It’s Not Always Happy Ending [Oneshoot]

Title      : It’s Not Always Happy Ending

Author  : Luna

Genre   : Romance, Oneshoot

Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Saena

Luna’s:
Haloo, jumpa lagi dengan couple Sae-Kyu tapi dengan cerita yang lain. Selamat menikmati^^
#masihbelumkepikiransequelimpossibleromance#

Warning! Typo beterbangan!
***

“Dia sedang berlatih di taman belakang, sayang. Langsung kesana saja.”

Kim Saena mengangguk semangat. Senyum yang tak pernah redup tersemat di bibir mungilnya. Gadis itu segera menuju tempat dimana kekasihnya biasa berlatih ilmu bela diri.

Walaupun pekerjaan kekasihnya itu memang tidak ada sangkut pautnya dengan ilmu bela dirinya, tapi dia selalu mengatakan bahwa pria harus bisa melindungi dirinya sendiri sebelum melindungi orang-orang yang dia cintai.

Disinilah Saena berdiri, menyandarkan separuh tubuhnya di daun pintu, sementara matanya menatap lekat kekasihnya yang bertelanjang dada sedang melakukan gerakan-gerakan bela diri.

Sesekali tubuhnya melompat kemudian kakinya menendang udara. Pria itu tidak menyadari keberadaan Saena sampai dia dikagetkan oleh sebuah tangan yang melingkari pinggangnya.

Pria itu sontak menghentikan gerakannya lalu tersenyum senang. Tau kalau hanya gadisnya yang berani memeluknya dari belakang seperti ini saat dia tak memakai kaos.

“Kau selalu seksi saat sedang berlatih.”

Pria itu menegang oleh kecupan ringan di punggungnya yang sudah banjir keringat. Seperti ada aliran-aliran listrik berputar di perutnya membuatnya geli.

“Dan kau selalu nakal, mencuri ciuman dariku.”

Tanpa aba-aba pria itu membalikkan tubuh Saena hingga berhadapan dengannya lalu menarik mereka hingga jatuh berguling beberapa kali di atas rumput hijau disana.

“Ugh!” Saena tertawa karena kelakuan kekasihnya yang suka menggodanya. Mereka sudah berhenti berguling dan kini Saena berada di bawah dua lengan kekar pria itu.

“Kyu!” jerit Saena saat tangan prianya mengusap paha Saena setelah dressnya tersingkap dan mempertontonkan paha putih mulusnya.

“Kau yang menggodaku duluan, sayang.” Kyuhyun menurunkan wajahnya hingga kini jarak mereka hanya tinggal lima mili.

Dari jarak dekat Kyuhyun bisa melihat gadisnya itu tengah menahan napas sambil menggigit bibirnya menunjukkan betapa berdebarnya kondisi mereka sekarang yang sangat intim.

“Bernapas sayang.”

Saena membuang napasnya. Dia tidak sadar sudah berapa lama dia tertahan tidak bernapas dan malah sibuk meredakan sakt jantungnya yang berdentum-dentum seperti musik disko di kelab malam.

Tubuhnya bergetar karena sentuhan Kyuhyun di pahanya. Tidak sadarkah pria itu selalu memberikan efek morfin sekalipun itu hanya sebuah sentuhan ringan? Membuat ketagihan.

“Apa kabarmu, heum?”

Kyuhyun tidak bisa tidak tersenyum oleh tingkah gadisnya yang masih saja belum terbiasa dengan keintiman yang mereka ciptakan.

Matanya turun, menatap bibir mungil yang selama tiga bulan ini tidak dijamahnya.

Dengan segenap suka cita, Kyuhyun mengecup beberapa kali bibir yang masih sama rasanya seperti pertama kali dia mencobanya sebelum melumatnya dengan menggebu. Manis. Sangat manis.

Saena memukul dada Kyuhyun karna ciuman maut kekasihnya itu selalu menghabiskan stok oskigen di paru-parunya sehingga dia selalu kehabisan napas.

Ciuman itu terlepas. Saena merenggut. “Kau tau, napasku tidak sepanjang punyamu.”

“Aku tau, aku tau, sangat tau. Tapi aku gemas!” Kyuhyun mencubit ujung hidung Saena hingga memerah. Semerah bibirnya yang sudah berada di dalam lumatannya lagi. “Aku merindukanmu, sayang. Sangat.”

Kyuhyun merengkuh tubuh Saena ke dalam pelukannya, membuat gadis itu tersenyum sambil mengelus punggung telanjang Kyuhyun dengan sayang.

Mengungkapkan betapa kerinduan Kyuhyun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kerinduan yang harus Saena telan bulat-bulat karena tidak bisa bertemu dengan Kyuhyun selama tiga bulan karena pekerjaan prianya yang sangat menyita waktu.

“Tiga bulan bukan waktu yang sebentar.”

Kyuhyun mengelus rambut cokelat panjang gadisnya. Sangat lembut di tangannya. Dia sangat menyukai saat-saat dimana dia menyisir rambut indah ini.

“Kau yang meninggalkanku, kalau kau lupa.”

“Hmm, aku juga tidak ingin. Tapi aku sudah mengajakmu untuk ikut. Dan kau dengan tegas menolakku.”

Kyuhyun mengecup leher Saena beberapa kali kemudian menenggelamkan wajahnya di dada gadis itu. Tempat paling tenteram yang dimiliki tubuh beraroma sabun bayi.

“Aku kan juga harus menyelesaikan skripsiku, Kyu. Aku ingin segera lulus, mencari pekerjaan yang kusuka dan membeli segala sesuatunya sendiri.”

Saena bergerak geli saat ujung rambut Kyuhyun yang menusuk lehernya bergerak karena gelengan kepala pria itu.

“Aku bisa membiayai semua kebutuhanmu. Kau tidak perlu bekerja.”

“Ini bahasan kuno, Cho Kyuhyun. Aku tidak mau memperdebatkan hal ini lagi. Sekarang bisakah kau bergeser dari atasku?”

Saena malas saat Kyuhyun mengungkit masalah kalau pria itu akan memenuhi segala keinginannya dengan uang yang dia miliki. Dia tidak ingin dicap sebagai gadis materialistis yang mencintai karena harta.

“Kita bukan sedang di ranjang. Kalau ibumu melihat kita seperti ini aku khawatir dia akan segera menikahkan kita sekarang juga.”

Saena mendorong pelan bahu Kyuhyun dan mereka kembali bertatapan.

“Aku lebih suka idemu yang terakhir. Kita bisa seperti ini lebih lama sampai eomma melihat kita.”

Kyuhyun mengokohkan topangan kedua lengannya di sisi kepala Saena. Sungguh, dia tidak ingin kehilangan momen bahagia ini.

Bermanja-manja dengan gadis yang sangat dicintainya, yang dihormatinya dan setengah mati dirindukannya.

“Yak!” Saena memukul pelan pundak Kyuhyun. “Kau akan benar-benar mati jika tidak menyingkir dari atasku, Cho Kyuhyun!”

“Hmm, memang apa sih yang bisa dilakukan gadisku ini? Aku penasaran.”

Mata Saena bergerak ke kanan dan kiri berusaha menemukan balasan yang tepat agar Kyuhyun segera menyingkir darinya.

Sebuah smirk usil terbit di sudut bibirnya. “Aku tidak akan mengijinkanmu menyentuhku. Minggir, Kyuhyun!”

Tatapan Kyuhyun menajam. Sengit sekaligus geli. “Kurasa kau akan jadi pihak yang malu sayang, karena kau selalu haus dengan sentuhanku.”

“Kata siapa? Minggir Kyu! Ini sesak!”

Saena bergerak-gerak berusaha melepaskan diri dari kungkungan Kyuhyun dan tanpa sadar kakinya menyenggol pusat tubuh pria itu yang mengeras.

Astaga! Sejak kapan Kyuhyun jadi semudah ini terangsang?

“Sial, Saena, kau membuatku ingin menerkammu kalau aku tidak ingat ini di luar dan aku tidak pernah rela berbagi pemandangan indah tubuhmu dengan orang lain.”

Kyuhyun akhirnya mengalah. Dia teringat kalau beberapa sepupu laki-lakinya akan datang sebentar lagi. Kunjungan tiap bulan, tradisi khas keluarga besar Cho.

Dia tidak tahu kapan mereka datang dan kalau mereka sampai melihat keadaannya dengan Saena seperti ini, pasti mereka akan jadi sangat berisik.

Saena mendesah lega ketika tubuh Kyuhyun sudah bergeser dan gadis itu segera berdiri lalu merapikan penampilannya yang sedikit berantakan.

Kyuhyun menatap gadisnya dengan posisi duduk kaki kirinya ditekuk dengan tangan kiri di atas lututnya, tangan kanan menumpu di rumput.

Sebenarnya dia sudah cukup gatal ingin menarik Saena ke atas pangkuannya dan mencumbunya lagi.

Cukup sudah, tiga bulan dia tersiksa oleh kesibukannya sebagai model dan betapa kejamnya agensinya tidak mengijinkan artisnya mengikut-campurkan kehidupan pribadi ke dalam pekerjaan mereka.

Menyebalkan bukan?

“Nah, Kyu, aku lebih baik membantu Ibu dan sebaiknya kau segera mandi. Badanmu bau sekali!”

Saena berpura-pura menutup hidungnya dan berekspresi seperti mencium bau busuk dari tubuh Kyuhyun.

“Kalau mandi bersama, bagaimana?”

“M-mwo?!”

.
.
.

“Ya, ya, sajangnim aku mengerti. Aku akan menghubunginya nanti.”

Kyuhyun melirik pintu kamarnya yang terbuka tanpa diketuk dengan kemunculan Saena setelahnya.

Hanya Saena yang berani. Jika yang masuk seenaknya tanpa mengetuk pintu dulu adalah keluarganya, pasti Kyuhyun akan dihadiahi lirikan tajam darinya.

“Iya, sajangnim, aku belum tuli dan asal kau tau IQ-ku sangat tinggi jadi kau tidak harus mengulangnya lima kali.”

Kyuhyun melambaikan tangannya menyuruh Saena mendekat padanya yang sedang duduk di pinggir ranjang. Gadisnya menurut.

Kyuhyun merengkuh pinggang ramping Saena lalu mendudukkan gadis itu di pangkuannya.

Saena mendengar dengan seksama percakapan prianya dengan pimpinan agensinya sambil melarikan jari-jari lentiknya di atas dada pria itu.

“Hmm…” Kyuhyun terdiam sejenak lalu melirik Saena sebelum menjawab, “Ya, ya, aku berangkat besok.”

Saena menolehkan kepalanya secepat kilat. Keningnya berkerut. Padahal mereka baru bertemu hari ini dan Kyuhyun akan pergi lagi?

Tidak ingin mendengar percakapan itu lebih jauh yang bisa berdampak pada kehancuran mimpinya untuk bersenang-senang dengan Kyuhyun, Saena bergerak akan turun dari pangkuan pria itu.

Seolah mengerti perubahan emosi gadisnya, Kyuhyun mengeratkan pelukannya. Tidak ingin membiarkan Saena pergi.

“Sajangnim, bisakah kita membicarakannya satu jam lagi? Aku ada urusan yang lebih penting daripada mengurus keberangkatanku besok. Kututup teleponnya.”

Kyuhyun melempar ponselya ke ranjang. Kemudian memusatkan perhatiannya pada Saena yang kini sedang mempoutkan bibirnya.

“Kau pergi lagi? Secepat ini?”

Kyuhyun terdiam. Saena menatap matanya dengan was-was.

Fiuh, ini dia satu hal yang akan jadi kesalahannya yang tak termaafkan lagi. Dia sudah terlampau sering meninggalkan Saena. Menelantarkan gadis sebaik Saena.

Padahal gadis itu membutuhkan perhatian selain dia harus melimpahkan seluruh perhatiannya pada Kyuhyun. Oh, maafkan aku sayang, aku terlalu egois dan ambisius dalam bekerja.

Sering kali Kyuhyun terbayang bagaimana jika Saena bosan harus terus menunggu dan meminta putus?

Tidak, itu akan jadi mimpi buruk baginya. Saena adalah nafasnya, hidupnya. Bagaimana dia bisa hidup jika gadis ini pergi?

“Maaf.” Ucap Kyuhyun penuh putus asa. Dia tidak tau harus mengatakan apa lagi. Batin gadis itu berkecamuk.

Lebih mempertahankan egonya ataukah merelakan kepergian Kyuhyun seperti biasanya? Jujur, dia lelah dengan hubungan mereka yang selalu begini.

Kyuhyun yang semakin disibukkan dengan dunia permodelan yang menyita seluruh waktu dan pikiran pria itu.

Berbulan-bulan tanpa kabar, membuat kesabaran Saena yang setebal tembok Cina ingin roboh rasanya.

Oh, bahkan rencana pernikahan mereka tidak pernah mereka bicarakan lagi. Ucapan pria itu dianggap angin lalu.

“Boleh aku jujur, Kyu?” Kyuhyun mengeratkan pelukannya.

Berusaha siap terhadap apapun kalimat yang terlontar dari bibir itu. “Aku lebih suka kau meninggalkan dunia modelmu dan mulai menerima tawaran ayahmu untuk melanjutkan perusahaan keluargamu.”

Kyuhyun tau betul inilah yang diinginkan Saena. Dia memijit pelipisnya.

“Kau tau, Saena, aku sangat mencintai pekerjaanku dan aku tidak suka pekerjaan kantoran. Itu sangat membosankan.”

Lalu aku harus bagaimana Kyu? Menunggumu lagi? Mengutamakan egomu, sementara aku memiliki keresahan lain atas pekerjaanmu sekarang? Batin Saena tidak berani mengungkapkannya.

“Aku lebih benci melihatmu sibuk dengan duniamu sedangkan aku disini harus menunggu berbulan-bulan untuk bertemu denganmu, mendengar suaramu, melihatmu hanya untuk diriku sendiri.”

Rahang pria itu mengetat.

Apa ini? Saena ingin memaksakan kehendaknya? Tiga bulan mereka tidak bertemu dan Saena sudah berubah menjadi sangat posesif, sifat kekanakan yang sangat tidak disukainya.

Tangan Kyuhyun meraih pinggang Saena lalu memindahkan gadis itu agar duduk di sampingnya.

Ini bukan pembicaraan menggairahkan yang akan berakhir dengan lumatan panas, melainkan pembicaraan serius yang harusnya dibicarakan dengan kepala dingin.

“Kau memaksaku?”

“A-aku, ti—dak, hmm…” Saena tergagap. Dia tahu prianya bukan orang yang senang diatur hidupnya.

“Saena, padahal kau tau menjadi seorang model adalah impianku sejak remaja. Apakah aku harus menguburnya demi kebencianmu pada pekerjaanku sekarang?”

Saena melihat perubahan ekspresi di wajah Kyuhyun menjadi bentuk ketidaksetujuan. Oh, tidak, ini pasti akan jadi perbincangan mereka yang panjang.

Aku memintanya karena hal lain, Kyu! Teriak Saena.

“Jika aku mengiyakan kau pasti akan membujukku agar mengubah pemikiranku.”

“Tentu saja!”

“Tapi, Kyu, aku bosan begini terus.”

“Begini bagaimana?”

“Ya—kau tau, menunggumu tanpa kabar. Penuh ketidakpastian. Dan aku tidak tau apa saja yang kau lakukan di luar sana padahal aku sangat ingin mengetahuinya. Kenapa kau tidak mencoba meminjam ponsel manajer Lee untuk sekadar menghubungiku dan mengatakan kau baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkanmu, Kyu, asal kau tau.”

Saena meraih tangan Kyuhyun lalu menggenggamnya.

“Sajangnim tidak mengijinkanku.”

“Kau bisa memaksa.”

“Dia mengancam akan mengeluarkanku dari agensi!”

“Kalau begitu keluarlah!”

“Aku tidak mau! Kenapa kau menjadi keras kepala begini? Aku tidak suka!”

“Aku melakukannya agar kau bisa keluar dari jerat agensi sialanmu itu!” teriak Saena sepenuh hati.

Pikirannya pecah, tidak bisa mengontrol lagi apa yang keluar dari mulutnya.

“Dan aku sungguh menyumpahi sajangnim yang brengsek itu yang sudah menyita waktu dan hidup kekasihku untuk menghasilkan uang untuk kesenangannya!”

Kyuhyun bungkam. Tidak menyangka Saena bisa berbicara sekasar ini. Harga dirinya seolah tergores.

Tidak, dia bekerja bukan untuk menghasilkan uang untuk pria botak sialan itu. Tapi untuk pernikahan mereka.

Kyuhyun memang suka hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang tuanya. Sekalipun orang tuanya memiliki kekayaan yang sanggup-sanggup saja membiayai pernikahan mereka kelak.

“Aku juga bisa lebih keras kepala dari padamu, Cho Kyuhyun. Tinggalkan pekerjaanmu yang menyita waktu itu kalau kita ingin tetap melanjutkan hubungan ini.” ancam Saena.

Saena bersungguh-sungguh mengatakannya. Jika ancamannya ini berhasil memancing Kyuhyun agar mau menurutinya, dua masalah sekaligus akan terselesaikan.

Ya, dua masalah yang tiga bulan ini memecahkan kepalanya.

Kyuhyun tidak bisa berkata-kata. Dia tau Saena mengancamnya dengan mengakhiri hubungan mereka. Tapi, apa gadis itu sanggup? Kepalanya berdenyut.

Kyuhyun memijit pelipisnya lagi. Lebih penting mana sekarang, Kyu? Kekasihmu ataukah pekerjaanmu?

Sial, ini sangat sulit.

Sudah dia bilang kan? Saena adalah nafasnya. Dia tidak bisa hidup tanpa gadisnya. Tapi dia bekerja juga bukan untuk orang lain, melainkan untuk mereka berdua.

Dan Kyuhyun harus merahasiakannya rapat-rapat demi menciptakan kejutan untuk kekasihnya.

Lalu haruskah ini berakhir?

.
.
.

Saena berjalan lesu masuk ke dalam rumahnya yang gelap gulita. Tangannya menekan saklar lampu dan seketika rumahnya menjadi terang benderang.

Mengacuhkan seseorang yang duduk menunggunya di ruang tengah, Saena menaiki undakan demi undakan menuju kamarnya di lantai dua.

“Kemana saja baru pulang jam segini?”

Seakan tuli Saena terus melanjutkan langkahnya. Dia sedang tidak selera berbicara sekarang.

Daripada memancing kemarahannya, dia berharap wanita itu mau membungkam mulutnya.

Tentu saja wanita itu tidak menyerah. Dia mengekori Saena di belakang.

“Jangan bicara apapun padaku dan tinggalkan aku sendiri. Aku sangat lelah.” Wanita itu berdiri mematung di ambang pintu. “Baiklah, istirahatlah karena besok adalah hari pertunanganmu.”

“Keluar, bu!” bentak Saena. Telinganya sudah panas kalimat itu lagi yang selalu mengirim alarm mengancam ke otaknya.

Wanita yang tak lain adalah ibunya bergetar mendengar bentakan putrinya.

Lee Soyang menghembuskan napas mengalah. Menekan kemarahannya yang selalu tersulut oleh kelakuan putrinya.

Dia memilih mundur, menutup pintu kamar Saena, menuruti kemauan anak gadisnya.

Setidaknya dia perlu bersyukur Saena mau bertunangan dengan pria pilihannya. Bukan kekasih Saena sekarang yang memiliki pekerjaan tidak jelas.

Begitu pintu tertutup, Saena membanting tubuhnya di atas ranjang dengan posisi telungkup dan seketika tangisnya pecah.

Dia sengaja menyembunyikan wajahnya di antara bantal-bantal empuknya, meredam tangisannya agar ibunya tidak bisa mendengar.

Hatinya sakit karena hubungannya dengan Kyuhyun sudah berakhir beberapa jam lalu. Yah, Saena tidak langsung pulang tadi.

Sepulangnya dari rumah Kyuhyun dia mampir ke kedai pinggir jalan dan meneguk beberapa gelas soju tidak sampai mabuk.

Tidak dia sangka Kyuhyun sampai hati lebih memilih karirnya daripada dirinya. Langit runtuh di atas kepalanya.

Batinnya kesakitan mendengar perkataan Kyuhyun yang menginginkan jarak agar Saena bisa menurunkan egonya dan keras kepalanya sehingga Saena bisa menerima apapun keputusan pria itu yang berkaitan dengan karirnya sebagai model.

“Kau tidak tahu Kyu, aku melakukannya untuk mempertahankan hubungan kita. Tapi keputusanmu ini membuatku tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan ibuku menikah dengan orang lain.”

Saena tersedu dan air matanya kian beranak sungai. Dia sudah lelah menangis.

Tepat kakinya menapak tanah halaman rumah Kyuhyun, saat itulah tubuhnya luruh dan air matanya jatuh.

Tiga bulan lalu, terhitung dari kepergian Kyuhyun paling lama selama mereka berpacaran, Lee Soyang mengenalkan Saena pada anak temannya yang merupakan direktur perusahaan ternama—entah apa namanya dia melamun saat pertemuan mereka.

Saat itulah Saena baru tahu kalau ibunya tidak pernah menyukai hubungannya dengan Kyuhyun karena pekerjaan pria itu sebagai model.

Ibunya berpikir jika mereka menikah, akankah keadaan Saena sama saja seperti saat mereka berpacaran? Kyuhyun yang sibuk dengan karirnya, menelantarkan Saena.

Dan apakah pekerjaan Kyuhyun itu cukup menghidupi keluarganya kelak mengingat dia berada di bawah naungan agensi yang tidak terkenal.

Sejak itulah pertengkaran kecil mulai terjadi di dalam rumah yang sebelumnya penuh damai. Keganjalan demi keganjalan mulai terjawab.

Mengapa ibunya tidak pernah ada di rumah ketika Saena mengajak Kyuhyun ke rumahnya.

Mengapa ibunya selalu menghindar kerap Kyuhyun ingin bertemu dengannya.

Mengapa ibunya tidak pernah sekalipun mau membahas masa depannya dan Kyuhyun.

Hingga di hari pertemuan Saena dengan Choi Siwon—nama pria itu— barulah Saena mengerti. Ibunya membenci Kyuhyun.

Dan Saena dengan beraninya bertaruh kalau Kyuhyun lebih memilih karirnya dan menginginkan perpisahan di antara mereka, Saena akan menikah dengan pria pilihan ibunya.

Kepulangannya malam ini dengan mata sembab, hidung merah dan tanpa raga, menandakan kemenangan mutlak di tangan ibunya.

Tanggal 13. Seminggu lagi, dia akan melangsungkan pernikahannya. Yah, dia masih punya satu minggu untuk memenangkan pertaruhan ini.

Dia akan memohon pada Kyuhyun sekali lagi. Mengabaikan harga dirinya.

Biarlah, dia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan pria yang tidak dia cintai. Dia hanya akan menikah dengan pria yang hatinya menaruh masa depan padanya.

.
.
.

“Yak! Cho Kyuhyun! CUT! CUT!”

Kim Yesung melempar gulungan kertas di tangannya ke tanah dan mendekati Kyuhyun yang mengusap wajahnya berulang kali.

“Kau sudah tau berapa kali kau melakukan kesalahan hari ini? EMPAT PULUH TUJUH!”

Yesung mendorong kepala Kyuhyun agar otak pria itu kembali ke tempatnya.

“Kau mau merugikan agensi kita karna kelakuanmu, hah?!”

Kyuhyun diam saja mendapat perlakuan begitu. Kalau saja bukan karna dia mencintai pekerjaannya, ingin rasanya Kyuhyun keluar dari agensi ini.

Toh di antara artis-artis yang mereka miliki Kyuhyun-lah yang menghasilkan uang terbanyak dan selalu diagung-agungkan oleh pemilik agensi—bukan Yesung tentunya!

“Sajangnim, mungkin Kyuhyun hanya kelelahan. Dia sudah lima hari ini tidak tidur kar—”

“DIAM!” tunjuk Yesung pada Seo Joo Hyun, partner Kyuhyun sekaligus gadis yang diketahuinya sebagai teman SMA Kyuhyun dulu.

“Istirahat sepuluh menit dan kau harus bisa memfokuskan dirimu Cho Kyuhyun, kalau tidak pulanglah ke Seoul.”

Hanya berkata begitu sebelum Yesung dan kru yang bekerja bubar.

Sepuluh menit adalah istirahat paling lama yang pernah diberikan oleh sajangnim terpelit seperti Yesung.

“Kyu, minum dulu.” Hyukjae, selaku manajer Kyuhyun menyodorkan sebotol air mineral yang diacuhkan pria itu yang langsung melengos pergi.

Seohyun yang melihatnya tidak tega membiarkan Kyuhyun menyimpan kesusahannya sendirian.

Mereka baru menjadi partner seminggu ini tapi selama itu pula Seohyun tahu Kyuhyun tidak pernah menunjukkan kesediannya berakting di depan kamera walau hanya pura-pura tidak pernah terjadi di masa lalu mereka.

Dahulunya mereka adalah sepasang kekasih saat SMA tapi Seohyun yang saat itu tidak suka hubungan terikatnya dengan Kyuhyun memilih berselingkuh dan mengakibatkan hubungan persahabatan sekaligus kisah cinta mereka berakhir.

Mereka seperti dua orang asing jika tidak sengaja bertemu.

Sebuah kejutan mereka dipertemukan lagi sekarang menjadi partner lagi. Tapi Kyuhyun benar-benar tidak bisa menyembunyikan kebenciannya pada Seohyun.

Hal itu membuat Seohyun tidak nyaman. Setiap dia ingin meminta maaf, pasti Kyuhyun selalu bisa menghindar.

Mungkin kali ini bisa menjadi kesempatannya untuk mendekati Kyuhyun lagi dan meminta maaf.

“Biar aku yang memberikannya, manajer Lee.” Seohyun mengambil air mineral dari tangan Hyukjae lalu melangkah menuju belakang gedung.

Tok tok!

Seohyun mengetuk pintu ruang ganti, menduga Kyuhyun bersembunyi disana.

Benar, Kyuhyun tengah berbaring dengan lengan menutupi wajahnya di sofa pastel yang merapat di dinding belakangnya.

Hati Seohyun terenyuh. Selelah itukah, Kyuhyun? Menekan kebencian untuknya pasti sangat sulit.

Baru saja Seohyun hendak melangkah masuk ketika Kyuhyun bersuara dengan sangat dingin, “Tinggalkan aku sendiri!”

“O-eh, Kyu, aku hanya ingin memb—”

“Taruh saja di meja.” Potong Kyuhyun cepat. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Seohyun yang terpaku di tempatnya berdiri.

Tidak mengira perubahan sikap profesional Kyuhyun yang selalu dijunjungnya tinggi-tinggi sekalipun pada partner model baru yang tidak disukainya, tidak berlaku untuk Seohyun.

“Keluarlah. Jangan lupa tutup pintunya.”

“K-kyuhyun, aku berbohong. Aku mencarimu bukan untuk memberimu air melainkan untuk hal lain. Bisakah kita bicara sebentar?”

Shit! Umpat Kyuhyun dalam hati.

Setengah mati dia menahan diri seminggu ini menghindar dari percakapan ini.

Dia benar-benar tidak mengerti, mengapa di antara sejuta model yang bisa berkolaborasi dengannya harus wanita itu?

Wanita yang pernah dia sumpahi dalam hati tidak pernah mau bertatap muka lagi apalagi terlibat dalam percakapan apapun.

Sehingga sedemikian rupa Kyuhyun lima hari ini mengabaikannya, menganggap Seohyun bukan apa-apa.

Ditambah lagi dengan perasaan tersiksanya pasca berakhirnya hubungannya dengan Kim Saena.

Wanita yang sangat dicintainya yang menjungkir-balikkan kehidupannya yang sempat terpuruk setelah perpisahannya dengan Seohyun mengembalikan dirinya yang dulu sebelum bertemu Seohyun.

Astaga, betapa dia sangat merindukan suara Saena dan otaknya mau pecah hanya karna memikirkan apa yang dilakukan gadis itu sekarang?

Ucapan perpisahan mereka seminggu lalu tidak pernah berarti apa-apa. Seminggu ini dia terus memikirkan keputusan yang akan diambil untuk melanjutkan hidupnya.

Dia akan mengakhiri kontraknya setelah proyek di Busan ini berakhir dan bekerja di perusahaan ayahnya seperti kemauan gadisnya.

Dia baru menyadari kalau impiannya sebagai model tidak sebanding dengan kehadiran Saena di sisinya.

“Kyuhyun?”

Panggilan Seohyun menarik Kyuhyun lagi pada kenyataan. Yah, baiklah, kita akhiri semua rasa lelah ini dimulai darimu nona Seo Joo Hyun.

Kyuhyun membalikkan tubuhnya lalu beranjak dari sofa dan mendekati Seohyun yang memiringkan kepalanya kaget.

“Apa yang mau kau bicarakan?”

Seohyun yang memang belum beranjak dari ambang pintu, tanpa menutup pintu berjalan mendekati Kyuhyun. “Aku mau—hmm, meminta maaf  atas kesalahanku. Ak—”

“Aku sudah memaafkan.” Potong Kyuhyun tegas. Seohyun memandang kedua manik mata Kyuhyun yang menatapnya tanpa ekspresi tapi tetap tajam.

“Benarkah?” berbinar, Seohyun menarik bibirnya menciptakan senyuman manis yang dulunya menjadi alasan mengapa Kyuhyun jatuh cinta pada gadis ini.

Tapi itu dulu. Karena sekarang hatinya sudah dimiliki gadis lain. Gadis yang mampu memporak-porandakan seminggu ini.

“Aku senang, Kyu. Terima kasih.” Ucap Seohyun tulus. Dia tidak menyangka jika hatinya sekarang lega. Itu artinya tidak akan ada lagi kebencian di antara mereka.

“Sudah, kan? Bisa sekarang kau keluar?” Kyuhyun melirik jam di tangannya. Tersisa empat menit lagi untuknya beristirahat.

“Hmm, boleh aku meminta sesuatu padamu, Kyu?” Kyuhyun mengerutkan keningnya. “Aku ingin memelukmu.”

Tanpa menunggu jawaban dari Kyuhyun, Seohyun maju beberapa langkah hingga mereka tidak berjarak lagi dan memeluk leher Kyuhyun yang lebih tinggi beberapa centi darinya.

Meletakkan kepalanya di bahu pria itu yang menegang karena perbuatannya yang tiba-tiba.

Seohyun melepaskan pelukannya dengan lengan masih menggantung di bahu Kyuhyun. Menatap mata pria yang dulu pernah dia cintai.

Lalu pandangannya turun ke bibir penuh milik Kyuhyun yang dulu tidak pernah dirasakannya.

Kyuhyun adalah pria paling kuno yang tidak suka sentuhan fisik selain bergandengan tangan dan pelukan sederhana.

Itulah yang jadi alasannya dulu dia berselingkuh.

Tapi melihat bibir yang menggoda di depannya, Seohyun tidak bisa menahan diri dan segera meraup bibir tebal itu. Melumatnya pelan.

Selama beberapa detik hanya bibir Seohyun yang bergerak tanpa balasan dari Kyuhyun.

Saat gadis itu akan melepaskan ciumannya, lengan kekar Kyuhyun malah menarik pinggangnya lalu melumat bibir Seohyun dengan gerakan cepat.

Seohyun memekik senang. Dia segera membalas ciuman Kyuhyun tak kalah bersemangat.

Dengan sengaja Seohyun mendorong tubuh Kyuhyun hingga jatuh di atas sofa dan duduk di atas pangkuan pria itu dan melanjutkan ciuman mereka.

Bahkan Seohyun mendesah keras saat tangan Kyuhyun meremas pahanya dan nyaris menyentuh paha dalamnya.

BLAMM!

Tiba-tiba pintu ruang ganti dibanting sangat keras. Ciuman dua orang itu berhenti.

Kyuhyun membelalakkan matanya terkejut karena ketika dia membuka matanya yang dia lihat adalah Seohyun yang juga melihatnya dengan wajah memerah.

Kyuhyun memindahkan tubuh Seohyun dari atas pangkuannya ke sofa di sampingnya. Dia memijit pelipisnya.

Astaga apa yang baru saja dilakukannya? Kenapa dia bisa membayangkan Saena sehingga dia mencium Seohyun? Dan apa itu tadi? Siapa yang menutup pintu? Tidak mungkin angin, kan? Apa itu paparazi?

“Ini kesalahan.” Kyuhyun berdiri dan meninggalkan ruang ganti.

Meninggalkan Seohyun yang duduk termangu. Oh, aku ditolak barusan? Seohyun tertawa miris. Kyuhyun sudah tidak menyukainya lagi. Dia bodoh sempat berpikir mereka bisa berbaikan dan merajut kasih kembali.

.
.
.

“Brengsek! Sialan! Brengseek!!!” Saena memukul kemudi mobilnya secara brutal hingga tangannya merah semua. Tangisannya sudah pecah.

“AARGGH!!!” tidak peduli orang-orang yang berlalu lalang di depan mobilnya menatap curiga ke arah mobilnya.

Tempat ini terbilang cukup ramai karena sedang dijadikan tempat pemotretan. Sehingga banyak orang yang menenteng bermeter-meter kabel rol, mengangkat tiang lampu pencahayaan dan bertas-tas berisi kamera mahal.

Saena mengumpat lagi, memukul kemudi mobil dan menangis meraung-raung.

Kenapa?

Kyuhyun berciuman dengan gadis lain tidak sampai seminggu setelah mereka berpisah! Brengsek! Bahkan pria itu mencumbu gadis itu seperti apa yang sering dilakukan padanya.

Sialan! Apa Kyuhyun selama ini diam-diam berkhianat di belakangnya? Menjalin hubungan dengan partner modelnya? Atau kemungkinan terburuk meniduri mereka? Sialan! Brengsek! Brengsek!

“Brengsek kau CHO KYUHYUN! Aku bersumpah tidak akan mau melihat mukamu lagi!”

Saena menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas kuat-kuat sampai mobilnya melonjak ke depan dan mengejutkan beberapa orang yang berjalan di depan mobilnya lalu mengumpat padanya.

Saena tidak peduli. Dia mengusap pipinya dengan kasar dan meninggalkan tempat itu.

Menyesal dirinya kabur dari persiapan pernikahannya yang akan malam ini demi menemui mantan kekasihnya.

Yang kenyataannya malah sedang mencumbu gadis lain entah siapa itu.

“Kyuhyun, semudah itu kau melupakanku dan mencari penggantiku? Sebegitu inginnya-kah dirimu menyingkirkan aku dari hidupmu, beralasan ini dan itu demi gadis lain? Kau brengsek, Kyu.”

Saena memukul kemudinya sekali lagi. Marah. Jelas, tidak ada seorang pun yang mau menjawab pertanyaannya.

“Kalau aku tidak membanting pintu itu apakah kau akan bercinta dengannya? Di atas sofa kecil itu? SIALAN!”

Membayangkan Kyuhyun menenggelamkan miliknya di dalam tubuh gadis itu sangat menjijikkan.

Meski mereka pernah bercumbu lebih panas daripada itu, Saena tidak habis pikir mengapa Kyuhyun sangat mudah berpaling.

“Itu artinya aku tidak punya tempat lagi di hatimu? Menyedihkan!”

.
.
.

“Kyu!”

Hyukjae berlari menghampiri Kyuhyun yang baru saja keluar dari ruang ganti, mencari-cari siapa tahu orang yang menutup pintu begitu keras tadi masih berada di sekitarnya.

Dia tidak mau setelah kontrak ini berakhir malah muncul skandal dirinya berciuman dengan Seohyun yang jelas-jelas sebuah kesalahan di matanya.

“Kyu, gadismu datang kemari!” tanya Hyukjae setelah mengatur napasnya yang ngos-ngosan.

“Apa maksudmu?” Kyuhyun tidak mengerti ucapan manajernya lalu mempercepat langkahnya mencari orang yang dikiranya paparazi.

“Kekasihmu, Kyu, astaga!”

Kata ‘kekasih’ yang terlontar dari bibir Hyukjae, memutar balik tubuhnya menghadap manajernya yang hanya berumur dua tahu lebih tua darinya.

“Dia menanyakan keberadaanmu tadi jadi aku menyuruhnya menunggu di parkiran sementara aku memanggilmu.”

Shit! Mata Kyuhyun melebar dan serentak kakinya berputar seratus delapan puluh derajat lalu berlari menuju lapangan parkiran mobil di luar gedung.

Hyukjae terus berteriak di belakangnya, menyemangatinya, mendoakannya semoga cepat bertemu dengan kekasihnya.

Yah, Hyukjae tahu kalau pikiran Kyuhyun beberapa hari ini penuh dengan gadisnya yang selalu dia tinggal demi pekerjaan pria itu. Tetapi Hyukjae tidak tahu jika hubungan mereka telah berakhir.

“Kim Saena, Saena, oh sayangku…”

Kyuhyun terus merapal dalam hati mengucapkan nama gadisnya yang begitu dirindukannya. Dia sangat senang Saena mau datang jauh-jauh sampai kesini.

Pasti ada sesuatu hal yang penting. Apakah Saena mau kembali padanya?

Benarkah itu? Seketika Kyuhyun melebarkan senyumnya dan langkahnya semakin cepat menghampiri lapangan parkir terbuka.

“Dasar sial! Dia pikir ini tanah nenek moyangnya! Sembarangan!”

Beberapa kru yang bergotong-royong menenteng kabel rol yang lebarnya lima senti dan super berat mengumpat ke arah mobil yang baru saja tancap gas menyisakan debu yang beterbangan di udara akibat gesekan ban dengan pasir.

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekitar, memandangi satu per satu plat mobil yang mungkin milik Saena. Nihil.

“Ahjussi, apa tadi kau melihat gadis tingginya kira-kira sedaguku, dia sangat cantik, rambutnya bergelombang warna cokelat, di—”

“Oh! Wanita itu! Cih, bilang padanya kalau berkendara lihat-lihat sekitar. Kami hampir saja ditubruknya! Huh!”

Setelah itu para kru sambil tetap berdecak kesal meninggalkan Kyuhyun dengan kening berkerut.

“Apa itu Saena?”

Kyuhyun merogoh ponselnya yang sengaja tidak dia berikan pada Hyukjae seminggu ini padahal biasanya dia pasti akan menitipkannya sesuai protokol agensinya.

Untungnya pria itu juga lupa menagih ponselnya. Menungu dua detik sebelum layar ponselnya menyala.

Kyuhyun menekan tombol satu, tombol pintasan yang akan langsung tersambung pada ponsel gadisnya.

“Angkat, sayang…”

Kyuhyun menekan tombol merah karena lagi-lagi suara operator yang membalas teleponnya.

Tidak menyerah, Kyuhyun menelepon Saena lagi. Kemana sih gadis itu? Apa dia tidak membawa ponselnya? Tumben sekali.

“Yeoboseyo?”

Kyuhyun tergugu. Dia menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap layar ponselnya. Dia tidak salah menelepon kan? Kenapa yang mengangkat suara pria?

“Yeoboseyo?” ulang suara pria dari seberang. Menyadarkan Kyuhyun untuk segera menjawab.

“Y-yeoboseyo? Ini benar ponsel Saena, Kim Saena?” takut Kyuhyun salah sambung, Kyuhyun sengaja melafalkan nama gadis itu dua kali.

“Benar, ini ponsel Saena. Ini siapa?”

Kyuhyun mengerutkan keningnya lagi. Kenapa pria itu malah menanyakan siapa dirinya? Jelas-jelas Saena selalu menyimpan nomor Kyuhyun yang diberinya nama ‘evilku.’

“Ini siapa? Kenapa mengangkat telepon Saena?”

“Aku calon suaminya, anda siapa?”

Tangan Kyuhyun menggantung di udara. Telinganya disfungsi. Otaknya berhenti bekerja. Jantungnya berhenti memompa darah ke seluruh tubuh.

Membiarkan suara pria di ujung sana menggema bertanya ada keperluan apa Kyuhyun menelepon, tapi pria itu bergeming. Calon suami. Calon suami. Calon suami.

“Halo? Halo? Tidak tahu, tiba-tiba tidak ada suaranya.” Sambungan terputus.

Menciptakan keheningan yang menyeramkan. Calon suami? Kyuhyun tidak tuli kan? Jelas-jelas pria itu mengatakan bahwa dia calon suami Saena.

Bagaimana bisa? Tidak mungkin. Kalau pun benar, kenapa Saena malah berada disini? Apa mungkin Saena ingin menemuinya mempunyai tujuan tertentu?

Dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya dan yakin tidak akan seorang pun bisa menjawab pertanyaan yang satu per satu menumpuk di kepalanya, Kyuhyun mengambil jaket hitamnya yang tersampir di kursi istirahat.

Menulikan telinganya terhadap suara apapun yang hendak menahannya pergi.

Membutakan matanya pada ekspresi murka dari Yesung lalu segera meninggalkan Busan menggunakan audi hitamnya yang sengaja dia bawa.

Otaknya hanya berporos pada dua hipotesis. Saena mengkhianatinya dengan menikahi pria lain. Atau Saena datang dengan alasan lain?

Oh sungguh, Kyuhyun berharap kemungkinan kedua-lah yang benar.

Menekan pedal gasnya dan menancapkan jemarinya di sekitar kemudi, audi itu melaju sangat kencang membelah jalan tol yang kebetulan lengang tapi tidak di jalan setelah tol yang macet.

Membutuhkan waktu tujuh jam untuk sampai di Seoul padahal biasanya bisa ditempuh dalam tiga jam. Ada kecelakaan di jalur utama tadi.

Truk ber-bodi besar menyalip dari arah barat dan tidak tahunya mobil dari arah berlawanan muncul dan menabrak truk tersebut.

Mengerikan sekali mobil sport putih yang masih kelihatan kinclong hancur tak berbentuk. Melihat kejadian itu Kyuhyun langsung berdoa dalam hati semoga dia sampai Seoul dengan selamat.

Gedung pencakar langit memenuhi pandangan Kyuhyun. Membuatnya kian bernafsu melajukan mobilnya menuju rumah Saena. Tak sampai satu jam kemudian dia sampai.

Han ahjumma yang sudah mengenal baik mobil audi milik Kyuhyun membukakan pintu gerbang rumah Saena.

Tidak ada senyum hangat yang biasa terpampang di wajahnya. Gerbang terbuka lebar dan Kyuhyun segera menghentikan mobilnya di samping sport putih Saena.

Tulisan ‘Selamat menempuh hidup baru’ terpajang dimana-mana. Beraneka bunga warna putih menghiasi halaman depan rumah Saena yang biasanya sepi.

“Ahjumma, ada apa ini?” tanya Kyuhyun tidak bisa membendung rasa penasarannya lebih lama lagi.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Han ahjumma diam cukup lama. Tidak ada senyuman di wajahnya. Oh, ini kabar buruk. “Nona muda akan menikah beberapa jam lagi, Tuan.”

Bruk!

Tubuh Kyuhyun ambruk di samping kap mobilnya.

Berita ini mengguncang jiwanya. Kalau tadi siang pria asing yang tak sengaja mengangkat telepon Saena mengaku sebagai calon suami gadisnya.

Sekarang apa? Gadisnya akan menikah? Pening di kepalanya menderanya.

Ratusan kilometer dia tempuh demi menemui gadis itu tapi betapa kejutan yang diciptakan gadis itu benar-benar tidak lucu.

“Aku ingin menemuinya.” Kemana suara gagahmu, Kyu? Suaranya serak siap ditelan bulat-bulat oleh bumi.

“T-tapi, Tuan, hmm, Nyonya melarang siapapun yang akan bertemu dengan nona muda.”

“Termasuk aku?”

“Memangnya kenapa?” bukan suara Han ahjumma yang menjawab pertanyaan Kyuhyun.

Lee Soyang berdiri tak jauh dari mereka, mengenakan long dress putih elegan menghampiri Kyuhyun.

Wajahnya berseri-seri tapi menemukan Kyuhyun berada di halaman rumahnya menciptakan sedikit tekukan keras di wajahnya.

Kyuhyun membungkukkan badannya hormat. Ini pertemuan pertama mereka dan langsung dihadapkan pada kondisi rumit ini.

“Ijinkan aku menemui Saena, Nyonya.” Kyuhyun kebingungan mau memanggil ibu Saena apa karena ini pertama kalinya.

Soyang tersenyum lemah. “Kau sudah mendengar dari Han ahjumma kan? Silahkan pergi.”

“T-tapi aku ingin bertemu dengan Saena. Aku ingin meminta penjelasan atas ini semua. Aku tidak mengerti kenapa—di—menikah?! Tidak mungkin!” Kyuhyun meremas rambutnya frustrasi.

Kemungkinan buruk berkeliaran di otaknya. Tidak mungkin.

“Mengertilah. Dalam beberapa jam lagi Saena akan menjadi istri orang lain.”

“Tapi Saena tidak pernah mengatakan apapun tentang ini. Semua ini begitu tiba-tiba. Sulit untuk bisa kumengerti. Kumohon, aku ingin bertemu dengan Saena. Sekali ini saja. Aku ing—”

“Aku tidak pernah merestui hubungan kalian.” potong Soyang tegas mencengangkan Kyuhyun dan Han ahjumma yang tak sengaja menguping pembicaraan mereka.

“Itu sebabnya aku selalu menghindar tiap Saena ingin mengenalkanmu padaku.”

Terguncang lagi. Terlalu banyak guncangan hari ini. Tangan Kyuhyun mengepal. Mengeras.

Kepalanya berdenyut. Ada begitu banyak pertanyaan berawalan ‘mengapa’ di kepalanya sekarang.

Di antara sejuta kemungkinan Saena melangsungkan pernikahan ini apakah karena dia?

“Aku tidak mau putriku mengubah keputusannya. Cukup sulit asal kau tahu memaksanya menikah dengan pria pilihanku mengingat sifatnya yang sangat keras kepala. Kalau aku mengijinkanmu sekarang menemuinya, aku yakin Saena akan goyah. Jadi kumohon pergilah dari rumahku. Pergi dari hidup putriku. Aku menyayanginya dan aku masih waras tidak menikahkan putriku dengan pria yang tidak jelas karirnya ke depan.”

Soyang tidak mau berlama-lama berbicara dengan Kyuhyun. Dia berbalik dan masuk ke dalam rumahnya yang sudah disulap menjadi tempat resepsi pernikahan putrinya.

Kyuhyun hanya mampu menatap nanar punggung wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan gadis yang sangat dicintainya.

Terjawab sudah. Ibu Saena tidak pernah merestui hubungan mereka.

Ibu Saena menjodohkan Saena dengan orang lain karena pekerjaan Kyuhyun yang di mata ibunya tidak bisa menghasilkan apapun.

Tiba-tiba memorinya berputar seperti roll film betapa kukuhnya Saena memintanya berhenti dari pekerjaannya.

Saena sampai mempertaruhkan hubungan mereka demi mematahkan ego Kyuhyun yang tetap mempertahankan pekerjaannya. Saena sudah berusaha memberitahunya.

Tapi dia malah seenaknya mengabaikannya! Dan haruskah sekarang berakhir? Membiarkan Saena menikah dengan pria lain?

“Tuan muda, and—”

“Bawa aku menemui Saena.” tekad Kyuhyun. Kepalanya beralih pada Han ahjumma.

Dia akan menyelinap masuk ke dalam rumah Saena. Walaupun dia tidak pernah bertemu ibunya, bukan berarti dia tidak pernah sekali-dua kali berkunjung kemari.

Dia bahkan tahu dimana letak kamar gadisnya. “Tolong, ahjumma, yang terakhir kalinya.”

Han ahjumma memandang ragu ke arah Kyuhyun dan rumah majikannya bergantian.

Baiklah, biarlah dia akan menjadi pengkhianat pertama dan terakhir sekarang. Dia menarik lengan Kyuhyun agar mengikutinya masuk melalui pintu dapur di belakang rumah.

.
.
.

Saena menatap kosong ke arah orang-orang yang sibuk menyiapkan pesta pernikahannya di lantai bawah.

Merasa muak, Saena masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya.

Bahkan kamarnya sudah disulap menjadi kamar pengantin. Serba putih dengan bunga mawar bertebaran di atas ranjang bersprei satin putih emas.

Mematut kembali tubuhnya di cermin sebadan miliknya.

Kim Saena dibalut gaun putih pas badan menyapu jalan tanpa lengan dengan belahan rendah berhiaskan benda berkilauan mengikuti bentuk dadanya.

Tangannya bersarung putih jaring-jaring dan wajahnya sudah selesai dirias setengah jam lalu.

Perjalanan dari Busan sangat melelahkan ditempuhnya dalam dua jam saja. Mengemudikan mobil dengan kecepatan 140 km/jam tanpa takut mati di jalan.

Gila, kan? Oh, salahkan otaknya yang lebih menggila dari anggota geraknya.

Perjuangan terakhirnya untuk bertemu Kyuhyun usai sudah.

Pria itu yang membuatnya tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan ibunya. Pria itu yang membuat harapannya pupus. Pria itu yang menghancurkannya menjadi berkeping-keping.

Matanya memanas.

Oh, oh, tidak lagi, jangan menangis lagi atau kau akan menghancurkan riasanmu. Tapi tanpa bisa dibendung lagi air matanya menetes melalui sudut matanya.

Segera dia mencabut tisu yang sudah disiap-siapkannya di atas meja riasnya dan segera menghapus air mata itu. Hatinya sudah sangat sakit seminggu ini.

Menyiapkan pernikahan yang tidak pernah diinginkannya. Berpura-pura tersenyum di depan pria calon suaminya. Ini menyiksanya!

“Kau sangat cantik.”

Terkesiap, Saena membalikkan tubuhnya dan betapa tubuhnya akan luruh saat itu juga jika tidak ada meja rias yang siap menahan tubuhnya. Tangannya mencengkeram kuat pinggiran meja.

Sosok yang tidak pernah dibayangkan muncul sekarang berdiri mendekat padanya. Beberapa senti di depannya. Menghapus jarak mereka.

Pria yang memenuhi pikiran dan rongga dadanya seminggu ini muncul dengan kaos putih dibalut jaket hitam dan celana jins biru kesukaannya.

Pria terpanas abad ini. Ingin rasanya Saena melempar tubuhnya ke dalam dada bidang itu.

“Selamat atas pernikahanmu. Itu kah yang kau harapkan dariku?”

Tidak! Jerit Saena dalam hati. Saena diam saja ketika punggung tangan Kyuhyun membelai pipinya sangat lembut dan hampir saja Saena ingin bersandar di tangan itu.

Tapi tatapan Saena tetap siaga karena jika Kyuhyun sudah bertindak menahan amarahnya dengan berbuat sebegini lembutnya pasti pria itu sudah sangat-sangat marah.

“Bagaimana kau bisa masuk, Kyu?”

Kyuhyun tersenyum sinis. Tidak dia sangka akan disambut dinginnya ucapan Saena. “Hmm, kamar pengantin yang romantis.”

Saena menelan ludahnya. Betapa dia sangat merindukan pria ini. Pria yang memenuhi mimpinya setiap malam.

Pria yang menjadi bayangannya setiap kesempatan.

Tapi mengingat cumbuan panas yang pria ini lakukan pada seorang gadis yang baru dia ketahui bernama Seohyun menghancurkan hatinya menjadi keping-keping yang mustahil disusun kembali.

“Keluar sekarang, Kyu. Sebelum keamanan mengetahui keberadaanmu dan mempersulit keadaan.”

Saena menjauhkan pipinya dari belaian hangat Kyuhyun dan menghindar dari tatapan tajam pria itu.

Bahkan Saena sudah menciptakan jarak di antara mereka. Dia harus ingat bahwa kemarahannya pada pria inilah yang membuat suasana semakin runyam.

Hati Kyuhyun mencelos melihat penolakan Saena. “Apa ini yang kau inginkan?”

Tentu saja tidak! Kau yang membuatku tidak punya pilihan menolaknya!

Kyuhyun mengikis jarak mereka dan menangkap lengan Saena yang lebih kurus dari terakhir kali.

Mengguncang lengan itu cukup keras, “Jawab aku! Jawab aku, Saena! Aku berkendara selama delapan jam untukmu tapi betapa terkejutnya aku mengetahui dirimu akan menikah dengan pria lain. Kita baru seminggu berpisah! Secepat itu kah kau melupakanku?!”

Saena menghempaskan cengkeraman Kyuhyun di lengannya lalu berteriak lebih lantang, “Lalu apakah kau tidak memikirkan perasaanku? Di saat aku mengalami guncangan jiwa, putus asa, dan ingin lari dari pernikahan ini kau dimana? Kau malah asyik bercumbu dengan gadis lain! Kau puas? Sekarang keluar Kyu, kumohon!”

Saena mendorong dada Kyuhyun ke belakang. Berada terlalu dekat dengan pria itu menyesakkan dadanya dan mempromosi air matanya untuk menetes.

Tubuh Kyuhyun kaku. Jadi orang yang membanting pintu ruang gantinya adalah Saena? Gadis ini sudah salah paham.

Saena mencarinya. Saena meminta perlindungan padanya. Ingin mengadukan kegelisahan hatinya. Dan begitu suka citanya dia berharap bisa bertemu dengannya, dia malah terlihat bermesraan dengan gadis lain.

Shit! Bahkan dia melihat bayangan Saena di diri Seohyun tadi.

“Aku setengah mati ingin menghentikan pernikahan ini, tapi KAU! Kau membuatku tidak punya pilihan lain selain menerimanya.” Oh, oh, tangisan Saena pecah lagi.

Dia terisak dan melanjutkan, “Aku memberanikan diri mengemudikan mobil ke Busan padahal aku tau mati-matian kau melarangku berkendara sendirian setelah kejadian aku pernah hampir mati kecelakaan karena mengebut di jalanan.

“Aku membunuh harga diriku demi mendatangimu. Berharap kau mau kembali padaku, memberitahu semua masalah ibuku padamu dan mencari jalan keluar bersama. Tapi apa yang kudapat? AKU MENYESAL BERHARAP BANYAK PADAMU!”

Saena menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menangis di tangannya. Dia benar-benar lelah.

Dan Kyuhyun melihat itu semua dengan perasaan campur aduk. Tangannya yang selalu siap mendekap tubuh itu mendadak kaku tidak bisa digerakkan.

“Lagi-lagi kau egois mementingkan pekerjaanmu! Terakhir kali aku sudah memintamu memilihku! Tapi kau mengabaikanku, Kyu.

“Lalu aku harus bagaimana sekarang? Membatalkan pernikahan ini? Kembali padamu? Padahal jelas-jelas kau sudah tidak memiliki hati lagi untukku. Aku mencintaimu, Kyu! Tapi cinta ini juga yang membunuhku!”

Saena terisak lagi. Dia memukul-mukul dadanya yang nyeri akibat tangisannya yang tidak mau berhenti. Dia mengusap wajahnya, tidak peduli riasannya rusak. Dia hanya ingin menangis.

Pertahanannya runtuh sudah. Biasanya dia tidak suka menunjukkan kelemahannya di depan orang lain, tapi di depan Kyuhyun, dia selalu bisa menjadi dirinya sendiri. Lemah, putus asa, tak berkuasa.

Hening beberapa saat ketika tiba-tiba Kyuhyun maju beberapa langkah, mencengkeram lengan Saena sekali lagi dan mendorong tubuh gadis itu jatuh di atas ranjang.

Menumpukan sikunya di sisi kepala Saena sehingga posisinya sekarang setengah menindih gadis itu.

Mengamati wajah Saena yang walaupun tertutupi make up tapi tidak bisa menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya dan matanya yang membengkak.

Dirinya yang menciptakan neraka bagi Saena.

Perlahan Kyuhyun mengusap puncak rambut Saena lalu mengecupnya beberapa detik.

“Aku bersalah. Aku egois. Kumohon maafkan aku.”

“Apa permohonan maaf sekarang menjadi hal yang penting?” Saena menurunkan tangannya yang semula menutupi wajahnya lalu membalas tatapan Kyuhyun yang sangat lembut.

“Aku akan menikah, Kyu. Tidak kah kau lihat di bawah sana semua orang sedang sibuk mempersiapkan pernikahanku?”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak akan kubiarkan.” Kyuhyun bersikeras.

“Sedetik pun aku tidak pernah berusaha berpaling pada perempuan lain. Seohyun tidak berarti apa-apa. Aku membayangkan sedang menciummu karna rasa rinduku yang tidak pernah terbayar.

“Aku akan mengakhiri kontrak kerjaku, aku sudah bertekad bahkan sebelum mengetahui berita buruk ini. Aku akan melakukan apapun untukmu. Kumohon, kembalilah padaku.”

Kyuhyun mengecup kening Saena yang terekspos. Gadis yang beberapa jam lagi menjadi istri pria lain. Tidak. Dia tidak akan membiarkannya.

“Jangan memaksa untuk suatu hal yang mustahil, Kyu.”

“Kita berdua bisa menggagalkan pernikahan ini.”

“Aku tidak bisa melihat bagaimana caranya.”

“Aku bisa.” Kyuhyun menatap mata Saena dalam-dalam.

“Menanamkan benihku di rahimmu.” Kata Kyuhyun sambil mengusap perut Saena yang datar. Gadis itu menegang.

Saena terperanjat. Dia mendorong bahu Kyuhyun menyingkir dari atas tubuhnya. Dia tidak suka dengan ide Kyuhyun. Dia adalah gadis yang mengerti batasan. Dia tidak akan memberikan dirinya untuk pria selain suaminya.

“Aku tidak pernah menginginkan hubungan berlebihan di luar pernikahan.”

Saena bangkit dan merapihkan gaunnya yang sedikit kusut.

Kyuhyun ikut berdiri. Dia hampir melangkahi prinsip yang dijaga baik-baik gadisnya. Sial Kyuhyun, kau lupa.

“Keluarlah. Jika kedatanganmu kesini untuk menggagalkan pernikahan ini lakukan tanpa melibatkan diriku. Aku lelah. Aku berpikir mungkin ini akhir yang terbaik untuk kita berdua. Kau tidak perlu meninggalkan impianmu demi aku dan bebas menjalin hubungan dengan siapapun.”

“Aku hanya menginginkanmu.”

“Kau yang mengakhiri hubungan kita.”

“Aku memohon padamu untuk kembali.”

“Kita tidak bisa. Keluar!”

“Kau tidak menyesal?”

“Setidaknya aku sudah memberimu pilihan dan harusnya kau yang menyesal, Kyu.”

Sial! Saena benar. Kyuhyun benar-benar menyesal. Ini hukuman untuknya!

“Baik, jika ini sudah menjadi keputusanmu. Sekalipun aku ingin menahanmu tapi aku tahu aku tidak boleh egois lagi. Membiarkanmu terluka lebih dalam lagi. Maafkan aku, keegoisanku padamu yang harus berakhir seperti ini. Berbahagialah, Saena. Aku selalu mendoakan untuk kebahagianmu.”

Begitu pintu tertutup, tubuh Saena luruh ke lantai. Tangisannya pecah lagi. Kali ini dia menangis meraung. Menangisi kisah cintanya yang tragis. Semuanya berakhir.

Keegoisan memang sanggup mematahkan semua harapan, menghancurkan angan, menelan kebahagiaan.

Sudah kubilang kan, kisah cinta tidak selama nya berakhir bahagia.

Sampai jumpa kekasih hidup-matiku. Kuharap kau bisa segera menemukan kebahagiaanmu sendiri di luar sana.

.

.

.

THE END

Kurang Puas?
Vote disini:
Voting Request Sequel FF

 

Advertisements

20 thoughts on “It’s Not Always Happy Ending [Oneshoot]

  1. Yollastevenia says:

    Apa ini ??? Bikin mewek 😥 😥
    ah..inti nya permasalahan ini cuma salah paham dan keegoisan masing2.
    Kyu yg gak mau ninggalin karir nya demi saena,saena yg jga salah gak bilang dari awal kalau dia di jodohin.
    Serba salah sikap kedua nya.

    Liked by 1 person

  2. lyeoja says:

    Ya ya yaaaaa………….!!!!!!!!
    Dan saya ngamuk gegara ff inii…. 😱😱😱😱😱😱😠😠😠😡😡😡😡
    Tidaaakkkkkkkk, jangan sepertiiii ini thirrr…. 😭😭😭

    Mo kritik dikit thor,,,
    Mngkin karena author nulisnya keburu2 kadang ad kata yg terlupakan… hihihi
    Jadi agak sengklekkk bacanya.. 😂😂😂
    Ditunggu lagi ffnya yg lain thorrr,

    Liked by 1 person

  3. kyuwonhae's wife says:

    Bru ini aky kembli speechlees sma ending y gak tw hrus sedih,senang, emosi, binggung pkoknya camput aduk bgt. Saena dan kyu bner. Keduanya bner, gak ad yg slah. Hnya wktunya yg krang tepat utk mereka, jd bgtulah adnya

    Liked by 1 person

  4. Dwi RA says:

    Sad ending?? Gak bisakah bikin yg happy ending eonn, dari kemaren bawaannya mewek terus dari switch,, tp bagus eonn ngena bgt. Switch kpan dilanjut eonn?? Semangat nulis.. Fighting eonn ❤ 🙂

    Liked by 1 person

  5. ddianshi says:

    Perasaan ini genre nya Romance tp kenapa sad ending 😦 kenapa saena harus mengakhiri hubungannya dengan kyuhyun? kenapa tidak memberi waktu kyuhyun ya maksimal 1bulan untuk menikah dengan pria lain 😥 kasian juga kyuhyunnya 😥 😥

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s