Switch [Chapter 1]

Switch Chapter 1
by Luna

Genre:
NC, Sad, Married-life, Romance, Chaptered

Cast:
Cho Kyuhyun | Lee Yoo Jin | Lee Yoo Ri

Cuap-cuap Author:
Hai hai reader^^

Dukung moodku terus ya biar semangat menulis. Ini aku kasih FF Chaptered kedua setelah vakum melanjutkan FF Obliviate. Rencananya mau ada renovasi dari FF Obliviate dan mengganti judulnya dengan yang lain. Oke oke?

Nah, FF Switch ini mengangkat cerita dari kehidupan rumah tangga yang sudah harmonis setelah terbongkar rahasia dibaliknya menjadi berantakan dan mengharuskan bertukarnya sosok istri di kehidupan Cho Kyuhyun.

Penasaran? Lanjut baca deh, jangan ngomong terus thor!#plak

d

Warning typo bertebaran!
—oo0000oo—
Chapter 1
Found Her

“Sayang,”

Aku sedang sibuk mengoles roti dengan selai kacang ketika seseorang meraup pinggangku ke dalam lengan kekar hangatnya.

Pria yang kucintai, suamiku. Dapat kucium wanginya sehabis bangun tidur yang bercampur sabun mandi aroma mawar yang sangat memabukkan.

Dia mengecup pelipisku dengan sayang sambil mengeratkan pelukannya, menumpukan kepalanya di pundak kiriku, mengecup leherku secara sensual.

Diam-diam aku bersyukur dalam hati karna memutuskan mandi lebih dulu darinya sehingga aku yakin bau tubuhku saat ini sudah harum.

Aku bisa merasakan senyumannya di leherku yang menular. Aku mengernyit geli tapi senang tanpa menghentikan sedikitpun gerakan tanganku menyiapkan sarapan pagi untuknya.

Aku mengangkat roti milikku untuk kunikmati sendiri dan kepalanya yang melewati bahuku, menggigitnya sedikit, kemudian mengarahkannya padaku.

Aku ikut menggigit roti itu di sisi yang lain dan kami memakannya sedikit demi sedikit sambil menyeringai satu sama lain layaknya pengantin baru. Ketika potongan roti itu nyaris habis, dia langsung melahap sisa roti sekaligus bibirku.

Kami berciuman, saling mencecap satu sama lain, menghabiskan sisa roti di dalam mulutnya. Kuletakkan kembali separuh roti ditanganku di piring atas meja bar sarapan. Aku berbalik, mengalungkan kedua lenganku ke lehernya dan menikmati morning kiss kami yang kedua setelah di atas tempat tidur.

“Kau sangat wangi, sayang.” Dia menggeram ketika aku menarik rambut cokelat gelapnya lalu menurunkan ciumannya di belakang telingaku, menggigitnya pelan sambil meremas dadaku perlahan sampai aku merintih karenanya. “Aku menginginkan di dalam dirimu.”

Dia berbisik kelewat seksi di telingaku membuat sekujur tubuhku meremang. Aku mengangguk saja. Dengan semangat menggebu, dia mengangkat tubuhku yang menurutnya sangat ringan ke atas meja.

“Kau nakal sekali.” Dia mengerling sekali padaku dan aku mengalihkan rasa maluku dengan menciumnya lebih dalam, melesakkan lidahku ke dalam mulutnya. Aku tahu maksudnya. Ini pasti karna aku hanya mengenakan t-shirt putih miliknya dan tidak memakai apa-apa lagi di dalamnya.

Dia segera menurunkan celana piyamanya, membebaskan kejantanannya yang sudah mengeras. Setelah mengocoknya sebentar, dia segera memasukkannya ke dalam milikku yang sudah basah sejak kami berciuman. Aku memang sangat mudah terangsang.

“Selalu siap, sayang.” Dia menyeringai puas lalu mendorong miliknya padaku. Terus menerus dengan gerakan cepat-pelan-cepat lagi.

Aku menjerit saat dia menyentuh titik-titik sensitif di dalam tubuhku dan aku menjeritkan namanya saat aku mencapai klimaks yang menyusulku beberapa detik setelahnya.

Tatapanku masih berkabut penuh gairah sama seperti miliknya. Menyesuaikan nafas kami yang terengah-engah. Dia mengelus puncak kepalaku sayang. “Aku mencintaimu.” bisiknya dengan senyum malu-malu.

“Aku pun begitu.” Setelah aku berkata demikian, dia menggendongku tanpa melepas penyatuan kami. Ku eratkan pelukanku di lehernya.

“Mandi bersama.”

Itu bukan pertanyaan, melainkan perintah. Dia tahu aku tidak akan bisa menolak jadi dia dengan semangat membawaku masuk ke kamar mandi kami dan menyalakan shower dengan pengaturan hangat tanpa melepasku.

Aku tahu setelah ini dia tidak akan berhenti memasukiku sampai aku menjeritkan namanya berulang kali di antara derasnya air shower.

.

.

.

“Puas memandangiku?” Kyuhyun berjalan ke arahku yang duduk di pinggir ranjang hanya memakai handuk sebatas paha. Aku mengangguk saja. Sedikit lelah setelah percintaan panas kami pagi ini.

“Pasangkan dasiku.” Dia menunjuk dasinya yang menggantung di lehernya dan belum terikat.

Aku merangkak ke atas pangkuannya. Sedikit menggodanya, tidak salah kan? Aku bergerak pelan di pangkuannya, membetulkan posisi dudukku sebelum mengikat dasinya.

Tatapan matanya menggelap dan bergairah membuatku menyeringai dalam hati. Kedua lengannya memeluk pinggangku posesif.

“Kau menggairahkan sekali pagi ini, Nyonya Cho. Ingin rasanya aku menerkammu lagi kalau saja aku tidak ingat ada meeting penting dengan klien dari China.”

Jari-jarinya yang panjang membelai punggungku. Mengirimkan aliran listrik ke bawah tubuhku. Dapat kurasakan miliknya yang mengeras menekan milikku di bawah sana. Aku tetap tenang.

“Dan kalau saja aku tidak ingat aku juga harus bertemu wartawan untuk membahas penemuan barunya.” Aku menyelipkan ikatan dasinya di bawah kerah kemeja linen putihnya.

“Selesai!” Pandanganku mengarah pada wajah sumringah suamiku. Betapa aku beruntung memiliki suami yang sangat romantis dan mencintaiku. “Wartawan itu bilang dia berhasil menemukan rumah adikku.”

Matanya berbinar terang. Tapi aku menemukan sedikit keterkejutan disana. “Benarkah? Aku turut senang.” Pelukannya mengerat.

Segera kutepis perasaan anehku. Aku mendapatkan email pagi ini dari Bora, sekretarisku, bahwa wartawan Park berhasil menemukan rumah adikku. Dan aku berniat pergi hari ini untuk menelusurinya. Sepertinya pencarian ini akan segera berakhir.

“Aku akan mengabarimu secepatnya jika ada perkembangan lebih lanjut.” Aku mengecup pipi kanannya cepat.

“Kita harus bangkit. Aku tidak mau membuat kemejamu kusut dan setiap pegawaimu yang melihatnya akan membicarakan bos mereka yang mungkin habis bercinta dengan istrinya.”

Aku segera melompat turun dari pangkuannya, masuk ke dalam walk in closet, meninggalkannya yang menyeringai di belakang.

“Iya, iya, istriku tersayang.”

Aku buru-buru mengenakan rok pensil warna cream, memadukannya dengan blouse coklat tua berenda di bawahnya. Aku mengambil coat warna senada dengan rokku lalu memoles wajahku dengan make up tipis.

Setelah memastikan penampilanku terlihat oke, aku keluar dari kamar dan mendapati Kyuhyun sedang meminum susunya dengan mata tidak pernah lepas dariku sejak aku muncul di bar sarapan.

“Tampak luar biasa seperti biasanya.”

Senyumnya menyentuh kedua matanya. Aku tersipu. Aku meliriknya yang juga sangat menawan tiap harinya. Hanya mengenakan kemeja linen putih yang dilapisi jas dan celana abu-abu yang membentuk tubuh sempurnanya.

“Vitamin, jangan lupa.” Kyuhyun menyodorkan segelas air putih dan vitamin yang selalu kuminum setiap hari. Dia memang suami yang perhatian. Tapi entah kenapa aku merasa pagi ini dia sediki berbeda. Seperti ada perasaan ragu saat dia memberiku vitamin pagi ini.

Dia mengulurkan tangannya yang segera kusambut suka cita, “Ayo pergi.”

Kami bergandengan keluar dari apartemen menuju mobil audi hitam Kyuhyun. Membukakan pintu depan penumpang untukku kemudian melangkah anggun ke pintu pengemudi. Dia melaju dengan kecepatan sedang sementara aku memandang ke luar jendela mobil.

Di luar sana tampaknya hujan mulai membasahi jalanan yang selalu ramai di jam-jam sibuk. Orang-orang berlarian menghindari tetesan hujan dan berlindung di halte bus.

Tiba-tiba seakan tertarik ke suatu lorong masa lalu membawaku pada pertemuan pertamaku dengan suamiku. Cho Kyuhyun.

#FLASHBACK ON

Hari itu adalah musim panas yang sangat panas pertama kalinya di Korea. Ramalan cuaca mengatakan suhu akan terus naik sampai 29 derajat celcius. Semua orang mengeluh kepanasan apalagi di kelas 3-2 hanya satu AC yang berfungsi diantara dua pendingin lain yang mati.

Suasana kelas yang sudah tidak lagi kondusif, ditambah lagi pelajaran matematika tentang aljabar menyebalkan, benar-benar membuat mereka seperti di neraka jahannam.

Bagaikan oase di tengah padang pasir yang gersang, Han Ssaem datang menyela pelajaran dan mengabarkan bahwa akan datang murid pindahan dari Australia.

Siang itulah pertama kali aku melihat sosok tampan, tinggi, berbahu tegap, wajah yang putih mulus yang dibingkai kacamata persegi full frame warna maroon mencerminkan bahwa dia pria yang cerdas.

Ranselnya menggantung di bahu kirinya dan sebelah tangannya masuk ke saku celana seragam. Rambutnya berwarna coklat gelap yang sedikit berantakan memberi kesan maskulin.

Suara baritonnya sangat seksi ketika dia memperkenalkan diri di depan kelas, diiringi tatapan lapar para gadis dengan liur yang menetes-netes.

Logatnya sedikit berbeda tidak seperti orang Korea kebanyakan. Karena sudah 12 tahun tinggal di luar negeri, mungkin.

Sial, perutku kram hanya melihat senyum lepasnya pada guru kami. Dia melangkah santai, selembut kapas, mengabaikan tatapan memuja semua gadis, melewati barisan bangku depan dan berhenti di bangku kosong di sampingku.

“Bolehkah aku duduk disini?” tanyanya.

Untuk sepersekian nanodetik, waktu di sekitarku seakan berhenti. Aku merasa hanya ada kami berdua di dalam kelas dan tiba-tiba kepompong diperutku bermetamorfosa menjadi kupu-kupu kemudian beterbangan di sekitar perutku.

Aku tidak sadar kapan aku mengangguk mengiyakan karna yang kutahu dia sudah menghempaskan pantat seksinya di bangku di sampingku.

“Panas sekali, ya?” dan kepalaku sudah bergerak dengan sendirinya tanpa perintah dari otakku mengangguk.

Oh, Tuhan, kenapa ada makhluk se-seksi ini disini? Duduk di sampingku? Tanpa sadar aku menggigit bibir sebelum mengembalikan fokusku pada pelajaran.

Cho Kyuhyun. Namamu siapa?

Ya Tuhan, setengah mati aku menahan agar teriakanku tidak jebol disini. Dia! Dia menyodorkan selembar kertas warna biru padaku dan menanyakan siapa namaku. Tulisannya bagus sekali. Dengan bodohnya aku memekik pelan.

Dari ujung mataku aku bisa melihat sudut bibir kanannya mencuat ke atas seakan menikmati keterkejutanku. Aku buru-buru menutup mulutku dan mulai membalas suratnya.

Surat pertama yang kudapat semasa sekolah. Surat pertama dari seorang pria.

Aku mengembalikan kertasnya. Menuliskan namaku tepat di baris berikutnya dengan tulisan tangan terbaikku, sedikit berharap dia akan terpukau.

Lee Yoo Jin.

Bukan Eu (Yu)- gene (Jin) Crab? Salah satu tokoh kartun Spongebob?

Oh! Lelucon garing, tapi aku tersenyum juga. Astaga, Lee Yoo Jin, kau bisa lebih gila daripada ini! Aku menggambar orang yang sedang menggelengkan kepala. Oke, aku akan sedikit memamerkan kemampuan menggambarku padanya.

Bukan, YooJin.

Wow, kau jago menggambar ya?

Aku melirik ke arah Oh Ssaem yang sekarang sibuk menuliskan beberapa rumus di papan tulis.

Sial! Aku kehilangan beberapa catatan. Aku buru-buru menyelipkan kertas biru itu di bawah buku catatanku dan menyalin rumus di papan tulis.

Padahal ini tahun terakhirku di sekolah ini. Harusnya aku bisa lebih berkonsenterasi untuk ujian akhir tahun depan, bukannya mengagumi pria menggiurkan di sampingku yang sedang menyeringai dan ikut menyalin catatan juga.

Mungkin hanya dua puluh menit aku memperhatikan Oh Ssaem yang menjelaskan penjabaran rumus-rumus yang ditulisnya. Selebihnya, aku melamun sambil menggigiti ujung pulpenku. Ada dewa Yunani duduk di sampingku sungguh memecah konsenterasiku.

Aku dikenal sebagai gadis yang cuek pada siapapun (kecuali orang terdekatku). Sifat burukku inilah yang membuat para pria malas mendekatiku walaupun, yeah, aku cukup cantik di golongan gadis kutu buku.

Entah ini akan menjadi baik atau tidak ketika aku bertekad menjadikan pria di sampingku ini pusat semestaku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

#FLASHBACK OFF

Kyuhyun mengusap puncak kepalaku, menyadarkanku dari lamunan panjang. Lamunanku tentangnya, “Sedang melamunkan apa?”

“Hmm, pertemuan pertama kita.” Aku tersenyum lebar dan pandanganku mengedar. Sejak kapan mobil ini berhenti?

Apa Kyuhyun membiarkanku melamun begitu lama sampai membuatnya menunggu? Mobil kami sudah terparkir di depan gedung kantor ID Entertainment.

Seakan tahu apa yang sedang melandaku, Kyuhyun mengusap pipiku dengan punggung tangannya, menenangkan. “Sepuluh menit aku membiarkan khayalan liarmu itu berkelana.

Ah, aku ada rapat setengah jam lagi, maafkan aku.” Dia terlihat menyesal tidak bisa membuatku melanjutkan lamunanku lebih panjang.

“Tidak, aku yang minta maaf. Pergilah, tidak perlu mengantarku. Nanti kau terlambat. Sampai jumpa nanti sore, sayang.”

Aku mengecupnya di bibir sebelum keluar dari mobil. Kulambaikan tanganku pada mobil yang mulai bergerak pergi. Aku begitu beruntung memiliki suami yang sabar seperti Kyuhyun.

Apakah ini takdir sejak pertemuan pertama kami? Bahwa kami memang ditakdirkan bersama. Ataukah ini hanya permulaan dari takdir yang harus kami jalani?

“Pagi, Presdir Lee.” sapa Bora, orang kepercayaanku. Aku mengangguk, menjawab sapaannya.

“Apa kau sudah mendapat telepon dari wartawan Park tentang alamat rumah adikku?” Bora mengikuti langkahku masuk ke dalam lift khusus pejabat. Tepat sebelum lift berdenting akan menutup, seseorang lebih dulu menyelinap masuk.

“Pagi, Presdir Lee.” sapa Min Hyo Rin, Direktur Pemasaran di perusahaan kami.

Jangan pernah mempercayainya. Senyum yang dia tunjukkan tidak lebih dari rasa hormat bukan ketulusan. Dia terkenal sangat ambisius dalam pekerjaannya.

Well, ayahnya memang memiliki saham beberapa persen disini dan semua orang tahu dia sedang merencanakan untuk memperkuat saham ayahnya.

Bora membungkuk sekilas padanya. Hyo Rin bersedekap di depan dada dengan tubuh menghadap pintu lift di sampingku, sementara Bora berdiri di belakang kami.

Terasa seperti selamanya menuju lantai dua puluh tujuh, lantai teratas gedung ini, bersamanya. Aku sedikit dongkol dalam hati.

“Bagaimana kabarmu, Yoo Jin-ah?”

Kami dulunya pernah satu sekolah ketika Senior High School meski dia adalah juniorku yang terkenal kurang ajar dnegan seniornya. Jadi wajar jika dia berani memanggilku dengan namaku.

“Baik tentu saja.” aku menjawab sekenanya. Aku berharap tidak ada pertanyaan lanjutan. Aku sedang malas menanggapi ocehannya. Sekalipun ocehannya lebih panjang ketika di belakangku.

Hyo Rin menyeringai. “Aku belum mendengar berita kehamilanmu. Apa ada masalah? Hmm, kau tau, banyak yang membicarakan soal dirimu yang mungkin tidak bisa hamil.” Hyo Rin terkikik pelan. Ada nada nenek sihir dalam tawanya.

Di belakangku, aku tahu Bora sudah siap memaki-maki wanita sinting ini karna ucapan kurang ajarnya. Tapi aku menahannya.

Aku memberikan sinyal ‘diam’ melalui gerakan tanganku. Aku berdeham, mempertahankan senyum datarku padanya. Aku ingin segera mengakhiri neraka ini. Melirik ke arah lift yang sekarang sudah mencapai lantai 23.

Ada sedikit waktu untuk sedikit menggertaknya.

“Well, yah, kuakui aku cukup sedih ada berita sekejam itu tentangku.”

Lantai 25.

“Tapi, setidaknya aku memiliki suami yang mencintaiku dan bukannya mengemis cinta seperti yang kau lakukan pada Lee Donghae, Direktur Min.” Lift berdenting keras menandakan kami telah sampai di lantai yang dituju.

Aku buru-buru keluar dari lift dengan Bora yang setia mengekor di belakangku. Bora mensejajari langkahku dan mengacungkan dua jempolnya ke udara sambil terkikik saat mendengar Hyo Rin mengumpat di belakang kami.

“Sialan sekali memang mulut wanita berbisa itu.” Aku tertawa mendengar dengusan Bora seolah-olah dia tidak peduli bisa kehilangan pekerjaannya kalau kalimatnya itu sampai di telinga orang yang mereka bicarakan.

“Biarkan saja. Aku tidak ingin hidup sepertinya. Iri untuk alasan yang tidak tepat.”

Aku melenggang masuk ke kantorku yang serba putih. Aku menyampirkan coat-ku di sandaran kursi kebesaranku dan duduk disana dengan nyaman sambil menunggu Bora mengambilkan Latte kesukaanku.

“Oh, iya, alamat adikku?”

Bora meletakkan secangkir Latte di atas meja kemudian duduk di kursi depan mejaku. Aku menghirup wangi Latte yang menenangkan.

“Seminggu yang lalu aku mendapat informasi dari Wartawan Park untuk menyelidiki beberapa tempat yang dia temukan. Dan dia berhasil mendapatkannya. Alamat rumah terakhirnya di Cheongdam-dong. Dari informasi warga setempat mengatakan kalau nona Yoo Ri selama ini tinggal sendirian.”

Aku mengernyit. “Sendiri? Bagaimana bisa? Dia sedang hamil saat meninggalkan rumah tujuh tahun yang lalu. Seharusnya anaknya sekarang…” aku menghitung jariku, “berusia enam tahun.” Ini aneh.

“Aku juga kurang paham, Presdir. Tapi bisa kupastikan informasi itu cukup akurat. Selain itu, kami juga mendapat informasi kalau nona Yoo Ri mengambil uang dari bank di Yeoksam-dong. Aku mengalami kesulitan mengecek nomor teleponnya. Pihak bank merahasiakan segala hal yang berkaitan dengan privasi nasabah mereka. Dan, aku menemukan hal aneh lainnya,” kalimat Bora yang menggantung itu menggangguku.

“Apa itu?” Aku membenarkan dudukku dan memusatkan perhatianku untuk Bora yang meremas jemarinya di pangkuannya. Apa yang membuat Bora sebegitu cemasnya memberitahuku hal aneh itu?

“Hmm,” Bora melirikku sekilas lalu bola matanya bergerak gelisah.

“Aku.. tidak tahu apa Presdir akan senang mendengarnya,” Aku menaikkan sebelah alisku. “ada orang lain yang sedang mencari jejak nona Yoo Ri selain kita.” Bora mengangkat wajahnya padaku. Ekspresinya sangat cemas.

“Siapa?”

Tok tok tok!

“Jin-ah!” kuputar bola mataku malas. Donghae dengan wajah sumringah memasuki ruanganku, tanpa mengetuk pintu dan memanggilku tanpa embel-embel ‘presdir’.

Menyebalkan sekali pria ini. Sudah tua kelakukannya masih saja seperti remaja SMA.

“Aku lapar! Ayo sarapan!”

Aku mendengus sebal. Lee Donghae adalah sahabatku sejak SMP. Dia pria yang menyenangkan, lucu, dan ceroboh. Kami bersahabat karena dulunya dia pernah tinggal satu kompleks perumahan denganku dan ibunya ternyata teman dekat Ibuku.

Sifatnya yang mudah bergaul membuatku tidak bisa menolak tawaran pertemanannya. Dan entah takdir mengerikan apa sehingga kami terus bersama hingga saat ini.

“Aku sudah sarapan, Donghae-ya.”

Dan kebiasaan setiap pagi pria ini pasti akan mendatangi kantorku dan mengajakkku sarapan padahal dia sudah tau aku tidak pernah melewatkan sarapanku di luar rumah. Karena Kyuhyun, tentu saja.

Aku menoleh pada Bora yang tersenyum kaku setiap kedatangan Donghae. Aku tahu dia mempunyai perasaan khusus pada sahabatku ini. Jadi kenapa tidak aku dekatkan saja dia dengan sahabatku?

“Ah, bagaimana jika Bora yang menemanimu sarapan? Kebetulan dia juga belum sarapan.”

“Presdir—” Bora tampak ingin menolak dan aku segera mengerling padanya.

“Benarkah?” Donghae berbinar-binar. “Oke. Ayo, Bora-ssi, aku tidak ingin kehabisan ikan bakarku!”

Tanpa permisi, Donghae segera menggamit lengan Bora yang gelagapan dengan kelakuan Donghae yang sok akrab. Walaupun dia sering mengunjungi kantorku, Donghae tidak pernah bertindak seenaknya begitu.

Aish, dasar pria tukang tebar pesona!

“Presdir, aku tidak akan lama-lama!” Bora membungkukkan badannya sekilas dengan senyum merekah di bibirnya.

“Biarkan Yoo Jin menunggu. Dia tidak akan jadi keriput hanya karna aku menculik sekretarisnya.”

Donghae terkekeh hingga keduanya menghilang dari balik pintu. Aku menggelengkan kepalaku pelan. Padahal aku sangat penasaran dengan orang yang juga sedang mencari keberadaan adikku. Tidak apa-apa. Bora bisa memberitahuku nanti.

Aku menghempaskan pantatku di kursi kebesaranku. Mendesah pelan dan sialnya aku malah terngiang-ngiang dengan omongan Min Hyo Rin saat di lift tadi.

Satu tahun aku menikah dengan Kyuhyun, tapi kabar gembira belum juga datang.

Kadang aku ingin sekali memeriksakan kandunganku yang bisa saja bermasalah. Tentu saja tanpa membawa Kyuhyun serta. Aku tahu pria itu sangat sensitif dengan hal-hal demikian.

Kulirik kalender di atas meja kerjaku. Ada lingkaran merah di setiap tanggal 17 yang menandakan tamu bulananku sebentar lagi akan datang.

Bahkan siklusku sangat teratur. Tidak ada nyeri di sekitar perutku, juga tidak ada perdarahan selain dalam siklusku. Tapi kenapa aku belum juga hamil? Sedangkan kami selalu melakukannya hampir setiap waktu luang yang dimilikinya.

Apa aku memang harus memeriksakannya?

Ponselku berdering. Ada telepon dari Ibu. “Yeoboseyo?”

“Jin-ah, kapan kau mau pulang, sayang? Sudah hampir dua bulan kau tidak mengunjungiku.”

Aku tertawa mendengar nada merajuk dari Ibuku. “Benarkah? Baiklah, Bu, mungkin jumat besok aku dan Kyuhyun akan mampir ke rumah.” Yah, seingatku aku tidak punya jadwal padat minggu ini.

“Benar, ya? Ibu akan memasakkan makanan kesukaanmu dan Kyuhyun kalau begitu. Oh, sayang, kapan Ibu bisa menimang cucu? Teman-teman seusia Ibu sudah banyak yang menggendong cucu. Ibu tidak sabar ingin cepat-cepat menggendong cucuku sendiri.”

Oh! Baru saja aku memikirkan soal itu dan sekarang Ibu tiba-tiba membahas soal bayi yang tidak pernah Ibu singgung sebelumnya.

“A-aku pasti akan mengabari Ibu secepatnya. Tapi, Ibu tahu sendiri kan, aku dan Kyuhyun sama-sama sibuk. Dan, yah, kami belum membahas lagi tentang anak, Bu. Lagipula kami baru menikah satu tahun. Banyak pasangan lain yang baru mendapat momongan setelah beberapa tahun menikah.”

Aku mendengar helaan napas panjang dari Ibu. Aku tahu Ibu kecewa. “Begitu ya? Ya sudahlah, Ibu akan mencoba mengerti. Anak kan titipan dari Tuhan. Mungkin jika kalian sudah siap, pada saatnya seorang anak akan hadir di antara kalian.”

Aku nyaris meneteskan air mata saat Ibu mengatakannya. Tidak ada Ibu setegar dirinya. “Aku sangat menyayangimu, Bu.”

“Ibu juga menyayangimu, sayang. Oh iya, apa ada kabar terbaru tentang Yoo Ri?”

Senyumku langsung merekah mendengar nama adikku disebut. Adikku yang sudah lama menghilang, sebentar lagi aku akan menemukannya. “Aku sudah mendapatkan alamatnya, Bu. Doakan saja anak itu tidak menghilang lagi.”

Ibu tertawa bahagia. “Syukurlah! Aku ingin segera bertemu dengannya. Aku menyesal dulu telah memarahinya sampai dia kabur dari rumah dan sampai sekarang belum kembali.”

“Iya, Bu. Aku akan melakukan apaaa saja untuk membalas tujuh tahun ini dengan kasih sayang untuknya.”

“Tentu saja.”

Aku mendengar ketukan pintu di ruanganku dan sosok Bora muncul disana dengan wajah yang sangat bahagia. “Hmm, Bu, aku mau bekerja dulu. Tidak apa-apa kan?”

Aku merasa tidak enak dengan Ibu. Dia pasti kesepian di rumah dan aku harus memutus teleponnya sekarang.

“Tidak apa-apa. Selamat bekerja, sayang.” Ibu menutup teleponnya dan perhatianku kini beralih pada Bora yang tersenyum padaku. Aku bersedekap.

“Cepat sekali?” Aku mengangkat sebelah alisku. “Jadi, bagaimana rasanya sarapan dengan Lee Donghae?”

“Hmm, menyenangkan, presdir!” aku tertawa mendengar nada malu-malu dalam perkataan Bora.

“Sudah kuduga! Donghae memang pintar merayu wanita.”

Bora menggelengkan kepala, nampaknya tidak setuju dengan pendapatku. “Donghae-ssi hanyalah jenis pria yang perhatian, presdir.”

“Ha! Sepertinya kau sudah termakan oleh rayuannya!”

“Mungkin.” Bora tersipu lagi. Ingin rasanya aku menggoda sekretarisku ini yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Lalu aku teringat dengan percakapan dengan Ibuku di telepon tadi.

“Ah, Bora-ya, tolong jadwalkan pertemuanku dengan dokter kandungan secepat mungkin.”

Bora terkejut dengan permintaanku barusan. “Kenapa tiba-tiba, presdir?”

“Yah, aku ingin memeriksakan kandunganku sekaligus berkonsultasi.” Bora mengangguk mengerti.

“Baiklah, akan segera aku atur jadwalmu, presdir.”

“Ah, iya,” aku juga ingat percakapan kami sebelum kedatangan Donghae tadi, “jadi siapa yang mencari keberadaan adikku selain kita?”

Bora berdeham kemudian raut wajahnya terlihat seperti menimbang sesuatu sebelum dia berkata, “Tuan Cho Kyuhyun dua hari yang lalu mendatangi rumah terakhir nona Yoo Ri, Presdir.”

.

.

.

To Be Continue

Lanjut lanjut? Tenang aja, ini pasti postingnya nggak akan lama-lama kok^^
Kecewa karna belum ada posternya? Minta sarannya yah, pengen tokoh siapa yang cocok buat FF ini 😀

 

Advertisements

46 thoughts on “Switch [Chapter 1]

  1. hanhanna says:

    Haiii.. Ijin baca ya 😊
    Entah knp aku klo liat genre marriage life hurt sad, langsung tertarik utk membaca… Apalagi ini adik kaka yg mungkin ada sangkut pautnya dgn satu org pria…
    Alurnya Bagus, tata bahasanya jg rapi, part nc nya jg tdk terlalu berlebihan.. Porsi pas 😀

    Liked by 1 person

  2. lyeoja says:

    Bagaimana iniii…???yoojin versus yoo ri
    Bayii…? Yoo ri punya bayii..? Bayi siapa…?
    Mereka gak kembar pan yakk…?
    Masih banyak teka teki sihh, penasarann…

    Fighting u next partnya thor
    Squelnya why blon nongol thor.. hihi

    Liked by 1 person

  3. LeeAhn says:

    Kok ragu ya sama kyuhyun…
    Jgn2 yg menghamili yoori ity kyuhyun n tau kyuhyun n yoojin mau nikah makanya di suruh pergi yoojin nya sama kyuhyun….
    Trus vitamin yg d konsumsi yoojin jgn2 obat pencegah kehamilan??
    Prasangka buruk terus tuh ke kyuhyun hehehehehe maaf ya thor sok tau….
    Lanjutkan thor….

    Liked by 1 person

  4. Gyumbul says:

    Omg kayaknya ini bakalan jadi cerita yg ngeh banget. Aku curiga deh ama kyuhun jgn2 dia nggak beneran suka sama yoo jin. Semoga yoo jin selalu bahagia

    Liked by 1 person

  5. laela says:

    Apa mungkin vitamin yg dikasih sama yoo jin adalah pil kontrasepsi alias anti hamil ? Jd ragu sama kyu dia menyembunyikan sesuatu apaah dia selingkuh dgn adiknya yoo jin mkin jg cintanya sama yoo jin cuma pura” saja kl bercinta laki” kan tdk hrs cinta krn nafsu jg bisa

    Liked by 1 person

  6. kyuoi says:

    ini kenapa Kyuhyun misterius banget?
    jangan-jangan yang ngehamilin adiknya Yoo Jin itu Kyuhyun?
    dan vitamin yang setiap hari Kyuhyun kasih ke Yoo Jin itu bukan vitamin, tapi obat pencegah kehamilan?

    Liked by 1 person

  7. Vikyu says:

    Annyeong new readers
    Salam kenal kak , izin baca ya 😁
    Wahh aku sekali baca udh langsung sukak sama ff nya
    Adiknya yoojin pergi krena hamil? Lalu anak siapa itu ? Dan kenapa kyu mencri adiknya wahh penasrn kali

    Liked by 1 person

  8. ardriela says:

    kok aku mikirnya anaknya Yoo Ri anaknya Kyuhyun. Oalah, gimana dengan Yoo Jin?
    Jangan-jangan vitamin yang sering Kyuhyun beri ke Yoo Jin adalah pil anti hamil apalah 😀
    Gimanapun entar aku harap Yoo Jin tegar TT #nyesek duluan

    Next —> ternyata udah 4 chapter di posting ^^ senengnya.

    Liked by 1 person

  9. Hana Choi says:

    Entah kenapa baca ff ini bikin jantungku dag dig dug ga karuan gitu. Berasa nonton horror. Aku curiga anak yg di kandung adiknya yoo jin itu anak kyuhyun dan vitamin yg dikasih kyuhyun itu sejenis obat kontrasepsi. Semoga aja kecurigaan aku salah. Seruuu ceritanya semangatttt eonni

    Liked by 1 person

  10. wienfa says:

    haii kak..izin bca ya..slam knal dri aku wienfa.
    pas bca prtma kli d awal..wahh romance bgt..n sweet baby!! tp pas mau akhir pnuh dngn teka teki..dn mysteri.sbnrnya kyu bnar2 cinta gak sih sm yoo ji..dn aku ykin deh suplmen itu pil anti hamil.tp knpa?kyu kjam bgt..dn knpa kyu jg ikut nyri yoo ri..entah knpa aku gk ska ma chast ny yoo ri.kyak jhat gtu-
    buat yoo ji smga cpat d bkakakn hati dn pkirn ny,jgn trlalu d bdohi sm CINTA.aku ksian sm km..sdih aku..

    Liked by 2 people

  11. Pingback: Switch [Chapter 6]
  12. ddianshi says:

    Ko baru baca udah mulai nyesek ya 😦 Yoo jin istrinya kyuhyun? Hyoo ri kembaran yoo jin? tapi yoo ri menghilang selama 7tahun? ada apa ini? apa anak yang dikandung yoo ri anaknya kyuhyun? 😦 ko bisa??? kenapa kyuhyun mencari yoo ri secara diam2??? jangan bilang kyuhyun dan yoo ri berselingkuh dibelakang yoo jin >_< dan kenapa yoo jin belum hamil2? 😥 😥
    Hii saeng salam kenal 🙂 ijin baca semua ffnya~^^

    Liked by 1 person

  13. Vyea Lyn says:

    Kyuhyun itu misterius dusini. Sepertinya dia ada yg tidak beres.
    Dan apa katanya.?? Kyuhyun jg mencari Yoo ri?? Jangan” mereka ada sesuatu,dulu.

    Liked by 1 person

  14. sung hye jin says:

    knp yoo ri bisa kabur selama itu ya penasaran trus knp kyu jga nanyai yoo ri aneh dan knp yoo jin blm mendapatkan keturunan hahah apa yg kyu ksih vitammin apa itu

    Liked by 1 person

  15. syalala says:

    oke ive decided to reas this carefully. siap2 aku ikutan sakit hati hahahahaha ada apaaa dengan kyuhyun dan yoori di masa laluuuu yuhuuuuu brner2 karena aku udah tau endingya jd aku harus siapin hati wkwkwk

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s