Switch [Chapter 3]

Switch Chapter 3
by Luna

Genre:
NC, Sad, Married-life, Romance, Chaptered

Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin | Lee Yoo Ri

Luna’s Speech:
*Ngusap peluh*
Akhirnya bisa publish part 3, makasiih banyakk readers dukungannya^^
Aku memilih untuk part ini memakai sudut pandang orang ketiga biar reader tahu juga apa sih dilema terbesar yang dirasakan tokoh lain

Happy Reading^^

d
Warning typo bertebaran!
—oo0000oo—
Chapter 3
I’m Back

 Kaki ini berhenti tepat di sebuah rumah mungil yang sangat sempit. Benar, ini alamat rumah Yoo Ri. Gadis yang tujuh tahun terakhir ini dicari istriku, aku menemukannya lebih dulu.

Bagaimana hidup Yoo Ri selama ini? Tidak baik-baik saja. Pikiran itu menusukku. Aku yang menelantarkannya. Aku yang menolak bayi dalam kandungannya. Kuakui diriku yang dahulu memang kejam.

.

.

.

“Cari siapa, tuan tampan?”

Badan Kyuhyun memutar dan tubuhnya menegang. Senyum menggoda khas wanita malam yang tersemat di bibir gadis di depannya lenyap. Berganti dengan ekspresi terkejut, tidak percaya, dan terluka.

Tubuhnya memperlihatkan semuanya. Bagaimana gadis itu menahan keras-keras tangannya untuk tidak melayangkan tamparan keras di pipi mulus Kyuhyun.

“Yoo Ri…”

Kyuhyun menyayangkan tahun-tahun ke belakang. Bagaimana dia bisa sangat acuh pada Yoo Ri di saat gadis itu mengalami keterpurukan terdalam.

Kyuhyun kabur. Kyuhyun menolak bertanggung jawab. Dalam otak Kyuhyun remajas saat itu dia tidak akan memiliki masa depan jika mempertahankan kandungan Yoo Ri.

Berharap segalanya akan menjadi baik, tapi justru yang terjadi sebaliknya. Yoo Ri dikabarkan menghilang sekembalinya Kyuhyun dari luar negeri.

Perasaan bersalah pun tumbuh di dadanya. Maka dari itulah dia bertekad menemukan gadis itu.

“Jangan sentuh aku.”

Tangan Kyuhyun tergantung di udara. Dia tidak akan membiarkan Yoo Ri pergi lagi. Dia sudah berjanji. Sedetik kemudian Yoo Ri berbalik, detik itu juga Kyuhyun mengejarnya dan mendekapnya.

“Maafkan aku.” kata Kyuhyun putus asa.

Yoo Ri menyeringai sinis. Maaf? Dia menyentak lengan Kyuhyun menjauh dari tubuhnya lalu berbalik, “MINTA MAAF? Kesalahanmu tidak termaafkan Cho Kyuhyun! Kau meninggalkanku sama seperti keluargaku yang membuangku.”

Kyuhyun menggeleng.

“Aku tahu dulunya aku brengsek. Tapi sungguh, kepergianmu membuatku sadar jika apa yang kulakukan padamu adalah dosa besar. Aku akan menebusnya dengan apapun.”

“Jangan membual tuan Cho. Kau tidak akan sanggup menebus kesalahanmu meski dengan nyawamu sendiri.”

Yoo Ri hendak pergi lagi ketika suara berat di belakangnya, suara yang bertahun-tahun dirindukannya, suara yang selalu meluluh-lantakkan hatinya, menahannya dengan kalimat yang menggetarkan hatinya sekali lagi.

“Aku berjanji dan janjiku tidak pernah main-main. Apapun untukmu akan kulakukan asal kau mau kembali.”

Yoo Ri melirik sedikit, “Apapun?”

“Iya.”

“Ceraikan kakakku dan nikahi aku.”

.

.

.

Ceraikan Yoo Jin dan menikahi Yoo Ri. Gila.

Kyuhyun meneguk wine-nya lagi. Tangannya menggoyangkan gelas berisi cairan merah pekat itu bimbang. Menyesap lagi rokok keduanya kemudian mengepulkan asapnya kuat-kuat.

Pria tambun yang kebetulan lewat di depan Kyuhyun mendengus kesal karena terkena asap rokoknya. Kyuhyun tertawa cekikikan.

Kapan terakhir kali dirinya minum minuman beralkohol dan merokok?

Sejak dia menikah dengan Yoo Jin.

Kyuhyun meremas rambutnya frustrasi. Dia berpura-pura. Kyuhyun terlihat sebagai pria baik-baik di mata Yoo Jin. Tidak pernah sekalipun Kyuhyun menunjukkan betapa gelapnya dunianya yang sebenarnya.

Sejak SMA dirinya selalu menipu Yoo Jin. Astaga, apa yang terjadi jika gadis itu tahu? Lagi-lagi Kyuhyun tertawa. Yoo Jin akan membencinya. Yoo Jin tidak akan terima dan meninggalkannya.

Kalau begitu tinggalkan dia. Batinnya bersuara. Kyuhyun menggeleng.

Satu tahun bersama Yoo Jin, sudah cukup membuktikan jika kehidupan Kyuhyun menjadi lebih baik.

Yoo Jin begitu sabar menunggu Kyuhyun membalas perasaan cintanya. Lalu apakah sekarang dia mencintai istrinya?

“Nona Yoo Ri baru saja masuk ke dalam bar, Tuan.” Ryeowook, asistennya berbisik pelan di telinga Kyuhyun.

“Apa yang akan dilakukan gadis itu,” desis Kyuhyun. Meminum tegukan terakhir wine-nya malam ini lalu melangkah menuju lantai dansa dan berdiri di barisan terdepan.

Kyuhyun benci saat semua orang menggebrak-gebrak meja sambil bersuit-suit menyambut kedatangan seorang penari streaptase yang sedang melangkah menggoda menuju kursi satu-satunya ke tengah lantai dansa diiringi alunan musik energik.

Yoo Ri sempat terperanjat melihat Kyuhyun berdiri di salah satu orang yang menyambutnya. Tapi segera dia acuhkan.

Yoo Ri melambai sekilas pada para pria di depannya. Mencari pria yang tepat untuk dilayaninya di kursi panas yang sudah tersedia.

Sekali lagi Yoo Ri mengabaikan tanda peringatan lewat mata Kyuhyun agar dirinya segera menyingkir sebelum pria itu bisa saja menghancurkan bar ini.

Mengikuti alunan musik. Yoo Ri bergerak menggoyangkan pantat indahnya ke depan mata para pria yang lapar akan dirinya.

Meremas payudaranya sendiri, mengerling nakal lalu tertawa khas wanita penggoda. Yoo Ri tidak peduli.

Inilah hidupnya. Sejak dia diusir dari rumahnya karena kehamilannya, Yoo Ri hidup terlantung-lantung di jalanan. Padahal selama ini dia hidup menikmati kekayaan orang tuanya.

Bekerja? Kau bercanda, dirinya adalah anak dari keluarga kaya.

Sampai Yoo Ri remaja mengenal dunia malam dan mulai berani merokok, minum minuman keras, dan merayu pria.

Bukan merayu sih, lebih tepatnya para pria itu dengan suka rela datang padanya dan membelikan dia ini-itu. Bahkan dia merelakan keperawanannya entah pria mana.

Miris bukan?

Tidak jarang caci-maki mampir dalam hidupnya. Yoo Ri berusaha menutup mata, telinga dan hatinya. Memang mereka tahu bagaimana menjadi dirinya?

Gadis 17 tahun yang ijazah SMA saja tidak punya, mau melamar pekerjaan apa yang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya kalau bukan profesinya sebagai wanita malam.

Saatnya pertunjukan puncak. Yoo Ri harus memilih salah satu pria yang menurutnya berkantong tebal yang mau membayarnya suka rela.

Yoo Ri hendak menarik seorang pria berkemeja biru laut tapi begitu dia tarik, Yoo Ri terkejut. Pria berkemeja biru laut sudah lenyap berganti dengan pria berjas armani mahal.

Nada tidak terima terdengar ricuh dari kaum pria.

“Apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun?” geram Yoo Ri tertahan.

Tunjukkan padaku apa kau berani menari menggoda di depanku.” Tanggap Kyuhyun dingin.

Kyuhyun tidak akan terima jika harus melihat Yoo Ri menggoda pria lain sementara dirinya disini bertahan demi mengajak gadis itu kembali ke kehidupan normalnya.

Yoo Ri mencibir. “Kau akan menyesal.” Yoo Ri mendorong pelan dada Kyuhyun hingga duduk di kursi yang tersedia disana.

Tak ingin mengulur waktu, Yoo Ri naik ke atas pangkuan pria itu dengan posisi menghadap si pria kemudian bergerak liar. Membentur-benturkan pusat tubuhnya dengan Kyuhyun sangat pelan.

Nada protes terdengar lagi.

Tak hanya itu, Yoo Ri sengaja mengarahkan payudaranya ke muka Kyuhyun lalu mendorong kepalanya ke depan, menggodanya untuk mengecupnya.

Kyuhyun yang merasa gairahnya dipermainkan dan tanpa sadar mengikuti alur permainan Yoo Ri.

Kyuhyun mengecup dada gadis itu lalu menggigitnya geram. Berani-beraninya Yoo Ri memakai bikini tak pantas seperti ini tanpa rasa malu.

Apa selama ini dia hidup seperti ini? Sial. Berarti sudah banyak pria yang melakukan adegan panas di atas kursi dengannya.

Yoo Ri terperanjat lalu mendesah. Dia tidak boleh kalah dari siksaan yang Kyuhyun berikan. Tangannya bergerak meremas payudaranya sendiri sambil mendesah berlebihan.

Aneh.

Yoo Ri memandang Kyuhyun yang hanya diam tidak balik menggodanya seperti tadi.

Yoo Ri mendekatkan wajahnya, “Merasa kalah?”

Kyuhyun kaget karena tiba-tiba Yoo Ri berdiri di antara kakinya kemudian memutar pinggulnya dengan sangat seksi di depan muka Kyuhyun membuat kehebohan lain dari para pengunjung.

Pelayan bar menyodorkan segelas bir pada Yoo Ri yang langsung ditenggaknya sampai tandas. Membiarkan sedikit lelehan bir mengalir di lehernya dan dia berteriak keras, “YEAH!”

Yoo Ri melompat turun ke lantai lalu menarik tubuh Kyuhyun ikut berdiri. Belum sempurna Kyuhyun berdiri, Yoo Ri dengan beraninya meremas kejantanan pria itu dari luar.

“Sial!” Kyuhyun menarik Yoo Ri lalu menyambar bibir merah gadis itu. Padahal Kyuhyun sudah mati-matian menahan gairahnya.

Tapi Kyuhyun juga lupa, Yoo Ri adalah gadis penggoda dan Kyuhyun adalah pria normal.

Gairahnya membuat Kyuhyun mengikuti permainan Yoo Ri dan melupakan gadis yang menunggunya di rumah dan menanti balasan dari telepon dan pesan-pesannya dengan was-was.

Yoo Ri menyeringai puas. Kyuhyun kembali ke dalam pelukannya. Inilah yang dia inginkan.

Yoo Ri tidak pernah berkeinginan memiliki harta yang melimpah lagi semenjak hidupnya tujuh tahun ini seperti roller coster.

Dia baru menyadari jika hal yang paling dia inginkan adalah seorang pria yang bersedia menghabiskan sisa hidupnya dengannya dan mencintainya setulus hati.

Biarlah begini dulu. Akan dia buat Kyuhyun menyetujui permintaannya menceraikan kakaknya.

Terdengar jahat?

Semua orang tidak ada yang tahu jika manusia paling jahat di dunia ini adalah Lee Yoo Jin. Kalian mengira gadis itu seorang malaikat? Kalian salah besar. Yoo Jin adalah perebut kebahagiannya.

Gadis itu hanya anak angkat di rumah, tapi kenapa selalu dia yang didengar pendapatnya? Kenapa Yoo Jin yang justru mendapat perhatian lebih dari orang tua kandungnya sendiri?

Yoo Ri meremas kejantanan Kyuhyun lagi saat mereka sudah berada di dalam kamar sewaan seperti apa yang dia inginkan. Kyuhyun melepas seluruh pakaiannya karena Yoo Ri sudah telanjang di depan pria itu sekarang.

Terbaring lemah sekaligus berkuasa di tengah ranjang. Kyuhyun menindihnya dan memasukkan batang tubuhnya yang sudah mengeras ke dalam milik Yoo Ri.

Gadis itu menjerit. Pertama kalinya sejak tujuh tahun mereka berpisah dan ternyata tubuh Yoo Ri menerima dengan baik milik Kyuhyun.

Sekalipun Yoo Ri masih merasa ingin marah karena perbuatan Kyuhyun dahulu meninggalkannya. Dia nyaris bunuh diri jika tidak ingat masih ada makhluk kecil yang perlu diurusnya.

Tapi kembalinya Kyuhyun sekarang dan mencarinya itu sudah cukup baginya untuk menerima pria itu lagi.

Yah.

Yoo Jin boleh mendapatkan apapun dari keluarganya.

Dan Yoo Ri akan mendapatkan Kyuhyun.

Cukup adil, bukan?

.

.

.

Dering ponsel di pagi buta mengusik kedamaian dua orang yang sedang terlelap kelelahan setelah menghabiskan banyak ronde bercinta.

Yoo Ri yang pertama kali tergugah. Dia melirik jam dinding masih menunjukkan pukul setengah sembilan lalu matanya mengarah pada ponsel milik Kyuhyun di nakas samping ranjang.

Yoo Ri terdiam melihat nama yang tertera di layar ponsel.

Your Love is Queen

Tanpa sadar Yoo Ri meremas ponsel itu. Telepon itu berhenti lalu bergetar lagi. Yoo Ri menunggu sampai si penelepon lelah dan berhenti menelepon.

Ternyata setelah telepon yang kedua, ponsel tidak bergetar lagi. Pesan singkat masuk. Berdebar-debar, Yoo Ri membukanya.

Sayang, kenapa tidak pulang semalam? Apa kau baik-baik saja? Semoga kau tidak lupa sarapan. Aku mencintaimu. Istrimu.

 Tangan Yoo Ri gatal ingin membuang ponsel itu. Tapi sesuatu menarik perhatiannya. Ada sekitar 27 pesan tak terbaca dan 59 panggilan tidak terjawab. Senyuman angkuh mencuat di sudut bibirnya.

Apa ini artinya Kyuhyun sengaja menghindari Yoo Jin? Baguslah.

Yoo Ri segera menghapus semua pesan dan daftar panggilan tak terjawab lalu mematikannya dan meletakkan kembali ponsel Kyuhyun di tempat semula.

Yoo Ri berbaring lagi di samping Kyuhyun, memeluk prianya dengan posesif.

Sangat nyaman. Oh, kau baru saja berbuat jahat, Lee Yoo Ri. Apa jadinya kalau Kyuhyun tahu? Tidak. Pria itu tidak akan tahu. Karena dia tidak akan membiarkan Kyuhyun mengetahuinya.

Aku sudah memaafkanmu, Kyuhyun oppa. Percintaan kita semalam menunjukkan segalanya jika kau adalah milikku sekarang dan jangan kaget jika aku akan melakukan apapun demi merebutmu.

.

.

.

“Cho Kyuhyun.”

Donghae cukup terkejut mendapati suami sahabatnya berdiri di depan bilik ganti pakaian wanita malam itu.

Awalnya dia mengira Kyuhyun sedang menunggu Yoo Jin, tapi betapa terkejutnya ia saat pintu bilik terbuka yang muncul sosok gadis yang bertahun-tahun ini menjadi pusat pencarian sahabatnya.

Samar-samar Donghae bisa mendengar suara gadis itu merengek meminta dibelikan gaun yang baru saja dicobanya.

“Oppa, yang ini yah?” Donghae mengernyit. Betapa anehnya seorang gadis selain istri Kyuhyun memanggil pria itu dengan ‘oppa’.

Donghae hendak memanggil Kyuhyun tapi mereka sudah berjalan menuju tempat pembayaran.

Haruskah dia memberitahu Yoo Jin sekarang?

Donghae memencet panggilan cepat untuk Yoo Jin tapi dia langsung teringat pada Bora sekretarisnya. Kenapa dia tidak menghubungi Bora saja?

Donghae selalu menyimpan nomor orang-orang penting termasuk orang terdekat Yoo Jin. Bukan apa-apa, ingin memastikan gadis itu selalu aman.

Gadis itu menikah dengan seorang pria bajingan yang dulu pernah memukulinya saat SMA sampai babak belur setelah dia mencuri dengar kalau suaminya kemungkinan menghamili Yoo Ri.

“Yeoboseyo?”

Senyum Donghae terbit. “Malam, Bora-ssi, apa aku mengganggu kencanmu?”

Suara di ujung sana tertawa malu. Donghae senang sekali bisa menggoda Bora, sekretaris Yoo Jin yang cantik itu. “Tidak, tidak sama sekali Tuan Lee.”

“Hmm, aku tidak suka ketika kau memanggilku seformal itu. Sudah kukatakan, kan? Panggil aku Donghae saja.”

“Ah, baiklah, Donghae-ssi. Ada perlu apa meneleponku?”

Donghae berdeham sebentar, “Kau tahu dimana Yoo Jin?”

Pria itu menepuk jidatnya sendiri. Pasti Bora mengiranya aneh karena menelepon gadis itu hanya ingin tahu keberadaan Yoo Jin.

Donghae buru-buru menambahkan, “Ada sesuatu hal yang tidak bisa kutanyakan langsung padanya, jadi aku ingin menanyakannya padamu.”

“Presdir sedang tidak bersamaku. Tadi dia pamit mau pergi ke kantor Tuan Cho, jadi dia menyuruhku pulang lebih dulu.” Penjelasan Bora membuat kerutan di kening Donghae semakin banyak.

“Kyuhyun tidak pulang?”

Sebelah alis Donghae terangkat saat matanya menangkap dua orang yang tadi sedang diamatinya berjalan keluar dengan menenteng banyak kantong belanjaan.

“Darimana kau tahu?”

Donghae menolak seorang pegawai mall yang menawarinya parfum merk terbaru dan bergegas mengikuti kemana dua orang itu pergi. Mereka berjalan menuju lapangan parkir.

“Dugaan saja. Tidak biasanya Yoo Jin mencari suaminya sampai ke kantor kalau bukan karena Kyuhyun menghilang tiba-tiba.”

Bora menghembuskan napasnya keras.

“Aku kasihan melihat presdir. Wajahnya pucat sekali pagi ini. Kemarin kami baru saja melakukan perjalanan jauh untuk mencari nona Yoo Ri tapi aku melihat sesuatu yang mencengangkan disana.”

“Apa itu?”

Donghae sudah melajukan mobilnya di belakang mobil yang dikendarai Kyuhyun.

Mobil audi putih di depannya menghalangi pandangan Donghae dari mobil Kyuhyun sehingga dia harus mengklakson mobil itu agar menyingkir.

Barulah dia segera menekan pedal gas dalam-dalam menguntit tepat di belakang mobil Kyuhyun.

“Aku melihat Tuan Cho sedang bermain dengan wanita malam.”

CKIITT!

“Brengsek! Hati-hati bung kalau berkendara!” maki pengendara motor yang terpaksa membanting motornya ke sisi lain agar tidak menabrak mobil Donghae yang berhenti mendadak.

“Maaf! Maaf!” ucap Donghae menyesal.

“Donghae-ssi? Kau baik-baik saja?” nada Bora terdengar cemas sekali.

“Bisa kita bertemu, Bora-ssi? Ada hal yang perlu ku-klarifikasi denganmu.”

Donghae menutup sambungan teleponnya dan mengumpat karena mobil Kyuhyun sudah tidak terlihat. Dia memukul setir mobilnya kesal. Apa yang dilakukan pria bajingan itu?

Lihat! Sudah dia bilang kan, Kyuhyun tidak pantas mendapatkan Yoo Jin!

Pria itu hanya mempermainkan perasaan gadis sebaik Yoo Jin. Tapi yang menjadi pertanyaan besar untuknya, apa yang dilakukan Kyuhyun dengan Yoo Ri adik sahabatnya yang menghilang tujuh tahun ini?

.

.

.

“Sekali lagi maafkan aku, Bora-ssi mengganggu malam-malam begini.”

Donghae memasuki apartemen Bora yang ternyata cukup luas untuk ditinggali seorang diri.

Bora menyuruhnya duduk di sofa sementara dia mengambilkan minuman hangat untuk Donghae.

“Tidak apa-apa, lagipula ini masalah penting. Benar, kan?”

“Kau tidak takut tinggal sendirian di apartemen sebesar ini?”

Bora tertawa sambil meletakkan secangkir teh di atas meja kemudian duduk di seberang Donghae.

“Tidak. Aku tinggal dengan adik perempuanku. Dia kelas tiga SMA dan sekarang sedang sibuk-sibuknya belajar untuk ujian akhir.” Donghae manggut-manggut lalu menyeruput tehnya.

“Langsung saja, Bora-ssi, apa maksudmu mengatakan Kyuhyun bermain dengan wanita malam?”

Bora menggigit bibirnya lalu membenarkan duduknya yang menjadi gelisah.

“Aku pergi ke Cheomdang-dong tempat tinggal nona Yoo Ri. Disana kami bertemu seorang wanita pemilik rumah dan dia bilang jika nona Yo Ri bekerja di sebuah bar. Karena penasaran, kami pergi kesana.”

Ada jeda sebentar sebelum Bora melanjutkan, “seorang wanita malam, ah, bukan, seorang penari membuat sebuah atraksi. Tidak, tidak, ya Tuhan aku bingung harus bagaimana membicarakan hal memalukan ini.”

Bora menutup mukanya yang memerah. Pikirannya melayang pada kejadian kemarin malam. Dia menonton secara live seorang pria dan wanita beradegan panas di hadapan umum.

Donghae tertawa melihat reaksi lucu itu. Dia sangat tahu Bora baru berumur 23 tahun—Yoo Jin yang mengatakannya, bukan dia mencari tahu—dan gadis itu sangat polos.

Donghae sudah menebak apa kelanjutan ceritanya.

“Mereka beradegan panas?” Bora mengangguk-angguk. Donghae berdeham untuk meredam tawanya. “Apa yang salah dari wanita itu?”

“Kalau aku tidak salah lihat, seorang pria yang ditarik ke tengah lantai dansa adalah Tuan Cho.” Keluh Bora akhirnya. Tawa Donghae benar-benar menghilang.

“Presdir tidak menyadarinya karena pria itu berdiri membelakangi, tapi aku yang duduk sedikit menyamping jelas melihat bahwa itu adalah Tuan Cho. Aku tidak berani memberitahu presdir. Aku takut dia tidak percaya dan aku mungkin bisa menyakiti hatinya.”

Bora mengangkat kepalanya, memandang ke arah Donghae yang ekspresinya sulit terbaca.

Wajah ramah yang selalu ditunjukkan pria itu menjadi ekspresi dingin, marah atau kesal? Bora tidak yakin.

“Donghae-ssi, kumohon jangan katakan apapun pada presdir, sampai apa yang kulihat terbukti benar. Aku tidak tega menyampaikannya karena aku tahu betapa presdir mencintai Tuan Cho. Dia akan sangat terluka, jika tahu—”

“Tapi dia akan sangat terluka jika mengetahuinya dari orang lain.”

Donghae tiba-tiba bangkit. “Aku yang akan memberitahunya. Kau tidak perlu khawatir.”

“Kau tidak akan sanggup—” Tangan Donghae tergantung di kenop pintu mendengar kalimat Bora.

Donghae tertegun saat mendengar kelanjutannya, “aku yang mengenal presdir hanya satu tahun begitu mengetahui sebesar apa kepercayaannya dan cintanya pada Tuan Cho. Sedangkan Donghae-ssi yang sudah mengenal presdir berpuluh tahun tentu tahu dan akan bijak dalam mengambil setiap keputusan. Presdir tidak akan semudah itu percaya. Dia pasti akan lebih mempercayai suaminya.”

Sial.

Bora benar.

Bertahun-tahun mengenal Yoo Jin, dia tahu saat gadis itu jatuh cinta, apapun yang dilakukan oleh pria yang disukainya akan dianggap benar sampai dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika pria itu tidak baik untuknya.

“Dan bukannya aku buta, aku tahu Donghae-ssi memiliki perasaan lebih untuk presdir sehingga Donghae-ssi pasti akan menjaga baik-baik perasaan presdir.”

Skak mat.

Benar.

Aku menyukai Yoo Jin. Perasaan yang tidak pernah terbalas karena Yoo Jin hanya mencintai satu pria. Cho Kyuhyun, brengsek kau!

.

.

.

Kyuhyun menghempaskan pantatnya di sofa apartemennya. Sepulang dari kantor dia mengunjungi sebentar Yoo Ri memastikan kalau dalam waktu dekat dia akan membawa gadis itu kembali ke kehidupannya yang semestinya.

Dua hari pertemuannya dengan Yoo Ri ternyata sanggup memporak-porandakan hatinya. Dia menjadi bimbang dengan perasaannya sendiri.

Apakah yang dia rasakan dengan Yoo Ri hanya perasaan bersalah karena kesalahannya dahulu ataukah dia malah menaruh hati pada adik iparnya sendiri?

Lalu bagaimana dengan nasib pernikahannya? Kyuhyun sudah sepakat akan mengembalikan kehidupan Yoo Ri dan itu artinya dia harus bercerai dari Yoo Jin dan menikahi Yoo Ri.

Sementara hatinya masih bimbang, hatinya ini milik siapa?

Menyegarkan pikiran dengan air putih mungkin akan sedikit membantu Kyuhyun membuka lemari es dan hendak menuang air putih ke dalam gelasnya ketika dia ingat sesuatu.

Kyuhyun membuka lemari penyimpanan piring. Lemari yang tidak pernah tersentuh oleh istrinya. Kyuhyun mengambil botol kecil warna bening berisi butir pil.

“Kau akan marah besar padaku jika tahu apa yang sudah kuberikan padamu setiap pagi, Yoo Jin-ah.”

Kyuhyun tertawa hambar.

Dia beralasan ingin memberi vitamin untuk Yoo Jin padahal itu adalah pil pencegah kehamilan. Maka dari itulah selama satu tahun ini Yoo Jin tidak juga hamil.

Apa itu berarti Kyuhyun memang tidak mencintai Yoo Jin sama sekali? Lalu kau anggap Yoo Jin sebagai apa?

Password apartemennya dibuka seseorang dari luar. Kyuhyun bergegas membuang pil itu ke tong sampah. Itu pasti Yoo Jin.

Pria itu berjalan ke tengah ruangan, sengaja tidak menyalakan lampu apartemen sehingga keadaan sekitarnya gelap gulita.

Yoo Jin menekan lampu paling dekat dari pintu apartemen. Dia terkejut melihat Kyuhyun sedang berdiri memandanginya.

Maafkan aku, ucap Kyuhyun dalam hati.

Melihat guratan kelelahan terpampang jelas di wajah istrinya membuat Kyuhyun menyesal.

“Kyuhyun? Hai,” sapanya hangat. Sejurus kemudian ekspresinya berubah menjadi waspada dan Kyuhyun tahu itu karena dia berbeda malam ini.

Yoo Jin melangkah mendekat dan Kyuhyun tiba-tiba menarik tubuh istrinya lalu menghempaskannya ke sofa panjang warna pastel di belakang mereka.

Sebelum Yoo Jin menyadari maksud dari perbuatan Kyuhyun, pria itu lebih dulu melumat bibir Yoo Jin sangat kasar.

Bukan tanpa alasan Kyuhyun melakukannya. Dia hanya begitu merindukan bibir yang tiga hari ini tidak disentuhnya. Dan astaga, hatinya meleleh. Desiran-desiran aneh menyelimuti hatinya.

Kyuhyun menekan bibirnya kuat pada Yoo Jin. Istrinya memukul dadanya, memberi sinyal agar dia melepas ciumannya barang sebentar. Kyuhyun mengabaikan.

Hatinya ingin memastikan sesuatu. Ada sesuatu yang dicarinya dalam ciuman itu.

Yoo Jin memekik panjang saat mendapat klimaks yang pertama dari permainan tangan hebat Kyuhyun di tubuhnya.

Gadis itu terengah-engah. Matanya yang berkabut bertukar pandang dengan obsidian cokelat milik Kyuhyun.

Pria itu berusaha sekuat mungkin menyembunyikan ekspresinya yang sesungguhnya. Dia tidak ingin terlihat gelisah di depan Yoo Jin.

Mengalihkan perhatian Yoo Jin, Kyuhyun langsung melesakkan kejantanannya ke dalam tubuh istrinya tanpa pemanasan lebih lama.

Kyuhyun mendorong miliknya semakin dalam hingga tubuh istrinya terguncang.

Yoo Jin mendesah lagi. Sebelum Kyuhyun sampai, dia mengeluarkan miliknya kemudian merapatkan kening keduanya.

“Apa yang kau lakukan padaku?”

Kyuhyun ingin menangis. Dia melumat bibir Yoo Jin lalu menggigit bibirnya gemas. Desiran itu datang lagi. Hangat dan menyejukkan hatinya.

Inikah…? Kyuhyun menelan ludahnya susah payah. Padahal hanya tiga hari mereka tidak bertemu, tapi sehebat ini efek dari cumbuan mereka? Bagaimana jika mereka berpisah nanti?

Padahal aku sudah tidak bertemu dengan Yoo Ri selama tujuh tahun. Harusnya efeknya lebih besar dari yang Yoo Jin berikan. Tapi kenapa aku justru tidak merasakan apa-apa? Hanya rasa lega karena gairah yang terpuaskan.

“Ada apa? Ada apa, Kyu?” tanya Yoo Jin dengan raut khawatir.

Kyuhyun menggeleng. Dia tidak ingin Yoo Jin mengetahui kebimbangan hatinya.

Kyuhyun melumat lagi bibirnya sambil menusukkan kejantanannya yang sudah mengeras ke dalam pusat kehangatan milik Yoo Jin. Memberikan benihnya tanpa sisa.

Jangan membenciku, kumohon.

Aku melakukan ini demi mengembalikan adikmu.

Aku menyadarinya, Jin-ah.

Kau sangat mempesona. Kaulah gadis yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Brengseknya aku karena menjadi pecundang dan menyakitimu selama ini.

Aku mencintaimu, sayangku.

.

.

.

To Be Continue

 

 

Advertisements

51 thoughts on “Switch [Chapter 3]

  1. yuliantif0488 says:

    Tuh kan si KYU membencikan, yoo ri juga kejam.
    Gimana ya reaksi yoojin nanti kalau mengetahui semua kebohongan kyuhyun dan adik nya, jadi nyesek gini T.T

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s