Obliviate Chapter 2

Title      : Obliviate Chapter 2

Author  : Luna

Genre   : Romance

Main Cast:

Yoo Jeyoung | Cho Kyuhyun | Kim Jiwon

Support Cast:

Choi Hyun | Jung Nara| Lee Hyukjae | Choi Siwon

Luna’s Speech:

Hai hai^^ aku nggak menyangka bakal direspon baik oleh kalian, jadi terharu 😥
Dan yaaa aku mau mengkonfirmasi pertanyaan kalian seputar main cast dari FF ini. Itu udah aku keluarin cast-nya siapa ajaa dan memang aku pakai visual Suzy buat tokoh Jeyoung karna akhir-akhir ini entah kenapa jadi menggilai Suzy keke~~
Pertanyaan kenapa kok tahun 1996 masih ada Kerajaan, karna aku menganggap bahwa serangan Jepang ke Kerajaan Korea tahun 1945 tidak pernah terjadi (menilik sejarah aslinya). Jadi jangan heran yaa^^
Oh iyaa, aku juga mau bilang kalau FF ini murni buatanku, hasil pemikiran selama berbulan-bulan, tidak ada unsur meniru alur cerita mana-mana. Mungkin setelah baca chapter ini dan selanjut-selanjutnya, readers bisa mengerti.
Buat yang baca FF ini jangan malu-malu memberi cuap-cuap sedikit buat penambah stamina author melanjutkannya~
First and Last Rule:
DON’T BE PLAGIATOR!

Happy Reading^^

obliviate cover 1

—oo0000oo—
Chapter 2
Farewell

“Jeonghui-ya! Kita bertanding yuk!”

Terima kasih Tuhan karna mendatangkan Jeonghui untuk Gyun! Hari ini sudah terhitung hari ke sembilan sejak Jeonghui datang di kehidupan Gyun. Bocah kecil itu bertingkah seperti manusia pada umurnya. Menghabiskan separuh waktu mereka untuk bermain. Dan kini Gyun tidak hanya berbicara panjang lebar pada Jeonghui, juga berbicara pada orang lain. Teman-teman sekelasnya yang awalnya mengabaikannya, mulai bisa menerima keberadaan Gyun. Terlebih penampilan bocah itu sudah tidak lesu seperti terakhir kali. Dia tampak beraura kuat sebagai seorang laki-laki yang sangat disenangi gadis seumurannya.

Jeonghui menoleh. Gyun tertawa sambil melambai-lambaikan tangannya. Bahkan Gyun sudah bisa tertawa normal sekarang (biasanya Gyun bakal ketawa, tapi tertawa sinis!).

“Bawa busurmu!” Jeonghui mengangguk. Dia membereskan balok-balok kayu yang baru dipakai latihan bela diri. Baru itu dia berlari menghampiri Gyun yang sedang menata papan panah dan mengecek busurnya. Gyun memutuskan ikut sekolah Paman Kim karna Jeonghui juga bersekolah disana. Dia rajin latihan serajin Jeonghui. Dengan otaknya yang super cerdas itu, dalam tiga hari dia sudah bisa menembak sejauh 100 meter! Wah!

“Kali ini taruhannya apa?” tanya Jeonghui. Mereka baru dua kali bertanding dan ini kali ketiga. Dan tiap bertanding Gyun selalu menang. Tidak tanggung-tanggung, Gyun pasti meminta aneh-aneh. Entah itu minta dipijat berjam-jam, dibelikan jajanan ini-itu, dan terakhir kali dia pernah menyuruh Jeonghui memandikannya! Astaga! Untuk satu ini Jeonghui langsung menolaknya mentah-mentah! Hey, otaknya masih waras untuk menolak melakukan kegiatan tidak senonoh itu! Jadi kali ini dia ingin membuktikan kemampuannya yang juga bisa melebihi Gyun!

“Maunya apa? Yah, mengingat aku yang selalu menang, biar aku saja yang menentukan!” kata Gyun seenaknya. Seperti biasa, menindas dan semaunya. Jeonghui hanya mendengus sebal.

“Aku juga bisa mengalahkanmu hyung! Jangan sombong dulu!” Gyun tertawa (lagi!), merasa lucu dengan tingkah bocah lebih muda tiga tahun darinya itu.

Segera saja mereka bersiap di belakang garis hitam dengan busur di tangan masing-masing, mereka mengangkatnya, menarik anak panah ke belakang sambil memfokuskan mata mereka pada satu titik di papan yang berdiri kokoh 100 meter jauhnya. Merasa sudah pas, segera saja mereka melepas tarikannya. Dua anak panah itu melesat di antara angin, saling mendahului untuk mencapai tujuannya: satu titik merah. Tap! Dua anak panah itu tertancap sempurna. Mereka berdua berlari terburu-buru mendekati papan itu.

“AKU MENANG!!! Haha…” Gyun tertawa lepas. Tawanya semakin kencang kala melihat wajah Jeonghui yang sudah ditekuk berlipat-lipat. Gyun berjoget-joget seperti baru mendapat hoki besar-besaran! Tanpa ragu Gyun akan meminta apapun dari Jeonghui! Dia mau ditraktir makan semua jajanan di pasar! Yeah! Dia akan memiskinkan temannya itu!

“Padahal sedikit lagi! Huh!” Jeonghui menghentakkan kakinya ke tanah. Anak panahnya berwarna hitam meleset beberapa centi dari milik Gyun yang pas di tengah!

“Nah, sudah kubilang kan? Aku pasti menang lagi! Karna aku yang menang, aku meminta imbalannya! Aku minta…” serentetan kalimat yang sudah di ujung lidah terpotong oleh suara sengau Hyuk.

“GYUN!” keduanya menoleh ke sumber suara. Hyuk berlari-lari menghampiri keduanya dan napasnya terdengar menderu keras. Lidahnya saja sampai terjulur-julur ke luar. Wajahnya memerah. Pertanda dia habis lari marathon entah dari mana sampai kemari. “K-kau.. hah.. dihcahhrih.. ohhleeh.. hah.. ahysyahmuh..”

“Berbicaralah yang jelas!”

Hyuk menelan ludahnya, membasahi dinding kerongkongannya yang kering. “Kau dicari ayahmu!” akhirnya pesan itu tersampaikan juga! Tadi dia sedang berjalan-jalan lalu tidak sengaja bertemu pelayan rumah Gyun dan mengatakan bahwa ayahnya mencarinya, ada hal mendesak dan darurat yang terjadi di rumah. Tanpa pikir panjang, Hyuk segera berlari ke rumah Paman Kim, satu-satunya tempat yang ada di otaknya bahwa Gyun sedang berada disana.

Gyun diam. Dia pasti selalu diam kalau menyangkut ayah tirinya itu. Ekspresinya mengeras. Tidak terlalu suka mendengar kabar ayahnya mencarinya. Jeonghui menyadari perubahan warna wajah Gyun. Dia tersenyum wajar. Gyun yang masih muda dan belum bisa menerima kehadiran orang baru di hidupnya. Apalagi jika orang tersebut  menggantikan posisi kepala keluarga di rumahnya. “Temui ayahmu hyung. Mungkin ada hal yang sangat penting.”

“Ya, aku pergi.” Katanya tanpa menoleh pada Jeonghui. Dia tidak mau menunjukkan muka kesalnya pada bocah satu itu. Setengah hati dia menyeret kakinya pulang ke rumah. Dua orang yang dia tinggalkan hanya bisa menatap punggung yang semakin menjauh.

“Ada apa?” tanya Jeonghui penasaran juga tumben sekali ayah Gyun memanggil putranya pulang. Apa keluarga Gyun ada yang sakit? Atau mungkin ayahnya ingin memberi kejutan untuk Gyun yang bisa membuat Gyun berteriak kencang-kencang sampai pita suaranya lepas? Atau ayahnya ingin mengabarkan bahwa kakak perempuan Gyun sudah kembali setelah terpisah lima tahun lamanya?

“Gyun akan dinikahkan.” Jawaban itu sangat sangat lirih, tapi begitu tajam di telinga Jeonghui yang tidak tuli. Jawaban macam apa itu? Menikah? Kapan? Siapa pengantin wanitanya? Astaga, Gyun baru berumur sembilan tahun dan sudah akan menikah?!

“A-apa? T-tapi dia kan masih sangat sangat muda, hyung. Dengan siapa, hyung?” bahkan pertanyaan super biasa itu terlontar dengan bergetar dari bibir Jeonghui. Oke, dia sangat-sangat-sangat-sangat (sampai seratus kali) kaget!

“Putri mahkota.”

Lagi-lagi tanpa disuruh Jeonghui terhenyak di tempatnya. Ada perasaan panas yang menguar di dadanya. Sesak. Anehnya, sesak kali ini beratus-ratus kali lipat lebih sakit daripada ketika asmanya kambuh hingga tak memberdayakan tubuhnya. Seperti ada aliran-aliran listrik dari ujung-ujung tubuhnya bergerak ke atas, menyerang otaknya. Aliran itu memerintahkan sang otak menyalurkan respon melalui kedua matanya untuk memerah dan lembab. Jangan berkedip! Otaknya memerintah. Kalau dia berani berkedip sekarang, semuanya akan terbongkar. Tidak! Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Mana mungkin dia menjatuhkan air matanya di depan Hyuk yang pasti akan berbalik menatapnya terkejut sekaligus aneh. Tidak mungkin dia menangis karna teman laki-lakinya akan menikah!

“Hyung, sudah sore, aku pulang duluan ya?”

Belum sampai Hyuk mengatakan selamat tinggal, kaki Jeonghui lebih cepat bekerja dari otaknya. Dia berlalu pergi. Tidak ingin terlalu lama disana dan membiarkan air matanya menetes. Kenapa? Kenapa dia harus bersedih ketika mengetahui Gyun telah dipertemukan dengan calon pendamping hidupnya? Dan kenapa dia harus mendengar berita itu? Kenapa dia jadi tidak rela, atau ada perasaan tidak suka? Tidak mungkin kan, dia mempunyai perasaan untuk bocah kekanakan seperti Gyun? Tapi siapa sangka, seringnya kebersamaan mereka, rasa itu tumbuh tanpa diminta. Dan dia harus ingat kalau dia juga seorang perempuan yang sangat sangat belia yang memiliki hasrat primitif menyukai Gyun.

“Aku pulang!” ucapnya lesu. Tidak seperti biasa.

“Oh? Cepat sekali pulangnya? Biasanya mau gelap baru pulang.” tanya Hyun heran. Ingat kan, Choi Siwon punya adik perempuan yang seumuran dengan Jeyoung? Tapi Hyun satu-satunya yang masih belum tahu kalau Jeonghui adalah perempuan. Nanti. Ki Ho bilang anaknya satu itu suka keceplosan dalam berbicara. Dia hanya tidak ingin rahasia Jeyoung terbongkar dan akhirnya membahayakan nyawanya. Hyun hanya tahu ayahnya berbaik hati mengambil anak yatim piatu yang ditemukan di dekat rumah mereka. Dia sama sekali tidak menolak keberadaannya. Dia justru sangat senang mendapat teman baru.

“Kelasnya dipercepat. Aku mau mandi dulu.” Jeonghui melangkah masuk ke kamar mandi diikuti tatapan heran Hyun. Tapi dia tidak ambil pusing. Dia melanjutkan tidur-tiduran di lantai rumahnya. Kakak laki-lakinya masih di luar membantu ayahnya. Oh iya, ayah Siwon adalah seorang Amhaeng-eosa, inspektur rahasia kerajaan yang bertugas mengawasi kerja pejabat provinsi. Dia diberi kepercayaan untuk memecat pejabat siapa saja yang korupsi. Terdengar keren kan?

Pintu rumah terbuka lagi. Kali ini ayah dan kakak laki-lakinya yang datang. Hyun menyambut keduanya dengan senyuman manis. “Jeonghui sudah pulang?” Hyun mengangguk. Sama herannya dengan Hyun, dua orang itu memilih berbaring karna kecapekan setelah berjalan jauh. Yah, mereka baru saja memantau salah satu gubernur yang mencurigakan. Mereka menduga gubernur itu sudah melakukan penyelewengan.

“Ah iya, apa kalian sudah tau? Putri mahkota akan menikah.” Kata Ki Ho membuka pembicaraan mereka sore itu.

“Hah? Bagaimana bisa yah? Putri mahkota kan masih sangat sangat muda! Dan siapa calon suaminya?” Won terperangah tidak percaya. Bahkan usia putri mahkota dengannya hanya berjarak satu tahun dibawahnya.

“Aku juga belum tau. Sedengarku dia anak Ijo. Tapi aku juga ragu karna itu masih desas-desus saja.”

“Wah, kalau putri mahkota menikah berarti yang nanti akan naik tahta adalah suaminya ya?” Hyun berpikir pasti putri mahkota yang disegani rakyat karna terkenal cantik dan peramah itu akan sangat bahagia jika suaminya seseorang yang tampan dan bijak.

Ki Ho mengangguk-angguk. “Sudah pasti. Mengingat putri mahkota adalah anak pertama dari Raja Hyeon sementara adiknya yang laki-laki mungkin akan diberi jabatan selain itu.”

“Beruntung sekali ya calon suaminya bisa menjadi keluarga kerajaan.”

“Apa kau berkata begitu karna ingin juga, Won-ah?” goda ayahnya.

“Ayah! Aku tidak gila kedudukan!” Won merengut. Benar, dia juga tidak berminat menjadi anggota kerajaan yang terikat pada banyak peraturan dan ancaman.

Tanpa mereka sadari, seseorang telah mencuri dengar pembicaraan ringan itu. Jeonghui mendengarnya. Lengkap. Berikut candaan ayahnya pada Won. Tangannya merapat, menekan dadanya sendiri. “Kenapa rasanya nyeri disini?”

.

.

.

“Tuan, ada kabar bagus, raja memutuskan untuk menutup kasus Yoo Hojo rapat-rapat. Tidak boleh ada yang membicarakannya lagi.”

“Bagus! Terus awasi orang-orang yang bekerja di dekat raja. Pastikan raja tidak memperpanjang kasus ini. Karna semakin dicari maka semuanya akan terbongkar.”

“Tapi sepertinya raja masih menyelidiki keberadaan orang yang telah membunuh keluarga Yoo.”

“Untuk satu itu kita akan pikirkan jalan keluarnya nanti. Dia akan sangat kesulitan melacak keberadaan si pembunuh. Terus awasi saja mereka. Kalau ada yang tahu, segera singkirkan orang itu!”

“Baik, Tuan. Aku akan-”

“Aku pulang!” teriak seseorang menyela percakapan rahasia itu dan terpaksa menyudahi percakapan mereka.

“Putraku datang! Cepat kau pergi sebelum dia curiga!” pria yang disuruh itu mengangguk paham dan segera keluar melalui pintu belakang rumahnya dengan mengendap-endap.

“Gyun-ah cepat sekali datangnya?” Cho Mun Suk-ayah tiri Gyun- merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Gyun yang duduk diam di tempatnya. Sejujurnya Gyun malas melayani permintaan ayahnya yang tiba-tiba. Tapi dia juga dibuat penasaran, jarang sekali ayahnya mau tinggal di rumah dan memanggilnya kalau bukan atas alasan mendesak.

“Ada apa memanggilku?” tanyanya datar dan dingin tanpa menyambut pelukan ayahnya. Mun Suk menurunkan kedua lengannya. Dia sudah maklum dengan sikap Gyun yang tidak bisa baik padanya.

“Ayah ingin memberitahukan berita paling menggembirakan! Kau pasti senang!” Kening Gyun berkerut tidak mengerti. Apa? Apa yang bisa membuatnya senang? “Kau akan menikah dengan putri mahkota.”

“APA?! Apa-apaan itu?!” jantung Gyun seakan berhenti mendadak. Menikah? Astaga! Berapa umurnya sekarang?! Apa dia sudah tampak seperti ahjussi-ahjussi cukup umur untuk menikah?

Mun Suk tersenyum. Jelas saja Gyun terkaget-kaget, yah, siapa yang menyangka dia bisa seberuntung itu bisa mendapat perhatian dari putri mahkota bahkan bisa menikahinya? Tapi rencana pernikahan ini juga tidak akan berjalan lancar tanpa campur tangannya. “Tidak sekarang Gyun-ah. Nanti. Kalau waktunya sudah tepat. Tapi yang jelas putri mahkota sudah melamarmu. Tidak mungkin kan kau menolak kebaikannya?”

Gyun membisu. Dia tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain mengucapkan kata ‘gila’ berulang-ulang di otaknya. Dia bingung antara harus senang atau menolaknya. Kenapa orang lain bisa seenaknya sendiri menentukan jalan hidupnya? Kenapa dia tidak bisa bebas memilih pasangan sesuai keinginan hatinya? Dan kenapa dia harus diberitahu sekarang? Apa waktunya sangat sempit sehingga segalanya terlihat terburu-buru. Dia sendiri tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. “Apa ibu tahu?”

“Iya, ibumu tahu. Dia bahkan sudah mengiyakan.”

Lagi-lagi Gyun dibuat terperangah. Ini gila! Gila! Dia bisa gila! “Kenapa?”

“Kenapa apanya?” tanya ayahnya balik. Tidak mengerti dengan pertanyaan putranya.

“Kenapa ayah mengatur hidupku? Aku bahkan belum mengatakan bersedia atau tidak!” Desisnya menajam. Dia paling tidak suka jika orang lain ikut campur urusannya.

“Itu kan hal wajar, sebagai orang tua kami menginginkan yang terbaik demi masa depanmu.”

“Masa depan ayah. Bukan aku.” desisan tajam itu memancing kemarahan Mun Suk. “Apa menurut ayah aku akan senang hidup di tengah-tengah orang yang tidak kukenal?”

Mun Suk menegakkan punggungnya. Wajahnya berubah mengeras. Dia tidak suka ditentang apalagi oleh anak kecil seperti Gyun. “Aku tidak menyuruhmu tinggal di istana sekarang. Tapi nanti. Kalian bisa saling mengenal dan pasti perasaan cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Kalian hanya perlu terbuka satu sama lain dan ketika waktunya sudah tiba, kalian akan menikah.”

“Aku tidak suka hidupku diatur!”

“Sudah kubilang ini demi masa depanmu!” suara Mun Suk meninggi seiring penolakan keras dari Gyun.

“Berhenti mengusik hidupku! Kau bukan ayah kandungku! Kau tidak berhak mengaturku!”

PLAKK!

Muka Gyun terbuang ke sisi kanan. Tangannya meraba pipinya yang memanas dan berdenyut-denyut. Melalui poni-nya dia bisa melihat ayah tirinya balik menatapnya dengan tatapan tajam. Tangan yang barusan digunakan menamparnya masih melayang di udara. Tidak ada penyesalan terpancar dari wajahnya melainkan ekspresi beringas yang mengerikan. Pria egois! Dia sudah berfirasat bahwa ayah tirinya sengaja menjodohkannya dengan putri mahkota supaya ayahnya bisa leluasa meraih kedudukan di kerajaan. Dia juga tahu kalau dia benar menikah dengan putri mahkota kemungkinan dirinya menjadi raja adalah tujuh puluh persen. Dan ayahnya pasti mengincar keuntungan darinya! Brengsek!

Tanpa berkata apa-apa Gyun berlari meninggalkan rumah dan ayahnya yang hanya menatap kepergiannya biasa saja. Tangannya mengepal kuat. Kalau cara baik-baik Gyun tidak mau menuruti keinginannya, terpaksa dia harus menggunakan cara licik. Dia harus melancarkan usahanya yang menginginkan kedudukan di kerajaan lebih tinggi dari sekarang. Dia akan menyingkirkan siapa saja yang berusaha menghalangi langkahnya. Termasuk sebelum ini dia sudah memusnahkan satu tikusnya yang sangat mengganggu dan menguburnya hidup-hidup dalam kematian. Tapi masih ada satu tikus lagi yang bisa saja merusak rencanya. Dia harus segera menuntaskannya.

.

.

.

“Hyung? Kenapa datang malam-malam begini?” Jeonghui kaget saat ia membuka pintu rumahnya dengan mata setengah terbuka, dia mendapati Gyun berdiri di depan rumahnya dengan wajah yang sulit diartikan karna di luar sangat gelap ditambah lagi penerangan rumahnya juga minim.

“Ikut denganku!” begitu saja, lalu Gyun berbalik dan melangkah pergi.

Jeonghui merasa ada yang aneh. Tapi apa? Sebaiknya dia simpan pertanyaan itu nanti dan mengikuti kemana Gyun mengajaknya. Dia tidak mau ditinggalkan seperti hari pertama mereka berteman. Mereka berdua terus berjalan melewati setapak yang masih gelap. Tak jarang Jeonghui tersandung batu berkali-kali dan jahatnya Gyun tidak mau repot-repot membantunya. Mau kemana sih mereka? Kenapa sampai naik gunung segala? Jeonghui sesekali menyeka keringatnya yang mengucur. Kakinya pegal sekali. Dan Gyun tidak mau berhenti. Menyebalkan sekali laki-laki itu! Membangunkannya ketika hari masih gelap. Mengajaknya tanpa tujuan jelas! Dia sangat lelah sekarang!

Kepala Jeonghui yang sedari tadi menunduk menatap jalan di bawahnya menubruk sesuatu yang menjulang di depannya. Dia mengangkat kepalanya. Rupanya dia menubruk punggung Gyun yang kini menghadap pemandangan indah tanah Hanyang dari sisi gunung sebelah utara. “Kita sudah sampai.” Jeonghui mengikuti arah pandang Gyun dan ikut terpana. Ini sangat indah! Seakan keringatnya terbayar sudah oleh pemandangan indah ini. Dia menghirup napasnya dalam-dalam, mengisi rongga paru-parunya yang nyaris mengkerut akibat kelelahan.

Gyun menghirup udara dingin dan menyejukkan. Masih terekam jelas di ingatannya ayahnya ketika masih hidup suka mengajaknya kesini ketika perasaannya sedang tidak menentu. Begitupun juga dia sekarang. Dadanya sesak oleh kenyataan paling tidak menyenangkan yang diciptakan ayah tirinya. Setelah tadi sore kabur dari rumah dan selama penantiannya menunggu pagi datang, dia merenung di rumah Paman Kim disana sebelum memutuskan memanggil temannya untuk menemaninya mendatangi tempat ini. Berdiri di bagian paling tepi dari gunung sambil menunggu matahari terbit.

“Dia akan segera tiba!” bisik Gyun lirih yang mengundang senyuman terukir di bibir Jeonghui. Dia tau maksudnya. Tak lama kemudian sinar putih berangsur naik melalui titik-titik cakrawala. Sumber kehidupan manusia telah bangkit. Jeonghui menikmati setiap detiknya dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Tiba-tiba dia ingin menoleh pada Gyun yang mendadak pendiam beberapa puluh menit lalu. Dia terkejut bukan main saat retinanya menangkap luka memar di pipi tampan Gyun dan bekas darah yang telah mengering di sudut bibirnya. Dia terperangah sampai Gyun menyadari seseorang sedang mengamatinya.

Gyun tersenyum miring. Senyum khasnya. “Aku dijodohkan.” Kali ini bukan mata Jeonghui saja yang melebar tapi mulutnya pun ikut menganga. Jadi, Gyun sudah tau? “Padahal aku menyukai orang lain.”

Mendadak udara sejuk yang menyapa paru-paru Jeonghui tadi berubah menjadi asap mengepul yang membuat dadanya sesak. Gyun menyukai seseorang? Siapa?

“S-siapa?” Jeonghui menyuarakan pertanyaannya dan sialnya kenapa suaranya ikut serak?

Gyun mengalihkan pandangannya. “Seseorang. Dia sudah memikatku sejak pertama melihatnya.” Dapat dilihatnya pipi Gyun merona. Apa dia malu?

Siapa? Siapa? Ingin sekali rasanya Jeonghui bertanya. Tapi dia tidak mau rasa penasarannya justru membuat Gyun curiga kenapa dia harus memberitahunya? “Pasti sedih rasanya.” Entah kenapa malah itu yang terlontar dari mulutnya. Gyun menoleh cepat. Jeonghui buru-buru menambahkan, “Hm, maksudku— ah, tidak, lupakan!”

Gyun berdeham sebentar. “Tidak juga. Selama dia masih ada di jarak pandangku aku bisa mengusahakan apapun untuk mempertahankan perasaanku.”

“Benar. Yah, benar.” Jeonghui membuang napas. “Aku jadi penasaran siapa orang beruntung itu.”

“Yang jelas dia tidak terduga.”

“Benarkah?” bocah itu menoleh. “Pasti seseorang yang cantik.”

“Tidak.” Jeonghui melongo. Apa Gyun tidak sadar dirinya yang tampan itu pantas dipasangkan dengan perempuan yang cantik? “Aku bilang dia tidak terduga.”

Jeonghui tidak tahu Gyun sedang menahan senyumnya. “Kapan kita kembali hyung?” Dia ingin menyudahi pembicaraan ini. Dia tidak ingin mendengar lagi cerita tentang perempuan yang disukai Gyun.

“Sekarang. Ayo!” Mereka berjalan beriringan pulang. Melangkah bersama. Seperti dua orang dewasa sehabis berkencan. Anehnya, keduanya memakai celana. Membayangkan bocah yang lebih pendek mengenakan hanbok perempuan, mungkin akan terlihat “pas”. Tapi biarlah mereka begini. Saling tidak tahu apa yang tersembunyi dari ekspresi wajah masing-masing. Yang satu menyilangkan kedua lengannya ke belakang kepala sambil tersenyum miring. Yang satunya lagi menautkan jari-jarinya yang lentik ke belakang punggungnya dan menatap jalan yang jauh terbentang di hadapannya. Cahaya menerpa tubuh belakang mereka. Seakan merestui mereka begitu selamanya. Setidaknya menunggu skenario Tuhan selanjutnya lebih baik daripada mencoba menebak-nebak.

Apa ini akan dan bisa berakhir?

Mungkin saja.

Tapi kau akan selalu berdiri di sisiku kan?

Tidak tahu. Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Kedengarannya kau tidak yakin.

Yah, memang.

Lalu.. bagaimana jika ini akan menghilang? Apa kau juga tidak bisa selalu berdiri di sisiku? Membantuku membangkitkan mimpi ini lagi?

Itu sulit. Aku tidak mau berandai. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan ingatan ini. Tidak peduli apa yang kan terjadi nanti.

 

~~~o0o~~~

Seoul, 2016

Suara bising dari mesin motor itu memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya apalagi semakin nyaring saat mesinnya dibuat mainan sehingga menciptakan derum-derum menyakitkan. Siapa yang sangat kurang ajar mengendarai motor pagi-pagi buta bahkan sebelum matahari sempat menyembul dari peristirahatannya dan mengganggu tidur nyenyak semua orang?

“YAK! Kau gila atau bodoh hah?! Kalau mau balapan jangan disini! Kau pikir ini rumah nenek moyangmu bisa seenaknya mengganggu tidur nyenyakku! HOI!” protes namja masih lengkap memakai baju tidurnya-singlet putih ketat dan boxer selutut- dengan matanya setengah terbuka ia keluar ke balkon dan berteriak keras pada orang sangat tidak tahu diri yang memainkan mesin motor di depan apartemennya.

Orang yang dimaksud mematikan mesinnya. Dia turun dari motor balapnya dengan gerakan sangat cool. Sepatu boots hitam ber-hak bahan kulit menjejak di tanah begitu sempurna. Dari ujung kaki, dia mengenakan jeans hitam mengkilap, jaket kulit warna senada yang melekat press tubuhnya. Kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit (yang lagi-lagi) hitam terangkat melepas helm hitamnya. Namja itu siap melontarkan sumpah serapahnya pada orang yang menurutnya sengaja pamer kekerenannya langsung melongo melihat siapa orang dibaliknya.

Rambut hitam bergelombang itu tergerai sangat indah bersamaan helm yang membebaskan kepalanya. Kaca mata frame macan tutul membingkai apik kedua matanya. Dia tersenyum separo mempertontonkan bibir seksi merah wine-nya. Gerakan slow motion saat membuka kaca matanya nyaris membuat bola mata namja itu loncat keluar.

“Jeyoung!”

Tidak peduli mau dia keluar hanya memakai pakaian tidurnya atau mau telanjang sekalian, namja itu langsung keluar dari apartemennya, melompati empat anak tangga terakhir sekaligus, mendorong pintu kaca apartemen secara sembarangan dan langsung berhambur memeluk yeoja yang lama tidak ditemuinya. Jeyoung pun membalas pelukan Siwon tak kalah eratnya sambil memamerkan senyuman mautnya. Sedetik.. dua detik.. lima menit.. sembilan menit.. Jeyoung bosan juga kenapa Siwon tidak juga melepas pelukannya.

“Yak! Jangan memelukku terlalu lama! Kau bau sekali!” Jeyoung mendorong tubuh namja itu pelan hingga pelukan mereka terlepas. Siwon tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karna bisa melihat yeoja itu lagi setelah hampir lima bulan ini dia menghilang. Tidak, lebih tepatnya pergi berlibur. Jeyoung berkacak pinggang. “Dan siapa yang kau tadi panggil bodoh huh? Benar-benar..” dia memukul lengan berotot Siwon dengan kepalan tangannya.

“Kupikir ada orang iseng pagi-pagi buta membangunkanku dengan mesin motornya!” sindir namja itu. Yang disindir malah tertawa renyah.

“Itu kan alarm paling ampuh untuk membangunkanmu tukang tidur!” debat Jeyoung tidak mau kalah.

“Yayaya, nyonya keras kepala!”

“HEY!” Jeyoung sudah akan melayangkan tinjunya tapi Siwon buru-buru menambahkan, “yang manis..” Jeyoung menyipitkan matanya pada Siwon yang kini sedang menyeringai tidak jelas. Namja itu tidak suka mencari keributan apalagi dengan Jeyoung, yeoja harimau yang siap menelannya bulat-bulat kalau dia didebat sedikit saja. “Ayo masuk!”

Setelah Jeyoung memarkirkan motornya, dia bergegas masuk ke apartemen Siwon yang ditinggalinya seorang diri. Keadaan apartemen itu masih sama sejak terakhir kali dia berkunjung. Kotor, sesak, kardus dimana-mana, baju yang entah masih bersih atau kotor bertebaran di lantai kamar, bungkus bekas snack dan minuman kaleng berserakan di atas meja serta piring-piring dan gelas kotor yang sampai berlumut di bak cuci. Ckck! Benar-benar jorok!

“Astaga, kapan terakhir kali apartemenmu dibersihkan? Semakin lama semakin terlihat seperti tempat pembuangan sampah!” Jeyoung menyingkirkan kaos oblong milik Siwon dari sofa ruang tamu, satu-satunya lahan yang tersisa di apartemen itu untuk mendaratkan pantatnya. “Yaiks! Apa ini?!” Jeyoung melempar celana dalam-yang sudah tidak jelas warnanya, tidak putih, tidak kuning- yang tidak sengaja ia duduki ke sembarang tempat dan hebatnya mendarat mulus di kepala pemiliknya.

“Hei! Hati-hati bung! Ini barang berharga!” Siwon memungut celana dalamnya dari atas kepalanya, membuntalnya membentuk bola, lalu melemparnya masuk ke keranjang baju kotor. Dia ikut menghempaskan diri di samping Jeyoung yang kini menatapnya sengit.

“Yak! Jangan dekat-dekat! Ketombemu terbang semua! Hiyy!!” Jeyoung mendorong tubuh Siwon jauh-jauh darinya. Dia ingat terakhir kali dia dekat dengan namja itu ketika dia sedang berketombe. Akibatnya dia juga tertular ketombenya dan malah berakhir rambutnya berkutu!

Siwon meringis saja. Dia menggaruk kulit kepalanya yang memang gatal. Kapan ya terakhir kali dia mencuci rambutnya? Mungkin dua bulan yang lalu! “Hyun akhir-akhir ini jarang mengunjungiku karna sibuk mengurusi bisnis salonnya. Jadinya aku semakin malas saja keramas!”

“Whaatttt??? Jauh-jauh dariku!!!” Jeyoung menendang tubuh Siwon sekuat tenaga dengan kakinya-yang masih memakai boots- hingga namja itu terjungkal jatuh dari atas sofa, berguling ke karpet di bawahnya. Jeyoung tertawa keras. Sementara Siwon bersungut-sungut kesal. Tega sekali yeoja yang dianggapnya sebagai adiknya itu!

“Aissh! Jahat sekali dirimu!” Siwon mengelus-elus pantatnya, tidak, menggaruk pantatnya yang juga terasa gatal. Jadi tidak hanya kepalanya yang gatal, tapi seluruh badannya gatal! “Padahal aku merindukanmu!”

“Boleh saja, tapi jangan berani memelukku kalau belum mandi!” Jeyoung mengibas-ngibaskan jaket dan rambutnya, takut-takut ada kuman atau kutu yang tertinggal di tubuhnya.

Siwon mengerucutkan bibirnya. “Aku kan merindukanmu, Young!”

“Mandi dulu sana!”

“Iya iya, cerewet! AOW!” Siwon merintih lagi karna Jeyoung menendang pantatnya lagi! Benar-benar anak itu! Tidak sopan sekali pada orang yang lebih tua! Siwon langsung berdiri tegap, dengan sangat gesit dia merundukkan kepalanya lalu mengecup puncak kepala Jeyoung dan lari terbirit-birit saat teriakan menyeramkan Jeyoung melengking keras. Dia langsung menutup pintu kamar mandinya sambil memegang dadanya yang dag-dig-dug ketakutan karna ia tahu Jeyoung kini meronta-ronta kesal.

“AWAS KAU CHOI SIWON!!!”

Siwon terkikik saja tanpa suara. Dasar yeoja itu! Tidak berubah sedikitpun. Selalu tampil keren dimanapun dan kapanpun! Bahkan setelah lima bulan memilih pergi tanpa alasan, dia kembali dengan wujud dan penampilan yang sama. Jadi buat apa dia pergi? Dia pernah dengar dari teman-temannya -yang semuanya laki-laki!- Jeyoung men-tato tubuhnya! Ya ampun! Andai ayah mengetahuinya pasti Jeyoung akan dimarahi habis-habisan. Ujung-ujungnya dirinya jugalah yang disalahkan! Mengherankan sebenarnya karna sifat Jeyoung bisa berubah sedrastis ini. Galak, keras kepala, tidak sabaran, menjengkelkan, parahya dia sekarang pengangguran! Dia teringat kalimat elakan dari yeoja itu ketika dia mengatainya sebagai pengangguran: Aku bekerja!

Yah~ bekerja di lintasan sirkuit apa itu masuk hitungan pekerjaan layak untuk seorang wanita muda-seksi-bergairah sepertinya? Memamerkan beberapa bagian tubuhnya, mengibar-ngibarkan bendera penanda memulai balapan, mengelap keringat pembalap, membenarkan mesin mobil yang rusak atau sekadar mengecek kondisi mobilnya. Dia sampai melongo kali pertama melihatnya begitu. Tapi tidak jarang pula dia ikut balapan dan memenangkan banyak pertandingan. Hebat!

Selesai mandi, tentu saja sudah mencuci rambut dan tubuhnya sudah wangi, dia keluar kamar mandi sambil mengusap rambutnya yang basah. Ada suara alat penggorengan saling beradu dari arah dapur. Dia menengok dan mendapati Jeyoung tengah serius memasak. Kehebatan lain yeoja itu walaupun dari luar terlihat serampangan tapi dia punya sisi keibuan juga. Jeyoung sudah menanggalkan jaket kulitnya, menyisakan tanktop hitam ketat, mempertontonkan tubuh ramping nan seksinya. Oh! Tidak ketinggalan tato kupu-kupu yang menandai tulang belikatnya. Wah! Kalau tiap pagi dia disuguhi pemandangan indah begini pasti harinya akan lebih menyenangkan. “Masak apa Young?”

“Yak!” Jeyoung berjingkat dari tempat berdirinya saat kepala Siwon menyembul melewati bahunya dan membuatnya terkejut. Wangi mint menguar dari tubuh namja itu. “Nasi goreng dan telur mata sapi.” katanya setelah berhasil menormalkan jantungnya yang terpompa keras. Ingat kan? Dia wanita normal yang bisa berdebar jika berdekatan dengan laki-laki? Apalagi dia sosok yang tampan dan didamba banyak wanita!

“Hmm..” Siwon mencium aroma sedap dari penggorengan. “Pasti enak!”

“Tentu saja!” Jeyoung membusungkan dadanya sombong. Tapi tenang, dia tidak gila menyukai kakaknya sendiri sekalipun bukan kakak kandung. Mengingat mereka pernah makan dari tangan yang sama waktu kecil.

“Tsk!” cibir Siwon. Dia menyeret salah satu kursi makan dan duduk menunggu disana.

“Nanti siang kau sibuk tidak?” ucap Jeyoung sambil menyajikan nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi di atas meja makan. Siwon menyantap buas sarapan super paginya. “Aku ikut pertandingan balapan di Yeongnam.”

“Huh?” keningnya berkerut sambil terus mengunyah makanannya.

“Iya, kau bisa datang tidak? Atau Hyun mau datang boleh juga. Hitung-hitung menyemangatiku. Kalau aku berhasil menang, lumayan hadiahnya bisa buat membeli rumah sendiri!” Jeyoung menepuk tangannya senang membayangkan dirinya yang memenangkan hadiah itu.

Siwon mengangguk-angguk. “Kebetulan siang nanti aku kosong. Biar Mama Kimmi yang mengurus butik selama aku pergi. Mau berangkat bersama?”

“Tidak perlu. Aku masih mau mengecek kondisi motor balapku.”

“Eiy? Yang tadi itu bukan motor balap ya?” Siwon mengernyit, motor yang dibawa Jeyoung tadi saja sudah sangat besar untuk ukuran yeoja. Lalu Jeyoung mau pakai yang mana lagi?

“Lihat saja nanti! Makanya datanglah!” Jeyoung senyum-senyum sendiri.

“Yaya! Aku pasti datang! Nanti kuhubungi Hyun dulu siapa tahu dia juga mau menonton.”

“Oke!”

.

.

.

Arena Sirkuit Yeongnam sudah siap menyelenggarakan pertandingan balapan. Banner berisi kalimat-kalimat semangat berjuang terlihat dimana-mana. Riders sedang bersiap-siap di sisi lintasan dengan masing-masing paddock girl yang siap menaungi pemain dengan payung supaya mereka tidak kepanasan. Tribun penonton juga sudah sesak oleh penonton yang tengah bersorak-sorak menyemarakkan suasana pertandingan yang akan memanas sebentar lagi. Apalagi cuaca siang ini sangat terik, mendukung sekali aksi penonton membakar semangat jagoannya. Walaupun ini bukan pertandingan pertama yang digelar hanya sebatas Kore Selatan saja, tapi kali ini pertandingan terlihat lebih panas dari sebelum-sebelumnya.

Jeyoung -satu-satunya pemain wanita- juga bersiap. Disebelahnya berdiri Siwon, namja yang mengganti style bajunya dengan kaos longgar abu-abu dan jeans biru pudar, dia secara suka rela memayungi Jeyoung. Yeoja itu menarik ke atas risleting jaketnya lalu mengikat rambutnya. Tidak ada Hyun disana. Katanya dia ada janji lebih dulu dengan klien barunya. Jeyoung memakluminya. Dia juga tidak berusaha memaksa kehadiran yeoja yang seumuran dengannya itu. Hyun hanya memberikan semangat lewat sambungan telepon beberapa menit lalu sebelum ia turun ke arena balapan. Dan itu sudah cukup menurutnya. Keberadaan Siwon sebenarnya cukup mengalihkan perhatian dunia jadi padanya. Bagaimana tidak? Menemukan pria tampan jaman sekarang kan susah-susah gampang! Apalagi yang begitu gentle-nya memayungi kekasihnya yang akan bertanding. Kira-kira itulah yang ditangkap oleh penglihatan penonton dari kejauhan.

“Jangan terlalu berhasrat menang, Young!” Siwon memperingatkan. Jujur, dia harap-harap cemas dengan keselamatan Jeyoung. Mau bagaimanapun, sekuat apapun dia, dia adalah wanita yang punya titik kelemahan. Dia tidak ingin terjadi hal-hal yang mengerikan di lintasan nanti.

“Seperti kau pernah melihatku kalah saat bertanding saja. Tenang!” Jeyoung mengenakan sarung tangan hitamnya. Pembawaan yeoja itu terlihat sangat tenang. Tidak ragu-ragu. Tidak juga bernafsu.

“Tapi kau tetap harus berhati-hati. Kau kan tidak tau siapa di antara lawanmu yang mungkin bermain licik.”

Siwon terlalu mencemaskannya! “Tidak apa. Biarkan mereka melakukan apa yang menurut otak mereka benar. Jangan mempedulikan orang lain! Aku sudah siap!” Jeyoung mengambil helm yang dipegang Siwon lalu segera memakainya karna pertandingan akan dimulai sepuluh menit lagi. Dia menaiki MTT Turbine Superbike Y2K warna silver metalik miliknya. Lintasan balapan yang akan ditempuhnya mungkin sekitar tiga ratus ribuan kilometer. Setahunya hanya ada satu orang yang memecahkan rekor pertandingan balapan tingkat internasional sangat mencengangkan: Fernando Alonso! Dia menempuh dalam waktu sejam lima puluh menit 257 detik!

“Doakan aku!” Jeyoung menepuk pundak Siwon yang tegang. Namja itu menatapnya khawatir.

“Para pemain harap berkumpul di belakang garis start sekarang!” komando itu terdengar nyaring, memutus kontak mata dua orang itu. Jeyoung hanya tersenyum separo. Senyuman khas. Yeoja itu mengendarai motornya mendekati garis putih di belakang tanda start. Berjejer di samping pemain lainnya. Deru motor terdengar memanas, menaikkan satu oktaf sorak penonton dari tribun.

Bunyi pistol yang diledakkan ke udara menandakan pertandingan sudah dimulai. Semua pemain menekan gas kuat-kuat berusaha mengungguli satu sama lain. Lengkingan dan teriakan semakin menggelora. Membakar ambisius pemain, menaikkan adrenalinnya, membuat motornya melesat deras membelah lintasan sirkuit, menyelip tikungan demi tikungan maut.

Jeyoung mengendarai motornya garang. Dari spion dia bisa melihat semua rivalnya di belakang. Tatapannya kemudian beralih pada satu motor hitam pekat di depannya. Matanya menyipit tajam. Dia mengencangkan gasnya sampai ban depannya terangkat ke atas. Dia memburu satu motor yang juga melaju sama kencangnya dengan miliknya. Kelegaan luar biasa menyelimuti Jeyoung saat dia berhasil melampaui satu-satunya penghalang baginya untuk menang. Tapi kelegaan itu menjadi maut baginya. Dia terlambat menyadari bahwa didepannya sudah ada tikungan yang menukik. Belum sempat mengambil lajur dalam trek, dia menarik rem belakang habis-habisan yang mengakibatkan motornya terpelanting ke belakang! Tubuhnya terlempar beberapa meter menjauh dari lintasan.

Samar-samar, dengan setengah kesadarannya, dia melihat pengendara yang tadi di belakangnya menembus motor Jeyoung yang tertinggal di tengah-tengah lintasan. Kejadiannya sangat cepat. Tubuh pengendara itu sama halnya dengan dirinya tapi lebih parah. Tubuhnya terpental bersama motornya. Bruk! Motornya sukses menindih tubuhnya.

BOOM!

Tiba-tiba saja ledakan terjadi di tengah lintasan sirkuit dan asap tebal mengudara. Napasnya tercekat sebelum kesadarannya berangsur menghilang.

 

 

 

TO BE CONTINUE….

 

Advertisements

6 thoughts on “Obliviate Chapter 2

  1. YW says:

    semoga aja meraka gk kenapa2 deh, geri sendiri klo ngeliat keke gituan
    oh ya gyun bilang klo dia suka seseorg yg tak terduga itu jeonghui/jeyoung ya wkwkwk gyun nanti dikira apa’an lg klo dia bilang suka sm jeonhui/jeyoung yg jelas2 perempuan :v

    Liked by 1 person

  2. Indah sari says:

    Jeonghui Nyesek dengar gyun dijodohkan uda mulai ada tanda2 nihh ^^ semoga aja gyun cepat tau kalo jeonghui itu cewek😄 ,, ada feeling kaya ny ayah tiri gyun jahat ,,, semangat terus ya buat author nulisny ,, di tunggu next chapter ny😊✌

    Liked by 1 person

  3. uchie vitria says:

    apa mungkin bakal ada perlintasan waktu ya
    aku fikir kalo jaman goryeo jangan tahun 1996 ya karna itu udah masuk modern dan kehidupan istana juga masuk peradaban modern
    mungkin 1786-1800 setahuku #maaf yah
    tuhh kan ketahuan kalo menteri cho emang jahat pengen jadi penguasa
    gyun jatuh cinta ama jeonhui padahal mah dia normal suka ama cewek bukan cowok hahaha

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s