya hingga yang keluar hanya berupa cairan sedikit kental.

Tubuhnya lemas. Berpegangan pada pinggiran wastafel sambil mengusap mulutnya dengan handuk kering yang tersedia.

Kenapa rasanya kepalanya sakit dan berputar-putar? Perutnya bergejolak lagi dan muntah lagi.

Yoo Jin memandangi pantulan dirinya di cermin. Sosok gadis berwajah pucat dengan keringat dingin mengucur di pelipis.

Astaga, sakit apa ini?

Yoo Jin berusaha menguatkan diri untuk berjalan keluar dan berbaring di sofa. Lima menit kemudian pintunya diketuk dan Bora masuk dengan ekspresi khawatir melihat atasannya terbaring lemas di sofa.

“Presdir, anda pucat sekali. Apa anda merasa sakit? Dimana?”

Bora menyodorkan jus jeruk pesanan Yoo Jin dan entah kenapa rasa mual itu datang lagi begitu dia mencium baunya.

Yoo Jin bergegas berlari ke toilet dan benar, dia memuntahkan isi perutnya yang berupa cairan bening.

Bora sudah berdiri di belakangnya lalu memijat leher belakangnya saat Yoo Jin muntah lagi. Gadis itu mengangkat sebelah tangannya agar Bora berhenti.

Setalah berkumur sebentar, Yoo Jin kembali berbaring di sofa.

“Presdir, ada yang bisa kubantu?” Bora bertanya lagi dengan kekhawatiran berlebihan. “Anda benar-benar pucat. Apa perlu aku panggilkan petugas untuk mengecek kondisimu?”

Yoo Jin menggeleng lemah. “Kelelahan biasa, tidak perlu secemas itu. Bora-ya, tolong kosongkan jadwalku setelah ini sampai aku merasa lebih baik.” Bora mengangguk mengerti.

“Apa aku perlu menghubungi Tuan Cho?” Yoo Jin terdiam sejenak.

Apa dia perlu memberitahunya? Tapi dia tidak mau mengganggu pekerjaan Kyuhyun. Pria itu sudah sibuk mengurus perusahaannya seorang sendiri bahkan di rumah sekalipun.

Tidak, lebih baik tidak usah memberitahunya. Lagipula nanti malam mereka akan bertemu.

“Tidak perlu. Tolong bangunkan aku sebelum jam empat saja. Aku ada makan malam dengan suamiku jam tujuh.”

“Aku mengerti. Tunggu sebentar presdir, akan kuminta office boy mengantar selimut ke ruanganmu.”

Yoo Jin memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya yang berputar. Membiarkan Bora bergerak sekehendak hatinya yang menurutnya terbaik.

Seseorang menyelimutinya dengan selimut lembut, sesaat sebelum Yoo Jin benar-benar terlelap dalam tidurnya. Ini yang dia butuhkan. Beristirahat dengan damai.

Langit sudah berubah jingga ketika Yoo Jin terbangun. Sudah berapa lama dia tertidur? Melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. Jam lima!

Yoo Jin melompat dari posisi berbaringnya dan melihat Bora sedang tidur sambil duduk di sofa yang lain.

Eh? Bora pasti ketiduran saat menjaganya. Kasihan sekali. Yoo Jin mengambil selimut yang tadi dipakainya dan meletakkannya di atas tubuh Bora.

Tidak mungkin dia pulang ke rumah sekarang karena jalanan pasti macet jam-jam pulang kantor. Menatap ke arah bajunya yang sepertinya tidak terlalu kusut, Yoo Jin meraih tasnya dan bergegas keluar.

Membutuhkan waktu lebih dari setengah jam sampai di Plaza Hotel. Ditambah dengan sedikit kemacetan, mungkin dia akan tepat jam 7 sampai disana.

Rasa mual dan sakit di sekujur tubuhnya sudah tidak dirasakan lagi. Berarti memang benar, dia kelelahan. Tidur selama lima jam sangat mujarab.

Yoo Jin mengirimkan pesan pada Bora agar gadis itu segera pulang setelah bangun. Dia berterima kasih atas perhatian sekretarisnya itu yang selalu mengutamakan kenyamanannya daripada dirinya sendiri.

Pesan baru masuk. Yoo Jin merogoh isi tasnya mencari keberadaan benda segi empat itu.

Mampir ke kantorku sekarang, sayang. Kita berangkat bersama.

Yoo Jin tersenyum manis. Jari-jari lentiknya menari di atas layar ponselnya untuk membalas pesan dari Kyuhyun yang isinya dia akan segera datang.

.

.

.

Gedung pencakar langit yang angkuh itu menyimpan sejuta rahasia mematikan.

Yoo Jin melangkah riang menuju ruangan kerja Kyuhyun yang terletak di lantai teratas. Tidak ada yang bisa mencegah kegembiraannya yang meletup-letup selain keberadaan Kyuhyun di sisinya.

Sun Hee, sekretarisnya sudah tidak berada di balik meja dekat pintu ruangan suaminya. Ah, pasti gadis itu sudah pulang.

Ruangan Kyuhyun tidak tertutup dengan rapat. Baru saja Yoo Jin hendak menerobos masuk, memeluk Kyuhyun, mendapat ciuman hangat, dan mengungkapkan betapa senangnya dia hari ini, detik itu juga Yoo Jin membeku di depan pintu.

Kyuhyun tidak sendirian. Seorang wanita sedang bersamanya. Dan Yoo Jin tahu betul itu bukan sekretarisnya.

Percakapan yang mereka ciptakan tidak ada yang tahu jika Yoo Jin mendengarnya.

.

.

.

Yoo Ri berdandan mati-matian sebelum Kyuhyun menjemputnya di salon ternama di Seoul. Akhirnya setelah tujuh tahun penderitaannya akan berakhir malam ini.

Kyuhyun menjanjikan akan memulangkan Yoo Ri ke rumah orang tuanya.

Dan sesuai dengan perjanjian, jika dirinya kembali, saat itu juga Kyuhyun harus meninggalkan istrinya. Kakaknya.

Lee Yoo Jin. Nama itu terngiang lagi.

Seandainya kau tidak mendekati orang tuaku, merebut perhatian mereka, andai kau tidak memanfaatkan kepergianku dan menikah dengan Kyuhyun, aku tidak akan sekejam ini.

“Kau sangat mempesona malam ini, Yoo Ri. Dan kau harus berhasil menarik Kyuhyun ke atas ranjang lagi malam ini,”

Yoo Ri terkekeh.

Mengambil tasnya lalu melangkah anggun menghampiri mobil Kyuhyun setelah mendapat pesan dari pria itu jika dia sudah menunggunya di lapangan parkir lantai dasar.

“Malam, oppa,” sapa Yoo Ri sembari mencium pipi kanan Kyuhyun dengan mesra.

Kyuhyun tersenyum masam. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan kepenatan yang dia rasakan. Juga rasa gelisah di hatinya.

Malam ini, dia akan mengajak Yoo Jin makan malam bersama sekaligus membawa Yoo Ri ke hadapan istrinya. Dan malam ini juga Kyuhyun harus menceraikan istrinya.

Tegakah?

Tidak. Tapi Kyuhyun harus.

“Kau pucat, oppa. Apa kau sakit?”

Yoo Ri benar-benar khawatir. Kenapa Kyuhyun sepucat ini? Apa dia tidak rela harus berpisah dengan kakaknya? Rahang Yoo Ri mengetat.

Kalau sampai Kyuhyun hanya membodohinya, berpura-pura akan menceraikan istrinya sehingga dirinya mau kembali, Yoo Ri bersumpah akan menghancurkan Yoo Jin.

Biarkan kakaknya yang ganti menderita.

Haruskah dirinya yang selalu menderita? Berapa lama lagi? Tidak cukupkah tujuh tahun itu Yoo Jin bersenang-senang? Menikmati kekayaan orang tua angkatnya. Bermesraan dengan Kyuhyun setiap hari.

Jangan berharap, Lee Yoo Jin!

“Tidak, aku hanya kelelahan. Kita berangkat sekarang, ya?” Kyuhyun tersenyum kemudian melajukan mobilnya menuju Seoul.

Sesuatu bergetar di pantat Yoo Ri. Gadis itu segera mencari keberadaan ponsel yang diyakininya sebagai milik Kyuhyun.

Ada ikon kecil yang menunjukkan pesan baru masuk. Sebuah pesan operator yang tidak terlalu penting.

Yoo Ri mengotak-atik isi pesan Kyuhyun tanpa sepengetahuan pemiliknya.

Ugh, Kyuhyun menjadi pendiam malam ini.

Bahkan pria itu tidak sadar jika ponselnya sudah dimainkan oleh gadis yang saat ini masih berstatus sebagai adik iparnya. Dan mungkin sebentar lagi berganti status menjadi istri barunya.

SIAL.

Yoo Ri melihat-lihat isi pesan Kyuhyun dan begitu tertarik untuk membuat sebuah permainan malam ini.

Oh, ayolah, Yoo Ri menyukai permainan. Sangat tidak seru jika mereka bertiga hanya bertemu dan terjadi begitu saja.

Kepalanya menoleh pada Kyuhyun, “Oppa, aku ingin melihat kantormu, bolehkah?”

“Hmm,” Kyuhyun melirik jam di mobilnya. Pukul lima sore.

Perjalanan ke kantornya hanya membutuhkan waktu sepuluh menit jika tidak macet. Masih lama waktunya bertemu dengan Yoo Jin di restoran.

“Baiklah, kita ke kantor sebentar setelah itu kita pergi makan malam.”

YES!

Yoo Ri nyaris memekik senang. Tangannya buru-buru mengetik pesan baru yang ditujukan untuk istri Kyuhyun.

Mampir ke kantorku sekarang, sayang. Kita berangkat bersama.

SEND!

Yoo Ri bergegas menghapus pesan terkirim itu kemudian menyembunyikan ponsel Kyuhyun di pangkuannya.

Oh, oh, sore ini akan jadi momen kehancuran Yoo Jin yang sangat menyenangkan.

Ponsel Kyuhyun bergetar dan Yoo Ri menduga jika itu pesan dari kakaknya. Jarinya menekan tombol off ponsel itu tanpa kentara. Foto Kyuhyun dan Yoo Jin yang memenuhi layar ponsel lenyap.

.

.

.

“Kantormu sangat bagus, oppa. Kau yang membangunnya sendiri?”

Yoo Ri mengitari ruang kerja Kyuhyun dengan perasaan bahagia.

Bukan hanya bahagia karena sebentar lagi dia mungkin akan mendapat panggilan baru seperti ‘Nyonya Cho’, tapi mengingat sebentar lagi akan terjadi perpecahan dan pertengkaran yang luar biasa.

“Bukan, ini adalah perusahaan turun-temurun keluarga Cho. Aku baru menjalankannya setahun terakhir. Kau mau minum sesuatu?”

Tawaran Kyuhyun menarik perhatian Yoo Ri. Gadis itu berpikir untuk menahan sebentar lagi Kyuhyun disini. Karena tidak lama lagi mungkin kakaknya tiba.

Yoo Ri pun menggeleng lalu tersenyum, “Oppa kau belum menciumku hari ini.”

Kyuhyun diam saja ketika Yoo Ri melangkah mendekat, menarik dasinya dan memagut bibirnya. Melumat sebentar.

Kyuhyun tidak bisa merasakan apapun. Hanya ciuman lalu atas formalitas jika Kyuhyun menerima gadis ini.

“Oppa, kenapa kau pucat sekali? Kau sakit, hm?” Kyuhyun menggeleng lalu tersenyum. Berusaha meyakinkan Yoo Ri jika dia tidak apa-apa.

“Apa kau masih sedih karena anak kita telah tiada? Maafkan aku. Aku benar-benar tidak memiliki uang dan tidak sanggup mempertahankan kehamilanku.”

Benar. Anaknya dengan Kyuhyun memang sudah meninggal dalam kandungan Yoo Ri.

Gadis itu tidak memiliki rahim yang kuat di usianya yang masih 17 tahun. Dibuang oleh keluarganya dan tidak diberi uang sepeserpun, hidup menggelandang, apa yang bisa dia perbuat selain menggugurkan janinnya.

Yoo Ri ingat dua minggu yang lalu saat Kyuhyun mendatanginya ke pub untuk menanyakan keberadaan anak mereka sekaligus ingin membawa dirinya pulang.

Tapi pria itu sangat terpukul begitu tahu anak mereka tidak pernah lahir ke dunia. Tidak pamit tidak apa, Yoo Ri hanya meninggalkannya sebentar, tiba-tiba Kyuhyun sudah lenyap.

Yoo Ri mendapat informasi dari bartender disana ternyata istrinya datang menjemput. Lagi-lagi Yoo Jin. Gadis itu, ingin segera ia lenyapkan dari sisi Kyuhyun!

“Itu bukan kesalahanmu tapi murni salahku. Aku yang meninggalkanmu begitu tahu kau hamil. Aku minta maaf,” Kyuhyun bersungguh-sungguh. Dia masih menyesal karena sikapnya dulu. “dan aku akan menebusnya mulai hari ini, aku berjanji.”

“Dengan menceraikan istrimu?”

“Iya.” Meski Kyuhyun meragu, akhirnya kata itu terucap juga.

“Dan kau akan menikahiku?”

“Iya. Aku berjanji.”

Kyuhyun berusaha mengukuhkan hatinya yang terluka. Yoo Jin akan membencinya. Yoo Jin akan mengumpatnya. Yoo Jin akan meninggalkannya. Pikiran itu menyesakkan batinnya.

“Terima kasih!” Yoo Ri melempar tubuhnya ke dalam dekapan hangat dan nyaman di dada Kyuhyun. “Aku mencintaimu!”

Kyuhyun mengusap puncak kepala Yoo Ri dengan miris. Dia benar-benar akan di-cap sebagai pria brengsek setelah ini. Kau memang brengsek!

“Katakan padaku jika kau juga mencintaiku.”

Yoo Ri menengadahkan kepalanya. Menunggu dengan hati yang berdebar. Apakah Kyuhyun akan mengatakannya? Mencintainya?

Kyuhyun memandang mata Yoo Ri dengan hati bergejolak. Haruskah?

Kyuhyun tidak mengatakannya. Dia tidak sanggup. Yang dia lakukan kemudian merenggut bibir Yoo Ri dengan bibirnya.

Melumatnya seolah-olah Kyuhyun bergairah karena Yoo Ri. Biarkan Yoo Ri mengartikan ciumannya sebagai balasan ‘iya’ atas pertanyaannya.

Tentu saja gadis itu membalas tidak kalah panas dan bersemangat.

Ciuman Kyuhyun ini bisa diartikan sebagai kemenangannya, kan? Kemenangan atas hati Kyuhyun. Kemenangan atas tangisan Yoo Jin di ambang pintu ruang kerja Kyuhyun yang tadi sengaja tidak ditutup Yoo Ri.

Yoo Jin melihat semuanya. Mendengar semuanya. Detik itu juga Yoo Jin merasa langit runtuh di atas kepalanya.

.

.

.

Yoo Jin POV

“Apa kau masih sedih karena anak kita telah tiada? Maafkan aku. Aku benar-benar tidak memiliki uang dan tidak sanggup mempertahankan kehamilanku.”

Aku merasakan jantungku berhenti berdetak saat mendengar siapa pemilik suara yang dirindukannya. Lee Yoo Ri.

“Itu bukan kesalahanmu tapi murni salahku. Aku yang meninggalkanmu begitu tahu kau hamil. Aku minta maaf,”

Suara berat itu terdengar menyesal, “dan aku akan menebusnya mulai hari ini, aku berjanji.”

Suara orang yang kucintai. Orang yang kupercayai dalam hidupku. Orang yang mengucapkan sumpah di depan Tuhan bersamaku. Suamiku. Cho Kyuhyun.

“Dengan menceraikan istrimu?”

“Iya.”

“Dan kau akan menikahiku?”

“Iya. Aku berjanji.”

Aku menutup mulutku agar jangan sampai mengeluarkan suara apapun. Aku ingin mendengar percakapan mereka. Aku ingin tahu apa yang terjadi. Apa yang mengganggu suamiku di satu tahun pernikahan kami.

Aku tahu orang lain memandang iri pada kami. Pasangan sangat serasi. Cantik dan tampan, pemilik perusahaan berpengaruh di Korea, kaya, cerdas dan sederetan kata serasi lainnya.

Kami saling mengucapkan kata cinta setiap hari. Setiap kami bercinta. Tapi aku tahu, lebih tahu dari semua orang. Suamiku tidak pernah mencintaiku.

Ada seseorang di hatinya yang tidak bisa kugantikan posisinya. Tapi aku tidak pernah tahu siapa itu. Dan ternyata wanita itu adalah adikku sendiri.

Lee Yoo Ri, kau kemana saja? Kenapa tiba-tiba muncul memberikanku kejutan seperti ini? Aku begitu merindukanmu, tapi kenapa… kenapa?

Apa selama ini Kyuhyun juga mencari Yoo Ri? Apa sebenarnya Kyuhyun sudah mengetahui keberadaannya, menyembunyikannya dariku?

Apa aku wanita yang bodoh? Bodoh untuk kedua kalinya? Aku telah berusaha menjadi wanita yang buta, tuli dan bisu.

Buta, berpura-pura tidak melihat keengganan Kyuhyun ketika mengiyakan lamaranku. Tuli, pura-pura tidak mendengar dia mengigau dalam tidurnya meneriakkan panggilan sayang yang pasti bukan untukku. Bisu, pura-pura tidak ingin tahu masa lalunya dengan adikku.

Kini, mereka berdua. Bertemu. Dan apa yang kulakukan disini? Mengintip seperti orang bodoh. Seperti orang ketiga di antara hubungan Kyuhyun dengan Yoo Ri.

Apa yang kau lakukan Lee Yoo Jin! Pergi dari sana sebelum kau terluka lebih dalam!

“Katakan padaku jika kau juga mencintaiku.”

Hatiku mencelos. Robek. Terkoyak. Terluka. Meradang. Ya Tuhan! Guncangan apa lagi ini? Aku mencengkeram apapun di sekitarku, menopang tubuhku yang siap jatuh kapan saja.

Kyuhyun mencium adikku di bibir. Melumatnya dengan bergairah. Sama bergairahnya saat aku dan Kyuhyun berciuman. Kupalingkan wajahku kemanapun asal tidak pada mereka.

Aku menangis. Menangis tanpa suara. Dadaku sesak. Kepalaku sakit. Tapi hatiku lebih sakit. Seperti teriris sembilu, dihunjam ribuan panah bertubi-tubi.

Lebih sakit daripada saat aku ditolak oleh Kyuhyun dua kali. Aku menangis, terus menangis.

Apa yang akan kulakukan sekarang? Menangisi kebodohanku? Pernikahanku? Bagaimana? Aku meminta cerai saja? Aku harus apa? Dan kenapa badai ini datang dengan tiba-tiba tanpa pertanda?

.

.

.

To Be Continue

Advertisements

76 thoughts on “Switch [Chapter 5]

  1. aryanahchoi says:

    kapak mana kapak😠😠😠 apa mungkin nanti yoojin yg bkl minta cerai ke kyu dg berkata tdk mencintai kyu? mdg yoojin gx berkata apa2 biar kyu jdi merasa bersalah gitu kyknya yoojin hamil stlh cerai dri kyu yoojin pergi kemana kyknya gx mungkin blk ke rumah ortu angkatnya ditunggu bgt next part nya eon

    Liked by 1 person

  2. LeeAhn says:

    Cerai aja cerai aja cerai aja cerai aja…
    Biar in itu adalah karma buat kyuhyun n yoori…
    Tinggal in mereka,
    Hidup aja sama anakmu,, aku yakin ini yoojin lg hamil…
    Pokoknya jgn sampe mau d dua in, mending cerai, ntar yoojin di injak2 sama yoori n d abaikan sama kyu krn kyu masih merasa bersalah…
    Okeeeeee?????
    Jgn jfmd wanita lemah….
    Syukur thor cepet ketahuan…

    Liked by 1 person

  3. eunhyoshin88 says:

    Entah kenapa pas baca part ini aku pengen ngeluarin unek unekan ku tentang Kyuhyun. Yoojin malang sekali. Dia selalu di bohongi oleh Kyuhyun walaupun dia Tahu sendiri, dia tetep bertahan. Tapi setelah ini ku harap dia bercerai sama Kyuhyun

    Liked by 1 person

  4. treeyana says:

    Omo omo sumpah baca ini nyesek banget.
    Authornya keren bisa bikin perasaan naik turun.
    Oh sepertinya yoo jin hamil dan kyu kamu jahat banget.
    Donghae mana donghae ayo segera tolong yoo jin.
    Ah ga sabar sama part berikutnya.
    Oia btw salam kenal dan maaf aku baru koment disini setelah baca part sebelumnya.

    Liked by 1 person

  5. wienfa says:

    akhirnya..smuanya terbongkar..aku lbih skit..pas yoo jin tau kbusukn suami dn adik jalang nya itu.silahkan kyuhyun tingglkn istrimu dn nikahi yoo ri jalangmu itu.smuanya lbih mnykitkan..dg yoojin yg bkan anak kndung kluarga lee.aku brhrp km prgi aja yoo jin.hduplah sm anakmu.biarkn kyuhyun frustasi dg pnyslnny.
    smngt author..d tnggu nxt chap ny

    Liked by 1 person

  6. Rachel says:

    Minta izin chigu aku new reader disini 😊 pagi ini aku baru baca part 1-5 dan aku komen di part 5 ini.
    Part kali ini nyesek bgt ya ampun yoo jin hati nya terbuat dari apa selama 1 tahun hidup sama kyuhyun 😢 dan yoo ri kejem bgt sama kakak nya, ya ampun rasanya pengen cabik2 liat yoo ri sama kyuhyun, dan kyuhyun bakal cerai sama yoo jin? Dan sepertinya yoo jin hamil, aaah entahlah aku ga sabar nunggu kelanjutannya, jangan lama2 chigu up nya 😊

    Liked by 1 person

  7. ellylovelysweet says:

    Ah yoori aku satu satunya yg mendukung mu.. aku cuma mencoba menempatkan diri di posisi yoori aja gimana kalau aku jadi dia.. dan aku juga menempatkan diri di posisi yoojin dan aku yg yoori alami itu tidak adil karena yoojin mendapatkan segalanya.. sementara yoori harus berjuang hidup dengan jalan yg membuat dia terhina..

    Liked by 1 person

  8. ddianshi says:

    Syukurlah yoojin sudah tau kebenaranya 😦 meskipun itu sakit tapi apa boleh buat 😥 Jadi dulu yoojin yang ngelamar kyu? iya sudah bercerai saja lah mau dipertahankan juga tidak ada gunanya 😥 aku yakin kalo yoojin lagi hamil 😦 jangan sampai kyuhyun tau -_-

    Liked by 1 person

  9. Vyea Lyn says:

    Ya Tuhan,,Yoojin…!! Jadi kau semenderita itu selama ini??
    Jika sejak awal kau tahu kyuhuin begitu,,lalu untuk apa kau bertahan?? Dan sekarang masih ingin bertahan,jadi bisu dan tuli??

    Liked by 1 person

  10. Indribaekiii says:

    Duaarrrrrr, nyesek bgt
    Entah kenapa kyknya kyu sebenarnya cinta sama istri nya gitu
    Tapi rasa bersalah ke yoori lebih mendominasi semuanyaa

    Liked by 1 person

  11. syalala says:

    yesssss nerakamu dimulai dari skrg cho kyuhyunnnn rasakan sendiri akibatnya!!! jd yoojin yg tersakiti mah ti ggal sakitin balik si kyuhyun biar mati sekalian tersiksa wkwkwkwkw jahat bgt nih aku tp kyuhyun yoori lebih jahat huhuhuh

    Liked by 1 person

  12. deerbugsy says:

    Gw ikut sahit hati juga ngeliat kelakuan kyu sama adik iparnya, yaa tuhan seberengsek itukah, ,,,

    Gw yakin kyu bakalan menyesal, semenyesal nyesalnyaa kalau udah bercerai sa yoojin, dia kan wanita yang baik sabar sempurna, ngga kaya kelakuan adiknya ngga lebih kaya jalang,,

    Yaaa tuhan gw emosi banget, gw marah dan ngerasa sakit juga 😭😭😭😭

    Liked by 1 person

  13. yuliantif0488 says:

    Ah kyuhyun bodoh, kejam, tak berperasaan (kurang puas, makian apa lagi ya enak nya), penipu, penipu, penipu, PEMBOHONG.
    Tapi kyuhyun sudah mulai mencintai istri nya ya, tapi tetep saja kyuhyun bodoh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s