Obliviate Chapter 1

Title      : Obliviate Chapter 1

Author  : Luna Yoo

Genre   : Romance

Cast      : Temukan sendiri!

Luna’s Speech:

Hai hai^^ perkenalkan aku author baru siap meracuni imajinasi liar kalian.
FF ini murni karya saya tapi kalau menemukan kesamaan nama dan tempat, itu bukan merupakan unsur kesengajaan. Karna ini FF pertama yang berani aku post di blog pribadi, aku berharap bisa memuaskan siapapun yang membacanya.
First and Last Rule:
DON’T BE PLAGIATOR!

Happy Reading^^

obliviate cover 1

~~~o0o~~~
Chapter 1
Past

Guryeo, 1996

Seorang gadis terengah-engah setelah berlari kian ratus meter sedangkan tak jauh di belakangnya pria-pria berjubah hitam mengejarnya dan menggunakan obor sebagai penerangan malam yang pekat. Dia terus berlari tak tentu arah dan mengabaikan kakinya yang mungkin sudah membengkak sekarang. Kkotshin miliknya sudah terbuang entah kemana saat ia berlari tadi. Dia ketakutan setengah mati mendengar suara pria-pria berbaju assasin menggema di telinganya. Setengah melompat di antara bebatuan sungai dan tetap hati-hati agar tidak sampai terpeleset. Ya Tuhan, selamatkan aku! Kumohon!

Tuhan mendengarnya. Dia melihat sebuah bukit kecil yang menurutnya cukup menyembunyikan tubuh mungilnya. Dengan langkah gesit dia bersembunyi disana. Menutup mata dan mulutnya agar tidak menimbulkan suara yang akan menjadi malapetaka untuknya. Samar-samar, dia bisa mendengar langkah tergesa dari para pria itu. Langkah mereka sangat cepat, secepat degupan jantungnya sejak kejadian kejar-kejaran itu.

“Kemana perginya dia?” teriak salah satu dari gerombolan orang itu. Gadis itu menggigit bibir bawahnya.

“Sial! Kita harus cepat menemukannya, kalau tidak Master akan marah!” salah seorang dari mereka berkacak pinggang tepat diatas bukit kecil persembunyian si gadis. Napasnya tertahan di udara.

“Dia pasti masih ada di sekitar sini. Tidak mungkin dia bisa berlari lebih jauh.”

Deg! Jantung gadis itu seperti naik ke tenggorokan. B-bagaimana mereka tahu dirinya tidak akan pernah bisa berlari lebih jauh dari ini? Debaran jantung kian parah. Dia ketakutan setengah mati. Pikirannya buntu tidak bisa menemukan jalan keluar. Ini sangat gawat karna mereka tahu dia mengidap penyakit asma akut yang sewaktu-waktu bisa kambuh tanpa diperintah. Bayangan bahwa dia akan ditangkap membuat otot tubuhnya melemas. Tidak, tidak! Dia tidak mau mati sekarang! Masih ada yang harus dia sampaikan pada pamannya!

“Ayo kita cari lagi!” derap langkah mereka menjauh, pertanda mereka sudah berlari lagi mencari buronan mereka. Gadis itu menghela napas lega. Sedikit nyeri memang di dadanya. Keringat dingin sudah bercucuran sejak ia berlari dari rumahnya. Punggungnya menyandar pada bebatuan di belakangnya. Andai dia bisa berkaca sekarang, pasti dia akan sangat terkejut karna wajahnya yang pucat seperti orang mati. Kepalanya menunduk dengan bahu yang masih naik-turun. Pertanda napasnya masih belum teratur.

Mengerikan! Malam ini adalah mimpi buruk paling mengerikan sepanjang ia hidup. Hal yang selama ini tidak pernah tebersit di dalam otaknya, terjadi malam ini. Ketika rumahnya dibantai oleh pria-pria berjubah hitam, memporak-porandakan kedamaian dan kehangatan kehidupannya. Dadanya sakit mengingat bagaimana orang tuanya dibantai dan dibunuh tepat didepan kedua matanya. Air bening itu menetes tanpa diperintah. Ayahnya yang memuncratkan darah dari seluruh tubuhnya, sekarat di depan tubuh bergetar putrinya. Bibirnya terbuka dan membisikkan satu kata padanya: pergi!

Dia adalah putri yang patuh. Seumur hidupnya dia tidak pernah melanggar perintah ayahnya. Tidak pernah! Tapi tidak untuk kali ini! Anak mana yang tega melihat ayahnya sedang sekarat. Dia menangis menghadap tubuh penuh luka dan sudah terbujur kaku itu. Bibir mungilnya terus memanggil ‘ayah’ yang tidak akan pernah menjawabnya selamanya. Air matanya terus menetes tiada berhenti. Hatinya sakit. Seluruh tubuhnya sakit. Kakinya lumpuh, tidak bisa bergerak dari tempatnya bersimpuh sambil menggoyang-goyangkan lengan ayahnya. Dia ingin menjerit seperti biasanya. Saat ayahnya menggodanya dengan bersembunyi ketika dia mencarinya. Setelah ia menjerit, ayahnya pasti akan menyengir lebar dan keluar dari tempat persembunyian.

BRAK!

Gadis itu terpekik kaget mendengar pintu rumahnya dibanting secara kasar. Cepat-cepat dia bersembunyi di salah satu almari miliknya. Dia nyaris berteriak kala melihat tubuh kaku seorang wanita yang telah melahirkannya tergeletak dengan mata terpejam tepat di samping tubuh ayahnya. Dia menutup mulutnya saat tangisannya mengencang. Ibunya telah dibunuh juga. Kenapa? Kenapa? Pertanyaan itu muncul. Tapi siapa yang bisa menjawab pertanyaan paling sederhana sekalipun? Dia benar-benar tidak tahu alasan keluarganya begitu diinginkan untuk mati. Kemana dia harus pergi setelah ini? Kemana?

Telinganya menangkap suara-suara yang diyakini sebagai gerombolan pria berjubah yang lain datang. Tahan tangismu! Tahan! Mereka mengobrak-abrik isi rumahnya dengan bengis. Membanting apapun di depan mereka tanpa ampun seperti mencari sesuatu yang sangat berharga. Tidak mendapatkan apa-apa, mereka mendengus kasar dan pergi. Dia membuang napasnya. Dengan mencengkeram kuat bajunya, jari-jarinya gemetaran membuka pintu almari, satu-satunya barang yang tidak mereka sentuh lalu menyelinap keluar lewat pintu belakang. Dia berlari, terus berlari, sampai berakhir di tempat ini.

Gadis itu terjaga dari posisi duduknya mendengar langkah kaki di dekatnya. Ya Tuhan, baru saja jantungnya bisa berdetak normal, kenapa mereka datang lagi? Langkah itu begitu pelan, pelan mendekat padanya. Dia terus berdoa. Memang apalagi yang bisa dilakukan oleh gadis berumur 6 tahun tak punya tenaga sepertinya? Dia pasrah ketika tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dan bau alkohol seakan membiusnya. Kepalanya berputar-putar seiring kesadarannya yang mulai hilang.

.

.

.

Kacau. Satu kata yang cukup mewakili kondisi istana malam itu. Yukjo—Enam menteri berpangkat dua senior beserta sekretarisnya telah berkumpul di Seungjeongwan—Sekretariat Kerajaan. Sambil menunggu kedatangan raja, mereka membicarakan kekacauan yang sedang terjadi di negara mereka. Pengkhianatan dilakukan oleh salah seorang Hojo—menteri perpajakan— kepercayaan raja. Hojo diberikan kepercayaan oleh raja untuk mengatur pemerintahan di bidang perpajakan, khususnya keuangan dan kebijakan lahan. Namun, beberapa tahun terakhir laporan keuangan yang diberikan menteri itu tidak sesuai dan cenderung mencurigakan. Setelah diselidiki lebih lanjut, ditemukan adanya tindakan penggelapan uang negara. Hasil penjualan tanah yang seharusnya digunakan untuk membangun benteng pertahanan di sebelah barat Goguryeo malah digunakan untuk membeli tanah di Hanyang dan membangun rumah pribadi. Selain itu, dia juga menjual tanpa izin lahan di daerah Gwangju padahal kota tersebut merupakan kota yang memegang peranan penting untuk memproduksi keramik. Yang lebih parahnya lagi, dia telah berani menjual informasi dalam negeri yang memporak-porandakan kestabilan kerajaan.

“Yang Mulia telah tiba..” Raja Hyeon memasuki ruangan dengan raut masam. Semua orang berdiri menunduk sampai raja duduk di kursi kekuasaannya.

“Bagaimana kekacauan ini bisa terjadi?” geram Raja Hyeon. Tangannya terkepal kuat di lengan singgasananya. Sementara petinggi kerajaan menundukkan kepala dalam-dalam. Tidak berani menjawab kemarahan rajanya. “Tidak adakah di antara kalian yang bisa menjelaskannya?”

Semua orang diam. Keadaan itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum Cho Mun Soo, Ijo—Menteri Personalia yang mengurusi kaderisasi pemerintahan— membuka suara. “Ampun Yang Mulia, menteri perpajakan, Yoo Sak Jong, telah melakukan pengkhianatan besar-besaran terhadap kerajaan.”

“Ceritakan selengkapnya.”

“Dia telah menggunakan uang negara untuk membangun rumah di Hanyang, menjual tanah Gwangju padahal wilayah itu masih produktif hingga sekarang, yang lebih parah lagi dia telah menjual informasi dalam negeri yang mengakibatkan terganggunya kestabilan kerajaan.” jelas Cho Mun Su mantap. Laporan itu dia dapatkan dari Uigeumbu—Kantor Penyelidikan Kerajaan yang mengurus hal-hal terkait pengkhianatan dan urusan yang membahayakan keselamatan raja beserta keluarga kerajaan. Sebenarnya mereka telah melakukan penyelidikan atas Yoo Sak Jong semenjak laporan terakhir yang diberikan sangat mustahil dan menimbulkan kecurigaan. Sehingga dari pihak Uigeumbu melakukan penyelidikan rahasia atasnya.

“Apa yang mendasari tuduhanmu itu Menteri Cho?”

Mun Su tidak heran dengan pertanyaan raja yang sangat wajar. “Kantor Penyelidikan Kerajaan telah melakukan penyelidikan rahasia dan mendapatkan bukti tindakan kejahatan, Yang Mulia.”

Raja Hyeon mendesah, “Panggil mereka kesini!”

Tak berapa lama orang dari Kantor Penyelidikan Kerajaan memasuki ruangan. Setelah melakukan hormat pada raja, dia dipersilahkan duduk dan menyampaikan hasil penyelidikannya. “Menteri Perpajakan Yoo Sak Jong terbukti telah menyalahgunakan kekuasaan yang diberikan raja dengan melakukan tindakan kejahatan berupa penggelapan uang negara untuk membangun rumah di ibu kota Hanyang, menjual tanah Gwangju setelah memalsukan surat izin atas dasar alasan tanah itu sudah tidak digunakan lagi, berkhianat pada kerajaan dengan menjual informasi dalam negeri sehingga mengakibatkan kekacauan. Hamba mohon kebijakan dari Yang Mulia atas kasus kejahatan dan pengkhianatan ini.”

“Kami mohon Yang Mulia..” serentak semua menteri memohon pada raja. Raja Hyeon berpikir keras, giginya bergemeletuk keras. Dia dikhianati oleh orang kepercayaannya, sekaligus sahabatnya sendiri. Yoo Sak Jong adalah sahabat semasa bersekolah di akademi kerajaan. Kepercayaannya yang besar itulah membuatnya mengangkat Sak Jong sebagai menteri tingkat 2 senior. Raja tercenung. Hatinya bimbang memilih antara rasa persahabatan dan kebijakannya sebagai seorang raja. Perasaan tidak percaya bahwa sahabatnya tega melakukan hal keji tersebut sementara bukti telah di depan matanya. Tidak! Dia harus bersikap adil. Sekalipun Sak Jong yang semasa hidupnya selalu berada di sampingnya untuk memberikan nasehat yang bijak, tapi kesalahannya ini tidak akan termaafkan karna sama saja mengkhianati kerajaan.

“Aku memerintahkan kalian untuk menangkap Menteri Yoo Sak Jong atas tindakan pengkhianatan yang telah dia lakukan kepada negara.” Raja Hyeon berhenti sejenak, mengambil napas. “Aku tidak suka membiarkan seorang pengkhianat berkeliaran bebas di sekitar istana.”

Semua orang mendesah lega. Mereka tahu bagaimana hubungan Raja Hyeon dengan Yoo Sak Jong. Mereka adalah sahabat baik sejak kecil, meskipun terlahir dari keluarga yang berbeda jauh tapi tidak membuat persahabatan mereka merenggang. Justru ketika putra mahkota Hyeon diangkat sebagai raja baru menggantikan Raja Mwonjong yang meninggal dunia, menteri pertama yang diangkat olehnya adalah Yoo Sak Jong. Terkadang kecemburuan muncul di antara pejabat tinggi kerajaan. Raja lebih sering mendengar nasehat dari Yoo Sak Jong dan sering mengabaikan Yeonguijeong, Kepala Penasehat Negara. Sehingga keputusan seolah-olah tidak multak dari raja itu sendiri, melainkan juga sebagian campur tangan Yoo Sak Jong.

Suara berisik terdengar dari luar ruangan. Salah seorang pejabat berada di lorong luar membisikkan berita paling mencengangkan. Segeralah, Byeongjo—Menteri Urusan Militer— Kang Ji Sook melaporkan berita yang baru saja dia dapatkan. “Yang Mulia, menteri Yoo Sak Jong dan istrinya telah meninggal dunia di kediamannya!”

“Apa?! Bagaimana bisa?” Raja Hyeon terperanjat di tempatnya. Sak Jong, sahabatnya meninggal? Kenapa? Padahal, dia sudah berniat memberikan hukuman pengasingan untuknya dan keluarganya sehingga mereka masih bisa bertemu. Tapi.. meninggal? Bagaimana hal itu bisa terjadi?

“Ada pencuri yang masuk ke rumahnya dan membunuh keluarganya. Kejadian ini baru diketahui setelah Yang Mulia memerintahkan kami menangkap menteri Yoo Sak Jong.”

Kini kepala sang raja berdenyut. Kejadian kacau ini terjadi beruntutan. Selama dia memerintah, ini baru pertama kalinya kekacauan terjadi di kerajaannya. Tunggu, mereka bilang Yoo Sak Jong dan istrinya meninggal. Lalu bagaimana dengan putri mereka? Merasa tidak mungkin menanyakan hal tersebut di ruangan ini, Raja Hyeon memutuskan prajuritnya untuk membereskan permasalahan di rumah menteri Yoo sekaligus menyelidiki apakah ada maksud terselubung dibalik peristiwa terbunuhnya menteri Yoo mengingat penjagaan di kediaman seorang menteri pasti terdapat 2-3 pengawal. Tidak mungkin pencuri bisa masuk tanpa menimbulkan keributan terlebih dahulu.

Walaupun pengkhianat kerajaan telah terbunuh, namun penyelidikan akan terus dilakukan untuk menunjang keputusan raja apakah keluarga Yoo Sak Jong yang masih tersisa-jika ada- diberikan kebebasan atau harus diasingkan dari tanah Hanyang. Diam-diam Raja Hyeon telah menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari tahu keberadaan putri Yoo Sak Jong yang menghilang setelah peristiwa pembunuhan itu. Raja sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Bahkan, dia sudah berniat menjodohkan putranya dengan putri Sak Jong demi mengeratkan hubungan persahabatannya. Tapi kalau keadaan menjadi sedemikian buruknya, dia khawatir niatnya tidak akan terlaksana karna pasti mendapat penolakan keras dari rakyat.

.

.

.

“Dimana kau menemukannya?”

“Di belakang bukit rumah kita. Sepertinya keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Napasnya juga tidak teratur. Astaga! Badannya sangat panas ayah!”

“Kalau begitu siapkan air hangat dan kain bersih. Bersihkan dulu bagian tubuhnya yang kotor dan ganti pakaiannya dengan milik Hyun. Aku akan memanggil tabib dulu.”

“Baik, ayah!”

Choi Ki Ho mengambil gat-nya dan bergegas memanggil tabib yang jaraknya hanya beberapa rumah dari kediamannya. Sementara itu Won mengerjakan apa yang diperintahkan ayahnya. Dia mengambil mangkok berisi air hangat dan handuk bersih. Dengan telaten, dia mulai melepas pakaian gadis kecil yang ditolongnya tadi hingga menyisakan underware hanboknya. Perlahan dia mengusap tangan dan kaki yang telah bercampur dengan tanah berlumpur. Ingatannya kembali pada beberapa menit yang lalu ketika dia menemukan gadis kecil ini sudah tidak sadarkan diri lagi di belakang bukit dekat rumahnya. Dia pikir gadis ini adalah anak hilang. Tapi mendengar derap langkah terburu-buru dari sekelompok pria berjubah hitam, dia tahu ada yang tidak beres. Mereka sedang mengincar seseorang. Jadilah, dia membius gadis ini dan membawanya ke rumahnya.

Won menarik ujung selimut ke atas hingga menutupi tubuh mungil gadis ini lalu meletakkan selembar handuk tipis di keningnya. Dia membaringkan gadis ini di samping adik perempuannya, Hyun, yang masih tidur terlelap. Kalau dilihat-lihat, mungkin usia gadis ini dengan Hyun kurang lebih sama. Dia bisa dengan mudah menganggapnya sebagai adiknya. Pintu rumah terbuka dan ayahnya sudah datang bersama seorang tabib. Mereka duduk di sisi lain agar memberikan ruang bagi tabib itu untuk memeriksa keadaannya. Lalu tabib itu mengeluarkan perlengkapan akupuntur-nya dan menancapkannya pada lengan bawah gadis itu. Dia menarik jarum akupuntur itu, pertanda dia telah menyelesaikan pemeriksaannya.

“Ini hanya demam biasa Tuan Choi, anda tidak perlu khawatir. Aku akan memberi beberapa vitamin untuk memulihkan kesehatannya. Dia hanya membutuhkan waktu istirahat yang cukup dan makan yang teratur. Tampaknya dia sudah tidak makan beberapa hari sehingga tubuhnya menjadi lemas.” Jelas tabib itu yang dibalas anggukan mengerti dari Ki Ho.

“Terima kasih.”

“Aku permisi, Tuan.” Tabib itu beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar.

“Won-ah, ayah ingin kau merahasiakan keberadaan gadis ini. Aku takut keselamatannya sekarang bergantung pada kita yang sudah lancang menyelamatkannya.” Ucap Ki Ho nyaris berbisik. Won melihat gelagat aneh dari ayahnya, tapi dia tidak berani bertanya. Mungkin ayahnya sudah tahu siapa gadis ini dan berusaha agar tidak banyak orang yang tahu tentangnya.

“Ngghh…” gadis kecil itu merintih. Matanya bergerak-gerak memaksa terbuka. Dia memicingkan matanya dan kepalanya bergerak memandang ke sekelilingnya. Tubuhnya bergetar hebat ketika dia berusaha bangun.

“Kau masih sakit, nak. Istirahatlah dulu.” Ki Ho menahan bahu gadis kecil itu agar tetap berbaring. Tapi gadis itu menolak. Dia menepis lengan pria berumur itu. Dia bersikeras duduk. Sorot matanya menyatakan ketakutan yang besar. Nyawanya sedang terancam dan kini dia justru terdampar di rumah teramat asing!

“Anakku telah menyelamatkanmu dari kejaran orang-orang yang mungkin berniat jahat padamu.” Ki Ho menyadari ketakutan yang dirasakan oleh anak ini, sehingga dia berusaha memberi penjelasan atas pertanyaan yang jelas terbaca dari raut wajahnya saja.

Gadis itu menoleh. Seketika air mukanya berubah menjadi sendu. Hidungnya memerah dan matanya menjadi sembab seperti akan menumpahkan sesuatu dari sana. “Ayah.. ibu..” gumamnya jelas. Dia menundukkan wajahnya, tidak berani menunjukkan air matanya yang sudah mengalir di depan orang asing yang telah menyelamatkannya. Lagi-lagi dadanya sesak mengingat peristiwa mengenaskan sebelum ini. Hatinya nyeri luar biasa. Kedua orang tuanya mati dengan cara paling tragis. Kenapa ada orang yang begitu tega membunuh orang baik seperti mereka?

Won memberanikan diri menyentuh pundak gadis kecil yang baru beberapa detik lalu dianggap seperti adiknya. Dia mendapat perhatiannya. Gadis itu mengangkat kepalanya. Menampakkan wajah pucat tapi hidung dan matanya memerah. Tanpa menunggu aba-aba, Won bergerak maju dan memeluk tubuh mungil yang terasa pas. Gadis itu tidak menolak. Bukan, lebih tepatnya dia tidak memiliki tenaga untuk menolak pelukan itu. Won mengusap rambut gadis itu yang masih tergelung rapih, berusaha menyalurkan ketenangan melalui pelukannya. Ki Ho melihat kedua anak itu haru.

“Ayahku adalah seorang Hojo. Dia bekerja setiap hari untuk kerajaan. Dia memberikan separuh hidupnya bahkan rela tidak tidur karna bekerja. Aku tidak pernah melihat ayah sebagai orang yang bisa berkhianat dan menggunakan berbagai cara mendapatkan kekuasaan. Tapi, baru saja, aku melihat kedua orang tuaku terbunuh di depan mata. Aku tidak tahu alasan mereka membunuhnya. Aku berlari meninggalkan rumah. Tidak tahu kemana. Aku bersembunyi dibalik bukit dan beruntungnya aku tidak sampai tertangkap oleh mereka.”

Ki Ho dan Won mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dengan mulusnya dari bibir seorang gadis berumur 6 tahun. Pertama, mereka terkejut karna dari cara gadis itu berbicara sudah mencirikan bahwa dia terlahir dari keluarga terpelajar dan sudah dilatih berkomunikasi dengan orang dewasa yang baik. Oh, bahkan Won sampai menganga! Dia takjub mendengar gadis ini berbicara sangat lancar! Kedua, mereka bersimpati atas hal buruk yang baru saja dialami oleh keluarga gadis ini.

“Itu artinya mereka masih mengincarmu, nak.”

Gadis itu mengangguk. “Tapi aku tidak tahu apa yang mereka inginkan? Ayah tidak pernah menyimpan barang berharga di rumah kami.”

“Mungkin sesuatu yang berharga itu disembunyikan di suatu tempat yang hanya ayahmu yang mengetahuinya.” Ki Ho berkata lebih pada dirinya sendiri. “Ah iya, namamu siapa nak?”

“Jeyoung. Yoo Jeyoung. Umurku 6 tahun. Ayahku bernama Yoo Sak Jong dan ibuku bernama Kim Soo Hwan.” ucap Jeyoung sambil membungkukkan badannya sekilas. “Terima kasih Tuan sudah menyelamatkanku.”

“Aku Choi Ki Ho. Ini putraku..”

“Choi Siwon. Kau boleh memanggilku Won, Won oppa.” Siwon menyeringai lebar, menampilkan deretan giginya yang ompong. Jeyoung tersenyum geli. “Oh iya, ini adikku namanya Choi Hyun. Dia umurnya sama denganmu! Aku harap kalau dia sudah bangun, kau bisa akrab dengannya!”

Ki Ho senang melihat keduanya tampak akrab. Sebagian hatinya ikut merasakan kesedihan yang dialami Jeyoung. Membayangkan putrinya sendiri ditinggal mati kedua orang tuanya dan tidak memiliki siapa-siapa lagi dan tempat tinggal, membuat perasaannya tersayat. Dia ingin sekali mengangkat Jeyoung sebagai anak angkatnya kalau gadis itu tidak keberatan. Apalagi putrinya pasti senang bisa mendapat teman baru. Biarlah berjalan begini saja dulu. Jeyoung kecil pasti membutuhkan waktu untuk bisa mengembalikan keceriaannya.

“Jeyoung, apa kau mau menyembunyikan identitasmu ini untuk sementara? Aku khawatir mereka masih menginginkanmu dan berniat menculikmu kalau tahu kau adalah anak Yoo Hojo.” Tanya Ki Ho hati-hati.

Gadis itu terdiam. Dia diam seolah merenungi sesuatu. Namun, beberapa detik kemudian dia mengangkat kepalanya dan menyatakan dengan tegas, “Aku ingin Tuan. Apa yang bisa aku lakukan?”

“Berpura-puralah menjadi anak laki-laki.”

~~~o0o~~~

Dia sendiri. Diam. Menatap kosong apa di depannya. Tidak ada yang bersedia mendekat. Tidak ada yang memulai pembicaraan, atau sekadar sapaan ‘hai!’. Mereka pun bungkam. Tidak ada yang berani, meningat kejadian beberapa waktu lalu ketika mereka berusaha mengajaknya berbicara, dia malah berteriak-teriak keras kemudian duduk berjongkok sambil memeluk lututnya sendiri. Dia takut manusia!

“Kemana dia?” bisik Seol, gadis bermata hijau cerah pada teman sebangkunya.

“Tidak tahu! Ah, dia kan aneh! Mana mungkin dia mau ikut pelajaran!” Ri Kyung mengedikkan bahu, tampak tidak terlalu peduli. Dia sibuk membuka-buka beberapa lembar buku sejarah yang menurutnya sangat membosankan. Dia tahu siapa yang dimaksud Seol. Pasti anak aneh itu!

“Tapi kan seonsaengnim menyuruh kita mengawasinya! Ah! Jo-ssaem datang!” Seol menyenggol lengan Ri Kyung ketika Jo-ssaem datang. Semua murid di kelas itu serentak berdiri, membungkukkan badan sebelum duduk kembali.

Jo-ssaem adalah guru sejarah paling perhatian dengan muridnya. Dia tahu siapa saja yang hadir maupun tidak hadir di kelasnya. Matanya yang tajam mengedar. Kurang satu. “Heo Seol, kemari!” panggilnya pada murid kesayangan semua guru itu karna kecerdasannya diatas rata-rata.

“Ada apa seonsaengnim?” tanyanya takut-takut. “Dimana Gyun?”

Glek! Seol menelan ludahnya sendiri. Firasatnya benar. pasti Jo-ssaem mencarinya. Yah, Gyun, bocah aneh itu! “Aku tidak bisa menemukannya, Jo-ssaem. Maafkan aku.” Suara Seol kian melirih dan kepalanya makin menunduk. Dia mendengar dengusan lelah dari guru yang terbilang sudah paruh baya. “Duduklah.” Seol mengangkat wajahnya, lalu sedetik kemudian kepalanya tertunduk lagi. Dia kembali ke bangkunya setengah menyeret kakinya.

“Ada yang tahu dimana Gyun?” suara Jo-ssaem sampai menggema di kelas pagi itu. Semua anak tahu betapa guru satu itu sangat memperhatikan kehadiran murid-muridnya. Apapun keadaannya, dia harus tahu kalau salah satu dari muridnya ada yang berhalangan hadir apa alasannya. Tidak boleh sembarangan tidak mengikuti kelasnya. Bahkan Jo-ssaem rela memanggil satu muridnya karna ketahuan membolos sekolah.

“Jeosonghamnida, apa yang anda maksud dia, Tuan?” suara tegas itu mengalihkan seluruh perhatian kelas pada sosok pemuda kecil berwajah cantik yang berdiri di ambang pintu bersama seorang pemuda kecil yang lebih tua darinya. Gyun.

Jo-ssaem menghela napas lega. Dia berjalan menghampiri kedua bocah itu. “Benar, dia muridku. Terima kasih sudah mengajaknya kesini. Siapa namamu nak?”

“Hm, Choi Jeonghui, Tuan.”

“Haha.. jangan memanggilku tuan. Panggil saja Jo-ssaem. Aku adalah guru sejarah disini.” Jo-ssaem tertawa hingga sudut matanya melengkung ke atas. Jeonghui tersenyum ramah. Beberapa anak perempuan di kelas itu terpana melihat ketampanan bocah kecil itu. “Baiklah Jeonghui, terima kasih sudah membawa Gyun.” Mereka tidak sadar jika Gyun sedari tadi hanya diam. Yah, tapi semua merasa wajar. Bocah itu memang tidak suka berbicara. Tapi mereka penasaran bagaimana Jeonghui berhasil membawanya kesini?

“Ayo, Gyun.” tangan Jo Ssaem sudah bergerak meraih lengan bocah itu. Tanpa diduga, Gyun menolak. Tidak seperti biasanya. Bocah itu malah memegang lengan Jeonghui dan bersembunyi di balik tubuh yang lebih pendek darinya. “Ayo, Gyun. Kau harus sekolah.” Jo Ssaem berusaha meraih lengan itu lagi, tapi langsung ditepis oleh pemiliknya.

Jeonghui berbalik menatap Gyun. “Kenapa? Jangan sepertiku yang kurang beruntung tidak bisa bersekolah.” Ucapnya yang bisa didengar semua telinga di ruangan itu. Mereka terkejut. Terlebih Jo Ssaem. Bocah itu mungkin baru berumur 6 tahunan, tapi cara berbicaranya seperti pria dewasa. Gyun menggeleng. “Tidak—mau.” Tandasnya keras dengan gelengan yang tak terbantahkan. Lagi-lagi seisi kelas dibuat menganga. Gyun tidak pernah berbicara padanya! Mungkin itu salah satu kalimat yang ingin terlontar dari pikiran semua anak.

“Jo-ssaem?” Jeonghui berbalik sambil tersenyum. “Bolehkah dia ikut pelajaran nanti siang saja?” Jo-ssaem terdiam. Apa yang dikatakan bocah ini seperti ucapan sungguh-sungguh. Dia ingin mempercayai bocah ini. Melihat Gyun yang kini melamun, membuatnya mengangguk. Dia membiarkan bocah asing itu membawa Gyun. “Kau berjanji membawanya kembali?” Jeonghui mengangguk mantap. Baru setelah Jo-ssaem mengangguk setuju, kedua bocah itu pergi meninggalkan seisi kelas berkasak-kusuk.

“Kau lihat itu!”

“Gyun berbicara!”

“Seumur hidup baru kali ini aku mendengar Gyun bersuara!”

“Oh iya, siapa dia yang datang bersama Gyun? Tampan juga, tapi masih sangat kecil!”

Jo Ssaem berdehem, menghentikan gosip seputar Gyun. “Kita mulai pelajaran hari ini. Siapkan buku kalian!” Sebenarnya Jo Ssaem juga penasaran dengan Jeonghui yang belum pernah ia lihat sebelumnya, tapi dia redam ingin tahunya.

.

.

Pertama melihat Gyun yang duduk di atas genteng pembatas tembok sekolah, Jeonghui berpikir anak itu sudah gila. Itu jam-jam sekolah tapi bisa-bisanya dia bertengger seperti burung hantu? Tanpa ragu, Jeonghui—alias Jeyoung yang menyamar menjadi laki-laki- mendekatinya.

“Hei! Apa yang kau lakukan disana?” Anak itu diam. Diam sambil melotot. Melotot! Astaga, dia kan hanya bertanya! Dia merasa ada yang tidak beres mungkin di otaknya. Dia berdiri tepat di bawahnya. “Tidak sekolah?” anak itu diam lalu mulai menggigiti kuku jari tangannya. Matanya menatap ke arahnya kosong. “Turun!” walau gerakannya sedikit ragu-ragu, tapi Gyun melompat juga. Tubuhnya menjulang jauh lebih tinggi darinya.

“Aku-tidak-mau-sekolah!” Dia menggeleng keras. Dahi Jeonghui berkerut. “Aku tidak aneh!” Jeonghui terkejut. Hei! Apa baru saja dia membaca pikirannya? Apa isi otaknya sangat transparan? “A-aku hanya.. sakit.” ujarnya lemah. Tangan Jeonghui terangkat ke atas menyentuh dahi Gyun.

“Kau tidak sakit! Ayo, sekolah!” Jeonghui sudah menggandeng tangan Gyun hendak menyeretnya paksa kalau bocah itu tetap keras kepala tidak mau sekolah. Tapi Gyun tidak bergerak dari tempatnya. Setengah menariknya, tapi dimana-mana kekuatan wanita tidak ada apa-apanya dengan kekuatan laki-laki. Oh! Dia benci itu! Dia kesal lalu berbalik lagi. “Kenapa?”

“Apa kau sekolah?” Jeonghui berbalik menatapnya. Dia mau menjawab tidak, tapi, tidak bisa dibohongi dia juga ingin bersekolah. Dia menggeleng. “Kalau begitu aku tidak mau sekolah.”

Meskipun Gyun menjawab begitu, Jeonghui tetap menyeretnya ke kelasnya. Tadinya Jeonghui berharap Gyun mau bersekolah, tapi karna dia terus menolak dan dia tidak berhak melarangnya, akhirnya mereka berakhir disini. Duduk di ranting pohon cukup kuat menompang dua tubuh bocah itu. keduanya memandang aliran sungai Han yang deras. Mereka duduk dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

Gyun mengayunkan kakinya. Bocah itu diam bukan buta. Dia tidak suka berbicara pada orang asing. Dia juga tidak suka berbicara dengan teman sekelasnya. Dia tidak pernah berinteraksi dengan mereka. Tapi kenapa dengan bocah kecil yang duduk di sampingnya ini dia mau bersuara? Bahkan kosa katanya lebih banyak dari saat dia berbicara dengan orang tuanya. Ah, ayahnya adalah perdana menteri kerajaan yang sangat sibuk. Ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Dia memiliki seorang kakak perempuan yang dua tingkat di atasnya. Sejak kecil, orang-orang selalu mengatakan dirinya aneh. Aneh karna dia hanya diam tidak melakukan apa-apa dan lebih sering melotot kalau diajak bicara.

“Namaku Jeonghui. Namamu siapa?” bocah di sampingnya bersuara lagi. Entah, tapi suaranya itu membuatnya nyaman.

“Gyun.” Jeonghui mengangguk-angguk. Gyun menunggu bocah itu berbicara lagi. Tidak tahu sejak kapan dia jadi suka mendengar bocah itu berbicara. Dia adalah bocah laki-laki bersuara merdu yang pernah dia kenal.

“Kau lebih tua dari aku kan?” Eh? Gyun mengernyit. Tidak disangka Jeonghui menanyakan hal yang menurutnya sensitif. Dia hanya mengangguk. “Berarti aku memanggilmu hyung ya?” lagi-lagi Gyun mengangguk saja. “Aku tidak sekolah. Lebih tepatnya belum. Aboeji sedang mencarikan sekolah yang pas. Pas di kantong dan juga pas untukku.”

“Di tempatku!” seru Gyun tiba-tiba. Jeonghui menoleh. Matanya bertatapan langsung dengan mata Gyun yang ternyata berwarna hazelnut lembut.

“Tapi sekolahmu khusus kalangan atas. Aboeji pasti tidak setuju.” pundak Gyun turun. Dia kecewa. Padahal kalau Jeonghui belajar di tempat sekolahnya, dia pasti akan sangat senang. “Tapi tenang saja, aku pasti sekolah!” Gyun memandang kosong bocah itu.

“Itu..” tunjuk Gyun ke salah satu bangunan tepat di sebelah barat bangunan sekolahnya. Jeonghui memutar kepalanya ke arah yang ditunjuknya. Dia mengerutkan kening: apa? Begitu dia menoleh, sisi kirinya sudah kosong. Gyun menghilang! Matanya mencari-cari kemana perginya bocah itu. Eh? Sejak kapan Gyun sudah berdiri di depan bangunan yang tadi ditunjuknya? Astaga, ternyata bocah itu bukannya aneh tapi gaib! Tanpa membuang waktu lagi, Jeonghui pun bergerak menyusulnya.

Bangunan itu tidak seperti bangunan lainnya. Atapnya berbentuk segi lima dan dua patung Helios setinggi enam puluh sentimeter menyambutnya di pintu gerbang. Ini terlihat seperti bangunan bergaya Yunani Klasik. Kalau boleh taruhan, pemiliknya mungkin seorang penggemar berat Dewa Yunani. Mengherankan orang hidup di jaman itu masih menyukai hal-hal berbau dewa-dewi Yunani. Ada halaman luas sekali sebelum masuk ke serambi utama. Sepi sekaligus menenangkan.

HYAAT!

“Arrgh!!!” Jeonghui spontan berteriak secara tiba-tiba seseorang melompat dan mendarat di depannya yang sedang setengah melamun. Apalagi orang bertopeng itu mengarahkan pedang mainan-mungkin- padanya.

“Yak! Hyuk-ah, jangan menakut-nakuti tamu seperti itu!” seorang pria paruh baya yang baru datang langsung memukul kepala anak laki-laki yang dipanggil ‘Hyuk’ dengan tongkatnya. Anak itu beringsut mundur dengan kepala menunduk. Dia sudah melepas topengnya sehingga menampilkan sosok bocah polos berwajah cukup tampan. Yah, bolehlah Jeonghui terpana olehnya! Jangan lupakan jati dirinya sebagai seorang perempuan yang juga bisa tertarik pada lawan jenisnya!

“Appo..” Hyuk mengelus kepala belakangnya. Bibirnya sudah maju beberapa senti. Jeonghui tersenyum geli. Tapi buru-buru dia mengubah senyumannya menjadi satu garis lurus karna tanpa sengaja matanya bertubrukan dengan mata tajam milik Gyun yang berdiri tak jauh darinya, kepalanya meneleng ke kiri.

“Ah, dia memang suka memberi kejutan pada tamu yang datang. Minta maaf Hyuk-ah!” Hyuk berbalik menghadap Jeonghui, tanpa bicara langsung membungkuk. Pluk! Pria tua itu memukul kepala Hyuk sekali lagi. “Minta maaf yang benar!”

“Maafkan aku.” Hyuk mengucapkannya sambil bersungut sebal.

Pria itu tersenyum maklum. “Panggil aku Paman Kim saja. Pamannya Hyuk, juga Gyun.”

“Perkenalkan namaku Choi Jeonghui. Tadi Gyun hyung yang mengajakku kesini.”

“Siapa yang mengajakmu?” Gyun bersuara lagi. Tangannya terpaut ke belakang punggungnya. Dia sudah berdiri di samping Paman Kim setelah hanya diam mengamati mereka bertiga.

Jeonghui mencibir halus. “Lalu siapa yang menunjukkan tempat ini?”

“Bukan berarti aku mengajakmu!” katanya dingin, tapi Jeonghui tidak yakin nada itu yang didengar.

Bocah itu mendengus sambil memicingkan kedua matanya pada Gyun. “Ya sudah, aku pulang saja. Permisi Paman Kim dan Hyuk.” Jeonghui membungkuk sekilas sebelum membalikkan badannya dan melangkah pulang.

“Tunggu!” Gyun melompat, merentangkan kedua tangannya menghadang langkah Jeonghui yang akan pergi. Kali ini Jeonghui melipat kedua tangannya di depan dadanya. “Aku kan bercanda. Aku memang mengajakmu kesini. Ayo!” sebelum Jeonghui sempat mengelak, Gyun sudah menarik kerah jeogori-nya, tentu saja perbuatannya nyaris mencekik lehernya.

“Hei! Kau mau membunuhku, huh? Lepaskan!” Jeonghui meronta-ronta dalam cengkeraman Gyun, sementara Paman Kim dan Hyuk saling bertukar pandang. Mereka bercakap melalui isyarat mata. Kurang lebih begini: sejak kapan Gyun berbicara lebih dari lima suku kata? Biasanya kalau ditanya, bocah itu pasti hanya menjawab ‘iya’ atau ‘tidak mau’ atau ‘ingin itu’. Dan apa mereka tidak salah dengar? Dia berbicara pada Jeonghui sampai tiga kalimat. Wah! Ini kemajuan besar!

Setelah hampir setengah hari berkeliling sekitar bangunan segi lima itu, Jeonghui baru mengerti. Bangunan ini bukan hanya sekadar bangunan. Ini tempat belajar. Paman Kim sendiri yang menjadi satu-satunya pengajar disini. Setiap sore murid-muridnya pasti datang belajar ilmu bela diri, berkuda, memanah yang tidak hanya ditujukan untuk anak laki-laki tapi anak perempuan boleh mengikuti kelasnya asalkan punya niat kuat. Paman Kim sengaja memberikan sentuhan Yunani Klasik di bangunan miliknya. Ternyata benar, pria berumur itu adalah penggila dewa-dewi Yunani! Tidak heran jika mereka bisa menemukan patung dewa-dewi berada di setiap sudut bangunan. Jeonghui pun tertarik dengan ajakan Paman Kim untuk mengikuti kelasnya. Tidak ada salahnya kan, kalau dia menyamar sebagai anak laki-laki dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan anak lain seumurannya? Dia juga yakin Tuan Choi mengijinkannya. Paman Kim tidak menetapkan harga atas kelasnya, tapi dia hanya menerima seikhlasnya. Benar-benar pria yang tulus!

Gyun sudah kembali ke kelasnya di seberang. Bocah itu tidak berusaha menolak saat Jeonghui mengingatkannya tadi. Syukurlah, setidaknya dia bersyukur bisa berguna untuk orang lain. Sekarang dia sedang asyik menyesap teh wanginya.

“Dia tidak aneh. Hanya tidak suka berbicara saja.” Kata Hyuk yang entah kapan sudah duduk bersisian dengan Jeonghui. Pasti Gyun yang sedang mereka bicarakan! “Tiga tahun yang lalu ayahnya meninggal lalu tepat setahun kemudian ibunya memutuskan menikah lagi. Ayah tirinya bekerja di Hanseungbu-kantor Ibukota, sama seperti ayahku. Ayah kami sama-sama sibuk dan hampir tidak punya waktu untuk keluarga. Aku melampiaskan kesepianku dengan pergi kesini menemui Paman Kim. Dia adalah adik ibu Gyun sekaligus kakak dari ayahku. Dia adalah paman paling menyenangkan! Yah, walaupun tidak jarang aku menjadi sasaran tongkatnya!”

Jeonghui masih setia mendengar ocehan Hyuk yang tiada henti dan tanpa ditutupi. Mereka seperti sepasang teman yang sedang berbagi cerita.

“Aku pikir Gyun marah pada ibunya. Dan berbeda denganku, dia melampiaskan kemarahannya dengan diam. Dia jadi tidak suka bicara. Bahkan dia tidak pernah berbicara lebih dari lima suku kata! Astaga! Kurang kerjaan memang, tapi begitulah adanya. Gyun menjadi sangat pendiam, yah walaupun sifat aslinya juga tidak suka banyak bicara, tidak sepertiku.” Mendengar cerita Hyuk itu Jeonghui sadar. Gyun adalah bocah yang tidak suka didekati apalagi diajak berbicara. Mungkin itu yang dia lakukan terhadap teman-teman sekelasnya. Alasannya cukup mudah, seperti yang Hyuk bilang tadi? Gyun memiliki caranya sendiri untuk melampiaskan kekesalannya.

“Tapi hari ini aku melihatnya seperti kembali saat dia masih sehat.”

Jeonghui mengernyitkan dahi. “Jadi sekarang dia sedang sakit?”

“Bukan!” tandas Hyuk disertai tawa renyahnya. “Kupikir Gyun sudah menemukan teman yang cocok.”

Kata ‘cocok’ rupanya cukup ampuh memporak-porandakan otaknya. Tiba-tiba dia bergedik ngeri. Apa mereka terlihat cocok sebagai sesama lelaki?

“Jangan salah sangka!” Oh! Hyuk sepertinya membaca pikirannya. Apakah keluarga mereka memang berbakat membaca pikiran orang lain? “Justru aku berterima kasih. Kau mau menjadi teman bicara Gyun. Sejauh ini hanya kau yang diajak bicara lebih panjang dari batas keharusannya. Padahal kalian baru kenal. Ah iya, aku harap kau tidak terpengaruh oleh kata-kata ‘cocok’-ku tadi.” Hyuk menepuk bahu kanannya. “Aku juga tidak berharap sepupuku itu jadi penyuka sesama jenis.” Selanjutnya Hyuk tertawa kecil, menunjukkan gummy smile-nya.

“Yak! Jauhkan tanganmu dari bahunya!”

Teriakan seseorang itu menyentak dua orang yang sedang tertawa itu hingga mereka terdiam. Sosok yang baru saja mereka bicarakan sedang berdiri berkacak pinggang tidak jauh dari mereka dan mukanya sangat masam. Gyun!

 

 

TO BE CONTINUE…

 

 

Advertisements

21 thoughts on “Obliviate Chapter 1

  1. kyungsoo says:

    “Cocok” hahaha,,, ngakak sumpah pas hyuk ngomong thu kata *aduh aku memang aneh

    Aku suka karakter yang kaya gyun disini

    Like

  2. kyungsoo says:

    “Cocok” hahaha,,, ngakak sumpah pas hyuk ngomong thu kata *aduh aku memang aneh

    Aku suka karakter yang kaya gyun disini
    .

    Like

  3. KimKyu says:

    haloo aku baru baca langsung suka^^
    jarang sih aku nemu FF yang pake setting jaman Joseon
    buat cast-nya belum lengkap deh itu kayaknyaa
    ditunggu kelanjutannyaaa 😉

    Like

  4. Indah sari says:

    Annyong author , ff ny keren jarang ada cerita begini serasa nonton drama daebak ,, semangat author do tunggu next capterny

    Like

  5. widdy says:

    Ini keren kalau cerita tentang joseon aku suka.
    Ini kedepannya akan ada suzy atau memang cerita tentang gadis kecil yang menyamar jadi lelaki?
    Kelanjutannya ditunggu ya..

    Liked by 1 person

  6. fairusnaila says:

    keren !!!
    biar ku tebak yg jadi jeyoung = suzy, gyun = kyuhyun , hyuk = hyukjae.
    alurnya menarik ngga bosen juga bacanya. btw gyun kaya tertarik ma jeyoung tapi dia ngiranya jeyoung laki laki

    Liked by 1 person

  7. Kai Suzy says:

    Wahhh bwrasa kyk nonton drama d ase bak thor… prok prok prok

    Aku jdi inget drakor GFB pas baca ff ini hehehe. Aku suka alur ceritanya thor.. cuma bingung aja krn ga sprtibkbnykn ff yg pke nama asli disini nggak. Fighting buat next nya authornim^^

    Liked by 1 person

  8. niiiaaa says:

    suzy yang mana di posternya ada kenapa di ceritanya gak ada..

    ceritanya menarik kok autor tapi lebih bagu lagu kalok pakek nama mereka yang asli soalnya nama mereka di ff ini rada susah dan buat aku bingung..

    semangat author

    Liked by 1 person

  9. uchie vitria says:

    aku fikir ini cerita dijamam georyeo atau joseon tapi pas liat tahunnya 1996 agak gimana gitu

    pasti menteri cho yang sudah memfitnah keluarga yoon

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s